English

Merebut MimpiCh19 - Ketakutan Datang Setelahnya

2 Comments

Penerjemah : jeff

Editor : Ai BIWERi

 

Raungan marah Zhou Sheng terdengar dari luar pintu, “Yu Hao! Apa kau ada di dalam? Buka pintunya!”

Story translated by Langit Bieru.

Yu Hao tidak punya waktu untuk bereaksi. Shi Liang tidak menyangka akan ada orang lain di ruang tamunya, jadi ketika dia berbalik dan secara tidak sengaja melihat Yu Hao, dia tercengang… 5AYzdu

Napas Yu Hao tercekat. Dia kehilangan kata-katanya, namun pikiran yang sama sekali tidak berhubungan melintas di benaknya. Asal muasal dari mata iblis! Shi Liang selalu mengawasi putrinya! Sangat mungkin dia melacak lokasi Shi Ni melalui ponselnya!

“Kubilang……” Shi Liang begitu terperangah sampai tidak bisa berkata-kata, dan dia sangat marah sehingga seluruh tubuhnya gemetar.

Yu Hao tampak tenang, lalu dia perlahan bangkit dan berdiri di depan kamar Shi Ni. Dia memperhatikan Tuan Shi dengan waspada ketika dia mencoba mencari cara untuk membuat mereka berdua kabur dan menjauh darinya. Dia memegang ponsel di belakang punggungnya dan berencana untuk menekan tombol panggilan daruratnya.

Ketika Shi Liang memperhatikan tangannya berada di belakang punggung, dia sepertinya menyadari rencana Yu Hao dan berteriak dengan marah, “Kau berani masuk ke rumahku?! Laozi akan membunuhmu!!” Saat dia berbicara, dia mengambil salah satu dekorasi di ruang tamunya dan tiba-tiba melemparkannya ke arah Yu Hao! ZSCV6n

Yu Hao baru saja membuka kunci layar ponselnya, tetapi dia dengan cepat melemparkan ponselnya ke samping ketika Shi Liang menyerang. Dia 0sedikit membungkuk dan menerkam ke arah Shi Liang, lalu memeluk pinggangnya saat dia menerobos melalui ruang tamu dan menjatuhkan Shi Liang ke lantai ruang makan!

Shi Ni bergegas keluar dan berteriak, “Yu Hao——!”

“Kembali ke kamarmu! Jangan keluar!” Yu Hao balas berteriak, “Ambil ponselku dan hubungi Zhou Sheng!”

Yu Hao mencoba untuk bangkit kembali ketika Shi Liang mengangkat kursi dan menghempaskannya dengan brutal ke kepala Yu Hao – pukulan itu membuat kepala Yu Hao berputar dan penglihatannya menggelap. Yang bisa dia lihat hanyalah bintang-bintang saat dia terhuyung dari sisi ke sisi. Shi Ni bergegas maju dan ingin menarik ayahnya menjauh, tetapi dia mendapat tamparan keras dari Shi Liang yang membuatnya jatuh ke lantai. Darah langsung mulai mengalir dari sudut mulutnya. vNDiE3

Yu Hao jarang berkelahi, tetapi jika dia benar-benar harus, dia bisa melakukannya tanpa begitu memperhatikan keselamatannya sendiri. Dia segera meraih kursi lain dan membantingnya ke punggung Shi Liang. Shi Liang menyeret Shi Ni ke atas dengan mencengkeram kerahnya, lalu berbalik dan mendorong Yu Hao ke depan lemari. Keduanya terkunci dalam perkelahian. Tapi Yu Hao berada dinposisi yang kurang menguntungkan karena dia baru saja bangun, dan saat ini masih bertelanjang kaki, jadi ketika dia melangkah dan menginjak pecahan kaca di lantai, darah menyembur keluar dari kakinya. Dia bahkan harus melindungi Shi Ni juga, jadi dia menerima pukulan lagi di kepalanya.

“Buka!”

Rumah itu menjadi begitu berantakan karena perkelahian mereka. Raungan marah Zhou Sheng terdengar dari luar pintu, “Yu Hao! Apa kau ada di dalam? Buka pintunya!”

Yu Hao menahan Shi Liang dan berteriak, “Nini pergi dan buka pintunya!” IRCfm5

Shi Ni, “Pintunya dikunci dari dalam!”

