English

Merebut MimpiCh18 - Selamat Tinggal

0 Comments

Penerjemah : jeff

Editor : Ai 6uOxR9

Matahari akan segera terbit.

Read more BL at langitbieru (dot) com

Pada saat yang sama, permukaan air laut di luar mercusuar terus meningkat. Semua monster laut yang seperti lamprey telah berkumpul di sekitar dan melilit mercusuar dengan tentakel saat mereka mulai memanjat.

Buku-buku di rak semakin gelisah; semua buku di sana mulai melompat beberapa kali untuk menyerang mereka bertiga. Jenderal mempercepat langkahnya dan melompat melalui pegangan tangga. Yu Hao mulai berlari saat dia mengejar mereka dari belakang. omd14

“Apa akan ada penjaga gerbang?” Yu Hao ingat bahwa penjaga gerbang istananya adalah orang yang diam-diam dia sukai. Karakter yang akan menjaga kegelapan batin dan ketakutan seseorang… untuk Shi Ni, penjaga gerbangnya mungkin saja adalah ibunya?

Ketika mereka tiba di lantai atas, Jenderal menurunkan Shi Ni dan berkata, “Lebih baik jika kamu tidak……”

Lantai paling atas adalah loteng. Di lingkungan sekelilingnya terdapat gambar-gambar kabur, yang tampak berkedip melayang di udara, dan berputar-putar seperti foto di dalam memori.

“Apa ini?” Yu Hao bertanya. IqyLjE

Jenderal dan Yu Hao sama-sama memegang senjata mereka dalam keadaan siap, bersiap untuk bertempur, tetapi loteng itu kosong. Mereka berdua melihat sekeliling sebelum Jenderal tiba-tiba bereaksi, “Ambil kesempatan ini sekarang dan pergilah!”

Dalam sekejap, api hitam mulai berputar di sekitar mereka. Sebuah platform besar muncul di bagian atas mercusuar, dan di tengah platform itu terdapat satu kursi putar yang biasa ada di kantor. Ayah Shi Ni, Shi Liang, sedang duduk di atasnya, dan dia memegang boneka beruang compang-camping di tangannya. Api hitam yang mengelilinginya berubah menjadi energi yang naik ke udara untuk membentuk mata iblis raksasa.

Mata iblis itu sedikit terkulai dan melihat ke arah mereka bertiga. Terdapat sebuah simbol yang terselubung di udara hitam di tengah mata iblis itu.

Totem! d8vFj2

Jenderal melambaikan Jingubang, sementara Yu Hao menarik tangannya dan tongkatnya terbelah menjadi dua buah belati.

“Nini, kamu di sini.” Rambut Shi Liang rontok dan dia memiliki senyuman tidak senonoh di wajahnya, “Biar Ayah lihat? Kenapa kamu selalu bersembunyi di belakang?”

Shi Ni berdiri di belakang Yu Hao dan Jenderal saat dia mendesah dengan kasar.

Monster laut di sana bangkit dari sekitar mercusuar dan melambaikan tentakel mereka. Mata iblis itu berbalik dan memancarkan sinar cahaya yang menyelimuti seluruh platform. ZUm 0y

Yu Hao dan Jenderal mengarahkan senjata mereka pada Shi Liang secara bersamaan saat mereka berteriak, “Riwayatmu akan tamat sekarang!”

Jenderal, “Kami sudah menelepon polisi!”

Yu Hao, “Paling lambat besok! Kau akan masuk penjara!”

Mata Shi Ni tiba-tiba melebar saat dia mengingatnya. Dan seketika dia ingat, langit yang gelap di atas mereka meledak dengan jutaan badai petir yang berputar ke arah mercusuar dan menghantamnya secara langsung! YzrJ4O

“Riwayatmu akan tamat——!” Shi Ni melepaskan semua amarah yang telah dia tekan di alam mimpinya saat dia berteriak, “Kau tidak bisa menyakitiku lagi! Dasar kau binatang——!”

Petir penghakiman meledak ke arah mereka dan langsung menyambar semua monster laut yang bercokol di mercusuar, menyebabkan mereka jatuh!

