English

Tiandi BaijuCh23.2 - Oh? Kamu sedang berkencan?

0 Comments

“Biarkan dia tinggal disini,” kata Leyao. “Aku akan mengakrabkan diri dengannya. Lagipula, aku jarang ada di rumah. Kalau kamu tidak berpikir dia akan membawa pengaruh buruk untukmu, maka itu yang terbaik, tentu saja.”

“Baiklah.” Zhou Luoyang mengangguk. Dia tahu bahwa Leyao sedikit lelah sekarang, jadi dia mendorongnya kembali ke kamarnya. bu5KwE

“Sejak kapan kalian bertemu lagi?” Leyao bertanya sebelum lampu dimatikan. “Apa dia menghubungimu segera setelah kembali ke China?”

“Apa?” Zhou Luoyang baru saja melamun, tetapi dia dengan cepat memahami apa yang ditanyakan Leyao, dan dia menjelaskan, “Kami bertemu pada hari ketika aku pergi untuk bertemu dengan calon mitra bisnis, tanggal tujuh September.”

Please support our translators at langitbieru (dot) com

“Selamat malam,” kata Leyao sambil tersenyum.

“Selamat malam.” VJc K4

Zhou Luoyang mematikan lampu. Dia tidak tahu kenapa, tapi dia hampir merasa pertanyaan terakhir itu agak paranoid. Leyao tidak berpikir Zhou Luoyang dan Du Jing sudah bertemu jauh sebelumnya dan  lalu memutuskan untuk mengirimnya pergi untuk tinggal di asrama sekolah, bukan? Tapi dia segera mengusir pikiran itu, mengatakan pada dirinya sendiri untuk tidak membuat tebakan acak, dan dia juga tidak menjelaskan lebih lanjut.

Dia langsung tertidur begitu berbaring di tempat tidurnya.

Benar sekali. Kata-kata dan tindakan kalian berdua memiliki logika masing-masing, dan hanya saja seringkali orang kebanyakan tidak memahaminya. 

Zhou Luoyang mengira dia sudah memahami Du Jing dengan sangat baik, tetapi itu tetap membuatnya sedih ketika dia mendengar Du Jing mengatakan kata-kata itu pada hari ini. XVLdg


“Kamu harus menjadi siapa” dan “kamu ingin menjadi siapa”… Du Jing pernah menanyakan hal yang sama kepadanya.

Saat itu adalah musim dingin ketika dia mengetahui tentang kelainan Du Jing. Hangzhou sangat dingin tahun itu. Ujian akhir berakhir secepat mereka tiba. Zhou Luoyang tidak pernah benar-benar merasa gelisah sehubungan dengan studinya; dia mengantongi skor tinggi dengan mudah. Du Jing, sementara itu, mendapat nilai tertinggi di seluruh departemennya.

Zhou Luoyang jarang melihat Du Jing mengerjakan soal latihan — IQ teman sekamarnya membuatnya iri. Yang dia lakukan adalah membaca buku dari depan ke belakang, dengan santai mengerjakan soal latihan setelah kelas, melirik beberapa kali ke papan tulis selama kelas, menulis sedikit di buku catatannya, dan dia akan mengerti segalanya. Sebagian kelas yang diambil Zhou Luoyang di jurusannya memliki jadwal pada pagi hari selama kelas pertama atau kedua pada hari itu. Dia kesulitan bangun dari tempat tidur, jadi Du Jing terkadang pergi ke kelas itu untuknya. Tapi ternyata, dia, seorang mahasiswa otomasi, lebih baik di bidang teknik mesin daripada Zhou Luoyang sendiri.

