English

PenawarCh16.2 - Sebuah seringai

1 Comment

Jiang Yuduo terdiam lalu buru-buru berdiri dan menghampiri meja. Kucing yang sebelumnya digambar sudah dihapus, hanya tersisa sebuah ekor dan wajahnya muncul di tengah meja.

Sebenarnya ia sendiri tidak begitu mengenal wajahnya. Ia bisa melihat orang yang sama berkali-kali dalam sehari, namun ia hanya melihat wajahnya dua kali sehari saat ia mencuci wajah. jUG8Hs

Jadi ia tidak bisa menahan diri untuk mengeluarkan ponsel dan berselfie. Kemudian ia meletakkan ponsel itu di meja.

“Memang aku,” ujar Jiang Yuduo .

Please support our translators at langitbieru (dot) com

“Ini adalah pertama kalinya aku melihat seseorang berfoto untuk memastikan wajahnya sendiri.” Cheng Ke menghela nafas.

Jiang Yuduo mengambil ponselnya dan memotret gambar di meja. Ia memikirkannya dan menghela nafas juga. “Gambar ini akan segera menghilang kan?” “Yeah,” Cheng Ke membalas. “Meski kita tidak menyentuhnya, garamnya akan meleleh.” e4AdaI

“Jenis seni ini sungguh buruk.” Jiang Yuduo menoleh dan menatapnya. “Hilang ketika kau selesai.” 

Cheng Ke tersenyum. “Banyak hal yang seperti itu. Mereka hanya bisa ada dipikiranmu.” 

Jiang Yuduo tidak mengatakan apa pun. Matanya terlihat tidak fokus dan ia kembali duduk. Ia menyalakan rokok terakhitnya dan menatap gambar di meja.

“Aku mengantuk.” Cheng Ke membanting dirinya di sofa. “Jam berapa sekarang?” eX3kvn

“Hampir jam lima.” Jiang Yuduo melirik ponsel. “Kau bisa tidur?”

“Yeah.” Cheng Ke menggulung dirinya dalam selimut, berbalik lalu berbaring menghadap sandaran sofa.

Jiang Yuduo duduk di sebelah meja untuk beberapa saat. Kemudian ia mengulurkan tangannya dan menghancurkan gambar di meja. Setelahnya, ia mematikan lampu di ruang tamu dan mengambil kucing yang tertidur di kaki Cheng Ke.

“Kau gay?” Jiang Yuduo telah berjalan beberapa langkah ketika ia menanyakan ini. f5glGw

“Ya.” jawab Cheng Ke. “Jika kau takut, tutup pintunya. Aku akan pergi segera setelah kau mengambil kunci untukku.”

“Apa kau diusir karena ini?” tanya Jiang Yuduo lagi.

“Tidak.” Cheng Ke berbalik dan menatapnya. “Jika aku sebaik adikku, meski hanya setengahnya, keluargaku bahkan tidak akan peduli kalau aku tidur dengan anjing.”

“… Benarkah begitu?” tanya Jiang Yuduo. e3xPCQ

 “Ayahku yang bilang begitu.” Cheng Ke berbalik lagi dan menghadap sandaran sofa. “Keluargaku tidak mempermasalahkan hal seperti itu. Hanya saja mereka tidak tahan lagi dengan diriku yang menyia-nyiakan 27 tahun hidupku.”

Jiang Yuduo terdiam dan masuk ke kamar tidur.

Mungkin karena ia minum banyak sekali alkohol dan mabuk. Ia merasa rileks dan sekujur tubuhnya geli. Cheng Ke menutup matanya dan merasakan tubuhnya perlahan-lahan tenggelam di sofa.

Dia tidak punya waktu untuk memikirkan sikap Jiang Yuduo dan tertidur. QoXV8D

Ia baru bangun saat seseorang menendang bokongnya.

Hal pertama yang ia lihat adalah sofa. Namun hal yang berbeda adalah terdapat beberapa benang longgar di sofa. Pasti itu kerjaan kucingnya Jiang Yuduo.