Please support our translators at langitbieru (dot) com

Mata Shi Liang tiba-tiba melebar dan dia meraung, “Tidak mungkin!”

Yu Hao tidak pernah menyangka bahwa setelah Shi Ni menyadari bahwa ayahnya akan diadili di alam mimpinya, dia akan melepaskan kekuatan seperti itu. Dia mendengar Jenderal berteriak, “Ayo pergi!” daAQB5

Keduanya bergegas ke depan pada saat bersamaan. Shi Liang mengangkat tangannya dan mata iblis itu melepaskan seberkas cahaya yang menyapu mereka berdua. Sayap Yu Hao mengepak terbuka, dia tiba-tiba meraih Jenderal dari belakang dan dengan satu putaran, dia terbang tinggi ke langit. Badai yang dilepaskan Shi Ni tiba-tiba menghilang.

Mata iblis Shi Liang mengarahkan cahayanya yang menyilaukan pada Shi Ni, dan suara cibirannya mengguncang langit.

“Aku tahu semua yang kau lakukan; setiap gerakanmu berada di bawah pengawasan Ayah.”

Shi Ni tiba-tiba berteriak; badai petir yang memenuhi langit segera lenyap tanpa jejak. Shi Liang sekali lagi mendapatkan kembali kendali atas dunia sadar ini. 3FzUpW

Yu Hao, “Shi Ni!”

Jenderal, “Dia bisa bertahan! Dia punya jimat! Hindari cahaya itu dan lempar aku!”

Di bawah iluminasi mata iblis, tubuh Shi Ni mulai membeku, tetapi saat es akan menyebar ke seluruh tubuhnya, lingkaran merah tiba-tiba muncul di sekitar pergelangan tangannya. Segera setelah itu, lingkaran cahaya itu melepaskan gelombang suara yang menghancurkan es menjadi beberapa bagian!

We’re sorry for MTLers or people who like using reading mode, but our translations keep getting stolen by aggregators so we’re going to bring back the copy protection. If you need to MTL please retype the gibberish parts.

“Glj ajxea jql!” Te Ljb alyj-alyj afglcuja qfgmjxjqjc wfgfxj tjgl lae. F9cGPr

Afcvfgji afgxfxft vjc wfcsjqe Alcueyjcu-csj; epecu abcuxjacsj wfifvjx wfifqjrxjc qlpjgjc jql vjc vlj yfgafgljx, “Bfqecu vlj!”

Vfbijt-bijt Te Ljb wfwfujcu qfibcajg jql xfalxj vlj wfcsjqe wfwyfcaex ilcuxjgjc vfcujc qlpjgjc jql sjcu vlifqjrxjc bift Afcvfgji; qijaobgw lae rfufgj yfgeyjt wfcpjvl ijeajc jql. Olcuxjgjc jql lae vfcujc mfqja wfcvfxjal Vtl Oljcu, vjc rfafijt ilcuxjgjc jql lae wfcufililcul Vtl Oljcu, fxrqgfrlcsj vfcujc rfufgj vlqfcetl xfajxeajc xfalxj vlj wfcjajq rfxfililcucsj.

“Ayo!”

Yu Hao melepaskan Jenderal. Saat dia berada di udara, Jenderal mengayunkan Jingubang-nya ke bawah seperti sedang membelah gunung dan kobaran api yang ditimbulkannya menembus langsung melalui Shi Liang dengan ledakan keras, membuatnya terbakar. YN26IZ

Yu Hao dan Jenderal mendarat di tanah. Kedua pria itu berguling di tanah sebelum mereka berdiri, memposisikan diri mereka untuk melindungi Shi Ni yang berdiri di tengah saat mereka membentuk lingkaran di sekelilingnya. Di dalam lingkaran api itu, Shi Liang berjuang dan melepaskan raungan tak tertahankan.

“Sudah berakhir.” Yu Hao mengamati Shi Liang yang dikelilingi oleh api. Shi Liang berguling-guling di tanah dan berjuang untuk bangkit. Mata iblis di atas tiba-tiba mengeluarkan asap hitam yang mulai berkumpul menuju Shi Liang. Mata iblis itu menghilang, dan membentuk sebuah totem sebagai gantinya!

