English

Embun Beku yang MencairCh6 - Sentuhan yang Menggoda (NSFW)

4 Comments

Penerjemah : Momo


Ming Quan tenggelam ke dalam air mandi hangat beraroma bunga di bak kayu berbentuk tong, ekspresinya santai. Meskipun air yang menyelimuti tanda kutukannya membuatnya sakit, rasa sakitnya itu masih jauh lebih sedikit jika dibandingkan ketika sesuatu yang padat seperti kain menyentuhnya. Perasaan puas yang ditimbulkan oleh sensasi merendam tubuhnya yang berkeringat di dalam air itu tak terlukiskan. USRDX2

“Tuan Muda, apa Anda sudah cukup berendam. Apakah Anda ingin saya mulai membantu mandi sekarang?” Suara halus Yin Xue datang dari samping bak mandi setelah beberapa menit berlalu.

Setelah menarik lengan jubahnya yang seputih salju, Yin Xue memperlihatkan sepasang lengan putih yang dijalin dengan otot yang padat. Jari-jari panjang salah satu tangannya mencengkeram kain, siap digunakan pada Ming Quan untuk membersihkan kulitnya.

Please visit langitbieru (dot) com

Ming Quan menelan ludah dengan gugup, tetapi masih mengangguk.

Melihat Yin Xue yang mengulurkan tangannya ke arahnya, Ming Quan secara naluriah menyusut sebelum dia bisa mengendalikan dirinya sendiri. Tanpa memedulikan reaksinya, Yin Xue memegangnya dengan mantap dengan satu tangan sambil mengangkat kain dengan tangannya yang lain. Sentuhan kain itu terasa dingin dan sedikit kasar ketika meluncur turun dari salah satu bahunya, melewati lengan dan turun ke ujung-ujung jemarinya. TbCmzF

Rasa sakit yang timbul karena memicu tanda kutukan itu cukup mengerikann, hingga membuat Ming Quan harus mengertakkan giginya agar tidak berteriak. Tapi dia juga bisa merasakan sensasi tangan dingin yang menyangga bahunya yang lain. Memikirkan bahwa Yin Xuelah yang menyentuhnya membuat Ming Quan ingin ini terus berlanjut, meskipun rasa sakit ini menggigit dan mengunyah sarafnya.

“Apakah permukaan kain ini melukai kulit Tuan Muda?” dia tiba-tiba mendengar Yin Xue berbisik di telinganya. “Kalau begitu mungkin aku harus menyimpannya dan menggunakan tanganku.” Kelicikan dalam suara lembut itu tidak terdeteksi.

Wajah Ming Quan memerah saat dia berbalik, berusaha  untuk menyembunyikan reaksinya. Karena itu dia menahan agar  suaranya tidak meninggi, Ming Quan mengangguk. “Itu memang terasa lebih baik.”

Sebagai tanggapan, dia merasakan tangan dingin Yin Xue di atasnya, menangkupkan air dari dalam dan menuangkannya ke tubuhnya, sebelum kemudian menyapu kulitnya secara perlahan dan hati-hati. Masih terasa sakit, tapi kesejukan lembut tangan Yin Xue, seperti sapuan lembut di atas luka bakarnya yang menusuk, terasa menenangkan. QpUXTG

Masih merasakan deman dari waktu sebelumnya, Ming Quan tenggelam ke dalam keadaan linglung ketika rasa sakit dan kesenangan berbaur menjadi satu dalam pikirannya. Apakah dia bermimpi lagi? Dia samar-samar ingat memiliki mimpi di mana Yin Xue menyatakan bahwa dia juga menyukainya. Mungkin ini juga halusinasi. Mungkin dia masih tidur. Jika itu masalahnya… mengapa dia tidak menikmati sentuhan ‘kekasihnya’?

Jadi tanpa perlawanan, Ming Quan membiarkan Yin Xue menyentuhnya. Dia ingin membalas juga, tetapi tubuhnya terasa terlalu lelah dan berat.

