English

Tiandi BaijuCh12 - Apa yang kamu lakukan selama tiga tahun terakhir ini?

0 Comments

Penerjemah Inggris : beansprout, grape seed

Penerjemah Indonesia : jeff  FLowix


MASA KINI

Saat itu jam 5:00 sore. Du Jing sedang mengemudi sambil berbicara di telepon.

Please support our translators at langitbieru (dot) com

“Pergilah. Lakukan apa yang Yu Jianqiang perintahkan. Aku akan memberitahumu kalau kamu secara tidak sengaja bertemu dengan polisi kriminal,” kata suara di sisi lain telepon. “Bukankah sudah waktunya bagimu untuk membawa Xiao Li bersamamu dalam sebuah tugas? Kau selalu membuatnya tetap berada di perusahaan sebagai penghangat bangku.”

“Sebenarnya dia bawahanku atau bawahanmu?” Du Jing membalas. dqEPuA

“Aku hanya mengingatkanmu,” kata bosnya dari ujung seberang.


Du Jing menghentikan mobilnya di luar gedung kantor Changyi, dan Zhuang Li segera membuka pintu mobil dan duduk di dalam. Dia menyapa, “Hai, Jing ge.”

“Kursi belakang,” kata Du Jing rendah, tanpa menyalakan mobil.

Zhuang Li menatap Du Jing dengan tatapan kosong, lalu tatapannya beralih menuju ke kursi belakang. Du Jing tiba-tiba berkata, “Aku memberitahumu untuk duduk di kursi belakang! Apa kau tidak mengerti ucapan manusia?!” FinTZo

Zhuang Li buru-buru melepaskan sabuk pengamannya dan pindah ke kursi belakang, sedikit gemetar karena ketakutan.

Saat itu, ponsel Du Jing mulai berdering. Dia meliriknya kemudian mengaktifkan mode speaker.

“Kamu dimana?” Zhou Luoyang bertanya.

“Kerja,” kata Du Jing datar. DhadQj

“Kamu jelas sedang mengemudi. Apa kamu sudah merasa sedikit lebih baik sekarang?”

Zhuang Li mendengarkan percakapan mereka. Du Jing berkata, “’Kamu Jelas’ yang sedang mengemudi. Aku bukan ‘Kamu Jelas’, aku tidak sedang mengemudi.”

Ketika Zhou Luoyang mendengar itu, dia tahu bahwa keadaan Du Jing sudah sedikit lebih baik. Dia berkata, “Apa kamu bisa menjemputku? Aku membeli terlalu banyak barang, dan sulit untuk memanggil taksi di luar jalan komersial.”

“Tunggu saja. Waktu bisa menyelesaikan semua masalah,” kata Du Jing. “Aku bukan sopirmu.” QkeiGc

“Sebenarnya, aku baru saja melunasi hutangku kepada Fang Zhou, dan sekarang aku benar-benar tidak punya satu sen pun yang tersisa. Aku tidak ingin berhutang uang lagi pada Ant Credit Pay.”

Mendengarnya, Du Jing memutuskan untuk pergi menjemput Zhou Luoyang. Sepanjang waktu, Zhuang Li duduk dengan hati-hati dan diam di kursi belakang.


“Jing ge, apa kamu tidak enak badan?” Zhuang Li menunggu beberapa saat setelah Du Jing menutup telepon untuk menanyakan pertanyaan ini dengan hati-hati.

“Sekarang aku merasa luar biasa,” jawab Du Jing tanpa ekspresi. goYD7l


Zhuang Li sejujurnya tidak bisa benar-benar tahu kapan Du Jing mengolok-oloknya dan kapan dia benar-benar mencoba menjelaskan sesuatu kepadanya. Atasannya yang pemurung ini baru bekerja selama setengah tahun dan sudah menjadi legenda di kantor mereka.

Tidak ada yang pernah menjadi supervisor segera setelah mereka bergabung dengan kantor. Changyi sudah berbisnis di Tiongkok selama hampir empat puluh tahun, sejak reformasi Tiongkok pada tahun delapan puluhan, sampai hari ini, Du Jing adalah satu-satunya.

Please support our translators at langitbieru (dot) com

Yang terpenting, bos benar-benar mempercayainya. Zhuang Li selalu merasa beruntung jika dia bisa belajar sesuatu dari Du Jing. Tetapi dia memiliki masalah yang sama dengan rekan kerja ber-IQ tinggi lainnya: para jenius alami biasanya sulit untuk diajak berinteraksi.

