English

Merebut MimpiCh4 - Harapan

0 Comments
We're recruiting an editor for this novel.
Join us!

Penerjemah Indonesia : jeff

Indonesian Translate by jeff 1IdrVZ


Chen Yekai tersenyum dan berkata, “Aku hanya membuat komentar acak, jangan terlalu dipikirkan.”

Yu Hao mengangguk. Dia bahkan tidak memiliki tujuan yang ingin dia capai sebelum dia mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Tetapi neneknya terserang kanker payudara dan dokter menyarankan pengobatan konservatif untuknya, jadi untuk membuatnya sedikit lebih bahagia, Yu Hao memutuskan untuk mengikuti ujian masuk perguruan tinggi.

Read more BL at langitbieru (dot) com

Sekitar setengah tahun yang lalu di bulan Juni, Yu Hao pergi untuk pemeriksaan terakhir di pagi hari. Sebelumnya, neneknya telah memanaskan susu dan meninggalkan roti untuknya di atas meja. Setelah pemeriksaannya berakhir pada sore hari, dia kembali dan menyadari bahwa neneknya sudah pergi.

Dia memiliki sedikit hutang untuk membayar biaya pengobatan neneknya, jadi Yu Hao menjual rumahnya untuk membayar sebagian besar hutang-hutang itu. Dia memutuskan untuk tidak kuliah, dan malah memilih untuk mencari pekerjaan di kota terlebih dahulu untuk melunasi semua hutangnya yang tersisa; Dia berencana untuk meninggalkan kampung halamannya setelah melakukannya, berniat mengucapkan selamat tinggal pada masa lalunya dan memulai hidup baru dari awal sambil mencari makna hidup baru untuknya. nqT58a

Tetapi pada akhirnya, setelah dia membuka layanan antar jemput selama dua bulan selama liburan musim panasnya, dia berubah pikiran. Manajernya yang tidak memiliki pendidikan tinggi berbicara kepadanya.

“Aku kuliah lagi, karena bahkan ijazah acak akan lebih berguna daripada ijazah SMA untuk mencari pekerjaan. Pendidikan bisa mengubah takdir seseorang, kalau kau tidak melanjutkan studimu, kau hanya bisa mengulangi jalur lamamu kemana pun kau pergi.” Yu Hao menjelaskan.

“Kata-katanya cukup baik.” Chen Yekai berkata, “Tapi, aku tidak berpikir kita mengejar pendidikan hanya agar kita bisa mengubah takdir kita. Jika di pagi hari aku mendapatkan pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak apa-apa kalau mati saat matahari terbenam. Pengalaman belajar itu sendiri harus lebih menyenangkan daripada sesuatu yang berguna. Apa pun yang kau lakukan tidak harus selalu dilakukan hanya karena itu ‘berguna’.”

Yu Hao tidak begitu mengerti. Belum ada yang memberitahunya hal seperti itu sebelumnya, jadi setelah dia mendengar kata-kata ini dia hanya menganggukkan kepalanya. 3Y694

Setelah itu, dia menabung untuk beberapa bulan dari gajinya dan mendaftar di sebuah perguruan tinggi. Dia hanya bisa berhutang uang sekolah dan biaya akomodasi di muka. Dia memiliki tunjangan bulanan sebesar 400 yuan yang dia gunakan untuk tagihan teleponnya, biaya transportasi untuk les, tempat tidur untuk saat cuaca berubah dingin …… dan banyak biaya lain yang harus dia tanggung sampai liburan musim dingin dimulai. Ketika dia pertama kali pindah ke asramanya, dia memiliki harapan untuk mengembangkan hubungan yang baik dengan teman sekamarnya saat dia memulai fase baru dalam hidupnya. Namun, sejak pelatihan militer dimulai, dia secara bertahap mulai menyadari bahwa masalah yang telah mengganggunya selama bertahun-tahun sepertinya tidak akan pernah hilang.

Ketika teman sekamarnya merokok selama pelatihan militer, dia tidak bisa merokok bersama mereka; ketika semua orang ingin mentraktir instruktur mereka makan malam setelah pelatihan militer berakhir, setiap orang harus membayar 50 yuan dan 50 yuan itu setara dengan biaya makannya selama empat hari, jadi dia tidak ikut bergabung dengan mereka. Ketika teman sekamarnya memintanya untuk menginap bersama mereka di sebuah kafe internet, satu malam akan dikenakan biaya 18 yuan, dan mereka mungkin juga akan makan malam yang harganya sekitar 25 yuan – yang setara dengan biaya makannya selama dua hari – jadi dia tidak bisa pergi ke kafe dengan mereka juga. Yang lain mengatakan bahwa mereka akan mentraktirnya, tetapi dia tidak punya uang untuk mentraktir mereka kembali, jadi dia tidak mau mengambil makanan gratis dari orang lain.

