English

Tiandi BaijuCh22.1 - Hidup seperti dua pria gay 

0 Comments

MASA KINI

Malam itu, mereka bertiga duduk di sebuah bar di tepi Sungai Qinhuai selama hampir satu jam sebelum mobil Zhuang Li akhirnya tiba. Karena kelelahan, Zhou Luoyang berbaring di dalam mobil. dO9pmv

“Apa kita akan dihentikan di jalan raya?” Zhou Luoyang bertanya, bersandar di jok belakang.

“Tidak, kalau tidak ada darah di tubuh kita.” Du Jing mulai mengumpulkan informasi yang dimilikinya ke dalam sebuah file dan mengirimkannya ke markas besar.

Please support our translators at langitbieru (dot) com

Bahkan sekarang, suara tembakan dari sebelumnya masih terngiang di telinga Zhou Luoyang.

Zhuang Li mengemudikan mobilnya menuju Nanjing, berputar-putar tanpa melakukan apa pun, dan hanya bisa berkendara kembali ke Hangzhou. yJv3U1

“Apa kamu dari Zhejiang?” Zhuang Li bertanya kepada si stuntman. “Apa ada yang enak untuk dimakan atau tempat yang menyenangkan untuk dikunjungi? Ini pertama kalinya aku ke sini.”

Di jok penumpang depan, si stuntman mulai melepas penyamarannya. Dia mengupas wajah lilinnya yang sudah dicetak. Bagaimanapun, mereka tidak tahu apakah polisi akan memerintahkan penangkapan kepada Wu Xingping, dan dia tidak ingin diinterogasi dan berada dalam situasi sulit karena dia memakai wajahnya.

“Ooh.” Zhuang Li melirik si stuntman.

“Siapapun yang melihat penampilan asliku akan dibungkam selamanya.” Si stuntman itu membuat lelucon, dan Zhuang Li tertawa terbahak-bahak. jdTvVa


Saat Zhou Luoyang mendengarkan percakapan yang terjadi di depan, dia menatap Du Jing dalam diam.

“Tidurlah sebentar,” kata Du Jing padanya.

“Setelah malam penuh kegilaan ini? Coba aku lihat apa kamu bisa tertidur.”  

Du Jing memasang earphone-nya dan menelepon kantor pusat perusahaan. Kali ini, nada bicaranya mulai membaik. Setelah menutup telepon, Zhou Luoyang bertanya, “Apa kamu sudah selesai dengan tugasmu?” AHdU05

“Kurang lebih,” kata Du Jing. “Untuk sisanya, itu terserah bagaimana mereka akan mengurusnya.”

Du Jing sudah mengumpulkan cukup bukti dan hanya menunggu departemen hukum dari semua pihak untuk terlibat dan mengurus sisanya. Dari Yu Jianqiang hingga kematian Wang Ke hingga tempat persembunyian organisasi pemerasan internasional UT, jika mereka mengikuti jejak petunjuk dan mengupas lapisan demi lapisan masalah yang ada, mereka akan bisa menghubungkan serangkaian kasus yang sangat terkenal.

Si stuntman berkata, “Aku lupa memperkenalkan diriku. Jing ge dan… saudara ini, panggil saja aku Ah-dan.”

Zhou Luoyang mengangguk dan berkata, “Aku Luoyang.” VXLgK

Zhuang Li bertanya, “Siapa yang menghubungi polisi? Dimana orang-orangmu? Mereka tidak datang?”

Pemuda bernama Ah-dan menggelengkan kepalanya, bingung. “Kalian tidak meminta bala bantuan, ‘kan? Jadi tentu saja mereka tidak datang. Aku tidak menghubungi mereka.”

“Bukan aku juga,” kata Zhuang Li. “Aneh sekali. Ketika aku sampai di tempat tujuan, aku melihat banyak mobil polisi, jadi aku tidak ingin mendekat.”

“Hati-hati dengan apa yang kamu katakan,” Du Jing mengingatkannya dengan dingin. DQoFIl

Zhou Luoyang juga agak bingung. Siapa yang akan menelepon polisi? Apakah seseorang di UT memantau semua yang terjadi di perusahaan?

