English

Merebut MimpiCh65 - Pengintaian

2 Comments

Penerjemah : Zhanshines


“Di mana ulti yang kau janjikan? Kapan Liang Laoshi mau mengeluarkan ulti-nya?” 2LS73d


“Kamu membawa KTP kita?!” seru Yu Hao kebingungan saat ia dan Zhou Sheng akhirnya pergi ke kamar 406 di kabin atas dan entah mengapa, ia merasa seolah ia akan terbang ke bulan. Kamar tamu VIP belum terisi penuh, makanya Zhou Sheng memilih membeli tiket itu. Dia memberi isyarat kepada Yu Hao untuk merendahkan suaranya lalu memindai kartu kamar untuk membuka pintu. Setelah itu, keduanya pun mulai menyelinap masuk. Secara kebetulan, pintu ke kamar presidensial 402 terbuka pada saat yang sama dan Lin Xun sedang berjalan ke luar.

Saat Lin Xun ke luar, pintu 406 seketika itu juga dibanting tertutup. Yu Hao baru saja memasuki ruangan ketika dia mendengar suara pintu kamar presidensial ditutup. Zhou Sheng segera membuat isyarat psst, kemudian bersandar di pintu untuk melihat melalui lubang intip.

Story translated by Langit Bieru.

“Dia ke luar,” kata Zhou Sheng seraya meletakkan kartu identitasnya di atas lemari samping tempat tidur, “aku takut kita tidak bisa melewati pemeriksaan keamanan kalau kita mengejarnya ke bandara, jadi aku membawa KTP kita dan aku sangat beruntung sudah melakukannya. Lihat saja wajah manajer tadi saat kita memesan kamar VIP, dia benar-benar senang. Ini masalah yang bisa diselesaikan dengan uang, jadi apa yang membuatmu gugup?”

Yu Hao sekali lagi diperkenalkan dengan dunia ini. Dunia di mana apa pun bisa terjadi selama kau punya uang. Segera setelah Zhou Sheng bilang kalau dia mau memesan set premium 9.888 dan selanjutnya meningkatkannya ke paket mewah, semua orang di luar sana tadi segera berhenti mengganggu mereka. Kamar Presidensial menghadap ke kamar Lin Xun langsung karena sangat merepotkan kalau ruangan mereka dipisahkan oleh koridor. Biaya kamar VIP yaitu 9.800 dan Yu Hao berhasil menikmati beberapa perawatan super VIP juga. Zhou Sheng menelepon lagi dan meminta kru untuk mengirimi mereka makanan. Yu Hao bertanya, “Kamu masih mau makan? Aku tidak bisa makan lagi.” YG0xkJ

“Makanlah,” perintah Zhou Sheng lalu pergi ke lemari minuman beralkohol untuk mengambil salah satunya, “tidurlah dulu, Lin Xun tidak boleh dibiarkan melarikan diri.”

Aiya.” Yu Hao sebenarnya sangat gembira. Dia melakukan perjalanan bisnis dengan dibiayai orang lain dan bahkan mendapat perlakuan terbaik. Dia sedikit berharap Lin Xun tidak akan meninggalkan kapal ini terlalu cepat, supaya ia dan Zhou Sheng bisa bersantai di sini selama beberapa hari juga. Selain itu, kamar ini adalah kamar dengan ranjang king size!

“Makanan dan seks adalah keinginan terbesar laki-laki.” Zhou Sheng pergi ke balkon untuk mengamati daerah sekitarnya. “Murid Yu Hao, makanlah dengan baik dan bersenang-senanglah.”

Yu Hao tertawa. Dia berbaring di tempat tidur dan menekan tombol pada remote untuk menonton televisi. Panggilan telepon Huang Ting lalu sekonyong-konyong masuk di ponselnya. Ld7QHO

“Aku di dermaga,” kata Huang Ting.

“Kami sudah berlayar selama 2 jam,” kata Yu Hao.

Huang Ting berkata, “Aku tahu. Kapal akan segera meninggalkan provinsi, aku akan menyelesaikan prosedur untuk menahannya di tempat asing.”

Zhou Sheng kembali dan duduk di sisi tempat tidur. Yu Hao mengubah panggilan telepon itu ke mode speaker. NjegL8

“… Lin Xun masih tidak tahu kalau kita sedang mengejarnya. Tujuan dia pergi adalah kota tempat kapal itu akan berlabuh. Dia mungkin akan menghubungi ayah Chen Laoshi atau dia bisa saja terbang langsung ke Los Angeles dari sana dan meninggalkan negara itu.”

Zhou Sheng berkata, “Oke. Kami akan melacaknya dan segera melaporkannya kepadamu.”

