English

Tiandi BaijuCh20 - Dengan begini, masih ada cukup waktu 

0 Comments

Penerjemah : jeff


MASA KINI B9Q5tJ

Zhou Luoyang segera membalikkan badan dan duduk. Du Jing berbalik untuk melihatnya, alisnya berkerut. Dia sedang berpikir keras.

“Du Jing?” Zhou Luoyang mengamatinya dengan curiga, ingin memastikan apakah dia sedang mengumpulkan ingatannya, atau …

Story translated by Langit Bieru.

“Ini aku,” kata Du Jing. “Mereka menemukan jebakan kita dan membunuh si stuntman.”

Ini adalah konfirmasi yang dibutuhkan Zhou Luoyang. Ketakutan membuncah di dalam dirinya entah dari mana. Waktu telah berbalik lagi? Kenapa semua ini bisa terjadi?! xUES f

Zhou Luoyang ingin bertanya, tetapi Du Jing mengangkat tangannya, menghentikannya. Dia berbaring di tempat tidur, menyalakan ponselnya, dan melanjutkan pekerjaannya. Gelisah dan tidak nyaman, dia memutar otak, mencoba mengingat apa yang telah dia lakukan kemarin pada waktu ini.

Hal yang sama terjadi lagi; Zhou Luoyang benar-benar bingung. Dia berjalan ke jendela dan membuka tirai, memandang ke Danau Barat untuk memeriksa apakah ini semua hanya mimpi. Kemudian dia duduk kembali di atas tempat tidur.

“Du Jing!” Zhou Luoyang berteriak.

“Mm.” Du Jing menatap ponselnya dengan waspada dan mengirim pesan suara yang telah diproses dari “Wu Xingping” ke kontak UT untuk mendapatkan kepercayaannya. lnofC

“Bagaimana kamu bisa begitu tenang?!” Zhou Luoyang bertanya. “Bagaimana?! Peristiwa supernatural macam apa yang kita alami?! Hari ini kembali ke awal!”

“Aku akan memikirkan pertanyaan ini sebentar lagi,” jawab Du Jing dengan dingin.


Sepuluh menit kemudian:

“Berhenti mencubitku!” Kata Du Jing. “Ini bukan mimpi!” HQwLpJ

“Tapi aku tidak merasakan apapun…”

“Kamu mencubit pahaku.”

Zhou Luoyang: “……”


“Bagus,” kata Du Jing pada dirinya sendiri setelah dia selesai mengirim pesan. “Dengan begini, masih ada cukup waktu.” rdG2O


Selanjutnya, Du Jing mulai mengumpulkan lokasi tujuan semalam dari ingatannya. Pada saat yang sama, dia mencari pemilik gedung secara online.

Pikiran Zhou Luoyang begitu campur aduk. “Apa yang kita lakukan? Bagaimana kita bisa memicu fenomena ini lagi?”

“Tidak tahu,” jawab Du Jing dengan bingung. Dia menggali semua informasi di gedung itu dan mengirim screenshot demi screenshot. Pada saat yang sama, dia mulai memberi tahu kantor pusat dan menelepon cabang Hangzhou.

“Sambungkan aku ke stuntman. Aku harus mengingatkan sesuatu padanya,” kata Du Jing. Ms1NgU

Pihak lain menyambungkannya. Dari suaranya, stuntman itu sedang berada di sebuah bar. Du Jing melirik arloji miliknya dan bertanya, “Kau sedang minum saat ini?”

Stuntman itu menjawab, “Aku selalu minum sedikit dengan teman-temanku pada malam sebelum aku pergi keluar untuk bertugas. Apa yang terjadi?”

Langit Bieru.

Tatapan Du Jing tertuju pada arloji. Setelah hening sejenak, dia melepaskan arloji miliknya dan meletakkannya di samping. Stuntman itu bertanya, “Apa rencananya dibatalkan?”

