English

Tiandi BaijuCh57 - Level tersembunyi

0 Comments

Penerjemah: Jeffery Liu


MASA KINI IBHDud

Begitu kata-kata itu selesai diucapkan, Lu Zhongyu mengarahkan senapan serbu ke ventilasi dan memberondongnya dengan tembakan. Pipa itu tertembus, dan dia melompat turun.

“Tempat apa lagi ini?” Ketika Zhou Luoyang keluar, dia melihat sebuah patung dewa ular di atas kolam air yang hitam pekat.

Langit Bieru.

Dengan senter yang digigit di mulut, Lu Zhongyu menyorotkan cahaya ke air. Du Jing menembak ke arah kegelapan, suaranya menggelegar.

Beberapa makhluk raksasa muncul dari permukaan air. fqvMQH

“Buaya,” De’an berkata dengan suara bergetar. “Sial… sepertinya ini rintangan yang tidak dipakai.”

“Bukan,” kata Zhou Luoyang. “Kupikir ini adalah versi lain dari rintangan di babak kedua, salah satu jalur samping di ruang rahasia kuil.”

“Aku mau minum,” kata Ruan Song.

“Berenang saja ke sana,” kata Lu Zhongyu. “Kau bisa minum sepuasnya.” hXVMpK

“Airnya tidak bersih.” Zhou Luoyang melepas kemeja dan menyeberangi air itu. Du Jing menembak lagi ke dalam air, membunuh satu buaya lagi.

Kun berkata, “Membunuh hewan yang dilindungi bisa kena denda.”

“Di sini tidak ada aktivis perlindungan hewan, ‘kan,” kata Lu Zhongyu.

Zhou Luoyang ternyata benar. Du Jing menendang sebuah pintu, dan di baliknya ada rintangan lain yang sangat rumit—sebuah ruang setinggi dua puluh meter, dengan banyak rel di udara, dan bola-bola semen seberat hampir satu ton tergantung di atas. Namun karena listrik padam, semua mekanisme ini berhenti bergerak. 29sIaG

Du Jing berbalik dan memberi isyarat ssst. Di bawah, beberapa tentara bayaran sedang menyinari ruangan dengan senter taktis.

Satu menit kemudian, Du Jing dan Lu Zhongyu melompat ke lantai, menembak dua kali, membunuh mereka dan menghabisi regu patroli itu. Yang lain dengan cepat turun mengikuti jalur rel.

Xiao Wu sedang memeriksa pistolnya. Zhou Luoyang berkata, “Hati-hati, jangan sampai meletus.”

Du Jing membuka pintu lagi, memasuki rintangan berikutnya. Ruangan itu dipenuhi altar-altar, masing-masing dengan lampu minyak yang menyala, seperti tempat suci. vOiRoD

Zhou Luoyang merasa ada sesuatu yang aneh, seperti mereka telah masuk ke level tersembunyi yang dibuat oleh pengembang gim. Tapi mereka sudah tidak peduli lagi apa isi rintangannya. Xiao Wu menemukan sebuah tangga spiral dan naik ke atas.

“Ini terowongan,” kata Xiao Wu sambil merunduk.

“Biar kami yang di depan,” kata Zhou Luoyang. “Kapten tentara bayaran di belakang.”

Di dalam terowongan setinggi sekitar satu meter lebih itu, mereka saling bertukar posisi. Setelah mencapai ujung terowongan, Xiao Wu menengadah dan berkata, “Berikan padaku pisau lipat Swiss Army-nya.” 7Hz6cf

“Tanganku terlalu besar,” kata Xiao Wu lagi. “Tidak bisa keluar.”

De’an kemudian menyodorkan satu tangan keluar celah, dan bersama-sama dengan jari Xiao Wu mereka membuka sekrup papan penutup teralis itu, mendorongnya, lalu masuk ke sebuah ruang rahasia kosong.