“Jangan menarik perhatiannya sebelum kami tiba.” Huang Ting berkata, “Kapal yang kau tumpangi itu akan berhenti di stasiun suplai pertama pada siang ini, tapi itu paling-paling cuma berhenti di sana selama 10 menit. Besok, kapal itu akan berhenti di pemberhentian besar pertama, memberi waktu penumpang untuk pergi melihat-lihat dan jalan-jalan. Aku mengirim lokasi tempat berlabuh dan jadwal saat kapal seharusnya berlabuh ke akun WeChat Zhou Sheng.”

“Aku menelepon biro keamanan publik di provinsi pertama untuk meminta bantuan mereka, lalu aku akan kembali menjemput Chen Yekai dan berangkat melalui jalur darat, tapi provinsi itu sangat kecil dan kami takut ketinggalan. Kalau kita bisa mendapatkan bantuan dengan lancar, kita mungkin bisa naik kapal itu paling lambat besok pagi dan membawanya kembali. Kita tunggu saja pihak terkait memberi tahu kapten kapal itu tentang kejadian ini; jangan khawatir, Lin Xun tidak bisa kabur.” HTJCPl

Di pihak Zhou Sheng, panggilan Chen Yekai datang lagi.

Zhou Sheng berkata, “Kaikai, mana ulti yang kau janjikan? Kapan Liang Laoshi mau melepaskan ulti-nya?”

Nada suara Chen Yekai terdengar sedikit kesal. “Kami masih dalam proses mengembalikan ingatannya, jangan gelisah begitu.”

“Apakah itu Zhou Sheng?” suara Liang Jinmin terdengar, “atau Yu Hao?” CnQrpg

Ai, Liang Laoshi, aku dan Yu Hao sedang bersama,” jawab Zhou Sheng.

Liang Jinmin bertanya, “Apa kau sudah check in?”

Story translated by Langit Bieru.

Un. Tempat ini cukup bagus!” Zhou Sheng dan Yu Hao berbicara bersamaan.

Yu Hao, “Terima kasih, Liang Laoshi, karena sudah mentraktir kami berlayar dengan kapal pesiar mewah ini!” Swi7hP

Liang Jinmin berkata, “Terima kasih juga, kalian semua adalah anak-anak yang baik. Aku ingin memintamu untuk memperhatikan satu hal. Lin Xun, dia punya laptop ….”

“Dia selalu membawa laptop itu ke mana pun dia pergi,” potong Zhou Sheng.

“Ya, dia selalu membawa laptop itu bersamanya.” Suara Chen Yekai terdengar dari samping telepon.

We’re sorry for MTLers or people who like using reading mode, but our translations keep getting stolen by aggregators so we’re going to bring back the copy protection. If you need to MTL please retype the gibberish parts.

Liang Jinmin berbicara dengan Chen Yekai, “Aku tidak bisa, Nicky, Aku sudah benar-benar mencoba yang terbaik. Aku sungguh tidak ingat, aku terus merasa masih ada hal lain yang ingin kusampaikan, tapi ….” 9Ci8ZS

Chen Yekai berkata, “Coba ingat terus. Kumohon, Liang Laoshi.”

Yu Hao berkata, “Apakah itu hal yang sangat penting?” Yu Hao tidak menyangka bahwa laptop yang dibawa Lin Xun saat dalam pelarian akan memiliki rahasia di dalamnya yang sulit diungkapkan. Kemudian, Zhou Sheng melambaikan tangannya ke depan wajahnya, memberi isyarat kepada Yu Hao untuk tidak bertanya lagi.

“Aku sedang membicarakan hal lain. Sebelum aku kehilangan kesadaran, ada beberapa kuitansi elektronik, formulir, dan catatan obrolan di dalam laptop itu.” Liang Jinmin tidak mencoba untuk menyembunyikan apa pun dan berbicara dengan tenang, “Ini adalah bukti yang sangat penting mengenai laporan pengeluaran proyeknya. Karena dia membawanya bersamanya, maka sekarang aku yakin kalau ada sesuatu di sana. Baiklah, lupakan saja. Terima kasih, kalian berdua. “

“Tunggu.” Yu Hao tiba-tiba bertanya lagi, “Liang Laoshi, apa Anda tahu kata sandi laptopnya?” yEJYQb

Liang Jinmin merenung sejenak sebelum menjawab, “Ya, mau aku mengirimkannya kepadamu sekarang?”

Zhou Sheng dan Yu Hao saling melempar pandang. Yu Hao berujar, “Nanti saja, kalau aku berhasil mendapatkan laptop itu.”

Chen Yekai mengambil ponselnya dan hendak berbicara ketika suara yang berbeda terdengar dari ujung lain. “Jinmin? kau sudah bangun?”