Du Jing memegang salah satu telinganya ketika dia mengamati orang-orang yang lewat dengan cermat. PTOH2m

Dia melihat Zhou Luoyang.

Zhou Luoyang memiliki penampilan yang sangat muda. Matanya hangat, mengingatkan pada awan ringan yang melayang melintasi langit cerah, lembut dan pucat. Dia sedang mengamati gadis-gadis berpakaian modis yang berjalan di trotoar, memegang minuman di tangannya. Dua kantong kertas besar duduk di kakinya. Gadis-gadis cantik yang melewatinya akan balik menatapnya dan tersenyum, dan Zhou Luoyang juga akan membalas senyuman mereka.

Mobil Du Jing berhenti di depan Zhou Luoyang, menghalangi pandangannya. Zhou Luoyang meletakkan barang-barang yang dibelinya di bagasi mobil dan naik ke kursi penumpang.

“Halo.” Zhou Luoyang sedikit terkejut melihat ada orang lain di dalam mobil. tey9Nd

“Ha… halo.” Zhuang Li segera membungkuk dengan canggung.

Zhou Luoyang tidak bisa memastikan apakah Zhuang Li adalah atasan atau rekan kerja Du Jing. Untuk sesaat, Zhuang Li juga tidak bisa mengetahui apakah Zhou Luoyang adalah atasan atau teman Du Jing, tetapi begitu dia mendengar suaranya, dia teringat bahwa Zhou Luoyan adalah orang yang berbicara di dalam mobil beberapa hari yang lalu.

“Turun,” kata Du Jing dengan sungguh-sungguh.

Zhuang Li menatap kosong ke arah Zhou Luoyang, lalu ke arah Du Jing. Dia tidak mengerti mengapa Du Jing ingin Zhou Luoyang pergi begitu dia masuk ke dalam mobil. 4B1Z27

We’re sorry for MTLers or people who like using reading mode, but our translations keep getting stolen by aggregators so we’re going to bring back the copy protection. If you need to MTL please retype the gibberish parts.

Zhou Luoyang, bagaimanapun, bertanya, “Apa yang kamu lakukan, memerintah orang lain untuk pergi seperti itu? Haruskah aku pergi?”

Cxtlgcsj, Itejcu Ol wfcufgal yjtkj Ge Alcu rfvjcu wfwylmjgjxjccsj. Vjja vlj tfcvjx wfwyexj qlcae wbyli, Ge Alcu revjt weijl wfcufwevl.

“Dfgl jxe ejcu.” Itbe Oebsjcu wfcueiegxjc ajcujc rfgjxjtcsj xf jgjt Ge Alcu.

“Klvjxxjt lae wfgfqbaxjc?” Ge Alcu yfgajcsj. “Vevjt xeylijcu ecaex wfcagjcrofg rfwejcsj rfxjiluer.” pEyK 3

“Klvjx,” xjaj Itbe Oebsjcu vfcujc xfgjr xfqjij vjc wfcujwyli qbcrfi Ge Alcu.


“Aku pergi untuk melihat-lihat toko,” Zhou Luoyang menawarkan diri sebagai orang yang pertama kali bicara. “Aku akan mendiskusikan lokasinya denganmu malam ini. Secara keseluruhan lumayan bagus, hanya saja sewanya agak tinggi. Apa kamu baru pulang kerja?”

“Aku lembur,” kata Du Jing sederhana.

“Kemana kamu pergi? Aku akan pergi bersamamu.” Zhou Luoyang berbalik dan bertanya pada Zhuang Li, “Ingin makan malam bersama?” ys8RhZ

“Aku… tidak tahu,” jawab Zhuang Li, sedikit takut. “Aku juga tidak tahu kemana kita akan pergi sekarang.”

Du Jing diam-diam mengajak mereka berdua makan malam. Setelah membayar dengan ponselnya, dia menyerahkan ponselnya kepada Zhou Luoyang untuk memesan makanan. Zhou Luoyang melihat pesan dari Yu Jianqiang muncul di layar yang memberi tahu Du Jing bahwa dia harus sangat berhati-hati terhadap polisi dan memintanya untuk segera mengiriminya pesan setelah dia menemukan pria yang dicarinya, dan dia harus terus waspada.

Story translated by Langit Bieru.

Dia tahu bahwa Du Jing sekarang sudah merasa lebih baik, tetapi dengan kehadiran orang luar, dia jelas tidak ingin berbicara. Zhou Luoyang terbiasa berinteraksi seperti ini dan memutuskan untuk menghibur dirinya sendiri dengan bermain ponsel, tetapi kemudian ia melihat bagaimana Zhuang Li tampak seperti duduk di atas peniti dan jarum.

