English

Kaleidoskop KematianCh45 - Kembali ke Kenyataan

0 Comments

Penerjemah: SelirChu

Editor: pontifexjunMenurut Ruan Nanzhu, wanita itu tidak bisa menyerang mereka secara langsung, bahkan jika mereka telah digambar ke dalam dunia lukisan.  k5mBSW


Seusai dengan bingkai yang diletakkan di bawah cermin di depan mata mereka, masuk akal untuk mengatakan bahwa semua orang yang datang ke toilet terperangkap oleh bingkai pada titik tertentu. Tapi apa yang tidak bisa dipahami Lin Qiushi ialah mengapa wanita itu akhirnya memilih untuk menangkapnya dibanding orang lain. 

“Lihat dia.” Ruan Nanzhu dengan santai berkata. “Itu karena dia terlalu menggemaskan.”

Please support our translators at langitbieru (dot) com

Tan Zaozao menaikkan alisnya saat mendengar pernyataan orang itu, “Lalu mengapa aku tidak diseret juga?”

Ruan Nanzhu: “Kau pikir kau imut?” HZDA3t

Tan Zaozao: “…” Ruan Nanzhu, kutantang kau untuk mengatakan hal itu di dunia nyata; kau akan terbunuh sebelum kau menyadarinya. 

Secara keseluruhan, ada cukup banyak bingkai tersembunyi yang tersebar di seluruh kastil tua ini. Faktanya, Ruan Nanzhu bahkan menemukan beberapa setelah kembali ke kamar mereka. Satu tersembunyi tepat di sisi kanan cermin. Ada lagi di dalam tempat tidur. Ruan Nanzhu bahkan menemukan bingkai tersembunyi di antara bayangan langit-langit. Melihat ini, tidak mengejutkan kalau ia juga bisa terseret ke dalam lukisan. Seluruh kecerdikan Yang Meishu, tidak bisa dibandingkan dengan kecerdasan sang nyonya. Sepertinya makhluk dari pintu ini sangat cerdas, skema liciknya sendiri tidak lebih lemah dari siapapun. 

Setelah seluruh bingkai dalam kamar diambil, Ruan Nanzhu dengan brutal memukul mereka hingga hancur tanpa ragu. Setelah menghancurkan bingkai, ia memberitahu yang lain dalam tim mengenai masalah ini, meminta mereka untuk mencari dan mengumpulkan sebanyak mungkin bingkai. 

Siang hari itu, Lin Qiushi tidak tahu apakah matanya sedang bermain trik atau memang sang nyonya tengah memelototi Ruan Nanzhu saat mereka pergi makan siang; sorot matanya sangat masam dan kesal, seolah ia tidak sabar mencabik dagingnya dan mencabut tulangnya.  vA2Oqo

Di sisi lain, Ruan Nanzhu tidak terlihat waspada dengan tatapan tajamnya; atau mungkin, ia hanya tidak peduli. Seperti biasa, ia duduk di kursi meja makan, sangat tenang dan santai, dengan nikmat menelan steak enak di hadapannya tanpa ragu.

Bahkan jika semua orang mencari bingkai di seantero kastil, mereka masih tidak bisa menemukan seluruhnya saat sudah terlanjur malam. Keesokan paginya, seorang lain ditemukan menghilang, diubah menjadi potret yang indah. 

Ruan Nanzhu pergi melihat lukisan itu, lalu sedikit mengobrak-abrik ruangan sebelum mengeluarkan bingkai datar dari bawah karpet pria tersebut. Lin Qiushi mengambil bingkai itu dan menghela napas, “Bahkan di sini?”

Menyingkirkan bingkai itu, ia menggelengkan kepalanya, “Tidak ada gunanya berjaga melawan sesuatu semacam ini.” L4oDny

“Memang, rasanya agak sia-sia. Sebaiknya kita sebaiknya mencari kunci agar bisa pergi secepat mungkin.” jawab Ruan Nanzhu. “Aku mendapat firasat bahwa ia mulai semakin tak terkendali saat ini.”

Lin Qiushi mengangguk setuju.

Seperti biasa, intuisi Ruan Nanzhu selalu tepat. Malam itu, wanita tersebut kembali muncul di jendela mereka. 

Dalam sunyi gelapnya malam yang menyeramkan, wanita itu berdiri di tengah taman yang terpencil; tetes hujan keperakan terjatuh dari langit yang suram, tanpa iba menyerang sosoknya. Ia sedikit mengangkat kepalanya dan menyeringai ke arah balkon, dimana Ruan Nanzhu berdiri.  ymFE7N

Ruan Nanzhu sedang merokok diluar. Ia tidak mengatakan apapun setelah bertemu mata wanita itu. Ia hanya menghembuskan segumpal asap rokok, ekspresi wajahnya, bosan dan datar. Setelah diam beberapa saat, ia berkata, “Ia di luar.”

Lin Qiushi berjalan ke sisinya dan melihat pemandangan malam.