“Tidak,” kata Du Jing. “Aku ingin memberitahumu kalau ada jalan kecil di belakang Kuil Jingci. Aku akan mengirimkan lokasinya di peta. Kalau kau pergi dari Kuil Jingci, kau harus menggunakan jalur itu besok.” Zv1IqV

“Wow, aku tidak tahu tentang jalur ini, dan aku warga asli Hangzhou,” kata stuntman itu. “Baik terima kasih.”

“Sama-sama,” jawab Du Jing. “Seharusnya aku yang berterima kasih padamu.”

Du Jing mengiriminya gambar peta, lalu berbalik di kursi putar untuk menghadap Zhou Luoyang. Otak Zhou Luoyang masih belum pulih dari mati rasa.

“Terjadi lagi.” Zhou Luoyang masih berpikir keras. “Apa yang sebenarnya menyebabkan semua ini?” 91OdCL

We’re sorry for MTLers or people who like using reading mode, but our translations keep getting stolen by aggregators so we’re going to bring back the copy protection. If you need to MTL please retype the gibberish parts.

Du Jing berkata, “Pikirkan hal baiknya: si stuntman tidak akan mati.”

“Glj yjtxjc alvjx qfgie qfgul ijul,” xjaj Itbe Oebsjcu. “Dexjcxjt xjwe revjt qecsj xbbgvlcjacsj?”

“Glj tjger afajq qfgul,” xjaj Ge Alcu rfvfgtjcj. “Bjwl wfwyeaetxjc gfxjwjc qfgmjxjqjc wfgfxj rfyjujl yexal xjije wfgfxj afgxjla vfcujc xjrer qfwyecetjccsj. Cqj xjwe wjrlt lcuja vl wjcj xjwe wfcjlxl wbyli wfgfxj?”

Alxj Itbe Oebsjcu xfwyjil xf Beli Alcuml, rfvlxla yjcsjx vlj qjral ylrj wfculcujacsj, vjc vlj rfufgj wfcujcuuex. MSnQJg

“Tapi kali ini,” tanya Zhou Luoyang, “apa sebenarnya yang menyebabkannya?”

Du Jing menjawab, “Kekuatan supernatural.”

Zhou Luoyang berkata, “Terakhir kali hal ini terjadi di Kota Wan; kali ini di Hangzhou, jadi kita bisa menghilangkan kemungkinan kalau gudang-nya berpengaruh dalam hal ini. Apa sebenarnya yang sudah kita lakukan?”

“Kita tidak melakukan apa pun,” kata Du Jing. “Ini hanya fenomena supernatural. Kejadian spontan. ” LIuPld

Zhou Luoyang berkata, “Ini gila! Hal yang sama sudah terjadi pada kita dua kali!”

Du Jing berkata, “Aku ingin menyelidikinya terakhir kali. Kaulah yang menghentikanku.”


Awalnya, Zhou Luoyang memiliki banyak pertanyaan, tetapi tiba-tiba dia bingung dengan jawaban Du Jing dan kehilangan kata-katanya.

“Baiklah … baik …” Zhou Luoyang berkata, “Baik, aku menarik pendapatku.” BayCWA

Du Jing sudah menyelesaikan segalanya, dan dia menghela napas lega. Si stuntman itu masih hidup, dan Zhou Luoyang tidak dalam bahaya. Dalam sekejap, seluruh krisis ini telah berbalik — itu praktis merupakan keajaiban.

“Tidur sebentar,” kata Du Jing, membentaknya. “Aku … aku merasa tidak enak badan.”

Langit Bieru.

“Apa ada yang salah?” Zhou Luoyang segera mengalihkan perhatiannya, menatap Du Jing dengan hati-hati.

“Aku mungkin akan mengalami episode lain,” kata Du Jing pelan. XkwW6T

“Episode depresi?” Zhou Luoyang bertanya, khawatir. “Jadi, apa sebelumnya kamu mengalami episode manik? Kamu bisa mengendalikannya dengan sangat baik.”

