English

Embun Beku yang MencairCh2 - Krisan

4 Comments

Penerjemah : Momo


“Dasar bodoh! Apa maksudmu dengan tidak mau memiliki ikatan dengannya?! Tidakkah kamu mengerti bahwa kamu akan mati jika tidak mau?!” Suara Ming Yan terdengar cukup keras untuk mencapai langit-langit dan menggetarkan jendela, tetapi Ming Quan tidak bergerak. He9L1Y

“Tidak benar memaksanya untuk bersamaku seperti ini. Aku tidak mau dan dia juga tidak mau. Tidak ada lagi yang bisa dibicarakan.”

“Lalu apa? Kamu rela mati hanya karena perasaannya?!” Teriakan Tuan Ming mencapai volume yang lebih tinggi.

Read more BL at langitbieru (dot) com

Duduk di tepi tempat tidurnya, Ming Quan meringis saat kepalanya berdenyut. Menghadapi rasa sakit kutukan yang terus menerus telah menghabiskan seluruh energinya sekarang. Argumen ini telah berlangsung lebih dari satu jam dan tidak ada pihak yang mau mengalah. Satu-satunya kemajuan adalah bahwa Ming Yan setidaknya telah membatalkan perintahnya meminta Yin Xue untuk menikah dengannya, meskipun dia masih tampak mencoba meyakinkan putranya untuk tetap terikat dengan Yin Xue. Berdiri di ambang pintu,  Yin Xue tampak acuh seperti biasa.

“Kamu adalah putraku, pewarisku! Namun, kamu ingin aku hanya berdiri di pinggir dan melihatmu mati?!” G8aAmY

Ming Quan lelah dan muak ketika dia mengangkat suaranya sebagai balasan, “Sialan, Pak Tua! Bukankah kamu masih memiliki anak-anak lain dari wanita itu? Berikan saja posisi ahli waris kepada salah satu dari mereka. Bukannya aku hanya diperlukan untuk ini! Jika kamu mulai melatih salah satu dari mereka, kamu masih bisa melakukannya tepat waktu, jadi tidak perlu bagimu untuk merasa begitu marah!”

Udara membeku.

Ekspresi Ming Yan berubah jelek saat dia tergagap, tidak mampu membentuk kata-kata dalam kemarahannya. “K-Kamu… beraninya—”

Melihat kulit ayahnya memerah, Ming Quan mulai menyesali kata-katanya yang keras. Meskipun ayahnya tidak pernah menunjukkan kasih sayang padanya, Ming Quan tahu bahwa dia masih mencintainya sebanyak yang dia bisa. Sebagai seorang anak, dia sangat kecewa ketika ayahnya menikahi wanita lain setelah kematian ibunya. Dia tidak mengerti pada saat itu, bahwa Ming Yan melakukannya hanya untuk memberi anaknya seorang ibu yang akan merawatnya. Ming Quan dengan ini merasa sangat bersalah karena menggunakan pernikahan kedua Ming Yan dan putra-putra yang dia punya untuk menentangnya. Namun sayangnya, kata-kata yang diucapkan tidak dapat ditarik kembali. Kerusakan sudah terjadi. hr4VGe

Dengan kemarahan yang masih tertulis jelas di wajahnya, Ming Yan menggeram, “Baiklah kalau begitu, jika kamu sangat ingin mati maka silakan saja! Hanya saja, jangan datang merangkak kembali kepadaku ketika kamu tidak tahan!”

Ming Yan dengan marah menyerbu keluar pintu dengan Yin Xue yang diam-diam mengikutinya.

Meskipun di luar Ming Quan tampak tidak terpengaruh oleh kata-kata ayahnya, dia dengan erat mencengkeram tangannya di dalam lengan baju, menggunakan rasa sakit dari tanda kutukan untuk menjaga dirinya agar tidak menunjukkan reaksi apa pun. Hanya setelah ayahnya pergi, Ming Quan melepaskan tangannya, meringis karena rasa sakit. Sial, itu menyakitkan.

We’re sorry for MTLers or people who like using reading mode, but our translations keep getting stolen by aggregators so we’re going to bring back the copy protection. If you need to MTL please retype the gibberish parts.