“Dia selalu seperti ini,” kata Zhou Luoyang. “Jangan khawatir.” hb9SC2

Zhou Luoyang tidak bisa benar-benar memulai percakapan dengan Zhuang Li, karena dia hanyalah teman sekampus dan teman sekamar Du Jing. Mereka yang bekerja pasti selalu dikelilingi rahasia. Jika dia bertanya terlalu banyak, Zhuang Li akan berada dalam situasi yang sulit, dan Zhou Luoyang hanya akan menimbulkan masalah baginya.

“Berapa harga sewa tokonya?” Ini adalah pertama kalinya Du Jing membuka mulutnya sejak makan malam.

“Dua juta setahun. Aku akan membahasnya dengan bank dalam beberapa hari. Aku bisa menggunakan gudang kecil itu sebagai jaminan pinjaman. Apa kamu punya seseorang yang kamu kenal?”

“Aku akan memikirkannya,” kata Du Jing. “Tempatnya juga perlu direnovasi. Kamu yakin ingin membuka toko di sini?” o8ubY

“Di sini?” Zhou Luoyang bingung. “Tidak disini. Ini adalah pusat komersial…” Tapi dia segera menyadari bahwa maksud dari kata-kata Du Jing berarti Kota Wan.

“Kalau bukan di sini, lalu di mana lagi?” Zhou Luoyang balas bertanya.

Du Jing tidak berbicara, tetapi Zhou Luoyang dengan segera mengingat masa lalu. Dulu ketika mereka masih di sekolah, Zhou Luoyang pernah berpikir untuk membuka toko jam dan barang antik di Jalan Beishan Hangzhou. Saat itu, biaya untuk menyewa etalase toko tidak terlalu mahal, dan mimpi kecil ini masih terasa seperti bisa menjadi kenyataan. Tapi lima tahun kemudian, mimpi itu menjadi sesuatu yang jauh dari jangkauan.

Zhou Luoyang tahu Du Jing menyukai Hangzhou. Saat itu hujan dan berkabut, dan memiliki keindahan khas Jiangnan. Dibandingkan dengan California dan Barcelona yang cenderung memiliki cuaca dan suasana yang cerah, dia jelas lebih suka kota yang lembab dan tenang. 1xXiSe

“Kita lihat saja nanti. Tapi bagaimana dengan Leyao?” Zhou Luoyang berkata pada akhirnya saat mereka meninggalkan restoran. Dia melirik GPS Du Jing dan berkata, “Ayo kita jangan pulang dulu. Bukankah kamu lembur? Aku akan ikut denganmu.”

“Tidak,” Du Jing menolak.

“Leyao tidak ada di rumah,” kata Zhou Luoyang. “Kamu ingin aku kembali untuk apa? Apa kamu tega melakukan itu padaku?”

“Kamu tidak akan mau pergi ke tempat yang akan aku tuju,” Du Jing memperingatkan. MCHLKl

“Kemanapun tidak masalah,” kata Zhou Luoyang. “Aku akan tetap pergi denganmu.”

“Kamu sendiri yang mengatakannya,” ucap Du Jing mengalah.

“Tentu saja,” jawab Zhou Luoyang. Dia benar-benar ingin tinggal bersama Du Jing. Setelah berpisah selama bertahun-tahun, dia menyadari sesuatu yang penting — di masa lalu, dia selalu menganggap Du Jing sebagai salah satu dari sekian banyak temannya. Tapi sekarang, dia menyadari bahwa Du Jing menempati tempat unik di hatinya, sama seperti dia menempati tempat unik di dalam hati Du Jing.


Akhirnya, Du Jing memarkir mobilnya di depan sebuah pemandian dan pusat rekreasi. ymLkRl

Zhou Luoyang terdiam.

Du Jing melirik ke arah Zhou Luoyang.

Please visit langitbieru (dot) com

“Kenapa kita ke sini?” Zhuang Li bertanya dengan hati-hati. “Apa Jing ge ingin dipijat? Aku tahu dimana panti pijat yang bagus.”

“Orang yang kamu cari ada di sini?” Zhou Luoyang bertanya. rNFtGE

Du Jing mengangguk dan memberi tahu Zhuang Li, “Tunggu di mobil.”

Zhuang Li hanya bisa menyetujui rencana Du Jing, dan Du Jing membawa Zhou Luoyang bersamanya ke pemandian dan pusat rekreasi.


