English

Tiandi BaijuCh6 - Masih lajang, belum pergi dan menghancurkan kehidupan orang lain

0 Comments

Penerjemah Inggris : beansprout & grape seed

Penerjemah Indonesia : jeff p73x0n


MASA KINI

10:30 malam; mobil itu diparkir di tempat parkir bawah tanah gedung perusahaan Yu Jianqiang:

Please visit langitbieru (dot) com

“Kita belum terjebak di hari yang sama lagi, kan?”

Zhou Luoyang teringat akan film-film yang mengangkat tema mengenai lompatan waktu yang telah ia tonton sebelumnya dan tiba-tiba merasa takut. JYy16U

Pada saat ini, Du Jing belum tidur selama hampir empat puluh delapan jam, tetapi meskipun demikian, dia sangat waspada. Dia menjawab, “Hari belum berakhir.”

Zhou Luoyang bertanya, “Mengapa hanya kamu dan aku?”

Bahkan sekarang, Zhou Luoyang merasa begitu dipenuhi kejutan dan ketidakpastian. Dia merasa seperti sedang bermimpi.

“Tidak tahu,” jawab Du Jing terus terang. X7ZAhB

Tiba-tiba, Zhou Luoyang meraih tangan Du Jing dan menatapnya dengan curiga. Saat dia menatap matanya, Du Jing bisa mengatakan apa yang ingin dia katakan:

Apakah kamu nyata

Hubungan di antara mereka terlalu kuat; meskipun mereka telah berpisah selama bertahun-tahun, hubungan semacam itu tidak melemah sama sekali oleh waktu.

“Ya,” kata Du Jing rendah, “Aku pikir ini semua nyata. Setidaknya saat ini, kamu dan aku benar-benar ada di dunia ini.” Ky1IYL


“Tapi mengapa …” Zhou Luoyang memiliki terlalu banyak ketidakpastian yang belum terselesaikan.

Du Jing membawanya ke lift. Dia memandangi kamera di langit-langit. “Kekuatan supranatural? Apakah itu penting? Bisakah kita mencaritahunya setelah kembali?”

Zhou Luoyang tidak yakin apakah dia harus tertawa atau menangis. “Sekarang apa? Apa yang akan kamu lakukan?”

Nomor lantai yang ditampilkan di lift terus berubah. Du Jing menjawab, “Aku akan kembali ke perusahaan terlebih dahulu untuk mengambil sesuatu.” Ij7iGQ

Zhou Luoyang bertanya, “Jika kamu yakin Yu Jianqiang akan bunuh diri, bukankah seharusnya kamu bersama dengan bosmu dan mencoba untuk membantunya sekarang …?”

“Begitu aku meninggalkan gudang kakekmu, aku menjadi tersangka. Mereka curiga bahwa aku mendorongnya dari atap.”

Zhou Luoyang tidak bisa menjawab.

Dia mulai menyadari keseriusan mengenai situasi saat ini. Profesi seperti apa yang diambil Du Jing, tepatnya? Mereka tidak bertemu satu sama lain selama tiga tahun, dan sejak dia muncul kembali, dia membawa suasana misterius yang abadi ini dan tidak pernah memberikan penjelasannya sendiri. 1GU2RO

Du Jing mengeluarkan kartu perusahaannya, menggesek ke lantai manajemen eksekutif, dan berjalan langsung ke gedung dengan cara yang akrab.

“Aku tidak punya alibi,” kata Du Jing, “aku ingin membelikanmu makan siang, tetapi tepat ketika aku pergi ke luar, aku dibawa ke mobil polisi. Ketika aku keluar dari mobil, waktu tiba-tiba kembali dua puluh empat jam sebelumnya. Aku tidak tahu mengapa.”

Langit Bieru.

“Apa yang kamu lakukan ketika dia bunuh diri?”

Du Jing tidak menjawab saat dia memimpin Zhou Luoyang melewati beberapa bilik. “Berjalanlah di sini, ini adalah titik buta kamera.” AlwjVe

Zhou Luoyang akhirnya tidak tahan lagi dan menuntut, “Sebenarnya apa pekerjaanmu?! Kamu tidak mungkin asisten Yu Jianqiang!”

Du Jing masih tidak menjawab. Dia menyuruh Zhou Luoyang duduk di kursi ketika dia mengeluarkan file dari lemari dan berkata, “Ini mejaku. Tunggu disini. Aku akan membuka pintu ke kantornya. Jangan berkeliaran.”

