English

Tiandi BaijuCh21 - Sungai Qinhuai 

0 Comments

Penerjemah : jeff


MASA KINI 8AjLgh

21.30.

SUV itu diparkir di garasi bawah tanah. Si pria paruh baya membawa Wu Xingping palsu pergi, dan pengemudinya pergi ke kamar mandi tanpa mematikan mesin. Awalnya, Zhou Luoyang ingin menunggu beberapa menit lagi, tapi Du Jing diam-diam keluar dari bagasi dan berkata, Cepat.

Read more BL at langitbieru (dot) com

Zhou Luoyang memandang Du Jing dengan bingung. Du Jing mengangguk untuk menunjukkan bahwa dia merasa jauh lebih baik sekarang dan telah mengumpulkan kekuatannya.

“Kenapa kamu tidak menunggu mereka ke atas dulu?” Zhou Luoyang bertanya. RnIKaH

Du Jing menjawab, “Ada CCTV di dalam lift. Kita tidak bisa menggunakannya.”

Pria paruh baya dan Wu Xingping palsu masih berada di garasi menunggu lift datang. Du Jing mengendap-endap di belakang mobil dan pergi melalui pintu darurat, duduk di samping dan bersembunyi di balik pintu. Setelah beberapa saat mengamati, dia menemukan titik buta dan mengeluarkan setengah dari tubuhnya, membiarkan Wu Xingping palsu melihatnya.

Wu Xingping palsu berbalik. Dia sekarang tahu bahwa mereka telah tiba.

“Naik tangga?” Zhou Luoyang bertanya. “Mereka di lantai berapa?” qbO6To

“Tujuh belas.”

Du Jing menaiki tangga dari lantai B2 ke lantai B1, mengambil pisau Swiss Army-nya dari saku dalam jasnya, membuka paksa pintu lift B1, dan menunggu lift turun. Dia meraih tangan Zhou Luoyang. Lift kemudian turun, gerakannya sangat lambat. Keduanya melompat ke depan dan mendarat di atas lift dengan dentang pelan.

Pria paruh baya dan Wu Xingping palsu memasuki lift. Mereka berempat dibawa ke lantai tujuh belas. Du Jing menghubungi Zhuang Li, yang berada di mobil yang berbeda melalui sambungan telepon dia memintanya untuk menghubungkannya ke sistem penyadap. Kemudian dia memasang earphone di telinganya. Zhou Luoyang melihat beberapa kotoran di wajahnya dan menyekanya dengan punggung tangan.

Ekspresi Du Jing tidak terganggu. Sepertinya dia jauh lebih baik sekarang daripada di sore hari tadi. Qm8Ecf

“Aku harus pergi keluar dan mencari tempat untuk menunggu,” kata Zhou Luoyang lembut ketika lift berhenti.

Du Jing membongkar pintu lift lantai delapan belas. “Aku tidak akan merasa nyaman kalau kamu tidak di sisiku.”

Mereka berdua berjalan ke lantai delapan belas. Du Jing menemukan pintu keluar darurat berdasarkan apa yang dia ingat dari denah lantai. Di dalam lorong itu ada ruangan yang menyimpan peralatan kebersihan dan pertukangan.

Mereka menuruni tangga ke lantai tujuh belas dan dengan lembut mendorong pintu lorong. Mereka melihat Wu Xingping palsu telah masuk ke dalam kantor, dan seorang pengawal berdiri tidak jauh dari pintu kantor, sementara pria paruh baya sebelumnya masuk ke dalam ruang konferensi untuk bermain poker. l3CZyH

Mereka menunggu beberapa saat lagi. Du Jing mencoba memikirkan solusinya. Dia melihat arlojinya dan berkata, “Kita harus mengalihkan perhatiannya.”

Zhou Luoyang berkata, “Dia punya telinga kembang kol — dia pandai bertarung. Apa kamu bisa mengalahkannya?”

Du Jing sedikit terkejut. “Kamu masih mengingatnya?”