Saat ini, pusat pemandian didekorasi dengan agak mewah, dan mereka menawarkan berbagai fasilitas, termasuk pemandian umum, sauna, dan panti pijat. Zhou Luoyang adalah orang selatan dan belum pernah ke pemandian umum sebelumnya. Dia hanya tidak biasa pergi ke pemandian bersama dengan teman-temannya, di mana mereka semua akan saling berhadapan tanpa mengenakan sehelai pakaian pun, benar-benar telanjang bulat. Du Jing adalah orang utara dan karena itu, dia lebih santai tentang tubuhnya, tetapi dia juga tidak pernah benar-benar pergi ke tempat seperti ini.

“Apa kamu mencari orang itu?” Zhou Luoyang bertanya dengan tenang. hTacJ

Du Jing menjawab, “Namanya Wu Xingping. Dia belum pergi.”

Sekarang, ketika mereka tidak lagi berada di depan Zhuang Li, Du Jing menjadi lebih banyak bicara, dan dia terdengar sedikit lebih tenang.

“Berapa lama kamu tidur semalam?” Zhou Luoyang bertanya.

Du Jing berkata, “Aku tidak tidur.” V fDc1

“Ayo cepat selesaikan ini supaya kamu bisa pulang dan istirahat. Terlalu sering begadang dan tidak tidur akan merusak kesehatanmu.”

“Aku baru-baru ini merasa sangat bersemangat,” kata Du Jing sembarangan sambil melihat sekeliling. “Itu bukan masalah besar.”

Segera setelah mereka masuk, enam pria yang berjaga tidak jauh mulai memperhatikan keberadaan mereka berdua. Dua dari mereka segera bangkit dan pergi, sementara empat lainnya berjalan ke arah mereka.

Zhou Luoyang sekarang tahu bahwa ini adalah tempat nongkrong geng kecil ini. fpWz1u

Seorang pemimpin kecil dari geng itu telah meninggal; tidak mungkin Wu Xingping tidak akan mengungkapkan semua detail dan kejadian setelah kembali. Yu Jianqiang segera menjadi musuh geng ini. Untuk sekarang, mereka tidak melakukan apa pun untuk membalas dendam, tetapi itu tidak berarti mereka tidak akan melakukan apa pun di masa depan. Saat ini, kekhawatiran yang paling mendesak adalah bagaimana menghindari penyelidikan Biro Keamanan Umum.

“Apa yang kau inginkan?” pemimpin mereka menuntut.

Keempat pria yang mendekat itu mengenakan pakaian tanpa lengan. Tato menutupi leher, lengan, dan bagian tubuh lainnya.

Du Jing menatap Zhou Luoyang agar dia tahu untuk tidak mengatakan apa-apa. Sangat mudah baginya untuk berurusan dengan empat preman ini jika diperlukan. WZAKb2

“Panggil Wu Xingping, aku ingin bicara,” kata Du Jing. “Polisi sedang mencarinya.”

Pemimpin itu memandang Du Jing dengan curiga, dan Du Jing berkata, “Aku punya saran untuknya. Aku jamin dia akan puas.”

Langit Bieru.


Mendengarnya, pria itu kemudian langsung menghubungi orang-orang di lantai atas melalui earpiece-nya. Dia berkata, “Asisten Yu Jianqiang datang.” Kemudian dia berjalan ke samping untuk melanjutkan pembicaraan. Beberapa saat kemudian, dia kembali dan memberi tahu Du Jing, “Pergi ke atas dan mandi.” Pria itu berjalan kembali ke meja depan dan berkata, “Tarik mereka tagihan untuk kamar mandi besar.”


“Boleh aku tidak ikut mandi?” Zhou Luoyang tidak tahu apakah harus tertawa atau menangis. Dia dan Du Jing menuju ke samping untuk berganti alas kaki mereka, mengenakan sandal. Ini adalah pertama kalinya dia datang ke pemandian besar seperti itu. WREmfd

“Siapa yang mengatakan kemanapun tidak masalah?” Du Jing balas bertanya.

Zhou Luoyang pernah pergi ke pemandian air panas dengan Du Jing sebelumnya, jadi tidak terlalu memalukan bagi mereka untuk telanjang di dekat satu sama lain. Hanya saja bisnis berkembang pesat di pemandian ini, dan pasti akan ada tamu lain di dalamnya. Sebagai orang selatan, dia benar-benar tidak akan mampu menahan serangan dari dikelilingi oleh begitu banyak tubuh telanjang yang berkilauan.