Zhou Sheng berdiri di koridor saat dia dengan brutal menendang pintu hingga suara nyaring terdengar, tetapi pintu anti-maling itu tidak dapat dibuka apa pun yang dia lakukan. Saat itu masih pagi. Semua tetangga yang mendengar keributan itu segera keluar dari rumah mereka satu per satu.

Di tengah kekacauan yang ada di dalam, semua peralatan listrik dan TV di rumah Shi Liang semuanya telah hancur dan berserakan akibat perkelahian mereka. Keduanya berdarah karena luka di kepala. Shi Liang memegang botol anggur pecah di tangannya dan mengarahkannya pada Yu Hao. Kepala Yu Hao terluka parah dan berdarah, dan lantai tempat itu dipenuhi pecahan kaca yang melukai kaki telanjangnya saat dia bergerak. Napasnya tidak bisa berhenti tersengal-sengal, tapi dia tetap melindungi Nini yang berdiri di belakangnya.

“Kau masuk ke rumahku tanpa izin.” Shi Liang terengah-engah saat dia berkata dengan keras, “Bahkan jika aku membunuhmu sekarang, itu bisa dibenarkan sebagai pembelaan diri!” Q5Lty0

Yu Hao mencoba mengatur napasnya. Kemudian dia tiba-tiba berbalik dan memeluk kepala Shi Ni, membawanya berguling ke sudut ruangan!

Di belakang Shi Liang, sosok Zhou Sheng terlihat memanjat gantungan baju yang terbuat dari baja dan dengan satu tangannya berada di balkon, dia meluncur dan melemparkan sebuah tendangan. Dengan benturan keras, jendela Prancis rumah itu berubah menjadi pecahan kaca yang memenuhi udara saat semua pecahan itu terlempar dan terbang ke ruang tamu. Zhou Sheng mengeluarkan raungan marah mirip seperti binatang buas. Shi Liang berbalik, ketakutan yang hina tercermin di matanya. Dia bahkan tidak bisa berteriak sebelum tendangan lain mendarat di dadanya, menjatuhkannya ke rak buku.

Please visit langitbieru (dot) com

Zhou Sheng kembali meraung marah. Shi Liang baru saja bangun ketika dia mendapat pukulan lain tepat di wajahnya, dan jatuh lagi ke lantai.

“Jangan pukul dia lagi!” Yu Hao segera berteriak, takut Zhou Sheng benar-benar akan membunuhnya. Dia melesat ke depan untuk membuka pintu, dan Huang Ting membawa rekan-rekannya bersamanya saat mereka bergegas masuk. jAOPgT

Zhou Sheng seperti binatang buas yang baru saja lepas dari kandangnya. Dia meraung dengan marah saat dia bergegas maju dan melemparkan pukulan lain.

Shi Liang mendapat pukulan lain di wajahnya, yang sekarang sudah benar-benar berlumuran darah. Dia jatuh ke tanah dan kehilangan kesadaran.

Yu Hao berpikir dia mendengar suara tulang patah, jadi dia dengan cepat berbalik dan mendorong Zhou Sheng ke sudut dinding. Kemarahan Zhou Sheng berkobar seterang api tungku yang digunakan untuk melebur baja, tetapi akhirnya mulai mereda. Kemudian, dia tiba-tiba mengangkat Yu Hao dan menggendongnya dengan gaya pengantin sebelum bergegas keluar seperti embusan angin.

We’re sorry for MTLers or people who like using reading mode, but our translations keep getting stolen by aggregators so we’re going to bring back the copy protection. If you need to MTL please retype the gibberish parts.

Ketika mereka berada di dalam mobil, Zhou Sheng masih terengah-engah seperti macan tutul setelah berburu, sementara pikiran Yu Hao kosong. Dia hanya bisa melihat ke belakang saat dia bertanya, “Shi Ni……” L2utrj

“Lejcu Klcu jxjc wfcpjujcsj.” Itbe Vtfcu afgrjvjg vjgl xfulijjccsj rfyfiewcsj, ijie wfcfueg vfcujc wjgjt, “Cqj xje alvjx ajte yjujlwjcj mjgj wfceaeq qlcae? Bfcjqj xje alvjx yfgrfwyecsl vl xjwjg?!”

Te Ljb alvjx ylrj yfgrfwyecsl vjijw rlaejrl rfqfgal lae, vjc yjtxjc plxj vlj ylrj, vlj alvjx jxjc wfwlxlgxjccsj vl rjja sjcu rfqeaer jrj rfyfiewcsj. Ujvj rjja lae, rjae-rjaecsj qlxlgjc sjcu vlj wlilxl jvjijt wfilcvecul Vtl Rl.