Zhou Luoyang berkata, “Jawab pertanyaanku dulu, kalau tidak aku akan pergi sekarang. Leyao masih menungguku pulang dan membantunya mandi.”

Du Jing baru saja mengambil beberapa langkah ketika Zhou Luoyang berdiri. “Kamu tidak percaya padaku?” 7FjBZ5


Du Jing berhenti tetapi tidak berbalik. Dia terdiam selama tiga detik, lalu menjawab, “Sejak jam sembilan, aku duduk di kursi di luar bangunan tempat tinggalmu — aku duduk di sana sepanjang malam, sampai matahari terbit.”


Zhou Luoyang terdiam. Du Jing mengenakan sepasang sarung tangan dan menyentuh tombol di pintu kantor Yu Jianqiang; angka-angka menyala secara berurutan.

We’re sorry for MTLers or people who like using reading mode, but our translations keep getting stolen by aggregators so we’re going to bring back the copy protection. If you need to MTL please retype the gibberish parts.

Du Jing membuka file itu dan memeriksa gambar-gambar di dalamnya, memilih tanda sidik jari.

Zhou Luoyang mengerutkan alisnya dan menatap sosok tinggi Du Jing yang tegak dari belakang. Beberapa bunyi bip terdengar, dan angka-angka yang menyala pada keypad listrik mulai redup — ia gagal membuka pintu. TeEan3

Zhou Luoyang mengalihkan perhatiannya ke meja Du Jing. Bagian atas meja sangat rapi, dan hanya ada laptop, yang tampaknya tengah ditancapkan pada stop kontak untuk diisi daya, dan ada juga kaleng dengan tutup yang ditarik terbuka, yang diisi dengan sedikit tanah, yang darinya tumbuh bibit hijau kecil. Sebuah desain yang bijaksana telah tergores dengan kunci di kaleng itu: “DZ.” Sudut “Z” tumpang tindih dengan huruf “D.”

“Kunci elektronik semacam ini biasanya hanya memberimu toleransi untuk salah tiga kali,” Zhou Luoyang mengingatkan setelah mendengar bunyi bip lainnya, Du Jing gagal untuk kedua kalinya. “Atau kalau tidak, kamu harus pergi ke kantor bosmu lagi untuk mencuri barang di lain hari.”


Du Jing tampak ragu-ragu sejenak, mengerutkan alisnya. Dia sudah menemukan angka-angka yang membentuk kata sandi enam digit melalui sidik jari, tetapi sulit untuk mengetahui urutannya. Setelah dua bulan pengamatan, dia tidak punya pilihan selain mengambil risiko ini pada hari ini sebagai bentuk keputusasaannya.

Karena Yu Jianqiang akan segera bunuh diri. Dan setelah itu, kantornya akan ditutup dengan garis polisi, dan dia tidak akan pernah bisa masuk lagi. a7GHrg


“Tidak perlu melakukannya di lain hari. Bagaimana jika tanggal Tujuh September terus berulang?” Du Jing berkata dengan mudah.

“Jangan katakan itu!” Zhou Luoyang tiba-tiba merinding.


Kunci berdentang melodik — terbuka. Du Jing merasa seolah-olah beban besar telah terangkat dari bahunya. Selanjutnya, dia akan menghadapi cobaan kedua.

“Ayo,” kata Du Jing, “Semuanya terserah padamu sekarang.” vuTNaE

Du Jing menyalakan lampu meja di kantor dan menutup pintu di belakangnya. Dia menunjuk Zhou Luoyang untuk melihat brankas di bawah rak buku dan berkata, “Bantu aku membukanya.”

Zhou Luoyang: “…………………………”

Langit Bieru.

Mereka saling menatap untuk waktu yang lama. Zhou Luoyang akhirnya mengerti mengapa Du Jing secara acak bertanya tentang brankas kemarin sore.

“Aku harus kembali dan mengambil buku petunjuknya,” kata Zhou Luoyang. ktpgE7

“Kamu bisa melakukannya,” kata Du Jing, “Kamu tidak perlu buku petunjuk.”

Zhou Luoyang: “……”

“Kamu selalu ingat hal-hal yang aku minta kamu perhatikan.”

Zhou Luoyang akhirnya berkata, “Ambilkan gelas untukku.” GKNjnt

Du Jing menemukan cangkir kaca di atas meja dan memberikannya kepadanya, lalu melepas sarung tangannya dan melemparkannya juga.

Zhou Luoyang hanya bisa berlutut di depan rak buku dan mengenakan sarung tangan. Sarung tangan itu sangat tipis dan masih hangat dari panas tubuh Du Jing. Sarung tangan itu bahkan berbau seperti dia.