Tidak ada banyak orang di ruang ganti itu. Hanya ada beberapa pasangan di sini dan di sana.

Du Jing menggantungkan jasnya dan, berturut-turut, mengeluarkan perekam suaranya, telepon, pisau Swiss Army, dan brass knuckles yang tidak bisa diketahui materialnya oleh Zhou Luoyang. Dia menempatkan semua benda-benda itu di dalam lokernya. zDrGiP

Zhou Luoyang memperhatikan semua benda itu. Saat Du Jing memperhatikan, dia meraih brass knuckles itu, memeriksanya, dan mencobanya, mengepalkan tangannya.

“Kamu mendapatkan sabuk hitammu?” Zhou Luoyang bertanya. Dia sebenarnya tidak khawatir tentang kemampuan Du Jing untuk membela diri; dia hanya tidak tahu dari mana dia belajar menggunakan brass knuckles ini.

“Tidak,” kata Du Jing. “Terlalu malas untuk ikut ujiannya. Jangan menyentuh sesuatu secara acak. Ada anestesi di brass knuckle itu.”

Zhou Luoyang meletakkan kembali brass knuckles itu dan melirik Du Jing, mencoba menentukan seberapa berbahaya pekerjaan yang biasanya dia lakukan. rk3Qoi

Du Jing melepas dasinya dan membuka kancing kerah kemejanya, memperlihatkan tulang selangka pucat dan dada kecil yang berkontur jelas miliknya. Selanjutnya, dia melepas kemejanya, memperlihatkan perutnya yang berotot.

“Buka baju,” kata Du Jing.

“Uh …” Zhou Luoyang melihat sekeliling dan bertanya, “Semuanya?”

“Apa lagi?” Du Jing bertanya sebagai balasan, sudah melepaskan ikat pinggangnya. nR9TGx

Zhou Luoyang menyaksikan seorang tamu yang sepenuhnya tidak berpakaian berjalan mondar-mandir dan hanya bisa melepas jaket atletiknya.

“Apa ada… jubah mandi atau handuk?” Zhou Luoyang bertanya kepada seorang pekerja.

“Ya, di dalam,” jawab pekerja itu. “Atasanku mengatakan bahwa orang yang kamu cari akan segera menemuimu.”

Dan begitulah, ponsel, perekam suara, dan semua peralatan mereka diambil tanpa usaha sama sekali. Agaknya, Wu Xingping tidak berniat untuk bersembunyi lagi, takut kalau-kalau dia akan menjadi korban rencana melawannya. vXG9Hl


Tiga menit kemudian, Zhou Luoyang menanggalkan pakaian di bawah tatapan Du Jing saat keduanya berdiri berhadapan.

“Berat badanmu turun,” ucap Zhou Luoyang.

Story translated by Langit Bieru.

“Kamu juga,” jawab Du Jing.

Du Jing berbalik dan memasuki kamar mandi besar. Zhou Luoyang mengamati kontur punggung dan pinggulnya, yang tampak sensual di bawah pancaran hangat lampu ruang ganti. tIOpKo

Mata Zhou Luoyang mengamati seluruh tubuhnya. Pria itu benar-benar telanjang, satu-satunya benda yang masih melekat di tubuhnya adalah gelang karet di pergelangan tangan kirinya.

Du Jing sedikit menoleh untuk melihat Zhou Luoyang dan kemudian melihat ke belakang lagi setelah mengambil beberapa langkah tanpa mengenakan alas kaki.

“Aku mengikutimu,” kata Zhou Luoyang. “Aku tidak mungkin tersesat, kenapa kamu terus menatapku?”


“Kamu sangat seksi,” jawab Du Jing. “Tubuhmu sangat proporsional, cantik, dengan aura seorang sarjana yang lembut.” 2HMqPt

“Jangan gila,” kata Zhou Luoyang dengan suara rendah. “Kamu masih bekerja.” Saat dia berbicara, dia menatapnya sekilas dan melihat milik Du Jing masih dalam kondisi setengah tertidur. Dia menunjukkan tanda-tanda reaksi, dan itu memicu respons yang tidak disengaja dalam dirinya.


Reaksi itu tidak terkait dengan nafsu melainkan reaksi alami terhadap tatapan mata yang menyelidik saat tubuhnya diekspos dalam keadaan yang sama sekali tidak berdaya.

Tapi ini adalah pemandian pria … Bahkan jika mereka hanyalah pemuda yang penuh semangat dan gairah, akan terlalu canggung untuk dilihat orang lain seperti ini di luar ruang ganti.