Chen Yekai menutup telepon. Yu Hao dan Zhou Sheng saling memandang. JUobY7

“Apakah itu suara Dekan?” Yu Hao bertanya.

“Dekan datang berkunjung.” Zhou Sheng berujar dengan santai, “Uang bisa membuat iblis memutar halangan besar. Liang Laoshi bukanlah seseorang yang mudah ditangani dengan baik juga na.”

“Oh. Ngomong-ngomong, apa itu ulti?” Yu Hao bertanya dengan kening mengerut bingung.

Zhou Sheng berkata, “Kaikai bilang kalau Liang Laoshi sudah memikirkan cara untuk mengumpulkan beberapa bukti tentang Lin Xun sebelum dia jatuh pingsan. Jangan sampai dia lupa semuanya setelah dia tidur siang tadi ba.” NC 9Va

Yu Hao, “Dia sedang memikirkannya sekarang, bukan? Semoga saja ia berhasil.”

Yu Hao menguap dan Zhou Sheng berkata, “Tidurlah dulu sebentar.”

Please visit langitbieru (dot) com

Mereka berdua mendengar pintu kamar sebelah ditutup; Lin Xun kembali. Yu Hao menjadi waspada lagi. Zhou Sheng melambaikan tangannya untuk memberi isyarat kalau Yu Hao tidak perlu gugup, lalu melompat ke tempat tidur dan berbaring di samping Yu Hao. Dia menyalakan mode hening untuk televisi dan bermain-main dengan remote control.

Yu Hao berbalik menyamping dan tertidur di samping Zhou Sheng. Tempat tidur itu terlalu besar dan sangat nyaman untuk digunakan tidur. Dia tidak tahu berapa lama waktu berlalu sebelum dia merasa Zhou Sheng terbangun. Dia mendongak lalu menemukan Zhou Sheng sedang memegang cangkir kaca sambil menempelkannya ke dinding untuk mendengarkan aktivitas apa pun di ruangan sebelah. 6yJcAe

Yu Hao segera bangkit dari ranjang. Zhou Sheng membuat isyarat dengan tangannya untuk memanggilnya dan Yu Hao berkata, “Apa yang dia katakan?” Zhou Sheng menggelengkan kepalanya untuk mengartikan bahwa dia tidak dapat mendengarnya dengan jelas dan membuat Yu Hao datang untuk mendengarkan sendiri juga.

Tak beberapa lama kemudian, mereka mendengar pintu kamar sebelah terbuka; Lin Xun ke luar lagi.

“Masih ada waktu sekitar 20 menit sebelum pemberhentian pertama.” Yu Hao berkata, “Apa dia kira-kira akan turun dari kapal?”

Zhou Sheng menggelengkan kepala. “Tidak yakin, ayo curi laptopnya sekarang?” 0SHjhv

Ada dinding yang memisahkan balkon dari dua kamar ini, tapi itu sama sekali bukan masalah bagi seorang Zhou Sheng. Zhou Sheng memanjat balkon lalu mengintip ke kamar sebelah. Angin kencang bertiup dan terjadi hujan lebat saat kapal berlayar ke jantung sungai. Yu Hao berkata, “Hati-hati. Jangan di sana terlalu lama ba, bagaimana kalau dia tiba-tiba saja datang kembali?”

Zhou Sheng berujar agak ragu-ragu, “Akan kupercepat.”

Badai mengamuk dan begitu kapal meninggalkan sungai, badai yang menggelora itu semakin parah. Zhou Sheng diterjang hujan lebat sampai seluruh tubuhnya basah kuyup dan kaus putih yang menempel di dadanya mulai menunjukkan warna kulitnya. Seluruh tubuhnya meneteskan air.

Zhou Sheng kemudian memanjat lagi. Yu Hao tidak mau Zhou Sheng mengambil risiko ini sendirian, jadi dia mengikutinya dan naik ke balkon kamar presidensial. Pintu balkon kamar tersebut terkunci, tetapi ada jendela ventilasi di atasnya yang bisa didorong ke luar. Yu Hao mengambil posisi dan mulai menjalin jari-jarinya. Zhou Sheng melepas sandalnya dan melangkah ke jari-jari tangan Yu Hao yang saling bertautan itu dan meloncat ke kamar presidensial menggunakan momentum tambahan. Dia membuka pintu balkon dari dalam. Yu Hao bergegas masuk sambil membawa sandalnya, lalu berbalik dan mengunci pintu tadi. dgRXJu

Badai menghantam pintu balkon berkali-kali. Kamar presidential lebih luas dan mewah dibandingkan kamar VIP. Tas laptop yang dicari ada diletakkan di atas sofa. Zhou Sheng maju untuk menggeledahnya, tapi sayangnya tidak ada laptop tersebut di sana. Yu Hao sekarang juga sudah basah kuyup dari ujung kepala sampai ujung kaki dan cukup banyak air yang menetes dari keduanya ke lantai kayu. Mereka dengan cepat mencari sesuatu untuk membersihkan noda air di lantai agar keberadaan mereka tidak ketahuan oleh Lin Xun.