Ada mereka yang ketakutan seperti pengecut saat melihat wanita ini, ada juga yang berlari setelah matanya menangkap sosok ini. Dan lalu, ada Ruan Nanzhu, seorang pria yang sangat keras kepala dan tanpa takut, yang hanya menantang tatapan wanita itu dengan tatapan berani yang tak tergoyahkan, hingga wanita itu akhirnya menghilang.

“Apa kau tidak takut?” Lin Qiushi menoleh untuk bertanya padanya.  psvQRO

Sulur asap berputar saat Ruan Nanzhu menarik napas dalam, “Tidak peduli seseorang takut atau tidak toh sama saja.” Ia lalu menawarkan sebuah rokok pada Lin Qiushi. 

Mungkin tidak akan menyakitkan jika ia memiliki satu rokok; lagi pula, ia saat ini berada di dalam dunia pintu. Dengan gagasan itu, Lin Qiushi menerima rokok tersebut, lalu beralih menatap langit malam tak berbintang, “Apa yang kita lakukan selanjutnya?”

Please support our translators at langitbieru (dot) com

Ruan Nanzhu: “Menunggu.”

Kenapa kita harus menunggu? Apa yang harus kita tunggu? Ruan Nanzhu tidak repot-repot menjelaskan dan Lin Qiushi tidak mau bertanya. Setelah ia memadamkan ujung rokoknya, ia dan Ruan Nanzhu berbalik untuk kembali ke kamar mereka.  dBxX2D

Tan Zaozao tertidur cepat di lantai, dan bokongnya menonjol tinggi ke udara. Sulit untuk percaya bahwa gadis semacam ini di dunia pintu, sebenarnya adalah seorang ratu akting yang dingin di dunia nyata. Orang di hadapan mereka tak ada bedanya dengan rakyat jelata biasa; tidak ada yang menarik tentang penampilannya, dan sikap penyendiri yang menjadi ciri khas wanita itu tidak terlihat dimanapun. Jika ada, satu-satunya hal yang mencolok mengenai gadis ini adalah fakta bahwa ia suka menaikkan bokongnya saat tidur tengkurap. Terus terang, postur tidurnya yang mirip cacing agak tidak enak dilihat—tidak, sangat buruk.  Siapa yang tahu berapa banyak penggemarnya yang akan berduka saat melihat dewi mereka seperti ini; tidak diragukan lagi bahwa imej oh-begitu-agung yang ia usahakan untuk membentuk dirinya selama bertahun-tahun akan hancur dalam sekejap. 

Lin Qiushi dengan baik menyelimutinya, lalu naik ke ranjang dan membaringkan tubuhnya di sisi Ruan Nanzhu. 

Kau berdiri di jembatan memuja pemandangan; kau terpesona oleh pemandangan dari ketinggian. Cahaya bulan menghiasi jendelamu, saat kau memperelok mimpi orang lain.” Ruan Nanzhu bertanya, “Apa pendapatmu soal puisi ini?”

Lin Qiushi merenung sejenak, “Kita berada dalam kastil, melihat lukisan. Orang lain melihat kita dan lukisan dari perspektif yang berbeda. Bingkai gambar mencerminkan jendela kita. Dan kita memperelok mimpi orang lain …” Petunjuk dari lembaran ini singkatnya mudah dipahami; mereka tidak perlu memikirkannya terlalu lama sebelum mendapat kesimpulan. Meski demikian, ia masih tidak begitu yakin apa makna dibalik kalimat terakhir puisi ini, bagian yang mengarah pada mereka memperelok mimpi orang lain. Ia tidak tahu apakah “mimpi” di garis ini maksudnya adalah lukisan yang menangkap mereka atau sesuatu yang lain. ENePMB

“Kupikir ‘mimpi’ ini mengarah pada lukisan di lantai atas.” Ruan Nanzhu beranjak ke sudutnya dan bersandar, menatap Lin Qiushi yang juga berbaring di sisinya. 

Mereka sangat dekat sehingga mereka bisa dengan jelas merasakan belaian hangat napas satu sama lain. 

Jika orang lain yang begitu dekat padanya, hingga hidung mereka nyaris saling bersentuhan seperti sekarang, Lin Qiushi akan merasa sangat tidak nyaman. Tapi mungkin karena ia telah berbagi ranjang dengan Ruan Nanzhu berkali-kali sebelumnya, ia sama sekali tidak merasa aneh atau tidak nyaman. 

“Apa kau berbicara soal lukisan perjamuan?”  tanya Lin Qiushi. Bv7PYL

Ruan Nanzhu: “Ya.”

Lin Qiushi mengerjap polos, “Kalau begitu haruskah kita membakarnya?”

Ruan Nanzhu terdiam selama tiga detik. Saat menyadari Lin Qiushi sangat serius, ia menjawab, “Apa kau tidak takut?”

Lin Qiushi: “Bukankah ada kau bersamaku? Selain itu, jika mimpi sang nyonya memang menyelesaikan lukisan itu, kita tidak bisa hanya menunggu hingga ia menyelesaikannya.” uFKdnc

Ruan Nanzhu: “Ia tidak akan pernah menyelesaikan lukisan itu.”