“Aku mengingat semua hal yang kamu katakan,” jawab Zhou Luoyang. Y2ulwS

Telinga kembang kol: seniman bela diri yang berlatih Taekwondo, karate, dan sejenisnya yang mana sudah menerima pukulan dalam jangka waktu yang lama, dan telinga mereka mengalami luka dan trauma. Akibatnya, telinga mereka membengkak secara tidak wajar, dan lama kelamaan telinga mereka secara bertahap menjadi seperti itu dan menjadi permanen. Dulu, Du Jing sudah mengajari Zhou Luoyang bagaimana cara mengetahui apakah seseorang adalah seorang seniman bela diri.

Du Jing berkata, “Aku akan menyerangnya dari belakang — itu tidak akan menjadi masalah.”

Read more BL at langitbieru (dot) com

“Aku akan melakukannya,” kata Zhou Luoyang.

Du Jing baru saja akan menghentikannya, tetapi Zhou Luoyang menyatakan bahwa itu bukan masalah besar. Selama mereka berdua bersama, semua risiko yang mereka tanggung akan terkendali. OTdvzR

Zhou Luoyang melepaskan jaketnya dan menggulung lengan bajunya. Dia mengambil kain pel dan seember air dari pintu keluar darurat. Sama sekali tidak tampak gelisah, dia keluar dan mulai mengepel lantai.

Pengawal itu melirik Zhou Luoyang dan mengerutkan alisnya. Dia berjalan ke arahnya, melihat arlojinya seolah bertanya, Kau sedang bersih-bersih jam segini?

Zhou Luoyang baru saja keluar dari bagasi, jadi tubuhnya tertutup debu. Selain itu, dia mengenakan pakaian yang membuatnya mudah untuk bergerak. Namun, melihat dia dari belakang, sulit untuk menentukan apakah dia seorang petugas kebersihan atau bukan.

“Turunlah ke bawah,” kata pengawal itu sambil menekan tombol lift untuknya. “Kau tidak perlu bersih-bersih di lantai ini.” BvFxlr

Zhou Luoyang menegakkan tubuhnya. Tapi saat dia akan berbicara, Du Jing tiba-tiba menyelinap dari belakang dan mengaitkan lengan kirinya di leher pengawal itu. Pengawal itu segera bereaksi.

Pada saat yang sama, Zhou Luoyang mundur dengan kecepatan cahaya. Pengawal itu menyerang dengan bahunya. Du Jing memakai brass knuckles di tangan kanannya, dan dia menyapukannya ke leher pengawal itu, merobek kulit dan membuatnya berdarah. Pengawal itu melemparkannya ke udara, tapi, hanya setengah detik kemudian, pupil matanya membesar, dan dia terhuyung-huyung, jatuh ke lantai.

Du Jing berbalik di udara dan melepaskan pengawal itu. Dia mendarat di tanah dengan membungkuk, lalu berdiri dengan kokoh. Dia berbalik dan maju, mengangkat tubuh pengawal itu. Semua ini terjadi dalam rentang waktu tiga detik.

Zhou Luoyang: “……” PpgZbv

Du Jing menyeretnya ke pintu keluar darurat dengan tangannya.

“Apa dia mati?” Zhou Luoyang bertanya.

“Hanya obat penenang dengan efek kuat,” kata Du Jing. “Dia masih hidup.”

“Sepertinya memang sangat kuat,” kata Zhou Luoyang. cqg4d1

Du Jing menggeledah tubuh pengawal itu dan menemukan pistol peredam. “Ini pertama kalinya aku menggunakannya. Dan sepertinya memang bekerja dengan baik.”

Du Jing menyerahkan pistol itu kepada Zhou Luoyang. Zhou Luoyang berkata, “Aku tidak tahu bagaimana cara menggunakan senjata. Aku tidak pernah belajar.”

Du Jing berkata, “Aku akan menyerahkannya padamu sekarang.”

