English

Merebut MimpiCh37 - Melihat Darah

3 Comments

Penerjemah : Zhanshines


Setelah selesai mencuci pakaian, Yu Hao berbaring di tempat tidur dan melihat hiasan bintang-bintang yang menyala dalam gelap di plafon kamarnya. v91j60

Jam 10.45 malam, Zhou Sheng belum juga pulang. Padahal sekarang sudah memasuki waktu penutupan gerbang gedung asrama.

“Mau ke mana?” tanya Fu Liqun. Layar ponselnya memantulkan wajahnya yang setampan Wang Leehom dan mereka sejujurnya memang terlihat sangat mirip dari samping.

Please support our translators at langitbieru (dot) com

Yu Hao, “Membeli rokok.”

Fu Liqun, “Bukannya kau tidak merokok?” JL5ipf

Sejak Fu Liqun putus dengan Cen Shan, dia akan selalu berbicara dengan nada yang terdengar datar—tidak terdengar sedih atau senang—dan itu sangat mirip dengan suara siri versi laki-laki di ponselnya.

“Mau kupakai untuk membujuk seseorang,” kata Yu Hao, lalu mengenakan celana pendek, sandal, dan baju kausnya. Ketika Yu Hao mencapai lantai dua, dia meluncur ke bawah melalui pipa pemanas.

Aturan jam malam asrama tidak akan menghalangi para mahasiswa olahraga, terutama Zhou Sheng, yang merupakan orang pertama yang menemukan cara untuk masuk ke asrama setelah jam 10 malam.

Zhou Sheng bisa dikatakan ahli parkour—-dia akan melalui dan melompati atap serta dinding seolah-olah dia sedang berjalan di permukaan tanah; dia akan melompat dari lantai satu ke jendela anti-maling, lalu melakukan satu kali putaran lagi untuk mencapai lantai dua. Namun, Yu Hao tidak bisa melakukannya. Zhou Sheng pernah mencoba mengajarinya beberapa kali sebelumnya, tapi Yu Hao tetap tidak pernah bisa memahaminya. iy45RM

Pada akhirnya, Zhou Sheng hanya mengubah taktik dan mengajarinya cara memanjat pipa pemanas sambil mengejeknya tanpa ampun.

Yu Hao membeli sebungkus Zhonghua untuk Zhou Sheng dan memasukkannya ke dalam sakunya. Dia sekonyong-konyong teringat kalau korek api Zhou Sheng sudah kehabisan gas. Jadi, dia memutuskan untuk membelinya juga.

Entah kenapa tiba-tiba saja Yu Hao merasa ingin merobek bungkus rokok itu dan mengambil satu batang untuk ia isap.

Pada malam musim semi ini, ada banyak gangguan dan keributan di asrama. Para mahasiswa dewasa dapat diibaratkan seperti serigala. Serigala liar yang dikurung di dalam tubuh fisik laki-laki. Mereka berjalan di koridor dengan setengah telanjang. Terkadang, mereka akan mengeluarkan beberapa lolongan karena mereka tidak punya tempat untuk melampiaskan energi dari tubuh mereka, jadi mereka semua merasa sangat gundah. OYRtmg

Yu Hao berjalan sepanjang jalan setapak di belakang asrama dan secara bertahap meninggalkan asrama. Sekelilingnya seketika tampak tenang; pada malam musim semi yang memabukkan ini, hanya rokok, alkohol, dan seks yang dapat memberikan penghiburan, tetapi Yu Hao bahkan tidak memiliki satu pun dari ketiganya.

Aku harus mengurangi kebiasaan merokok Zhou Sheng. Yu Hao merobek bungkus rokoknya hingga terbuka. Dia duduk di sebelah lapangan dan berpikir bahwa Zhou Sheng yang merokok saat masih perlu berlatih untuk Iron Man Triathlon tampaknya akan mempengaruhi jantungnya. Akan lebih baik jika Zhou Sheng menggunakan rokok elektronik sebagai pengganti rokok asli, tapi sesungguhnya Yu Hao begitu tertarik pada bau asap yang halus pada diri Zhou Sheng—aroma itu bercampur dengan aroma alami Zhou Sheng dan campuran ini telah berubah menjadi aroma khasnya.

Yu Hao mengeluarkan sebatang rokok, merenung sebentar, lalu memasukkan sebatang rokok itu kembali ke tempatnya. Dalam keheningan yang mematikan, Yu Hao tiba-tiba mendongak. Dia merasa secara sekilas telah melihat sosok seseorang sedang berjalan dari taman samping lapangan basket, menuju gedung asrama di luar lapangan.