Teman sekamarnya telah mengumpulkan sejumlah dana untuk memasang saluran internet, dan disini dia ikut bergabung. Dia bermaksud menggunakan internet untuk memainkan beberapa game gratis di ponselnya agar hidupnya tidak begitu membosankan. Namun pada akhirnya, mereka yang mengunduh xunlei tetap mengunduh xunlei, dan mereka yang menonton video tetap menonton video. Hal ini membuatnya kesal tanpa akhir, jadi dia bertengkar dengan teman sekamarnya karena masalah ini.

“IPhone ini diberikan nenek untukku.” Yu Hao sangat menghargai ponselnya ini. Ketika dia sedang merapikan barang-barang neneknya, dia menemukan hadiah yang telah terbungkus rapi ini. Neneknya berencana untuk memberikan hadiah itu kepada Yu Hao setelah dia masuk universitas, dan ada tanda-tanda benda itu telah dijatuhkan. LYfURb

“Aku bahkan sudah siap untuk menjualnya.” Yu Hao berkata, “Untuk biaya makan.”

Chen Yekai berkata, “Itu tidak perlu. Menghasilkan uang mungkin sulit, tetapi itu seharusnya tidak memaksamu melangkah sejauh itu. Simpan itu ba.”

Yu Hao akhirnya menyadari kebenaran dari realitasnya. Dia menyerah pada rencananya untuk berbaur dengan masyarakat universitas ini dan kembali ke gaya hidup sekolah menengahnya. Dia menutup dirinya sendiri dari orang lain, dan tidak akan berbicara kecuali dia harus melakukannya. Ia belajar dengan giat, berharap mendapat beasiswa, dan selalu mengajukan permohonan bantuan keuangan yang diberikan kepada siswa-siswa yang kurang mampu – ia sudah menyiapkan semua dokumen yang diperlukan untuk itu, tetapi tidak pernah menyerahkannya pada akhirnya. Dia sudah kuliah di perguruan tinggi independen kelas tiga ini, seberapa serius dia bisa belajar? Untuk siapa dia harus selalu berpura-pura?

“Bagaimana dengan pinjaman pelajar? Bukankah kamu juga mengajukannya?” Kata Chen Yekai. oAfa54

“Belum disetujui.” Yu Hao berkata, “Pihak kampus mengatakan bahwa materi lamaranku tidak lengkap. Mereka membutuhkan tanda tangan ibuku, tapi aku sendiri bahkan tidak tahu di mana ibuku ….. jadi aku tidak bisa mendapatkannya.”

Chen Yekai mengucapkan “un“, lalu berkata, “Pergi dan tanyakan lagi nanti.”

Setelah itu, Yu Hao diisolasi dari yang lain di asramanya. Dia seperti jamur liar yang suram yang membuat orang lain merasa tidak nyaman, dan dia diperlakukan seperti pemandangan yang tidak enak dipandang. Kamar asramanya sering dipenuhi dengan celoteh dan tawa. Setiap kali dia kembali, dia akan memakai earphone dan berbaring di tempat tidurnya. Teman sekamarnya dengan sengaja mengejeknya ketika mereka mengira Yu Hao tidak bisa mendengar mereka, tetapi sebenarnya, dia mendengar semuanya.

We’re sorry for MTLers or people who like using reading mode, but our translations keep getting stolen by aggregators so we’re going to bring back the copy protection. If you need to MTL please retype the gibberish parts.

Sebelum ujian tengah semester, teman sekamarnya ingin menyalin jawaban ujian bahasa Inggrisnya. Dia tidak setuju, tapi dia juga tidak menolak, jadi semua orang diam-diam membuat rencana kalau Yu Hao menyetujuinya. Tetapi setelah ujian dimulai, dia tidak membagikan catatan kepada siapa pun dan ini memicu kemarahan di dalam asramanya. Setelah lampu padam, mereka menggunakan selimut untuk menutupi Yu Hao dan memukulinya, lalu menuangkan beberapa cangkir air dingin ke tubuhnya. yP6Gko

“Brengsek!” Zhou Sheng yang tidur di belakang tirai tidak tahan untuk mendengarkan lebih jauh, jadi dia duduk, berjalan ke tempat tidur Yu Hao dan bertanya, “Siapa yang melakukannya? Yang dari kamar 405? Laozi akan menghancurkan mereka!”

