English

Batu Giok BerukirChapter 20

0 Comments

Penerjemah: jeff


Dia pernah melakukan ini sekali sepanjang hidupnya, dia tidak takut melakukannya lagi. TMVk j


Begitu Yanming bergerak, Wu Sisi secara alami tidak akan diam saja. Tiga kultivator pedang menyerang ‘Yang Mulia’ secara langsung. ‘Yang Mulia’ melolong mengerikan di atas panggung, dan tiba-tiba, semua mata warga kota berubah menjadi merah darah saat semua orang meluncur ke arah mereka bertiga!

Keadaan tiba-tiba jatuh ke dalam kekacauan. Fu Changling berlari ke sudut altar pengorbanan saat peristiwa itu terjadi dan dengan cepat mengeluarkan Array Pembantaian Dewa. Dia menggigit jarinya dan meneteskan darahnya sendiri ke atas array. Dalam proses melakukan semua hal ini, dia mengangkat kepalanya untuk mengamati pertempuran yang sedang berlangsung dan melihat bahwa Wu Sisi saat ini sedang berperang sengit dengan Yang Mulia, memikatnya menjauh dari altar pengorbanan. Yanming dan Qin Yan dikelilingi oleh warga biasa, terkubur di dalam lautan manusia.

Read more BL at langitbieru (dot) com

Fu Changling menyaksikan Yang Mulia meninggalkan altar pengorbanan dan langsung membalikkan tubuh ke atasnya. Dia melemparkan Array Pembantaian Dewa ke udara dan saat dia menstabilkan pijakannya di altar pengorbanan, dia mengangkat Pagoda Pengumpul Jiwa ke udara dengan satu tangan sementara tangan lainnya menopangnya dengan kipas emasnya saat dia menggumamkan beberapa kata.

Ketika dia mulai menggumamkan mantra, Pagoda Pengumpul Jiwa mulai dengan liar menyerap udara spiritual, menggunakan tubuhnya sebagai pusat pusaran. Semua udara spiritual di alam tersembunyi mulai mengalir ke dalam tubuhnya. 4I1qcY

Gerakan ini mengejutkan ‘Yang Mulia’. Dia berbalik dan melolong marah. Pedang Wu Sisi menyerangnya dengan kuat dan Yang Mulia tidak punya waktu berurusan dengan Fu Changling. Namun, mendengar lolongannya, penduduk kota mulai berbelok ke arah yang berbeda dan menjadikan Fu Changling target mereka. Qin Yan tanpa ragu memasang posisi siaga di sebelah Fu Changling. Dengan mengayunkan pedangnya, dia memaksa penduduk kota mundur dan melindungi perimeter di sekitar Fu Changling.

Fu Changling tidak memperhatikan sekelilingnya. Dengan mata tertutup, dia merasakan gelombang udara spiritual mengalir ke tubuhnya saat dia mengarahkan tenaga spiritual itu ke inti emasnya dengan perasaan penuh keakraban, menekannya. Dalam sepersekian detik, inti emasnya berhasil terbentuk!

Saat inti emasnya terbentuk, udara spiritual Pagoda Pengumpul Jiwa memenuhi inti emasnya dan darinya, kekuatan itu berubah menjadi energi spiritual.

Array berwarna semerah darah yang berada di bawah secara bertahap mulai menyebar, menjadikan posisi kakinya sebagai pusat. Melihatnya tidak terluka, Qin Yan melompat ke dalam kelompok orang biasa sebelumnya dan melanjutkan langkah-langkah yang perlu dilakukannya dari rencana semula. BAIsJd

Fu Changling mengedipkan matanya dan melihat Qin Yan yang berada tidak jauh darinya di tengah kerumunan. Kedua tatapan mereka bertemu dan Qin Yan menganggukkan kepala, pedang panjangnya berputar di sekelilingnya dan tiba-tiba meledak menjadi embusan angin. Qin Yan mengambil kesempatan itu untuk melompat dan jatuh ke suatu tempat di selatan. Pada saat yang sama, Fu Changling mengangkat tangan dan melemparkan array kecil ke arah Qin Yan, tepat pada waktunya untuk menggagalkan beberapa warga kota yang bermaksud menyerang Qin Yan. Pada saat itu Qin Yan seolah berubah menjadi naga panjang seperti ular, menyelesaikan gambar array kecil pertama itu dalam waktu singkat.

We’re sorry for MTLers or people who like using reading mode, but our translations keep getting stolen by aggregators so we’re going to bring back the copy protection. If you need to MTL please retype the gibberish parts.

