English

Tiandi BaijuCh24 - Kehidupan berlalu secepat kuda putih yang berlari kencang melewati celah kecil — dalam sekejap mata

0 Comments

MASA LALU


“Kamu harus merangkul emosinya.” odJOcm

Setelah berkonsultasi selama dua jam, ini adalah kata-kata yang meninggalkan kesan terdalam di dalam hati Zhou Luoyang.

Tidak ada yang harus dia sembunyikan dari paman Fang Zhou. Pertama, dia memercayai komitmen dokter pada kode moral profesinya, dan dia percaya bahwa dia akan merahasiakan informasi ini. Kedua, paman Fang Zhou adalah seorang sarjana terkenal, dan meskipun dia ingin kembali ke kampung halamannya, kemampuan profesionalnya tidak perlu diragukan lagi.

Langit Bieru.

“Dengan merangkul emosinya, maksudku apakah temanmu sedang berada dalam kondisi mania atau depresi, kamu harus dengan tenang menempatkan dirimu pada posisinya dan mencoba untuk memahaminya. Kamu harus memahami bahwa semua perilaku ‘abnormal’-nya adalah sesuatu yang normal dari episodenya dan tidak seperti perilaku yang biasa dilakukan oleh orang-orang seperti kita yang sehat. Kamu harus percaya bahwa suasana hatinya yang berubah dengan begitu tiba-tiba mungkin tidak mencerminkan niatnya yang sebenarnya.”

Zhou Luoyang segera berkata, “Benar, dia selalu berkata kepadaku, ‘Aku tidak ingin menyakitimu.'” 1duyFM

“Kamu tidak boleh memberikan tekanan tambahan padanya dengan mengatakan hal-hal seperti, ‘Dunia ini sangat indah, namun kamu berpikir untuk mati? Apakah itu adil untuk orang tuamu? Apakah itu adil untuk teman-temanmu?’ Dan jangan terus-menerus mengingatkan dia bahwa ada banyak keindahan dalam hidup. Karena pasien tidak bisa mengalaminya. Selama episode depresi, dia tidak bisa merasakan cinta yang kamu rasakan terhadap kehidupan.

“Kamu hanya perlu menawarkan persahabatan dan pengertian, seperti kamu yang akan menemani pasien yang sedang demam. Kamu hanya perlu tahu bahwa dia sangat kesakitan saat ini, dan itu sudah cukup. Saat ia bertransisi menjadi episode mania, yang terpenting adalah kamu harus tetap tenang dan terkendali. Dia akan menyakitimu tanpa sengaja. Segera setelah kamu menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak benar, beri dia waktu untuk sendiri dan lindungi dirimu. Jangan memulai perselisihan apa pun; kamu ingin menghindari merangsangnya untuk kedua kalinya selama periode mania ini.

“Saat episode mania akan berakhir, dia akan mulai merenungkan tindakannya dan meminta maaf kepadamu. Dan refleksi diri ini seringkali dapat membawanya ke episode depresi lainnya. Jika dia menyakitimu selama episode manianya, dia akan merasa sangat bersalah dan mengalami ide bunuh diri untuk jangka waktu tertentu.

“Memiliki gangguan bipolar seperti terus-menerus berpindah-pindah dari berada di puncak gunung menjadi terjebak di jurang yang dalam. Pikirkan kembali. Apakah aku benar?” 5Z4gRs

Zhou Luoyang memikirkan perilaku khas Du Jing dan mencoba menceritakannya kepada Dr. Fang. Fang tidak bertanya siapa orang yang dia maksud; dia baru saja menuntun Zhou Luoyang melalui dasar-dasar bagaimana berinteraksi dengan temannya ini selama situasi ekstrim.

Zhou Luoyang menghabiskan waktu cukup lama untuk memproses informasi ini. Fang mendesak, “Dan kamu benar-benar harus memastikan kalau dia meminum obatnya tepat waktu.”

“Terima kasih. Terima kasih,” kata Zhou Luoyang lega. “Apa dia bisa berkencan? Akankah kencan akan sedikit membantunya? Mungkin akan meningkatkan keyakinannya dalam hidup?”

