Penerjemah: Jeffery Liu
MASA LALU
“Sedang memikirkan sesuatu?” Dari kaca spion, Du Jing melirik mata Leyao.
Leyao memaksakan senyum. Di wajahnya, senyum seperti itu hampir selalu muncul—seakan suka dan dukanya hanya reaksi yang ia tampilkan demi menyesuaikan diri dengan orang-orang di sekitarnya.
“Aaron hari ini tidak datang?” Zhou Luoyang membawa ukiran kayu khas Asia Tenggara untuk Aaron, sebagai ucapan terima kasih karena sudah menjaga adiknya.
“Aku suruh dia pulang dulu,” kata Leyao. “Sebentar lagi libur Natal, lanjut ke libur Tahun Baru. Kalian akan pergi ke luar kota?”
Sekolah Leyao adalah sekolah internasional. Libur dimulai pada tanggal 24 Desember sampai 4 Januari. Namun waktu libur musim dingin lebih pendek daripada sekolah dalam negeri, hanya dua minggu.
“Kakakmu bilang dia mau tinggal di rumah menemanimu, tidak ke mana-mana,” kata Du Jing sambil menyetir, nada suaranya tenang.
Zhou Luoyang berkata, “Bos Du bilang mau mengajak kita liburan. Kamu mau pergi?”
Wajah Leyao menampakkan perubahan sekejap, tetapi ia segera tersenyum. “Mau.”
Du Jing tidak menanggapi. Saat tiba di rumah, ia langsung pergi menyiapkan makan malam. Zhou Luoyang melihat rumah sudah rapi sekali, lalu bertanya pada Du Jing, “Kamu memanggil orang untuk bersih-bersih lagi?”
“Tidak.” Du Jing mengenakan celemek, memandangi buku resep sambil mempelajari cara membuat ayam panggang garam. Bagi seorang pemula, langsung menantang hidangan sesulit itu benar-benar rumit. Baginya, menerjang hujan peluru tampaknya lebih mudah daripada memasak.
“Aku yang merapikan,” kata Leyao. “Aku habiskan tiga hari buat bersih-bersih rumah.”
Zhou Luoyang: “……”
“Lumayan, ‘kan? Lihat, aku juga bisa mengurus pekerjaan rumah,” kata Leyao.
Zhou Luoyang memegangi kening. Saat itu ponsel Leyao berbunyi. Ia meliriknya, bermaksud mengambilnya, tetapi Leyao dengan cepat merebutnya.
Itu nomor tak dikenal. Ia hanya menjawab dengan beberapa kali “ya”, lalu menutup telepon. Zhou Luoyang menatapnya heran. “Siapa?”
Ekspresi Leyao agak canggung. “Teman sekolah.”
Teman sekolah pakai nomor tidak dikenal? Tidak ada nama tersimpan? Leyao sebelumnya tidak pernah menghindari telepon di depan dirinya. Zhou Luoyang sudah terbiasa, dan ini adalah pertama kalinya ia melihat yang seperti itu.
Ia sadar Leyao juga mulai punya hal-hal yang tidak ingin ia jelaskan. Meski mereka saudara kandung, tetap harus saling menghormati ruang pribadi. Hal yang paling ia khawatirkan hanyalah penagih utang seperti Mu Ye, asal bukan mereka, semuanya tidak masalah.
Saat makan malam, suasana meja makan dipenuhi keheningan yang janggal. Du Jing menuangkan sedikit anggur, lalu menuangkan untuk Zhou Luoyang juga. Zhou Luoyang paham maksudnya adalah merayakan keselamatan mereka sepulang perjalanan; hanya saja hal itu tentu tidak boleh diucapkan di depan adiknya.
“Mau minum sedikit?” kata Du Jing. “Coba masakan yang kubuat.”
“Aku tidak minum,” kata Leyao.
Namun ia berubah pikiran. “Baiklah, sedikit saja.”
Seharian penuh, mood Zhou Luoyang sebenarnya sangat baik. Kembali ke lingkungan yang familiar—meski berkabut seperti kota Wan—membuatnya merasa nyaman. Hanya saja suasana malam ini tidak benar. Baik Du Jing maupun Leyao tak banyak bicara, membuat Zhou Luoyang merasa seperti berbicara dengan dirinya sendiri. Sebagian besar waktu hanya diisi minum dan diam.
“Lebih enak daripada masakanku,” Zhou Luoyang tertawa.
“Lumayan,” jawab Du Jing acuh tak acuh sambil menuang anggur lagi.
“Kurangi sedikit,” kata Zhou Luoyang.
Leyao berusaha mencari topik, bercerita beberapa hal tentang sekolah, tapi kemudian kembali sunyi.
“Kamu sedang memikirkan sesuatu?” Zhou Luoyang bertanya pada Leyao. Ia merasa sejak Du Jing datang, adiknya jadi semakin pendiam.
“Tidak,” ujar Leyao cepat. “Aku sangat senang.”
“Kalau liburan, kamu ingin ke mana?” tanya Zhou Luoyang.