Read more BL at langitbieru (dot) com

“Ada pintu,” kata Ruan Song. “Tapi terkunci.”

Du Jing menembaknya dan menendang pintu itu. Mereka kembali ke ruang yang pertama kali mereka tempati sebelumnya—ruang dengan tujuh sel penjara. WtKnqz

“Kita kembali,” kata Du Jing.

“Di atas kita ada jalur menanjak,” kata Zhou Luoyang. “Jalur itu terhubung ke lift tempat kita turun.”

“Hmm.” Du Jing berpikir sejenak. “Kita bisa keluar lewat sana.”

“Kalau ada tentara bayaran yang meluncur turun, pasti akan gawat,” kata Lu Zhongyu. “Mau coba? Mau berpencar atau pilih satu jalur saja? Masing-masing bawa satu tim?” Tqynrc

“Jalan bersama saja,” kata Du Jing. “Setelah sampai permukaan, baru kita berpencar.”

“Baik,” kata Lu Zhongyu.

Lubang tempat mereka jatuh ke sel ada di ketinggian tiga meter, dan tidak ada tempat berpijak. Mereka menumpuk semua matras busa yang ada di tempat itu, memanjatnya, dan Zhou Luoyang baru bisa meraih tepian jalur itu dengan susah payah.

Orang-orang di bawah mengangkat satu sama lain dengan bahu, Du Jing naik lebih dulu, lalu menarik yang lain dari atas. Mereka semua akhirnya masuk ke terowongan. KNvXLG

“Sekarang jam berapa?” Lu Zhongyu keluar dari sel, berkeliling sebentar, lalu kembali dan bertanya.

“Waktunya hampir habis,” jawab Du Jing dari dalam terowongan.

Lu Zhongyu menjawab, “Aku sudah menemukan dari mana mereka masuk. Tepat di dasar ruang rahasia balok penyangga. Kalau jatuh ke bawah, orang pasti mati terempas. Tapi ada pintu kecil di sana, tempat para staf masuk untuk mengangkat mayat. Mereka mengikat tali pada balok dan memanjat ke atas. Tiga orang sudah kubereskan.”

“Ayo cepat,” kata Du Jing. 12ETyn

Tanah sangat licin. Du Jing menekan kedua tangannya ke lantai sambil terus merangkak, sampai mencapai pintu masuk yang terhubung dengan lorong lift.

“Ini baru benar-benar permainan ruang pelarian,” kata Zhou Luoyang.

“Mm.” Du Jing keluar dari celah itu, mendongak ke atas, menemukan tangga perawatan lift, lalu berkata, “Nanti ada waktu? Mau sarapan bersama di Phnom Penh?”

“Satu-satunya keinginanku sekarang cuma mandi,” kata Zhou Luoyang. sSFUC

Du Jing naik lebih dulu, yang lain mengikuti bergiliran. Mereka menelusuri lorong lift dan tiba di salah satu pintu keluar.

“Listriknya sudah menyala,” kata Zhou Luoyang ketika melihat indikator di sekeliling menyala. “Berhati-hatilah.”

Story translated by Langit Bieru.

Di luar terdengar suara gaduh. Du Jing berkata, “Peluk aku. Kapten PBB, berikan padaku pisau lipatnya!”

Zhou Luoyang berdiri di atas tangga, satu tangan merangkul pinggang Du Jing. IZwde4

“Pinggangmu pas sekali untuk dipeluk,” kata Zhou Luoyang.

We’re sorry for MTLers or people who like using reading mode, but our translations keep getting stolen by aggregators so we’re going to bring back the copy protection. If you need to MTL please retype the gibberish parts.

Du Jing merendah, “Ah tidak, kelenturanmu jauh lebih bagus.”

Lu Zhongyu melemparkan pisau Swiss Army ke atas. Du Jing mengosongkan kedua tangan, menggunakan pisau itu untuk mencongkel pintu lift hingga terbuka sedikit, lalu menodongkan pistol ke celah itu dan menembak beberapa kali.