Zhou Luoyang tahu bahwa cinta membuatnya terasa seperti sinar matahari yang menyinari kenyataan yang redup dan suram. Cinta mengisimu dengan harapan untuk masa depan. Perasaan cinta yang indah bisa mengubahmu, serta seluruh hidupmu. 3qrRuv

Tetapi Dr. Fang berkata, “Jika kondisinya belum sepenuhnya stabil, aku tidak merekomendasikannya untuk berkencan atau menikah. Dokter utamanya pasti sudah mengingatkannya akan hal ini juga.  Aku yakin dia paling mengerti situasinya. Dilihat dari tindakannya, aku pikir dia tidak ingin berkencan, atau bahkan berteman.”

Petunjuknya jelas; Fang memberi peringatan terselubung kepada Zhou Luoyang agar tidak mencampuri urusannya.

Pada akhirnya, dia menambahkan, “Selain itu, jika dia menyembunyikan kelainannya, itu tidak akan adil bagi pasangannya.”

“Itu benar.” Zhou Luoyang merasa malu. Sebenarnya, dia tidak pernah berpikir untuk menyembunyikan kelainan Du Jing sebelumnya. Hanya saja dia selalu mengira Du Jing adalah pria yang sangat menawan. Zhou Luoyang sangat menyukainya, bahkan meskipun mereka memiliki jenis kelamin yang sama, dan dia juga bisa menerima dia apa adanya, termasuk ketidakteraturannya. Jadi pasti akan ada seorang gadis di luar sana yang akan cukup mencintainya untuk menerima segalanya tentang dia. E4GuCF


“Singkatnya, jangan membuat gunung dari sarang tikus mondok tentang kelainannya, dan jangan mencoba melakukan sesuatu seperti menariknya keluar dari sebuah episode secara paksa. Yang paling dia butuhkan adalah persahabatan dan pengertian. Selama ada seseorang yang bisa merangkul semua emosinya, dia tidak akan merasa kesepian dan tidak berdaya. Kamu sangat, sangat penting baginya.

“… Pasien ini membutuhkanmu untuk menginvestasikan pertemanan yang berlangsung selama seumur hidup,” kata Dr. Fang dengan serius. “Luoyang, menurutku, ini bagian tersulitnya. Tidaklah sulit bagi seseorang untuk bersabar dalam jangka waktu tertentu, tetapi sulit bagi seseorang untuk bersabar hari demi hari, tahun demi tahun, selamanya. Banyak anggota keluarga atau pasangan yang datang kepadaku untuk meminta nasihat, pasti akan mengalami suasana hati yang buruk, dan mereka hanya menahannya. Tapi seiring berjalannya waktu, mereka pasti akan kehilangan kendali atas diri mereka sendiri di beberapa titik — bagaimanapun juga kita hanyalah manusia, bukan dewa. Setelah memberi dan terus memberi secara sepihak dalam waktu yang lama, akan mudah bagi emosimu sendiri untuk lepas kendali, dan kamu juga mungkin akan menjadi tidak sabar atau bahkan berteriak padanya dalam keadaan putus asa. Ini akan menyebabkan kerusakan yang lebih besar pada pasien. Dan ini bahkan lebih fatal setelah kamu telah membentuk ikatan emosional yang sangat dekat dengannya, jadi lebih baik untuk tidak memasuki hidupnya sejak awal.”

“Aku pasti akan berhati-hati dalam menjaga emosiku sendiri,” kata Zhou Luoyang.

Fang mengangguk dan berkata, “Jangan menyerah padanya. Kamu anak yang baik, Luoyang.” Dia melepas kacamatanya dan menyekanya dengan kemejanya. “Sudah takdir temanmu bisa bertemu denganmu. Dan itu juga menandai titik balik dalam hidupnya. Aku berharap dia bisa menjadi lebih baik. Kamu bisa minta dia datang menemuiku jika dia memiliki kesempatan.” eNjypY


Zhou Luoyang mengangguk dan melirik ponselnya. Du Jing tidak membalas pesannya sepanjang hari ini.

Merangkul semua emosinya, Zhou Luoyang mengulangi kata-kata itu di dalam hatinya. Sebelum dia pergi ke perguruan tinggi, dia tidak pernah berpikir bahwa dia akan bertemu seseorang seperti Du Jing.

Please visit langitbieru (dot) com

Memberi secara sepihak? Zhou Luoyang merasa bahwa dia juga telah belajar banyak hal dari Du Jing. Terutama dalam hal hubungan antarpribadi — motto utama Du Jing dalam hidup adalah untuk tidak perlu repot-repot memelihara hubungan antarpribadi yang tidak perlu dia pertahankan.