Kemudian dia mengambil lencana karyawan milik pengawal itu dan membaliknya, memperhatikannya dari waktu ke waktu. Dia meninggalkan pintu darurat, dengan masih memegang lencana, dan berkata kepada Zhou Luoyang, “Tunggu di pintu darurat. Pemantau CCTV-nya ada di ruang konferensi. Aku akan masuk dan menyesuaikannya. Ini akan memakan waktu sekitar lima menit.” Shogaf

Zhou Luoyang mengangguk. Tepat ketika Du Jing hendak masuk ke dalam, dia berhenti dan memikirkan sesuatu. Dia melepas jasnya dan memberikannya pada Zhou Luoyang untuk dipegangnya. Kemudian dia menyesuaikan brass knuckles di tangan kanannya dan memasukkan tangannya ke dalam saku. Dengan menggesek lencana, dia memasuki ruang konferensi.

Ruang pertemuan itu sangat kedap suara. Zhou Luoyang hanya bisa mendengar suara dentuman pelan di pintu; dia bahkan tidak mendengar suara jeritan apapun.

Story translated by Langit Bieru.

Dia menuju pintu keluar darurat, tetapi saat itu, pintu kantor utama terbuka, dan bos kelompok itu berjalan keluar.

We’re sorry for MTLers or people who like using reading mode, but our translations keep getting stolen by aggregators so we’re going to bring back the copy protection. If you need to MTL please retype the gibberish parts.

“Dimana semua orang?” dia berteriak keras. “Kemana mereka semua pergi?! Xiao Luo!” LXPUKJ

Itbe Oebsjcu wfiltja qlcae xjcabg sjcu rfafcujt afgaeaeq. Uecuuecu Qe Wlcuqlcu qjire yfgjvj vl vfqjc qlcae, vjc rjja lcl vlj rfvjcu wfcmjgl-mjgl rfrejae sjcu afgjrj wfcmeglujxjc.

Dbr wfcufaex qlcae gejcu xbcofgfcrl yfyfgjqj xjil vjc yfgajcsj, “Cqj xjiljc rfwej jvj vl vjijw?”

Klyj-alyj, vlj wfgjrj jvj sjcu alvjx yfgfr. Glj yfgyjilx vjc wfiltja rfxfililcu, ijie vfcujc mfqja wfcepe iloa vjc wfcfxjc abwybi iloa.

Di belakangnya, sebuah pistol menempel di belakang kepalanya. nAkisL

Zhou Luoyang bertanya, “Kemana kau akan pergi?”

Bos perlahan mengangkat kedua tangannya. Dia tidak berani melakukan gerakan gegabah.

Zhou Luoyang terus menekan pistol ke kepalanya dan melakukan yang terbaik untuk menjaga suaranya agar tidak bergetar saat dia memaksanya untuk berbalik. Bos bertanya, “Siapa kau? Bagaimana kau bisa sampai di sini?”

“Diam! Pergi ke pintu ruang konferensi!” Zhou Luoyang menggertak. BpKWj3

Bos berjalan ke pintu ruang konferensi dan berkata, “Kami adalah perusahaan swasta. Kami tidak punya uang tunai…”

“Buka pintunya! Kau pasti tahu kode sandinya!” Zhou Luoyang memerintahkan.

Bos tidak punya pilihan selain memasukkan kode sandi. Saat itu, Du Jing membuka pintu dari dalam, dan dengan pandangan sekilas, dia mengerti apa yang telah terjadi.

“Komputernya terlalu lambat,” kata Du Jing. “Maaf sudah menunggu.” Pada saat yang sama, dia memberi isyarat kepada Zhou Luoyang untuk membiarkannya menangani sesuatu. n0Ro91

Begitu bos melihat pengawalnya dan pria paruh baya terbaring tak bergerak di sisi lain pintu, dia mulai gemetar. Zhou Luoyang sangat gugup. Mengetahui bahwa Du Jing ada di sini, dia tidak membutuhkan pistol itu lagi.

“Kau sudah melanggar pasal dua ratus enam puluh tiga hukum pidana,” kata bos dengan tenang. “Perampokan bersenjata. kau akan dijatuhi hukuman minimal sepuluh tahun penjara, seumur hidup, atau hukuman mati. Selain itu, kau akan didenda atau asetmu akan disita.”

