English

Tiandi BaijuCh3 - Karena dia brengsek

0 Comments

Penerjemah Inggris : beansprout & grape seed

Penerjemah Indonesia : jeff PEgvjm


MASA LALU

Beberapa hari ini hujan deras datang dan pergi. Segera, cuaca menjadi lebih dingin.

Story translated by Langit Bieru.

Zhou Luoyang mengenakan jaket olahraganya dan berlari keluar dari lingkungan tempat tinggal mereka. Dia berlari menuju jalan, melewati lampu lalu lintas. Di pinggir jalan, ia melihat para bibi yang tampak tengah mengajak anjing-anjing mereka berjalan-jalan, dan Ia pun juga bisa melihat anjing-anjing itu, dengan ekor yang bergoyang-goyang dan kepala yang menggeleng. Dia benar-benar perlu memiliki hewan peliharaan, pikirnya, yang bisa menemani Leyao sebagai penggantinya.

Terkadang, sukacita yang lebih besar datang dari berinteraksi dengan hewan dibandingkan dengan orang lain. 8WuCxc

Setelah berjalan sepuluh kilometer, Zhou Luoyang membeli sarapan. Ketika dia sampai di rumah dan membuka pintu, dia tiba-tiba mendengar tawa adik laki-lakinya.

Dia mendorong pintu terbuka dan masuk ke dalam. Apa yang dilihatnya adalah Du Jing, yang saat itu tengah duduk di sofa, menghadap Zhou Leyao dan mengobrol dengannya.

Zhou Luoyang: “………………”

“Kamu sudah pulang.” Leyao mengenakan piyamanya. Dia melirik kakaknya. 9vbu5Z

Du Jing meliriknya juga. Dia bertanya, “Lari pagi? Sejak kapan kamu memiliki kebiasaan sehat seperti itu?”

Zhou Luoyang mengatur sarapan di atas meja. Ini benar-benar di luar harapannya. Dia berkata, “Kamu …”

Du Jing dengan santai berkata, “Kamu memberiku alamat rumahmu kemarin ketika aku memanggil taksi untukmu.”

Leyao memandangi kakaknya, tersenyum. Zhou Luoyang tidak ingin bertindak terlalu jelas di depan adik laki-lakinya, jadi dia memperkenalkan, “Ini teman sekamarku ketika kami masih di universitas. Kami bertemu satu sama lain secara kebetulan kemarin. Aku tidak menyangka dia akan mampir tanpa kuundang hari ini.” 2gLMpH

Leyao berkata sambil tersenyum, “Dia sudah memberitahuku. Tuhan benar-benar menyatukan kalian.”

Du Jing berkata dengan serius, “Apa maksudmu tanpa kamu undang? Kamu jelas-jelas mengundangku untuk minum teh tadi malam.”

“Siapa yang ‘Kamu Jelas-Jelas’?” Zhou Luoyang bertanya. “Aku bukan ‘Kamu Jelas-Jelas’. Jika ada seseorang yang mengundangmu, tentu saja kamu harus pergi ke rumah mereka.”

Leyao tersenyum lagi. Zhou Luoyang bertanya, “Apa kamu sudah mencuci muka dan menggosok gigimu?” ZYedCg

Leyao mendorong dirinya ke kamar mandi. Zhou Luoyang ingin mengikutinya, tetapi Leyao berkata, “Aku bisa melakukannya sendiri.”

Zhou Luoyang tahu bahwa dia tidak ingin tampak seperti beban baginya di depan orang lain, jadi dia bersikeras untuk melakukannya sendiri.

Pada saat itu, ketika dia dan Du Jing saling memandang, emosi kompleks dan halus yang mereka miliki bertahun-tahun yang lalu tiba-tiba melonjak di hadapan mereka.

“Kamu benar-benar punya adik laki-laki?” Du Jing memegang kacamata hitamnya dan bermain dengannya. Cahaya terpantul pada kacamata hitam itu ke wajahnya, menerangi wajah dan bekas luka di jembatan hidungnya. UTWXOl

Sudut bibir Zhou Luoyang terangkat dan dia berkata, “Dia tidak suka bertemu dengan orang-orang dan tidak suka berteman — sama seperti kamu — jadi aku tidak sering membicarakannya.”

Du Jing menatap Zhou Luoyang, matanya diwarnai rasa bersalah. Zhou Luoyang tiba-tiba merasa kasihan padanya.

Please visit langitbieru (dot) com

“Kamu tidak tidur tadi malam? Insomnia lagi?” Zhou Luoyang memandang Du Jing ke atas dan ke bawah, memperhatikan bahwa dia masih mengenakan pakaian yang sama sejak mereka bertemu satu sama lain tadi malam. Sepertinya dia belum berganti pakaian sama sekali.