“Ke mana pun terserah kalian.”
“Kamu tidak punya tempat yang ingin dikunjungi?”
“Aku ingin kembali ke Jepang, boleh?” kata Leyao tiba-tiba. “Tidak harus ke Tokyo. Bisa ke Nara, atau Kyoto.”
Zhou Luoyang agak terkejut. Sebenarnya ia tidak terlalu ingin kembali ke Jepang. Di sana terjadi terlalu banyak hal yang mengubah hidup mereka. Ia pikir Leyao juga tidak ingin kembali. Rencananya adalah pergi ke Indonesia atau Sri Lanka untuk merayakan Natal. Tak disangka Leyao justru yang mengusulkan pulang ke Jepang.
Zhou Luoyang menoleh pada Du Jing. Du Jing berkata, “Kalian berdua putuskan saja. Aku ikut ke mana pun.”
Sambil berkata begitu, Du Jing mengambil satu mangkuk lagi, mengupaskan udang untuk mereka berdua, lalu menuangkan anggur lagi.
“Tentu bisa,” kata Zhou Luoyang senang. “Mau ke Nara untuk berendam air panas? Sekalian lihat rusa, lalu Tahun Baruan di Osaka?”
Untuk sesaat, Leyao benar-benar tampak gembira. “Aku bisa melihat rusa yang kuadopsi!”
Zhou Luoyang teringat bahwa keluarga paman dari pihak ibu Leyao tinggal di Kyoto. Sejak ayah mereka meninggal karena kecelakaan, hubungan mereka jarang terjalin. Sesekali mereka menelepon saat hari raya untuk menanyakan keadaan Leyao. Zhou Luoyang sendiri tidak mahir berbahasa Jepang, jadi ia hanya membiarkan Leyao berbicara dengan mereka.
“Kita mampir ke rumah pamanmu,” kata Zhou Luoyang. “Beli sedikit hadiah… Du Jing, kamu sudah minum berapa banyak? Jangan minum lagi!”
Du Jing sudah menghabiskan dua botol anggur, tetapi wajahnya tetap biasa saja. Ia menatap Zhou Luoyang dalam diam.
Suasana terasa tidak wajar. Leyao juga menyadarinya, tetapi ia tidak berkata apa-apa, hanya makan dengan tenang. Du Jing menggeserkan mangkuk ke arahnya. “Makanlah yang ini.”
“Aku bisa mengupas sendiri,” kata Leyao. “Berikan itu untuk kakak.”
Zhou Luoyang berkata, “Kenapa hari ini kalian berdua terasa aneh? Hei.”
Di bawah meja, Zhou Luoyang menggeser kaki, menendang perlahan Du Jing, menyuruhnya bicara jika ada sesuatu.
“Kamu tidak enak badan?” tanya Zhou Luoyang pada Du Jing.
Du Jing tidak menjawab. Tiba-tiba ia tersenyum. Dalam cahaya lampu ruang makan, senyumnya tampak hangat. Ia mengenakan sweter wol tipis berwarna hitam, gelang jam Mata Forseti di pergelangannya memantulkan kilau biru yang mempesona.
Zhou Luoyang berpikir, Sama sekali tidak kelihatan seperti orang yang sakit jiwa. Gila, tampan sekali.
Ia jarang melihat Du Jing tersenyum, dan ia sendiri tidak tahu mengapa pemandangan itu memberinya rasa hangat rumah yang sudah lama hilang.
“Kalau tidak apa-apa, syukurlah,” kata Zhou Luoyang. Selama Du Jing tidak kambuh, ia tidak akan memaksa untuk menggali apa pun. Kalau Du Jing ingin bicara, ia pasti akan bicara. Kalau tidak ingin, dipaksa pun tidak ada gunanya.
Setelah hening beberapa saat, Du Jing tiba-tiba berkata, “Karena hari ini aku mengundurkan diri.”
Zhou Luoyang: “!!!”
“Kamu…” Zhou Luoyang tak percaya. “Kenapa baru bilang sekarang?!”
“Karena terlalu berbahaya. Aku tidak mau melanjutkan,” jawab Du Jing.
We’re sorry for MTLers or people who like using reading mode, but our translations keep getting stolen by aggregators so we’re going to bring back the copy protection. If you need to MTL please retype the gibberish parts.
Leyao tetap diam, hanya menyesap sedikit anggur.
Zhou Luoyang tidak mengucapkan kalimat semacam ‘kenapa tidak diskusi dulu‘. Saat Du Jing mengatakan ia berhenti, kebahagiaan di mata Zhou Luoyang hampir mustahil disembunyikan.
“Pcl iejg yljrj!” Itbe Oebsjcu yfcjg-yfcjg rfcjcu rjwqjl ylcuecu tjger yfgxjaj jqj. “Dfcjg-yfcjg iejg yljrj! Bjwe… xjwe jxtlgcsj wfweaerxjc…”
“Ufcutjcuja rfyfiewcsj lae tjvljt xfcjcu-xfcjcujc vjgl jajrjc,” xjaj Ge Alcu. “Vfwej sjcu qfgcjt wfcpjvl fxrfxealo Jtjcusl wfcvjqja tjvljt rfqfgal lae.”
