English

PenawarCh10 - Nama.

0 Comments

Original by Wu Zhe

English by JustBLThings oDhiES

***********************************************

The BL donghua “Antidote” was adapted from this novel.

Please support our translators at langitbieru (dot) com

***********************************************

Cheng Ke berjalan menjauh dari dinding dan kembali ke jalan. Suara keramaian tersisa di dinding. RIwe2k

Dia tidak tahu apa yang terjadi pada Jiang Yu Duo dan pengikutnya. Dia berpikir untuk berlama-lama di sana untuk melihat hasilnya namun setelah beberapa detik berdiri, dia ingat apa yang dikatakan Jiang Yu Duo.

Tidak ada orang yang menganggap mereka dengan serius.

Cheng Ke tidak tahu orang itu termasuk dia.

Dia tiba-tiba kehilangan minat dan berbalik untuk berjalan perlahan menuju supermarket. eynxDH

Dia berjalan beberapa langkah dan berbalik untuk melihat jalan tempat Jiang Yu Duo menghilang. Perubahan perspektif membuatnya sadar bahwa itu bukan jalan sama sekali, hanya sebuah gang di antara sebuah gedung dan dinding. Itu sangat gelap hingga jika ia tidak tahu Jiang Yu Duo menggunakannya, dia tidak akan sadar ada sebuah jalan di sana.

Jiang Yu Duo pasti adalah seorang bully dari lahir sehingga mengingat peta jalan lokal di otaknya yang berguna untuk kabur.

Setiap orang pasti punya sesuatu seperti itu di otak mereka. Bisa saja bukan peta, itu bisa jadi diagram atau skill yang spesial.

Contohnya, Cheng Ke akan senang untuk mempunyai daftar kemampuan rumah tangga di otaknya sekarang. pGtcMS

Setiap langkah melakukan pekerjaan rumah tangga dan alat yang diperlukan.

Dia berdiri dengan frustasi di depan rak supermarket berisi pel dan merasa dunia telah keluar untuk menangkapnya.

Sebuah pel. Hanya sebuah pel. Kenapa ada banyak tipe dan model?

Dia pikir dia tahu tentang pel sebelumnya. Meski pun orang lain mengurus kebersihan rumah dan dia tidak pernah harus melakukan apa pun, namun ia tahu ada pel datar dan pel dengan tali-tali yang panjang. MinZTN

Sekarang ia sadar bahwa bahkan pel datar dibagi menjadi bentuk bulat dan persegi panjang dan yang bertali bisa diputar dan dilengkapi dengan sebuah ember atau sesuatu yang bisa kau peras.

Dan mereka semua dibuat dari bahan yang berbeda.

Sesuatu yang seharusnya bisa langsung selesai tiba-tiba menjadi sangat rumit.

Pada akhirya ia memilih sebuah pel dengan kepala datar karena itu terlihat itu bisa menutupi permukaan terbesar dan busanya bisa mengikis air dari lantai. Itu seharusnya adalah pilihan yang benar. X uavz

Setelah ia memboyong pelnya ke rumah, dia memutuskan untuk mengambil keuntungan dari sikap impulsif yang disebabkan oleh mabuknya dan mengepel lantai.

Lakukan saja.

Please visit langitbieru (dot) com

Dia membasahi pel, memeras sisa airnya, dan mulai mengepel.

Dia belum menutupi dua meter persegi sebelum berhenti dan melihat percampuran debu dan bulu. Cheng Ke berpikir ia salah perhitungan dan seharusnya membeli kemoceng juga. uthapN

Dia tidak sadar betapa kotornya lantai sebelum ia mulai mengepel. Bagaimana bisa semakin dipel semakin kotor?

Dan tuan tanahnya bahkan tidak menyediakan sebuah sapu.

Memangnya kenapa kalau pemanas air dan kompornya baru, tidak ada pel!

Dia mengernyit saat ia mengingat tuan tanah yang bertengkar dengan sebuah luka parah di kepalanya lalu menyebutnya tidak lebih berharga dari seekor anjing. hyO1mc

Apa pun itu, lupakan saja.

Setelah satu jam, Cheng Ke yang kelelahan dan berkeringat masuk ke kamar mandi.