We’re sorry for MTLers or people who like using reading mode, but our translations keep getting stolen by aggregators so we’re going to bring back the copy protection. If you need to MTL please retype the gibberish parts.

Du Jing menyingkirkan kacamata hitamnya, merasa tidak nyaman, dan berkata, “Kamu masih mengenalku dengan baik.” GLwi8C

Keduanya terdiam.

Du Jing tiba-tiba berkata, “Jangan terlibat dengan Yu Jianqiang, pria ini berbahaya.”

Zhou Luoyang sejenak tersadar kembali, mencoba mengingat siapa Yu Jianqiang. Pertemuan singkat mereka dengan cepat dilupakan setelah dia kembali ke rumah kemarin. Sejujurnya, Zhou Luoyang menganggapnya cukup sepele.

Zhou Luoyang awalnya ingin menjelaskan, tetapi setelah memikirkannya, dia terlalu malas membicarakannya lagi dan hanya bergumam ringan tanda memahami apa yang dikatakan Du Jing. kUfzij

Tapi Du Jing tidak mengalihkan pandangan darinya, mengangkat alisnya sedikit dan memberi isyarat baginya untuk menjelaskan dengan lebih jelas.

Zhou Luoyang menduga bahwa Du Jing tidak tahu maksud asli pertemuannya dengan Yu Jianqiang dan berkata, dengan kesal, “Awalnya itu hanya pertemuan bisnis, aku hanya mencoba untuk mencari mitra bisnis.”

Du Jing kemudian bertanya, “Apa kamu butuh uang? Berapa banyak?”

“Aku tidak butuh bantuanmu,” kata Zhou Luoyang. vxcV56

Du Jing berkata, “Aku juga tidak punya uang, aku hanya bertanya.”

Zhou Luoyang menarik napas dalam-dalam dan berkata, “Sudah tiga tahun sejak kita bertemu satu sama lain. Apa kita harus bicara seperti ini?”

Ekspresi Du Jing segera berubah, nadanya berganti. “Maaf, aku terlalu bersemangat dan tidak bisa mengendalikan emosiku.”

“Bersemangat?” Zhou Luoyang bertanya, merasa diperparah. “Bersemangat karena kamu berhasil melihatku mencapai titik terendahku?” Xj3tQ6

Du Jing berkata, “Berapa banyak uang yang kamu butuhkan? Aku punya beberapa.”

Zhou Luoyang tetap diam dan Du Jing menjelaskan, “Aku bersemangat sekaligus senang karena aku bisa bertemu denganmu lagi.”

“Tadi malam kamu bahkan tidak ingin mengatakan sepatah kata pun kepadaku, namun kamu bersemangat hari ini.”

Suara air deras datang dari kamar mandi, dan Zhou Luoyang memiliki keinginan yang cepat untuk memukulinya. UgfN8L

Tapi dia selalu berusaha untuk tidak mengubah sifat alami yang dimiliki seseorang hanya karena mereka tengah bicara dengannya, dan ketika dia melihat ekspresi yang akrab di mata Du Jing, hatinya melunak.

“Ayo sarapan,” kata Zhou Luoyang. “Apa kamu sudah makan?”

Story translated by Langit Bieru.

“Kalian berdua makanlah, jangan khawatirkan aku.”

Zhou Luoyang tidak menduga kedatangan Du Jing dan hanya membeli sarapan untuk dua orang, tetapi dia berkata, “Aku sudah makan saat aku keluar. Ayo makan.” Dia menurunkan suaranya dan menambahkan dengan cemas, “Jangan mengatakan sesuatu yang tidak pantas di depan Leyao.” ftVqKy

Du Jing tidak mengatakan apa-apa dan duduk di meja makan, membuka kantong kertas dan menyesap kopi di dalamnya. Zhou Luoyang mendorong adik laki-lakinya ke depan meja dan kemudian masuk untuk membersihkan diri.

“Kamu ingin membuka kembali toko kakekmu?” Du Jing bertanya setelah Zhou Luoyang keluar.

Zhou Luoyang mengerutkan alisnya, melirik adiknya. Leyao pasti telah mengatakan sesuatu padanya.

Leyao mencoba fokus memakan sarapannya. Setelah mendengar kata-katanya, dia tersenyum pada kakaknya. 9FXofd

“Aku bisa datang ke gudang bersamamu nanti,” kata Du Jing. “Aku akan menyetir hari ini.”

“Aku tidak pergi.” Zhou Luoyang keluar, mengeringkan rambutnya, mengenakan jersey bola basket dan celana pendek. Sandal jepitnya menampar lantai. “Aku punya rencana hari ini.”