“Apakah kamu beralih karier menjadi pencuri?” Zhou Luoyang menekankan gelas ke brankas, mendengarkan suara-suara dari dalam.

Zhou Luoyang berlutut dengan satu lutut. Dia harus memiringkan tubuhnya ke samping untuk melihat klik mekanis dari dalam brankas. Du Jing berjalan dan duduk di kursi di depannya, menyilangkan kaki. jHOAVn

Du Jing berhadapan dengan Zhou Luoyang. Dia mencondongkan tubuh ke depan sedikit dan menatap matanya.

“Aku sudah berpikir tentang menjadi seorang pencuri,” kata Du Jing, “tapi sayangnya, ada banyak hal di dunia ini yang tidak bisa kamu curi, bahkan jika kamu memiliki kekuatan magis.”

“Kamu telah berhasil mencuri seluruh waktu dua puluh empat jam.”

Zhou Luoyang memutar dial sambil menatap Du Jing. Cahaya lampu meja tidak terang maupun redup. Saat itu bersinar di sisi wajah Du Jing, kedua mata yang sulit dipahami itu dan bekas luka yang melintasi jembatan hidungnya terlihat sangat tampan. Dia lebih dewasa sekarang daripada dia tiga tahun lalu, dan lebih pendiam. dZOBw

“Bagiku, waktu bukanlah hal yang paling penting,” kata Du Jing dengan datar.

“Lalu apa yang ingin kamu curi?” Zhou Luoyang memiliki perasaan bahwa apa pun yang ada di dalam brankas pasti sangat, sangat penting, jika tidak, Du Jing tidak akan mungkin mengambil risiko seperti ini dan memilih untuk masuk ke kantor Yu Jianqiang pada menit terakhir.

Bibir Du Jing terbuka secara halus. “Hatimu,” jawabnya.


Zhou Luoyang tidak menanggapi, terlalu malas untuk merepotkan dirinya lagi. Dia memutuskan untuk berkonsentrasi mendengarkan suara-suara yang terdengar dari brankas. YdCGj1

Setelah lama terdiam, Zhou Luoyang tidak bisa menahan diri untuk mengatakan sesuatu lagi.

“Katakan sesuatu? Aku sangat lelah sampai tertidur.”

Story translated by Langit Bieru.

Du Jing berkata, “Aku khawatir aku akan mengganggumu.”

Zhou Luoyang bertanya, “Kamu anggap Laozi ini apa? Apa kamu memandang rendahku?” By1FnA

Du Jing bertanya dengan serius, “Apa yang ingin kamu bicarakan?”


Di malam yang larut, dengan pencahayaan yang berasal dari lampu meja, ada semacam suasana romantis yang tidak biasa.

“Berlutut ke arahmu membuatku sangat tidak bahagia.” Zhou Luoyang berusaha keras untuk mendengarkan suara yang tepat dari brankas.

Du Jing bangkit dan kemudian berlutut di depan Zhou Luoyang. Zhou Luoyang berlutut dengan satu kaki; sedangkan Du Jing dengan dua kaki. Dengan cara itu, mereka berdua berlutut saling berhadapan, menatap mata masing-masing, tak bergerak. YG1PHE

“Bagaimana dengan ini?” Du Jing mempelajari ekspresi Zhou Luoyang.

“Masih terlalu tinggi,” kata Zhou Luoyang, mengerutkan alisnya.

Bahkan ketika dia berlutut, Du Jing masih sedikit lebih tinggi dari Zhou Luoyang. Mendengar kata-katanya, dia membungkuk sedikit, dan wajah mereka menjadi sedikit lebih dekat.

Zhou Luoyang menatapnya tanpa ragu dan bertanya, “Apakah beberapa tahun belakangan ini memperlakukanmu dengan baik?” tVBZE4

“Mereka mengerikan,” jawab Du Jing, “Mengerikan sampai tidak bisa kamu bayangkan.”

“Pernah berpikir untuk bunuh diri?”

“Tidak, aku berjanji kepadamu bahwa jika aku pergi, aku akan dengan tulus dan sopan mengucapkan selamat tinggal, jadi aku harus tetap bertahan.”

“Jadi, kamu kembali sekarang untuk mengucapkan selamat tinggal?” ybiNw4

“Waktunya belum tiba.”

“Itu bagus kalau begitu.” Zhou Luoyang puas mendengar jawaban ini.

Du Jing berkata, “Kamu hanya ingin aku hidup supaya aku bisa menderita.”