Yu Hao mengerutkan kening kala melihatnya; sosok itu nyaris tidak bersuara saat berjalan dan ia segera menghilang di belakang asrama. uYF4hB

Yu Hao merasa ada yang tidak beres. Gedung asrama yang dimaksud itu adalah gedung asrama para pengajar. Di tempat itu tidak diberlakukan jam malam, sehingga mereka yang kembali ke gedung asrama biasanya tidak terlalu memperhatikan suara langkah kakinya. Hanya satu jenis orang yang akan berusaha sebaik mungkin untuk tidak bersuara saat mereka bergerak yaitu seseorang yang mencoba menyembunyikan sesuatu.

Yu Hao bangkit dan melihat melalui kawat berduri di lapangan. Kali ini, dia benar-benar melihatnya—seseorang telah memasuki gedung asrama, tetapi seseorang itu tidak naik ke atas dan tidak membuka pintu! Dia malah baru saja pergi ke ruang di bawah sudut tangga!

Rasa dingin tiba-tiba melanda tulang punggung Yu Hao. Siapa itu? Ada ruang segitiga yang sangat sempit di bawah tangga gedung asrama dan biasanya digunakan untuk menyimpan sapu dan perlengkapan lainnya. Sekarang hampir jam 11 malam dan seseorang benar-benar memasuki tempat yang digunakan untuk menyimpan sapu?!

Yu Hao menahan napas. Yu Hao dengan hati-hati berjalan melewati tempat parkir dan mencoba berjalan memutar menuju bagian belakang gedung asrama dosen, lalu menuju ke tangga. di8kl6

Sosok itu berdiri diam dengan punggung menghadap ke Yu Hao.

Yu Hao, ” ….”

Langit Bieru.

Napasnya semakin cepat. Sosok itu berbalik dan menghadapnya.

Chen Yekai! Hc9aER

Chen Yekai berdiri dengan tenang di bawah tangga, seolah-olah dia adalah hantu.

“Chen Laoshi?!” Yu Hao merasa rambutnya berdiri tegak dan suaranya nyaris terdengar seperti itu bukan suaranya sendiri.

Deru mobil terdengar dari luar. Lampu depannya yang terang menyapu lantai pertama gedung asrama—sebuah mobil datang dan hendak menerangi tempat Yu Hao berdiri. Chen Yekai langsung bereaksi; dia meraih pergelangan tangan Yu Hao dan dengan paksa menyeretnya ke tangga!

Tubuh Yu Hao bertabrakan dengan tubuh Chen Yekai. Dia bisa mencium bau alkohol yang terpancar dari mantel dan kemejanya. 8ieQw9

“Jangan bersuara,” Chen Yekai berbisik sangat pelan ke telinga Yu Hao.

Mantel yang dikenakan Chen Yekai bukanlah yang dia pakai saat mereka pergi naik gunung hari ini. Mantel itu menutupi aroma alkohol yang dia minum saat makan malam tadi. Darah Yu Hao benar-benar terasa mendingin. Dia tidak tahu apa yang direncanakan Chen Yekai, tetapi dia tidak mengucapkan sepatah kata pun karena kepercayaannya padanya. Mobil terhenti di luar gedung asrama. Mereka mendengar suara pintu ditutup, sistem alarmnya diaktifkan dan dering berulang bergema. Kemudian, suara langkah kaki seorang pria yang berbahaya mulai mendekati tangga.

“Oke, yang paling penting, perempuan itu belum bangun.” Pria itu sedang menelepon. Dia menghela napas, “Aku benar-benar tidak tahu, apa lagi yang harus kukatakan?”

Yu Hao mendengar detak jantung Chen Yekai langsung melonjak kira-kira hingga 160bpm. Salah satu tangannya terus disembunyikan di dalam sakunya—dia tidak pernah menunjukkannya saat ini. Sekarang, seluruh tubuh Chen Yekai gemetaran. e3gcET

Yu Hao memegang tangan Chen Yekai melalui mantelnya dan menekannya. Dia merasakan ada sesuatu di saku mantel dosennya itu.

“Baiklah,” kata pria misterius tadi, “kalau begitu, aku akan membuatmu repot.”

Pria itu lewat tanpa memperhatikan dua orang yang bersembunyi di dekatnya dalam kegelapan, lalu berjalan menaiki tangga.