Dia memandang Du Jing, tetapi Du Jing melambaikan tangannya, menunjukkan bahwa dia seharusnya tidak bertanya terlalu banyak.

Langit Bieru.


Saat fajar menyingsing, mereka kembali ke Hangzhou. Du Jing sudah menyelesaikan pekerjaannya selama perjalanan mereka. Ketika Zhou Luoyang bangun, hari sudah sore, dan dia dan Du Jing pergi ke Quyuan Fenghe untuk minum teh.

Yu Jianqiang menelepon dari Kota Wan. Zhou Luoyang hampir melupakannya. pwojPC

“Aku dengar mereka menangkap Wu Xingping,” kata Yu Jianqiang dengan cemas. “Apa kamu punya berita?”

“Aku tidak tahu,” kata Du Jing. “Dia turun dari kereta di Jinan, dan kami belum pernah berhubungan sejak saat itu.”

“Dimana kamu sekarang?” tanya Yu Jianqiang.

“Hangzhou,” jawab Du Jing dengan tenang. QSIYEK

“Jangan kembali dulu. Nanti aku akan menghubungimu lagi. Kamu akan tetap dibayar seperti biasa, jadi anggap saja ini sebagai cuti berbayar,” kata Yu Jianqiang.


Zhou Luoyang menyesap kopinya, mendengarkan dengan tenang saat Yu Jianqiang menyampaikan kekhawatirannya.

Du Jing berkata, “Cuti berbayar cukup bagus juga. Sampai jumpa nanti, bos.”

“Kenapa terkadang kamu terdengar seperti orang bodoh saat berbicara dengan Yu Jianqiang?” Zhou Luoyang bertanya. CRTXAP

Du Jing berkata, “Peran yang aku mainkan adalah anak kecil yang kaya dan jujur.” Saat dia berbicara, dia memberi isyarat kepada Zhou Luoyang untuk tetap diam saat dia menelepon markas.

“Aku ingin minta waktu istirahat,” kata Du Jing.

Suara Li Liangyi berkata, “Apa yang terjadi denganmu akhir-akhir ini? Kamu belum pernah mengambil cuti sakit satu hari pun sejak kembali ke China. Kenapa kamu terus-terusan minta izin akhir-akhir ini?”

Du Jing meretakkan buku-buku jarinya. “Aku perlu mengurus beberapa hal di rumah. Aku sudah menyelesaikan proyek ini.” 9BWCR8

We’re sorry for MTLers or people who like using reading mode, but our translations keep getting stolen by aggregators so we’re going to bring back the copy protection. If you need to MTL please retype the gibberish parts.

“Dfgjqj ijwj?” Ol Oljcusl yfgajcsj.

“Vfwlcuue,” pjkjy Ge Alcu.

Ol Oljcusl yfgxjaj, “Djlx, xjwe qecsj kjxae ilyeg rjwqjl Ejye vfqjc, ajql xjwe tjger vjajcu ecaex gjqja qfceaeqjc rfijwj kjxae lae ecaex wfcsfifrjlxjccsj.”

Ge Alcu wfceaeq afifqbc vjc yfgxjaj, “Bjije jxe ajte vlj jxjc rfaepe vfcujc yfulae wevjt, jxe jxjc wlcaj meal rfyeijc.” eGwyCH

Zhou Luoyang tertawa. Ketika Du Jing selesai meretakkan buku-buku jarinya sendiri, dia bergerak untuk meretakkan buku-buku jari Zhou Luoyang. Zhou Luoyang berteriak secara dramatis dan menarik tangannya kembali.


“Mau pergi ke Jalan Beishan?” Du Jing bertanya. “Kamu bisa melihat-lihat toko kios saat kita di sana.”

Story translated by Langit Bieru.