“Bagaimana kau bisa masuk?” Yu Hao teringat saat Zhou Sheng muncul dari balkon.

“Aku melompat masuk.” kata Zhou Sheng. GSptfA

“Itu lantai 36!” Darah langsung mengalir ke kepala Yu Hao saat dia berkata dengan marah, “Apa kau mau mati?!”

Shi Liang tinggal di dekat lantai paling atas sebuah gedung bertingkat tinggi. Dinding luarnya kosong, dan hanya ada balkon di dekatnya yang berjarak sekitar 3 meter. Pertama, Zhou Sheng membuka jendela ruang berjemur di balkon tetangga, lalu melompat ke rak AC di luar dinding rumah Shi Liang dan berpegangan di sana sebelum melompat ke platform di luar ruang berjemur kediaman Shi. Kemudian dia membuka jendela kecil ruang berjemur itu dan masuk ke dalam balkon. Yu Hao melihat ke bawah balkon ― bahkan tidak ada tempat di mana kamu bisa mendarat. Sebuah pemandangan muncul di benaknya tentang Zhou Sheng yang bergelantungan di tepi balkon sambil mempertaruhkan hidupnya, dan jika dia sedikit ceroboh, dia akan jatuh langsung dari lantai 36 menuju platform marmer yang dibangun di atas lantai dua ― dia akan langsung berubah menjadi bubur daging!

Baru kemudian Yu Hao tahu bahwa dia takut. Kepanikan terlihat di matanya karena dia tidak bisa berhenti terengah-engah. Namun, Zhou Sheng memeluk Yu Hao ketika mereka keluar dari mobil dan berlari menuju rumah sakit.

“Apa lagi yang bisa aku lakukan?!” CLKoiv

“Turunkan aku!”

“Diam!” Amarah Zhou Sheng kembali berkobar.

Ketika dia memikirkan adegan di mana Zhou Sheng bergelantungan di tepi balkon, Yu Hao merasa sangat marah. Hatinya terasa seperti dicengkeram erat, tetapi dengan raungan Zhou Sheng itu, semua emosi yang memenuhi hatinya lenyap seketika.

Dia memiliki banyak pecahan kaca dari meja kopi di kakinya sehingga darah keluar begitu banyak di sepanjang jalan. Itu terlihat sangat menakutkan, terutama dengan Zhou Sheng yang menggendongnya. Saat perawat melihatnya, dia berkata, “Pergi ke ruangan paling ujung di koridor itu! Aku akan mencari dokter!” NdE1cO

“Departemen Ginekologi dan Kebidanan?” Zhou Sheng memasuki bangsal dengan tanda tanya di seluruh kepalanya.

Yu Hao, “……”

Read more BL at langitbieru (dot) com

Perawat tadi sedang terburu-buru, jadi dia mengira Yu Hao adalah seorang gadis dan berpikir bahwa sesuatu yang serius telah terjadi. Yu Hao berjuang untuk turun dan berjalan tertatih-tatih menuju bangsal bedah, sementara Zhou Sheng bergegas keluar untuk mencari perawat agar dia bisa mendapatkan obat merah dan perban. Perawat mengambil pinset dan membersihkan luka Yu Hao untuknya.

Yu Hao tidak menyadari apa-apa pada awalnya, tetapi sekarang setelah pecahan-pecahan itu dicabut dari kakinya, dia mulai merasakan sakit. Dia mengerutkan bibirnya saat dia mencoba menahan rasa sakit yang menyerang, tapi wajahnya menjadi sangat pucat. AYNO7d

Setelah perawat selesai membersihkan lukanya, Zhou Sheng berlutut dengan satu lutut dan mengoleskan obat untuk Yu Hao. Dia tiba-tiba mendongak dan bertemu dengan tatapan Yu Hao, lalu mereka berdua benar-benar kembali santai.

“Kita tidak bisa pergi ke taman hiburan hari ini.” Yu Hao tidak tahu mengapa ini adalah hal pertama yang dia pikirkan.

“Aku ingat.” Zhou Sheng menepuk sakunya dan berkata, “Aku sudah membeli tiketnya, berlaku selama satu tahun.” Saat dia berbicara, dia mengangkat ponselnya. Baru kemudian Yu Hao ingat bahwa dia telah meninggalkan ponselnya di kediaman Shi.