Ini bukanlah sesuatu yang biasa dilakukan Zhou Luoyang. Tetapi setelah menghabiskan begitu banyak waktu dengan Du Jing, Zhou Luoyang cukup heran ketika dia menemukan bahwa ada begitu banyak orang di luar sana yang benar-benar tidak ada hubungannya dengan dia, dan mereka hanya NPC dalam kehidupan satu sama lain. Daripada membuang waktu dan energi untuk mencoba menyenangkan semua orang, akan lebih bermanfaat untuk menghabiskan waktu dengan orang-orang yang paling penting baginya. Rxv7WK


We’re sorry for MTLers or people who like using reading mode, but our translations keep getting stolen by aggregators so we’re going to bring back the copy protection. If you need to MTL please retype the gibberish parts.

Pada pukul 8 malam, saat dia berjalan pulang ditemani embusan angin dingin, Zhou Luoyang benar-benar ingin berbalik dan memberi tahu Dr. Fang, “Tidak, aku tidak memberi secara sepihak. Sebenarnya, dia-lah yang mengubah-ku.”

Di masa lalu, Zhou Luoyang akan mengundang beberapa teman dekat untuk makan malam sekitar waktu ini. Setelah pukul sepuluh, mereka akan pergi clubbing atau minum-minum di bar dan menonton pertunjukan.

Kjql rfafijt afgyljrj vfcujc Ge Alcu, tji qfgajwj sjcu lculc vlj ijxexjc rfafijt tjgl sjcu qjcpjcu vjc wfifijtxjc lcl jvjijt qeijcu xf gewjt.

Itbe Oebsjcu wfwfglxrj qbcrficsj ecaex wfiltja jqjxjt Ge Alcu revjt wfwyjijr. Glj alvjx wfcvfcujg rfqjajt xjaj qec vjglcsj rfqjcpjcu tjgl, sjcu wfwyejacsj xtjkjalg. Cqjxjt bgjcu lcl cjlx qfrjkja vjc qfgul? Bfcjqj vlj alvjx wfcujajxjc jqjqec? Vfyfcajg ijul Kjtec Djge; tjgerxjt vlj xfwyjil xf xjwqer ecaex wfwfglxrjcsj? IH2L48


Ada sebuah mobil yang diparkir di depan rumahnya. Du Jing sedang duduk di samping semak di sepanjang trotoar.

“Du Jing!” Zhou Luoyang kaget.

Du Jing menatapnya tetapi tidak mengatakan apa-apa.

“Apa kamu tidak enak badan?” Zhou Luoyang tidak pernah berpikir dia akan muncul di sini, sekarang tanpa peringatan sama sekali. Zhou Luoyang berlutut di depannya dan memeriksanya, menatap matanya. 80SeTv

Du Jing masih diam, dan jelas tampak sangat lelah. Zhou Luoyang tidak tahu apa yang terjadi padanya, tetapi setelah berkonsultasi dengan Dr. Fang, dia memutuskan untuk tidak menginterogasinya.

“Di sini terlalu dingin. Cepat, masuklah dan kita bisa bicara. Ayolah.” Zhou Luoyang menarik tangan Du Jing dan membawanya masuk.

Du Jing mengenakan setelan hari ini, seolah-olah dia awalnya akan menghadiri pesta formal, tetapi pada akhirnya muncul di pintu rumah Zhou Luoyang.

Zhou Luoyang membawanya ke dalam dan membuatnya duduk, lalu pergi mencari sandal dan memakaikannya pada Du Jing. 5CesDu

“Bagaimana kamu bisa tahu alamat rumahku?” Zhou Luoyang sangat khawatir, tapi dia juga tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya saat melihat Du Jing lagi. Dia dan Du Jing sudah berpisah selama satu minggu ini, dan dia meraga agak bosan sendirian.

Du Jing tetap diam. Zhou Luoyang menjawab pertanyaannya sendiri: “Oh, benar, alamatku ada di formulir.”

Sebelum liburan musim dingin, manajer asrama meminta mereka untuk mengisi formulir dengan alamat rumah mereka.