“Rebut totemnya!” Jenderal berteriak, “Aku akan menanganinya!”

Di dalam lingkaran api, monster laut mutan raksasa melompat ke langit, semua tentakelnya terayun ke arah Shi Ni dan melilitnya. Shi Ni berteriak keras; Jenderal berbalik dan melambaikan Jingubang-nya, lalu dia bergegas maju untuk menarik perhatiannya. BL5204

Yu Hao mengambil kesempatan ini untuk terbang ke langit. Dia mengayunkan kedua belatinya saat dia berputar di udara dan dengan kejam menebas dengan semua kekuatannya ― dia memotong semua tentakel yang menjerat tubuh Shi Ni dengan satu gerakan itu!

Totem itu secara bertahap turun. Yu Hao berguling di tanah; ada semakin banyak tentakel yang melengkung ke arah mereka. Yu Hao mendorong Shi Ni menjauh dan menunjuk totem di udara saat dia berteriak, “Ambillah!”

Please support our translators at langitbieru (dot) com

Shi Ni terhuyung-huyung berdiri. Tetapi seolah-olah totem itu telah mengenali pemilik sebenarnya dari pemandangan alam mimpi ini, totem itu mulai hancur menjadi partikel cahaya yang mengalir ke arah Shi Ni ― partikel-partikel ini secara bertahap mulai membangun jembatan di udara. Yu Hao melesat ke satu sisi saat dia menyapukan kedua belatinya. Sebuah cahaya terang keluar dari tubuhnya yang menarik perhatian monster laut mutan di sana.

Monster laut itu memiliki puluhan juta tentakel; dalam sekejap, semua tentakel itu mulai menyerang ke arah Yu Hao dan membentuk sangkar besar yang menutupi langit ― tetapi pada saat ini, lengkingan suara siulan bisa terdengar tidak terlalu jauh. B9M6PO

Monyet besar itu menggigit jari yang terjepit di antara bibirnya dengan gerakan bersiul dan menyapu melewati Yu Hao untuk sekali lagi menarik perhatian semua tentakel yang terarah padanya. Selanjutnya, dia melangkah ke sebuah tentakel yang telah diayunkan dan dengan dua lompatan, dia melompat ke langit. Yu Hao tiba-tiba mengepakkan sayapnya dan hendak terbang ke depan untuk mendukungnya ketika monyet besar itu berteriak keras di udara.

“Jatuhlah, dan, mati——!”

Api merah terang yang dilepaskan dari Jingubang langsung menerangi seluruh dunia sadar yang diselimuti kegelapan itu ― seperti Bima Sakti yang berapi-api yang melonjak menembus langit, ia mengeluarkan suara gemuruh besar di dalam kegelapan untuk menerangi bintang-bintang di alam semesta yang luas dan tak terbatas ini!

Ya Tuhan, dia sangat tampan …… Yu Hao terbang di langit saat dia melihat sosok yang memegang api surgawinya. Api itu mirip dengan meteorit yang bisa membakar semua kejahatan di dunia ini; dalam sekejap, dia merasa semua alasannya telah hancur berkeping-keping seiring dengan kejatuhan itu! BybAm6

Jenderal mengayunkan tongkat pertamanya; dan tongkat itu memancarkan cahaya menyilaukan yang menyulut monster laut itu.

Tongkat kedua! Bumi bergetar, dan monster laut mutan yang tampak seperti gunung terlempar ke udara.

Tongkat ketiga!

Jenderal berputar satu kali di udara, lalu mengerahkan tenaga yang luar biasa untuk memindahkan Jingubang ke bahunya. Jingubang itu tiba-tiba berubah menjadi pilar besi raksasa yang digunakan Jenderal untuk menyapu monster laut dari platform mercusuar! lbE28a

Monster laut mutan itu telah dibakar hingga hangus di udara dan sisa-sisanya berserakan di semua tempat. Tentakelnya melambai ke sekitar dan dengan paksa menarik Jenderal ke bawah.

“Jenderal——!”