Setelah semua kekacauan yang membingungkan ini, hanya Zhou Sheng dan Yu Hao yang tersisa di bangsal saat mereka saling memandang dalam diam. Sangat sepi di tempat itu. pIeST1

“Lain kali kau harus melindungi dirimu dengan lebih baik, mengerti?” kata Zhou Sheng.

Yu Hao menjawab, “Dan kau juga harus berjanji padaku kalau kau tidak akan pernah memanjat ke lantai 36 lagi.”

“Kalau kau tidak dikunci di dalam, aku tidak akan memanjat ke sana!” Zhou Sheng meledak lagi.

Yu Hao berkata, “Tidak seperti dia benar-benar akan membunuhku?! Jika yang terburuk terjadi paling buruk aku hanya akan dipukuli, tetapi kalau kau jatuh kau akan mati!” D8XKTZ

Zhou Sheng dan Yu Hao sama-sama kehabisan napas untuk sementara waktu, dan bangsal itu kembali hening.

Yu Hao tidak pernah berpikir bahwa seseorang akan melakukan sesuatu yang berbahaya demi dirinya dalam hidupnya, meskipun bagi Zhou Sheng, dia mungkin melakukannya murni karena naluri.

Ada seseorang di dunia ini yang begitu peduli pada keselamatannya seperti ini ― perasaan bahwa dirinya mengetahui hal ini terasa seperti zaitun pahit. Setelah dikunyah cukup lama, rasanya akan sedikit berbeda.

“Kau sudah menyelamatkanku dua kali sekarang.” Yu Hao berkata dengan gelisah dalam keheningan ini, “Aku …… maaf, Zhou Sheng.” WwjT1v

“Jangan terlalu banyak bicara.” Zhou Sheng tidak tahu apakah dia harus menangis atau tertawa ketika mendengar itu. Dia berdiri dan berkata, “Itu terlalu klise.” Saat dia berbicara, dia melihat ponselnya dan keluar untuk menerima panggilan. Saat dia berbalik, Yu Hao tiba-tiba melihat sekilas wajah Zhou Sheng yang tampak memerah.

Yu Hao tidak tahu mengapa tapi dia tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa terbahak-bahak. Zhou Sheng dengan marah memberi isyarat agar dia tidak bersuara, lalu memberi tahu orang lain di telepon bahwa pendarahannya telah berhenti. Huang Ting mungkin meminta mereka untuk pergi secepat mungkin.

“Ayo pergi ba.” Zhou Sheng menarik Yu Hao, lalu bertanya, “Apa kau bisa berjalan?”

“Aku bisa berjalan sendiri.” kata Yu Hao buru-buru. xtdn5i

Zhou Sheng tidak menggendongnya lagi. Dia membungkuk sedikit saat membantunya keluar dari rumah sakit.

Setengah jam kemudian di kantor polisi, Shi Ni memeluk Zhou Sheng sambil menangis beberapa saat. Dia mencoba menahan air matanya di depan Yu Hao dan bertanya dengan suara lembut, “Apa kamu baik-baik saja?”

Langit Bieru.

Yu Hao tersenyum saat dia melihat Shi Ni, “Ini hanya luka kecil.” Kemudian dia melihat pria dan wanita paruh baya di belakang Shi Ni, “Apa kamu tidak ingin memperkenalkan kami?”

Wajah menangis Shi Ni berubah menjadi senyuman. Dia memperkenalkan paman dan bibinya, dan keduanya terus berterima kasih kepada Yu Hao dan Zhou Sheng yang sebesar-besarnya atas bantuan mereka. Ekspresi mereka tampak sangat dipaksakan. Terbukti, mereka masih harus berusaha menerima kebenaran yang baru saja diungkapkan Huang Ting kepada mereka dan belum menenangkan amarah mereka. 1wMj6J

Huang Ting secara pribadi menginterogasi Shi Liang. Semua orang khawatir Shi Liang lebih baik mati daripada mengakui kejahatannya, dan berpikir bahwa dia mungkin akan membalas tuduhan terhadap Yu Hao dan Zhou Sheng karena membobol rumahnya untuk mencoba membunuhnya. Mereka hanya bisa menginterogasi Shi Liang paling lama 24 jam. Begitu waktu habis, jika dia menolak untuk mengaku, polisi harus membebaskannya.

Shi Ni melihat ke dalam ruang interogasi dan berkata, “Aku ingin bertemu dengannya.”

“Jangan pergi.” Yu Hao berkata, “Setidaknya, kamu akan benar-benar aman mulai sekarang dan seterusnya.”