Dia selesai mengepel, meski ia tidak tahu seberapa efektif itu. Semua yang ia tahu adalah bahwa lantai kayu yang keras itu basah oleh air.

Pelnya tidak berguna, jika ia memeras airnya, itu seperti penyapu debu. Jika ia tidak memerasnya, itu membanjiri lantai. Dia hanya bisa memaksa dirinya untuk mengabaikannya. Pada akhirnya, karena ia tidak punya sarung tangan dan juga menolak untuk menghilangkan kotoran yang menempel di ujung pel, dia melempar kain pelnya setelah menggunakannya dua kali. Lagi pula, pelnya datang dengan kain pel cadangan. Ymkrbi

Dia melepaskan bajunya dan berdiri di bawah siraman air panas. Untuk seseorang yang tidak pernah bekerja seharian selama hidupnya, mengepel seperti bertarung dan dia merasa lelah.

Setelah mandi, dia melihat luka pinggangnya di cermin. Kelihatannya itu akan berkeropeng dan dibandingkan dengan luka kepala Jiang Yu Duo, yang masih berdarah selama berjam-jam setelah terluka, lukanya terlihat baik.

Cheng Ke tidak melihat waktu setelah mandi. Dia merebahkan dirinya di kasur dan tertidur. Meski pun dengan seluruh usahanya, dia tidak bisa meletakkan sprei, penutup selimut dan selimutnya dengan benar, jadi dia memutuskan untuk menendang spreinya.

Ketika ia bangun, dia tidak tahu kapan ia melempar sarung bantalnya ke lantai juga. C6zeVs

Akan lebih baik jika ia tidak menggunakannya. Jika selimut atau bantalnya kotor, dia bisa selalu mencuci mereka. Dia tahu ada sebuah mesin cuci di balkon.

Dia termangu di kasurnya selama sepuluh menit sebelum perlahan bangun. Dia tidak tahu bagaimana memulai mengatur hidup barunya. Akhirnya, pikirannya melayang-layang ketika ia mandi.

Di ruang tamu, ponselnya berbunyi untuk waktu yang lama sebelum Cheng Ke mendengarnya. Dia menghampirinya dan mengambilnya. Itu Liu Tiancheng.

Dia menghela nafas dan menjawab, “Halo?” 2Ra4Ed

“Bangun?” Liu Tiancheng bertanya dari sambungan telepon.

“Baru saja.” Cheng Ke menghampiri dapur, membuka kulkas dan mengeluarkan sekaleng susu. Dia ingin langsung menuangnya hanya untuk menyadari bahwa ia tidak punya cangkir.

Read more BL at langitbieru (dot) com

Liu Tiancheng melanjutkan, “Apakah kau pulang cepat kemarin? Aku tidak melihat siapa pun di mejamu ketika aku keluar.”

“Mmhmm, pergi segera setelah aku selesai makan.” Cheng Ke minum beberapa tegukan langsung dari kalengnya dan menemukan bahwa susu ini tidak seenak yang ada di rumah. Itu sangat dingin hingga membuatnya menggigil. mN09r

We’re sorry for MTLers or people who like using reading mode, but our translations keep getting stolen by aggregators so we’re going to bring back the copy protection. If you need to MTL please retype the gibberish parts.

Tapi ia tidak tahu merk susu yang ia minum. Dia tidak pernah memerhatikan bungkusnya.

“Bje yfcjg-yfcjg xjrjg qjvj Tl xfwjglc, ijul qeij vlj jvlxwe.” Ole Kljcmtfcu wfcutfij cjojr. “Glj xfrji rfijwj wjxjc vjc vljw rjpj.”

Jtfcu Bf wfcpjkjy, “Glj yljrjcsj qfcvljw.”

Jtfcu Tl alvjx mfgfkfa. Vfpjx xfmli, vlj wfcujajxjc ifylt yjcsjx xjaj vjgl Jtfcu Tl rjja yfgvfyja vjglqjvj cubygbi. mgdELv

Ole Kljcmtfcu afgajkj vjc yfgxjaj, “Bfalxj xlaj yfgrjwj rfyfiewcsj vlj alvjx—“

“Berapa kali kau makan dengannya?” Cheng Ke menginterupsi. “Terakhir kali kau makan dengannya adalah setahun yang lalu, kan?”