Djtecsj wfgbrba rfvlt xfalxj vlj wfwlxlgxjc qfgaexjgjc xjaj-xjaj wfcsjxlaxjc jcajgj vlj vjc jsjtcsj. Kjajqjccsj yfgajwyjt yfgja. Alxj vlj tjger wjal, vlj alvjx lculc wjal xjgfcj  vljrlcuxjc bift jsjtcsj. Kjql vlj alvjx qecsj fcfgul ecaex yjcuec rjwyli wfcjcuuecu gjrj rjxla vjgl ajcvj xeaexjc vl xjxlcsj vjc yfgpjijc xf gejcu xfgpj jsjtcsj ecaex wfwlcaj wjjo. Zlcu Hejc wfcutfij cjojr rjwyli wfcuubrbx vjtlcsj vfcujc ifijt. rwmtd9

Ketukan terdengar di pintu sementara suara Yin Xue memanggil, “Tuan Muda, saya masuk.” Pintu terbuka dan sosok putih keperakan Yin Xue dengan anggun masuk ke ruangan.

Meluruskan punggungnya lagi, Ming Quan bertanya, “Apakah ada sesuatu yang lain?”

“Tuan telah meminta saya untuk menjagamu.” Yin Xue menjawab dengan tenang.

Ming Quan menggigit bibirnya dan mengedipkan air mata di matanya. Bahkan ketika dia marah padanya, ayahnya masih ingat untuk merawatnya. Ming Quan tahu bahwa dia benar-benar egois membuat ayahnya melewati semua ini, tetapi tidak ada pilihan lain yang bisa dia buat. a2GIFi

Suara dingin Yin Xue pecah dalam pikirannya ketika dia bertanya, “Tuan Muda, apakah Anda memiliki perintah?”

Menghela nafas panjang, Ming Quan berpikir sebentar sebelum mengangguk. “Aku ingin pindah ke Halaman Krisan milik ibuku. Tolong buat pengaturan yang diperlukan.” Jika dia hanya memiliki satu minggu tersisa, maka dia ingin menghabiskannya di tempat dengan kenangan hangat yang membuatnya bahagia.

Memberikan anggukan singkat, Yin Xue pergi untuk melakukan persiapan. Dia kembali setelah beberapa jam menyelesaikan tugasnya dengan efisien. Dia kemudian mengambil Ming Quan ke dalam pelukannya untuk pindah ke tempat tinggal Tuan Muda yang baru.

“Yin Xue! Apa yang sedang kamu lakukan?” Ming Quan marah karena dibawa secara alami seperti ini. 3StbI5

“Anda tidak bisa berjalan. Ini adalah metode yang paling tepat.”

“………..” Ming Quan tidak mengatakan apa-apa tentang itu, jadi dia menggerutu diam-diam sambil dipeluk Yin Xue.

Please visit langitbieru (dot) com

Ketika mereka sampai di halaman ibunya, Yin Xue berbalik ke kamar tidur, tetapi Ming Quan mengarahkannya ke arah belakang di mana taman krisan yang dicintai ibunya berada.

Di halaman belakang, tepi terasnya yang lebar dikelilingi oleh dinding yang rendah. Sederet pilar kokoh menjulang dari dinding itu dan menopang sampai ke atap. Dinding itu menghubungkan bagian bawah pilar dan cukup tebal untuk menyediakan tempat duduk yang nyaman bagi siapa saja yang ingin duduk bersantai sambil melihat taman krisan yang terbentang dengan tenang. JRbAoN

Ming Quan memberi isyarat agar Yin Xue menurunkannya di sana. Dengan punggung bersandar pada salah satu pilar dan kakinya terbentang di depannya, dia menenangkan diri. Yin Xue tanpa suara mundur untuk berjaga-jaga dari samping.

Keheningan meluas sementara Ming Quan dengan penuh kasih sayang mengingat ibunya ketika dia berkebun dengan kotoran menempel di wajahnya, ketika dia tertawa saat membuatnya mahkota bunga dan karangan bunga, saat mereka bermain petak umpet setelah dengan paksa mengikat ayahnya. Senyum lembut dan penuh nostalgia melengkungkan bibir Ming Quan saat dia melihat krisan dengan tatapan lembut.

Setelah tumbuh secara tidak teratur tanpa perawatan ibunya selama bertahun-tahun, tanaman telah menyebar ke daerah di mana dia saat ini duduk. Tangkai hijau ramping yang melambai ke arahnya telah berbunga kuning pekat, biru muda, putih, dan banyak lagi. Dia bahkan tidak yakin apakah krisan berwarna-warni ini ada di luar taman ini.