“Ya,” kata Zhou Luoyang, “Aku benar-benar bahagia ketika melihatmu menderita.” EzBPS4

“Maksudmu membayangkan aku menderita,” Du Jing mengoreksi.

“Sama saja,” balas Zhou Luoyang.

Story translated by Langit Bieru.

Du Jing bertanya, “Lelah? Ingin mengubah posisimu?”

Untuk waktu yang lama, Du Jing berhenti berbicara lagi. Zhou Luoyang dengan santai mengatakan, “Rasa percayamu kepadaku perlahan-lahan goyah seiring berjalannya waktu.” ZlYv9J

Du Jing menjawab, “Tidak apa-apa, kita masih punya banyak waktu. Aku rela berlutut sampai pagi. Benda ini memiliki kode, jadi tentu saja akan membutuhkan kesabaran. Dari awal aku tidak memiliki harapan yang sangat tinggi untuk ini.”

Zhou Luoyang berkata, “Selama ada mekanisme untuk mengunci, harus ada mekanisme jika kuncinya tidak sengaja terlupakan. Sebagian besar brankas dapat diatur ulang; hanya saja banyak orang yang tidak mengetahuinya.”


Dia punya perasaan bahwa dia hampir mendapatkannya. Kemudian dia mendengar bunyi klik sangat pelan dari dalam brankas.

Selanjutnya, dia meletakkan gelasnya, dan Du Jing segera menyorotkan senter ponselnya ke dial brangkas itu. Zhou Luoyang menemukan takik kecil yang sesuai dan mulai mengatur ulang. Brankas berhasil dibuka. R5FWng

Du Jing meraih ke depan. Jari-jarinya menggenggam sebuah amplop tebal di dalam brankas, dan dia mengeluarkannya.

“Apa ini?” Zhou Luoyang bertanya.

Du Jing menjawab, “Buku akun dan detail keuangan perusahaan.”

Kemudian Du Jing meraih tangan Zhou Luoyang dan merasakan di dalam brankas; itu kosong, jadi dia menutupnya. a5cK12


Terdengar bunyi bip dari jauh.

Zhou Luoyang berbalik, melihat sekeliling dan mencari sumber kebisingan. Du Jing, bagaimanapun, mengenalinya sebagai suara pembaca ID.

Dalam sepersekian detik, dia membuat keputusan. Dia menarik Zhou Luoyang dan mendorong amplop file ke dalam pelukannya. Pada saat yang sama, ia menggulingkan gelas kaca di bawah rak buku. Ketika dia bangkit, dia melompat ke arah gagang pintu, memutarnya, dan keluar dari kantor. Secara bersamaan ia menutupi mulut Zhou Luoyang dengan tangannya untuk mencegahnya membuat suara.

Zhou Luoyang tersandung; kakinya mati rasa karena berlutut begitu lama. Du Jing segera memperhatikan dan menggendongnya, dan mereka melayang di karpet di luar kantor. Dia mendorong Zhou Luoyang di bawah mejanya, lalu membungkuk di atas meja. fKyQVr

Sedetik setelah dia duduk, semua lampu di lantai manajemen eksekutif menyala.

Yu Jianqiang masuk ke dalam membawa tas ransel. Segera dia melihat Du Jing dan merasa sedikit takut — dia tidak menyangka bahwa masih ada seseorang di kantor selarut ini.

“Apa yang kamu lakukan di sini?”

Du Jing menatap kosong dan berdiri, tetapi Yu Jianqiang memberi isyarat padanya untuk duduk kembali. Qs4evn

“Aku kembali untuk memikirkan sesuatu,” kata Du Jing, “dan jatuh tertidur saat melakukannya.”

Yu Jianqiang mengangguk dan tidak memeriksa. Dia berbalik, menggesekkan kartunya, dan berjalan ke kantornya seolah-olah ada sesuatu yang sangat membebani pikirannya.

Story translated by Langit Bieru.


Zhou Luoyang meringkuk di bawah meja. Terjepit di antara kaki Du Jing, dia tidak bisa benar-benar bergerak, juga tidak bisa menjulurkan kepalanya untuk melihat apa yang terjadi, jadi dia mulai melepaskan tali pada amplop file, membuat suara gemerisik yang tenang.

Segera, Du Jing menendang sepatunya dari kakinya dan dengan lembut menyentuh dada Zhou Luoyang dengan kakinya, mengisyaratkan kepadanya untuk tidak membuka amplop file itu sendirian. Zhou Luoyang meraih pergelangan kaki Du Jing, ingin menggelitiknya, tetapi Du Jing menarik kakinya dan meraih tangan di bawah meja, menyerahkan earphone nirkabel. dRW0Cv

Zhou Luoyang: “?”