Jenderal tampak terengah-engah setelah dia terjebak lilitan tentakel itu, lalu dia jatuh ke hamparan laut yang masih mengamuk di bawah mercusuar. Yu Hao segera membungkuk ke depan dan terbang menuju Jenderal.

Napas Jenderal terengah-engah dan senyum kemenangan terpancar di wajahnya; punggungnya menghadap ke laut sementara pergelangan kakinya terlilit oleh tentakel. u9dJXr

“Jangan……” Jenderal bahkan belum selesai berbicara ketika Yu Hao sudah bergegas meluncur ke dalam pelukannya dan meraihnya dengan paksa; dia mengepakkan sayapnya ke belakang dengan kecepatan penuh, tapi jatuhnya monster laut mutan itu benar-benar terlalu hebat ― Yu Hao tidak bisa menahan momentumnya dan menyebabkan mereka terseret ke dalam lautan gelap itu bersama!

Yu Hao merasakan hawa dingin menyelimuti seluruh tubuhnya, namun dia tidak memiliki kekuatan yang tersisa untuk melawan. Sayapnya menghilang dan dia tidak bisa menahan dirinya untuk jatuh ke dalam kegelapan bersama dengan Jenderal. Hawa dingin yang menusuk tulang membuatnya kewalahan, dan mulai mengaburkan kesadarannya.

Jadi ini adalah alam bawah sadar…… seolah-olah semua pikiran Yu Hao telah diambil paksa. Pikirannya dalam keadaan kacau, dan yang bisa dia lihat hanyalah Jenderal berteriak padanya dengan cemas saat gelembung muncul dari mulutnya.

Pada saat itu, satu-satunya hal yang bisa dia rasakan adalah detak jantung di dada Jenderal, seolah masih ada terik matahari jauh di dalam hatinya yang saat ini berdebar tanpa henti untuk membangunkannya sehingga dia tidak akan kehilangan kesadaran sepenuhnya. 3HsK8C

Yu Hao dan Jenderal terkunci dalam pelukan saat mereka terus jatuh, namun kegelapan yang mengelilingi mereka tiba-tiba menjadi jelas. Berubah warna dari hitam pekat menjadi biru tua, kemudian biru muda, hijau tua, dan kemudian laut berubah sepenuhnya menjadi transparan.

Sinar cahaya melesat dari kejauhan.

Story translated by Langit Bieru.

Shi Ni berdiri di platform mercusuar dan mengangkat tangannya ke arah totem; totem secara ajaib berubah menjadi partikel cahaya perak yang tampak seperti bisa terjalin menjadi Bima Sakti. Semua partikel cahaya itu membungkus seluruh tubuhnya sebelum berubah menjadi gaun putri salju putih yang berkilauan dan cantik.

Shi Ni, “……” lAEn1c

Kain tipis dan transparan di gaunnya berkibar tertiup angin. Saat totem kembali ke tubuh Shi Ni, gelombang cahaya dilepaskan dari puncak mercusuar dan membentuk gelombang kejut yang tersebar ke seluruh dunia kesadarannya.

Dengan ledakan keras itu, monster besar yang berada jauh di dalam lautan segera hancur dan menghilang; permukaan laut yang tingginya beberapa ratus meter runtuh seperti longsoran salju dan menghilang tanpa jejak. Yu Hao segera sadar kembali. Dia masih terkunci dalam pelukan Jenderal saat mereka jatuh ke laut sekali lagi!

“Yu Hao!”

Kesadarannya telah kembali. Jenderal tiba-tiba memeluknya dengan erat. Semua kekuatan di tubuh Yu Hao telah menghilang, dan dunia di sekitar mereka berputar. Untuk kedua kalinya, mereka jatuh dari ketinggian seratus meter dan berteriak beriringan. lBej8A

Aaaaahhhhhh——

Keduanya jatuh ke laut seperti bintang jatuh, tapi tepat sebelum mereka jatuh, suara lengkingan peluit terdengar. Jenderal memegang Yu Hao di pinggangnya dan membalikkan badan di udara. Sinar cahaya cemerlang ditembakkan dari kalung rantai emas yang membalutnya; dia melangkah ke jindouyun-nya dan menarik keduanya dari permukaan laut, lalu terbang ke udara dan berputar pergi!