Please support our translators at langitbieru (dot) com

Ia berbalik. Disinari cahaya matahari yang terang, Jiang Yuduo dan Chen Qinf berdiri bersebelahan sambil menatapnya.

“Sial.” Dia mengangkat tangan dan memblokir sinar matahari. Rasanya sedikit canggung ditatap dua orang ketika tidur di siang hari. “Jam berapa?” ySfxhK

“Sepuluh.” Jiang Yuduo meletakkan serumpun kunci di atas bantalnya. “Aku harus melepas belatku. Kuncinya di sini. Kau tidak perlu mengembalikannya setelah kembali. Aku akan ke sana nanti.”

“Okay.” Cheng Ke mengangguk, masih sedikit bingung.

“Ada sarapan di meja.” Chen Qing memberi tahunya. “Masih hangat. Bangun dan makanlah.”

“Makasih,” respon Cheng Ke. 8lWarK

Jiang Yuduo menutup pintu dan mengikuti Chen Qing masuk ke mobil. Hari ini Chen Qing mengendarai Porsche merah dari toko.

“ ?” Chen Qing menepuk-nepuk stir mobil. “Aku memilih warna merah untuk merayakan pelepasan perbanmu.”

“Aku sangat tersentuh.” Jiang Yuduo mengusap matanya.

“Semalam kau tidak bisa tidur lagi, kan?” Chen Qing menatapnya. “Masih pusing?” a4NIrJ

“Tidak.” Jiang Yuduo menutup matanya. “Hanya sedikit sakit.” 

“Kalau perlu, minumlah obat tidur atau sesuatu yang mirip.” Chen Qing berkata, “Bukankah Kak Qian memberikanmu? Jika tidak bisa tidur, minum satu.

“Tidak.” Jiang Yuduo menolak usulan itu. 

Chen Qing menghela nafas dan mengemudi menuju rumah sakit. eCKEiP

“Klinik ‘kan bisa.” Jiang Yuduo menoleh ke arahnya.

“Rumah sakit.” Chen Qing menggigit bibirnya. “Aku tidak bisa menurutimu hari ini. Tidak masalah jika kita ke klinik untuk membeli obat, tapi kita harus ke rumah sakit untuk melepas belat. Dokter harus memeriksa perkembangannya…”

“Berbalik.” Suara Jiang Yuduo memberat.

“Aku boleh kehilangan kepala dan darahaku, tapi aku tidak akan menyerah dan akan membawamu ke rumah sakit.” Chen Qing berkata, “Kau tidak punya masalah saat memasang belatnya. Melepasnya tidak akan lama.” Tygl3O

“Brengsek!” Jiang Yuduo menampar bahunya. “Tidak ada hubungannya!”

We’re sorry for MTLers or people who like using reading mode, but our translations keep getting stolen by aggregators so we’re going to bring back the copy protection. If you need to MTL please retype the gibberish parts.

“Kau bisa memukulku hingga aku mati.” Chen Qing bersikeras. “Sebelum aku mati, aku ahrus memastikan bahwa kau telah sampai di rumah sakit.”

Please visit langitbieru (dot) com

Cilr Aljcu Teveb wfcsjae rjja lj wfcjajq ajpjw Jtfc Hlcu ecaex kjxae sjcu ijwj. Cxtlgcsj, Aljcu Teveb wfcutfij cjojr vjc yfgrjcvjg qjvj pfcvfij vfcujc jwaj afgqfpjw.

Vjja wfgfxj yfgpjijc wfcepe gejcu qfwfglxrjjc, Aljcu Teveb wfgjrj iexjcsj alvjx wfwyjlx rjwj rfxjil. Vfwejcsj rjxla. Pxw3Xi

Gbxafg sjcu wfifqjr yfijacsj jvjijt vbxafg wjujcu. Pj afgrfcsew qjvj Aljcu Teveb, “Bfcjqj xje yfgxfglcuja? Zjrlt rjxla?”

“Tidak.” Jiang Yuduo menjawab dari sela giginya yang terkatup rapat.