“Hey, kau, kenapa kau marah?” Liu Tiancheng merasa sedikit canggung,

Cheng Ke tidak ingin marah dengan Liu Tiancheng, tapi dia tidak bisa membiarkannya begitu saja. Lebih dari setengah orang-orang yang ia lihat makan dengan Cheng Yi adalah teman lamanya. Hubungan mereka dengan Cheng Yi lebih jauh dari miliknya dengan Xu Ding dan itu termasuk Liu Tiancheng. “Aku sebenarnya berteman dengan kalian berdua”nya Liu Tiancheng membuat Cheng Ke kesal, MvqfF1

“Aku bangun di sisi kasur yang salah,” ujar Cheng Ke.

“Tidak tidur dengan nyenyak semalam?” Liu Tiancheng tertawa. “Apakah kau jalan-jalan setelahnya?”

“Tidak.” Cheng Ke meletakkan susunya kembali ke kulkas. Itu terlalu dingin, begitu dingin hingga ia merasa ingin muntah.

“Tidak? Aku lihat teman…mu,” ujar Liu Tiancheng, “Mereka tidak terlihat…Apa mereka teman baru?” 9hypxB

“Mhmhmhm,” Cheng Ke bergumam setuju.

“Mengejutkan melihatmu bersama orang seperti mereka.” Liu Tiancheng tertawa.

“Aku bisa berteman denagn siapa saja,” ujar Cheng Ke. “Beberapa orang yang dulu bersamaku tidak sebaik mereka.”

Liu Tiancheng menghela nafas. “Aku memaafkanmu, suasana hatimu buruk belakangan ini.” cKZYz5

“Apa ada sesuatu yang kau inginkan?” Tanya Cheng Ke.

“Bisakah aku menelponmu tanpa menginginkan sesuatu?” Tanya Liu Tiancheng. “Dulu kita sering mengobrol.”

Please support our translators at langitbieru (dot) com

“Sekarang berbeda,” jawab Cheng Ke. “Aku sibuk.”

“Dengan apa?” Liu Tiancheng langsung bertanya. aHbT1d

“Sibuk pergi ke supermarket untuk sebuah cangkir,” jawab Cheng Ke.

“Apa?” Cheng Ke terdiam, tidak yakin bagaimana meresponnya.

“Pergi dulu.” Cheng Ke mematikan sambungan telepon.

Dia berencana untuk tetap menelpon hari ini. Meski dia tidak ingin memikirkannya, dia benar-benar harus mencari tahu apa yang harus ia lakukan. LY7BIV

Dia punya beberapa uang, meski ini berbeda dari sebelumnya dimana dia tidak perlu khawatir tentang uang. Dia tiba-tiba sadar ada sebuah batasan jumlah uang yang ia punya dan itu tidak sebanyak standarnya dulu, tapi cukup untuk tidak perlu khawatir akan pengeluaran sehari-hari.

“Apa yang dilakukan”nya sebenanrya lebih tentang bagaimana hidup seperti hidupnya dulu.

Dia dulu melukan apa pun yang ia inginkan dan berhenti kapan pun ia mau. Setiap kali Xu Ding mengajaknya berkolaborasi, mereka akan menanda tangani kontrak dan dia akan membayar. Dia dulu berpikir itu membosankan karena ia melakukannya untuk kesenangan.

Sekarang ketika ia memikirkannya, kolaborasinya dengan Xu Ding mungkin adalah hal yang paling berguna yang pernah ia lakukan selama ia menjadi bocah tidak berguna. 7J9QgV

Dia menghela nafas, berdiri, dan berjalan-jalan di sekitar ruangan. karena ia harus pergi ke supermarket dan membeli cangkir, dia harus melihat hal lain yang ia butuhkan agar dia tidak perlu keluar lagi.

Ketika ia pergi, dia hanya bisa ingat membeli sebuah sapu.

Dia memilih sebuah gelas kaca secara acak dan sebuah sapu plastik jelek berwarna merah. Ketika ia membawa mereka ke rumah, dia menghela nafas dan sadar ia seharusnya membeli sebuah rak sepatu. Meski pun ia tidak punya banyak sepatu seperti sebelumnya, ia masih punya tiga pasang, termasuk sendalnya. Mereka terlihat buruk menumpuk di samping pintu.