“Yahoo——”

Yu Hao, “……” bTuOPk

Jenderal berbalik dan berteriak pada Yu Hao, “Apa kau tidak takut mati?!”

Yu Hao berdiri di atas jindouyun dan memeluk pinggang Jenderal dari belakang, lalu dia mulai tertawa.

Langit di atas mereka seputih perut ikan; Jenderal menginjak jindouyun-nya dan membawa Yu Hao saat dia berputar di sekitar mercusuar. Shi Ni berdiri di tengah mercusuar. Yu Hao melihat ke belakang. Shi Ni mengangkat gaun putrinya dan melakukan curtsy di bawah cahaya Venus.

“Terima kasih.” Mata Shi Ni berlinang air mata. F4muMV

Yu Hao berpikir bahwa dia masih harus turun untuk mengucapkan beberapa patah kata, tetapi Jenderal memegang Jingubang di satu tangan sementara dia mencubit telunjuk dan jari tengahnya di tangan yang lain, lalu melambai ke pemilik pemandangan alam mimpi sebelum dia membawa Yu Hao dan terbang tanpa penjelasan lebih lanjut.

Di puncak pegunungan yang tinggi, Yu Hao dan Jenderal duduk di platform saat mereka menghadap ke Timur. Platform di bebatuan yang menonjol ini berukuran sangat kecil. Jenderal bersandar di dinding batu sementara Yu Hao duduk di pelukannya; mereka berdua melihat ke kejauhan dan menunggu sinar fajar pertama datang.

“Kalau kau punya jindouyun, kau seharusnya menggunakannya lebih cepat ba!” Yu Hao tidak tahu apakah dia harus menangis atau tertawa saat dia berkata, “Kenapa kau memanggilnya saat semuanya akan berakhir?”

“Aku benar-benar tidak tahu tentang itu!” Jenderal berkata dengan polos, “Aku tidak tahu kenapa aku memiliki rantai emas dan jindouyun di saat-saat terakhir.” dEp2Vj

“Sekarang aku merasa seperti aku sangat kuat.” Jenderal melanjutkan, “Aku bisa membunuh banyak monster dengan satu sapuan tongkatku, tapi sayangnya tidak ada yang tersisa untuk aku lawan.”

Yu Hao mulai tertawa, punggungnya menempel erat ke dada monyet besar itu dan dia bisa merasakan detak jantungnya yang kuat dan hangat melalui punggungnya.

Langit Bieru.

“Matahari akan segera terbit.” kata Yu Hao.

“Un.” Jenderal berkata, “Fajar segera datang, jadi inilah waktunya untuk mengucapkan selamat malam.” f8xyK3

Matahari terbit; cahaya matahari kala itu menerangi dunia mimpi ini dan laut menjadi berwarna transparan seperti jeli di bawah cahayanya. Gelombang pasang menyapu karang dan cangkang berwarna-warni sebelum surut dengan cepat dengan suara desiran, dan airnya tampak begitu berkilau di bawah sinar matahari.

Potongan-potongan kayu yang pecah melayang ke permukaan laut satu demi satu, lalu terbang menuju teluk saat mereka mulai berkumpul kembali ke desa-desa.

Matahari terbit; dinding dan atap tampak berwarna cerah di bawah iluminasi cahayanya. Rumah-rumah satu demi satu secara spontan membangun dirinya sendiri seperti terbuat dari balok-balok bangunan. Konstruksi tersebut dengan cepat menyebar di sepanjang pelabuhan yang berdekatan dengan pegunungan yang menghadap ke laut dan meluas hingga ke puncak gunung.

Semua tumbuhan di luar pelabuhan dihidupkan kembali dalam sekejap, dan seperti karpet ajaib yang terbentang dalam sekejap, bunga-bunga segar mulai kembali bermekaran dengan indah. nlpA0N

Matahari terbit; pegunungan berubah menjadi salju. Sebuah sungai yang jernih mengalir ke bawah dan melewati ladang hijau sebelum mengalir ke laut.