“Oh, sepertinya kau juga seorang pengacara,” kata Zhou Luoyang. “Tapi senjata ini sepertinya milik kalian. Ditemukan di tubuh pengawalmu. Berapa lama seseorang akan dihukum karena memiliki senjata api ilegal?”

Du Jing tidak berbicara. Dia memaksanya memasuki kantor dan mengetuk pintu. l8xaOJ

“Ini ponselmu.” Du Jing mengembalikan ponsel yang disita kepada Wu Xingping palsu.

Stuntman itu tidak sedikit pun terkejut melihat Du Jing dan Zhou Luoyang masuk ke dalam. Du Jing menyalakan komputer di atas meja kantor dan berkata, “Kata sandi.”

Read more BL at langitbieru (dot) com

Bos tidak menjawab. Stuntman itu melirik rak buku di dekatnya dan memberi isyarat kepada Du Jing untuk melihat foto di atasnya. Itu adalah fotonya dan seorang gadis kecil.

“Dia memiliki seorang putri. Coba masukkan tanggal ulang tahun putrinya,” Wu Xingping palsu menyarankan. Zo2Lq6

Ekspresi bos segera berubah. “Siapa sebenarnya kalian ini?”

Du Jing tidak menjawab. Sebaliknya, dia berkata, “Geledah tubuhnya. Periksa ID-nya.”


Zhou Luoyang memblokir pintu kantor untuk mencegahnya melarikan diri.

“Mejanya menggunakan kunci sidik jari,” dia mengingatkan. KXGd3W

Si stuntman itu menggeledah tubuh si bos tetapi tidak dapat menemukan kartu ID-nya. Dengan menekan bahunya, dia memaksa bos untuk memindai sidik jarinya untuk membuka laci meja yang terkunci. Du Jing membukanya satu per satu dan menemukan namanya di paspor, lalu melemparkan paspor itu ke stuntman. Stuntman itu mengeluarkan ponselnya dan mulai mencari data pendaftaran milik bos.

“Coba ini.” Stuntman itu mendikte sebuah rangkaian angka dengan lantang dua kali berturut-turut, dan harapan terakhir bos akhirnya padam.

“Kau mencuri rahasia dagang!” bos menuduh.

“Hei, hei.” Si stuntman kemudian memperhatikan Zhou Luoyang dan berkata, “Letakkan pistolnya. Berhati-hatilah agar tidak membunuhnya secara tidak sengaja.” 4Wx9cJ

Du Jing memasukkan sandi — berhasil, dan komputer menyala. “Mode pengaman pistolnya masih menyala.”

Bos: “………………”

Si stuntman tertawa dan meletakkan telapak tangannya di atas moncong pistol. Zhou Luoyang membiarkan beban pistolnya membuatnya jatuh.

“Berikan padaku,” kata stuntman itu. veAVZ8

Du Jing mengangguk dan dengan senang hati mulai melihat-lihat komputer bos. Dengan menggunakan pencarian kata kunci, dia mendapatkan banyak sekali laporan terenkripsi.

Dia membuka ujung ekor pisau Swiss Army-nya, memperlihatkan USB flash drive, dan memasukkannya ke komputer Apple itu. Mengautentikasi, kemudian mengimpor semua data laporan itu ke dalamnya, dan mengirimkannya melalui jaringan satelit. Pada saat yang sama, dia memberi tahu Zhuang Li untuk memastikan dia siap menerima data.


“Ayo kita ngobrol dulu,” kata Du Jing kepada bos sambil menunggu file dikirim. “Duduklah. Pengawalmu tidak akan bangun sampai lima jam kedepan. Jangan membuat gerakan apa pun yang akan menghabiskan energimu, atau kau akan menuntutku karena penyerangan yang disengaja setelahnya.”

Dia menoleh ke Zhou Luoyang dan si stuntman. “Kalian berdua tunggu di luar.” i 3cMS

Zhou Luoyang ragu-ragu sebentar. Tetapi dia tahu bahwa Du Jing mungkin benar-benar memiliki informasi rahasia untuk ditanyakan, jadi dia dan stuntman meninggalkan kantor dan pergi ke ruangan samping.