Chen Yekai tidak tahu bahwa seseorang akan mendengarkan percakapan mereka dari balik tirai. Dia berkata dengan marah, “Duduklah dulu!”

Langit Bieru.

Chen Yekai tampak sopan di permukaan namun kata-katanya mengandung nada yang tidak diragukan lagi mengesankan. Zhou Sheng menatapnya, jadi dia hanya bisa duduk di satu sisi.

Fu Liqun tersenyum dan berkata, “Rambut merah pernah belajar tinju sebelumnya, hanya dia saja sudah cukup untuk menjatuhkan seluruh kelas mereka. Suatu ketika kami melihat beberapa pria yang sedang bermain-main dengan seorang gadis di luar. Dia mengalahkan orang-orang itu hanya dengan satu kepalan tangan.” jw8EJp

“Jadi kau berencana untuk memukuli mereka? Bahkan jika kau berhasil menyakiti mereka, mereka tidak akan mengganggumu untuk mendapatkan kompensasi dan sebaliknya melimpahkan kesalahan kepada Yu Hao. Masih ingin pergi?” Chen Yekai berkata pada Zhou Sheng.

Zhou Sheng berpikir, “Itu benar.” Tidak ada yang berani memprovokasi dia, jadi mereka pasti akan membuat Yu Hao disalahkan.

Saat Yu Hao melihat mereka, dia tidak tahu mengapa tapi hatinya terasa sedikit terharu. Jika dia menjadikan mereka sebagai teman sekamar ketika dia pertama kali mendaftar di perguruan tinggi, hidupnya sekarang mungkin jauh lebih baik. Tapi sekali lagi, mungkin setelah mereka akur, mereka akan membencinya juga.

Malam itu, dia sangat mengingatnya dengan baik. Dia setengah tertidur ketika sebuah selimut tiba-tiba menutupi kepalanya, tapi dia mengerti apa yang tengah terjadi ketika dia terbangun. Mereka telah memukulinya dalam kurun waktu yang lama, dan ketika mereka akhirnya pergi dengan begitu banyak keriuhan, Yu Hao sama sekali tidak menyingkirkan selimut itu. Dia tetap meringkuk di dalam selimut ketika Ia tidak bisa menghentikan air mata yang turun di kedua pipinya. wFL1WP

“Mereka sebaiknya berhati-hati.” Zhou Sheng berkata kepada Chen Yekai.

Chen Yekai berkata, “Kaulah yang seharusnya berhati-hati. Jika ada orang di asrama itu yang patah kaki, aku akan segera mencarimu dan kau akan menjadi tersangka utama.”

Zhou Sheng, “……”

Yu Hao tidak bisa menahan tawa, lalu berkata, “Kau tidak perlu melakukan itu, terima kasih. Aku sudah baik-baik saja.” iLUpte

Zhou Sheng bertanya kepadanya, “Aku sangat yakin kalau orang-orang di asramamu berperan dalam menuduhmu mencuri. Bagaimana mereka bisa bersikap seperti itu? Apa mereka tidak takut disambar petir?”

Yu Hao berkata, “Aku tidak menyalahkan mereka karena mereka sudah membenciku. Terkadang, aku sebenarnya juga membenci diriku sendiri.”

Semua orang, “……”

Kemudian setelah itu, Fu Liqun mengenalkannya pada program studi kerja karena melihatnya meminum air keran di lapangan basket. Padahal, Yu Hao sudah memahaminya dengan jelas di dalam hatinya, sehingga setelah itu ia tidak pernah bermain basket lagi. Sebagai pengajar, dia menerima 80 yuan per sesi, dan dia mengajar empat sesi per bulan. Dia sangat menghargai kesempatan ini. gVk7Ad

Muridnya tidak terlalu kooperatif pada awalnya. Yu Hao tidak memarahinya, dan hanya berbicara terus terang tentang sesi mereka kepada orang tuanya. Setelah tujuh pelajaran, anak itu mungkin ingin menyingkirkannya dengan meletakkan jam tangan di tasnya. Dia tidak bisa mengetahuinya pada awalnya, dan ketika dia menemukan bahwa ada jam tangan mewah di tasnya, dia sangat waspada karena apa yang telah terjadi di masa lalu.