Pendingin ruangan terlalu kencang dan Yu Hao menggigil kedinginan.

“Dia membawa laptopnya ke mana pun dia pergi.” Zhou Sheng berkata, “Orang itu terlalu berhati-hati.”

Yu Hao, “Apa kita mau mencoba mengambilnya langsung dari dia? Lalu setelah kita merebutnya, kita bisa mengunci pintu dari dalam. Kita cuma perlu setengah jam untuk menghubungkan laptop tersebut ke hotspot kita kemudian mengirimkan apa yang diinginkan Liang Laoshi.” DiVsAa

Zhou Sheng menjawab, “Itu mungkin sulit. Laptop itu milik pribadinya. Setelah Lin Xun melaporkan kejadian itu ke pihak keamanan, dia pasti akan mengambil laptopnya kembali dengan bantuan mereka dan justru kita yang akan ditahan di kantor sekuriti. Lalu, dia akan menjadi lebih waspada. Dia akan menghapus bukti di dalam laptop itu dan kita akan kehilangan kesempatan lagi.”

Sebuah bip terdengar dari pintu dan sebelum Yu Hao bisa menunjukkan reaksi apa pun, Zhou Sheng terlebih dahulu menarik Yu Hao ke lemari. Zhou Sheng diam-diam menutup pintu lemari, bersamaan dengan itu, pintu kamar Lin Xun akhirnya terbuka dan Lin Xun masuk.

“Ya,” ucap Lin Xun. “Begitulah situasinya sekarang. Mereka tidak bisa menangkapku. Mereka cuma bisa meneleponku.”

Lin Xun membawa laptop dengan cara dijepit di bawah lengannya. Tampaknya dia menerima panggilan telepon itu sejak tadi di luar dan dia memilih mengangkatnya setelah dia kembali ke kamarnya. Dia menaruh laptop di meja kemudian menyalakannya setelah mencolok lubang pengisian daya. Dia berhenti sejenak untuk berpikir, lalu menekan beberapa tombol di sana. Sebuah program dijalankan di laptopnya, lalu Lin Xun bangkit dan berjalan ke jendela balkon. jA6KNc

Yu Hao dan Zhou Sheng bersembunyi di lemari. Yu Hao berpikir, lemari di kamar presidensial ini terlalu besar, kupikir kami bisa berpelukan dan berdesakan bersama.

“Sangat wajar di zaman sekarang sebuah pasangan saling memukul satu sama lain, kehidupan kami di luar negeri telah mengubahnya … ai …. “

Story translated by Langit Bieru.

Lin Xun melihat sekelilingnya saat dia masih berbicara melalui telepon. “Kau tahu lah seperti apa Jinmin, dia memiliki mulut yang sangat kotor, terkadang dia hanya menuai apa yang dia tabur ketika dia sedang mendapat pukulan. Tentu, aku juga salah, aku jadi begitu karena mabuk dan tidak bisa menahan diri sejenak, tapi bersikap begini sekarang, mengatakan kalau aku mencoba membunuhnya, itu terlalu … sehari bersama sebagai suami dan istri berarti pengabdian tanpa akhir selama sisa hidupmu. Kami sudah menikah selama dua puluh tahun, tapi cuma demi perceraian … itu benar-benar tidak bermoral. Ya, ya, apa itu cinta antara suami dan istri? Itu semua bukan apa-apa jika berhadapan dengan uang. Ngomong-ngomong, apa yang bisa membuktikan kalau seseorang, pada waktu tertentu, sedang berada dalam keadaan koma? Aku memikirkan ini dan orang-orang seharusnya tidak menuduhku karena itu.”

Zhou Sheng dengan lembut melepas sandalnya di dalam lemari. EMNIvU

“Aku akui bahwa pertengkaran kami meningkat menjadi pertengkaran fisik dan sekarang aku dirugikan karena aku tidak memeriksa lukaku sendiri ….” Lin Xun menoleh ke bawah dan melihat noda air di bawah jendela balkon. Dia mengulurkan tangan untuk membuka jendela dan mengecek ke luar.

Yu Hao dan Zhou Sheng mengedap-endap ke luar dari lemari tanpa alas kaki. Zhou Sheng melihat laptop di atas meja dan alisnya berkerut. Yu Hao dengan hati-hati berbalik dengan punggung menghadap pintu. Zhou Sheng tanpa suara mengulurkan tangannya dan mendekati meja.