“Apa kamu sudah makan malam?” Zhou Luoyang bertanya. “Aku juga belum. Aku akan menemukan sesuatu untuk dimakan.” 1WzMfj

Zhou Luoyang tinggal di vila tiga lantai. Setelah dia pergi begitu lama, suasanya tempat itu menjadi suram dan dingin. Dia menyalakan pemanas di bawah lantai, menyuruh Du Jing duduk, dan berkata, “Aku akan memarkir mobilmu di garasi.”

“Kura-kuranya ada di dalam mobil.” Du Jing akhirnya berbicara.

Read more BL at langitbieru (dot) com

Zhou Luoyang tidak mengira Du Jing akan membawa kura-kura kecil itu bersamanya. Tangki plastik ada di jok penumpang. Dia memarkir mobil dan membuka bagasi — benar-benar kosong. Du Jing tidak membawa koper satu pun.

Dia membawa kura-kura itu ke dalam dan meletakkannya di ambang jendela yang hangat. Dia melirik Du Jing. Du Jing sedang duduk dengan hampa di sofa. FO13dy


“Ayo makan pangsit beku ini dulu,” kata Zhou Luoyang. “Aku akan membeli makanan besok. Apa kamu belum makan sepanjang hari ini?”

Du Jing duduk di meja makan, dan Zhou Luoyang menuangkan sesuatu untuk diminum. Dia tidak berkomentar tentang kenapa Du Jing hanya diam, dan memutuskan untuk menelusuri ponselnya, mengurus urusannya sendiri, seperti ketika mereka di sekolah. Du Jing makan sangat lambat, tetapi dia makan cukup banyak, dan menghabiskan delapan puluh persen dari sepiring besar pangsit yang disajikan Zhou Luoyang.

“Katakan yang sebenarnya,” kata Zhou Luoyang. “Sudah berapa hari sejak terakhir kali kamu makan?”

“Tiga hari,” jawab Du Jing, wajahnya pucat. d02pFY

Zhou Luoyang: “……”

Zhou Luoyang melawan keinginannya untuk mencaci-makinya dengan keras. “Kenapa kamu tidak makan?”

“Tidak mau,” jawab Du Jing.

Zhou Luoyang ingin merebus satu paket pangsit untuknya, tetapi kemudian memikirkannya lagi. Orang ini tidak makan sama sekali selama tiga hari; yang terbaik adalah dia tidak makan terlalu banyak sekaligus. Ydv9 y

“Ada tangyuan di lemari es,” kata Zhou Luoyang. “Kamu bisa memakannya jika kamu lapar di malam hari.”  

Du Jing mengangguk. Zhou Luoyang berkata, “Kamu tidak membawa baju ganti? Apa yang terjadi dengan bajumu?”

Zhou Luoyang menyadarinya ketika Du Jing duduk di meja dan cahaya menerpa dirinya. Dia mencondongkan tubuh ke depan dan menarik kerah jas Du Jing. Kemejanya berlumuran darah yang sama sekali tidak sedikit.

“Aku melukai diriku sendiri,” kata Du Jing. ECD7id

“Apa kamu merasa sangat tidak nyaman?” Dugaan Zhou Luoyang adalah bahwa Du Jing telah melukai dirinya sendiri untuk membantu menangani gangguannya.

Du Jing mengalihkan pandangannya dan tidak menjawab. Zhou Luoyang berkata, “Syukurlah aku punya beberapa baju ganti. Pergilah mandi. Kita akan tidur bersama lagi malam ini.”

Zhou Luoyang membayangkan bahwa Du Jing kemungkinan besar tidak bisa tidur selama berhari-hari. Dia mengobrak-abrik lemari dan mengeluarkan kantong kertas berisi satu set piyama dan pakaian dalam baru. Dia menyerahkannya pada Du Jing dan mengantarnya ke kamar mandi.

“Jangan dibuka,” kata Du Jing. qRH2ma

“Aku membelikannya untukmu,” kata Zhou Luoyang. “Aku keluar kemarin lusa dan melihat mereka diobral, jadi aku membelinya.”

Du Jing tampak tidak yakin, dan Zhou Luoyang berkata, “Semuanya sesuai dengan ukuran tubuhmu. Kamu akan tahu setelah memakainya, oke?”

Langit Bieru.

Du Jing mengangguk dan pergi mandi dan berganti pakaian. Pakaian itu benar-benar dibeli untuknya.


“Luoyang!” Du Jing tiba-tiba berteriak dari dalam kamar mandi. FCIBiY

Zhou Luoyang membuka pintu dan masuk. “Apa airnya berhenti lagi?”