Lin Qiushi awalnya kaget mendengar pernyataannya, tapi ia segera memahami pernyataan Ruan Nanzhu. Memang, nyonya itu tidak akan pernah bisa menyelesaikan lukisan tersebut. Ada total sepuluh orang dalam karya itu, yang berarti ia harus membawa mereka semua ke dalam bingkai dan mengubah mereka menjadi lukisan. Tapi, berdasar hukum dunia pintu, seluruh tim tidak bisa dimusnahkan, karena harus selalu ada satu orang yang bertahan hidup. Dengan begitu, lukisan sang nyonya juga tidak akan pernah selesai, karena satu wajah di kanvas akan terus kosong selamanya. 

“Kita akan melihatnya besok.” Ruan Nanzhu berbisik. “Kita tidak bisa tinggal di dunia ini lebih lama. Situasinya hanya akan semakin berbahaya.”

We’re sorry for MTLers or people who like using reading mode, but our translations keep getting stolen by aggregators so we’re going to bring back the copy protection. If you need to MTL please retype the gibberish parts.

Olc Hlertl wfcujcuuex.  qWZI5e

Klvjx tfgjc, rjwj rfqfgal sjcu vlmeglujl Eejc Rjchte. Ygjcu ijlc vjijw alw wfgfxj tlijcu ijul xffrbxjc qjulcsj. Efjxrl wfgfxj sjcu afgrlrj alvjx ijul yfgifyltjc rfxjgjcu, rfyjy wfgfxj revjt ijwj afgyljrj vfcujc rlaejrlcsj. 

Cxtlgcsj, qbagfa qglj lae vljwyli bift rjcu qfijsjc. Olc Hlertl wfcujkjrlcsj wfcjlxl ajcuuj xjrali vfcujc iexlrjc vl ajcujc. 

Langit Bieru.

“Kemana ia membawa lukisan itu?” Lin Qiushi penasaran. 

Ruan Nanzhu menjawab, “Tidak tahu. Ayo ikuti dia dan melihat-lihat.” qvegnX

Dengan demikian, kedua orang itu diam-diam meletakkan pisau dan garpu mereka, kemudian pergi untuk mengikuti si pelayan. Benar-benar tidak menyadari apa yang tengah terjadi, Tan Zaozao buru-buru mengejar mereka dengan roti gulung yang masih tergantung di mulutnya. 

Si pelayan berjalan menuju lantai enam, membuka gudang lukisan yang tidak selesai dan masuk ke dalam. Setelah beberapa saat, ia kembali berjalan keluar. 

Lin Qiushi dan kelompoknya diam-diam bersembunyi di pojok tangga. Setelah mereka melihat si pelayan menghilang dari garis pandang, barulah mereka bergerak. 

“Haruskah kita masuk ke dalam dan melihat?” tanya Lin Qiushi. GlcD4n

Ruan Nanzhu mengangguk cepat sebagai balasan. 

Menggunakan keterampilan membobol kuncinya sekali lagi, Ruan Nanzhu dengan ahli membuka pintu menuju ruang pameran untuk lukisan yang belum selesai. Saat masuk kedua kalinya, mereka menemukan sesuatu yang baru. 

“… Apa semua ini baru dilukis?” Tan Zaozao menatap lukisan di hadapannya dengan horor. Seperti sebelumnya, ruangan ini dipenuhi dengan kanvas, tapi sekarang, banyak kanvas yang awalnya kosong kini memiliki gambar di atasnya. Lukisan berbingkai itu menggambarkan seorang wanita suram berpakaian serba hitam, Wanita yang Berasal dari Hujan. Wanita itu berdiri di dekat jendela, koridor, anak tangga dan halaman; keberadaannya yang menghantui ada di setiap bagian kastil. Sosoknya bahkan muncul di potret Xiao Su. 

Pemandangan keji wanita itu menimbulkan rasa najis dan jahat yang tak terlukiskan; seakan ia telah mengotori semua lukisan di depan mata Lin Qiushi. iFm80S

Ruan Nanzhu memindai ratusan lukisan dalam ruangan itu, kemudian tenggelam dalam benaknya. Ia lalu melambaikan tangannya sedikit dan mengusulkan, “Ayo cari.”

Tan Zaozao, yang masih mengunyah roti gulung dengan bodoh di tangannya, masih belum bisa memproses seluruh situasinya, ia menyembur bingung, “Apa yang kita cari?”

“Pintu.” Ruan Nanzhu menjawab, “Pintu itu harusnya ada di salah satu lukisan ini.”

“Kau serius?” Meski Tan Zaozao agak ragu, ia masih mematuhi Ruan Nanzhu dan mulai mengobrak-abrik lukisan tak terhitung itu. QvYo18

Nyaris setengah jam berlalu, ketika Lin Qiushi, yang susah payah menggali tumpukan lukisan yang berserakan, menemukan apa yang mereka cari dan mengumumkan, “Ketemu—”

Lukisan itu sekilas terlihat biasa saja, tampak seperti gambar dari beberapa lokasi lain di dalam kastil ini. Tapi setelah dilihat lebih dekat, seseorang dapat menemukan sesuatu yang sangat khusus pada gambar ini—keberadaan sebuah pintu besi hitam. 