Angin sepoi-sepoi bertiup melintasi hutan; burung-burung yang melayang di atas kepala berkicau dan ribuan daun terdengar mengeluarkan suara gemerisik. Para NPC mulai bangun secara berurutan, dan suara teriakan bisa terdengar dari jauh.

Kegelapan mercusuar memudar dan dinding luarnya menjadi putih bersih. Suara lonceng “dang, dang” berdering di kota. Perahu nelayan terayun-ayun di dalam air; ketika layar diangkat, mereka berlayar menuju laut di tengah embusan angin sepoi-sepoi di bawah sinar matahari.

Matahari telah terbit, cahayanya menyinari Yu Hao dan Jenderal. xJq74o

“Apa kita akan bertemu lagi?” Saat Yu Hao menyaksikan cahaya matahari meledak dengan sinar cahaya keemasan. Jenderal mengangkat telapak tangannya ke dahi Yu Hao untuk melindungi matanya dari cahaya yang menyilaukan itu.

“Kita benar-benar tidak akan bertemu lagi kali ini.”

Keduanya terdiam sejenak. Yu Hao melihat ke samping di pelabuhan yang seperti dongeng ini dan berkata, “Ada begitu banyak hal yang ingin aku tanyakan kepadamu, tetapi aku tahu kamu tidak akan mengatakan apa-apa. Jenderal, aku tidak ingin mengucapkan selamat tinggal kepadamu seperti ini.”

Jenderal berkata, “Sejujurnya, aku selalu menantikan seseorang yang setelah matahari terbit untuk kesekian kalinya, masih berdiri di hadapanku dan menemukanku sekali lagi. Pada hari kamu memberiku totem milikmu, aku…… lupakan, Yu Hao……” JNC28x

Saat mendengar ini, Yu Hao langsung merasa bingung.

Yu Hao berbalik dan bertanya, “Di mana kau? Aku akan menemukanmu! Jenderal! Aku akan datang padamu!”

“Sayangnya, mimpi hanyalah mimpi, dan hanya bisa tetap sebagai mimpi. Saat matahari terbit, kita harus mengucapkan selamat tinggal.”

“Mulai hari ini dan seterusnya, jalani hidupmu dengan baik. Kamu secara bertahap akan melupakanku.” OyuBhr

Yu Hao berkata, “Tidak! Aku tidak akan pernah melupakanmu!”

“Bertahun-tahun kemudian, ingatanmu akan menjadi semakin kabur, dan kamu akan mulai yakin dengan dirimu sendiri bahwa semuanya hanyalah mimpi.”

Please visit langitbieru (dot) com

“Tunggu!” Yu Hao berkata, “Aku masih memiliki begitu banyak hal yang ingin aku katakan!”

Tangan yang ditempatkan Jenderal di dahi Yu Hao melepaskan cahaya keemasan; dia ingin menekannya ke arah Yu Hao, tapi Yu Hao telah mengangkat tangannya sendiri dan menahan telapak tangannya, lalu menautkan jari-jarinya dengan tangan Jenderal. PKZ1cU

Yu Hao berteriak, “Aku tidak ingin mengucapkan selamat tinggal padamu untuk selamanya seperti ini! Biarkan aku mengucapkan selamat tinggal dengan benar! Jenderal!”

Yu Hao membalikkan tubuhnya, tetapi Jenderal telah menutupi dahinya dengan satu tangan dan menekannya.

“Aku ada di bawah sinar matahari, di tiap embusan angin, di antara langit dan bumi, dan juga di dalam mimpi; aku selalu ada, dan tidak pernah berpisah darimu. Selamat malam.”

Seluruh tubuh Yu Hao hancur menjadi partikel cahaya dan tiba-tiba tersebar di pelukan Jenderal; dia telah terlempar dari alam mimpi Shi Ni. A5Z7aF

Saat fajar, sinar matahari masuk melalui jendela Prancis ruang tamu dan menyinari wajah Yu Hao. Dia berjuang untuk membuka matanya di bawah sinar matahari yang menyilaukan ini, dan ketika dia mengingat saat terakhir dirinya dengan Jenderal di alam mimpi, jantungnya mulai berdebar kencang seperti seseorang tengah menabuh drum di dalamnya ― itu membuatnya sedikit kehabisan napas.