Dia mengeluarkan ponselnya dan menulis “rak sepatu” di aplikasi memo. GY1o4v

Segera setelah ia menemukan seseuatu yang kurang, ia harus menulisnya. Setidaknya dengan cara ini ia bisa mengurangi perjalanan.

Namun ketika ia pergi ke supermarket malamnya, satu-satunya benda di memonya adalah rak sepatu dan supermarket itu tidak menjualnya.

Di hari-hari berikutnya, dia terus bolak-balik dari rumah ke supermarket. Setiap kali ia menyadari sesuatu, itu adalah saat ia membutuhkannya. Contohnya, ketika ia menyapu lantai, ia sadar ia tidak punya tong sampah, ia menemukan sebuah panci namun tidak dengan mangkuk ketika ia memasak mie instan, dan sadar bahwa ia tidak punya rak baju ketika ingin menggantung bajunya untuk dikeringkan.

Ada banyak hal yang ia punya dulu namun tidak punya sekaran. Benda besar seperti komputer dan benda kecil seperti sebuah asbak. uMJq3B

Dia menghabiskan satu bulan mengalami apa yang dimaksud dengan hidup di apartemen yang dilengkapi furnitur namun masih kosong.

Ketika bel pintu berbunyi, Cheng Ke tengah berdiri di tengah ruang tamu, menyatakan ia akhirnya tidak perlu keluar untuk membeli apa pun hari ini.

Story translated by Langit Bieru.

Dia akhirnya bsia memulasi hidup barunya.

Dia mengintip dari lubang pintu dan hanya bisa melihat kegelapan. Seseorang telah menutupnya. yItxQY

Namun bel pintunya terus berbunyi.

Cheng Ke mengernyit. Dia mengunci pintunya dulu lalu bertanya, “Siapa?”

Orang di luar itu menjawab dengan sederhana, “Aku.”

Suara itu terdengar familiar namun tidak sefamiliar itu hingga ia bisa tahu siapa dia hanya dengan satu kata. BM4SAa

“Tidakkah kau punya nama?” Tanya Cheng Ke.

“Chen Qing,” respon orang itu.

Cheng Ke menyadari bahwa iya, ini adalah suara kepala penjaga terhormat.

“Kenapa kau menutup lubang pintunya?” Cheng Ke bertanya lagi. Dia pikir orang ini pasti adalah versi rendahan dari Jiang Yu Duo dan kegilaannya. Cheng Ke tidak berani membuka pintu begitu saja ketika lubang pintunya tertutup. QOLsPG

“Itu peraturannya,” jawab Chen Qing.

“Peraturan macam apa untuk mengetuk dan menutup lubang pintu?” Cheng Ke bingung.

“Itu tidak terutup sekarang,” Chen Qing meyakinkannya. “Cepat dan buka pintu!”

Cheng Ke melihat keluar lagi dari lubang pintu dan menemukan bahwa itu memang tidak ditutup lagi. Hanya ada Chen Qing di depan pintu, mengenakan kacamata hitam di lorong tanpa jendela dengan keras kepala. 7i4gex

Dia membuat celah kecil setelah membuka pintu dan menatap Chen Qing. “Ada apa?”

“Uang sewa,” pinta Chen Qing.

“…Sial.” Cheng Ke membuka pintu dan membairkan Chen Qing masuk. Dia memberikan jempolnya pada Chen Qing dan berseru, “Caramu mengumpulkan uang serwa membuatku ingin menelpon polisi.

Tidak ada cahaya di ruangan dan gordennya tertutup rapat. Chen Qing masuk ke ruangan dan mendudukkan dirinya di sofa. Dia akhirnya melepas kacamata hitamnya dan menjelaskan, “Sebenarnya masih ada beberapa hari sebelum satu bulan, tapi persetujuan mengatakan batas sewanya adalah tanggal 28, jadi…” rHmKxe

“Tidak masalah, transfer elektronik, oke?” Tanya Cheng Ke.

“Kenapa aku harus ke sini kalau kami bisa menggunakan transfer elektronik? Chen Qing melihat Cheng Ke seperti ia adalah seorang idiot. “Tunai. Kak Qian suka tunai.”