Du Jing sedang mandi. Dia berbalik, menatap Zhou Luoyang melalui pintu kaca. “Bicara padaku.”

Zhou Luoyang tidak tahu apakah harus tertawa atau menangis. Dia menggantung setelan Du Jing dan berkata, “Sebentar.”

Du Jing sepertinya merasa jauh lebih baik begitu dia berdiri di bawah pancuran air panas. Zhou Luoyang meraih kemejanya, memutuskan untuk mencucinya, dan mencari pembersih noda. Ketika dia melihat Du Jing lagi, dia melihat luka yang tidak mencolok di lengannya. ht9uIE

Zhou Luoyang tidak membahas kenapa dia melukai dirinya sendiri. Sebaliknya, dia bertanya, “Apa rencanamu hari ini?”

Du Jing berkata, “Departemenku sedang mengadakan pertemuan, dan aku berniat untuk mampir. Saat aku meninggalkan asrama, aku tiba-tiba kehilangan minat, jadi aku datang mencarimu.”

Sebuah pertanyaan, dan sebuah jawaban. Keduanya sangat tenang. Zhou Luoyang berbalik untuk melihat Du Jing. Pintu kaca berkabut, dan dia bisa melihat siluet samar dari tubuh telanjangnya. Itu sangat maskulin.

Pada akhirnya, Zhou Luoyang tidak bisa menahan diri untuk bertanya, “Apa tanganmu baik-baik saja?” JM7Hh0

Alih-alih menjawab pertanyaannya, Du Jing berkata, “Apa rencanamu?”

Zhou Luoyang berkata, “Aku tidak punya rencana. Bagaimana denganmu?”

“Kamu tidak pergi ke Jepang?” Du Jing bertanya.

Zhou Luoyang berkata, “Aku tidak benar-benar ingin pergi sejak awal. Aku tidak punya apa-apa untuk dikatakan kepada mereka.” yEAeL0

Segera, Du Jing selesai mandi. Dia memakai celana dalamnya dan berdiri di belakang Zhou Luoyang, mengawasinya yang tengah mencuci bajunya.

“Aku tidak lagi dalam episode mania,” kata Du Jing. “Aku merasa jauh lebih baik sekarang.”

Bayangan Zhou Luoyang di pantulan cermin tampak tersenyum. “Beberapa hari terakhir, kamu khawatir kalau kamu akan memulai pertengkaran denganku saat kamu merasa tidak enak badan, ‘kan?”

“Aku tidak ingin menyakitimu,” kata Du Jing. Dia mengambil kapas yang diberikan Zhou Luoyang dan membersihkan telinganya. Mereka diam-diam saling memandang. XhzCVs

“Berbaringlah,” kata Zhou Luoyang. “Ayo pergi keluar dan bersenang-senang besok.”


Kamar Zhou Luoyang berada di lantai tiga, dan kamarnya sangat luas. Keduanya berbaring di atas satu tempat tidur besar, dengan Zhou Luoyang yang tengkurap dengan masih membaca buku dan Du Jing berbaring menatap langit-langit.

Please support our translators at langitbieru (dot) com

Ketika Zhou Luoyang mendongak, dia tanpa sengaja bersitatap dengan Du Jing.

Kadang-kadang Du Jing terlihat seperti anak kecil yang tidak bisa mengurus dirinya sendiri, pikir Zhou Luoyang. RIEatF

“Kamu tidak bertemu dengan teman sekelasmu?” Du Jing bertanya.

“Bagaimana aku bisa bertemu dengan mereka setiap hari?” Zhou Luoyang menanggapi dengan santai.

“Apa mantan pacarmu kembali?”

Zhou Luoyang membalik halaman bukunya dan menatapnya sekilas. “Kenapa?” IqlDrt

“Aku ingin melihatnya.”

Zhou Luoyang tidak tahu apakah harus tertawa atau menangis. “Apa yang kamu ingin lihat dari mantanku? Apa yang sedang kamu pikirkan?”

“Aku ingin tahu gadis seperti apa yang layak untuk cintamu dan masih bisa menginjak-injak hatimu pada akhirnya.”

Zhou Luoyang dengan linglung berkomentar, “Jadi, kamu ingin merobek bekas lukaku.” JZzCdV

“Bukan itu maksudku,” kata Du Jing, tiba-tiba merasa malu.