Pintu besi hitam itu terselubung di pojok berbayang, membuatnya mudah terlewat jika seseorang tidak memerhatikannya dengan seksama. 

Ruan Nanzhu mengambil lukisan itu, “Ini dekat dengan tangga sebelah kanan di lantai dua. Ayo periksa.” xdfA1v

Dengan lukisan dalam genggaman mereka, ketiga orang itu pergi ke lantai dua dan segera menemukan area terpencil itu; kecuali tempat mereka berada agak sedikit berbeda dari apa yang terlukis di kanvas. Pada tempat pintu besi itu hanya ada tembok putih tak bernoda, dimana sebuah lukisan pemandangan biasa tergantung. 

Ruan Nanzhu menyingkirkan lukisan di depan mereka, lalu menemukan sebuah saklar dibawahnya. Saat melihat saklar itu, ia perlahan mengulurkan tangan dan menekannya. Dengan suara gemuruh pelan, dinding di hadapan mereka retak dan terbuka; celah sempit di depan mereka berangsur-angsur membesar, langsung menampilkan sebuah pintu hitam. 

Langit Bieru.

“Kita menemukan pintunya!” Tan Zaozao berkata girang, “Sekarang, tinggal kuncinya …”

Lin Qiushi dan Ruan Nanzhu bertukar pandang.  6m o5D

Ruan Nanzhu: “Sekarang?”

Lin Qiushi: “Ayo.”

Tidak tahu apa-apa, Tan Zaozao yang kaget mengalihkan pandangan diantara kedua orang itu, penasaran apa yang mereka bicarakan; hingga ia melihat Ruan Nanzhu mengeluarkan sebuah pemantik dari sakunya. Segera, matanya melotot kaget, “Kau bercanda; jangan bilang kalian berdua akan melakukan ini …”

Ruan Nanzhu: “Tunggu di sini kalau kau takut.” r0H6s2

Tan Zaozao menggelengkan kepalanya sambil menghela napas. “Lupakan. Aku lebih suka menempel dengan kalian. Setidaknya kita akan menjaga satu sama lain jika ada yang terjadi. Siapa peduli apa yang terjadi, selama kita bersama, iya kan?

Lin Qiushi: “…” Selama kita bersama bahkan di liang kubur yang sama, huh?

Ruan Nanzhu tidak pernah mundur setelah ia memantapkan pikirannya untuk melakukan sesuatu. Jadi, ketiga orang itu berangkat menuju studio sang nyonya di lantai tujuh. Setelah tiba di tempat itu, mereka tidak lupa mengetuk pintunya sebelum memasuki studio; lagi pula, mereka jelas tidak mau menempatkan diri mereka dalam situasi canggung yang memalukan, dimana mereka secara tidak sengaja mengganggu si nyonya yang duduk di dalam. 

Tapi tampaknya, sang nyonya tidak melukis saat siang; ia hanya melakukannya saat malam, yang memberi Ruan Nanzhu keuntungan besar. Meraih kesempatan ini, Ruan Nanzhu melaju ke kanvas terdekat, menyalakan pemantiknya dan membakarnya. Pergerakannya sangat natural, seakan ia sudah melakukan ini berkali-kali sebelumnya.  EGZ4NY

Tan Zaozao dengan gugup menyaksikannya melakukan pembakaran dari samping, khawatir akan bencana yang menghampiri, ia terus bergerak gelisah dan dengan kasar mengusap bulu kuduk yang meremang di lengannya. 

Api perlahan menyapu ujung kanvas, sebelum dengan ganas menelan seluruh lukisan. Tapi saat api mulai menyebar, sebuah suara samar, mirip dengan pekikan tertahan dari manusia dan derak kayu basah yang terbakar, berbunyi nyaring di udara, dengan jelas terdengar oleh Lin Qiushi. 

“Apa kalian mendengarnya?” Lin Qiushi bertanya, ketakutan perlahan mengalir melalui suaranya. 

Benar saja, Ruan Nanzhu dan Tan Zaozao menggelengkan kepala mereka, menandakan bahwa mereka tidak mendengar apapun.  RUlvW0

Sedetik kemudian, lukisan di depan mereka hancur menjadi bara lalu membentuk abu yang menghitam. Saat sudut terpojok akhirnya terlalap api, sebuah suara terdengar di ruangan tersebut. Sesuatu yang terbuat dari perak tampaknya telah jatuh ke tanah. 

Lin Qiushi menundukkan kepalanya, lalu disambut dengan pemandangan kunci perunggu yang sudah ditunggu-tunggu.

“Ahhhhhh!!!” Saat itu juga, sebuah raungan marah seorang wanita terdengar dari lantai bawah, membahana di seluruh lantai kastil. Tangisan yang menggelegar itu nyaris membuat Lin Qiushi berlutut. Ia bahkan tidak perlu berpikir dua kali untuk tahu bahwa ini suara si nyonya. 