Crjq wfrle wfwfcetl evjgj. Ge Alcu wfwyexj qlcae iloa rfqfcetcsj vjc wfibwqja xfiejg. Gej qfcpjuj afgxjqjg yfgrlwyjt vjgjt vl vfxja qlcae, wfgfxj xfwyjil xf iloa qfgajwj afwqja wfgfxj vlyjkj wjrex vfcujc wbyli klrjaj. f4n0Ly

Hong Hou membuat permainan battle royale sungguhan di tempat tersembunyi seperti ini, wajar saja orang luar sulit menemukannya. Tapi ini juga menanam bom waktu bagi dirinya sendiri, karena bila terjadi masalah pada arena ini, lalu ada orang datang memeriksa dan kehilangan akses pantauan, mereka akan sangat sulit menemukan para pemain yang kabur.

“Ajcujc yege-yege qfgul. Vljqxjc qbrlrl veie,” xjaj Ge Alcu.

Itbe Oebsjcu wfcuufifvjt aeyet rjijt rjae qfcpjuj vjc wfcfwexjc rjae ijul rfcjqjc babwjalr.

“Sebelum masuk aku sudah heran,” kata De’an. “Aku pernah ke Kamboja, tapi tidak pernah sekali pun melihat ada tempat seperti ini.” jw6KLp

“Sebuah terowongan tambang bawah tanah,” kata Lu Zhongyu. Ia mengikat senjata-senjata cadangan di punggungnya dan menyerahkan satu pada Du Jing. Kini hanya mereka berdua yang bisa diandalkan untuk serangan; mereka harus memastikan semua senjata berfungsi sempurna.

Ia melanjutkan, “Setelah ditinggalkan, tempat ini jadi markas Khmer Merah. Lalu dibeli KCR, dan di atasnya dibangun kasino.”

“Apa alasan sebenarnya kau datang ke sini?” tanya Ruan Song.

“Untuk membalas dendam temanku,” kata Lu Zhongyu. ZYVk1h

“Sangat sesuai karaktermu,” kata Zhou Luoyang.

“Sudah berhasil?” tanya Du Jing dengan suara berat.

“Belum.” Ekspresi Lu Zhongyu tetap tenang. “Tapi sudah dekat.”

“Ayo pergi,” kata Du Jing. “Kita mulai tahap keempat ruang pelarian ini.” lasJd

Lu Zhongyu memimpin. “Warga sipil di belakang! Jangan terpisah dari rombongan!” katanya sambil berlari masuk ke dalam terowongan.

Du Jing mengikuti. Lalu yang lain berlari masuk ke terowongan tempat mobil wisata biasa melintas.

Please visit langitbieru (dot) com

Terdengar suara mesin mobil wisata dari kejauhan. Du Jing dan Lu Zhongyu segera menyelinap ke dua cabang terowongan dan bersembunyi di tiap sisinya.

Saat mobil wisata melintas, mereka menembak serempak. “Menghindar!” teriak Du Jing. p4g1i2

Dengan secepat kilat, Zhou Luoyang menarik Kun, dan bersama De’an serta yang lain menyelamatkan diri ke sisi lorong. Mobil wisata itu melaju sambil menyeret bercak darah para tentara bayaran yang duduk di atasnya, lalu menghilang dalam kegelapan.

Du Jing tetap tenang, bertukar posisi dengan Lu Zhongyu, lalu berlari menyusuri terowongan.

Kondisi fisik Zhou Luoyang masih cukup baik, tapi ia tahu yang lain sudah hampir kehabisan tenaga—semuanya bertahan hanya karena tekad.

Tak lama, mobil wisata lain datang dengan penuh tentara bayaran. Dengan cara yang sama, Du Jing dan Lu Zhongyu menumpas mereka. BDCXP7

Mereka berlari masuk ke sebuah garasi beton raksasa. Tujuh orang itu berdiri di depan pintu garasi yang tertutup rapat.