Namun, pada detik berikutnya, Lin Xun tiba-tiba saja membalik badan dan ia segera berhenti berbicara.

Zhou Sheng dengan tegas bergerak maju untuk menutup laptop itu dan Yu Hao segera membuka pintu, tapi Lin Xun bahkan lebih cepat dari Zhou Sheng—dengan satu langkah maju yang tiba-tiba, pria itu berhasil mengambil laptopnya! Qrd7hS

Zhou Sheng bergegas mengubah niatnya dari mencuri menjadi merampas. Dia melangkah ke meja tanpa memakai alas kaki, kakinya menyapu udara saat dia berputar. Lin Xun berteriak, “Ada pencuri!”

Bersamaan dengan itu, kapal pesiar tersebut tiba-tiba saja mengeluarkan getaran yang kencang; kapal pesiar telah mencapai pantai.

Getaran ini membuat Zhou Sheng sekonyong-konyong kehilangan keseimbangan. Dia terpeleset di meja dan terjatuh—jarang sekali Zhou Sheng membuat kesalahan. Yu Hao segera berlari menuju meja. Masih ada air di lantai kayu yang belum mengering; Zhou Sheng tergelincir di lantai yang licin, kehilangan pijakan dan jatuh melalui jendela balkon.

“Zhou Sheng!” Yu Hao bergegas maju. Sisi kapal berada tepat di luar dan hanya karena terpeleset sekali, Zhou Sheng nyaris jatuh ke sungai. Untungnya, Yu Hao segera maju untuk menangkapnya dengan erat. u5Np0a

Lin Xun segera berteriak, “Pencuri! Pencuri!”

Dia memasukkan laptopnya ke dalam tas, menggenggam tas itu dan segera berlari ke luar.

“Lantainya licin sekali, berengsek!”

Zhou Sheng hampir mati karena marah. Keduanya berguling dan merangkak untuk bangkit, lalu berbalik untuk berlari melewati karpet. Yu Hao menemukan sepasang sandal dan segera melemparkannya ke Zhou Sheng. Mereka melangkah maju, melompat dan melesat ke luar ruangan. e629pU

“Kenapa kamu mau mengambil laptopnya?” Yu Hao cuma bisa mengatakan ini sekarang.

Zhou Sheng, “Bukannya kau mau kita mengambilnya?!”

Yu Hao, “Aku tadinya cuma basa-basi, bagaimana pun, dia tidak bisa melarikan diri sekarang.”

Zhou Sheng, “Dia baru saja menghapus sesuatu, kau tidak melihatnya?” ykzLxl

Mereka bergegas menuruni tangga dan bertabrakan dengan seorang pelayan yang membawa teh dan teh itu terciprat ke seluruh tubuh mereka.

Yu Hao, “Maaf!”

Please visit langitbieru (dot) com

Zhou Sheng, “Tangkap dia!”

Lin Xun berlari ke lobi dengan kecepatan tinggi, tapi langkahnya kian melambat di beberapa langkah terakhir sebelum berjalan menuruni tangga, tenang. Yu Hao dan Zhou Sheng yang berlari kencang dari lantai atas telah menarik perhatian para kru. Lin Xun menoleh ke belakang dengan ragu, setelah itu dia berbalik dan memasuki koridor dek. 7f3Uhy

“Apa yang kalian lakukan?!” Seseorang bergegas mencoba menghampiri mereka. Zhou Sheng sedikit membungkuk, menarik Yu Hao ke lobi dan cepat-cepat menuju ke geladak kapal. Ketika mereka mencapai geladak tersebut, Lin Xun sudah dengan lincah berjalan meninggalkan kapal.

“Apa yang kru kapal ini lakukan?!” Zhou Sheng menggeram marah, “tidak ada yang menangkap orang yang seharusnya ditangkap! Kenapa tidak ada orang yang memperhatikan dia yang lari di sana itu sama sekali!?”

Zhou Sheng berbelok, duduk di pagar kapal, kemudian meluncur ke bawah. Lin Xun menoleh ke belakang. Dia masih menggenggam erat tas laptopnya saat dia berlari ke dermaga.

“Tangkap dia!” Yu Hao berseru cemas begitu mendesak, “dia mencuri sesuatu!” uiwxdG

“Tangkap dia!” Zhou Sheng bergegas akan lari ke dermaga, di sisi lain Yu Hao ikut meluncur di belakangnya. Masih agak hujan gerimis di dermaga. Keduanya mengejar Lin Xun. Lin Xun menoleh ke belakang lagi dan dalam keadaan panik, ia buru-buru pergi ke pasar yang terletak di sisi dermaga.