Di ruang konferensi, si stuntman menguap. Saat itu pukul sebelas lewat lima menit.

Please visit langitbieru (dot) com

“Sudah berapa lama kau bekerja dengan shifu-mu?” stuntman itu bertanya, penasaran.

Zhou Luoyang membaca pesan yang dikirim Leyao dua jam yang lalu dan dengan linglung menjawab, “Hari ini adalah pertama kalinya aku bertugas.” aTNDSz


“Aku tahu,” kata stuntman itu sambil tersenyum. “Ini kasus yang cukup besar untuk menjadi kasus pertamamu. Apa kamu tidak memiliki pengalaman sama sekali sebelumnya?”

“Benar,” kata Zhou Luoyang. “Aku sepenuhnya mengandalkan bimbingan shifu. Dia sangat ahli. Yang perlu aku lakukan hanyalah berdiri di samping dan berteriak 666.”

Stuntman itu mengangguk dan berkata, “Bekerja keraslah. Dengan dia mengajarimu, prospek masa depanmu tidak terbatas. ”

Dan dengan begitu Du Jing mendapatkan julukan lain, pikir Zhou Luoyang. Saat kita kembali, aku punya hal yang bisa kugunakan untuk menggodanya. 5x0LOd

“Aku tidak menyangka dia masih semuda itu,” desah stuntman itu.

Zhou Luoyang tahu bahwa pemuda ini menghela napas karena kagum akan bakat dan kemampuan Du Jing. Kalau kamu membandingkan dirimu dengan orang lain, kamu akan mudah marah karena perbedaan yang ada di antara kalian.

“Apa CCTV-nya sudah diurus?” pemuda itu bertanya setelah berpikir, agak santai sekarang setelah tugasnya selesai.

“Aku tidak tahu. Shifu yang melakukannya,” jawab Zhou Luoyang.   yGDLmo

Pemuda itu bangkit dan membuka pintu samping ke ruang konferensi untuk memeriksa CCTV-nya, berjaga-jaga. Yang terbaik adalah untuk tetap berhati-hati.

“Mau makan camilan larut malam nanti?” pria muda itu bertanya.

Tapi Zhou Luoyang memandang pemuda itu dengan serius. Dia tersenyum lebar padanya yang masih memiliki wajah Wu Xingping.

“Berjanjilah padaku satu hal: jangan pergi jauh-jauh dari kami nanti, apa pun yang terjadi,” tiba-tiba Zhou Luoyang berkata. “Jangan pernah melakukannya sampai kita pergi dengan selamat.” aZYDtp


Pria muda itu terkejut dengan permintaan ini, tetapi dia tidak menganggapnya sebagai lelucon dengan cara apa pun. “Apa ada yang salah?”

Zhou Luoyang memikirkan malam itu ketika Yu Jianqiang jatuh dari atas sebuah gedung hingga meninggal. Mereka akhirnya menyelamatkan nyawa seseorang, tetapi tindakan mereka menyebabkan kematian orang lain. Apa maksud dari semua itu? Sekarang setelah mereka menyelamatkan nyawa pemuda ini, apa orang lain harus mati sebagai kompensasi?

Zhou Luoyang menatapnya, dan pemuda itu tidak bertanya mengapa; dia hanya mengangguk dengan serius.

“Mengerti,” dia setuju dengan terus terang. XibyHe

Zhou Luoyang memandang sekilas ke CCTV dan bertanya, “Semua orang-orang ini ada di pihakmu atau mereka?”

Dua puluh orang muncul di CCTV. Mereka memarkir mobil di garasi dan masuk ke pintu darurat. Tidak ada yang menggunakan lift.

Story translated by Langit Bieru.

“Pihak mereka.” Pemuda itu melihat ke ponselnya dan berkata, “Kau harus memberitahu shifu-mu untuk cepat. Preman bayaran mereka hampir sampai.”