Du Jing menembak lampu-lampu sederhana yang tergantung di langit-langit beton, lalu menghancurkan semua kamera pengawas dengan beberapa tembakan tepat sasaran.

“Ini level terakhir,” ujar Du Jing dengan suara berat. “Berlindung di belakang pilar. Hati-hati pantulan peluru.”

Zhou Luoyang bersembunyi dan mengintip ke luar. Pintu garasi perlahan terbuka. Sebuah truk kecil melaju masuk, banyak warga lokal bersenjata melompat turun. rzBVjx

Baku tembak pun pecah. Zhou Luoyang memegang pistol, tapi tak menemukan kesempatan menembak—peluru berdesingan ke segala arah, memicu debu beterbangan.

Dalam kegelapan, hanya Du Jing dan Lu Zhongyu yang tetap tenang sepenuhnya, seolah baku tembak semacam ini hanyalah hal kecil bagi mereka.

Profesional memang berbeda… pikir Zhou Luoyang.

Lima menit kemudian, lantai dipenuhi mayat. Du Jing menembakkan satu peluru lagi, menghantam sopir yang sedang mundur di kabin truk, membuat darahnya muncrat ke mana-mana. iO pFE

“Tidak bisa keluar!” kata Lu Zhongyu. “Diluar ada tekanan tembakan.”

“Ada jendela ventilasi di samping!” kata Zhou Luoyang.

Tanpa banyak bicara, Du Jing berlari ke arah Zhou Luoyang. Zhou Luoyang mengatupkan kedua tangannya; Du Jing menginjak lengannya dan melesat ke atas, meraih ventilasi, melepasnya, lalu merangkak keluar.

“Aman,” kata Du Jing. “Bawa mobilnya ke sini.” liyO1F

Kun naik, menarik mayat turun, lalu mengemudikan truk kecil itu mendekat. Semua orang bergiliran melewati jendela ventilasi. Begitu keluar dari garasi, Zhou Luoyang melangkah ke taman. Di luar gelap gulita, langit penuh taburan bintang.

Zhou Luoyang: “………………”

Please visit langitbieru (dot) com

Belum pernah seumur hidup ia merasa alam begitu indah seperti saat ini. Udara segar, wangi tanah basah di taman, dan galaksi yang berkilau di langit—dunia yang diciptakan Brahma ini seolah sedang menatapnya dengan kelembutan.

Namun detik berikutnya, sebuah granat melesat dari luar taman, meluncur melewati kepala mereka, menghantam mansion besar Hong Hou, diikuti ledakan menggelegar! qdl Ji

Kaca pecah, gelombang kejut menghantam, Du Jing langsung merangkul Zhou Luoyang, menggunakan pundak dan punggung untuk melindungi kepalanya.

Zhou Luoyang meraih pergelangan tangan Du Jing dan melirik Mata Forseti—pukul empat tiga puluh pagi.

“Pergi!” Du Jing menarik Zhou Luoyang, berlari menjauhi arah datangnya granat.

“Di garis depan sedang terjadi baku tembak!” kata Lu Zhongyu. “Mundur ke belakang! Semua ikuti kami!” hSEeYX

Mereka berlari melintasi taman. Du Jing melompat dan menabrak kaca jendela mansion, memecahkannya. Dari dalam terdengar jeritan panik.

Itu adalah dapur kasino besar, hanya tersisa beberapa pekerja lokal; semua pengawal sudah dikerahkan keluar.

“Berapa banyak orang yang Huang Ting bawa?” tanya Zhou Luoyang.

“Tidak tahu!” kata Du Jing. “Masih ada orang kita di dalam!” GVUOzT

“Lewat sini!” kata Lu Zhongyu, berlari keluar dari dapur.

“Ke sini,” kata Du Jing sambil menarik Zhou Luoyang, mengarah ke sisi lain.