Kjql rfafijt lae, Hlc Tjc alvjx yfgtfcal. Glj ijcurecu wfibwqja xf jgjt yjgja. Me Jtjcuilcu alvjx ijul wfcuxtjkjalgxjccsj; vlj wfcujiltxjc qjcvjcujccsj xf Tjcwlcu.

Bfjtiljc Tjcwlcu alvjx rjwj vfcujc Hlc Tjc. Glj vlxfililcul bift rfxfibwqbx bgjcu vl eajgj. Zfiltja yjujlwjcj vlj alvjx ylrj wfcpjuj vlglcsj rfcvlgl, Me Jtjcuilcu wfceaeq wjajcsj vjc wfcuuewjwxjc wjcagj rfyfiew rfierlc wjcagj wfifrja xf jgjt Tjcwlcu vjc wfcufililculcsj. Pcl wfwecuxlcxjc Tjcwlcu ecaex wfcujwyli cjqjr ecaex rfrjja. Glj vfcujc mfqja wfcepe xf eajgj, afwqja vlj rftjgercsj yfgjvj.

Array Pembantaian Dewa sudah terpasang di barat dan selatan. Fu Changling membiarkannya perlahan menyebar ke dua arah yang tersisa. d71mfv

Wu Sisi menahan Yang Mulia, tetapi dia bisa merasakan ada yang tidak beres dengan altar pengorbanan. Dia melolong dan penduduk kota mulai bertindak agresif dan melonjak ke arah Fu Changling. Meski begitu, Fu Changling sudah lama bersiap. Array pertahanan di bawah kakinya dapat menjamin bahwa dia tidak akan diganggu oleh apa pun di luar perbatasannya dalam waktu singkat. Jadi, semua penduduk kota yang mencoba mengganggunya terlempar ke belakang.

Dia menutup kedua matanya dan mendesak array untuk menyebar dengan cepat. Rambutnya mengepul liar dari gelombang udara spiritual yang datang dari inti array. Lengan bajunya yang lebar berkibar liar, tapi ekspresinya tenang, seolah-olah dia berdiri di tengah angin liar dan ombak yang ganas namun tak bergerak.

Array menyebar ke seluruh perimeternya. Yang Mulia juga menjadi panik. Menyaksikan Yanming selesai menggambar array kecil terakhir, array Fu Changling dengan cepat menyebar ke arah dua array kecil lainnya. Yang Mulia akhirnya tidak bisa menahannya lebih lama lagi; dia meraih pergelangan tangan Wu Sisi dengan satu tangan dan, dengan melolong, dia menembakkan pedangnya ke arah Fu Changling!

Pedang itu membawa kekuatan seorang kultivator tahap keabadian saat secara horizontal menyapu Fu Changling. Qin Yan berbalik dan berteriak, “Fu Changling!” wH64g7

Fu Changling mendengar suaranya. Dia membuka matanya dan pada saat itulah, sesosok tubuh putih berdiri di depannya, setelah itu terdengar suara retakan yang begitu menusuk dan memuakkan. Bilang pedang panjang itu telah menembus dada orang di depannya. Darah segar mengalir dari ujung pedang panjang itu. Mata Fu Changling melebar dan pada saat yang sama, array di bawah kakinya telah mencapai array kecil terakhir. Array itu meledak menjadi cahaya dan seribu tatapan pedang terbang keluar darinya, menebas Yang Mulia dan semua penduduk kota.

Teriakan nyaring meletus dari sekitar mereka dan darah dari pemuda berjubah putih di depan Fu Changling disemprotkan ke wajahnya. Tetesan darah itu terasa hangat. Fu Changling menatapnya, linglung, dan hanya merasa bahwa dunianya mulai tenang, detak waktu seolah melambat.

Dia menggumamkan nama orang itu, “Yanming …”

Kenapa dia ada di sini? Osx8Lz

Kenapa dia menempatkan dirinya di depannya?

Keduanya belum pernah bertemu. Mereka hanya bertemu di alam tersembunyi dan hanya bersama selama beberapa hari. Bagaimana dia bisa melakukan sesuatu seperti ini untuk melindunginya?!

Please support our translators at langitbieru (dot) com

Kenapa dia melakukan sejauh ini untuk melindunginya?