Tidak heran, pikir Zhou Luoyang. Du Jing menambahkan, “Maksudnya untuk dijadikan tameng kalau kena tembakan.”
Itbe Oebsjcu tjwqlg alvjx ajte tjger afgajkj jaje wfcjculr. “Dfcjg-yfcjg iejg yljrj!”
Ia berdiri dan hendak memeluk Du Jing. Namun Du Jing tampak agak canggung, menghindar, lalu bangkit membereskan piring. “Bonus akhir tahun tetap diberikan. Bulan terakhir ini aku masih harus sesekali ke kantor, membantu urusan administrasi.”
Leyao bertanya, “Lalu kamu ingin melakukan apa setelah ini?”
“Membuka toko?” kata Du Jing asal. “Belum terpikir. Lihat nanti.”
“Beristirahatlah dulu,” kata Zhou Luoyang. “Kamu juga cukup lelah bekerja di Changyi.”
Du Jing hanya bergumam pelan. Kegembiraan Zhou Luoyang terlalu sulit untuk digambarkan. Ia bahkan sempat lupa pada Leyao, mengikuti Du Jing ke dapur. “Kamu istirahat saja, biar aku yang kerjakan.”
“Beberapa hari ini periksa akun bank,” kata Du Jing. “Uangnya akan ditransfer. Kalau masih kurang untuk melunasi utang, sisanya biar kupikirkan caranya.”
“Sudah cukup,” kata Zhou Luoyang. “Setelah Tahun Baru, kita cari pekerjaan baru, atau jaga toko saja. Aku percaya kita bisa.”
Du Jing selesai merapikan, memasukkan peralatan makan ke mesin cuci piring. “Berarti jam tangan itu sudah tidak perlu digunakan lagi.”
Zhou Luoyang berdiri di samping, memperhatikan gerakannya, tiba-tiba merasa haru.
“Benar,” kata Zhou Luoyang. “Hari itu… benar-benar terlalu berbahaya.”
“Menyeretmu ke situasi seperti itu,” kata Du Jing, “itu tanggung jawabku…”
“Tidak, bukan begitu,” Zhou Luoyang segera berkata. “Aku tidak pernah berpikir seperti itu. Aku hanya berharap…”
“Aku tahu,” Du Jing memotongnya. Ia menekan tombol mesin pencuci piring. “Kamu hanya ingin selalu mendampingiku. Setidaknya, saat berhadapan dengan hidup dan mati, aku tidak harus sendirian.”
Zhou Luoyang terdiam. Hidungnya tiba-tiba terasa panas.
Du Jing melirik keluar. “Nanti saja kita bicarakan lagi. Pergilah temani Leyao. Kalian berdua sudah berpisah terlalu lama.”
Zhou Luoyang mengangguk. Ia punya banyak hal yang ingin ia katakan, tetapi mereka juga punya banyak waktu untuk mengatakannya.
Leyao duduk di kursi roda, menatap kosong ke arah jendela besar ruang tamu—tempat Du Jing duduk ketika ia mengalami episode depresinya tidak lama lalu.
“Kamu mau mandi dulu?” Zhou Luoyang yang sedikit mabuk berjalan berputar-putar di ruang tamu.
“Baik,” kata Leyao. “Aku mandi sekarang.”
Zhou Luoyang mendorong kursi roda adiknya masuk ke kamar mandi, mengambilkan pakaian untuknya. Ia melihat pakaian Leyao terlipat sangat rapi.
“Kalian di Hong Kong mengalami sesuatu, ya?” tanya Leyao sambil masuk ke kamar mandi, menarik celananya dengan susah payah.
Zhou Luoyang langsung berkata, “Tidak. Kenapa kamu bilang begitu?”
“Aku merasa hubungan kalian sekarang agak berbeda,” kata Leyao. “Kalian mengalami sesuatu yang berbahaya, ya?”
“Tidak kok.” Zhou Luoyang tertawa. “Dari mana kamu kepikiran begitu?”
Namun ia merasa tidak tenang. Ia tahu adiknya biasanya hanya memilih tidak bertanya, padahal dengan kecerdasannya, Leyao hampir selalu bisa menebak sendiri. Paspor dan ponsel mereka hilang bersamaan; sulit menjelaskan bahwa itu hanya karena kecerobohan.
Alasan yang ia berikan adalah: ia membawa tas punggung, dan ponsel Du Jing juga disimpan di tas itu, lalu tiba-tiba dicopet.
Leyao tidak bertanya lebih jauh, tetapi jelas ia bisa merasakan bahwa pasti telah terjadi sesuatu pada mereka.
“Apa yang terasa berbeda?” tanya Zhou Luoyang. “Du Jing memang selalu begitu, bukan?”