“Berpisah?” tanya Lu Zhongyu.

Du Jing untuk sesaat ragu. Lu Zhongyu berkata, “Ikuti mereka.” oTqNBZ

“Kau mau kemana?” kata Zhou Luoyang. “Jangan mati di sini.”

Saat mereka semua ragu, seseorang menerobos masuk. Zhou Luoyang melihat orang itu dan langsung berseru, “Huang Ting!”

Huang Ting melirik mereka sekilas. “Mereka terlalu kuat. Kita tak bisa menahan mereka. Kalian harus keluar dari sini secepatnya. Ada orang yang menunggu di luar.”

Segera setelah itu, para pengawal muncul dari lorong. Zhou Luoyang berkata, “Cepat kembali!” HWdQI8

Tanpa rasa takut maupun upaya menghindar, Du Jing menembak empat kali, menjatuhkan para pengawal dalam sekejap. Lebih banyak pengawal menyerbu masuk; semua mulai berlindung sementara Huang Ting membalas tembakan. Dalam kekacauan itu, Du Jing berkata, “Siapa yang masih punya senjata? Aku kehabisan peluru!”

Zhou Luoyang menyerahkan pistol terakhir padanya. Tiba-tiba, Lu Zhongyu berkata pada Huang Ting, “Yang Mulia, masih ingat Xia Yuhé di tepi Danau Daming?”

Zhou Luoyang: “……” cv03Jl

“Aku ingat!” Huang Ting berseru.

Ia melemparkan sebuah pistol ke arah mereka. Lu Zhongyu langsung menggantinya dan mulai menembak sambil mundur.

“Itu sandi pertemuan!” kata Lu Zhongyu pada Zhou Luoyang.

“Tidak usah dijelaskan!” Du Jing menggerutu, terlihat jengkel karena para pengawal terlalu banyak dan tak kunjung habis. Yzklq2

Huang Ting berkata, “Kalian bawa warga sipil dulu! Kami berdua mengawal bagian belakang!”

“Kalian datang berapa orang?” tanya Zhou Luoyang.

“Dari pihak kita cuma aku dan asistennya, dua orang!” jawab Huang Ting.

Zhou Luoyang: “……………………” VcjktB

“Ada satu kelompok warga lokal lain, mereka punya dendam dengan Hong Hou!” lanjut Huang Ting. “Mereka tidak bisa membedakan siapa yang kawan siapa yang lawan, jadi berhati-hatilah!”

“Ikuti aku!” kata Du Jing.

Ia memimpin mereka yang tersisa, berlari keluar dari lorong. Di tengah jalan, Ruan Song tiba-tiba berkata, “Kita bisa keluar dari jalur gunung. Ke arah timur.”

Du Jing menatap Ruan Song. Ruan Song berkata, “Aku juga ingin pergi! Aku tidak akan menjebak kalian!” A9MjYJ

Di ujung lorong, Du Jing menendang pintu. Zhou Luoyang tiba-tiba sadar mereka telah masuk ke ruang kerja Hong Hou.

Dua pengawal berjaga di dalam, menghadap jendela. Saat mereka belum sempat menoleh, Du Jing melepaskan dua tembakan cepat yang membuat keduanya terjatuh dari jendela.

Read more BL at langitbieru (dot) com

Xiao Wu mengintip ke luar dan berkata, “Di luar ada tangga darurat. Jalannya mengarah ke atap. Dari ujung atap kita bisa turun, dan kita akan sampai di gunung.”

Dari luar terdengar derap langkah dan tembakan. Zhou Luoyang menutup pintu, Du Jing menariknya ke samping, lalu menembak ke arah daun pintu—bunyi klik kemudian terdengar. cudf14

“Pelurunya habis,” kata Du Jing.

Zhou Luoyang mencabut pedang samurai dan melemparkannya pada Du Jing. Du Jing berkata, “Kalian pergilah dulu. Bawa busur dan panahnya.”

