Penerjemah: Jeffery Liu
MASA KINI
Empat jam kemudian, di pasar makan siang Kota Phnom Penh, Huang Ting memesankan semangkuk pho untuk setiap orang. Setelah keluar dari ruang bawah tanah, hal pertama yang dilakukan Zhou Luoyang adalah meneguk air dengan lahap.
“Aku harus pergi,” kata Ruan Song dengan gelisah. “Aku tidak makan. Terima kasih.”
“Mau ke mana?” tanya Lu Zhongyu, nadanya serius. Pandangannya sekilas menyapu Du Jing dan Zhou Luoyang.
“Terlalu pedas,” kata Du Jing. “Hati-hati jangan makan cabai Thai.”
Zhou Luoyang memunguti cabai Thai dari mangkuknya, lalu menyodorkan jus pada Du Jing. Du Jing menunduk dan meminumnya dari tangan Zhou Luoyang.
“Aku…” Ruan Song berdiri. “Aku mau pulang.”
Ia masih membawa kotak itu, namun Lu Zhongyu dan Du Jing masing-masing menahan satu tangannya.
“Kenapa terburu-buru pergi?” kata Du Jing. “Tidak mau bicara sebentar?”
Ruan Song menarik napas panjang. “Uang itu… kalau kalian mau, bisa kubagi. Tujuh bagian… tidak, sembilan bagian.”
“Aku tidak mau,” kata Zhou Luoyang. “Simpan saja.”
“Kalau begitu aku—”
Belum selesai ia berbicara, dua pria berpakaian sipil datang. Huang Ting mengangkat kepala dan menyapa mereka. Lu Zhongyu berbicara sebentar dalam bahasa Inggris, dan berikutnya salah satu dari mereka mengeluarkan borgol kemudian memborgol Ruan Song.
“Biar aku yang simpan barang itu untukmu,” kata Lu Zhongyu. “Nanti akan kukirimkan ke istri dan anakmu. Pulanglah, hadapi persidangannya.”
Mata Ruan Song langsung membesar. Ia menatap Lu Zhongyu dengan kaget. “Kau…”
“Pergilah bersama mereka,” ujar Huang Ting. “Tiap perbuatan ditanggung sendiri. Setidaknya aku tahu kau punya keberanian untuk itu.”
Ruan Song berusaha meronta, tetapi tangannya sudah terbelenggu. Lagipula bahkan jika ia melarikan diri, tidak ada tempat yang bisa ia tuju. Dua petugas itu menunjukkan identitas Interpol kepada mereka semua. Du Jing mengangguk, memberi tanda agar mereka lewat.
Ruan Song dibawa ke mobil, dan kendaraan itu pergi.
“Dia akan dijatuhi hukuman berapa lama?” tanya Zhou Luoyang.
“Mungkin hukuman mati,” jawab Lu Zhongyu. “Kasusnya cukup berat.”
“Hampir pasti hukuman mati,” kata Huang Ting.
Nada bicara mereka berdua sangat tenang, seolah tidak ada penyesalan terhadap nasib Ruan Song. Xiao Wu bergumam, “Jadi, kita bersusah payah membawanya keluar hanya untuk membuatnya dihukum mati.”
“Lalu menurutmu apa?” kata Lu Zhongyu. “Haruskah aku membunuhnya langsung di ruang bawah tanah? Dia memang pantas mati, tetapi bagaimana caranya tetap harus melalui proses. Kita sebagai manusia… melakukan sesuatu harus tetap bisa menghadapi hati nurani sendiri. Benar, bukan?”
Ia kembali menatap Du Jing, namun tidak melanjutkan perkataannya.
Dengan sopan Du Jing bertanya, “Kalau begitu, menurutmu Dewa Keadilan akan menjatuhkan berapa tahun hukuman untukku?”
“Aku tidak bisa mengadilimu,” jawab Lu Zhongyu.
Tidak ada yang berbicara lagi. Kun tampak ingin mengatakan sesuatu, namun menahan diri. Hingga akhirnya Huang Ting berkata, “Aku sudah menyiapkan semuanya.”
Setelah makan, Lu Zhongyu berdiri sambil membawa kotak itu. “Aku masih ada sedikit urusan.”