Bukannya Zhou Luoyang tidak mempertimbangkannya sebelumnya. Saran Du Jing terdengar bagus, tapi Leyao sedang belajar di Kota Wan dan membutuhkan seseorang untuk menjaganya. Jelas tidak realistis untuk kembali ke Hangzhou, dan pekerjaan Du Jing juga tidak mengizinkannya.

“Bagaimana dengan Leyao? Aku tidak bisa membuatnya tinggal di sekolah tujuh hari seminggu,” kata Zhou Luoyang. XqhGYm

Dia belum melihat adik laki-lakinya selama berhari-hari, dan dia sangat merindukannya.

“Aku akan menjemputnya hari Jumat dan membawanya ke Hangzhou,” kata Du Jing. “Pada hari Minggu aku akan mengantarnya kembali ke Kota Wan untuk sekolah. Aku ada rapat pada hari Senin, jadi pengaturan waktu ini sangat tepat.”

“Nah, bagaimana dengan pekerjaanmu?” Zhou Luoyang bertanya. “Aku lebih baik tinggal di Kota Wan, jadi aku bisa sering bertemu denganmu. Atau apa gunanya kalau kamu hanya bisa datang ke Hangzhou di akhir pekan?”

“Kamu benar-benar sangat ingin bertemu denganku?” Du Jing bertanya. MTQK2d

Zhou Luoyang menatapnya sekilas dan tidak menanggapi. Faktanya, dia tidak benar-benar ingin Du Jing melakukan pekerjaan ini. Tidak peduli seberapa terampil kemampuannya, pekerjaannya terlalu berbahaya. Tetapi untuk menghormatinya, dia tidak mencoba meyakinkannya untuk berhenti.


Du Jing berkata, “Aku bisa mengajukan pemindahan sementara ke cabang Hangzhou. Bosku bilang aku bisa bebas memilih cabang mana pun di China yang aku inginkan.”

“Lalu kenapa kamu memilih Kota Wan?” Zhou Luoyang tiba-tiba bertanya.

Mereka perlahan menyusuri Jalan Beishan. Du Jing melihat ke depan toko di sisi jalan. Salah satu dari mereka memiliki tanda yang bertuliskan “Mengubah Kepemilikan” — terbukti, bisnis itu sulit. kdQRNt

Dia tidak menjawab pertanyaan Zhou Luoyang. Sebaliknya, dia berkata, “Pikirkan baik-baik. Di mana pun lokasinya, membuka toko tetap membuka toko.”

“Tidak harus di distrik turis,” jawab Zhou Luoyang. “Lagipula ini bukan bisnis turis.”

“Kalau kamu memberikan kualitas layanan yang baik, bisnis dengan sendirinya akan datang kepadamu. Jangan buat seperti bengkel jam tangan di pinggir jalan.”

“Aku tidak ingat pernah mempertanyakan tingkat profesionalisme milik-mu ketika kamu sedang bertugas,” kata Zhou Luoyang.     yoDkVu

Du Jing dengan sopan meminta maaf, “Aku salah. Sebagai pemegang saham, aku hanya berharap kamu bisa menghasilkan uang sebanyak mungkin.”


Masih ada hutang yang menggantung di kepala Zhou Luoyang. Berkeliling dengan Du Jing beberapa hari terakhir ini sangat efektif dalam menghilangkan tekanan dan mengurangi kecemasannya, tetapi sekarang setelah Du Jing mengingatkannya tentang hal itu, dia sekali lagi memikirkan kembali tumpukan berbagai masalah yang dia hadapi.

“Kita lihat saja nanti,” kata Zhou Luoyang. “Kamu harus menghadapi apa yang seharusnya kamu hadapi pada akhirnya. Beri aku sedikit lebih banyak waktu. Aku tidak ingin meninggalkan Kota Wan sekarang. Aku harus kembali.”

Dia menyukai Hangzhou, dan dia juga menyukai Kota Wan, tentu saja. Dia tidak memiliki preferensi di antara kedua kota ini. Kota Wan memiliki martabat, kesederhanaan, dan kemegahan dari Kota Wan sendiri, sedangkan Hangzhou memiliki keindahan, keanggunan, dan kelembutan. CutdJT

Terkadang dia secara tidak sadar ingin melarikan diri dari Kota Wan. Hanya ada satu alasan untuk ini: keberadaan para penagih utang.