“Lari!” pekik Ruan Nanzhu sambil mengambil kunci dan kabur.  MBZH3S

Lin Qiushi dan Tan Zaozao mengikutinya dari dekat.

Mereka lari menuruni tangga, tapi saat tiba di lantai keempat, mereka berpapasan dengan si nyonya yang menggila. Pada saat ini, sosoknya yang menjulang membungkuk ke depan membentuk sudut yang menyeramkan, wajahnya terbelah menjadi dua, rahangnya tergantung amat rendah, menampilkan mulut merah bergigi rapinya yang melolong murka sementara amarah membara di mata hitam gelapnya yang dihiasi kemurkaan dan gila. Tapi, aspek yang paling mencolok darinya adalah bingkai gambar besar yang dipegang di tangan kanannya. Sewajarnya, tidak ada seorangpun yang mau dipukul menggunakan objek mematikan itu. 

Please visit langitbieru (dot) com

“Pergi ke pintu samping dekat tangga!” Ruan Nanzhu mengetahui tata letak kastil ini seperti punggung tangannya, jadi ia segera mengganti jalur setelah melihat wanita itu. 

Wanita gila itu mengejar mereka dengan anggota badan berkerut yang berayun tak menentu, seperti laba-laba raksasa yang kakinya tidak sejalan dengan pikirannya. Meski begitu, kecepatannya mengerikan; dalam sekejap, ia berhasil mempersempit jarak antara dirinya dengan mereka.  Jvrtp2

Lin Qiushi tidak berani menghentikan langkah demi hidupnya bahkan barang sejenak, sebab ia tahu segera setelah ia berhenti, bingkai itu akan memukulnya. 

Mereka terbirit-birit menuruni lantai empat, bergegas menuju lantai tiga. Ruan Nanzhu bahkan tidak menoleh saat ia berteriak pada pria itu, “Lin Qiushi, arahkan dia ke tempat lain sebentar! Aku hanya butuh sedikit waktu untuk membuka pintu—”

Lin Qiushi menggertakan giginya, “Oke!” Ia berbalik dan menatap wanita menyeramkan di belakangnya. Tanpa menunda, ia mengambil lukisan acak yang tergantung pada dinding di sebelahnya dan melemparkan benda itu ke arahnya sekuat tenaga. 

Ditabrak oleh lukisan yang dilemparkan padanya, wanita itu mengeluarkan desisan geram dan dengan marah menerjang Lin Qiushi.  AO6KM1

Lin Qiushi dengan sengit menghindari serangannya, segera merunduk untuk menghindari bingkai yang diayunkan dengan keras. Ia kemudian menatap Ruan Nanzhu dari sudut matanya, sebelum berlari menuju lantai satu kastil. 

Seperti yang direncanakan, wanita itu mengejarnya menuruni tangga. Lin Qiushi tidak pernah merasa kepalanya setenang dan sejernih saat ini. Saat yakin bahwa wanita itu hanya mengejarnya, ia segera berbalik dan berlari ke tangga di ujung lain koridor. Sekarang adalah perlombaan dengan waktu. Tidak peduli apa, ia harus memberi cukup waktu bagi Ruan Nanzhu untuk membuka pintu! 

Semuanya berjalan sesuai rencana; ketika Lin Qiushi kembali ke lantai dua, ia melihat bahwa pintu besi itu sudah terbuka. 

Lingkaran cahaya putih bersinar dari kedalaman pintu besi yang terang, mengundang orang lain untuk masuk ke dalam dan membawa mereka menuju jalan terang menuju kehidupan. Lin Qiushi terengah-engah, susah payah menghirup udara masuk dan dengan putus asa berlari menuju pintu seolah hidupnya bergantung pada hal tersebut. Tapi ketika ia memasuki pintu, sepasang tangan menyeramkan dengan kasar membungkus pergelangan kakinya, dengan cepat menyeretnya keluar dari pintu— dIP3RE

Wanita itu berdiri sambil menatapnya dengan ekspresi jahat; mata gilanya menunduk menatap Lin Qiushi dengan kesal dan tanpa ampun. Kaki lelaki itu tertangkap cengkraman kuat wanita itu. Ia perlahan mengangkat tangan kanannya dan bingkai yang ia pegang segera jatuh dengan dramatis. 

Napas Lin Qiushi tercekat dan jantungnya nyaris terhenti saat itu juga.  Seolah waktu telah terhenti, seakan segala di sekitarnya terdiam. Pemandangan di hadapannya mulai berubah perlahan, sebagaimana halnya hidup seseorang dengan lambat terlintas di depan mata mereka tepat sebelum saat terakhir. Pandangannya mutlak jernih dan jelas; ia bahkan bisa melihat halus rambut berantakan wanita itu menari anggun di udara …

Bingkai tersebut runtuh, dan Lin Qiushi menutup rapat matanya, bersiap menerima akibatnya.