“Pergilah,” kata Huang Ting. “Aku akan membawa mereka keluar dari sini.”
Mereka tidak naik pesawat dari Phnom Penh, khawatir akan ada pemeriksaan ulang. Huang Ting membawa semua orang meninggalkan Kamboja, dan Zhuang Li mengemudikan mobil menuju perbatasan Thailand. Saat melewati pos pemeriksaan, mereka menunjukkan izin khusus.
Paspor milik Kun, Xiao Wu, dan De’an sudah disita, sehingga mereka harus melapor ke Kedutaan Besar Tiongkok untuk meminta penggantian. Di perjalanan, Huang Ting memberikan masing-masing sebuah buku catatan.
“Tuliskan siapa yang menipu kalian hingga bisa dibawa ke Ho Chi Minh. Ingat, tulis sedetail mungkin. Setelah kembali ke Kota Wan, kami perlu menyimpannya sebagai arsip.”
Menjelang tengah malam, rombongan tiba di Bangkok. Dengan izin khususnya, Huang Ting memesan kamar hotel. Baru setelah masuk wilayah Thailand, Zhou Luoyang benar-benar merasa lega.
“Rasanya seperti mimpi buruk,” katanya sambil berbaring di ranjang besar hotel. “Sebulan ke depan aku pasti masih akan mimpi buruk.”
“Waktu aku baru mulai bertugas,” kata Du Jing, “aku juga kadang mengalami mimpi buruk. Tapi bisa segera membaik.”
We’re sorry for MTLers or people who like using reading mode, but our translations keep getting stolen by aggregators so we’re going to bring back the copy protection. If you need to MTL please retype the gibberish parts.
“Ujvjtji xjiljc revjt vlqfgrljqxjc rfmjgj wfcaji… afajq ylrj agjewj peuj?” ajcsj Itbe Oebsjcu rfafijt xfiejg vjgl xjwjg wjcvl. Ge Alcu tjcsj wfwjxjl peyjt wjcvl, yjtxjc ifcujccsj alvjx vlwjrexxjc. Aeyjt lae wfcuujcaecu ibcuujg vl qlcuujcucsj, vjvjcsj afgyexj xfalxj lj vevex vl vfqjc pfcvfij yfrjg, wfwjxjc mbxfija vjc wlcew jcuueg tbafi.
“Dlrj,” pjkjy Ge Alcu. “Kjql yljrjcsj, rjja wlwql yegex lae wfcmjqjl rjae alalx afgafcae, xjwe wecmei vjijw wlwqlxe.”
“Kamu pernah bilang kalian membangun sebuah mekanisme pertahanan…”
Selama melarikan diri dari ruang bawah tanah, Du Jing membunuh terlalu banyak orang. Setiap kali menembak, dia begitu dingin dan nyaris tidak berkedip.
Namun di mata Zhou Luoyang, itu sama sekali tidak menakutkan. Justru ia merasa Du Jing luar biasa. Setiap peluru ditembakkan untuk melindunginya. Melindungi mereka semua.
“Ya,” kata Du Jing. “Mekanisme pertahananku adalah kamu. Mau minum?”
“Sedikit saja,” kata Zhou. “Kalau kebanyakan nanti aku… ah, sudahlah.”
Zhou Luoyang duduk di samping Du Jing, menuang sedikit anggur untuk dirinya sendiri. Du Jing hendak menambahkannya dan berkata, “Minum segini saja? Ketahanan alkoholmu makin lama makin buruk.”
Zhou Luoyang menahan gelasnya dengan tangan. “Jangan, sudah cukup. Kamu tidak memundurkan waktu lagi, ‘kan? Aku tidak mau mengalami semua itu lagi.”
Du Jing mengangkat alis, tidak memberi jawaban pasti.
Zhou Luoyang memandang keluar jendela besar, menatap suasana malam di Bangkok. Dari Kota Wan, ke Hong Kong, lalu ke Kota Ho Chi Minh, ke Kamboja, hingga Bangkok. Semuanya terasa seperti mimpi panjang yang penuh gejolak.
“Sudah jam dua belas,” kata Du Jing kepadanya.