Merasakan kepatuhannya, Yin Xue menarik Tuan Mudanya mendekat, sampai tubuh Ming Quan berada di tepi bak mandi, dan bagian atas tubuhnya bisa bersandar pada Yin Xue. Melihat bahwa pemuda itu tidak menolaknya, tangan Yin Xue bergerak dengan lembut namun mantap di atas kulit halus Ming Quan yang ditutupi tanda hitam. “Jika sentuhanku membuatmu merasa sakit dan tidak nyaman, tolong katakan padaku dan aku akan berhenti.”

Ming Quan merasakan sapuan telapak tangan dingin Yin Xue di atas dada, dia saat ini diselimuti oleh kehadiran dan aroma dari orang yang dicintainya. Tetapi rasa sakit dari kutukan membuat dia tidak sepenuhnya terangsang. Bergeser gelisah, Ming Quan berkata seolah meyakinkan dirinya sendiri, “Tidak apa-apa… ini hanya mimpi, jadi ini bukan rasa sakit yang nyata. Yin Xue… tolong jangan berhenti.” LSGVgX

We’re sorry for MTLers or people who like using reading mode, but our translations keep getting stolen by aggregators so we’re going to bring back the copy protection. If you need to MTL please retype the gibberish parts.

Zfcujcuxja jilr, Tlc Wef weijl yfgxjaj, “Kejc Zevj, wfcujqj xjwe rfijie wfcujcuujq rfwej lcafgjxrl xlaj sjcu qjilcu wfcjglx yfgjvj vjijw wlwql? Caje… jqjxjt lae xjgfcj xjwe rfijie wfwlwqlxjcxe?”

Djtxjc xfalxj vlj yfgylmjgj, ajcujc Tlc Wef afger wfcpfijpjtl aeyet Zlcu Hejc, wfwfajxjc rfaljq yfcaex babacsj, rfaljq qfgfujcujc tjier vjc mfijt xeila sjcu afgrfwyecsl. Tlc Wef wfgjrjxjc vjgjtcsj rfcvlgl qfgijtjc wfwjcjr qjvj rfcrjrl xeila tjcuja sjcu jvj vl yjkjt afijqjx ajcujccsj, afajql yfgerjtj wfcfxjccsj. Glj tjcsj jxjc obxer wfijsjcl Kejc Zevjcsj rfxjgjcu. Gfcujc ajajqjc sjcu rfwjxlc ufijq, pjgl-pjgl Tlc Wef wfcfieregl aeyet Zlcu Hejc vjc vfcujc glcujc wfcfxjc vej alalx afujx vl vjvj qfwevj lae, wfwjlcxjccsj vfcujc rjcajl.

Alih-alih menyingkirkan jari-jari lancang itu, Ming Quan hanya mendesah pada sensasi yang menyenangkan itu. “Ini adalah mimpi yang indah… Ini adalah mimpi musim semi yang paling jelas yang aku miliki tentangmu sampai sekarang…”

Sekarang kedua alis Yin Xue terangkat. “Oh? Kamu punya banyak mimpi seperti ini denganku, bukan?” yonVKS

Sambil mengerutkan kening, Ming Quan menggelengkan kepalanya. “Tidak banyak… tapi aku mengingat semuanya.”

Jari-jari dingin Yin Xue tiba-tiba mencubit kedua kucup itu tanpa ampun sementara suaranya melayang ke telinga Ming Quan, tampak lembut, “Dan berapa banyak orang yang sudah dimimpikan oleh Tuan Mudaku ini?”

Setelah pertanyaan itu, sebuah gigitan tajam di daun telinganya, membuat pikiran Ming Quan berkelana. “Uhm… Ahh… A-Aku…” Mata Ming Quan benar-benar tidak fokus ketika dia mencoba untuk memproses kontras antara kesenangan yang diberikan oleh Yin Xue dan rasa sakit kutukan yang mulai membakarnya.