“Seluruh keluarganya beremigrasi.” Zhou Luoyang membalikkan badan, mengangkat novelnya, dan melirik Du Jing dari tepi halaman. “Kamu ditakdirkan untuk kecewa.”

Du Jing tidak mengatakan apa-apa lagi. Zhou Luoyang mematikan lampu dan berkata, “Tidurlah.”


Zhou Luoyang tidak berhasil tidur. Hampir tiga tahun kemudian, dia berbaring di tempat tidur besar di kamar sewaan ini dan mengingat kenangan ini sedikit demi sedikit. Tahun itu adalah tahun pertama dia dan Du Jing merayakan Tahun Baru bersama. Pada tanggal dua puluh delapan bulan dua belas, mereka pergi ke pasar Huizhou dan membeli kuas, tinta, dan kertas merah. Zhou Luoyang pernah belajar kaligrafi ketika dia masih muda dan bisa menulis dengan indah. Dia menulis gulungan Festival Musim Semi miliknya sendiri dan karakter fu untuk keberuntungan dan chun untuk musim semi. kRZgHF

Du Jing memperhatikannya. Dia menggulung lengan bajunya, memperlihatkan luka yang telah sembuh di tangannya, dan menggiling tinta untuk Zhou Luoyang.

Fang Zhou mengundang Zhou Luoyang untuk berkumpul, dan Du Jing menurunkannya di luar restoran, sementara dia tetap di dalam mobil. Zhou Luoyang tidak memaksanya untuk masuk ke dalam bersamanya, tetapi beberapa saat kemudian, Du Jing mengirim pesan kepadanya yang berisi bahwa dia ingin naik juga.

Zhou Luoyang memperkenalkan Du Jing kepada teman-teman sekolah menengahnya, memberi tahu mereka bahwa dia adalah teman sekamarnya. Malam itu, Du Jing sangat akrab dengan mereka, seperti orang normal lainnya, dan tidak ada yang bertanya tentang bekas luka di wajahnya atau bergosip tentang latar belakangnya.


Zhou Luoyang menyalakan lampu kembali. 8WzLRA

Bertahun-tahun telah berlalu dalam waktu singkat antara lampu dimatikan dan kemudian dinyalakan kembali.

Kehidupan berlalu secepat seekor kuda putih yang berlari kencang melewati celah kecil — dalam sekejap mata.

Read more BL at langitbieru (dot) com

Dia bangkit dari tempat tidur dan mengenakan jaket dan sandal. Dia berdiri di luar kamar Leyao sejenak, mendengarkan, memastikan adiknya sudah tertidur lelap, sebelum dia meninggalkan apartemen. Cahaya lampu jalan menerangi jalan saat dia melewati lingkungan sekitar, sebelum akhirnya tiba di taman.

Benar saja, Du Jing sedang duduk di bangku, menatap ke angkasa. Dia memakai earbud dan mendengarkan musik. Ketika dia melihat Zhou Luoyang berjalan ke arahnya, dia mengangkat kepalanya sedikit. zvm3Nd

“Ayo tidur di lantai atas,” kata Zhou Luoyang. “Kenapa kamu memutuskan untuk duduk di taman? Aku kesulitan menemukanmu. Aku pikir mungkin kamu bahkan tidak ada di sini.”

Du Jing menunjuk, dan Zhou Luoyang mendongak. Dari sini, mereka bisa melihat dengan sempurna cahaya di kamar Zhou Luoyang di sisi lain lingkungan itu.

Zhou Luoyang menarik Du Jing dari bangku dan membawanya ke apartemennya.


– Buku 1 · Masa Lalu · Selesai – 3ScR6n

Translator's Note

Bola ketan kecil yang manis, biasanya diisi dengan wijen hitam atau tidak sama sekali.

Translator's Note

Tahun Baru Imlek juga dikenal sebagai Festival Musim Semi. Gulungan Festival Musim Semi adalah spanduk vertikal dengan bait tertulis di atasnya yang kamu gantung selama Tahun Baru.

Translator's Note

Tinta tradisional hadir dalam tongkat tinta padat, yang kamu giling di batu tinta dengan sedikit air untuk membuat tinta mencair, yang setelahnya bisa kamu gunakan.

Leave a Comment

For an easier time commenting, login/register to our site!