Dia mengira teman sekamarnya telah memasukkannya ke dalam tasnya, jadi dia mengeluarkan jam tangan itu dan meletakkannya di atas meja tanpa suara. Tetapi ketika teman sekamarnya memperhatikan jam tangan itu, mereka tidak mengatakan apa-apa.

Keraguan di hati Yu Hao tumbuh, dan karena dia ingin menjual ponselnya, dia juga membawa jam tangan itu untuk bertanya kepada pemilik toko daur ulang berapa harganya. Ketika dia tahu harganya, dia terkejut, dan tepat ketika dia berniat memposting pemberitahuan properti yang hilang di luar ruang belajar mandiri, orang tua siswa telah menelepon polisi.

Setiap kali dia pergi ke rumah pihak lain, dia langsung masuk ke ruang belajar mereka. Meskipun dia mengira keluarga ini kaya, pikiran bahwa jam tangan itu adalah milik mereka tidak pernah terlintas dalam kepalanya. Sampai polisi datang, dia selalu mengira bahwa dia mengambilnya secara tidak sengaja ketika dia menyimpan barang-barangnya di ruang belajar, atau bahwa orang-orang yang duduk di belakangnya telah meninggalkan jam tangan mereka di atas meja sehingga tidak sengaja jatuh ke dalam tasnya. BQKvfe

“Apa kamu memberi tahu Xue Laoshi semua ini?” Chen Yekai bertanya.

“Aku sudah mengatakan sebagian, dan menghilangkan sisanya.” Yu Hao berkata dengan letih, “Dia tidak percaya padaku.”

Story translated by Langit Bieru.

Chen Yekai berkata, “Xue Laoshi adalah guru yang baik, kenapa kamu mengatakan semuanya?”

“Dia memiliki tatapan yang sama persis dengan wali kelasku di SMP.” Yu Hao menjawab, “Suatu ketika Laoshi memergokiku merokok. Tapi aku tidak merokok. Saat aku sedang makan, orang yang duduk di sebelahku sedang merokok yang membuat tubuhku berbau asap juga, tapi Laoshi yakin kalau aku yang melakukannya. Sikap mereka begitu bias terhadapku, jadi tidak ada gunanya menjelaskan terlalu banyak.” WvICi6

“Jika sesuatu seperti itu terjadi padaku, aku juga tidak ingin hidup.” Zhou Sheng menghela napas, “Terlalu menjijikkan untuk hidup.”

Semua orang, “……”

“Kalau begitu, kamu tidak pernah punya teman sejak kamu kecil?” Chen Yekai mengabaikan Zhou Sheng dan berkata saat dia menatap Yu Hao.

Chen Yekai mengatakan ini hanya untuk membuka jalan bagi kalimat berikutnya. Setelah dia mengatakan ini, dia menunggu jawaban Yu Hao. Yu Hao diam-diam memikirkannya sejenak, dan hanya ingin menggelengkan kepalanya dan mengatakan kepadanya bahwa sampai dirinya berada di tempat dia hari ini, setengah dari alasannya adalah karena keadaannya yang dilanda kemiskinan, tetapi setengah lainnya mungkin karena kepribadiannya. Namun, saat dia hendak mengatakan “tidak”, dia tiba-tiba teringat Jenderal dalam mimpinya. mWDgK3

“Aku punya satu.” Yu Hao berkata, “Aku sudah memutuskan untuk melanjutkan dan menjalani hidup yang memuaskan.”

Chen Yekai berpikir “kenapa kamu tidak mengikuti naskahnya”, tapi dia masih tersenyum dan berkata, “Aku temanmu juga.”

“Aku juga.” Fu Liqun tersenyum sambil berkata, “Ada beberapa hal yang tidak boleh terlalu dipikirkan, biarlah semuanya berlalu begitu saja.”

Zhou Sheng berkata, “Ketika aku mendengarmu mengatakan itu, aku memikirkan film berjudul 《Léon: The Professional 》. Ada kalimat klasik di film itu yang mengatakan ……” ZnTGfI

Chen Yekai tidak tahan untuk mendengarkan lebih jauh, jadi dia menyela, “Infusmu sudah habis, ayo pergi. Bagaimana perasaanmu?”