“Kuharap begitu ba ….” VpljYU

Suara itu perlahan memudar. Kunci elektronik di lantai tiga berbunyi bip, lalu mereka mendengar suara pintu ditutup.

Baru kemudian Chen Yekai menurunkan tangannya. Tak satu pun dari mereka berbicara dan masih berdiri diam di dalam kegelapan. Yu Hao memegangi pergelangan tangan Chen Yekai.

We’re sorry for MTLers or people who like using reading mode, but our translations keep getting stolen by aggregators so we’re going to bring back the copy protection. If you need to MTL please retype the gibberish parts.

“Berikan padaku, Laoshi,” kata Yu Hao.

Chen Yekai gemetaran terus-menerus, tetapi akhirnya, dia perlahan-lahan melonggarkan cengkeramannya dan membiarkan Yu Hao menarik tangannya keluar dari saku, memperlihatkan pisau bedah tajam di tangannya. zwMHjm

Melalui saku mantel, pisau bedah telah mengiris tangan Yu Hao sehingga menjadi berdarah sedikit dan itu mewarnai sudut pakaian Chen Yekai menjadi merah.

“Yu Hao, kenapa kau menemukanku pada saat seperti ini?” Suara Chen Yekai sangat tenang, “Apa ini benar-benar ditentukan oleh takdir?”

Langit Bieru.

Yu Hao berbisik, “Jika itu yang kamu mau, maka kamu bisa percaya bahwa itu memang adalah takdir. Baiklah, tidak apa-apa sekarang, Laoshi, aku akan urus pisau ini. Jangan pikirkan hal lain, lupakan saja ba.

Ucapan itu terdengar seperti dalam pidato Chen Yekai. Ekspresi dan gerakan Chen Yekai yang aneh selama beberapa hari terakhir, tiba-tiba menjadi jelas dengan apa yang terjadi malam ini. 3XSgHh

Yu Hao melirik pisau di genggamannya dan memberi isyarat kepada Chen Yekai untuk naik dan kembali ke asramanya.

Chen Yekai berkata, “Mampirlah untuk minum kopi ba.”

Yu Hao menjawab, “Kita bicara besok saja, aku mengantuk. Selamat malam.”

Chen Yekai, “Selamat malam.” dgKaSk

Yu Hao tidak bisa melihat ekspresi Chen Yekai dengan jelas di kegelapan, tapi dia tahu bahwa malam ini—sampai batas tertentu—akan mengubah seluruh hidup Chen Yekai sepenuhnya.


“Dari mana?”

Yu Hao berjalan melintasi lapangan dengan berat hati dan benar-benar dikejutkan oleh Zhou Sheng. Dia tanpa sadar menggeser tangannya ke belakang.

Zhou Sheng telah minum sedikit alkohol dan berdiri dengan tenang di bawah ring basket. V6MFRj

“Aku bertanya padamu,” suara Zhou Sheng menunjukkan ketidaksabaran, “Jawab aku!”

Yu Hao berkata, “Aku … pergi membelikanmu rokok.”

“Kau datang jauh-jauh ke sini untuk membeli rokok?” Zhou Sheng jelas tidak mempercayainya.

Yu Hao berkata, “Aku tidak bisa tidur, jadi aku keluar untuk jalan-jalan juga.” gTx1vy

Zhou Sheng, “Di mana rokoknya?”

Yu Hao mencari rokok dan memberikannya padanya. Zhou Sheng mengucapkan “hei” dan mulai mengapit sebatang rokok di mulutnya sambil menggoyangnya ke kiri dan ke kanan. Dia membuat gerakan isyarat mematik korek api dan Yu Hao segera mengeluarkan korek apinya.

Zhou Sheng melirik Yu Hao dan dengan senyuman yang tidak terlihat seperti senyuman, dia berkata, “Nyalakan untukku ah, kenapa kau berdiri di sana seperti orang idiot?”

“Kamu mabuk.” Yu Hao berkata, “Pertama-tama, mari pulang dulu ba.” g3k6bX

Zhou Sheng berdiri di depan Yu Hao untuk memblokirnya. Yu Hao akhirnya mau tidak mau mulai menyalakan rokok untuknya.

Dengan satu klik, nyala api menerangi wajah Yu Hao dan Zhou Sheng. Ketika Zhou Sheng membungkuk untuk menyulut rokoknya, matanya tiba-tiba membelalak—dia melihat tangan Yu Hao yang memegang korek api itu tampak berlumuran darah.