Dia melihat ponselnya, jam 7.30. Shi Ni seharusnya masih tidur. Biarkan dia menikmati pemandangan alam mimpinya setelah matahari terbit lebih lama lagi ba.

Chen Yekai masih belum membalas pesannya. Segera setelah itu, Zhou Sheng mengiriminya pesan.

【Apa kau sudah bangun? Aku akan segera ke sana setelah aku mandi.】 LNdYyG

Dia membalas pesan Zhou Sheng, lalu berdiri untuk membersihkan diri sementara dia mengingat setiap detail tentang Jenderal sejak mereka pertama kali bertemu. Hal yang paling sulit dilakukan seseorang adalah mengenali perasaan mereka sendiri. Yu Hao selalu enggan untuk memikirkannya terlalu banyak sebelumnya, tetapi bahkan jika dia tidak memeriksanya dengan hati-hati, itu akan tetap ada di sana.

Persis seperti bagaimana dia benar-benar jatuh cinta dengan seseorang dari alam mimpi.

Yu Hao memutuskan untuk membuat buku harian dan mencatat apa yang dia ketahui tentang Jenderal di dalamnya. Pada kenyataannya, setelah dia terbangun dari mimpi, dia hampir tidak dapat mengingat penampilan monyet Jenderal dan suaranya lagi. Setiap kali dia bangun dari mimpi-mimpinya, detailnya, kejadiannya, dan bahkan percakapan yang dia lakukan secara bertahap akan memudar seperti es batu di air yang mengalir, sebelum benar-benar menghilang dari ingatannya.

Hanya ada satu momen yang masih tertinggal dari mimpinya ― gelombang emosi yang hebat dan kesan yang ditinggalkannya ― masih mengalir ke seluruh pembuluh darah di tubuhnya. cSomWG

Yu Hao mencoba mengetik beberapa baris, namun dia tidak pernah bisa menggambarkan mimpinya sendiri secara akurat. Jadi dia hanya bisa menghapusnya, mengetiknya lagi, lalu menghapusnya lagi; Dia dengan keras kepala berpikir bahwa dia harus menulisnya, ini akan menjadi beberapa kenangan terpenting dalam hidupnya.

Shi Ni mengiriminya pesan, 【Laoshi, apa kamu sudah bangun?】

Yu Hao membalas Shi Ni, dan Shi Ni membalasnya lagi, 【Aku ingin makan sarapan dari McDonald.】

Jadi Yu Hao turun untuk membeli sarapan dan membawanya kepada Shi Ni. Shi Ni mengenakan piyamanya dan terlihat lelah saat dia membukakan pintu untuknya. Dia berkata, “Apa Zhou Sheng akan datang untuk sarapan juga?” hxQVmi

“Dia akan datang.” Yu Hao sedikit linglung, pikirannya masih penuh dengan mimpinya dan Jenderal. Dia menjawab, “Dia akan segera sampai.”

Shi Ni masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian. Yu Hao duduk di sofa dan mengeluarkan ponselnya untuk mengirim pesan kepada Zhou Sheng.

Please visit langitbieru (dot) com

Tiba-tiba, terdengar bunyi klik dari arah lubang kunci di pintu. Dia mendongak.

Bukankah mereka mengatakan bahwa pengasuh tidak akan datang hari ini? HiRrAs

Yu Hao dengan cepat merapikan rambutnya. Dia sedang berpikir tentang bagaimana menjelaskan tentang dirinya yang berada disini ketika pintu terbuka, dan seorang pria paruh baya masuk. Dia menutup pintu, memasukkan kunci dan mengunci pintu lagi ― Shi Liang yang mengenakan mantel bulu telah kembali.

Translator's Note

Awan sihir milik Sun Wukong.

Translator's Note

Sapaan formal seorang wanita atau anak perempuan dilakukan dengan menekuk lutut dengan satu kaki di depan kaki lainnya.

Leave a Comment

For an easier time commenting, login/register to our site!