Zhou Luoyang mengambil busur dan panah yang tergantung di dinding dan menggendongnya di punggung.

“Berhati-hatilah,” kata Zhou Luoyang. R37TdU

Hong Hou datang seorang diri. Du Jing memegang pedang samurai, berjaga di depan jendela.

“Jadi kau sebenarnya seorang tentara bayaran,” kata Hong Hou dengan suara berat. “Benar-benar tidak kusangma.”

“Bukan,” kata Du Jing.

“Aku mencari semua data, semua ingatan, tapi tak pernah menemukan orang sepertimu. Wajahmu punya bekas luka mencolok, kemampuanmu seperti ini. Seharusnya kau sudah terkenal.” PTQyiO

Selesai bicara, Hong Hou berjalan ke sisi meja kerja dan menarik keluar satu pedang samurai lainnya.

Du Jing memegang pedangnya dengan tangan kanan. Ia mendengar suara orang-orang di atap dan tahu mereka sudah naik. Ia pun meninggalkan jendela, menuju sisi lain meja.

Hong Hou memutar pedangnya di udara; Du Jing melakukan hal yang sama. Mata pedang berkelebat, memantulkan cahaya perak, membelah udara. Namun gerakan Du Jing tampak sedikit lebih kaku dibanding Hong Hou.

“Kau bukan lawanku,” kata Hong Hou. “Tidak pernah belajar dengan benar?” jvnUSy

Du Jing menjawab dengan sopan, “Umurku masih segini. Mana mungkin segalanya bisa kupelajari? Waktuku terbatas.”

“Jadi kau sengaja mengulur waktu. Demi membuat mereka kabur,” kata Hong Hou. “Di dalam ruang rahasia, kalian selalu hidup-mati bersama, tapi kenapa sekarang tidak mau menghadapi kematian bersama?”

Du Jing tidak menjawab, hanya menatap gerakan Hong Hou.

“Kalau begitu, seperti yang kau inginkan.” Hong Hou berubah posisi, menggenggam pedang dengan dua tangan, lalu menerjang ke arah Du Jing! dvnq3I

Du Jing memiringkan tubuh, memutar pergelangan tangan, menahan serangan yang mengarah ke tenggorokannya dengan bersih dan presisi!

Pertarungan senjata tajam bukanlah keahliannya; pelatihan pedang samurai belum banyak ia pelajari. Ia harus mengerahkan seluruh fokus, mengamati bahu dan lengan Hong Hou, tak berani bicara sedikit pun. Dalam sekejap Hong Hou menyebarkan bayangan pedang ke segala arah. Du Jing menahan dengan dua tangan, setiap serangan ia redam dan alihkan!

Read more BL at langitbieru (dot) com

Gerakan Hong Hou sangat cepat, tubuhnya pun lebih kecil. Du Jing terus bertahan, menunggu satu celah. Dua ahli yang bertarung habis-habisan, suara pedang saling beradu tak henti. Tiba-tiba Hong Hou berteriak keras, menebas meja kerja hingga terbelah menjadi dua!

Itulah celah yang ia tunggu—begitu pedang saling bersentuhan, dalam sekejap saat Hong Hou menurunkan tebasannya, Du Jing melangkah miring, bahunya condong, dan pedangnya meluncur ke atas sepanjang bilah lawan seperti arus air! SFMEwR

Hong Hou langsung membalikkan bilah, memilih taktik saling melukai. Ia menebas ke arah lengan kanan Du Jing.

Dua pedang beradu—darah muncrat di udara!

Lengan kanan Du Jing memercikkan darah, sementara dada kiri Hong Hou tersayat dalam dan bermandikan darah!