Langit Bieru.

“Oh.” Cheng Ke mengambil dompetnya dan menghela nafas di dalam hati. Untung ia menarik beberapa uang sebelumnya. Cara Chen Qing bertindak, Cheng Ke tidak ragu pria ini akan menggiringnya ke bank untuk uang.

“Sepertinya kau beli banyak barang.” Chen Qing memindai ruangan. “Kau bahkan membeli kursi eletrik?” Ow2pyt

“Elektrik…” Cheng Ke tidak tahu apa yang harus ia katakan. “Itu namanya kursi pijat elektrik.”

“Atau lebih mudahnya sebuah kursi elektrik.” Timpal Chen Qing.

“Baik.” Cheng Ke mengangguk dan menghitung uang untuk Chen Qing. “Hitung ini.”

Cheng Qing tidak mengambil uangnya dan hanya melihat Cheng Ke. “Kak Ketiga benar.” z6d2 X

“Apa?” Cheng Ke bertanya.

“Kau itu bodoh,” balas Chen Qing.

Cheng Ke terdiam karena terkejut dan tetap diam sesaat, tidak tahu apa yang harus ia katakan. Sebenarnya, ia bahkan tidak tahu emosi seperti apa yang harus ia rasakan sekarang.

Chen Qing menjelaskan. “Dia adalah orang yang menyewakan apartemennya untukmu. Sekarang aku adalah orang yang mengambil uang sewanya dan kau menyerahkannya padaku begitu saja?” 6cPdfM

Cheng Ke menatapnya dalam diam.

“Dia memberitahuku untuk datang sekarang dan aku tanya apa yang harus aku lakukan jika kau tidak memberikan uangnya padaku.” Chen Qing melanjutkan, “Kak Ketiga bilang kau tidak akan karena kau itu bodoh dan kau akan langsung memberikannya tanpa bertanya apa pun. Kau benar-benar melakukannya.”

Cheng Ke menggertakkan gignya dan memasukkan uangnya kembali ke dompet. Dia duduk di sofa dan berkata, “Suruh Jiang Yu Duo datang untuk mengambil uangnya sendiri.”

“Dia di bawah.  Kalau kau tidak percaya, telepon dia,” ujar Chen Qing. GmA9I8

Cheng Ke mengeluarkan ponselnya dalam diam dan menelpon nomor Jiang Yu Duo.

“Halo.” Suara Jiang Yu Duo datang dari ponsel dan itu lebih mudah dikenali dari pada suara Chen Qing.

“Aku hanya akan memberikan uang sewa padamu,” ujar Cheng Ke.

“Berikan pada Chen Qing,” pinta Jiang Yu Duo. “Aku suruh dia mengambilnya.” evUQCd

“Tidak,” balas Cheng Ke. “Bagaimana jika ada masalah?”

“Aku yang bertanggung jawab,” ujar Jiang Yu Duo, “Aku di bawah.”

Story translated by Langit Bieru.

“Lalu kemari dan tanda tangani pengabaian tanggung jawabmu,” pinta Cheng Ke.

“Apa itu?” Jiang Yu Duo bingung. nIyH6v

“Jika Chen Qing kabur dengan uangnya,” Cheng Ke menjelaskan dengan perlahan, “Atau dia dirampok segera setelah ia melangkah keluar dari pintu, atau jika angin menerbangkan uangnya ketika ia memberikannya padamu, aku tidak bertanggung jawab.”

“Apa kau tidak waras?” Jiang Yu Duo terkejut.

“Waras.” Cheng Ke membalas, “Hanya bodoh.”

“Sial.” Jiang Yu Duo mengutuk diam-diam. “Apa yang Chen Qing katakan padamu?” SOs6jV

“Ambil uangnya sendiri atau datang dan menandatangani perjanjian.” Cheng Ke menutup telepon segera setelah ia selesai dan melihat Chen Qing.

Dia baru sadar bahwa wajah Chen Qing ada banyak luka.

“Apa?” Chen Qing bertanya.

“Tanya Kakak Ketigamu.” Cheng Ke pergi dan menyalakan lampu di ruang tamu. Dia memastikan bahwa memang ada luka di wajah Chen Qing dan itu cukup buruk. Dia mungkin mengenakan kacamata hitam untuk menjaga imejnya sebagai kepala penjaga terhormat. Xpxwr9

“Aku menemukan bahwa kau,” Chen Qing duduk di kursi, “emosian.”