Shi Ni berkata, “Tidak, aku harus pergi.” bQkdPf

Zhou Sheng, “Kami akan menemanimu.”

Namun Shi Ni menyeka air matanya sebelum dia berkata, “Biarkan aku pergi sendiri. Percayalah, Yu Laoshi.”

Yu Hao merenungkannya sejenak. Shi Ni berdiri di depannya dengan agak keras kepala, masih mengenakan piyamanya. Dia menunduk dan melihat tangan Shi Ni ― jari-jarinya gemetar tanpa henti.

Yu Hao membuka tangannya. Shi Ni meletakkan tangannya di atas telapak tangannya, lalu Yu Hao menutup tangannya dan dengan sungguh-sungguh berkata, “Oke, aku percaya padamu.” XlEe0d

Saat ini, dia merasakan jiwa baru Shi Ni. Tatapannya membuatnya teringat pada satu momen ― setelah dia melangkah ke jindouyun Jenderal, mereka berdua terbang melewati puncak menara dan mengucapkan selamat tinggal kepada putri yang mengenakan gaun gaya Barat. Sebagai tanggapan, dia mengangkat ujung gaunnya untuk melakukan curtsy ― tatapannya seolah menyampaikan bahwa sejak saat itu, dia tidak lagi takut pada apa pun.

Persis seperti perasaan Yu Hao setelah matahari terbit di alam mimpinya ― seolah-olah semua kabut di hatinya telah lenyap tanpa jejak.

Shi Ni berbalik dan pergi ke ruang interogasi sendirian. Dia hanya menghabiskan waktu lima menit di sana sebelum Huang Ting membawanya keluar.

Semua orang mulai cemas. Zfv9N2

Huang Ting memberi isyarat OK sebagai tanda bahwa mereka telah berhasil.

Shi Ni terlihat sangat lelah. Bibinya membawanya ke satu sisi sebelum mereka berdua berbicara satu sama lain dengan lembut.

“Dia membuka kunci ponsel ayahnya.” Huang Ting berbisik, “Ada beberapa ……. foto Shi Liang. Shi Liang tidak bisa menyangkalnya lebih jauh lagi.”

Yu Hao hampir seketika memikirkan lantai atas mercusuar, tempat gambar buram yang berputar di sekelilingnya di loteng. SYGsBE

Shi Liang membatalkan tuduhannya terhadap Yu Hao dan Zhou Sheng, lalu langsung mencari pengacara.

Sementara itu, Yu Hao, Zhou Sheng, Shi Ni, dan paman dan bibi Shi Ni duduk di kafe sambil mengobrol sebentar. Paman Shi Ni memutuskan untuk membawanya ke rumah neneknya di kota tetangga terlebih dahulu. Neneknya ingin bertemu dengannya.

Please visit langitbieru (dot) com

“Nini, kamu bisa meneleponku kapan pun kamu mau jika ada sesuatu yang terjadi.” Yu Hao tahu bahwa langkah selanjutnya adalah menunggu sidang. Mereka semua terlibat dalam hal ini, jadi mereka akan bertemu lagi saat waktunya tiba.

Shi Ni mengangguk dan membuat isyarat yang berarti mereka harus tetap berhubungan melalui QQ, sebelum dia masuk ke mobil pamannya. KqvnmB

Zhou Sheng membiarkan Yu Hao memegang bahunya saat mereka berdua berdiri di depan pintu masuk kantor polisi. Kota Ying menyambut hari dengan cuaca terbaik di periode musim dingin ini.

Angin bertiup, mengumpulkan semua daun mati di pucuk pohon, dan menerbangkannya dari dahan, yang kemudian berputar ke segala arah. Langit tampak berwarna biru cerah, dan lalu lintas memadati jalanan. Kaca spion, jendela mobil, dan dinding kaca gedung bertingkat tinggi semuanya memantulkan awan putih yang melayang di cakrawala, seolah-olah seseorang telah menuangkan seember campuran cat biru dan putih dari langit, yang berubah menjadi coretan lembut yang melayang melalui kota.

Matahari yang bersinar cerah dan hangat menyinari semua orang di kota.

“Apa kau mau secangkir kopi?” Huang Ting berkata, “Aku sudah memberi tahu guru pembimbingmu, dia akan datang sebentar lagi. Kita masih perlu menyelesaikan beberapa masalah.” 4V6lwX

Huang Ting pergi membeli kopi untuk mereka di kafe di seberang kantor polisi. Chen Yekai memasang ekspresi aneh di wajahnya saat dia duduk di hadapan Yu Hao dan Zhou Sheng.