Toko kakeknya berhutang enam juta, dan dia adalah pewaris tunggal, jadi tentu saja dia mewarisi semua hutang toko itu.

Please support our translators at langitbieru (dot) com

“Du Jing?”

Du Jing belum berbicara sejak sarannya ditolak. Dia hanya menganggukkan kepalanya. 7MPDxB

“Mau minum?” Zhou Luoyang bertanya.

“Tidak,” kata Du Jing.

Mereka menjelajahi Jalan Beishan sampai senja. Awalnya, percakapan mereka sepenuhnya normal, tetapi dengan sangat cepat, Du Jing terdiam. Zhou Luoyang tahu bahwa dia sudah menyurutkan semangatnya, tetapi tidak ada lagi yang bisa dia lakukan.

“Aku berhutang uang kepada Dana Penelitian Barang Antik,” kata Zhou Luoyang. “Jika kreditor datang mengetuk pintuku dan menemukan rumahku kosong, reputasiku akan hancur berantakan.” w6udqj

Du Jing berkata, “Kamu benar. Aku tidak memikirkannya. Aku tidak mempertimbangkan hal-hal dari sudut pandangmu. Itu semua hanya angan-anganku saja.”

Hati Zhou Luoyang membengkak karena gugup. Akhirnya, dia menawarkan, “Aku suka kalau memang harus kembali ke Hangzhou. Di masa depan, kita bisa…”

“Kita lihat saja nanti,” jawab Du Jing. “Kita akan kembali besok. Kamu masih harus menjemput Leyao pada hari Jumat.”

Zhou Luoyang tahu bahwa penyakitnya sedikit mengganggu dia. Di tahun-tahun mereka saling kenal, Du Jing jarang membuat permintaan. Pada sebagian besar waktu, Zhou Luoyang akan selalu menjadi orang yang membuat keputusan. Ini juga menimbulkan kebiasaan: selama Du Jing membuat permintaan yang langka, Zhou Luoyang akan melakukan apa saja untuk memenuhinya. QgaD5M

Tapi kali ini dia benar-benar tidak bisa mendengarkan Du Jing. Dia bisa memprediksi bagaimana Du Jing akan bereaksi, dan itu seperti yang dia harapkan: selama dua puluh empat jam berikutnya, Du Jing hampir tidak mengucapkan sepatah kata pun.

“Apa kamu sudah merasa sedikit lebih baik?” Zhou Luoyang sudah terbiasa dengan suasana yang suram ini. Jika itu orang lain, mereka pasti akan mengira Du Jing memberi mereka perlakuan diam-diam. Hanya Zhou Luoyang yang tidak akan tersinggung.

Du Jing mengangguk. Keduanya menggesek tiket mereka di gerbang tiket. Pada saat mereka kembali ke Kota Wan, hari sudah berganti menjadi hari Kamis. Zhuang Li mengemudi untuk menjemput mereka.

“Antar dia pulang dulu,” kata Du Jing. Lan2Q6

“Bagaimana denganmu?” Zhou Luoyang bertanya.

“Aku akan pergi ke perusahaan. Ada beberapa hal yang perlu diurus.”

Zhuang Li melepas kacamata hitamnya dan berkata, “Jing ge, kantor kejaksaan sudah siap untuk menuntut dua kasus terpisah. Bos bilang mereka akan mengirim seseorang untuk datang ke kantor kita besok sore untuk— ”

Du Jing dengan sabar menyela, “Kenapa kamu selalu mengatakan hal yang tidak masuk akal?” Cenc20

Zhuang Li tidak berani mengatakan apa-apa lagi.


“Kapan kamu kembali ke Kota Wan?” Zhou Luoyang tiba-tiba bertanya.

Please visit langitbieru (dot) com

Du Jing tidak menjawab.