Du Jing mengangguk dengan susah payah. Sebenarnya, sejak saat Zhou Luoyang dibawa pergi, dia merasakan bahwa rangsangan dari dunia luar memiliki dampak yang jauh lebih serius daripada yang dia pikirkan. Saat berada di dalam mobil, dia sudah mulai membayangkan kematian Zhou Luoyang.

Jika Zhou Luoyang terbunuh, dia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri. Ini akan menjadi pukulan besar bagi dirinya.

“Jika sesuatu terjadi padamu,” kata Du Jing, “Aku harus mati bersamamu.” wCODnU

Zhou Luoyang tidak memberitahunya tentang bagaimana dia dihadapkan dengan moncong senjata di detik terakhir itu. “Tidak ada yang akan terjadi padaku! Mereka memisahkan aku dan stuntman-nya, justru mereka tidak ingin membunuhku. Stuntman itu memikirkan cara untuk melindungiku sepanjang waktu. Saat aku kembali, aku harus berterima kasih padanya dengan benar.”

“Cara terbaik untuk berterima kasih padanya,” kata Du Jing, “adalah menyembunyikan identitasnya. Jangan mencarinya lagi setelah tugas ini selesai.”

Zhou Luoyang mengangguk. Dia ada benarnya.

“Lalu apa yang akan kita lakukan tentang masalah ini?” Zhou Luoyang sudah pernah mengalami pembalikan waktu dua puluh empat jam, tetapi mengapa dua puluh empat jam dan bukan tiga puluh enam atau dua belas? Mengapa hanya dia dan Du Jing? Tidaklah benar untuk mengatakan bahwa pembalikan itu hanya dipicu ketika hidupnya dalam bahaya. 2uzDv8

“Tidurlah,” kata Du Jing. “Kita bisa memikirkan masalah ini setelah kita kembali ke Kota Wan.”

“Ya Tuhan.” Sekarang, Zhou Luoyang hampir mulai memikirkan pembalikan waktu yang terakhir kali sebagai isapan jempol dari imajinasinya. Dia tidak tahu bahwa kali ini semuanya benar-benar nyata. Itu benar-benar terjadi saat mereka berdua masih terjaga.


Keesokan harinya, di belakang Kuil Jingci.

Kali ini, Du Jing tidak memilih untuk mengamati pria paruh baya itu lagi. Sebaliknya, pada sore hari, dia langsung pergi ke Kuil Jingci. Jika semuanya berjalan lancar, pada akhirnya mereka akan pergi ke sana lagi. QWVRSm

Ada banyak turis di sana. Zhou Luoyang melihat-lihat melalui teropong — stuntman sudah siap.

“Bahkan sekarang,” Zhou Luoyang memberi tahu Du Jing, “Aku merasa kalau ini hanyalah ilusi. Itu membuatku ragu apakah semua peristiwa dua puluh empat jam yang lalu itu benar-benar terjadi.”

Du Jing berkata, “Ini nyata. Sejak pertama kali, aku cukup yakin tentang itu.”

“Kenangan bisa menipumu,” kata Zhou Luoyang. “Otak terkadang membuat tempat-tempat yang belum pernah kamu kunjungi. Ketika kamu tiba di tempat yang kamu kenal atau bertemu dengan wajah yang kamu kenal, neuron di otakmu menghasilkan arus spesifik yang menyebabkan kamu bereaksi sesuai itu.” 2sir9j

“Seperti saat seorang anak baru saja belajar mengenali kata-kata. Saat mereka melihat kata yang sudah dikenalnya, peningkatan aktivitas di sel otak mereka secara otomatis akan menyebabkan mereka mengalami rangsangan bioelektrik yang mengatakan, ‘Aku ingat.’ Otak terkadang membuat kesalahan, yang merupakan sumber dari jenis perasaan ini.”