Zhou Luoyang langsung keluar dan mengetuk pintu. Wajah bos tampak berlumuran darah dan memar di semua sisi, dan dia dibawa keluar ruangan dengan mengenakan penutup mata, terlihat sangat kelelahan. ZwA6da

Pemuda itu bertanya, “Apa gedung ini punya pintu keluar lain?”

Du Jing menjawab, “Tidak yakin. Ikuti aku. Kapan orang-orangmu akan tiba di sini?”

Pria muda itu tidak ingin tanggapannya didengar, jadi dia mengangkat dua jarinya.

Bos itu ingin diam-diam menurunkan penutup mata, tetapi Du Jing memukulnya dengan tangan kiri dan berkata dengan penuh ancaman, “Jaga sikapmu.” cGoMyi

Bahkan Zhou Luoyang bisa merasakan sakit dari pukulan itu ketika dia mendengar suara tajam dari tinju yang menusuk tulang.

“Mereka memblokir kedua pintu daruratnya.”

Du Jing membuka paksa pintu lift dan melihat ke atas dan ke bawah. “Apa ada yang berjaga di pintu lift di garasi bawah tanah?”

“Ya,” jawab pemuda itu. 7g3GKs

Du Jing berkata, “Kau pergilah dulu, sanderanya di belakangmu. Cepat! Atau aku akan menjatuhkanmu.”

Bos itu tampak benar-benar ketakutan dan tampak langsung tunduk melalui obrolan singkatnya dengan Du Jing. Dia dibawa ke dalam poros lift lalu menuju tangga vertikal yang digunakan untuk perbaikan.

Pemuda itu turun lebih dulu, diikuti oleh bos. Du Jing berkata kepada Zhou Luoyang, “Naiklah ke punggungku.”

“Aku bisa melakukannya sendiri,” kata Zhou Luoyang. fE97VP

“Tidak ada waktu lagi. Cepatlah!” Du Jing memerintah.

Zhou Luoyang tidak punya pilihan selain meraih Du Jing dari belakang. Dia melilitkan lengan kirinya di bahu dan lengan kanannya di pinggang, dan mengatupkan kedua tangannya di depan dada Du Jing.

Pria muda itu meraih tiang tangga dan meluncur ke bawah.

Dengan wajah pucat dan tubuh dibanjiri keringat, bos itu perlahan naik untuk kemudian meluncur ke bawah. p0mTkd

Du Jing naik ke tangga dengan Zhou Luoyang di punggungnya — dan dia masih memiliki sisa tenaga. Dia menginjak tangan bos dan membentak, “Lebih cepat!”

Bos segera menjerit dan hampir jatuh. Dia melakukan yang terbaik untuk menenangkan dirinya dan meluncur ke bawah. Begitu dia meluncur lima atau enam lantai ke bawah, Du Jing juga meraih tepi tangga dengan kedua tangan, dan Zhou Luoyang tiba-tiba merasa tubuhnya begitu ringan dan hampir terbang dari punggung Du Jing.

Langit Bieru.

Bos berkata, “Jangan buru-buru! Jangan buru-buru!”


Mereka berempat meluncur hingga ke lantai B1. Pintu lift yang dibongkar Du Jing dalam perjalanan ke atas sebelumnya masih terbuka. Wo4wKy

Sama seperti sebelumnya, Du Jing berhasil menghindari semua pengawal yang menaiki tangga.

“Bersiaplah,” katanya pada pemuda itu.


Begitu mereka masuk ke dalam garasi, kedua pengawal yang berdiri di luar melihat mereka. Bos, yang masih dengan mata tertutup, berteriak, “Jangan tembak!”

Begitu dia berbicara, terdengar ledakan pelan dari pistol peredam, dan suara alarm mobil segera meletus. Du Jing menggiring mereka bertiga ke belakang mobil dan menyesuaikan brass knuckles di tangannya. szCQ0J

“Sepertinya bawahanmu tidak terlalu menghargai hidupmu.” Pemuda itu mulai memeriksa peluru di pistol peredam yang mereka sita sebelumnya, mengisinya kembali, dan menarik tuas pengaman.