“Kejar dia, ah!” seru Yu Hao. “Jangan pedulikan aku!”

“Sulit sekali mengejar orang cuma dengan memakai sandal.” Zhou Sheng melanjutkan, “Aku juga tidak bisa lari cepat-cepat!”

Daerah itu adalah kota kabupaten kecil di dekat pegunungan dan sungai. Jalan raya berada di tengah jalan pendakian dan ada pasar di kaki gunung. Hari ini gerimis, tapi masih cukup banyak orang. Begitu Lin Xun menyelinap ke kerumunan, Zhou Sheng dan Yu Hao segera kehilangan keberadaan pria penjahat itu. Zhou Sheng dan Yu Hao baru menyeberangi setengah jalan dengan terengah-engah ketika Yu Hao tiba-tiba saja menemukan keberadaan Lin Xun yang masih membawa tasnya—sedang memanggil taksi di pinggir jalan. AbSVo0

“Di sana!” teriak Yu Hao. Zhou Sheng segera berlari ke tangga menuju tempat yang lebih tinggi dan berlari ke jalan raya. Yu Hao mencoba yang terbaik untuk menyusulnya dari belakang.

Lin Xun berdiri di pinggir jalan yang tanahnya tinggi di luar dermaga. Dia sangat gugup juga gelisah dan ketika dia menatap ponselnya, dia mendengar suara buuzzz saat sepeda motor melewatinya. Lin Xun terkesiap dan tersandung—laptopnya direnggut.

Yu Hao, ” ….”

Zhou Sheng, ” ….” TS5d8s

Yu Hao dan Zhou Sheng bergegas ke pinggir jalan. Ketika Lin Xun melihat bahwa mereka telah menyusulnya, dia segera berbalik dan berlari di sepanjang jalan. Zhou Sheng mengejarnya dan ketika Yu Hao ingin ikut menyusul, dia malah justru berbalik dan berlari ke ujung jalan lainnya.

Zhou Sheng, “Lin Xun!”

Lin Xun, “Kau … kenapa … kau ….”

Lin Xun berlari sampai dia kehabisan napas, tapi dia tentu saja sama sekali bukan lawan Zhou Sheng. Zhou Sheng bergegas menghampiri punggungnya dan dalam satu gerakan halus ia melompat, memutar tubuhnya di udara, dan segera menyergap Lin Xun ke tanah. Namun, Lin Xun masih berjuang untuk melarikan diri. 4NWwC8

“Siapa yang menyuruhmu untuk tetap tidak patuh saat di kapal tadi? Menyia-nyiakan uangku sebanyak 9,800 Yuan.” Zhou Sheng mengerahkan 80% kekuatannya untuk memberi Lin Xun pukulan di wajah dan setelah itu, dunia menjadi sunyi.

Zhou Sheng merasa itu agak tidak wajar.

Please visit langitbieru (dot) com

“Yu Hao?” Zhou Sheng berbalik dan menyadari bahwa Yu Hao telah menghilang. Dia lantas segera berteriak, “YU HAO——!”

Matanya segera melirik pada pasar di bawah sana, dia melihat tiga anggota kru kapal telah menyusul, jadi dia segera mengabaikan Lin Xun untuk berbalik mencari Yu Hao. OF7v3G

Yu Hao melesat di jalan, tetapi pengguna sepeda motor yang mencuri laptop Lin Xun tadi sudah menghilang tanpa jejak. Ada tempat pengumpulan sampah di pinggir jalan, dengan tumpukan sepeda usang yang diparkir di luarnya. Yu Hao mencoba bertanya kepada bos di stasiun—mungkin saja orang ini sempat melihat sepeda motor tadi melintas—yang untungnya memberikan arahan dengan menunjuk ke sisi lain gunung. Yu Hao melepas sandalnya dan berlari ke bawah bukit untuk mengejar sepeda motor yang dicarinya.

Ini adalah lereng gunung, jadi sepertinya akan baik-baik saja, masih oke, pikirnya. Yu Hao tadinya nyaris mati kelelahan ketika dia mulai berlari ke tanah yang menanjak, jadi pengejaran ke jalan yang menurun seharusnya jauh lebih baik. Dia menggunakan kekuatan grafitasi untuk berlari ke bawah. Ketika dia mencapai titik tengah gunung, jalan setapak bertemu dengan jalan raya lain. Yu Hao melihat ke kiri dan ke kanan, lalu memilih arah untuk berlari. Hujan mulai reda sekarang, tapi jalan setapak masih sangat sulit dilintasi. Yu Hao hampir putus asa akan pengejaran ini, tapi dia sekonyong-konyong melihat sebuah jejak di sebelah jalan raya. Ada beberapa rumah pertanian di ujung jalan setapak, jadi dia segera meninggalkan jalan raya dan berlari ke arah rumah pertanian tersebut.