“Ahhhhh!!” Tapi, kegelapan dingin yang seharusnya menghampiri tidak pernah datang. Ketika ia mendengar jeritan mengerikan wanita itu, Lin Qiushi membuka matanya lebar. Setelahnya, ia mendapati tubuhnya dibasahi oleh darah. Tampaknya hal yang melukai wanita itu berasal dari saku celananya, terbukti oleh aliran darah tak berujung yang menetes darinya. Kembali sadar, aliran darah itu terus mengalir, kelihatannya mengancam wanita di hadapannya, memperingatkannya untuk tidak mendekat lebih lagi. Hasilnya, wanita itu menurunkan bingkai tersebut tanda menyerah dan mulai mundur.  wsprND

Lin Qiushi tidak berani berlama-lama untuk mencerna situasi. Menolak membuang barang semenit saja dalam mimpi buruk mengerikan ini, ia berbalik dan melemparkan dirinya ke pintu. Setelah melewati terowongan berwarna putih, ia yang hilang berabad-abad kembali ke dunia yang telah lama dinanti. 

“Huff. Huff. Huff …” Dibasahi dengan berlapis keringat dingin, Lin Qiushi yang lelah duduk di ranjangnya. Ia mengangkat lengannya untuk menyeka keringat dari dahinya, lalu bangun dan pergi ke kamar Ruan Nanzhu. 

Pintu terbuka dengan sebuah deritan, menampilkan Ruan Nanzhu yang berdiri di belakangnya. Ekspresi wajahnya agak santai saat melihat Lin Qiushi, “Kau berhasil.”

Lin Qiushi mengangguk. Apa yang baru saja ia alami sebelum kabur dari dunia itu terlalu mengerikan hingga menyerap beberapa tahun kehidupannya. Tenaganya sudah lama hilang dan ia nyaris tidak bisa menopang dirinya sendiri sekarang, “Aku nyaris tertangkap wanita itu saat aku akan pergi.” RbOeSL

Ruan Nanzhu mengerutkan dahi, “Kau tidak terluka, kan?”

Lin Qiushi menggelengkan kepalanya, “Tidak.” Meski begitu, ia kelihatannya masih tidak bisa memahami apa yang terjadi barusan. Bingung, ia melanjutkan, “Aku benar-benar tertangkap olehnya, tapi sepertinya ada sesuatu yang menyelamatkanku.” Ia menggali sesuatu dari saku celananya, tapi tidak menemukan hal yang aneh di dalamnya. “Darah terus mengalir dari sakuku … Apa kau tahu sesuatu?”

Please support our translators at langitbieru (dot) com

Ruan Nanzhu bersandar di ambang pintunya dan menggelengkan kepala, menandakan ia tidak tahu, “Tidak perlu memikirkan hal sepele seperti itu, yang penting kau keluar aman sentosa dan semuanya baik-baik saja sekarang.”

Lin Qiushi bergumam sebagai balasan. Ia memiliki dugaan bahwa Ruan Nanzhu menyembunyikan sesuatu darinya, tapi meski begitu, ia tidak berani menyuarakan ini padanya. Setelah mengangguk sedikit, ia berbalik untuk pergi.  QdMYvA

Ruan Nanzhu menatap punggungnya dan memberitahu, “Tan Zaozao mengundang kita untuk makan malam hari ini.”

“Oke.” jawab Lin Qiushi, “Aku akan mandi untuk menenangkan diri dulu.”

Senja datang dengan segera.

Lin Qiushi dan Ruan Nanzhu tiba di restoran yang dipesan Tan Zaozao. Lin Qiushi awalnya mengira Tan Zaozao akan mengundang mereka untuk makan steak premium atau hidangan mewah sejenisnya, tapi ia jelas tidak menyangka gadis itu akan mentraktir mereka makan hotpot.  qYf9O5

Segera setelah Lin Qiushi melangkah masuk, ia melihat Tan Zaozao yang berpakaian santai dengan lengan tergulung, dengan penuh semangat menenggak bir dan menelan sesuap daging hotpot. Ia bahkan tidak mengangkat kepalanya untuk melihat kedatangan mereka. Ia dengan bersemangat memanggil mereka untuk duduk disampingnya, menolak untuk menjeda kegiatan minum dan makannya. “Kemari sini! Cepat duduk! Sial, aku bisa mati karena senang. Aku sudah makan steak sial itu untuk waktu yang lama sampai aku menginginkan ini seperti orang gila.”

Lin Qiushi: “…” Seriusan, perbedaannya terlalu banyak untuk Lin Qiushi hadapi. 

Ruan Nanzhu kelihatannya sudah terbiasa melihatnya seperti ini. Ia mendudukan dirinya dengan santai di samping Tan Zaozao dan berkata, “Jangan lupa kirim sisanya.” 

Tan Zaozao dengan kesal membentak, “Kau kira aku akan lupa. Jangan lebay. Serius deh, untuk apa buru-buru? Aku baru saja keluar dari sana. Maklumi saja aku dan setidaknya biarkan diri ini menikmati hidup selama dua hari.” Ia menenggak bir dinginnya dan bersendawa keras, “Brengsek, enak sekali …” S3KqN4

Lin Qiushi merasa pikirannya kosong saat ia melihat si-katanya ratu arogan di depannya yang telah meruntuhkan semua kepalsuan dirinya. Masih bingung, ia tanpa mengatakan apapun duduk di sebelah mereka dan mulai makan. 