“Iya?” Suara rendah Yin Xue mendesak sementara jari-jarinya menarik titik kecil yang rapuh itu dalam perawatannya. dxzRac

“Ah!” Ming Quan bergidik. Dia hampir meleleh saat napas dingin menggelitik telinganya. Mengumpulkan pikirannya yang tidak jelas, dia berjuang untuk menjawab, “T-Tidak… Aku tidak pernah… memikirkan orang lain… seperti itu sebelumnya…”

Merasa senang, tangan Yin Xue meredakan siksaan yang dibuatnya. Jari-jarinya yang dingin dengan lembut membelai titik-titik yang memerah itu seolah-olah itu adalah hadiah. “Aku tahu. Sangat menarik.”

Story translated by Langit Bieru.

Ming Quan merasakan ujung jari yang dingin dan menyenangkan itu menggosokkan melingkar ke dadanya yang sensitif dan dia akhirnya melepaskan erangan yang ragu-ragu. Rasanya cukup menyenangkan, membuat penderitaan yang dia rasakan karena tanda kutukan itu terasa sepadan. Ada banyak hal yang harus dia serahkan karena kutukan itu, tetapi dia tidak akan mengizinkannya mimpinya dengan Yin Xue menghilang. Terutama karena ini hal yang menyenangkan dan terperinci.

Suara Yin Xue tiba-tiba melayang ke telinganya dengan bisikan lembut dan intim, “Apakah Tuan Muda ingin aku berhenti?” fHNl A

“Tidak.” Jawab Ming Quan cepat dengan suara seraknya. “Rasanya enak. Terus dan… sentuh aku lebih banyak.”

Warna dingin di matanya berputar-putar dan emosinya mulai memanas, mata Yin Xue berkilauan dalam cahaya. “Sangat bagus. Aku akan melakukan apapun yang diinginkan Tuan Muda.”

Yin Xue membalikkan Ming Quan di air dan menariknya kembali ke arahnya. Ming Quan bekerja sama tanpa mengatakan apapun. Yin Xue merentangkan jari-jari salah satu tangan ke dada Tuan Mudanya agar punggung telanjang pemuda itu dapat bersandar di dadanya. Jari-jari tangannya yang lain meninggalkan jejak dingin saat mereka meluncur di atas kulit halus dan otot-otot perut yang bergelombang. Terus ke bawah dan ke bawah sampai mereka mencapai di antara sepasang paha gemetar yang tenggelam di dalam air.

Ming Quan menggigit bibirnya, tetapi tidak memprotes. Dia bahkan mencoba melebarkan kakinya, mengundangnya dalam diam. Jari-jari dingin membungkus panjangnya yang mulai mengeras dan perlahan-lahan mengeseknya ke atas dan ke bawah, sementara ujung kuku tajam mengikutinya. Ming Quan mengerang terengah-engah dan menyandarkan kepalanya ke belakang, matanya tertutup. Yin Xue mempelajari reaksi Tuan Mudanya untuk setiap stimulasi yang terus dia berikan dengan penuh minat. Pipi Ming Quan memerah sementara bulu matanya bergetar. Bibirnya terbuka, mengeluarkan napas terengah-engah dan suara lembut penuh kenikmatan. Lehernya melengkung, memperlihatkan garis-garis otot yang meregang karena tegang. xs1a0e

Pikiran Ming Quan menjadi kabur saat kesenangan melingkupinya dalam gelombang lambat. Pikirannya melayang, merenungkan bagaimana tangan yang saat ini ada padanya adalah tangan yang sama yang pernah mengayunkan cakarnya untuk menebas orang yang menyerang dia dan ayahnya ketika kaisar rezim sebelumnya mencoba membunuh mereka. Cakar ini pernah berayun dengan kejam dan brutal, membuat para pembunuh jatuh satu demi satu seperti daun layu yang ditiup angin musim gugur, jari-jari panjang yang bernoda darah dan meneteskan warna merah tua dari kehidupan yang berakhir. Tangan yang kuat dan jemari dingin yang kejam itu sekarang berada di atas kulitnya yang basah dan menyelimuti anggota tubuhnya yang mulai mengeras dengan sangat hati-hati, hampir dengan penuh kasih sayang.