Sebuah mobil lain melaju menuju garasi dan memblokir pintu keluar. Mobil itu menyalakan lampu sorotnya, menerangi seluruh garasi. Empat pengawal turun dari mobil. Mereka sudah memberi tahu UT akan kehadiran mereka.

“Tinggalkan garasi ini,” kata Du Jing. “Aku akan menjauhkan mereka. Jika kita berpisah, kita akan bertemu lagi nanti.”

Tubuh bos gemetar tak terkendali. Pemuda itu berkata, “Ayo pergi!” 02OXvJ

Saat itu, Du Jing berguling ke samping dan bergegas keluar ke garis pandang pengawal. Zhou Luoyang tahu bahwa dia sama sekali tidak bisa membebani Du Jing saat ini. Dia meraih bos dan berkata, “Pergi!”

Pria muda itu membungkuk dan berlari, memimpin mereka berdua ke dalam garasi yang gelap. Pada saat yang sama, suara tembakan meletus, dan meskipun itu pistol peredam, suara lima atau enam senjata yang ditembakkan ke dalam kegelapan begitu memekakkan telinga.

Peluru itu seperti menyapu tepat di atas kepala mereka. Untungnya mereka tidak bisa melihat apapun dalam kegelapan. Lusinan alarm mobil berbunyi dengan keras, menutupi suara langkah kaki mereka. Pria muda itu berlari ke depan, menundukkan kepalanya dan menyeret kerah si bos di sepanjang jalan.

Mereka hanya berjarak sepuluh meter dari pintu keluar garasi. mNbvy2


Bos mulai meronta. Dia diam-diam mendesis, “Lepaskan aku! Kau tidak akan menyesalinya!”

Pemuda itu berkata, “Diam! Mereka ingin membunuhmu sekarang! Jangan lakukan hal bodoh kalau kau tidak ingin mati!”

Tepat ketika mereka muncul di tempat terbuka, dua pengawal melihat mereka dan segera bergegas ke arah mereka. Pemuda itu mendorong bos ke arah Zhou Luoyang dan melemparkan pistol kepadanya.

“Bawa dia keluar bersamamu!” Dia meluncurkan dirinya di atas kap mobil menuju pengawal terdekat dan memelintirnya ke tanah. qo5pzE

Pengawal lainnya bergegas dari belakang dan menodongkan pistol ke kepala pemuda itu.

Itu adalah adegan yang sama seperti sebelumnya! Pada saat itu, Zhou Luoyang tidak bisa menyisihkan upaya untuk mengawasi bos lagi. Dia menyapu satu kaki ke samping, membuat pria itu tersandung dalam sekejap. Pengawal itu terbang ke atas kap mobil. Zhou Luoyang muncul dari belakang mobil dan menempelkan senjatanya ke belakang kepalanya, tapi dia tidak bisa berhenti gemetar, dan dia tidak bisa memaksa dirinya untuk menarik pelatuknya. Pemuda itu masih berkelahi dengan seorang pria, menerjang, memukul pengawal di pelipis dengan sikunya, dan mendorongnya ke bawah.

Story translated by Langit Bieru.

“Dimana dia?” pemuda itu bertanya.

Bos memanfaatkan kesempatan ini untuk akhirnya membuka penutup mata dan kabur! KoU dT

“Jangan pergi!” Zhou Luoyang merasa bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi.


Tetapi bos itu berlari ke arah mobil yang diparkir di pintu keluar garasi, sambil berteriak, “Jangan tembak!”

Semua pengawal sudah pergi untuk mengejar Du Jing, jadi tidak ada yang menjaga mobil, dan dia dengan cepat bergegas masuk.

Lampu sorot padam, dan mobil berputar secepat kilat dan melaju keluar dari garasi. Zhou Luoyang mencengkeram pemuda itu dengan kuat, menolak untuk melepaskannya. Tiba-tiba, Du Jing bergegas mendekat dan dengan kokoh memanggul seorang pengawal yang merayap di belakang Zhou Luoyang, membuat pria itu terbang. Xci1pE

Zhou Luoyang: “……”

“Saat kau melarikan diri, ingatlah untuk memeriksa apakah ada yang menyelinap dari belakangmu,” kata Du Jing.