Yu Hao merasa jauh lebih baik. Perawat datang untuk mencabut jarum infus di punggung tangan Yu Hao untuknya. Chen Yekai berencana membawa mereka keluar untuk makan hotpot, sebagai apa yang disebut pesta “semua orang membantumu merayakan hidup barumu”.

Yu Hao kurang lebih sudah bisa mencerna makan siangnya sekarang. Dia merasakan ketidaknyamanan yang terasa begitu sama – baik karena menyalahkan diri sendiri, dan dari penolakannya terhadap “persahabatan”. Seolah-olah setelah dia mengenal Chen Yekai, Fu Liqun, dan bahkan Zhou Sheng untuk sementara waktu, dia secara bertahap akan mulai membenci dirinya sendiri.

Selama suatu hubungan tidak dimulai, hubungan itu tidak akan pernah memiliki akhir, ekspektasi, maupun kekecewaan. Dari sudut pandang ini, Yu Hao lebih suka teman-teman yang baru saja dia kenal pergi makan hotpot sendiri, sementara dia perlahan berjalan sendirian. Tetapi Zhou Sheng menyeretnya tanpa memberinya kesempatan untuk berbicara. cKmjZs

Chen Yekai baru saja selesai memesan dan makan beberapa kali sebelum dia menerima telepon dari kampus, jadi dia hanya bisa membayar tagihan dan pergi lebih awal; Sementara itu, Fu Liqun mengambil dua bungkus nasi goreng sebagai makanan untuk dibawa pulang dan membawanya kembali ke kampus untuk berjaga-jaga. Hanya Yu Hao dan Zhou Sheng yang tersisa untuk menghadapi makanan senilai empat orang itu.

Zhou Sheng memiliki sebatang rokok di antara bibirnya saat dia memesan satu botol anggur lagi untuk dirinya sendiri. Dia terus menaruh makanan di piring Yu Hao saat dia berkata, “Ketika kau kembali ke asramamu, katakan saja kalau kau berada di bawah perlindunganku, dan kalau ada yang berani mengganggumu, aku akan menunjukkan kepada mereka siapa bosnya.”

Yu Hao tidak tahu bagaimana bergaul dengan berandalan universitas semacam ini, jadi dia hanya bisa mengangguk dengan canggung.

Zhou Sheng melanjutkan, “Tebak berapa harga syal Chen Yekai?” L0oBgc

Yu Hao, “Berapa?”

Zhou Sheng, “Cukup untuk membayar biaya sekolah kita selama satu tahun penuh.”

Langit Bieru.

Yu Hao, “……”

Zhou Sheng berkata, “Lupakan, makanlah.” Hanya setelah keduanya memaksakan diri mereka sendiri untuk menghabiskan seluruh makanan di meja itu, Yu Hao hampir muntah sebelum Zhou Sheng mengantar Yu Hao kembali ke asramanya. 2XNJnv

“Berikan aku korek apimu.” Zhou Sheng mengambil korek api Yu Hao, lalu berkata, “Aku menyitanya. Kembalilah, sampai jumpa besok.”

Saat angin musim gugur bertiup, suhu di kota Ying turun malam itu. Yu Hao sangat kedinginan sehingga dia menggigil tak terkendali, dan ketika dia kembali ke asramanya, dia menyadari bahwa semua teman sekamarnya menghabiskan malam di sebuah kafe internet. Dia membungkuk dan mengeluarkan tas rajutan dari bawah tempat tidurnya – semua barang-barangnya ada di dalam tas ini.

Setelah dia menjual rumahnya, barang-barang yang tersisa untuknya hanyalah beberapa bingkai foto ini. Foto-foto yang dia ambil bersama dengan neneknya ditempatkan di bingkai-bingkai ini, dan bahkan ada foto kelas yang dilaminasi di antaranya yang diambil setelah dia lulus dari sekolah menengah. Saat kelasnya mengambil foto kelulusan mereka, dia sedang menemani neneknya di rumah sakit untuk pemeriksaan, jadi dia tidak ada di dalam foto itu.

Yu Hao menyimpan foto-fotonya dan mencoba menemukan rompi bawah yang bisa dia pakai besok, tetapi dia menemukan sebuah kotak kayu di bawah tas rajutan itu sebagai gantinya. Saat dia membuka kotak kayu itu, tangan Yu Hao sedikit gemetar. IX0hdd

Ada satu set catur di dalamnya.