Ming Quan harus mengakui bahwa meskipun dia tahu apa saja yang mampu dilakukan tangan-tangan ini, dia tetap merasa aman dan terlindungi di bawah perawatan mereka. Tidak ada lagi perlawanan darinya. Tubuhnya melunak, bersantai kembali ke dinding kayu bak mandi dan Yin Xue. Ming Quan perlahan menyelinap lebih dalam ke tempat di mana rasa sakit dan kesenangan terjalin, menenggelamkan inderanya. Keinginannya akhirnya mendorong melewati semua sakit kutukan dan bangkit sepenuhnya.

Tangan Yin Xue meningkatkan kecepatanya seolah-olah merasakannya. Ming Quan terengah-engah, alisnya menyatu. Tubuhnya menjadi tegang ketika gelombang rangsangan meningkat. Dia belum pernah merasakan kesenangan sebanyak ini dengan tangannya sendiri sebelumnya. Sensasi dirawat oleh Yin Xue seperti ini sangat… terasa baru.

Sesuatu muncul di benak Ming Quan. Ya, ini terasa terlalu banyak untuk pengalaman baru yang dia mimpikan. Bagaimana pikirannya tahu sensasi ini jika dia belum pernah merasakannya sebelumnya? X4t3Qf

Tidak bisa dipercaya, Ming Quan mulai bertanya-tanya. Apakah ini… bukan mimpi? Tidak, itu tidak mungkin… Karena, jika ini nyata…

Gigi tajam Yin Xue menggigit telinga Ming Quan dengan hati-hati, sementara tangannya yang bekerja pada poros itu perlahan-lahan berhenti. “Apa yang sedang dipikirkan Tuan Muda hingga membuat gairahnya berkurang?”

Semburan rasa malu dan penghinaan menyelimuti Ming Quan. Dia menarik tangan Yin Xue menjauh darinya dan menyentakkan tubuhnya ke depan untuk memberi mereka jarak. Secara naluriah dia berusaha melarikan diri dari sensasi yang kacau ini sehingga dia bisa menjernihkan pikirannya sebentar. Tapi gerakannya yang tergesa-gesa menyebabkan bak air yang berat miring dan terbalik. Air tumpah dari bak yang jatuh bersama dengan Ming Quan yang telanjang. Rasa sakit yang kuat menghantamnya ketika dia jatuh ke lantai. Setelah kabut rasa sakit dan keinginan itu hilang, pikiran Ming Quan jauh lebih jernih. Tidak, ini jelas bukan mimpi!

Yin Xue berdiri dengan ekspresi kosong sesaat, tidak tahu harus bagaimana dengan perubahan mendadak ini. Berjalan menuju Ming Quan yang terjatuh dengan tubuh dan rambut basah, dia membungkuk dan menawarkan tangan. “Tuan Muda, biarkan aku membantumu.” gFiGQm

Ming Quan mengertakkan gigi dan menepis tangan itu. “Yin Xue, tolong keluar. Aku akan mengurus diriku sendiri sekarang.” Rasa penghinaan membuat pipinya terbakar karena amarah yang tidak tahu harus ditujukan ke mana, matanya berkilau tajam. Bahkan ketika berbaring telanjang dan basah kuyup di lantai, punggungnya tetap lurus dan ekspresinya tidak menurun. Dia masih seorang pewaris keluarga yang menolak untuk membiarkan siapa pun membodohinya.

Yin Xue menegakkan tubuhnya dan menatap pria muda yang bermasalah itu dengan bingung. Memiringkan kepalanya, lalu bertanya, “Tuan Muda, ada apa? Apakah kamu merasa malu karena terangsang? Tidak perlu merasa malu atas dorongan seperti itu.  Itu hal yang wajar.”

Ming Quan memalingkan wajahnya dari tatapan Yin Xue yang tenang. Rahangnya mengatup semakin erat.

Yin Xue melanjutkan, suaranya mengalir dengan lancar seperti biasa, “Tuan Muda, karena tubuhmu mengungkapkan kebutuhannya dengan sangat jelas, aku tidak keberatan mengurusnya. Tolong berhenti bersikap keras pada dirimu dan biarkan aku membantumu.” tVAa6l

Tangan Ming Quan mengepal di air yang menggenang di bawahnya. Kepalanya terangkat, dengan tatapan tajam ketika dia menggeram, “Yin Xue, cukup! Aku hanya memintamu memberiku sedikit martabat sebelum kematianku.”