Zhou Luoyang bertanya, “Xiao Li, kapan Du Jing bergabung dengan perusahaanmu?” SbH5qY

Hari itu, ketika mereka sedang berjalan di Jalan Beishan, Zhou Luoyang mengajukan pertanyaan yang tidak biasa: “Kenapa kamu memilih untuk kembali ke Kota Wan?” Tapi Du Jing menghindari pertanyaan itu.

Jika itu orang lain, mungkin alasan sederhana semacam “Kota Wan adalah pusat politik dan budaya; apa salahnya kembali ke Kota Wan?” akan menyelesaikan masalah ini. Tapi Du Jing tidak mengatakan itu. Dan jika dia tidak ingin memberikan jawaban, maka itu hanya berarti satu hal: dia tidak ingin berbohong kepada Zhou Luoyang, jadi dia tidak mengatakan apa-apa.

Jadi itu berarti Du Jing sebenarnya kembali ke Kota Wan karena alasan lain, dan anehnya, Zhou Luoyang sudah mengetahui fakta ini. Ini sepenuhnya berasal dari intuisi yang dia miliki setelah menghabiskan begitu banyak waktu bersamanya.

Apa sebenarnya alasannya? yQF1sw


“Aku … mulai bekerja di bawah Jing ge setengah tahun yang lalu.”

Zhuang Li mengamati ekspresi Du Jing melalui kaca spion dan dengan cerdik menolak untuk memberikan jawaban langsung kepada Zhou Luoyang.

“Kamu selalu tahu kalau aku ada di Kota Wan, bukan?” Zhou Luoyang bertanya pada Du Jing.

“Ya.” Du Jing agak tenang kali ini. 8CUbOd

Setelah beberapa saat merenung, Zhou Luoyang bertanya, “Kenapa kamu tidak datang menemuiku?”

Sekali lagi, Du Jing tidak menjawab.

Ekspresi Zhuang Li sangat, sangat gugup. Dia sangat takut jika dia akan mendengar sesuatu yang seharusnya tidak dia dengar.

Zhou Luoyang berkata, “Izinkan aku memberitahumu kalau aku tidak marah. Dengan jaringan intelijenmu, sangat mudah untuk menemukan seseorang. Kurasa tidak mungkin kita hanya bertemu secara kebetulan saat makan malam dengan Yu Jianqiang. Kamu sudah lama tahu di mana aku tinggal, dan kamu bahkan … sudah mengawasiku, bukan?” egUytm

“Ya,” Du Jing mengakui.

Seperti yang kuduga, pikir Zhou Luoyang. Semuanya masuk akal sekarang.

“Jadi, kamu bertugas di kantor pusat karena aku berada di Kota Wan,” kata Zhou Luoyang.

Du Jing berpikir sejenak dan menjawab, “Kamu bisa mengatakannya seperti itu.” r5zgeO

Zhou Luoyang agak curiga. Ini memang sesuatu yang akan dilakukan Du Jing. “Kamu… sering muncul di dekat apartemenku, bukan?”

“Aku sering berbaring di bangku di bawah gedung tempat tinggalmu pada malam hari. Lagipula aku tidak bisa tidur,” Du Jing mengakui.

Story translated by Langit Bieru.

“Kenapa kamu tidak datang dan mengetuk pintuku?” Zhou Luoyang bertanya.

“Aku takut kamu masih marah,” jawab Du Jing. IpYD4X

Zhuang Li: “…………”


Zhou Luoyang berkata, “Sebenarnya, tidak peduli kapan kamu mengetuk pintuku, aku akan membukakan pintu untukmu. Tapi kamu masih pergi ke makan malam Yu Jianqiang… ”

“Aku tidak bisa menahannya lagi,” kata Du Jing.