Langit Bieru.

“Yu Hao——!” Raungan Zhou Sheng yang keras telah membangunkan orang-orang dari tiga bangunan asrama di tengah malam.

Yu Hao, “Jangan mengacau!” 9MIqZ3

Zhou Sheng meraung histeris, “Jelaskan apa yang terjadi padamu sekarang juga !!!”


Setengah jam kemudian, di kamar standar sebuah motel di luar sekolah.

“Kamu gila?!” Yu Hao akhirnya tidak bisa bersabar lagi. Tidak peduli bagaimana, intinya dia harus mengamuk sekali-kali. Tadi dia nyaris gila saat memaksa Zhou Sheng untuk diam, sampai ia akhirnya menyeretnya ke motel di luar kampus untuk menjelaskan.

“Aku benar-benar tidak tahu!” Zhou Sheng setengah sadar, “Saat aku melihat darah itu, dugaan pertamaku adalah kalau kau secara sengaja sudah mengiris pergelangan tanganmu sendiri!” k GCwj

Yu Hao, “Apa ada yang aneh denganku akhir-akhir ini? Kenapa aku harus mengiris pergelangan tanganku sendiri?!”

Zhou Sheng, “Bukannya kau selalu seperti itu?”

Yu Hao, “Sejak kapan?!”

Yu Hao mengambil bantal dan memukuli Zhou Sheng dengan itu, tetapi Zhou Sheng terus menghindarinya. Pada akhirnya, Yu Hao membuang bantal itu dengan marah karena dia tahu bahwa itu tidak akan bisa menyakiti Zhou Sheng. Bagaimanapun, Zhou Sheng kuat, dia adalah seseorang yang bahkan bisa menjajah seluruh asrama sendirian. 3M5mKr

“Jangan banyak bergerak.” Zhou Sheng lebih lembut dari biasanya sekarang. Dia berdiri di sudut tempat tidur lain saat dia meminta maaf, merasa malu. “Aku salah, aku salah, oke?! Hati-hati, perbanmu bisa lepas.”

Telapak tangan Yu Hao sudah terbungkus perban dan sekarang dia benar-benar ingin mati. Ponselnya berdering tiada henti dari aliran pesan yang konstan di obrolan grup WeChat dan QQ—semua orang di asrama dan seluruh kelompok mereka telah mendengar Zhou Sheng meneriakkan nama Yu Hao seolah-olah Zhou Sheng telah ditinggal mati Yu Hao saat di lapangan tengah malam.

Fu Liqun menelepon Yu Hao dan bertanya, “Sudah ketemu Zhou Sheng ba?”

Yu Hao memberi tahu Fu Liqun apa yang telah terjadi. Kemudian, dia mengetahui bahwa Zhou Sheng awalnya mabuk. Setelah dia kembali ke asrama dan mengetahui bahwa Yu Hao tidak ada, Zhou Sheng pergi lagi untuk mencarinya. dThmZx

“Dia orang yang baru saja meneriakkan namamu ba?” Fu Liqun bertanya.

“Ya, aku!” Zhou Sheng berkata.

Fu Liqun berkata, “Cepatlah sadar dan kembali tidur. Kalian di mana? Apa aku harus turun untuk menjemput kalian?”

“Aku membawanya ke luar dan memesan kamar,” Yu Hao berkata dan memberi isyarat kepada Zhou Sheng untuk berhenti berbicara. Zhou Sheng mengangguk. B0fJRl

Fu Liqun berkata, “Oke, kalau begitu aku akan benar-benar tidur sekarang.” Dia menutup sambungan telepon, meninggalkan Yu Hao dan Zhou Sheng untuk saling menatap tanpa berkata-kata. Akhirnya, Zhou Sheng bangkit dan mengemasi betadin dan perban yang telah digunakan. Yu Hao berkata, “Biasanya orang-orang mengiris pergelangan tangan, bukan telapak tangan. Bagaimana bisa kamu tidak menyadari itu?”

Zhou Sheng mengambil pisau bedah untuk menelitinya dengan cermat. “Ini tengah malam, bagaimana bisa aku tahu di mana luka itu!”