Mengangkat alisnya, Yin Xue menatap pria muda itu dengan mata setengah tertutup. “Mengapa Tuan Muda mengelak? Apakah karena aku yang menyentuhmu seperti itu sehingga kamu menyadari masalah ini sekarang?”

Please support our translators at langitbieru (dot) com

Mata Ming Quan melebar karena kaget dan takut. Itu tidak mungkin… Apakah Yin Xue telah mengetahui bagaimana perasaannya padanya?

Seolah membaca pikirannya, Yin Xue mengangguk. “Ya, aku tahu semua perasaan sayangmu untukku.” DLj6V4

“B-Bagaimana bisa…” Ming Quan terdiam dan menghela nafas sambil mengusap rambutnya yang basah dengan gelisah. “Kamu membaca suratku!” tebaknya. Lagi pula, tidak ada yang tahu tentang apa yang dirasakan Ming Quan untuk Yin Xue. Dia menyembunyikannya dengan hati-hati. Surat itu adalah satu-satunya hal yang bisa memberitahunya.

Tatapan menghibur melayang dari mata Yin Xue. “Ya, surat itu. Karena itu ditujukan kepadaku, aku bebas membaca isinya.”

Ming Quan mengatupkan bibirnya dan memalingkan muka. “Aku tahu. Jadi, kamu menawarkan diri untuk membantu membebaskan hasratku karena kasihan pada perasaanku yang tidak akan pernah terbalas ini.”

Suara Yin Xue terdengar ringan ketika dia membalas, “Apa yang membuat Tuan Muda begitu yakin kalau itu tidak akan terbalas?” 1Gd39V

Ming Quan menatap Yin Xue dengan pandangan dingin. “Berhentilah mencoba memberiku harapan hanya karena aku akan mati. Aku tidak membutuhkan jaminan palsu.”

Tawa dingin keluar dari bibir Yin Xue, memberikan perasaan sedingin embun beku yang merayap di punggung seseorang. “Tuan Muda sepertinya melebih-lebihkan perasaanku. Apakah aku jenis binatang buas yang mau repot-repot melimpahkan kebaikan kepada manusia? Mengapa aku memedulikan keinginan orang yang sekarat, kecuali… dia adalah orang yang aku sayangi?” Warna mata Yin Xue yang biasanya dingin sekarang berkilau seperti diterangi oleh sinar matahari yang hangat.

Ming Quan sangat terkejut, baik pada tatapannya yang lembut maupun implikasi di balik kata-kata Yin Xue.

Yin Xue membungkuk dan menangkup rahang Ming Quan dengan tangannya. Jari-jarinya jauh lebih lembut dan hati-hati dibandingkan pada hari pertama kutukan. Suaranya lembut dan intim saat dia berbicara, “Tuan Mu― Tidak, Ming Quan. Apa yang aku tawarkan kepadamu bukanlah karena kasihan, tetapi karena aku juga mulai menyukaimu. Meskipun beberapa hari terakhir yang kita habiskan bersama ini tidak cukup untuk mengikatku padamu karena cinta, aku tahu bahwa jika diberi waktu, akan ada peluang bagus untuk menumbuhkan cintaku padamu dengan semua hal yang aku miliki.” kb5vQW

Ming Quan gemetar, matanya terbelalak tak percaya. Dia mengangkat tangan dan menyentuh jari-jari Yin Xue yang berada di wajahnya. Ini… Bagaimana mungkin hal seperti ini bisa terjadi?!

Dengan suara gemetar, Ming Quan berbisik, “Ini bukan mimpi, kan?”

“Tidak, kekasihku, ini bukan mimpi.” jawab Yin Xue, bibirnya melengkung tersenyum hangat.

Dan Ming Quan yang pertama kalinya melihat senyum dari orang yang dia sayangi, setelah hari di taman krisan itu, akhirnya bisa percaya padanya. UOnJ8R

 

***

Leave a Comment

For an easier time commenting, login/register to our site!

4 comments