Zhou Luoyang berhenti mengotak-atiknya dan memasukkan earphone nirkabel di telinganya. Du Jing memasukkan yang lain. Dari earphone, yang terhubung ke mikropon kecil yang ditanam di dalam kantor, mereka bisa mendengar suara Yu Jianqiang di telepon.


“Berapa banyak yang kamu inginkan”

Yu Jianqiang menahan amarahnya, berkata, “Lagi dan lagi. Kesabaranku juga ada batasnya!” sK3TcO

Zhou Luoyang bertanya-tanya, Apakah dia diperas?

Yu Jianqiang menjawab, “Ini adalah yang terakhir kalinya. Pastikan untuk membawa barang-barangmu.”

Zhou Luoyang mendengarkan panggilan telepon Yu Jianqiang dan meletakkan sepatu Du Jing kembali. Lalu dia meletakkan tangan kanannya, dengan sarung tangan kulit tipis masih dikenakannya, di paha Du Jing, memberinya tepukan lembut.

Du Jing meletakkan tangannya di atas tangan Zhou Luoyang, melingkarkan jari-jarinya di bawah ujung sarung tangan. Dengan lembut, dia melepasnya dan memasukkannya ke dalam saku jasnya. xYjkcH


Yu Jianqiang keluar, membawa tasnya. Du Jing bertanya, “Haruskah aku mengantarmu pulang?”

“Tidak perlu,” kata Yu Jianqiang. “Pulang dan segera istirahatlah.”

Du Jing tidak mengatakan apa-apa lagi. Ekspresi Yu Jianqiang sangat tidak wajar ketika dia meninggalkan kantor. Setelah beberapa lama, Zhou Luoyang merangkak keluar dari bawah meja dan bertemu mata dengan Du Jing.

“Bagaimana jika dia bilang ya? Apakah kamu akan membiarkanku berjalan dan pulang sendirian?” Zhou Luoyang menghela napas. UmLuqf

Du Jing menyandarkan kakinya di meja dan mengikat tali sepatu kulitnya. Dia masih memiliki ekspresi dingin dan wajahnya seolah-olah tanpa ekspresi. “Dia tidak akan melakukannya. Tas itu penuh dengan uang tunai — lima, enam ratus ribu.”

“Oh?” Zhou Luoyang meletakkan amplop file di atas meja, dan Du Jing mengikat kembali talinya. Bangkit berdiri, dia berkata, “Aku akan mengantarmu pulang lebih dulu.”

Zhou Luoyang bertanya, “Dan duduk di luar tempat tinggalku sepanjang malam lagi?”

Du Jing tidak mengucapkan sepatah kata pun dan pergi ke kantor keamanan untuk menghapus rekaman pengawasan lift. Setelah mereka masuk ke dalam mobil, Zhou Luoyang berkata, “Tiba-tiba aku berubah pikiran.” eRxr3k

“Kamu belum tidur cukup lama. Apa kamu sama sekali tidak lelah?” Du Jing bertanya.

Zhou Luoyang menjawab, “Kamu belum tidur selama beberapa hari berturut-turut, dan kamu juga tidak lelah.”

Please support our translators at langitbieru (dot) com

“Aku sakit, kamu tidak,” jawab Du Jing sederhana.

Zhou Luoyang berkata, “Kamu ingin mengantarku pulang, lalu mengikuti Yu Jianqiang.” CmdJRM

Du Jing memutar setir, menyetir mobil di tikungan, dan tidak mengatakan apa-apa.

“Bagaimana kalau aku pergi denganmu? Aku akan tidur di dalam mobil untuk saat ini. Bangunkan aku ketika kita sampai di sana.”

Du Jing masih tidak berbicara.

Akhirnya, Zhou Luoyang berkata, “Jas itu sangat pas.” 0PsdqL

“Jas ini dari perusahaan. Kemeja, sepatu, dan kaus kaki ini juga.” Du Jing bisa tahu apa yang ingin disiratkan Zhou Luoyang dan berkata, “Masih lajang. Belum pergi dan menghancurkan kehidupan orang lain.”


“Baiklah,” jawab Zhou Luoyang, menutup matanya dan bersandar ke jendela mobil.

Translator's Note

Aku, tapi digunakan dengan arogan.

Leave a Comment

For an easier time commenting, login/register to our site!