Cheng Ke berkata, “Kau menghabiskan seluruh waktumu dengan Jiang Yu Duo dan kau bilang aku emosian? Filter fan boymu sangat tebal, apakah kau bisa melihat jalan?”

“Dia benar-benar tidak marah setiap waktu,” ucap Chen Qing.

Cheng Ke tidak bsia berkomentar untuk hal itu. Dia hanya bertemu Jiang Yu Duo beberapa kali, namun satu-satunya waktu ia tidak mengoceh adalah saat makan. cRHGOB

“Kau belum lihat dia benar-benar marah.” Chen Qing mungkin melihat keraguannya dan mengklarifikasi. “Jika dia benar-benar marah, hari ketika kau menendang tong sampah adalah hari kematianmu.”

“Mati kau.” Cheng Ke tidak bisa menahan diri. “Pernahkah kau ikut tes IQ?”

“Tidak,” jawab Chen Qing.

Cheng Ke menggertakkan gignya dan terdiam. Dia benar-benar tidak tahu apa yang harus ia katakan. uAMh6Q

Cheng Ke menatap Chen Qing dalam diam untuk beberapa menit. Belnya berbunyi tepat saat ia selesai mengagumi segala macam luka lebam di wajah pria itu. Chen Qing langsung melompat dan membuka pintu. “Kak Ketiga, aku sudah bilang padanya untuk memberikan uangnya padaku…”

“Apakah kau sebosan itu,” Jiang Yu Duo memasuki ruangan, mengambil sebuah kursi dan duduk lalu melihat Cheng Ke, “sehingga bermain denganku?”

Story translated by Langit Bieru.

Perban di kepala Jiang Yu Duo masih di sana setelah sebulan dan masih berdarah. Di wajahnya ada goresan tambahan, tangan kanannya digantung di sebuah gendongan dan celana sebelah kirinya tergulung dan menunjukkan bidai yang membungkus kakinya dari mata kaki ke tulang keringnya.

Dia tidak pernah berpikir ia akan melihat sesuatu seperti ini. Meski pun mereka memperebutkan teritori, fakta bahwa luka bosnya lebih parah dari kepala penjaga terhormat sangat sulit untuk diterima. 5FM0Px

“Itu kesalahanku…” Chen Qing berdiri di sampingnya sambil mengernyit, terlihat sedih.

“Jangan sentimental begitu.” Jiang Yu Duo melambaikan satu tangan padanya. Dia melihat Cheng Ke dan bertanya lagi, “Mana uangnya?”

“Bon,” pinta Cheng Ke.

Chen Qing mengeluarkan sebuah buku bon dan pulpen. Saat ia mulai menulis, Cheng Ke menunjuk Jiang Yu Duo, “Siapa pun yang mengambil uangnya harus menulis itu.” uej6r7

“Tangan Kak Ketiga terluka!” Chen Qing menatapnya dengan tajam.

“…Dia kidal,” ucap Cheng Ke.

Jiang Yu Duo menatapnya sebentar lalu mengadahkan tangannya ke Chen Qing. Chen Qing meletakkan buku bon dan pulpen ke tangannya.

“Hari ini aku telah menerima dari Cheng Ke…” Jiang Yu Duo meletakkan bon itu di meja dan menulis sambil menggumamkan kata-kata itu. fyNkrL

Ke dari Shou, bukan Ke dari cheng ke.” Cheng Ke menatap tulisan ceker ayam di bon.

Jiang Yu Duo mendongak dan menatapnya. P2WzoE

Cheng Ke menghela nafas dan mengambil pen itu dari Jiang Yu Duo. Dia menulis namanya di memo dan berpikir, “Bukankah kau punya fotokopi KTPku?”

“Siapa yang mengingatnya?” Jiang Yu Duo mengambil pennya kembali dan menghapus Ke, lalu ia menulis sebuah Ge, menghapusnya, menatap memo, dan akhirnya menulis Ke. “Yang aku lihat hanya foto dan umurmu.”