Waktu, seperti biasanya, mengalir perlahan. Zhou Luoyang mulai merasa bahwa hidup tanpa harus mengalami pengulangan waktu yang mengerikan justru adalah sebuah kebahagiaan.
Keduanya tidak berbicara lagi. Wajah Zhou Luoyang memerah sedikit karena anggur. Ia menoleh ke arah Du Jing.
“Kamu tahu,” kata Zhou Luoyang, “saat kita merangkak di lorong rahasia itu… aku memikirkan sesuatu.”
“Memikirkan kalau aku mati,” jawab Du Jing datar, “bagaimana nasibmu? Atau membayangkan aku mati di depanmu?”
“Bukan,” Zhou Luoyang menatap luka-luka tampan di wajah Du Jing, lalu tersenyum sendu. “Bukan itu.”
“Lalu apa?”
Zhou Luoyang tidak menjawab. Ia tidak tahu apa yang akan berubah antara mereka bila ia mengatakannya. Ia sempat ingin mengucapkannya—pikiran yang muncul sesaat di tengah lautan waktu, seperti gelembung yang sekejap naik ke permukaan.
Namun ada kata-kata yang, begitu tertahan dalam diam, justru makin sulit untuk diucapkan. Semakin panjang diam itu berlangsung, semakin kecil pula kesempatan untuk mengatakan hal tersebut.
Setelah beberapa menit keheningan, Du Jing memperhatikan Zhou Luoyang.
“Setelah mengalami tekanan sebesar itu, kamu tidak ingin… melepaskan keteganganmu sedikit?” tanya Du Jing tiba-tiba.
“Apa?” Zhou Luoyang memandangnya. “Melepaskan bagaimana?”
Du Jing mengangkat tangan besarnya, membuat gerakan naik–turun di udara, dan menatap Zhou Luoyang dengan serius.
Seketika wajah Zhou Luoyang memerah. “Bukan! Aku bukan bermaksud begitu.”
Itu terlalu tidak masuk akal. Ia tahu Du Jing masih mengingat kejadian itu. Zhou menenggak sisa anggurnya, lalu berdiri. “Aku tidur dulu.”
“Tidurlah,” jawab Du Jing. “Aku mau duduk di sini sebentar lagi.”
Keesokan harinya, Zhou Luoyang melapor atas kehilangan paspor dan mengajukan yang baru. Sambil menunggu prosesnya, tidak ada yang bisa dilakukan semua orang. Zhou Luoyang akhirnya memutuskan pergi berdoa ke kuil Brahma di pusat kota Bangkok.
“Tempat ini punya nama lain,” kata Zhou Luoyang pada Du Jing. “Kamu tahu apa?”
“Kuil Erawan,” jawab Du Jing.
Setelah berdoa di depan patung Brahma, mereka tanpa sengaja bertemu Lu Zhongyu di luar Erawan. Ia memakai kacamata hitam, mengenakan kaus gym terbuka di bagian pinggang, rompi longgar, celana pendek, dan sepatu olahraga. Ia juga datang untuk berdoa. Saat melihat Zhou Luoyang dan Du Jing, ia bersuit ke arah mereka.
“Maaf kalau harus berterus terang,” kata Zhou Luoyang, “tapi pakaianmu benar-benar terlihat sangat… gay.”
“Aku memang gay,” jawab Lu Zhongyu tenang.
Du Jing merangkul bahu Zhou Luoyang. Mereka memandang Lu Zhongyu berlutut dan memberi hormat ke empat sisi patung Brahma. Setelah itu, Lu Zhongyu berkata, “Mau makan bareng? Atau minum teh? Yang lain ke mana?”
Zhou Luoyang lalu mengirim pesan ke yang lain. Ponsel Du Jing hilang, dan ponselnya adalah tipe khusus yang harus dipesan dari luar negeri. Sementara itu, Zhou Luoyang membeli ponsel di Bangkok untuk sementara dan masuk menggunakan akun kontak Du Jing.
Enam orang dari ruang bawah tanah kemudian berkumpul di sebuah bar untuk minum teh sore sambil mengobrol. Kun dan De’an menyebutkan nama asli mereka. Kun bernama Shao Xinghong, De’an bernama Jiang Yupeng, dan Xiao Wu ternyata bernama Wu Fengwen. Namun bagi Zhou Luoyang, nama bukan lagi hal yang penting.