Mata Ming Quan tiba-tiba berkedip ketika dia memikirkan sesuatu. Senyumnya semakin lebar ketika dia berbalik dan bertanya kepada Yin Xue, “Apa sebenarnya yang Ayah perintahkan?” KSdwlq

“Untuk menjaga dan mendengarkan segala permintaan yang mungkin Anda miliki.” jawabnya.

Dia sudah banyak berpikir. Dengan senyum bahagia, Ming Quan memetik krisan kuning yang warnanya mendekati amber. Terlepas dari rasa sakit di jari-jari dan tulang-tulangnya, dia dengan keras kepala bersikeras untuk melepaskan setiap daun dan cabang-cabangnya. Sambil mengangkatnya untuk mengamati hasil karya yang dia buat, Ming Quan mengagumi batang yang ramping, halus, dan telanjang itu. Hal tersebut membuat bunga krisan itu tampak jauh lebih penuh dan lebih semarak dari sebelumnya.

“Yin Xue, kemari dan membungkuklah.” Ming Quan memanggil.

Masih apatis seperti biasanya, Yin Xue berjalan mendekati pemuda itu, rambutnya yang panjang berkilau saat bergoyang dalam cahaya. Ketika dia membungkuk ke arah Ming Quan, helai perak menyelinap di bahunya dan menari ringan karena angin. 8WqjDL

Ming Quan terpesona sesaat setelah melihat wajah cantik itu dari dekat, tetapi dengan cepat melepaskannya. Dengan senyum penuh antisipasi, dia menyelipkan krisan bertangkai telanjang di belakang telinga Yin Xue. Warna kuning sangat kontras dengan rambut perak yang dingin dan bersinar. Ekspresi kosong Yin Xue, terlihat sangat lucu.

Tidak dapat mengendalikan dirinya, Ming Quan tertawa terbahak-bahak. Dia menyadari bahwa sebagian dari reaksinya yang hampir histeris karena baru-baru ini dia mengetahui kematiannya sendiri akan segera terjadi, tetapi dia tidak peduli. Gambaran ini terlalu konyol!

Yin Xue berdiri tegak dan melangkah pergi, masih tanpa ekspresi seperti sebelumnya. Melihat pemuda yang tertawa terbahak-bahak, tidak akan ada yang akan menduga bahwa dia adalah seseorang yang tahu dirinya akan segera mati. Menyaksikan tawa tak terkendali dari Tuan Muda yang biasanya tenang ini menyebabkan sedikit keresahan di hati Yin Xue. Itu bukan simpati atau belas kasihan, atau bahkan suka. Itu tidak lebih dari gerakan samar yang tanpa disadari menggelapkan warna yang berputar-putar di matanya.

Dia telah menyaksikan kelahiran orang ini dan telah melihatnya tumbuh dari bayi. Dia telah melihatnya berlarian di taman ini sebagai anak yang ceria yang telah menawarinya bunga kuning saat itu. Dia menyaksikan perlahan-lahan Tuan Mudanya berkembang menjadi orang yang mampu dan layak menjadi ahli waris. lTdMm3

Dengan cara yang sama, Yin Xue berharap bahwa dia akan terus mengawasi Ming Quan sepanjang hidupnya. Dia mengira suatu hari dia akan melayani Tuan Muda ini setelah dia dewasa dan mengambil alih tanggung jawab keluarganya. Yin Xue berharap melihat dia menjalani hidupnya, menikah dan memiliki anak, merawat anak-anaknya dan memilih seorang pewaris keluarga, menjadi tua, sakit dan mati, seperti semua tuan sebelumnya.

Tetapi Tuan Muda ini tidak akan memiliki kesempatan untuk mengalami semua itu. Dia tidak akan menikah, tidak akan tahu bagaimana rasanya memiliki anak, tidak akan tahu beban bertanggung jawab atas seluruh keluarganya, dia tidak akan tahu apa artinya menjadi tua dan lemah, merasakan tulang miliknya berderit dan otot terasa sakit karena perjalanan waktu yang tak berkesudahan… Dan dia tidak akan pernah memiliki Yin Xue seperti ayahnya.