Di balik tirai kamar mandi, Leyao duduk di dalam bak, mulai mandi. Dengan tenang ia berkata, “Cara kamu melihatnya… dan cara dia melihatmu… tidak sama seperti dulu. Seperti… seperti…”
Zhou Luoyang tertawa, tak tahu harus bagaimana menanggapinya. “Seperti apa?”
“Seperti dua orang yang baru saja mengalami kecelakaan dan lolos dari maut.” Leyao berkata setengah bercanda. “Ingat tidak? Setelah aku siuman, aku ikut konseling pemulihan trauma, yang semua orang duduk melingkar dan berbagi cerita itu. Ada satu pasangan di sana. Perasaan kalian mirip seperti mereka.”
“Benar-benar tidak ada apa-apa,” kata Zhou Luoyang asal saja. “Kamu terlalu banyak menebak.”
Leyao hanya menggumam. Dari balik tirai, terdengar suara air. Zhou Luoyang tiba-tiba ingin tertawa. Ia sendiri memang teledor; belum pernah mengalami kecelakaan mobil, tetapi pernah benar-benar jatuh dari helikopter yang menabrak hutan! Dan ia malah tidak merasakan gejala trauma apa pun.
“Kakak, bagaimana kamu mengenal Du Jing?” tanya Leyao tiba-tiba.
“Hm?” Zhou Luoyang tersadar. “Aku sudah pernah bilang, ‘kan? Kami teman sekamar.”
“Hanya hubungan teman sekamar saja?”
“Seperti kamu dan Aaron, kurang lebih,” jawab Zhou Luoyang.
Leyao berhenti bergerak. “Adakah orang ketiga di antara kalian? Maksudku, sejak awal sampai akhir, hanya kalian berdua saja di kamar? Kalian tidak pernah berteman dekat dengan teman sekelas lain?”
“Tidak.” Zhou Luoyang baru teringat. Hubungannya dengan Du Jing memang sangat eksklusif. Setelah insiden dengan Sun Xiangchen, mereka berdua makin sadar akan hal itu.
Dilihat dari masa itu, mereka memang punya persahabatan yang sangat kuat. Keduanya tidak pernah berpikir ke arah lain. Hanya saja penyakit Du Jing membuat hubungan itu menjadi hubungan yang sangat tertutup.
“Hubungan kalian memang tidak memberi ruang untuk orang lain,” kata Leyao sambil tertawa.
“Bukan begitu,” kata Zhou Luoyang. “Kami hanya… merasa tidak perlu membawa teman lain untuk ikut bermain.”
Lalu ia sadar arah pembicaraan Leyao. “Kamu berbeda. Dia menganggapmu sebagai adik.”
“Aku tidak bermaksud apa-apa.” Leyao tertawa kecil. “Aku hanya penasaran… uh… kalian berdua… Kakak.”
Zhou Luoyang: “Hm?”
Leyao berpikir sejenak, lalu berkata tiba-tiba, “Kalian pernah mencoba… misalnya dalam hal tertentu…”
Zhou Luoyang: “…………”
Zhou Luoyang langsung teringat sesuatu, lalu tersadar bahwa Leyao sedang berada di masa pubertas. Ia lumpuh karena kecelakaan, tetapi selain itu ia tetaplah remaja laki-laki biasa, wajar bila punya rasa penasaran dan dorongan hormon.
Leyao setengah bercanda berkata, “Anak-anak laki-laki di kelasku sering saling bercanda. Kadang di asrama, mereka akan… ya, tentu saja sambil tetap memakai pakaian…”
Zhou Luoyang langsung waspada. “Leyao, Aaron tidak melakukan apa-apa padamu, ‘kan?”
Leyao bingung. “Tidak. Kenapa kakak bilang begitu?”
Zhou Luoyang cepat berkata, “Salahku. Aku tidak seharusnya berprasangka.”
Sebenarnya ia tidak merasa Aaron punya niat macam-macam pada adiknya. Ia bertanya begitu hanya agar Leyao tidak merasa canggung. Dibandingkan sikap Aaron terhadap Leyao, yang lebih membuat Zhou Luoyang cemas adalah apakah Leyao akan menaruh perasaan tertentu karena setiap hari dirawat olehnya.
Kalau hanya memindahkan rasa sayang pada seorang kakak ke Aaron, itu masih bisa diterima. Yang ia takutkan adalah kemungkinan lain… Leyao belum dewasa sepenuhnya, dan orientasi seksualnya belum bisa dipastikan.
Leyao berkata, “Aku hanya penasaran. Kalian tidak pernah melewati batas? Aku dengar episode mania bisa menyebabkan gairah… sangat meningkat. Aku tidak bermaksud apa-apa…”
Zhou Luoyang hanya bisa tertawa pahit. “Kamu tahu ini dari mana? Du Jing itu…”
Saat itu juga, Du Jing masuk sambil bersiul, mengocok busa cukur dua kali dan mengoleskannya ke wajah.
“Du Jing!” Zhou Luoyang menegur, tak senang.
Du Jing sekilas menatapnya, lalu menyerahkan ponsel. “Dua bersaudara ini lagi membicarakan aku di belakang ya? Leyao, ini ada telepon untukmu.”