Bahunya yang sebagian terbuka tampak pucat, masih sama seperti ketika mereka masih berada di universitas, seolah-olah tidak ada yang berubah.

“Kakak, aku ingin tidur siang,” kata Leyao. “Aku bangun terlalu pagi. Kamu harus pergi, pekerjaan itu penting.” uodM09

Pekerjaan apa? Zhou Luoyang ingin menjawab. Gudang tua itu tidak memiliki barang berharga lagi; barang antik sudah dibagi di antara beberapa kerabat, hanya menyisakan buku dan surat-surat berharga. Selain beberapa gulungan kaligrafi, semua yang lain hanya bisa dijual sebagai sampah ke pusat daur ulang setiap pound-nya. Dia tidak tahu dari mana dia akan mendapatkan biaya hidup bulan depan, jadi dia hanya bisa menggunakan kartu kredit untuk melunasi satu utang sambil menimbulkan yang lain.

Pun masih tidak ada balasan atas resume yang ia kirim.

Du Jing mengangkat alisnya ketika Ia menatap Zhou Luoyang, memberi isyarat agar mereka pergi.

Akhirnya, Zhou Luoyang dengan enggan mengangguk. Dia masih memiliki hal-hal yang ingin dia katakan kepada Du Jing, karena orang ini masih memiliki arti baginya — pada satu titik, dia telah melihat Du Jing sebagai salah satu orang paling penting dalam hidupnya. fZ2CHY

Andai saja semuanya tidak berubah dengan begitu tiba-tiba.

“Apa dia teman dekatmu?” Leyao bertanya.

Sebelum dia pergi, Zhou Luoyang berada di ruang tamu, tengah mengenakan sepatunya; Du Jing sudah turun untuk mengambil mobil.

“Ya,” kata Zhou Luoyang. “Teman yang sangat, sangat baik.” 1h4gSV

Leyao menjawab, “Tapi kamu belum pernah membawanya ke rumah sebelumnya.”

Zhou Luoyang berkata, “Karena beberapa hal terjadi di antara kami …. dia mengingatkanku padamu, jadi aku mencoba untuk tidak memikirkannya. Jika kamu benar-benar ingin tahu, aku bisa … “

Story translated by Langit Bieru.

“Tidak, aku tidak ingin tahu … hanya … emm … tidak ada, kamu harus pergi.”

“Hanya apa?” Zhou Luoyang mengerutkan alisnya. RJFmuB

Leyao tersenyum sedih dan menjawab, “Ketika dia mendengar bahwa kamu belum pernah memberitahuku tentang dia sebelumnya, dia tampak kesal.”

“Karena dia brengsek,” kata Zhou Luoyang dengan serius.

“Bagaimana kamu bisa mengatakan itu?”

“Beberapa pria tidak hanya brengsek dalam cinta, mereka juga bisa bersikap brengsek ketika memperlakukan teman-teman mereka. Aku pergi, aku akan meneleponmu nanti.” Saat dia berbicara, dia menepuk kepala Leyao. DqdlGW

“Kemana saja kamu selama ini?” Zhou Luoyang meraih jaketnya dan turun. Audi yang diparkir di depan bagunan tempatnya tinggal tidak mengejutkannya; dia membuka pintu mobil dan meluncur ke kursi depan dengan cara yang terlatih.

“Aku sudah mengatakan jika aku pergi untuk mengobati penyakitku,” Du Jing mengenakan kacamata hitamnya. “Aku tidak mau datang menemuimu sampai aku benar-benar sembuh.”

“Hei, Du Jing,” akhirnya Zhou Luoyang berkata.

Du Jing menatapnya dengan heran. 6THlFo

Saat Du Jing menoleh, dia menatap Zhou Luoyang dari balik kacamata hitamnya.

Tiba-tiba, Zhou Luoyang melemparkan tinjunya dengan kuat, menyerang sisi wajah tampan Du Jing. Pukulan itu mendarat dengan bunyi gedebuk, menghempaskan kacamata hitam Du Jing dan melemparkannya ke jendela mobil.

“…….”

Keheningan memenuhi mobil. Zhou Luoyang mengguncang pergelangan tangannya dan berpikir: tulang orang ini cukup kokoh. cliFyD

“Benar-benar menyegarkan,” kata Zhou Luoyang. “Ayo pergi.”

Sudut mulut Du Jing dihiasi dengan sedikit darah. Zhou Luoyang mengambil tisu dari mobil dan berkata, “Bersihkan wajahmu.”

Du Jing tanpa terburu-buru menyeka wajahnya dan melihat darah di tisu yang Ia gunakan, mengangguk. Dia mengenakan kacamata hitamnya kembali, mengatur setir, dan pergi dari lingkungan tempat tinggal Zhou Luoyang.