“Setelah pulang, kalian tetap harus menjalani pemeriksaan lanjutan,” jelas Lu Zhongyu. “Tidak tahu apakah Huang Ting sudah mengatakannya atau belum.”
“Sudah,” kata Kun. “Kami akan buat berita acara.”
Pihak dalam negeri masih harus menyelidiki ruang bawah tanah itu dan kasus pencucian uang, tetapi itu adalah urusan Huang Ting.
“Kau bukan polisi kriminal,” kata Zhou Luoyang. “Apa sebenarnya masalahmu dengan Hong Hou?”
Lu Zhongyu menghela napas. Ia mengambil es kopi, meminumnya sedikit, kemudian berpikir sejenak.
Du Jing melihat ponselnya. “Aku harus pergi sebentar, ada hal yang harus kuurus.”
Zhou Luoyang ikut melihat pesan itu. Rupanya Huang Ting sedang mencarinya, jadi ia mengangguk, memberi isyarat agar Du Jing pergi.
“Waktu bertugas di Libya,” kata Lu Zhongyu, “Aku punya seorang adik seperjuangan yang sangat baik. Bisa dibilang… kami benar-benar pernah menghadapi situasi hidup dan mati bersama.”
Zhou Luoyang tadinya hanya bertanya sekadar basa-basi. Ia sadar hal itu mungkin menyentuh luka lama Lu Zhongyu, maka ia berkata, “Baik, aku mengerti.”
“Tidak, tidak,” Lu Zhongyu mengibaskan tangan. “Memang mau kuceritakan juga. Tidak apa-apa, sudah berlalu. Malah aku harus berterima kasih pada kalian, sudah membalaskan dendam itu untukku. Kalau hanya aku sendirian di dalam ruang bawah tanah itu, aku pasti tidak akan mungkin bisa keluar.”
Itu memang benar.
Lu Zhongyu melanjutkan, “Dia orang Vietnam. Punya pacar. Dia lebih dulu pensiun, dan kami sepakat, kalau aku sudah pensiun, aku akan ke Saigon. Kami mau buka bisnis kecil, mungkin kafe.”
Xiao Wu bertanya, “Jadi kau menyukai seorang laki-laki straight?”
“Tidak bisa dibilang suka,” jawab Lu Zhongyu setelah berpikir. “Lebih tepatnya… tidak bisa dipisahkan saja. Tapi dia mau menikah, mau punya istri. Aku benar-benar ikut senang untuknya. Dia itu seperti saudara dekat bagiku.”
Zhou Luoyang mengangguk. Lu Zhongyu melepas kacamata hitam dan menatapnya sebentar. Zhou Luoyang sempat berpikir bahwa nama orang ini cocok sekali dengan wajahnya—tampan, alis tegas—bahkan sesama lelaki pun mudah simpatik melihatnya.
“Kemudian istrinya… diperlakukan tidak pantas oleh orang-orang Hong Hou,” kata Lu Zhongyu. “Sudahlah, detailnya tidak usah kubahas. Setelah itu dia mencari orang untuk balas dendam dan malah ditangkap. Lalu dikirim ke dark web sebagai… ‘peliharaan jarak jauh’.”
Semua orang terkejut.
“Apa?” kata Xiao Wu.
“Kalian tidak tahu?” kata Lu Zhongyu. “Pertarungan kita kemarin itu disiarkan di dark web. Orang Rusia, Amerika, Ukraina—Hong Hou punya sebuah klub. Setelah pertandingan berakhir, siapa pun yang masih hidup dan menang akan dibawa ke ruang bawah tanah lain. Di sana akan disiarkan penyiksaan pelan-pelan, sampai mati.”
Zhou Luoyang kira-kira sudah bisa menebaknya, tapi yang lain baru mengetahuinya sekarang. Seketika, mereka merasa merinding.
Lu Zhongyu tersenyum tipis. “Sekarang sudah aman. Tidak perlu takut.”
“Apa kau sendiri melihatnya?” tanya De’an. “Aku pernah dengar bisnis semacam itu.”