Sedangkan untuk CET-6, Du Jing bahkan tidak membeli buku persiapan dan masih meneruskannya pada percobaan pertamanya. Belajar dengan Du Jing membuat Zhou Luoyang mengeluh tanpa akhir. eldt9K

Du Jing memang berbakat, sementara Zhou Luoyang mengandalkan kerja kerasnya sendiri. Dia selalu merasa seperti dia terus mengejar di belakang Du Jing, mencoba untuk mengejarnya tetapi benar-benar kehabisan tenaga, dan bahkan, Du Jing masih harus berhenti dan menunggunya dari waktu ke waktu.

“Kamu tidak mau mendapat beasiswa?” Ini adalah pertama kalinya Zhou Luoyang mendengar ada orang yang menyerahkan beasiswa yang diberikan kepada siswa dengan nilai tertinggi.

“Aku meninggalkannya untuk orang yang lebih membutuhkannya,” kata Du Jing.


Setelah akhirnya menyelesaikan ujian terakhirnya, Zhou Luoyang berpikir tentang bagaimana dia dan Du Jing akan berpisah selama liburan musim dingin, dan tiba-tiba dia benar-benar tidak menginginkannya. h24vd0

“Di mana kamu akan menghabiskan liburan musim dinginmu?” Zhou Luoyang mulai menelusuri internet untuk membeli tiket.

“Aku belum memutuskan. Kamu?” Kondisi Du Jing belakangan ini lebih baik. Setelah dia membuka diri terhadap Zhou Luoyang, mereka menjadi semakin santai satu sama lain, dan mereka menjadi jauh lebih nyaman dalam interaksi mereka.

Zhou Luoyang berpikir sejenak dan berkata, “Aku juga belum memutuskan. Bagaimana kalau…”

Tapi Du Jing bertanya, “Kamu tidak akan pergi ke Jepang?” jr5pCH

We’re sorry for MTLers or people who like using reading mode, but our translations keep getting stolen by aggregators so we’re going to bring back the copy protection. If you need to MTL please retype the gibberish parts.

Zfgfxj yfgvej aewyet yfgrjwj bgjcu aej vl qfgclxjtjc xfvej sjcu vlijxexjc bgjcu aej wfgfxj, pjvl jvj rfwjmjw qfwjtjwjc vljw-vljw vl jcajgj xfvejcsj. Ufwjtjwjc vljw-vljw lcl alvjx qfgie vlrejgjxjc vfcujc xfgjr; Itbe Oebsjcu wfgjrjxjccsj qjvj tjgl qfgajwj wfgfxj yfgafwe.

“Mungkin aku akan pergi ke Nara untuk onsen? Atau aku akan kembali ke Kota Wan untuk mengunjungi Kakek.”

Please support our translators at langitbieru (dot) com

Csjt Itbe Oebsjcu qlcvjt xf Kbxsb rfafijt wfclxjt ijul, lyecsj pjgjcu yfgteyecujc vfcujccsj ijul, vjc xjxfx rfgaj ylylcsj alcuuji vl Bbaj Qjc. Vfpepegcsj, Itbe Oebsjcu alvjx yfcjg-yfcjg lculc qfgul xf xbaj wjcj qec.

“Musim dingin di Jepang sangat bagus,” kata Du Jing. “Aku belum pernah kesana sebelumnya. Mungkin aku akan kembali ke California selatan atau Barcelona.” yf86oK

Zhou Luoyang ingat — Du Jing tidak punya keluarga atau pun tempat tinggal di Tiongkok.

“Bagaimana kalau kamu datang merayakan Tahun Baru di rumahku?” Akhirnya, Zhou Luoyang memberikan undangan kepada Du Jing. “Tidak ada siapapun di rumah.”

Keluarga Zhou Luoyang memiliki sebuah apartemen di Huizhou dan tempat itu khusus hanya untuknya, jadi setidaknya dia harus pergi ke suatu tempat selama liburan musim panas dan musim dingin. Ketika dia pulang, dia bisa bertemu dengan teman sekelasnya dan pergi makan atau nongkrong bersama jika dia tidak ingin tinggal di rumah sendirian terlalu lama.