Zhou Sheng mengejar Yu Hao di sepanjang jalan yang dilalui Yu Hao. Dia melewati stasiun lama, menemukan sepeda yang sudah usang dan akan memakainya, kemudian tiba-tiba saja pemilik sepeda itu berteriak, “Wei! Wei!”

Zhou Sheng berkata, “Aiya, ini 200! Aku akan mengambil sepeda ini!” Dia mengeluarkan ponselnya sambil berbicara dan memindai kode di lemari pendingin minuman, lalu melanjutkan, “Berikan ini padaku, pergi dan belilah satu yang baru untukmu!” 5H4vbh

Zhou Sheng setelah itu mengambil batu bata dengan tali plastik yang diikatkan di sekelilingnya yang dipakai untuk menahan beberapa kantong plastik di luar tempat pembuangan sampah. Dengan suara wusshh, dia menaiki sepeda dan mengendarainya menuruni gunung secepat angin.

Yu Hao mendekati orang di rumah pertanian. “Apakah ada yang melihat …,” ucapan Yu Hao secara spontan dipotong dan langkahnya jadi melambat. Seekor anjing besar yang lehernya diikat dengan rantai logam bergegas ke luar dan mulai menggonggong dengan marah padanya. Di luar rumah pertanian bobrok itu, ada sebuah sepeda motor yang diparkir di tengah jalan. Satu orang masih duduk di atas sepeda motor sementara yang lain mengobrak-abrik tas laptop Lin Xun. Keduanya mengapit rokok di mulut mereka dan ada sebuah sumur kecil di samping mereka. Kedua orang itu tengah dengan santai mengobrak-abrik tas untuk menemukan barang berharga dan bersiap untuk membuang tas laptop setelahnya.

Yu Hao, ” ….”

Kedua pria itu tidak sengaja bertemu pandang dengan Yu Hao. Mereka kemudian mulai berbicara dalam dialek lokal. Mereka membuang rokok mereka dan salah satu pengendara sepeda motor berjalan maju, mengambil tongkat tebal, dan mengarah kepada Yu Hao—bersiap untuk memukuli Yu Hao. Yu Hao mundur setengah langkah. EnHKr5

Oh, aku menemukan mereka, tapi sekarang tampaknya akan sangat kacau.” Yu Hao bergumam pada dirinya sendiri, “Zhou Sheng, kumohon, datanglah cepat.” Segera setelah itu, salah satu pengendara sepeda motor tersebut dengan kejam mengayunkan tongkat ke arah Yu Hao. Namun, Yu Hao secara refleks mengelak dengan merunduk di bawah ketiak pria itu, lalu dia menggunakan kedua tangannya untuk melindungi kepalanya sendiri. Mereka berdua tampak seperti berada di ring tinju saat Yu Hao menghindar, berbalik, mengangkat kakinya, dan menendang kaki pria itu sampai tertekuk. Orang itu benar-benar terhuyung-huyung karena ditendang dan langsung mengumpat dengan keras!

Eh? Kenapa aku bisa tahu gerakan seperti itu? Yu Hao tanpa sadar melindungi wajahnya dengan lengannya. Salah satu pengendara sepeda motor itu bergegas maju lagi, sementara pengendara sepeda motor lainnya juga sudah ikut maju dan memeluk Yu Hao dari belakang. Di depannya, pengendara sepeda motor yang memegang tongkat telah menusuk perut Yu Hao dengan benda itu.

Tiba-tiba saja Yu Hao seperti mendapatkan sebuah pencerahan. Instingnya membuatnya segera melompat dari tempatnya berdiri, berusaha memutar tubuhnya saat ia masih terkungkung di dalam pelukan pengendara motor yang satunya. Tubuhnya terus memberontak dan ia akhirnya berhasil menendang dagu pria dengan tongkat di tangannya yang tadinya berdiri di hadapannya itu. Yu Hao kemudian secara paksa berbalik ke samping, menyebabkan orang di belakangnya kehilangan keseimbangan. Akibatnya dia dan pria itu terjatuh ke tanah bersama-sama.

Yu Hao tercengang. “Sejak kapan aku belajar cara bertarung?” a3impW

Bagaimana pun, gerakannya sungguh-sungguh terkesan dilakukan karena naluri murni. Pengendara motor pertama di hadapannya tadi menggigit lidahnya saat ditendang, sehingga di mulutnya kini sudah penuh oleh darah. Pria itu lantas menjadi geram. Ia menjentikkan pisaunya sebelum menerjang Yu Hao. Yu Hao dengan cepat mengunci dan memutar pergelangan tangan pria itu dengan mudah, Yu Hao lalu berlutut dan melemparkan tubuh pria itu ke tanah.