“Laoshi, rambutmu……..” kata Yu Hao.

“Apa tidak terlihat bagus?” kata Chen Yekai.

“Tidak.” Yu Hao tersenyum, “Itu terlihat sangat bagus, aku hanya tidak menyangka kau begitu trendi!” f0YakW

Ketika Chen Yekai menerima berita bahwa “sesuatu yang buruk sedang terjadi”, dia sedang memotong rambutnya di sebuah salon mewah. Tukang cukurnya baru saja menyibakkan rambut di kedua sisi kepalanya dan bersiap untuk meratakan bagian atas kepalanya seperti sedang memotong rumput, tetapi Chen Yekai berubah pucat karena ketakutan setelah dia melihat ponselnya dan terus mendesak Pak Tony untuk bergegas karena dia punya sesuatu yang mendesak untuk diurus. Pak Tony hanya bisa membiarkan rambutnya begitu saja. Setelah dia menyisirnya dan mengeringkannya sebentar, Chen Yekai langsung bergegas pergi. Tetapi pada akhirnya, ketika dia melihat Yu Hao dan Zhou Sheng sedang makan kue dan minum kopi, dia hampir mati ketakutan.

“Di mana Shi Ni?” Chen Yekai bertanya.

“Dia sudah dijemput.“ Zhou Sheng menjawab, “Biarkan dia istirahat ba.”

“Dia mengakuinya?” Chen Yekai bertanya. 6lHfO

Untuk sesaat Yu hao dan Zhou Sheng tidak tahu bagaimana menjawabnya. Huang Ting kembali dan meletakkan cangkir kopi, “Dia mengakuinya.”

Huang Ting dan Chen Yekai saling memandang. Yu Hao samar-samar bisa merasakan bahwa Chen Yekai sudah menebak inti dari apa yang telah terjadi ― dari bagaimana Yu Hao menginap di kediaman Shi, dari seberapa banyak Yu Hao melindungi Shi Ni, serta ekspresi di wajah mereka yang dia amati. Setelah Chen Yekai duduk, dia hampir tidak mengajukan pertanyaan apa pun.

Laoshi, aku akan mentraktirmu ini.” Yu Hao mengambil sekotak cokelat yang diberikan Shi Ni padanya kemarin. Masih ada satu bagian lagi yang tersisa di dalam. Chen Yekai mengamati Yu Hao sebelum jari-jarinya yang kurus mengambil cokelat dari kotak itu.

Zhou Sheng berkata, “Ayo kita buat kesepakatan, Kaikai, jangan hukum kami karena inspeksi asrama kemarin bei.” wsv1cZ

Chen Yekai, “……”

Yu Hao, “Aku benar-benar ……..”

Langit Bieru.

Huang Ting, “Mereka berdua takut dihukum, jadi mereka secara khusus memintaku untuk bertindak sebagai saksi mereka.”

Chen Yekai melambaikan tangannya untuk memberi isyarat bahwa itu tidak masalah, lalu berkata kepada Huang Ting, “Dia mengakuinya begitu saja?” fkzEnF

Huang Ting mengangguk. Mereka berempat terdiam untuk waktu yang lama. Chen Yekai memasukkan cokelat ke dalam mulutnya; matanya menyipit saat dia mengunyahnya beberapa kali, “Itu bagus, semuanya sudah berakhir. Ayo pergi, aku akan mengajak kalian berdua untuk potong rambut.”

“Aku tidak akan pergi!” Zhou Sheng segera berkata.

Yu Hao, “Kakiku belum sembuh!”

Protes mereka tidak valid. Chen Yekai mengisi formulir sebelum membawa mereka berdua untuk potong rambut. Dia melihat gaya rambut barunya di cermin, lalu bertanya pada Yu Hao, “Menurutmu apakah Laoshi akan terlihat lebih cocok dengan gaya rambut ini atau potongan rambut pendek?” ESjFBu

“Tentu saja kamu terlihat lebih baik seperti ini.” Ini adalah pertama kalinya Yu Hao memasuki salon kelas atas, jadi dia merasa tidak nyaman dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Zhou Sheng berkata, “Jangan terlalu narsis, kamu tidak akan terlihat setampan Laozi bahkan dengan potongan rambut pendek.”

Chen Yekai, “……”

1rL0ps

Leave a Comment

For an easier time commenting, login/register to our site!

2 comments