Leyao langsung tegang, menerima ponsel dan melihat layarnya. Begitu melihat itu adalah Aaron Zhang, ia pun mengangkatnya. Sementara itu, Du Jing selesai bercukur dan keluar kamar mandi.
Aaron mengobrol sebentar dengan Leyao, menanyakan soal makan malam, apakah kakak-kakaknya sudah pulang dan hal-hal kecil semacam itu. Zhou Luoyang tiba-tiba merasa suasana itu lucu—mirip dengan beberapa kali liburan dulu ketika Du Jing pulang ke Spanyol. Mereka juga akan saling menelepon setiap hari, mengobrol soal hal remeh-temeh yang tidak penting.
Zhou Luoyang pun berbicara sebentar dengan Aaron, menanyakan tentang sekolah dan berterima kasih karena sudah menjaga Leyao.
“Biasanya tidak ada masalah dengan Leyao, ‘kan?” Zhou Luoyang mengambil kembali ponsel itu dan menyuruh Leyao berpakaian sendiri. “Belakangan kalian pernah bolos dan diam-diam jalan-jalan?”
Di seberang, Aaron terdiam sejenak. “Tidak.”
Dari nada suaranya saja, Zhou Luoyang tahu ia sedang berbohong. Dalam hati ia menduga—pasti keduanya pernah bolos suatu hari. Tapi ia tak membongkar, pura-pura tidak tahu. Leyao berkata, “Aku sudah ganti baju. Berikan padaku ponselnya.”
Zhou Luoyang menyerahkan kembali ponselnya. Leyao berkata, “Aku mau ngobrol sebentar lagi lalu tidur. Kakak tidak perlu mengurusku.”
“Hm.” Zhou Luoyang mengecup keningnya. “Selamat malam.”
Du Jing sedang mandi. Zhou Luoyang mengetuk pintu, dan Du Jing berkata dari dalam, “Tidak dikunci. Mau masuk mandi bareng?”
“Aku bukan orang yang masuk ke kamar mandi orang lain tanpa mengetuk.” Zhou Luoyang mengumpulkan pakaian kotor Du Jing.
“Buat apa repot-repot?” Du Jing berkata. “Hatiku sudah kamu dapat. Tubuhku juga tidak kamu mau?”
“Simpan saja,” Zhou Luoyang balik menyindir. “Setelah kamu berhenti nanti, kamu tidak punya nilai guna lagi untukku.”
“Tunggu sampai aku menerima bonus akhir tahun baru boleh bicara begitu,” jawab Du Jing tenang.
Zhou Luoyang mencuci pakaian, mematikan lampu ruang tamu, lalu menatap tempat duduk adiknya dan tempat duduk Du Jing. Tiba-tiba ia tergerak, ikut duduk di depan jendela besar itu.
Apa yang mereka pikirkan saat duduk di sini? Zhou Luoyang sendiri tidak tahu.
Anggur merah yang diminumnya tadi ternyata cukup terasa belakangan. Du Jing mengambil sisa setengah botol dan menghabiskannya sendiri di dekat sofa.
Zhou Luoyang melihat labelnya, lalu meletakkannya. Kadang ia merasa tatapan Leyao sangat tajam, seolah bisa menembus segalanya—termasuk hal-hal wajar dan tidak wajar di antara dirinya dan Du Jing. Menghadapi rasa ingin tahu adiknya yang tanpa sadar muncul, Zhou Luoyang tak bisa menahan rasa bersalah itu.
Malam itu pun begitu—malam yang mirip ini—tak lama setelah Du Jing meninggalkannya.
Saat itu semester kedua tahun kedua kuliah mereka. Masih awal musim semi, masa rawan bagi orang dengan gangguan kejiwaan. Di musim semi, hormon melonjak, manusia seperti makhluk liar; asrama laki-laki sering terdengar suara orang menjerit tak jelas, seperti kucing jantan mengaum saat kawin.
Itu adalah musim semi kedua yang mereka lalui bersama, dan Zhou Luoyang sudah mempersiapkan diri sepenuhnya. Ia menduga Du Jing setidaknya akan kambuh satu kali. Bahkan mata kuliah semester itu pun ia pilih seminimal mungkin agar Du Jing bisa lebih santai, keluar berjemur, mengalihkan perhatian.
Klub panahan akan melepas ketua dan anggota lama yang akan lulus. Para senior tingkat empat hendak terjun ke dunia kerja, semua akan berpisah ke berbagai penjuru.
Oleh karena itu, ketua klub mengusulkan makan bersama lalu karaoke, sebagai acara perpisahan.
Beberapa hari lagi mereka semua akan masuk perusahaan masing-masing. Zhou Luoyang agak terpukul oleh perpisahan yang tiba-tiba itu. Dalam pikirannya, kelulusan tingkat empat masih terasa jauh, tak disangka waktu memasuki dunia kerja justru datang di momen seperti ini.