Du Jing berkata, “Itu deja vu. Berbeda dari apa yang kita alami.”

Story translated by Langit Bieru.

Zhou Luoyang bertanya, “Lalu bagaimana kamu menjelaskan tentang efek Mandela? Deja vu kolektif?”

Efek Mandela mengacu pada beberapa kesalahan memori berskala besar sepanjang sejarah, yang paling prototipikal adalah obituari Presiden Afrika Selatan Mandela. OUFcBS


Du Jing berkata, “Ketika aku bekerja di Washington, D.C, ada cabang yang secara khusus meneliti hal ini.”

Zhou Luoyang teringat kembali ke tempat-tempat yang dia lewati kemarin. Saat mereka berjalan menjauh dari Kuil Jingci di sepanjang jalan, dia bertanya, “Apa kesimpulan mereka?”

“Itu ada di level kuantum. Mungkin alasan itu juga sama kenapa kita kembali ke masa lalu dua kali. Gelombang kuantum terkadang bergerak ke arah yang salah dalam ruang-waktu. Penelitian ini masih dalam tahap teoritis.”

Zhou Luoyang tidak mengerti, tapi itu mungkin teori yang sangat teknis. “Jika ada sesuatu yang tidak masuk akal, jelaskan saja dengan mekanika kuantum? Bukankah ini informasi rahasia? Kamu bisa memberi tahu orang luar tentang hal itu sesuka hatimu?” 0q25uB

“Bukankah kamu yang bertanya? Kamu bukan orang luar.”


Baik, pikir Zhou Luoyang. Dia bisa merasakan bahwa suasana hati Du Jing sedang tidak baik hari ini; dia tidak terlalu banyak bicara. Setidaknya, dia tidak seperti kemarin, yang terkadang melemparkan lelucon sarkastik. Mungkin Du Jing sudah merasa sangat tidak enak badan namun masih memaksakan diri untuk bersikap seperti biasanya.

“Aku perlu duduk sebentar,” kata Du Jing. Tanpa menunggu jawaban, dia berjalan ke samping dan duduk di samping bunga dan semak di sana. Dia menopang tangan di depan pangkal hidungnya dan tidak mengatakan sepatah kata pun.

Dia telah memasuki episode depresi. Zhou Luoyang tahu betul bahwa cara terbaik untuk memperlakukan Du Jing ketika dia dalam keadaan ini adalah dengan tidak mengatakan apa-apa dan hanya berada di sisinya, tetap diam untuk menghindari membuatnya semakin tidak nyaman. ah8eyN

Zhou Luoyang membeli sebungkus tisu dan duduk di sebelah Du Jing. Dia tidak mendesaknya; mereka masih punya banyak waktu.

“Menangislah kalau kamu ingin menangis,” kata Zhou Luoyang. “Kamu akan merasa lebih baik setelah hormonmu secara spontan menyesuaikan diri.”

Du Jing menggelengkan kepalanya dan tidak menjawab. Di masa lalu, Zhou Luoyang telah ikut serta dalam pertukaran dengan anggota keluarga pasien depresi klinis, dan dia tahu bahwa pasien ini sering mengalami penurunan suasana hati yang tiba-tiba. Jika mereka tidak bisa menemukan tempat kosong, mereka bahkan akan mulai menangis di tengah jalan.

Tetapi Du Jing tidak pernah menangis di depannya, meskipun Zhou Luoyang selalu siap untuk itu. 28vmO9

Seorang psikiater pernah mengusulkan “terapi kunci” kognitif, dengan keyakinan bahwa ketika pasien mengalami episode depresi, mereka membutuhkan “kunci”, atau inti yang terpenting. Begitu mereka menemukan inti ini, mereka dapat menggunakannya sebagai kunci untuk mendorong pemikiran optimis, sehingga perlahan-lahan mengubah kondisi mental mereka.