Du Jing berkata, “Tidak, tidak apa-apa. Saat kamu pulang, kamu pasti ingin bertemu dengan teman dan terkadang pergi jalan-jalan. Akan sangat tidak nyaman untuk tinggal bersama.” VOZKFa

Beberapa hari yang lalu, teman sekelas SMA Zhou Luoyang, Fang Zhou, meneleponnya, dan Du Jing sudah mendengarnya.


“Kalau begitu … Aku akan membeli tiketku sendiri,” kata Zhou Luoyang. “Aku akan kembali lebih awal.”

“Aku akan mengantarmu ke sana?”

Zhou Luoyang berkata, “Tidak, tidak, lihat, aku sudah membeli tiketnya.” nqyijm

Du Jing terdiam. Satu menit kemudian, dia berkata, “Kalau begitu aku akan mengantarmu ke stasiun.”

Du Jing membawa Zhou Luoyang ke tempat parkir di luar kampus, dengan tangan dimasukkan ke dalam sakunya. Dia menekan tombol di kunci mobilnya, dan lampu depan Mercedes-Benz GLK menyala dan pintunya terbuka.

Zhou Luoyang kaget. “Kapan kamu membeli mobil ini?”

“Kemarin lusa. Kamu bilang mobil ini keren, jadi aku membelinya,” kata Du Jing dengan mudah. iUNdmR

“Biasanya kita tidak perlu menggunakan mobil, bukan?”

“Awalnya aku ingin mengantarmu kembali ke Huizhou,” kata Du Jing, “dan kita bisa berhenti dan melihat-lihat pemandangan di sepanjang jalan, tapi kamu sudah membeli tiketmu.”

Zhou Luoyang: “……………………”

“Aku akan mengembalikannya,” kata Zhou Luoyang. “Datanglah untuk Tahun Baru.” dL6VRW

“Kamu tidak perlu,” kata Du Jing. “Kamu sudah membelinya.”

“Aku bisa mengembalikannya…”

Read more BL at langitbieru (dot) com

“Aku bilang kamu tidak perlu!” Du Jing mengulangi.

Zhou Luoyang bisa merasakan kegelisahan yang dialami Du Jing, jadi dia berhenti. yEDdVp

“Aku mungkin baru saja memasuki episode lagi,” kata Du Jing beberapa saat kemudian. “Aku tidak bermaksud untuk berbicara denganmu dengan nada suara seperti itu. Aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri. Maaf, Luoyang.”

Zhou Luoyang memandang Du Jing, khawatir. “Tidak masalah. Aku sebenarnya lebih suka kalau kamu kehilangan kesabaran padaku daripada memaksakan dirimu sendiri untuk terus di bawah kendali. Apa kamu sedang ada di episode mania sekarang?”

Du Jing mengangguk. “Ketika segala sesuatunya berkembang ke arah yang tidak aku duga, aku sering merasa tidak enak badan. Jangan hiraukan aku, aku akan baik-baik saja setelah beberapa saat.”

Zhou Luoyang berkata, “Seharusnya kamu memberitahuku.” 9EzQqd

Dengan keras kepala, Du Jing berkata, “Kamu sudah membeli tiketmu. Tapi itu membuatku sangat senang saat kamu mengundangku untuk merayakan Tahun Baru bersama denganmu.”

Du Jing tinggal di luar negeri selama bertahun-tahun. Keluarga ayah tirinya tidak merayakan Tahun Baru Imlek, dan ketika dia masih kecil, yang dia dan ibunya lakukan untuk merayakannya hanyalah membuat dan makan pangsit sendiri pada hari Tahun Baru.

“Kalau kamu tidak jadi pergi ke Spanyol atau Amerika Serikat, kamu harus datang mengunjungiku,” kata Zhou Luoyang sambil mengucapkan selamat tinggal pada Du Jing di luar stasiun.

Du Jing mengangguk dengan setengah hati. Zhou Luoyang berkata, “Itu janji.” BUZ0wJ

“Oke,” kata Du Jing. “Hati-hati.”