“Dia hanya gugup,” ujar Chen Qing yang berdiri di sebelahnya. “Kalau bisa, tolong selesaikan dengan cepat. Robek semuanya saja.”

“Melepaskannya memang cepat.” Dokter itu mengangguk. “Aku akan menulis beberapa instruksi untukmu. Foto dan lihatlah perkembangan tulangmu…” DA8FJq

“Tidak perlu difoto.” Jiang Yuduo memutuskan dengan penuh keyakinan. “Pasti sudah sembuh.”

Setelah itu, ia tidak mendengar satu kata pun yang diucapkan oleh dokter dan Chen Qing.

Setelah suara kacau menghilang, hanya ada keheningan di telinganya dan buram di matanya. Rasanya seperti ia bisa melihat semuanya namun tidak bisa melihat apapun di saat yang bersamaan. Atau setidaknya, dia tidak tahu apa yang dia lihat.

Jiang Yuduo menutup matanya. kGfPAF

 Chen Qing setengah membantu dan setengah menyeretnya keluar dari ruang pemeriksaan untuk membayar. Kemudian mereka pergi mendapatkan foto X-rat. Ketika ia berbaring di meja pemeriksaan, nafasnya masih tidak stabil.

Semuanya memandangnya dengan pandangan aneh.

Tentu saja. Seorang pria besar sepertinya, tidak memiliki luka luar namun sangat gugup hingga berkeringat deras dan susah berjalan.

Karena itulah ia tidak mau ke rumah sakit. d7qxBr

Ia takut pada rumah sakit.

Ia begitu takut sampai ia lupa apa yang membuatnya takut.

Jika disuntik tidak termasuk, maka ia tidak punya pengalaman mengerikan di rumah sakit. Ia hanya pernah mengunjungi rumah sakit beberapa kali, namun ia selalu merasakan sensasi gugup yang luar biasa dan rasa benci terhadap rumah sakit hingga otot punggungnya menegang.

Ketika mereka meninggalkan rumah sakit dan berada di jalan, Jiang Yuduo merasa ia telah terlahir kembali dan menghela nafas lega. b6d7L1

“Kemana?” tanya Chen Qing.

“Ayo ambil kunci di tempat Cheng Ke.” Jiang Yuduo menatap ponselnya. “Harusnya ia sudah sampai di rumah sekarang.”

Please support our translators at langitbieru (dot) com

“Okay.” Chen Qing membuka pintu untuknya.

Saat mobilnya memasuki lingkungan rumah Cheng Ke, Jiang Yuduo menelpon Cheng Ke. 71ndTf

Ponselnya berbunyi berkali-kali sebelum diangkat. Suara Cheng Ke yang mengantuk terdengar. “Ah, sial. Aku masih…di tempatmu..”

“Bagaimana bisa kau tidak tahu dimana kau berada?” Tanya Jiang Yuduo sedikit menuntut. 

“Maafkan aku.” Suara Cheng Ke terdengar lebih segar saat ia mengatakan itu. “Aku benar-benar minta maaf. Aku tertidur lagi. Aku masih di sofa rumahmu.”
“Kau jago tidur, ya.” Jiang Yuduo sangat iri. “Tidak apa. Tunggu aku di rumah. Kami akan pulang menjemputmu, dan mengantarmu.”

“Maafkan aku,” ujar Cheng Ke.  snw 6P

Jiang Yuduo menghela nafas dan menutup panggilannya. “Pulang dulu. Dia belum bangun.”

“Waw.” Chen Qing berkata, “dia benar-benar jago tidur.” 

“Dia tidak tidur semalam,” jawab Jiang Yuduo.

“…Apa yang dia lakukan?” Chen Qing sedikit terkejut. “Dia juga insomnia?” UmN0RA

“Yeah.” Jiang Yuduo menekan dahinya.

“Kalau begitu kalian bisa saling menemani,” ujar Chen Qing. “Kalian bisa saling bertatapan…oh, benar. Aku lupa bertanya. Kalian ngapain? Yang di atas meja itu garam ‘kan?”

“Bubuk deterjen,” jawab Jiang Yuduo. 