Bahkan tiga tahun lalu, lama setelah Du Jing pergi, Zhou Luoyang masih tetap mengikuti publikasi penelitian tentang gangguan bipolar. Dia memutuskan untuk mencobanya dan mengganggu Du Jing. Bagaimanapun, segalanya tidak mungkin menjadi lebih buruk.

“Lihat ini?”

Zhou Luoyang akhirnya melakukan sesuatu yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Dia memetik bunga dari belakangnya dan mengangkatnya di depan Du Jing. 3cSix8

Du Jing menatap bunga di tangan Zhou Luoyang.

Saat itu, lonceng Jingci mulai berdering.

Langit Bieru.

Saat senja, dering bel malam Nanping mengikuti satu demi satu, melayang tertiup angin. Dalam pijaran matahari terbenam, mereka tampak nyata, seolah-olah membentuk batas pelindung.

Du Jing mengambil bunga itu dan mempelajarinya sambil memutarnya beberapa kali. Setelah menyerahkannya padanya, Zhou Luoyang berpura-pura tidak memperhatikannya lagi. RaSBo0


Setelah lonceng mereda, Du Jing menarik napas dalam beberapa kali dan perlahan pulih setelah menyesuaikan suasana hatinya.

“Sudah lebih baik sekarang?” Zhou Luoyang bertanya.

Du Jing mengangguk dan bangkit. Zhou Luoyang mulai memimpin lagi. Dia tahu bahwa Du Jing jauh lebih baik sekarang.


Zhou Luoyang berjalan hampir satu kilometer di sepanjang rute kemarin sebelum tiba di salah satu sisi jalan terpencil. Di sana, dia melihat SUV yang sama dari sebelumnya. V3dQcg

“Yang itu.” Zhou Luoyang memberi tahu Du Jing.

Du Jing tampak sangat lesu. Episode depresi sedikit lebih merepotkan daripada episode manik. Paling lama, episode manik akan bertahan beberapa bulan; paling singkat, episode itu akan berlangsung beberapa hari, atau bahkan hanya setengah hari. Tetapi selama episode depresi, Du Jing berada dalam kondisi mental yang buruk dan sulit baginya untuk berpikir atau berkonsentrasi.

“Aku sudah memberi tahu Zhuang Li,” kata Du Jing. “Kirimi dia foto mobilnya.” Saat dia berbicara, dia memberikan ponselnya ke Zhou Luoyang. Zhou Luoyang tahu bahwa dia merasa sangat tidak enak badan saat ini, jadi dia mengurus semua pengaturan untuknya.

“Apa ini sering terjadi?” Zhou Luoyang bertanya. Terlalu berbahaya jika Du Jing tiba-tiba mengalami episode depresi selama hari-hari biasa di tempat kerjanya. eLYKXW

“Ini pertama kalinya,” jawab Du Jing dengan tenang. “Dulu, ini selalu terjadi pada malam hari, dan aku akan meminta cuti kerja keesokan harinya.”

Zhou Luoyang menghubungi Zhuang Li. Jauh dari Du Jing, dia melihat seorang pengemudi yang duduk di kursi pengemudi. “Itu dia, aku masih ingat.”

“Bagaimana situasinya?” Du Jing duduk dan memperhatikan Zhou Luoyang.

“Dia menunggu pria itu bertemu Wu Xingping. Sesekali, dia keluar untuk merokok,” Zhou Luoyang berkata, “tapi dia tidak pergi jauh. Apa yang kamu rencanakan?” L6A81P


Tangan besar Du Jing sedang memainkan ponselnya, dan dia mengirimkan beberapa pesan. Dia sudah mengirim alamatnya ke perusahaan kemarin, dan sekarang yang tersisa hanyalah mencari cara untuk mendapatkan bukti rekaman suara dan kemudian mengambil jaring yang telah dilemparkan, sambil menjaga agar tubuhnya tetap aman.