Untungnya, Zhou Luoyang akhirnya menemukan handuk terlipat di luar pintu keluar ruang ganti, dan melemparkannya ke arah Du Jing. XuRFGW

“Tutupi dirimu sedikit,” kata Zhou Luoyang. Pada saat yang sama, dia berpikir, Setidaknya ini belum terlambat; handuk tidak langsung mengenai dirinya. 

Du Jing menggunakan handuk itu untuk menutupi dirinya sendiri, seperti kebiasaan di pemandian air panas Jepang, tapi hampir terlalu jelas untuk disembunyikan.

Uap melayang di udara di depan mereka. Ruangan itu sangat besar; Cahaya terang memancar di bawah langit-langit atap dengan bentuk kubah dan ada film bisu yang diproyeksikan ke tengah. Pemandian ini dilengkapi dengan dekorasi yang terinspirasi Turki, air mancur di tempat itu menyemburkan aliran air panas.

Di sebelah air ada beberapa jalan setapak yang mengarah ke panti pijat, sauna, dan kamar mandi. Di konter bar, ada minuman dan manisan. Total ada sekitar dua puluh atau tiga puluh orang di dalam pemandian. Semuanya jauh dari apa yang dibayangkan Zhou Luoyang, namun entah bagaimana sangat mirip. ERyhFT


Tetapi Zhou Luoyang bisa menyesuaikan diri dengan cepat, karena selain Du Jing, tidak ada yang mengenalinya atau memperhatikannya. Semua orang terbiasa menjalankan urusan mereka dengan cara ini, bahkan tanpa handuk melilit pinggang mereka.

“Dimana dia?” Zhou Luoyang terus melihat sekeliling.

“Beri aku pijatan,” Du Jing duduk di atas batu di ujung yang dangkal, punggungnya menghadap Zhou Luoyang. “Dia akan muncul saat waktunya sudah tepat.”


“Dalam hal itu, apakah segalanya masih seperti dulu?” Kata Zhou Luoyang. iPW0qb

“Ini menjadi lebih serius,” kata Du Jing. “Tapi aku masih bisa mengendalikannya, apa kamu bisa menyadarinya?”

Zhou Luoyang menyadarinya saat mereka berada di ruang ganti. Di masa lalu, penyakit Du Jing membuatnya sering terangsang, gejala yang biasanya harus dikendalikan dengan obat.

Story translated by Langit Bieru.

“Berbaliklah.” Zhou Luoyang menarik lengan Du Jing dari belakang dan Du Jing berbalik, menyerah padanya. Mereka duduk di kolam setinggi pinggang. Du Jing sedang berjongkok di dalam air seperti seekor anjing besar.

Zhou Luoyang memijat lengannya, dan saat dia menggenggam telapak tangannya yang lebar, dia melihat sedikit gerakan. 8zxPIC

“Apa kamu sudah mempertimbangkan untuk mengganti dokter?” Zhou Luoyang bertanya.

“Aku sudah melakukannya beberapa kali, tidak ada yang membantu,” jawab Du Jing.

“Industri macam apa tempatmu bekerja? Apa kamu seorang detektif swasta?” Zhou Luoyang akhirnya bertanya.

“Bukankah kamu sudah bisa menebaknya?” FHcPRG

“Apa yang kamu lakukan selama tiga tahun terakhir ini?” Zhou Luoyang bertanya. “Apa kamu sudah bisa memberitahuku sekarang? Berbaliklah ke samping.”

Du Jing berguling ke samping, mengintip ke seberang air dan membiarkan pikirannya berkelana. Zhou Luoyang dengan lembut menyentuh bekas luka di bagian belakang pinggang Du Jing dan dengan lembut menggosok punggungnya, merasakannya bergerak perlahan.

Du Jing mengesampingkan pertanyaan Zhou Luoyang dan tiba-tiba bertanya, “Apa kamu akhirnya menerima bahwa kamu menyukai laki-laki?”

Zhou Luoyang mengangkat pandangannya untuk melihat ekspresi Du Jing yang sama sekali tidak tergoyahkan. TC HJE

Du Jing melanjutkan, “Luoyang, sebenarnya kamu ini biseksual atau homoseksual?”

“Aku tidak tahu,” jawab Zhou Luoyang.

Translator's Note

Program kredit konsumen yang memungkinkanmu membeli dulu, membayar nanti.

Leave a Comment

For an easier time commenting, login/register to our site!