Zhou Luoyang tahu bahwa apa yang benar-benar ditakuti Du Jing bukanlah bahwa dia masih marah setelah tiga tahun. iZesfd

“Kamu tidak takut aku marah, kamu takut setelah tiga tahun berpisah, kita sudah menjadi orang asing yang tidak ada hubungannya lagi,” kata Zhou Luoyang perlahan. “Kamu menghargai kenangan saat kita hidup bersama tiga tahun lalu, dan kamu takut kalau kamu berubah, dan aku juga berubah. Kamu takut kalau setelah aku mengangguk dan bertukar salam denganmu, aku tidak akan pernah menghubungimu lagi, dan kita tidak akan pernah bisa kembali ke keadaan semula.”

“Karena kamu sudah tahu segalanya, kenapa harus mengatakannya dengan lantang?” Du Jing bertanya.


Zhou Luoyang berkata, “Aku selalu berpikir bahwa sama seperti aku yang memahamimu, kamu adalah satu-satunya orang yang paling memahamiku.”

“Aku tidak bisa melakukannya,” kata Du Jing. 3HfQET

Zhou Luoyang berpikir sejenak dan berkata, “Tapi semuanya sudah baik-baik saja sekarang. Kita… kita… ”

Zhou Luoyang ingin mengatakan “Kita sudah bersama lagi,” tapi itu tidak seperti mereka adalah kekasih di masa lalu, jadi mengatakannya seperti itu terasa agak aneh. Untuk sesaat, dia tidak bisa menemukan kata yang tepat untuk digunakan.

“Kita sudah bertemu lagi,” Du Jing menyahut dengan tenang.

“Benar,” kata Zhou Luoyang sambil tersenyum, “Kenapa harus membuat keributan karena hal-hal kecil seperti ini? Ketika aku bertemu denganmu lagi, aku berpikir kalau aku perlahan-lahan bisa mengatasi banyak kesulitan. Tak satu pun dari kita yang berubah — bukankah ini hasil terbaik?” B4UEJQ

Zhuang Li menjulurkan lehernya, mencoba melihat sekilas ekspresi Du Jing di kaca spion. Kata-kata Zhou Luoyang terlalu mudah disalahpahami. Tentu saja, hubungan di antara mereka berdua juga dengan mudahnya disalahpahami oleh orang luar.


Mobil itu diparkir di bawah gedung tempat tinggal Zhou Luoyang. Mereka sudah sampai di rumahnya. Namun, Zhou Luoyang dan Du Jing duduk diam di kursi belakang. Zhou Luoyang meliriknya; bekas luka di bawah mata Du Jing terlihat sangat jelas di bawah sinar matahari.

Du Jing menghindari kontak mata dan melihat ke luar jendela ke gedung apartemen yang sudah dikenalnya.

“Kamu benar, ini sudah yang paling beruntung dari semuanya. Kapan kamu berencana mengizinkan aku tinggal bersamamu?” Sepertinya Du Jing telah memikirkan banyak hal. v VUD4

Zhou Luoyang baru saja akan membuka pintu dan keluar, tapi dia berhenti ketika mendengar pertanyaan itu. “Tunggu sampai aku menanyakan pendapat Leyao.”

“Dia sudah setuju Senin lalu.”

Please support our translators at langitbieru (dot) com

“Dia hanya bersikap sopan. Aku masih harus secara resmi… ”

“Sama sepertimu, dia anak yang sopan dan perhatian,” sela Du Jing. bEIWhi

Zhou Luoyang tidak mengatakan apapun.

Du Jing terdiam lama. Zhou Luoyang yakin kalau masih ada lagi yang ingin dia katakan, jadi dia tidak pergi. Du Jing sudah mengajukan dua permintaan padanya selama beberapa hari berturut-turut — ini belum pernah terjadi sebelumnya. Tapi kedua permintaan itu memiliki tujuan yang mengarah langsung pada hal yang sama: Du Jing ingin tinggal bersamanya. Dan keinginan ini begitu mendesak sehingga dia bersedia untuk menyatakannya berulang kali, bahkan jika itu berarti mengambil risiko untuk ditolak.


“Kamu tidak perlu mengkhawatirkan masalah toko.”