Zhou Luoyang memasuki stasiun. Setelah tiketnya diperiksa, dia beringsut ke sisi ruang tunggu yang sangat besar dan memandang ke luar melalui dinding kaca setinggi tiga lantai. Dia melihat Du Jing masih berdiri di luar sana dalam keadaan linglung.

Zhou Luoyang menelepon Du Jing dan berkata, “Berbalik.”

Du Jing berbalik dan melihat sekeliling selama beberapa menit sebelum akhirnya melihat Zhou Luoyang. Agitasi di wajahnya segera mereda saat dia melakukan yang terbaik untuk menenangkan diri, mengangkat alis ke arah Zhou Luoyang. Mkpino

“Kenapa kamu belum pulang?” Zhou Luoyang tahu bahwa Du Jing pasti sedang tidak enak badan sekarang; dia hanya berpura-pura baik-baik saja.

“Lagipula, aku tidak akan melakukan apa-apa di asrama,” kata Du Jing, berjalan ke dinding kaca dan balas menatap Zhou Luoyang.

Zhou Luoyang berkata, “Aku masih agak khawatir. Bagaimana kalau…”

“Aku bisa menjaga diriku sendiri,” jawab Du Jing. “Kamu tidak perlu khawatir.” y56WGs

Zhou Luoyang mengangkat tangannya dan dengan lembut meletakkannya di permukaan dinding kaca. Di luar stasiun, Du Jing juga mengangkat tangannya dan menekankan telapak tangannya ke telapak tangan Zhou Luoyang, dipisahkan oleh kaca.

“Aku mencintaimu.” Zhou Luoyang berkata dengan serius. “Sampai jumpa lagi.”

Read more BL at langitbieru (dot) com

Zhou Luoyang selalu sangat lugas, tetapi Du Jing adalah orang yang pemalu, jadi dia mengatakannya dalam bahasa Inggris ketika dia menjawab, “Aku juga.”

Zhou Luoyang menutup telepon itu dan pulang ke rumahnya di Huizhou dengan perasaan khawatir. Du Jing masih di asrama, dan Zhou Luoyang akan mengiriminya pesan setiap pagi dan siang. Du Jing selalu segera menanggapi setiap pesan yang dikirimkannya. Zhou Luoyang tahu kalau dia belum meninggalkan universitas; dia tinggal di sana sendirian, dan setiap hari dia akan membaca buku di perpustakaan. ryWjUf

Pada malam hari, Zhou Luoyang akan melakukan panggilan video dan memastikan dia baik-baik saja. Selama panggilan telepon, masing-masing dari mereka akan meletakkan ponsel mereka dan melakukan kegiatan mereka sendiri — Zhou Luoyang bermain di rumah, sementara Du Jing melakukan apa yang selalu dia lakukan di asrama: mandi, membaca, memberi makan kura-kura, dan tidur.


Pada sore hari tanggal dua puluh tujuh bulan lunar kedua belas, Zhou Luoyang dan Fang Zhou pergi ke bar untuk minum dan melakukan permainan melempar dadu. Du Jing menelepon Zhou Luoyang sebelum Zhou Luoyang bisa melakukan panggilan video terlebih dahulu. Setelah menolaknya, Zhou Luoyang mengiriminya pesan yang berbunyi: Aku akan pulang terlambat hari ini.

“Oh? Kamu sedang berkencan?” Fang Zhou bertanya ketika dia melihat panggilan video masuk.

“Teman sekamarku,” jelasnya. HP2FEZ

“Siapa yang sedang kamu bohongi? Melakukan panggilan video selarut ini,” kata Fang Zhou, “bagaimana mungkin itu bukan perempuan? Berikan padaku, biarkan aku melihatnya.”

“Memang bukan!” Zhou Luoyang membantah. “Mau melihatnya sendiri?”