“Ya,” jawab Lu Zhongyu. “Aku menontonnya dari awal sampai akhir. Saudara baikku itu… ya, akhirnya meninggal. Meninggal dengan sangat hina. Dan aku baru tahu enam bulan setelah kejadian.”
Nada bicara Lu Zhongyu ringan, tidak menjelaskan detail. Tapi Zhou Luoyang tahu, dendamnya pada Hong Hou adalah sesuatu yang tidak akan pernah hilang—sekalipun Hong Hou sudah mati.
“Sekarang klub itu sudah dibereskan,” kata Zhou. “Hong Hou memang pantas mati.”
“Masih ada banyak yang serupa,” kata Lu Zhongyu. “Perdagangan manusia, budak seks… kalau nanti ada waktu, aku akan urus satu per satu. Bunuh satu, berkurang satu. Kalau kalian ada petunjuk, hubungi saja aku.”
“Semoga berhasil,” kata Zhou Luoyang.
“Ayo, beri aku tos!” seru Lu Zhongyu sambil tersenyum cerah, seperti anak muda penuh energi. Ia mengangkat tangan, dan semua orang menepuknya satu per satu.
Beberapa hari kemudian, Zhou Luoyang menerima surat identitas sementara, dan akhirnya bisa naik pesawat pulang bersama yang lain.
“Rindu rumah?” tanya Du Jing.
“Sangat. Aku rindu sekali.” Belum pernah sebelumnya Zhou Luoyang seingin itu kembali ke wilayah Tiongkok.
Semua orang menghela napas lega. Saat pesawat mendarat di Kota Wan, mereka saling memeluk di bandara, saling berpamitan, dan berjanji akan berkumpul lagi suatu waktu.
“Sampai di rumah nanti,” kata Du Jing pada Xiao Wu, “telepon orang ini. Demi menyelamatkanmu, dia sampai mengeluarkan imbalan sepuluh juta untuk meminta kami bergerak.”
“Baik,” kata Xiao Wu dengan wajah sedikit kesal.
Zhou Luoyang dan Huang Ting berdiri menunggu Zhuang Li menjemput dengan mobil.
“Aku tidak ikut dengan kalian,” kata Huang Ting. “Aku harus kembali ke kantor cabang untuk melapor.”
“Apa semua sudah beres?” tanya Zhou Luoyang.
“Ruang bawah tanah itu sudah disegel,” jawab Huang Ting. “Pemiliknya ditangkap. Selanjutnya tahap pengumpulan barang bukti. Mungkin nanti kau dan Chen Biaojin yang di Vietnam perlu menjadi saksi.”
Zhou Luoyang menatap Huang Ting dengan raut penuh keraguan. “Kalau aku harus jadi saksi di persidangan, apa keuntungannya untukku?”
Huang Ting menjawab dengan serius, “Kawan kecil, menegakkan keadilan dan memberantas kejahatan adalah tugas yang mengutamakan kepentingan semua orang. Kamu masih ingin menuntut keuntungan?”
Zhou Luoyang hanya bercanda, jadi ia tak tahu harus tertawa atau mengeluh. “Kau selalu bersikap seperti ini pada semua orang? Nona Lin Di sudah kau hubungi? Bagaimana dengan urusan calon pacar?”
Huang Ting langsung berkata, “Aku lupa. Nanti akan kucari dia.”
“Cobalah jadi orang yang sedikit lebih menarik,” kata Zhou Luoyang.
“Watak sulit diubah,” ujar Huang Ting. “Aku tidak bisa bersikap seenaknya.”
“Menarik bukan berarti harus bersikap seenaknya. Lihat saja Du Jing—dia selalu berwajah datar, tapi tetap menarik, bukan?”
“Itu tergantung orangnya,” jawab Huang Ting. “Siapa tahu Nona Lin juga menganggapku menarik?”
Zhou Luoyang mengamati Huang Ting sejenak. “Kurasa itu sulit.”
“Membicarakan hal itu,” Huang Ting berhenti sejenak lalu bertanya, “apa pendapatmu tentang kondisi Du Jing?”
“Huh?” Zhou Luoyang tak mengerti apa maksud pertanyaan itu.