Zhou Luoyang dan Du Jing punya kedekatan yang cukup dalam dengan klub panahan; hubungan mereka dengan klub bahkan lebih kuat dibandingkan dengan kelas. Jadi mereka memutuskan ikut.
Malam itu, ketua klub mabuk berat hingga jadi tak karuan. Sudut bibir Zhou Luoyang berkedut, hanya duduk diam bersama Du Jing menonton semua itu.
Para senior tingkat empat itu pernah bersama-sama mengambil alih klub panahan dan membesarkannya hingga sebesar sekarang. Perasaan mereka terhadap klub tak dapat dibandingkan. Menjelang berpisah, semuanya menangis tak terkendali.
Zhou Luoyang merasa adegan besar penuh “gangguan jiwa” itu benar-benar rumit. Seperti kata orang: “Duka cita dan suka cita manusia tidak saling terhubung; aku hanya merasa mereka berisik.” Bahkan sedikit lucu. Namun saat ia teringat bahwa dirinya dan Du Jing, pada hari kelulusan nanti, mungkin juga akan menghadapi adegan seperti ini—senyumnya langsung hilang.
Ia tak tahan melirik Du Jing, lalu melihat orang lain lagi.
Du Jing sejak awal duduk menyendiri, tidak ikut minum bersama, tapi bila gelas diarahkan padanya, ia tetap meminumnya. Bahkan minuman yang ditujukan untuk Zhou Luoyang sebagian ia yang menolak.
“Jangan minum lagi,” kata Zhou Luoyang. “Kamu sudah minum berapa banyak?”
“Tak apa. Nanti pulang aku tidur saja. Aku tidak ikut karaoke.”
Musim semi ditambah alkohol—yang paling dikhawatirkan Zhou Luoyang adalah Du Jing kambuh. Begitu ada lagi yang datang mengajak minum, Zhou Luoyang langsung mengambil alih gelasnya.
“Kalian berdua akur sekali,” wakil ketua klub memapah ketua klub sambil menggaruk-garuk Zhou Luoyang. “Kalian pacaran, ya?!”
Semua orang tertawa riuh. Ketua klub menepuk dadanya dan berkata penuh penekanan, “Mereka bukan pasangan! Jangan asal bicara!”
“Semangat bekerja nanti,” Du Jing jarang-jarang membuka mulut, “terima transformasi sosial dengan baik, jadilah orang yang benar.”
“Baik! Pasti! Pasti!” kata sang ketua klub. “Jangan lupakan aku! Kalian berdua!” Ia dan wakil ketua berjalan pergi sambil merangkul bahu satu sama lain, masing-masing membawa sebotol anggur merah untuk diminum di tempat lain.
“Jangan lupakan dia,” Zhou Luoyang menggoda. “Dengar itu?”
Du Jing tidak menjawab. Ia hanya mendorong porsi dessert-nya ke arah Zhou Luoyang. “Habiskan, lalu kita pulang. Terlalu berisik.”
Du Jing juga mulai mabuk, satu tangan menopang dahinya. Zhou Luoyang sudah hilang selera makan dan hendak memapahnya, tetapi Du Jing memberi isyarat bahwa ia masih bisa bangkit sendiri.
“Kami duluan,” kata Zhou Luoyang pada semua orang. “Nanti hubungi lagi!”
Meski berkata begitu, Zhou Luoyang tahu malam ini adalah perpisahan yang sesungguhnya. Setelah malam ini, mereka hampir pasti tidak akan saling menghubungi lagi—seperti perpisahan waktu SMA. Tiada pesta yang tak berakhir; semua berjanji akan tetap berhubungan, tapi perlahan satu per satu lenyap dalam angin. Beberapa tahun kemudian, bahkan nama-nama teman sekelas pun nyaris tak teringat lagi.
Du Jing masih bisa berjalan lumayan stabil, meski jelas sudah mabuk, bau alkohol menguar dari tubuhnya. Satu lengannya melingkar di bahu Zhou Luoyang saat mereka keluar dari restoran dekat gerbang belakang kampus dan melewati jalan kampus.
Zhou Luoyang juga sedikit mabuk. Ia memeluk pinggang Du Jing, menahan tubuhnya. Jam sebelas malam, ia setengah mabuk sambil setengah menyanyi, “Angin bulan Juli, dirimu bulan Agustus, diri ini yang kecil hati menyukai dirimu yang jauh…” Mereka tertatih-tatih menuju asrama.
“Aaaah—!” Zhou Luoyang berteriak di tengah keheningan itu.
Angin musim semi bertiup, dunia kembali hening, tetapi di dalam keheningan itu ada suara-suara halus—bunga-bunga bermekaran, tunas-tunas pohon merekah, segala rerumputan menembus tanah, diam-diam berkembang di malam sunyi.
“Zhou Luoyang.” Kepala Du Jing makin merunduk. Ia mendekat ke telinga Zhou Luoyang dengan napas panas. “Dengar baik-baik.”
“Hm?” Zhou Luoyang menoleh sedikit.
Ia ingin terus berjalan, tetapi Du Jing tersandung dan menariknya, memaksanya berhenti.