“Tidak mungkin! Aku menjilatnya. Super asin!” seru Chen Qing. 3jSOx7

“Ada masalah?” Jiang Yuduo meliriknya. “Kau bahkan tidak tahu benda apa itu dan kau memakannya?”

“Itu terlihat seperti garam di mataku.” Chen Qing mengelak. “Untuk apa kalian berdua memenebarkan garam di meja tengah malam…pengusiran sentan?”

“Membunuhmu,” balas Jiang Yuduo. 

Karena ingatannya tidak hilang karena tidur, dia ingat dengan jelas apa saja yang terjadi semalam. g2D3ro

Dimulai dari Cheng Ke yang menangis, hingga ia yang mengatakan mereka harus mengobrol. Lalu minum dan makan, melukis pasir dan ciuman yang tidak terduga. Hingga semuanya berakhir dengan Cheng Ke yang berkata ia hanya bisa ‘bangun’ pada pria.

Jiang Yuduo menggeleng dengan alis yang menyatu.

Read more BL at langitbieru (dot) com

Dia tidak tahu apa yang ia rasakan ketika Cheng Ke mengatakan hal itu. Selain keterkejutan, hanya ada ketidak mampuan untuk berbicara.

Cheng Ke mungkin tidak berbohong. Lagipula, dia tidak akan mencium seorang pria hanya untuk taruhan, meskipun… g2PNR

Dia menoleh dan menatap Chen Qing. Lupakan saja, wajah serius Chen Qing saat mengemudi membuatnya ingin tertawa.

Jika dia benar-benar harus mencium Chen Qing, dia mungkin akan tertawa saat ia mereka baru berjarak 50 cm.

Setelah dipikir-pikir, dia jadi tersadar.

Cheng Ke seorang gay? YnL9ih

Dia memiliki banyak hipotesis teringat Cheng Ke, namun ia tidak pernah memikirkan hal ini.

Saat mereka sampai di rumah, Cheng Ke sudah mandi. Selimutnya sudah terliput dan berada di atas sofa. Bantalnya ditumpuk di atas selimut, dan garam di meja sudah dibersihkan.

“Mana garamnya?” Chen Qing bertanya.

“Di tong sampah,” jawab Cheng Ke.  qRwX9f

“Gila. Kau membuang begitu banyak?” Chen Qing menatapnya. “Pembuang makanan.” 

“…Jika kita tidak membuangnya, kita akan memakannya?” tanya Cheng Ke. 

“Itu tidak kotor,” jawab Chen Qing. “Jika aku menjatuhkan sepotong daging di lantai, ibuku akan menyuruhku mencucinya lalu kumakan.”

“Oh, diamlah.” Jiang Yuduo melihat sarapan di meja kopi dan menoleh pada Cheng Ke. “Kau tidak makan sarapan?” GCibo4

“Kepalaku sedikit sakit dan aku tidak nafsu,” jawab Cheng Ke.

“Bawalah,” suruh Jiang Yuduo. 

“Tidak perlu…” Cheng Ke menelan kata-katanya dan mengambil sekantong sarapan itu.

Dia tidak tahu apa pekerjaan Chen Qing, namun pria itu selalu mengendarai mobil yang berbeda tiap kali mereka bertemu. Cheng Ke memegang kantong berisi sarapannya sambil memandang keluar jendela mobil. phdjZA

“Kalian main apa semalam? Membuang-buang garam di meja,” tanya Chen Qing sambil mengemudi.

Semalam.

Story translated by Langit Bieru.

Segera setelah Cheng Ke mendengar kata itu, dia melirik Jiang Yuduo di kursi penumpang. Jiang Yuduo menyandarkan kepalanya di jendela dan tidak bereaksi sama sekali.

Alkohol telah mengendalikannya. Setelah diingat-ingat, ia merasa sangat malu sekarang. Mungkin ia melakukan itu karena telah menahan diri terlalu lama. mOYyjZ

Saat membicarakan orientasi seksualnya, ia tidak peduli pendapat orang lain. Orang-orang yang berteman dengannya juga tidak peduli. Namun ia dan Jiang Yuduo…tidak akrab dan bahkan Jiang Yuduo mengatakan ia tidak menganggap Cheng Ke sebagai seorang teman.