Read more BL at langitbieru (dot) com

Yu Hao memegang ponsel di tangan kirinya dan menggeser layar untuk membukanya. Kemudian, seperti yang diharapkan, yang dia lihat hanyalah:

@him: Zhou Sheng meneriakkan namamu di bawah, cepat datang dan seret dia pulang. Zhou Sheng memanggilmu, dia memanggilmu. Kau lebih baik menjelaskan ini kepadaku secara detail. FrsPgE

Yu Hao meraung marah di dalam hatinya, Aku juga mendengarnya! Aku tidak butuh diberitahu olehmu! Kemudian dia mematikan ponselnya.

Setelah Zhou Sheng selesai berkemas, dia menyimpan ID-nya dan jatuh ke tempat tidur. Dia sangat kelelahan.

Yu Hao berkata, “Masih berminat mendengar ceritaku?”

Zhou Sheng menutupi wajahnya dengan bantal, lalu mengulurkan jari dari bawah selimut dan menunjuk ke tempat tidur Yu Hao. iq2Ldz

“Tidur,” suara Zhou Sheng terdengar agak keras, seolah-olah dia telah melanjutkan identitasnya sebagai Jenderal, “Aku mengantuk, kita akan bicara dalam mimpi.”

Setelah masalah Shi Ni selesai empat bulan yang lalu, ini adalah kali pertama Yu Hao bisa benar-benar memasuki dunia mimpi atas kemauannya sendiri lagi dan sadar.

Ketika dia membuka matanya, dia mendapati dirinya sedang duduk di singgasana di tengah istana dalam mimpinya. Dia diapit oleh perwira militer di kedua sisinya, dengan layar besar di belakangnya. Awan mengambang dan pegunungan terlihat di atas kepala—itu adalah gunung Tianqing yang mereka daki di pagi hari tadi.

Bagian dalam istana dicat dengan warna emas, merah, dan perak yang menunjukkan kemewahan juga kemegahan. Pintu geser pernis merah yang diukir dengan pola dekoratif meluncur terbuka secara otomatis berturut-turut dan di luar istana, karpet berlapis emas terungkap di dalam setiap lapisan. Yu Hao memandang rendah dirinya sendiri dan menyadari bahwa pakaiannya sangat tidak sesuai dengan suasana tempat itu. Penampilannya itu bukan tanda kebesaran, tapi sebaliknya, dia mengenakan seragam kuroshitsuji dari kepala sampai ujung kaki. Sebagai perbandingan, Zhou Sheng dihiasi dengan baju besi berlapis naga merah dan hitam, serta membawa perisai di punggungnya. Zhou Sheng mengenakan tongkat besi emas sepanjang tiga inci di pinggangnya saat dia melangkah masuk. 6vJAKX

“Selamat datang, Jenderal!” Para perwira militer di kedua sisi semuanya berlutut dengan satu lutut berbarengan.

Yu Hao, ” ….”

Yo, dekorasi interiormu cantik sekali.” Zhou Sheng mengeluarkan《Linear Aljabar II》dari rak buku di satu sisi istana dan membaliknya, “Hah, kau masih belajar dalam mimpimu.”

Yu Hao, “Mengapa NPC-ku berlutut padamu?” EG6LoS

Zhou Sheng, “Memangnya mereka tidak boleh memujaku?”

Yu Hao, “Dasar angkuh.”

Zhou Sheng, “Mau berkelahi?”

Yu Hao, “Kamu bisa mengalahkanku di sini?” uq9YAX

Zhou Sheng, “Mana aku tahu, ayo coba?”

Zhou Sheng berjalan ke tahta dan Yu Hao berpikir bahwa Zhou Sheng yang gila ini benar-benar serius mau berkelahi dengannya. Dia meletakkan tangan kirinya di dada kanannya dan memberi hormat pada Yu Hao dengan membungkuk sedikit, lalu membuat isyarat “Silakan,”, “Rubah kecil, ayo kita jalan-jalan di luar?”

Story translated by Langit Bieru.

“Bagaimana bisa aku menjadi seperti rubah?!”

Yu Hao kemudian bangkit, setelah itu meninggalkan istana bersama Zhou Sheng dan mereka pergi menuju ke atap. Ibukota dalam mimpinya telah sedikit berubah dibandingkan dengan terakhir kali dia berada di sini: semua lentera dan kembang api telah menghilang, digantikan oleh cahaya hangat matahari, serta bunga musim semi yang indah dan segar. VAij y

Pemandangan di dunia sadarnya sepertinya berubah berdasarkan apa yang dia rasakan selama empat musim di dunia nyata. Di luar istana di platform yang menghadap pegunungan, jembatan gantung tambahan muncul tiba-tiba. Jembatan gantung mengarah ke awan dan itu adalah tempat yang dilalui Yu Hao pada hari ini di gunung.