Sejak episode mania terakhir, kondisi Du Jing memang membaik. Zhou Luoyang tidak paham arah pembicaraan Huang Ting. “Apa kau punya dokter yang bisa kau rekomendasikan?”
“Dokter… tidak ada,” jawab Huang Ting. “Tapi aku tiba-tiba teringat sesuatu. Pernahkah kalian mencoba terapi hipnosis?”
Zhou Luoyang tahu gangguan bipolar Du Jing bersifat turunan—lebih banyak berakar pada faktor fisiologis. Konseling psikologis bisa membantu, namun apakah bisa menyembuhkan hanya lewat jalur psikologis, itu belum pasti.
“Belum,” Zhou Luoyang menggeleng. “Aku tidak berani membiarkannya mencoba sembarangan.”
“Aku tahu…” kata Huang Ting. “Ada… hmm, semacam kondisi, atau lebih tepatnya seorang—sekelompok hipnoterapis. Mereka menggunakan rekonstruksi mimpi dan hipnosis untuk memperbaiki kondisi mental.”
“Mimpi?” Zhou Luoyang bertanya. “Mereka bisa mengendalikan seseorang bermimpi apa?”
“Sulit dijelaskan,” kata Huang Ting. “Prosesnya rumit. Aku sendiri tidak terlalu paham. Tapi kalau suatu hari ada kesempatan, apakah kau ingin Du Jing mencobanya?”
Zhou Luoyang sadar pasti ada risikonya. Ia tidak mengucapkan kalimat klise seperti ‘biarkan Du Jing sendiri yang memutuskan’. Dengan hubungan mereka sekarang, ia sudah menjadi orang yang bersedia menanggung risiko itu—karena mereka hanya mempunyai satu sama lain.
“Bisa dipertimbangkan,” kata Zhou Luoyang perlahan. “Kalau memang ada kesempatan, aku ingin ia mencoba terapi itu. Tapi sebelum itu, aku harus bertemu dengan hipnoterapis tersebut dan memahami risikonya.”
“Aku tidak tahu bagaimana keadaan orang itu sekarang,” ujar Huang Ting. “Beberapa waktu lagi, kalau aku bertemu dengannya, akan kuatur pertemuan untuk kalian.”
“Terima kasih.” Zhou Luoyang dengan sangat tulus berkata.
“Jangan lupa bantu aku bicara hal-hal baik tentangku pada Nona Lin,” kata Huang Ting.
Zhou Luoyang tak tahu harus tertawa atau apa. Setelah itu, Huang Ting berpamitan dan turun ke stasiun kereta bawah tanah.
Xiao Wu juga sudah pergi. Du Jing dengan membawa tas selempangnya berjalan mendekat.
Hari itu, sinar matahari di Kota Wan sangat hangat. Cahaya musim dingin yang cerah menembus dinding kaca gedung terminal. Zhou Luoyang tiba-tiba merasa seolah waktu berputar kembali ke musim dingin beberapa tahun lalu—hari ketika ia menjemput Du Jing yang pulang liburan di bandara Huizhou.
Saat itu mereka masih mahasiswa, hidup belum memberatkan. Zhou Luoyang pernah berpikir, ia dan Du Jing mungkin akan seperti itu untuk waktu yang sangat lama, bahkan mungkin seumur hidup.
Du Jing saat itu tampak sama seperti Du Jing hari ini—rambutnya sedikit berantakan, luka-luka di wajahnya terlihat lebih jelas di bawah cahaya matahari, dan setelah lama tak bertemu, justru tampak semakin familiar dan menarik.
Hari itu pula, Zhou Luoyang mulai menyadari… ia mungkin menyukai Du Jing.
“Malam ini mau makan apa?” tanya Du Jing, kata-katanya sama seperti beberapa tahun lalu.
“Kita makan di luar saja,” kata Zhou Luoyang, mengulang jawaban masa lalu. “Tidak ingin memasak. Ayo minum sedikit. Sudah lama tidak bertemu. Aku sangat merindukanmu.”
“Baru sepuluh menit,” Du Jing mengernyit.
Zhou Luoyang tertawa kecil. Du Jing merangkul bahunya, dan mereka keluar dari bandara untuk mencari taksi untuk pulang.
—Buku 2 · Masa Kini · Selesai—