Tan Zaozao dan Ruan Nanzhu mulai membicarakan bisnis. Kebanyakan percakapan mereka berhubungan dengan tawar-menawar harga pintu keempat. Setelah mendengar pembicaraan mereka, Lin Qiushi menyadari bahwa harga untuk layanan Ruan Nanzhu dalam dunia pintu sama sekali tidak murah. Empat pintu pertama harganya tidak kurang dari satu juta, sesuai dengan harga. Dan mulai dari pintu kelima, harga yang diminta lebih tinggi. Soal berapa banyak harga yang dinaikkan, semuanya tergantung suasana hati Ruan Nanzhu. 

“Tidak bisakah aku mendapat sedikit potongan harga karena kita memiliki hubungan yang begitu baik satu sama lain? Kita kurang lebih seperti keluarga, kau tahu?” Tan Zaozao mencoba menawar. “Jangan lupa, aku juga member VIP.”

Ruan Nanzhu membalas dingin, “Ya sudah, saudaraku sayang, bayar.” Ja3gk8

Tan Zaozao: “Dasar pelit.” Karena si kikir yang selalu duduk di singgasananya yang tinggi, menempatkan dirinya di atas manusia biasa dan bertindak seolah ia tidak memiliki keinginan duniawi, Tan Zaozao dengan naif mengira ia adalah seorang grand master yang sepenuhnya tidak tertarik dengan urusan biasa di dunia fana. 

Ruan Nanzhu: “Kau mau bayar atau tidak?” 

Tanpa daya mengeluarkan ponselnya, Tan Zaozao bersiap mengirim uangnya. 

Ding. Ponsel Lin Qiushi berdering setelah ia selesai mengirim bayaran. Ia mengeluarkan ponselnya dan menemukan sebanyak dua ratus ribu yuan sudah ditambahkan ke rekeningnya. Alisnya sedikit berkerut, menunjukkan keengganannya, “Ruan Da-ge …” dOACwy

Ruan Nanzhu melambaikan tangannya meremehkan, “Ia memberikannya, jadi kau harus menerimanya tanpa bertanya. Itulah harga kehidupannya. Mengembalikannya sama saja seperti merendahkannya. 

Tan Zaozao: “…” Tidak, kumohon. Ia sejujurnya lebih suka direndahkan. 

Read more BL at langitbieru (dot) com

Setiap bisnis memiliki etika dan peraturannya sendiri, yang harus dipenuhi operator dan klien. Sebagai orang baru, ia tidak boleh mempertanyakan transaksi ini dan lebih baik mengikuti arus. Memikirkan itu, Lin Qiushi dengan penuh terima kasih menerima uang tersebut, sama sekali tidak menyadari tangisan bisu Tan Zaozao. 

Baru saja meninggalkan dunia pintu, ketiga orang itu kelelahan, terutama Lin Qiushi yang tertangkap wanita itu sebelum kabur. Meski ia tidak terluka, momen mengerikan itu masih cukup membuatnya trauma dan menguras energinya.  UGnkDz

Yang pertama makan juga yang pertama pulang. Setelah selesai memenuhi perutnya, Tan Zaozao mengucapkan selamat tinggal pada Ruan Nanzhu dan Lin Qiushi, meninggalkan mereka berdua di meja. 

“Lelah?” Ruan Nanzhu bertanya padanya. 

“Sedikit,” jawab Lin Qiushi. 

“Kalau begitu ayo pulang.” Ruan Nanzhu berkata, “Sudah larut.” EunWR5

Lin Qiushi mengangguk. 

Dengan begitu, keduanya keluar dari restoran hotpot. Meski sebenarnya matahari sudah terbenam, cuacanya masih sangat panas dan lembap. Kicauan jangkrik tidak berhenti, beriringan dengan gelegar klakson serta deru lalu lintas berlalu lalang mengelilingi mereka. Hiruk pikuk suara amat berisik, tapi anehnya menenangkan, tentu. Mereka tidak mengucapkan sepatah kata pun saat mereka berjalan pulang; dari awal sampai akhir, suasana di antara Lin Qiushi dan Ruan Nanzhu secara harmonis senyap. Baru setelah mereka tiba di villa, Ruan Nanzhu akhirnya membuka mulutnya dan berkata pada Lin Qiushi, “Istirahatlah.”

“Kau juga.” Lin Qiushi tersenyum. 

Dengan begitu, Ruan Nanzhu naik ke atas. Lin Qiushi, di sisi lain, duduk sebentar di ruang tamu.  i mdrC

Saat melihat Lin Qiushi, Cheng Qianli, yang baru saja pulang setelah mengajak Toast jalan sore, dengan ceria menyapa, “Oh, selamat datang kembali!”

Lin Qiushi: “Aku pulang.”

“Kali ini tidak ada kecelakaan, huh?” tanya Cheng Qianli sambil mengusap bokong lembut Toast. 