“Ingat kembali apa yang terjadi tadi.” Zhou Sheng berkata kepada Yu Hao, “Bayangkan kau memiliki layar di depanmu dan biarkan aku melihatnya. Kau tidak keberatan ba?”

Sebuah gambar memori diproyeksikan di depan Yu Hao dan Zhou Sheng dan itu ditunjukkan dari sudut pandang Yu Hao—layar itu menayangkan seluruh garis waktu dari apa yang sekilas dilihat Yu Hao di bawah tangga asrama dosen pada tengah malam tadi.

“Itu dia,” Kata Yu Hao. aqn39M

Zhou Sheng tetap diam untuk waktu yang lama. Yu Hao menatapnya dari samping dan bertanya, “Apa yang harus kita lakukan?”

“Apa yang bisa kita lakukan?” Zhou Sheng bergumam, “Dia mau membunuh seseorang.”

Yu Hao berkata, “Aku tidak berani bertanya, pisaunya masih ada di dalam kamar. Kenapa dia menyimpan dendam yang begitu besar kepada Profesor Lin? Bukannya mereka punya hubungan antara guru-murid yang baik?”

“Intinya, kau harus menanyakan itu padanya kalau mau tahu.” Zhou Sheng mengejek, “Bagaimana mungkin aku bisa tahu?” wbMzGA

Yu Hao menilai Zhou Sheng dengan ragu-ragu. Zhou Sheng berkata, “Ini adalah mimpi, kau tidak perlu menatapku dengan penuh arti.”

“Apa kamu tahu sesuatu?” Yu Hao bertanya.

Zhou Sheng merenung sejenak. Yu Hao berpikir bahwa dia sedang memikirkannya, tetapi Zhou Sheng berkata, “Lihat ini.”

Yu Hao kemudian menyadari bahwa layar baru muncul di depan Zhou Sheng. Layar itu menayangkan kembali ingatan dari sudut pandang Zhou Sheng tentang apa yang terjadi di rumah sakit. ite01A

Di sana, di depan Zhou Sheng, Profesor Lin yang tampak galak muncul dan sedang mendengarkan Zhou Sheng.

“Kapan itu terjadi?” Yu Hao menghabiskan sebagian besar waktunya dengan Zhou Sheng dan dia tidak ingat bertemu Lin Xun dengannya.

“Pada hari kita mengumpulkan formulir pendaftaran untuk kompetisi bersepeda.” Zhou Sheng berkata, “Aku menjaga Liang Laoshi di rumah sakit dan secara kebetulan, orang ini datang.”

Yu Hao ingat sekarang. Hari itu dia menyadari bahwa Zhou Sheng terlihat agak aneh, jadi apakah karena ini? vBq5uX

“Apa yang salah? Mahasiswa Zhou Sheng, kalau kau mengalami kesulitan, tolong beritahu. “

“Begini .…” Zhou Sheng berkata dengan tulus, “Bagaimana kalau aku menjual karung pasir padamu dengan harga murah? Kami punya banyak di klub tinju kami, tidak perlu banyak uang untuk membelinya. Tidak baik memakai istrimu sebagai karung pasir untuk melatih pukulanmu setiap hari, Profesor Lin!”

Story translated by Langit Bieru.

“Kenapa kamu selalu bertengkar ke mana pun kamu pergi?” Yu Hao berkata tanpa daya.

Zhou Sheng berkata dengan acuh tak acuh, “Aku cuma menyinggungnya dengan bertanya apa dia biasanya memukul istrinya di rumah.” 2Ox0mb

Yu Hao, ” ….”

Sebuah fanart untuk chapter ini. Di sini!

Translator's Note

Asisten pintar pribadi di iPhone

Translator's Note

aktivitas yang bertujuan untuk melewati rintangan dengan efisien dan secepat-cepatnya, menggunakan prinsip kemampuan badan manusia. Itu berarti untuk menolong seseorang melintasi rintangan, yang bisa berupa apa saja di sekitar lingkungan dari cabang-cabang pohon dan batu-batuan hingga pegangan tangan dan tembok beton yang bisa dilatih di desa dan di kota.

Translator's Note

Sejenis rokok

Translator's Note

Pelayan hitam/iblis. Judul anime hehehe

Translator's Note

Leave a Comment

For an easier time commenting, login/register to our site!

3 comments