Prajurit, meriam, kereta, penasihat, kuda……

Dia ingat hari ketika ayahnya mengajarinya bermain catur. Hari itu, ayahnya menunjukkan kepadanya bagaimana mengenali bidak mana yang merupakan ‘prajurit’, dan bidak mana yang merupakan ‘gubernur’. Dia selalu menyukai sisi dengan kata-kata merah, jadi hal itu telah terwujud sebagai bendera merah tua yang menari tertiup angin di bawah Tembok Besar – kehebatannya mirip dengan gelombang pasang yang tak tertahankan.

Dia mengingat saat-saat ketika neneknya bermain catur dengannya setelah ayahnya meninggal. Dia selalu membiarkannya menang, dan dalam ingatannya, neneknya tidak pernah memenangkannya bahkan sekali pun dalam catur. 24aJtd

“Aku selalu menang!” Dia yang masih muda berhasil menangkap jenderal neneknya, dan skakmat, kemudian neneknya tertawa ketika dia mengatur ulang papan catur dan memulai kembali permainan.

Yu Hao mengumpulkan bidak caturnya, berbaring di tempat tidurnya, dan dalam kegelapan ini di mana tidak ada orang lain … dia tertidur.

“Selamat malam.”

Dia berkata pada dirinya sendiri bahwa dia harus menjalani hidupnya sepenuh hati mulai besok, seperti yang dikatakan Jenderal di alam mimpi di mana dia dilahirkan kembali. Yu Hao percaya pada ungkapan “seseorang bermimpi di malam hari mengenai apa yang mereka pikirkan di siang hari”. Saat mimpinya muncul, itu bertepatan dengan saat-saat terakhir dalam hidupnya. Fakta bahwa dia memiliki mimpi itu dapat menyiratkan bahwa jauh di dalam lubuk hatinya, dia masih membawa sedikit harapan untuk mencoba yang terbaik untuk terus hidup. d ujDs

“Kau kembali?” Dia mendengar suara Jenderal berkata.

Yu Hao bangun dengan terkejut, lalu berteriak dengan keras dan duduk tegak. Jenderal berlutut dengan satu lutut saat dia berjaga-jaga di samping tempat tidurnya seperti penjaga yang setia.

“Kenapa …… kenapa kau lagi?” Yu Hao benar-benar tercengang.

Pertama kali dia mengalami mimpi ini, Yu Hao mengira itu adalah fenomena yang cukup alami. Tapi sekarang dia telah memasuki mimpi ini untuk kedua kalinya dan bertemu dengannya sekali lagi. z7v2 B

Jenderal duduk bersila dan melipat tangannya. Gerakannya terlihat agak canggung karena gesekan di antara pelat baja miliknya.

“Kau akan aman untuk saat ini karena kau sudah menyalakan suar api sebelumnya.” Jenderal berkata dengan sungguh-sungguh, “Tetapi kalau kau ingin menemukan dirimu sendiri, kau harus bekerja lebih keras.”

Read more BL at langitbieru (dot) com

“Tidak, tidak.” Yu Hao berkata dengan tidak percaya, “Tunggu, ini …… ini nyata?”

Dia berbalik untuk melihat sekelilingnya. Dia saat itu tinggal di sebuah rumah dengan dinding kayu, lemari kayu dan kasur terhampar di lantai. 6EiYgm

“Ini adalah mimpimu.” Jenderal berkata tanpa basa-basi.

“Aku tahu ini adalah mimpiku ……..” Yu Hao agak bingung, lalu berkata, “Tapi mengapa mimpi ini mirip dengan serial TV?”

“Apa ini aneh?” Jenderal berkata, “Tempat ini adalah perwujudan tetap dari dunia sadarmu. Bangunlah, apa kau ingin melihat-lihat ke luar?”

Jenderal mengulurkan tangannya pada Yu Hao dan menariknya. Dia memberi isyarat agar dia membuka pintu, jadi Yu Hao membuka pintu dan setelah cahaya menyilaukan yang membutakannya menghilang, dia melihat pemandangan yang dipenuhi dengan punggung gunung yang luas, perbukitan dan ladang subur. Ada kawanan sapi dan domba yang berkeliaran di antara pegunungan itu. Langit tampak gelap, tapi sekarang jauh lebih cerah dibandingkan saat dia berdiri di Tembok Besar. nU8Ezd

Yu Hao menatap pemandangan di depannya dengan linglung. Jenderal berjalan keluar rumah dan menutup pintu, lalu menjelaskan, “Dunia mimpi sangat besar, dan batasannya akan terus meluas saat kau mendapatkan lebih banyak pengalaman.”