Dia, Fu Changling, adalah seseorang yang telah dilahirkan kembali. Dia sudah mati. Yanming baru berusia tujuh belas tahun di puncak usianya. Bagaimana dia bisa memilih untuk memblokir pedang di depannya? Bagaimana dia bisa begitu konyol, sama seperti kehidupan terakhirnya, pergi sejauh ini untuk membuang nyawanya untuk seseorang, pergi sejauh ini untuk menjadi begitu baik? 84ezjG

Saat dia menatap Yanming dengan linglung, dia merasakan semua kebencian, semua kebaikan, semua emosi di kepalanya meluap sekaligus.

Sebuah pusaran hitam mulai berputar-putar di sekelilingnya dari bawah kakinya. Fu Changling tidak bisa merasakannya. Dia hanya menatap Yanming, terkejut, saat serangkaian gambar berputar di depan matanya.

Yang Mulia, yang disegel oleh Array Pembantaian Dewa, sedang diserang oleh Wu Sisi dan Qin Yan. Qin Yan berbalik untuk melihat Fu Changling, dan dengan ngeri, dia berteriak, “Fu Changling!”

Meski begitu, Fu Changling tidak bisa mendengarnya. Dia menatap Yanming, alisnya bergetar. Yanming menunduk untuk menatapnya, wajahnya pucat saat dia tersenyum dengan susah payah. Kemudian, dia mengulurkan tangan ke arah Fu Changling, berbisik, “Changling …” mZLr6B

“Fu Changling!”

Qin Yan memandang dua orang yang hampir ditelan oleh pusaran hitam. Dia dengan panik berlari ke arah mereka, dan pada saat itulah, semua penduduk kota dan Yang Mulia tampaknya telah menerima perintah tertentu. Mereka semua bergegas menuju Qin Yan.

Dikelilingi oleh sekelompok orang, Qin Yan memaksa mereka untuk mundur dengan sapuan pedangnya sebelum sekelompok orang lain mulai menyerangnya.

Saat mereka menggagalkan serangannya, Qin Yan mengarahkan pandangannya pada Fu Changling, yang diselimuti oleh kabut hitam. Otot-ototnya menegang dan keringat dingin keluar dari seluruh tubuhnya, seolah-olah dia sedang mengingat kenangan yang sangat mengerikan dari masa lalu, dia tidak bisa menahan diri untuk berteriak, “Fu Changling!” eqKZDv

Tidak ada gerakan dari orang yang berada di dalam kabut hitam itu. Qin Yan melangkah maju dengan susah payah.

Setiap inci dari gerakan pedangnya menyapu begitu banyak orang. Orang-orang ini seolah tidak merasakan sakit. Setelah mereka dihancurkan menjadi beberapa bagian, bahkan jika mereka kehilangan anggota tubuh, mereka akan berdiri kembali dan melemparkan diri ke arahnya sekali lagi.

Dilecehkan dalam keadaan seperti itu, setiap langkah yang diambil oleh Qin Yan dilakukan dengan susah payah.

“Fu Changling…” 5ntlqk

Dia sudah lelah memanggil, tapi dia tahu dia tidak bisa berhenti.

Seseorang tampak menghalangi jalan di depannya dan, sementara gerakan pedang Qin Yan terhenti, orang itu melemparkan dirinya ke arahnya dan menggigit bahunya.

Gigitan itu merobek dagingnya. Pedang Qin Yan melesat dan memotong orang yang telah menggigit bahunya saat dia maju selangkah.

“Fu Changling…” ip64tE

Seolah-olah momen ini memberinya alasan untuk kembali bergerak, keyakinannya kembali dipegang teguh, seolah-olah apa yang diwakili oleh nama ini bukanlah seseorang, tetapi masa lalu, dan masa depan.

Dia merasa dirinya kehilangan darah. Penglihatannya kabur, tapi dia terus berjalan ke depan.

Please visit langitbieru (dot) com

Orang normal tidak akan bisa terus berjalan dalam situasi seperti ini.

Tapi Qin Yan berbeda. 6KqoDw

Bahkan jika ada keputusasaan dalam setiap langkah yang dia ambil, bahkan jika setiap langkah yang diambilnya dilakukan dengan begitu susah payah, dan tidak ada satu orang pun yang akan peduli. Bahkan jika dia bertarung sendirian dalam pertempuran melawan kekuatan yang begitu besar, dia akan terus mengambil jalan itu.

Dia pernah melakukan ini sekali sepanjang hidupnya.

Dia tidak takut melakukannya lagi.

TPzIyS

Leave a Comment

For an easier time commenting, login/register to our site!