“Selama ini, kemana kamu pergi? Ini kali terakhir aku bertanya, kesabaranku ada batasnya.” Z3Bkdu

“Aku tidak berbohong padamu, aku benar-benar mencoba untuk pergi dirawat. Kamu…”

“Apa?”

Story translated by Langit Bieru.

“Tidak ada, itu pukulan yang buruk,” jawab Du Jing saat mengemudi, rasa darah masih melekat di mulutnya.

Zhou Luoyang menyaksikan pemandangan di luar jendela mobil. Du Jing bertanya lagi, “Berapa banyak uang yang kamu butuhkan?” DPgvIL

“Aku tidak tahu,” jawab Zhou Luoyang, terdengar bingung. “Leyao yang memberitahumu semuanya?”

Du Jing menyentuh layar ponselnya yang telah diperbaiki di depan setir kemudian menunjukkannya kepada Zhou Luoyang. Itu adalah rekening banknya. “Transfer saja sebanyak yang kamu butuhkan untuk dirimu sendiri.”

Ada enam ratus ribu dolar di akunnya. Zhou Luoyang melihatnya, mengambil ponsel itu, dan mentransfer tiga ribu untuk dirinya sendiri. Dia membuat Du Jing berbalik untuk melihat layar ponsel itu untuk pengenalan wajah.

“Ambil saja semuanya,” kata Du Jing. o LXnf

Zhou Luoyang berpikir sejenak dan menjawab, “Ketika aku butuh nanti, aku akan meminta.”

Zhou Luoyang membuka aplikasi perbankan pribadi Du Jing, melihat riwayat pembeliannya. Du Jing tidak melihat ponselnya, seolah ini adalah sesuatu yang sangat alami.

“Aku akan membelikan ini untukmu,” kata Zhou Luoyang, “untuk menukarnya dengan dana investasi yang kamu berikan.”

“Terserah,” jawab Du Jing, tidak peduli. “Uang tidak terlalu berarti bagiku.” Dg8FQC

Gerakan Zhou Luoyang tiba-tiba berhenti dan berkata, “Tidak mungkin bagimu untuk menjadi asisten Yu Jianqiang.”

“Masih sangat pintar. Tapi mengapa itu tidak mungkin?”

“Kamu tidak butuh uang. Kamu tidak perlu bekerja untuk uang sebanyak itu.”

“Semua orang membutuhkan pekerjaan, itu kata-katamu sendiri. Selain itu, bagaimana kamu bisa tahu aku punya uang? Aku sudah memutuskan hubungan dengan keluargaku dan sudah bertahun-tahun tidak meminta uang kepada mereka.” KHrntf

“Tetap saja, tidak perlu bagimu untuk bekerja sebagai asisten.” Kata-kata Du Jing membuat Zhou Luoyang tiba-tiba curiga, dan pada saat itu, ponselnya berdering. Dia mengaktifkan pengeras suara pada ponsel itu.

“Du Jing?” Itu suara pria. “Aku sudah mencarimu, kemana kamu pergi?”

“Aku tidak punya waktu, aku tidak akan pergi. Biarkan mereka tahu aku mengambil hari libur.”

“Dia akan segera ke sana,” kata Zhou Luoyang. LrfJZg

Ketika Zhou Luoyang membuka mulutnya, ekspresi Du Jing sedikit berubah. Orang di sisi lain telepon terkejut oleh suara Zhou Luoyang dan bertanya, “Siapa kamu?”

Du Jing menjawab dengan enggan, “Aku sedang dalam perjalanan kembali, aku akan berada di sana dalam dua puluh menit.”

Story translated by Langit Bieru.

Setelah menyelesaikan kata-katanya, ia mempercepat laju mobilnya dan berbelok di persimpangan dan memasuki jalan raya, menuju jalan yang berbeda.

“Berkendara lebih lambat,” kata Zhou Luoyang. KDQ2Ri

Du Jing tetap diam, memarkir mobilnya di depan gedungnya, dan menatap Zhou Luoyang, seolah berkata, Mau ikut pergi denganku?

Zhou Luoyang membalasnya dengan lambaian tangan dan hanya terus memainkan ponselnya. Du Jing menutup pintu mobil tetapi tidak mematikan mesin dan meninggalkan ponselnya di dalam. Dia dengan cepat berjalan memasuki gedung pencakar langit itu.

Zhou Luoyang memperhatikan punggung Du Jing, berpikir itu agak aneh — bangunan ini tampaknya relatif tua dan tidak mungkin salah satu perusahaan Yu Jianqiang.

Dia melihat sekilas lokasi mereka di GPS dan tidak ada apa pun di peta, bahkan bangunan ini tidak memiliki nama. UZLTps

Leave a Comment

For an easier time commenting, login/register to our site!