“Aku harus mengikuti mereka sepanjang perjalanan kembali,” kata Du Jing. “Zhuang Li masih belum ada di sini?”

“Dia di kantor cabang Hangzhou, sedang mengambil mobil sekarang. Aku akan membantumu memikirkan sesuatu. ” Zhou Luoyang memahami rencana Du Jing.


Di senja hari, segenggam uang seratus yuan beterbangan tertiup angin. Beberapa masuk ke kaca jendela kursi pengemudi, sementara yang lain terbang menjauh. TatB y

Pengemudi segera turun dan mengambil uang-uang yang ada di kap mobil. Di belakangnya, seorang anak berteriak, “Paman! Itu uangku, uangku!”

Pengemudi itu dengan cepat melangkah ke tepi jalan untuk mengambil uang anak itu.

Story translated by Langit Bieru.

“Kembalikan!” anak itu berteriak.


Pada saat yang sama, Zhou Luoyang mengambil langkah besar di sekitar SUV, membuka pintu pengemudi, dan menemukan tombol di pintu bagasi. Du Jing membuka bagasi dan merunduk ke dalam. kFVX7B

Zhou Luoyang menutup pintu kursi pengemudi dan berlari menuju Du Jing, yang baru saja akan menutup pintu bagasi, tetapi Zhou Luoyang dengan cepat merunduk di belakangnya.

“Keluar,” kata Du Jing. “Kembali ke hotel.”

“Dia kembali! Cepat!” Zhou Luoyang tidak memperhatikan kata-kata Du Jing. Pada saat seperti ini, dia benar-benar harus tinggal bersamanya, jika tidak, dia takut kondisinya akan memburuk lagi begitu malam tiba.

Tepat ketika Zhou Luoyang menutup pintu bagasinya, pengemudi selesai mengumpulkan uang dan kembali ke mobil. Anak itu masih meratap di luar. Setelah beberapa saat, dia pergi dengan kesal. Zhou Luoyang dan Du Jing berdesakan di belakang kursi di baris terakhir, tempat bagasi biasanya disimpan di SUV tujuh tempat duduk. Sekarang, tidak ada cara bagi Du Jing untuk membuat Zhou Luoyang keluar dari mobil. mus6S8

Pada titik ini, alarm mobil akan berbunyi jika mereka membuka bagasi. Du Jing tidak punya alternatif selain menjangkau dan memeluk Zhou Luoyang, dan mereka berdua meringkuk bersama.


Pengemudi itu masih melihat ke arah perginya anak itu, takut dia akan membawa orang tuanya kembali untuk membuatnya mengembalikan uang yang diambilnya. Untungnya, pada saat itu, pria paruh baya dan Wu Xingping palsu berlari, terengah-engah.

“Kami menarik perhatian polisi!” kata pria paruh baya itu. “Ayo pergi, cepat!”

Wu Xingping palsu memasang ekspresi panik. Pengemudi itu sangat ingin pergi; dia menginjak pedal gas dan pergi. 1YAWNr


Mobil itu bergoyang dan terus bergoyang. Pria paruh baya itu mengeluarkan tongkat keamanan dan menyapukannya ke seluruh tubuh Wu Xingping palsu. Sangat tidak nyaman untuk berada di bagasi mobil. Du Jing mengulurkan tangannya ke Zhou Luoyang dan mengistirahatkan kepalanya. Tangannya yang lain melingkari punggung Zhou Luoyang dan menggunakannya untuk mengirim pesan ke Zhuang Li. Kemudian dia menatap Zhou Luoyang tanpa daya.

Zhou Luoyang memberi isyarat kepada Du Jing untuk beristirahat sebentar.

Du Jing mengangguk dan menutup matanya. Zhou Luoyang ditinggalkan untuk mengawasi setiap gerakan dan perkembangan di sekitar mereka dengan waspada.

kTSIEa

Leave a Comment

For an easier time commenting, login/register to our site!