Dari belakang, pengendara sepeda motor satunya sudah terlanjur menaiki motornya ke depan. Dia mengeluarkan pisau semangka dari kotak tertutup di belakang dan mengumpat dengan kasar menggunakan bahasa Daerahnya. Yu Hao segera mundur. Sesaat kemudian, sebuah sepeda melintas di sampingnya seperti sambaran petir. Yu Hao merasakan penglihatannya kabur sejenak. Zhou Sheng menabrak pengendara sepeda motor itu menggunakan sepedanya, menjatuhkan sepeda motor itu ke tanah dan membuat pengendaranya terlempar lebih dari dua meter jauhnya.

“Apa kau baik-baik saja?” tanya Zhou Sheng sembari memegang tali jemuran dengan batu bata terikat di tali itu.

Yu Hao, “Aku … Aku baik-baik saja. Aku hanya tiba-tiba saja tahu bagaimana cara bertarung. Apa yang sedang terjadi? Semuanya juga dipelajari secara otodidak!” zZwTRI

Laoshi yang mengajarimu!” Zhou Sheng berkata, “Otodidak?! Cih, jangan terlalu terburu-buru percaya diri!”

Pengendara sepeda motor itu merangkak dan mulai berdiri terhuyung-huyung dari tanah. Zhou Sheng memegang tali jemuran dan batu bata seperti palu meteorit dan mengayunkannya dalam satu gerakan.

Story translated by Langit Bieru.

“Siapa yang menyuruhmu menjadi begal atau apa pun itu, alih-alih menjadi manusia yang baik, hmm?”

Zhou Sheng menghantam pergelangan kaki pengendara motor, menjatuhkan pria itu ke tanah. Pisau semangka terlepas dari tangan pria tersebut dan pengendara motor itu terlempar ke tanah dengan sangat keras, sehingga wajahnya menjadi berlumuran darah. Pria itu terus memohon belas kasihan dan berusaha menendang batu bata itu dengan kedua kakinya. Zhou Sheng mengambil palu meteorit-nya, kemudian memberikan serangan lainnya ketika dia berbalik dan melihat pengendara sepeda pertama—yang telah menyakiti Yu Hao—berencana untuk melarikan diri. ikPXBc

“Berani-beraninya kau merampas tas di depan Laoshi, hmm? Bukannya pertama-pertama kau harus bertanya siapa aku, hmm?”

Yu Hao, ” ….”

Mereka berdua baru saja akan berdiri ketika Zhou Sheng sekali lagi membuat mereka tergeletak jatuh ke tanah. Yu Hao dengan cepat mengambil tas laptop dan mengobrak-abriknya isinya—laptop dan paspor masih ada di sana, bersama dengan beberapa barang-barang material, uang tunai, dan kartu ATM.

“Aku menemukannya! Syukurlah ….” Yu Hao bersorak. y1ldbu

Zhou Sheng mengambil sepeda usang yang dikendarainya tadi dan melemparkannya ke arah samping. Yu Hao bertanya, “Di mana kamu ambil itu?”

“Membelinya di jalanan,” kata Zhou Sheng terdengar santai. “Aku tidak butuh itu lagi.”

Yu Hao menegur, “Berapa harganya? Sayang sekali kalau dibuang begitu saja!”

“200! Kita sekarang punya sepeda motor, jadi siapa yang peduli dengan sepeda?” Zhou Sheng mengangkat sepeda motor milik begal tadi lalu menaikinya, berkata dengan penuh kepuasan, “Cuma perkelahian kecil dan sepeda berubah menjadi motor. Ayo pergi! Mari kita ke kantor polisi.” Xt fy1

Yu Hao segera memungut tas laptop Lin Xun dan duduk di kursi belakang sepeda motor. Zhou Sheng mengegas dan menyalakan sepeda motor. Dengan suara brrrumm sepeda motor melaju, melemparkan cukup banyak lumpur sebelum keluar dari jalan setapak menuju jalan raya. Dia membawa Yu Hao pergi dengan sepeda motor yang bergemuruh keras dan melewati hujan lebat saat mereka melaju menuju ujung jalan raya.

Translator's Note

Mungkin bisa jadi Beijing/Tianjin/Shanghai atau Chongqing

Translator's Note

Kalau dalam istilah gim, ini semacam kemampuan khusus untuk mengeluarkan jurus atau gerakan pamungkas

Leave a Comment

For an easier time commenting, login/register to our site!

2 comments