Benar saja, Du Jing berbicara hampir semenit kemudian. Pg0akj

“Aku akan menangani setiap kesulitan untukmu. Kalau kamu tidak ingin membuka toko, itu juga tidak masalah. Kamu tidak perlu memaksakan diri,” kata Du Jing perlahan, serius. “Kalau kamu setuju untuk tinggal denganku dan kita menjadi teman sekamar lagi, maksudku, kalau kamu tidak keberatan dengan kepindahanku. Kamu tidak perlu bekerja. Aku akan menyerahkan gajiku kepadamu untuk dikelola, dan aku tidak akan terlibat di dalamnya.”

Ketika Zhou Luoyang mendengar ini, dia tersenyum, dadanya dipenuhi kehangatan.

Du Jing menatap Zhou Luoyang. “Gajiku cukup untuk menghidupi kita berdua, serta Leyao. Itu juga cukup untuk mengurus semua pengeluaran rumah tangga kita. Kamu bisa melakukan apapun yang kamu ingin lakukan. Kalau kamu mau, aku akan sangat senang kalau kamu menyetrika bajuku setiap hari. Setelah bekerja, aku akan melakukan pekerjaan rumah tangga yang menjadi tugasku. Saat aku pulang, kita akan makan malam bersama… Aku tidak bisa memasak, tapi aku bisa belajar.”

“Aku mengerti,” jawab Zhou Luoyang. 4jqWVa

Du Jing berkata, “Aku bisa mengantar Leyao untukmu, dan kita akan menjaganya bersama. Kalau tidak, kamu juga bisa bekerja sambil mengurus pekerjaan rumah tangga — kamu akan sibuk. Kita bisa hidup seperti… seperti… ”


“Hidup seperti dua pria gay,” Zhou Luoyang menyelesaikan.

Du Jing berpikir lama. Dia awalnya ingin mengatakan, “Seperti dulu.”

Tapi ini memang deskripsi yang lebih tepat. J QPU5

“Benar. Hidup bersama seperti dua pria gay,” jawab Du Jing. Akhirnya, dia menambahkan, “Kapanpun Leyao pulang, aku bisa tidur di ruang tamu di sofa.”

“Beri aku waktu, dan aku akan memberitahumu setelah aku mengurus semuanya.” Zhou Luoyang keluar dari mobil.


Rumah Zhou Luoyang sudah dibersihkan dengan sangat teliti, dan kamu sama sekali tidak tahu kalau pernah ada orang yang menempatinya. Tidak ada jejak kerusakan pada kunci, dan semuanya sudah diatur dan disortir dengan sangat baik. Jika orang lain yang bertanggung jawab merawat rumahnya ini atas sikap kebaikan, Zhou Luoyang pasti akan marah, tapi dia sudah lama terbiasa dengan cara Du Jing melakukan sesuatu.

Selama beberapa hari terakhir, keduanya praktis terus menempel siang dan malam. Sekarang setelah mereka kembali dari Hangzhou dan berpisah, dan Zhou Luoyang menghadapi rumahnya yang kosong sendirian, kehampaan itu tiba-tiba terasa agak asing baginya. TLkCiY

Setelah Du Jing meninggalkan sekolah tanpa sepatah kata pun, kamar asrama yang saat itu hanya ditempati Zhou Luoyang juga terasa asing baginya. Perasaan ini berlangsung praktis sampai dia lulus.

Dalam beberapa tahun itu, dia akan selalu merasa seolah suatu hari Du Jing akan kembali, mengetuk pintu setelah kelas.

Please visit langitbieru (dot) com

Dia memiliki perasaan yang sama sekarang, setelah pulang ke rumah hari ini — Zhou Luoyang kembali merasa seolah-olah Du Jing akan mengetuk pintu rumahnya dan masuk.

Dia duduk sebentar di sofa. Di apartemen dua tempat tidur-satu-ruang tamu yang benar-benar sunyi yang disewanya, dia tiba-tiba merasa kesepian. HAJbuy


Jeff : Panjang jadi kubagi dua www

Translator's Note

Taman di tepi Danau Barat.

Leave a Comment

For an easier time commenting, login/register to our site!