Tanpa menghiraukan lukanya, Du Jing berputar lagi. Hong Hou menjerit, jari-jarinya yang memegang pedang terpotong jatuh! 2XIck

Pedang samurai terlempar ke lantai. Du Jing menggenggam pedang dengan tangan kiri, menempatkan bilah tepat di depan tenggorokan Hong Hou. Dalam satu kilatan, Hong Hou mengeluarkan pistol dari tangan kirinya dan menodong ke arah Du Jing.

Sebuah anak panah melesat membelah udara—menembus telapak tangan Hong Hou, menancapkannya ke rak buku! Pistol terpelanting sebelum sempat ditembakkan.

Du Jing menoleh dan melihat Zhou Luoyang.

Zhou Luoyang berdiri dengan busur terangkat, memasang anak panah kedua. qijohO

Hong Hou tertawa kejam. “Jadi akhirnya kau kembali juga.”

Zhou Luoyang segera menembakkan panah kedua—mengenai pergelangan kaki Hong Hou. Terdorong oleh sakit yang tajam, tubuh Hong Hou goyah dan jatuh berlutut di depan Du Jing, satu tangan masih tertancap di rak buku.

“Bagaimana?” kata Zhou Luoyang. “Sudah bertahun-tahun aku tidak memanah. Lumayan, ‘kan?”

“Murid selalu berlatih lebih baik daripada gurunya. Itulah yang disebut murid melampaui sang guru,” kata Du Jing sambil menunduk untuk mengambil pistol, lalu menoleh pada Zhou Luoyang. d8f0SL

Huang Ting dan Lu Zhongyu keluar dari koridor dan mendorong pintu masuk ke ruang kerja.

“Sanderanya di mana?” tanya Huang Ting sambil mengernyit. “Kalian tidak mengurus mereka?”

“Mereka sudah naik ke gunung,” jawab Zhou Luoyang.

Lu Zhongyu melirik busur panah, kemudian menatap Hong Hou dan bercak darah di lantai. 1uD3XZ

“Lumayan juga,” katanya. “Ayo pergi.”

“Tidak mau mengurusnya?” Zhou Luoyang bertanya lagi.

Langit Bieru.

Keempatnya mengelilingi Hong Hou. Du Jing berkata, “Koleksi di sini mau kamu bawa? Ambil sedikit sebagai kenang-kenangan?”

Zhou Luoyang tidak tertarik. “Tidak usah, kita pergi saja.” 1KvhOD

Bisa hidup-hidup keluar dari situ sudah merupakan hasil terbaik.

Hong Hou mengeluarkan tawa aneh. “Sudahlah, aku menyerah. Lain kali, jangan datang lagi.”

Lu Zhongyu menatapnya tanpa menjawab apa pun.

Mereka berempat keluar menuruni tangga darurat di luar ruang kerja, jalan keluar yang disiapkan Hong Hou untuk dirinya sendiri. Meski rumahnya sebesar istana, ia tetap takut akan hal-hal yang tak terduga. Tadi, karena rumah besarnya dikepung, ia kembali ke ruang kerja dan berencana kabur melalui jalur ini. ZgWrUK

Naik ke atap, Zhou Luoyang menemukan tali luncur yang membentang ke lereng gunung di seberang. Du Jing menyuruh Zhou Luoyang memeluk lehernya, satu tangan melingkari pinggangnya, memasang kait logam pada tali, lalu meluncur ke bawah.

Huang Ting dan Lu Zhongyu menyusul satu per satu, melewati batas wilayah rumah besar itu.

Saat masih di udara, Zhou Luoyang menoleh ke belakang. Ia melihat di puncak-puncak bukit di sekitar mansion kasino itu, beberapa truk menembakkan RPG tanpa henti ke arah rumah.

Di lereng, Zhuang Li datang dengan mobil. “Aku suruh mereka pergi dulu, tapi mereka bilang mau menunggu kalian berdua,” katanya. 7d25hp

Di bawah mobil, para sandera yang berhasil diselamatkan menunggu mereka. Matahari sudah terbit, menyinari pegunungan Kamboja.

“Di dalam masih ada sandera?” tanya Huang Ting.