Keduanya berdiri menghadap Danau Panjang di malam musim semi. Riak air berlapis-lapis, permukaan danau terang oleh sinar bulan. Bulan purnama menggantung seperti piring perak, memantulkan cahaya berkilauan di air.
“Zhou Luoyang…” Du Jing mendekat ke telinganya dan berkata, “Jangan lupakan aku. Jangan lupakan aku.”
Mendengar kalimat “jangan lupakan aku”, hati Zhou Luoyang seketika dipenuhi rasa tak berdaya dan perasaan yang sulit digambarkan. Mungkin pada akhirnya, akhir dari setiap hubungan hanyalah satu—lupa.
Begitu rendah hati, begitu sederhana. Dari permohonan “jangan tinggalkan aku” berubah menjadi “jangan lupakan aku”.
Zhou Luoyang menatap wajah Du Jing, menatap luka-luka di wajahnya. Mereka tak pernah benar-benar membicarakan masa depan masing-masing, tetapi pada saat itu, ia menepuk bahu Du Jing, membuat gerakan kecil seolah hendak mengecupnya, dan berkata, “Tidak akan.”
Detik berikutnya, Du Jing sudah mencium bibirnya—keras, penuh dorongan, hampir seperti menggigit.
Zhou Luoyang ingin tertawa, ingin mendorongnya atau menendangnya. Begitu Du Jing memalingkan wajah, Zhou Luoyang berkata, “Sudah, cukup, aku tahu.”
Tadi saat minum, para senior yang heteroseksual itu mabuk sampai saling peluk dan saling cium juga. Tetapi ciuman Du Jing… memiliki tekanan untuk menguasai dan menembus, membuat Zhou Luoyang ingin melepaskan diri. Untungnya, Du Jing tidak melakukan hal lain memanfaatkan mabuknya.
“Ayo kita turun berenang,” kata Du Jing. “Seluruh tubuhku panas sekali.”
“Jangan, jangan,” Zhou Luoyang masih cukup sadar. “Danau itu pernah ada yang tenggelam!”
“Omong kosong!” Du Jing mendadak mengaum marah. “Tidak ada yang mati!”
“Pokoknya…” Zhou Luoyang berkata, “tidak boleh turun!”
“Kalau sampai ada yang tenggelam,” gumam Du Jing parau, “yang satu-satunya itu… pasti aku. Zhou Luoyang… Zhou Luoyang…”
“Ayo, pulang!” Zhou Luoyang menyeretnya kembali ke asrama.
“Zhou Luoyang.” Nama itu terus ia ulang—seolah bagi Du Jing, itu adalah mantra.
Ini pertama kalinya Zhou Luoyang melihat Du Jing mabuk separah ini. Tapi metabolisme alkohol Du Jing sangat cepat. Biasanya, dua jam kemudian ia sudah pulih.
“Mandi!” Zhou Luoyang memerintah.
“Tidak bisa buka air!” Du Jing sudah telanjang di kamar mandi. “Tidak bisa diputar! Airnya mati!” Ia bahkan menendang pipa airnya.
“Itu saklar lampu!” Zhou Luoyang mendorongnya masuk, menyalakan air dingin agar ia sadar.
Keduanya sudah mandi. Rambut Zhou Luoyang masih basah. Du Jing tampak gelisah, tidak sabar, tubuhnya panas, hanya memakai celana olahraga dan bertelanjang dada, menggaruk sana-sini, napasnya terasa panas.
Mereka sudah sikat gigi, mengunyah permen karet, mandi—bau alkoholnya sudah hilang, tapi efek mabuknya masih ada. Ditambah hangatnya musim semi yang membuat segala sesuatu tumbuh kembali, Zhou Luoyang pun merasa sulit menahan diri. Ia mengendus pelan, mengambil ponsel dan berkata, “Kita nonton film saja?”
“Film apa?” tanya Du Jing. “Aku tidak menonton yang semacam itu.”
“Kamu bahkan tidak… melakukannya sendiri?” Zhou Luoyang berkata, agak heran. “Menahannya terus itu menyiksa, kamu tahu. Sesekali harus dilepas juga.”
Ia mengangkat tangan kanan dan membuat gerakan samar. Meski di rumah dia pun jarang melakukannya, tinggal sekamar dengan Du Jing membuat batas privasi mereka menyusut. Benar saja, belakangan dia hampir tidak pernah punya kesempatan untuk mengurusnya sendiri.
Du Jing menggeleng. “Tidak. Aku tidak bisa.”
“Kamu mau jadi biksu hebat atau apa?” Zhou Luoyang mengeluh sambil tertawa kecil. “Menahannya begitu, apa kamu harap bisa mendapat kekuatan supranatural?”
“Bukan itu!” Nada Du Jing terdengar kesal. “Aku memang tidak bisa.”
Zhou Luoyang menatapnya penasaran. “Maksudmu… tidak bisa keras? Tidak mungkin.”
Tapi dari bentuk yang jelas menonjol di balik celana olahraga itu, Du Jing sudah lebih dari cukup keras. Setelah selesai mandi, ia memang hanya memakai celana longgar tanpa apa pun di dalamnya.