“Aku tidak pernah memimpikan tempat ini.” Kata Yu Hao sambil mengerutkan kening.

“Kau pasti pernah.” Jenderal menunduk untuk menyesuaikan sarung tangan logamnya, mengulurkan jari-jarinya dan mengepalkan tinjunya, lalu berkata dengan santai, “Hanya saja kau sudah melupakannya. Aku jauh lebih kuat kali ini, jadi aku pasti bisa mengawalmu dengan aman ke totemmu.”

“Totem?” Yu Hao berbalik untuk melihat Jenderal. G1NZ93

“Mari kita bicara sambil berjalan ba.”

“Totem adalah sesuatu yang selalu kau pegang teguh, dan juga dikenal sebagai ‘hati nurani’-mu. Tempatnya terletak di inti dunia ini, dan totem itu akan memutuskan bagaimana ‘diri’-mu terwujud.”

Ada kawanan sapi dan domba di padang rumput itu. Sebuah jalan beraspal dengan campuran tanah dan bebatuan terletak di bawah kaki mereka saat Jenderal dan Yu Hao berjalan lurus ke depan.

“Kau masih memiliki keyakinan dan harapan. Hanya saja seiring berjalannya waktu, mereka menjadi semakin terpinggirkan dan semakin terdesak ke tepi kesadaranmu. Sedikit lagi dan mereka akan jatuh ke alam bawah sadarmu. Apa kau ingat pernah berdiri di tepi Tembok Besar waktu itu?” qFokh8

Yu Hao, “Ya, aku …….. aku selalu ingin melompat ke bawah, dan aku merasa ada seseorang yang terus mendorongku dari belakang.”

Jenderal berkata, “Sekarang, kau sudah kembali. Jadi aku akan membawamu ke tempat totemmu berada, lalu kau bisa mendapatkan kembali kendali atas dunia ini.”

“Kemudian setelah itu?” Yu Hao bertanya, “Apa yang akan terjadi padaku?”

“Kau akan berubah menjadi versi dirimu yang lebih baik.” Jenderal berkata, “Atau lebih tepatnya, kau akan ‘kembali’ ke dirimu yang sebelumnya.” E9ougR

Translator's Note

Pengobatan Konservatif adalah jenis perawatan medis yang ditentukan dengan menghindari tindakan invasif seperti pembedahan atau prosedur invasif lainnya, biasanya dengan tujuan untuk mempertahankan fungsi atau bagian tubuh.

Translator's Note

Frasa aslinya adalah ” 朝闻道夕死可矣”, kata-kata terkenal oleh murid Konfusius. Konteks frasa ini adalah sebagai manusia, kita dikaruniai kemampuan untuk berpikir/bernalar (yang membedakan kita dari hewan lain). Dan jika suatu hari kita bisa memahami segalanya, maka kita tidak perlu lagi terus mencoba berpikir/bernalar, dan dengan demikian menjalani hidup yang tidak lebih baik dari kematian sejak saat itu dan seterusnya (Jika kita mengetahui kebenaran di pagi hari, tidak apa-apa jika kita mati di malam hari) Jadi pada dasarnya aku pikir apa yang paling cocok dalam konteks ini dari apa yang coba dikatakan oleh Chen Yekai bahwa pengetahuan itu hebat dan kita hidup untuk belajar.

Translator's Note

Xunlei = Bittorrent Tiongkok.

Translator's Note

Di Cina, koneksi internet asrama mereka menjadi sangat lambat di malam hari ketika semua siswa menonton video/mengunduh, itulah sebabnya Yu Hao sangat kesal.

Translator's Note

Aku menduga bahwa Yu Hao mengerti bahwa Fu Liqun membantunya karena dia melihatnya minum air keran, jadi setelah itu Yu Hao tidak ingin bermain basket lagi agar dia tidak terlihat minum air keran lagi.

Translator's Note

Bidak catur Cina ( 兵、 炮、车、士、马).

Translator's Note

Dalam catur Cina, satu sisi memiliki karakter hitam sedangkan sisi lainnya memiliki karakter merah.

Translator's Note

民房

Leave a Comment

For an easier time commenting, login/register to our site!