“Sudah mati semua,” jawab Lu Zhongyu. “Setelah dibawa kembali, siapa pun yang dianggap tidak berguna akan dibunuh di rumah sakit. Yang ini adalah sisa terakhir. Beri aku RPG.”

Zhuang Li ragu sejenak, lalu menoleh pada Du Jing. 9vxfm7

“Berikan padanya,” perintah Du Jing.

“Kalian dapat orang sebanyak ini dari mana?” tanya Xiao Wu. “Mereka semua orang Tiongkok?”

“Tidak,” kata Huang Ting. “Dulu Hong Hou mengkhianati Khmer Merah dan menjual banyak rekannya. Orang-orang yang dia khianati semuanya dibunuh. Hong Hou punya ‘jaminan’ saat itu, kemudian menukarnya hingga mendapatkan modal untuk bangkit lagi. Mereka yang selamat masih berada di Kamboja, dan selama ini ingin membalas dendam.”

“Aku yang mengenalkannya pada mereka,” tambah Lu Zhongyu kepada Du Jing. qLMt5G

Ruan Song diam saja, berdiri paling belakang.

Zhou Luoyang memandang ke kejauhan, ke arah para tentara bayaran yang menyerang rumah Hong Hou.

Story translated by Langit Bieru.

Lu Zhongyu menggigit granat untuk memasangnya ke peluncur RPG, lalu mengangkatnya dan membidik sisi ruang kerja.

“Dewa-dewa melindungimu,” gumamnya, lalu menarik pelatuk. GfBCbU

Granat pada RPG melesat, menghantam ruang kerja Hong Hou. Zhou Luoyang mengumpat dalam hati: Sial, kalau tahu begini, harusnya aku mengambil beberapa barang koleksinya tadi.

Di dalam ruang kerja, kaca-kaca di empat sisi pecah bersama kobaran api. Hong Hou yang berada di dalam akhirnya tewas terbakar.

Lu Zhongyu melepas kembali RPG-nya tanpa menoleh, masuk ke kursi penumpang depan. Zhuang Li naik ke kursi pengemudi. Semua orang masuk ke dalam mobil, lalu mobil melaju menuruni jalan gunung.

vVcmfP

Translator's Note

Kalimat “你还记得大明湖畔的夏雨荷吗?” (“Apakah kau masih ingat Xia Yuhé di tepi Danau Daming?”) berasal dari drama Tiongkok klasik Huan Zhu Ge Ge (还珠格格), atau dikenal juga sebagai Princess Pearl, yang sangat populer tahun 1990-an.

Story translated by Langit Bieru.

Xia Yuhé (夏雨荷) adalah nama karakter fiksi dalam drama tersebut. Ia digambarkan sebagai wanita yang pernah dicintai Kaisar Qianlong ketika sang Kaisar muda singgah di kota Jinan.

Adegan ikoniknya adalah ketika Kaisar berkata kepada Nyonya Rong (ibu Xiaoyanzi): “你还记得大明湖畔的夏雨荷吗?” yang kemudian menjadi kalimat legendaris dan meme budaya pop. Ey9g8i

Danau Daming (大明湖) adalah danau terkenal di kota Jinan, Tiongkok.

Dalam drama, tempat ini menjadi lokasi pertemuan romantis Qianlong dan Xia Yuhé.

Kalimat ini sangat populer di Tiongkok sampai sekarang, sering digunakan secara bercanda untuk menyinggung kisah cinta masa lalu atau nostalgia dramatis.

Translator's Note

RPG adalah singkatan dari Rocket-Propelled Grenade, yaitu roket granat berpeluncur bahu—senjata anti-kendaraan / anti-bangunan yang umum dipakai dalam konflik bersenjata. Senjata portabel yang ditembakkan dari bahu. Yang dilemparkan dari senjata ini adalah granat.

Leave a Comment

For an easier time commenting, login/register to our site!