“Dia berhasil lolos!” pemuda itu berseru, “Dia tidak mengemudi terlalu cepat! Aku bisa mengejarrnya! Aku bisa naik mobil itu!”

Du Jing berteriak, “Jangan mengejarnya! Orang-orang di atas akan turun!” RQfMso

Du Jing tiba di belakang mereka berdua. Pintu keluar darurat terbuka, dan para pengawal bergegas keluar. Du Jing berlari keluar garasi, menyeret Zhou Luoyang di belakangnya.

Begitu mereka meninggalkan garasi, sorot lampu jalan di luar begitu membutakan Zhou Luoyang sampai dia tidak bisa membuka matanya. Mereka bertiga berlari ke padang rumput. Pemuda itu jelas ingin mengejar bosnya, tetapi Zhou Luoyang sedang dalam cengkeraman maut.

Segera, sebuah mobil berbelok melewati perempatan. Tapi tepat ketika mobil itu hendak menerobos lampu merah dan pergi, sebuah truk barang yang menunggu di dekatnya tiba-tiba bergerak dan melaju menuju mobil itu secepat kilat!

Mereka bertiga menyaksikan truk barang itu menabrak mobil. Mobil itu diluncurkan ke udara, berbalik — dan kemudian terjadi tabrakan yang begitu memekakkan telinga saat mobil itu kemudian terhempas dengan keras ke tanah. 6hKmO

Pemuda: “……”


12:00 dini hari. Separuh tubuh bos tergantung di jendela kursi pengemudi. Matanya terbuka lebar. Darah menggenang di tanah.

Truk pengangkut barang berbalik, bersiap-siap untuk pergi, tetapi saat itu, lima mobil polisi datang dari seberang persimpangan dan memblokir jalan.

“Ayo pergi,” kata Du Jing segera. sQr7Wy

Zhou Luoyang menarik napas dalam. Pikirannya benar-benar kosong. Ini adalah kedua kalinya dia melihat seseorang mati dengan kedua matanya sendiri.

“Sialan,” pria muda itu bergumam, “itu terlalu kejam.”

Langit Bieru.

Ketiganya berjalan melewati rerumputan. Pertanyaan terpenting sekarang adalah bagaimana cara mereka untuk melarikan diri. Untungnya, polisi baru saja datang, jadi para polisi itu belum mengepung mereka sepenuhnya. Ada begitu banyak pengawal lari keluar dari garasi bawah tanah, berpencar ke segala arah. Tidak ada yang berani mengendarai mobil; semua orang diam-diam menghilang di kegelapan malam itu.

Zhou Luoyang berlari membabi buta di belakang Du Jing. Mereka berlari sejauh dua kilometer, berbelok dua kali di sepanjang jalan, sebelum mereka berhenti, terengah-engah, dengan jantung yang masih berdegup kencang. CB0DQJ

“Hati-hati dengan patroli malam,” kata pemuda itu. “Pergilah ke tempat dengan lebih banyak orang, di mana akan lebih mudah untuk berbaur.”


Du Jing melepaskan tangan Zhou Luoyang. Di depan mereka ada sungai, dan di kedua tepi sungai ada lampu kuning cerah yang bersinar sepanjang malam. Jeruji pagar di kejauhan masih terbuka.

“Di mana kita?” tanya pemuda itu.

Zhou Luoyang ingat sekarang — dia pernah ke sini sebelumnya. Dia dan Du Jing datang ke sini empat tahun lalu. SB8IOL

“Sungai Qinhuai,” jawab Zhou Luoyang.

Translator's Note

Kata untuk itu dalam bahasa Cina secara harfiah berarti “telinga pangsit” :o)

Translator's Note

666 adalah bahasa gaul yang berarti “luar biasa” atau “itu hebat”, seperti itu. Aku berpikir untuk menerjemahkannya, tetapi aku juga merasa 666 memiliki Energi yang Berbeda lol.

Leave a Comment

For an easier time commenting, login/register to our site!