“Tidak ada yang serius.” Lin Qiushi menjawab, sangat tenang.  xrHPju

Menyadari bahwa Lin Qiushi tidak dalam suasana hati yang baik, Cheng Qianli memiringkan kepalanya, “Apa kau baik-baik saja?” 

“Baik?” Lin Qiushi menggelengkan kepalanya, “Tidak terlalu. Sepertinya aku hanya lelah.”

Cheng Qiali mengeluarkan sebuah, “Oh,” dan tidak mengoceh lebih banyak. Ia hanya berulang kali memberitahu Lin Qiushi untuk beristirahat agar merasa lebih baik.

Lin Qiushi bertanya, “Apa kau melihat Chestnut?”  s4AOn8

“Tidak, belum melihat Chestnut. Aku tidak tahu kemana ia pergi; mungkin di kamar Ruan Nanzhu?” Cheng Qianli berkata, “Apa kau akan pergi ke sana dan memeriksanya sendiri?”

Lin Qiushi berpikir sejenak, sebelum memutuskan untuk membiarkannya. 

Langit Bieru.

Setelah kembali ke kamarnya dan bergelung di bawah selimutnya, Lin Qiushi berbaring di ranjang untuk waktu yang lama, tidak bisa tidur. Gelisah dan sambil tenggelam dalam pikirannya, ia menatap langit-langit di atas kepalanya. Akhirnya, ia tidak tahan dan mengirim sebuah pesan pada Ruan Nanzhu: Apa kau sudah tidur?

Beberapa detik berlalu sebelum Ruan Nanzhu membalas pesannya: Belum, kenapa? ZPg83

Lin Qiushi: Aku mau bertanya. 

Ruan Nanzhu: Ada apa?

Lin Qiushi menatap layar ponselnya, lalu merangkai apa yang ingin ia katakan menjadi kata-kata: Apa kau meletakkan sesuatu di sakuku?

Ruan Nanzhu tidak menjawab.  yY4eV2

Lin Qiushi: Apa itu? Ada sesuatu yang tidak bisa kau beritahu padaku?

Ruan Nanzhu hanya menjawabnya dengan tiga kata: Datanglah ke kamarku. 

Lin Qiushi agak senang. Ia melempar ponselnya dan berlari menuju kamar Ruan Nanzhu. Segera setelah ia membuka pintu, ia melihat Ruan Nanzhu yang baru selesai mandi dengan handuk tergantung lunglai di pinggangnya. Rambutnya masih basah dan menempel pada tengkuknya, butiran kilau air perlahan turun dari ujung rambutnya, menyusuri tubuhnya yang terpahat sempurna, dari tulang selangka hingga otot dadanya yang sempurna, turun hingga ke garis v indah di perutnya yang kokoh, lalu tergelincir ke dalam handuknya dan jatuh ke lantai. 

“Duduk.” Ruan Nanzhu memberikan isyarat dengan dagunya.  kL2NYj

Lin Qiushi duduk di sofa di samping Ruan Nanzhu. 

Ruan Nanzhu awalnya ingin menyalakan rokok, tapi kemudian menyingkirkannya setelah menatap Lin Qiushi. Ia lalu mengambil handuk lain dan mengeringkan rambutnya, “Ya, aku meletakkan sesuatu di sakumu.”

Lin Qiushi terang-terangan menuntut, “Lalu kenapa kau berbohong padaku?”

Ruan Nanzhu: “Apa kau lebih suka segala sesuatu dilakukan terang-terangan?” VRLg9m

Lin Qiushi bingung untuk mengatakannya, “Kenapa kau tidak melakukannya terang-terangan? Apa ada sesuatu yang memalukan atau mencurigakan soal ini, hingga kau harus melakukannya diam-diam?”

Ruan Nanzhu menatap Lin Qiushi, sebuah ekspresi aneh melintang di wajahnya. “Apa kau benar-benar tidak pernah berpikir kemungkinan bahwa aku bisa saja ingin menyakitimu?”

Lin Qiushi dengan polos menggelengkan kepalanya, “Aku tidak pernah memikirkannya.”

Ruan Nanzhu: “…” Lin Qiushi, kenapa kau begitu menggemaskan? stblWv


Catatan Penulis: 

Ruan Nanzhu: Aku suka menggertak orang tekun *menggosok tangan dengan bersemangat*

Please support our translators at langitbieru (dot) com

Lin Qiushi: ????

Lin Qiushi baru saja memasuki pintu keempatnya, tapi ia masih belum berpengalaman. Kau tidak boleh langsung membandingkannya dengan bos berpengalaman kita. Kau harus memberinya lebih banyak waktu. J19mta

Translator's Note

Ini merupakan sebuah dialog dari sebuah drama. Tan Zaozao kurang sebenarnya kurang lebih mengatakan, “Persetan. Seharusnya aku tidak memusingkan detailnya—bahkan jika semua orang mati, kalau kita mati bersama, tidak masalah,” dengan cara yang lebih halus. 

Leave a Comment

For an easier time commenting, login/register to our site!