Setiap pagi Zhou Luoyang biasa mengalami reaksi alamiah, dan ia sering melihat Du Jing pun demikian. Berdasarkan pengamatannya, ukuran Du Jing bahkan jauh di atas rata-rata.
“Bukan tidak bisa keras,” kata Du Jing sambil setengah berbaring. Kedua kakinya sedikit terbuka, alisnya mengerut dalam, wajahnya dibayangi amarah yang tertahan. “Karena penyakitku. Dulu aku sudah coba beberapa kali. Semakin kulakukan, aku semakin merasa bersalah. Hatiku merasa tidak enak. Tanpa kusadari, gerakanku malah makin kasar. Tapi tetap tidak bisa keluar. Ujung-ujungnya hanya membuat diriku sakit.”
“Serius?” Zhou Luoyang terkejut. “Bisa begitu juga?”
Du Jing hanya menatapnya tanpa menjawab. Zhou Luoyang mencoba bertanya lagi, “Pernah pakai… alat bantu?”
“Tidak pernah.” Du Jing menggeleng. “Aku tidak bisa mengendalikan diri. Setiap kali kucoba, aku malah muncul rasa jijik dan dorongan menyakiti diri. Jadi aku berhenti.”
“Pantas,” gumam Zhou Luoyang.
Ada kalanya ia merasa episode manik Du Jing mungkin berhubungan dengan keinginan tubuh yang tidak tersalurkan.
“Kamu pernah coba pijat?” tanya Zhou Luoyang. “Bukan yang… bukan layanan penuh itu. Ada tempat pijat yang katanya, sekalian bisa… memakai tangan. Aku belum pernah, tapi kudengar bisa begitu.”
Itu cerita yang dulu ia dengar dari Fang Zhou, yang tanpa sengaja masuk ke tempat pijat di Thailand dan dipaksa “dilayani” dengan tangan. Komentarnya waktu itu: ‘Rasanya seperti kuda pejantan yang diambil semennya.’
Namun Zhou Luoyang jelas tidak merasa Du Jing tipe orang yang akan masuk ke tempat semacam itu.
“Tidak mau,” jawab Du Jing singkat. “Aku tidak ingin disentuh orang asing… di sana.”
Ia meremas bagian bawah tubuhnya pelan, mengembuskan napas. “Aku mandi lagi saja.”
“Atau… mau kubantu?” kata Zhou Luoyang tiba-tiba.
Ia masih sedikit mabuk. Kesadarannya belum sepenuhya pulih. Bahkan ia tidak mengerti kenapa mulutnya bisa mengajukan tawaran itu. Ia hanya tahu satu hal—ia cukup terampil. Setidaknya, saat mengurus dirinya sendiri, ia selalu puas.
Du Jing terdiam.
Bagi Zhou Luoyang, ini bukan tindakan yang menyimpang atau tabu. Tidak ada unsur yang gelap atau terlarang.
Du Jing mengalihkan tatapan, tidak menolak tapi juga tidak langsung menerima. Zhou Luoyang berkata, lebih pelan, “Biar aku bantu. Kita lihat apakah bisa… membuatmu keluar.”
Ekspresi Du Jing tampak canggung, jelas tidak menduga Zhou Luoyang akan menawarkan hal seperti itu. Namun akhirnya ia berkata pelan, “Baik.”
Zhou Luoyang mematikan lampu utama, menyisakan lampu meja. Tempat tidur mereka memang bersebelahan. Ia memberikan ponsel kepada Du Jing. “Kalau kamu mau, bisa tonton sesuatu. Anggap saja bukan tanganku… anggap itu seperti di video.”
“Tidak usah,” kata Du Jing. “Begini saja sudah cukup.”
“Mau dipadamkan lampunya?” Zhou Luoyang berpikir sejenak. “Atau… kita lakukan begini.”
Ia mengambil kain hitam pembungkus pergelangan tangan yang biasa dipakai untuk memanah, menyesuaikannya, lalu menutup kedua mata Du Jing dengan kain itu. Du Jing tidak menolak, membiarkannya.
Setelah itu, Du Jing tidak tampak ragu. Ia bahkan sedikit mengubah posisi, membuka kakinya lebih lebar, kaki kirinya terangkat sedikit.
“Apa kamu akan memukulku?” Zhou Luoyang bertanya hati-hati.
“Aku tidak tahu.” Di bawah sinar lampu yang redup dan kabur, garis hidung Du Jing yang tinggi dan bibirnya yang tegas terlihat mencolok. Zhou Luoyang sempat terpikir, Orang ini memang terlalu tampan.
“Ambilkan aku jaket,” kata Du Jing tiba-tiba.
“Mau menutupinya?” Zhou Luoyang mengira ia malu. Namun Du Jing justru menyilangkan kedua tangan ke belakang, memberi isyarat agar Zhou Luoyang mengikat pergelangan tangannya dengan jaket itu—longgar, tapi tetap terikat.