Fang Zhou membaca catatan obrolan antara Du Jing dan Zhou Luoyang. Dia tidak bisa salah memahami nada dari pesan-pesan itu — pesan itu pasti dikirim oleh seorang pria. Dan dia juga tahu bahwa mereka tidak berkencan. Sudut bibirnya bergerak-gerak.

“Kalian sangat dekat,” Fang Zhou mengamati dengan agak iri. sFGLWc

Sejujurnya, ada alasan bagi Zhou Luoyang mengundang Fang Zhou untuk minum. Dia berkata, “Benar, aku ingat kalau pamanmu seorang psikiater. Aku ingin nasihatnya tentang sesuatu. Apa kamu bisa membantuku bertemu dengan pamanmu?”

“Kenapa kamu ingin menemuinya? Dia sendiri hampir gila.”

“Aku ingin meminta nasihatnya tentang … sesuatu yang berhubungan dengan depresi.”

Fang Zhou khawatir. “Apa kamu merasa ada yang tidak beres?” LlNaIJ

Setelah beberapa pertimbangan, Zhou Luoyang berkata, “Seorang… teman dari kelas mengalami depresi. Aku ingin bertanya bagaimana berinteraksi dengan pasien seperti itu.” Ketika dia melihat wajah Fang Zhou, dia melanjutkan, “Dia perempuan.”

Dia tidak ingin Fang Zhou tahu Du Jing memiliki kelainan ini, karena mereka mungkin akan bertemu di masa depan. Dengan mengatakan itu, dia bisa menghilangkan kecurigaan Fang Zhou.

Dan benar saja, Fang Zhou berkata, “Gadis yang ingin kamu dekati? Apa dia sudah didiagnosis secara resmi?”

“Aku sebenarnya tidak menyukainya seperti itu,” kata Zhou Luoyang agak bersalah, mengalihkan pandangannya. “Aku hanya ingin dia bisa hidup lebih bahagia.” tzdQRi

Fang Zhou berkata, “Kamu tahu, Luoyang, aku tidak bermaksud tidak peka, tetapi lebih baik kalau kamu tidak berkencan dengan seseorang yang mengalami depresi. Benar-benar menguras tenaga. Begitu kamu membuat keputusan, itu akan berlaku selama seumur hidup; kamu tidak bisa menyerah.”

Zhou Luoyang mengulangi, “Aku tidak menyukainya seperti itu. Kami hanya berteman. Jangan khawatir, aku bisa mengatasinya.”

Read more BL at langitbieru (dot) com

“Baiklah, aku akan menghubunginya untukmu,” kata Fang Zhou, pasrah.

Zhou Luoyang bisa langsung menebak apa yang dipikirkan Fang Zhou. “Kamu tidak bisa meyakinkanku, jadi kamu berharap pamanmu akan meyakinkanku, ‘kan? Aku benar-benar tidak berencana untuk memiliki hubungan khusus dengannya. Aku hanya ingin bisa memahaminya dengan lebih baik.” hSp36m

Fang Zhou tidak mempercayainya, bahkan tidak sedikit pun. “Jika dia benar-benar hanya teman biasa bagimu, kenapa kamu melakukan sesuatu yang seperti bukan dirimu saja dengan melakukan hal ini? Jujur. Apa kamu menyukainya?”

Zhou Luoyang tidak punya pilihan selain memilih diam untuk mencegah Fang Zhou menggali lebih banyak informasi darinya.

“Gadis macam apa dia?” Fang Zhou bertanya, mendekat.

Zhou Luoyang menyesap minumannya dan menatap Fang Zhou dengan tatapan mengancam— Teruslah bertanya dan aku akan membuatmu menyesal. JBf6NU

Translator's Note

CET adalah ujian kecakapan bahasa Inggris wajib untuk mahasiswa di Tiongkok. Ada CET-4 dan CET-6; CET-6 adalah yang lebih sulit.

Leave a Comment

For an easier time commenting, login/register to our site!