Tapi Jiang Yuduo tidak memberikan reaksi yang berarti.

“Kalian main apa?” Chen Qing bersikeras untuk mendapatkan jawaban.

Cheng Ke menghela nafas. “Kau gambar, aku tebak.” SwYotX

“… Asik sekali. Kenapa tidak menggunakan pensil dan kertas saja?” Chen Qing sedikit terkejut. “Kreatif sekali kalian. Meja penuh garam.”

“Ah.” respon Cheng Ke.

“Lain kali ajak aku,” lanjut Chen Qing continued. “Aku suka permainan seperti ini. Dulu aku sering memainkannya bersama Kakak Ketiga.”

“Diam.” ujar Jiang Yuduo. “Aku gambar matahari dan kau tidak bisa menebaknya.” 3kQ mZ

“Gambarmu saja yang jelek. Akui itu,” pinta Chen Qing. “Anak tetanggamu menggambar lebih baik darimu.”

“Memangnya kau jawab apa?” tanya Cheng Ke

“Semangka, kentang, bawang dan kesemak,” jawab Chen Qing.

“Apa kau sedang lapar?” tanya Cheng Ke. 841kNZ

“Tidak!” Chen Qing tidak setuju. “Tidak menggambar matahari tapi tidak menambahkan wuuuuuunya. Bagaimana bisa aku menebak dengan benar.”

Cheng Ke menatap kepala belakang Chen Qing dan tidak mengerti apa itu wuuuu.

“Anak tiga setengah tahun saja tahu kalau matahari punya lingkaran wuuu,” ujar Chen Qing.

“…Oh.” Cheng Ke akhirnya mengerti. wXkVjP

Jiang Yuduo mendecakkan lidahnya dan mengeluarkan ponsel. Ia menekan ponselnya beberapa kali lalu memberikannya pada Cheng Ke. “Apa itu?” 

Cheng Ke meliriknya. Ada sebuah lingkaran ditengahnya dan sebuah lingkaran bergelombang di luar lingkaran itu. “Telur goreng.”

Please support our translators at langitbieru (dot) com

“Sial. Jangan-jangan kau dan Chen Qing saudara yang terpisah.” Jiang Yuduo mengembalikan ponselnya ke sakunya.

Chen Qing tertawa. “Kalian bisa bermain seperti ini tanpa bertengkar sekali pun?” 3d8Xlm

“Kami tidak bertengkar,” ujar Jiang Yuduo said, “Kami bahkan berciuman.”

Cheng Ke menegakkan kepalanya dan menatap Jiang Yuduo. 

“Seriusan?” Chen Qing masih tertawa ngakak. “Lain kali kalau kalian berdua berciuman, beritahu aku. Aku akan panggil dua gadis ke sana.”

“Tentu.” Jiang Yuduo memiringkan kepalanya dan melirik Cheng Ke.  RpN7uH

Wajah Jiang Yuduo tidak memiliki ekspresi apa pun dan tatapannya sangat tenang.

Namun tatapan yang terkesan tidak berbahaya ini membuat Cheng Ke sedikit tidak nyaman. Dia merasa jengkel dibalik topeng ketidak peduliannya.

But

Namun Jiang Yuduo lah yang memulai taruhan ini. Dia juga yang memberikan tantangan itu. fixdgz

Kalau mereka berciuman, maka dia lah yang memintanya.

Lalu kenapa ia merasa kesal?

Bukankah ia selalu serius hingga ia mewujudkan segala hal meski itu hanya basa-basi? Dia yang mengatakan bahwa ia akan memenuhi segala syarat taruhan mereka dan sekarang ia menolak untuk mengakuinya?

Cheng Ke bersandar dengan mata terpejam. mNFo4h

Mungkin bukan karena ciuman itu. Namun karena kata “gay”.

Chen Qing memarkirkan mobilnya di bawah dan menunggu. Jiang Yuduo dan Cheng Ke masuk ke lift bersama.