Cheng Ke meletakkan bonnya dan memberikan Jiang Yu Duo uangnya.

Lalu datanglah kecanggungan yang familiar. Mereka bertiga saling melihat dalam keheningan. Cheng Ke pikir setelah makan bersama kemarin, mereka tidak akan secanggung dan sejauh ini, namun ia rasa masih belum mengenal Jiang Yu Duo dengan baik. RemrKl

Dia berdeham dan bersiap untuk mengirim tamunya ke pintu. Jiang Yu Duo memiringkan kepalanya ke Chen Qing, yang membuka pintu, keluar, lalu menutup pintunya lagi.

“Apa?” Cheng Ke melihatnya.

Story translated by Langit Bieru.

“Maybach 888 itu,” Jiang Yu Duo perlahan mengeluarkan sebatang rokok dengan satu tangan, lalu perlahan mengeluarkan sebuah pemantik api untuk menyalakannya. “Apa hubungannya denganmu?”

Cheng Ke terdiam. “Itu mobil adikku.” 0HWehj

“Apa masalahmu sebenarnya?” Jiang Yu Duo menyipitkan matanya.

“Aku?” Cheng Ke tidak bisa mengerti apa hubungan dari dua pertanyaan itu.

“Apa yang kalian berdua mainkan?” Tanya Jiang Yu Duo.

“Apa yang kau katakan?” Cheng Ke mengerutkan alisnya. “Apa yang Maybach 888 itu lakukan padamu?” xN5IGd

“Maybach 888 itu telah berkeliling di sekitar sini hari ini.” Jiang Yu Duo berkata, “Itu berputar terus beberapa kali, untuk apa? Ada seorang supir, kenapa ia tidak menyetir sendiri? Apakah ia takut akan melewatkan sesuatu jika ia mengemudi?”

“Dia membawa supir kemana pun dia pergi,” Cheng Ke menjawab dengan pasrah, “Dia tidak punya SIM!”

Jiang Yu Duu terdiam. “Tidak punya SIM?”

“Ya, dia tidak tahu cara mengemudi.” Cheng Ke menghela nafas. Dia tidak punya tenaga untuk memikirkan apa yang Jiang Yu Duo gumamkan. Dia sedikit bingung akan apa yang Cheng Yi lakukan, berkeliling di sekitar sini. JbMUXI

“Apakah ia benar-benar adik kandungmu?” Tanya Jiang Yu Duo.

“Ya, orang tua yang sama,” balas Cheng Ke.

Jiang Yu Duo melihatnya sejenak lalu berkata dengan pelan, “Kau yakin kau tidak diadopsi? Perbedaannya cukup besar.”

“Keluar,” ujar Cheng Ke sebagai respon. jfsFuA

Jiang Yu Duo tertawa. Setelah ia selesai tertawa, ia menyesap air dari cangkirnya. “Menjauhlah dari adikmu. Di zaman kuno, dia akan menjadi orang yang membunuh kakak kandungnya untuk tahta.”

Cheng Ke mengernyit. Meski pun benar bahwa ia tidak punya hubungan yang baik dengan Cheng Yi, ia masih merasa tidak nyaman setelah mendengar apa yang Jiang Yu Duo katakan.

“Sungguh. Aku bisa tahu hanya dengan melihatnya.” Jiang Yu Duo kukuh.

“Kau bisa tahu keberuntungan seseorang hanya dengan melihat mereka?” Cheng Ke berkata, “Hebat sekali.” wo7m6k

“Jumlah orang jahat yang pernah aku lihat,” kata Jiang Yu Duo, “Lebih banyak dari jumlah anak-anak yang telah kau lempar ke tong sampah.”

Cheng Ke tidak mengatakan apa-apa. Emosi di mata Jiang Yu Duo saat ia mengatakan hal itu membuat Cheng Ke lupa sevulgar apa pria itu.

Read more BL at langitbieru (dot) com

 

oXauIS

Translator's Note

TN1: nama Cheng Ke adalah 程恪

TN2: PinYin dari nama Cheng Ke itu sama dengan 乘客 (penumpang). Jiang Yu Duo pertama-tama menulis 客, bukan karakter 恪

TN3: 格 terlihat mirip dengan 恪

Leave a Comment

For an easier time commenting, login/register to our site!