Dia akan mati seperti sekarang, pada usia sembilan belas tahun, bahkan sebelum mencapai puncak masa mudanya.

Pikiran melankolis dan pedih ini menyebabkan sakit samar di hati Yin Xue yang dengan mudah dia abaikan. Dia tidak tertarik melibatkan dirinya terlalu banyak dengan manusia, bahkan jika dia telah membuat kontrak dengan mereka. Dia akan melakukan seminimum mungkin dan tidak lebih. W7zgvN

Tetapi tetap saja…

Menatap jari Ming Quan yang menghitam, Yin Xue berbicara, “Apa perlunya melukai diri Anda sendiri hanya karena lelucon? Kalian manusia—”

Please visit langitbieru (dot) com

“Bodoh sekali, kan?” Ming Quan menyela, menyeringai dengan ceria. “Aku tahu, aku tahu. Tapi ini adalah hari-hari terakhirku, jadi aku ingin bersenang-senang sebanyak yang aku bisa.”

Karena Yin Xue akan menjaganya sampai akhir, Ming Quan menyingkirkan rasa keberatannya dan bersikap terbuka. Dia sudah cukup berhati-hati dan serius selama hidupnya. Sekarang, dia memutuskan untuk tertawa sebanyak yang dia bisa dan melakukan apa pun yang dia inginkan. Tubuhnya akan segera hancur untuk melakukan apapun, jadi dia akan melakukan apapun yang dia bisa saat dia masih memiliki kesempatan. yGZfSa

Yin Xue melihat mata kuning jernih itu menatapnya, tatapan yang menahan semua kegembiraan maupun rasa sakit yang dalam dan tersembunyi. Perasaan aneh muncul lagi dalam dirinya dan dia dengan acuh tak acuh memalingkan muka.

“Sekarang, sekarang, jangan marah.” kata Ming Quan penuh kesalahpahaman. “Ini, aku akan memberimu ini.” Dan dengan tawa dalam suaranya, dia memetik krisan terdekat berikutnya dan menyerahkannya kepada Yin Xue. Setelah menatap bunga berwarna biru itu sebentar, Yin Xue memilih untuk menerimanya dengan sungguh-sungguh.

Ming Quan tersenyum, matanya melengkung karena geli.

Mengangkat tangannya, dia berkata kepada Yin Xue, “Bisakah kamu membawaku kembali ke kamar? Aku pikir aku sedikit lelah sekarang.” Karena tidak ada orang lain di halaman kosong ini, Ming Quan mengira dia sebaiknya menelan keluhannya dan melakukan hal yang masuk akal. Lagipula itu lebih mudah. daYHZq

Yin Xue mengangguk dan membawanya ke dalam, kembali ke tempat tidur dan membaringkannya. Ming Quan berjuang dalam ketidaknyamanan untuk sementara waktu, karena bahkan sedikit sentuhan dari selimut, pakaiannya, atau bedcover di atas tanda kutukannya, akan memberinya penderitaan yang tak tertahankan. Tapi kelelahan akhirnya menang dan dia tertidur lelap.

Dari samping, Yin Xue dengan tenang mengawasinya sampai Ming Quan tertidur lelap. Mengangkat tangan, dia mengeluarkan bunga dari belakang telinganya dan memegangnya bersama dengan bunga lainnya. Yang satu berwarna kuning cerah dan ceria seperti mata Tuan Mudanya, yang lainnya berwarna biru dingin seperti salah satu warna di iris matanya sendiri. Bersama-sama, bunga-bunga berwarna hangat dan dingin saling menyeimbangkan, memberikan perasaan yang menyenangkan dan harmonis.

Melihat sekeliling, Yin Xue menemukan vas yang kosong dan meletakkan kedua bunga itu di dalamnya. Tepat saat dia akan pergi, Yin Xue berhenti sejenak, merenung. Mencapai keputusan, dia memindahkan vas dengan dua bunga ke meja di samping tempat tidur, di mana mereka akan menjadi hal pertama yang akan dilihat Ming Quan ketika dia bangun.

Tidak mau memikirkan mengapa dia tiba-tiba memiliki pertimbangan seperti itu, Yin Xue meninggalkan ruangan, jubah putih saljunya bergoyang di belakangnya. 5tbwM4

 

***

Leave a Comment

For an easier time commenting, login/register to our site!

4 comments