“Biar aku yang bawakan nanti,” ujar Cheng Ke.

“Tidak apa,” ujar Jiang Yuduo menenangkan. “Aku ingin memeriksa dalamnya juga.” 87atXw

“Oh.” Cheng Ke mengangguk. “Kau boleh memfotonya lalu dibandingkan pada pemeriksaan berikutnya.”

Jiang Yuduo meliriknya. “Kau masih mengantuk?”

Langit Bieru.

“Aku sudah bangun dari tadi,” ujar Cheng Ke.

“Lalu kenapa kau ngambek?” tanya Jiang Yuduo. G5KxPH

“…Aku?” Cheng Ke menatapnya juga.

“Tidak mungkin aku.” Jiang Yuduo berkata. “Aku tidak tidur sama sekali semalam. Jika aku ingin ngambek, maka aku akan melakukannya kemarin. Waktunya sudah lewat.”

Untuk beberapa saat, Cheng Ke tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun dan hanya bisa menatap angka yang terus berganti.

Setelah pintunya terbuka, Cheng Ke mengembalikan kuncinya pada Jiang Yuduo. “Silahkan cek.”  hBnjk9

“Yup.” Jiang Yuduo masuk ke dapur dan langsung keluar. “Kau tidak mematikan kompor saat kau keluar?”

“Aku matikan katupnya,” jawab Cheng Ke.

“Masuk akal.” Jiang Yuduo mengingatkan, “Kau harus lebih hati-hati. Aku takut kau akan mati karena keracunan.”

“Gas alami tidak akan meracuni orang semudah itu.” Cheng Ke menuangkan segelas air untuk dirinya sendiri. mG K5U

“Kalau ledakan?” tanya Jiang Yuduo.

“….Terima kasih.” Cheng Ke menghela nafas dan duduk di sofa.

Jiang Yuduo masuk ke dapur lagi dan mematikan kompor. Ia lalu mengeluarkan sebuah kardus rokok dan menulis sederet angka. Ia letakkan di samping Cheng Ke dan berkata,  “Nomor telepon Lu Qian. Kalau kau tidak bawa kuncimu lagi, telepon dia. Tapi jangan telepon di atas jam 10 malam, kau akan diomeli.”

“Okay.” Cheng Ke mengangguk. vErOnJ

Setelah Jiang  Yuduo keluar, Cheng Ke membanting dirinya di sofa. Ia masih sedikit capek, namun ia tidak bisa tidur lagi.

Ia berbaring di sana sebentar sebelum bangun dan meraih baju dari kamar tidur. Ia lalu masuk ke kamar mandi.

Dia mengatur showernya ke tingkat yang paling panas lalu menghela nafas saat airnya turun membasahinya.

Ia jarang minum sebanyak ini dan sangat jarang baginya untuk minum hingga susah tidur. Ia bersandar di dinding dan meski ia merasa rileks, kepalanya masih berat. bH9dQK

Kepalanya seperti diisi oleh kapas dan membuatnya tidak bisa segar.

Namun ia tidak bisa tidur sekarang.

Please support our translators at langitbieru (dot) com

Ia menggelengkan kepalanya dengan keras dan menekan ubun-ubunnya ke dinding karena frustasi.

Air panas dan uapnya mengalir dikulitnya. Pada awalnya, itu terasa sangat nyaman lalu tiba-tiba nafasnya memberat. XaQ3me

Sesak nafas yang ia rasakan tidaklah membuatnya tidak nyaman. Sebaliknya, itu membuatmu mengingat segala hal yang membuat nafasmu memberat.

Meski pun Cheng Ke tidak ingin mengingat ciuman semalam, otaknya memutarkan kejadian itu terus menerus. 

Tubuh telanjang Jiang Yuduo

Setengah telanjang. N36tgF

Otot yang rapih dan tajam.

Sebuah seringai dibibirnya.

JYD sedang mengalami *gay panic*

KlD 0G

Leave a Comment

For an easier time commenting, login/register to our site!

1 comment