English

Tiandi BaijuCh47 - Du Jing, tolong bangun!

4 Comments

Penerjemah: Jeffery Liu


MASA DEPAN L8KF2z


“Tim satu ke tim dua,” suara Huang Ting terdengar dari saluran komunikasi. “Bagaimana situasi di sana?”

“Saat ini menuju ke titik transfer.” Du Jing melirik layar pelacak. Van itu melaju kencang menuju titik transfer. Zhou Luoyang menghela napas. Dia berharap hati nurani Ruan Song akan terbuka di Kuil Mariamman dan berubah pikiran tentang menculik Lu Zhongyu.

Read more BL at langitbieru (dot) com

Tetapi meskipun bertemu dengan wajah-wajah yang dikenalnya, Ruan Song masih tetap berkomitmen untuk menjual Lu Zhongyu ke KCR. Meskipun untuk berapa banyak, Zhou Luoyang tidak yakin.

Selanjutnya, van akan membawa Lu Zhongyu ke gurun dan hutan Thao Dien. Di sana, dia akan diserahkan ke pihak lain, yang akan membawanya pergi dengan kendaraan lain. ZnwVbX

“Bagaimana denganmu?” tanya Du Jing.

“Aku sudah sampai. Kendaraan KCR diparkir di dalam hutan. Kamu bisa memeriksa rekamannya.”

Du Jing melaju menuju titik transfer, tetapi masih menjaga jarak dari bukit. Zhuang Li sedang mengendarai mobil lain ke arah mereka. Kedua kendaraan bertemu dan meluncur ke jalan utama.

Melalui mata drone burung, mereka menyaksikan Ruan Song dan pengemudi van turun, dan di balik naungan pepohonan, membawa kantong mayat yang dipenuhi lubang udara ke dalam kendaraan kedua tanpa pelat nomor. KQ8WEN

Prajurit KCR menyerahkan beberapa uang kertas Amerika kepada pengemudi van.

Ruan Song masuk ke kendaraan KCR dan menutup pintu. Mobil keluar dari hutan, meninggalkan tiga penjaga, yang duduk di tengah-tengah pepohonan tengah melinting rokok.

Drone burung mengepakkan sayapnya dan meluncur di udara mengikuti kendaraan.

“Baterainya hampir habis,” Zhou Luoyang melaporkan. “Baterai kamera mata-matamu hanya tersisa dua puluh satu persen.” YGWIZt

“Kita perlu mengganti baterainya,” kata Du Jing. “Begitu kita mencapai jalan bebas hambatan, terbangkan kembali ke kita.”

Drone burung terbang di sepanjang jalan bebas hambatan, lensa yang dipasang di tenggorokannya digunakan untuk menemukan kendaraan tanpa pelat nomor sebelumnya.

“Mereka mengemudi menuju Kamboja. Sepertinya mereka akan pergi ke Phnom Penh. Berapa jarak maksimum drone dapat dioperasikan?” Tanya Huang Ting.

Zhuang Li berada di mobil yang sama dengan Huang Ting. Dia menjawab, “Aku pikir jaraknya maksimal tiga puluh enam kilometer. Lebih dari tiga puluh kilometer akan sangat berisiko.” sSh6Qg

Malam sebelumnya, kamera diatur dalam mode siaga dan tidak digunakan kecuali untuk mengirimkan umpan videonya. Phnom Penh berjarak sekitar 200 kilometer dari Ho Chi Minh, dan untuk melakukan perjalanan di antara keduanya, kamu harus melewati jalan pegunungan yang berliku-liku. Jika mereka kehilangan jejak target, semua upaya mereka akan sia-sia.

“Jangan terlalu dekat,” kata Du Jing. “Tetap jaga jarak sekitar sepuluh kilometer.”

“Apa kalian memiliki akses satelit?” Huang Ting bertanya melalui saluran komunikasi.

“Bisa beri kami satu?” Du Jing bertanya balik. jK9TCf

Pamit, Huang Ting berkata, “Aku akan menghubungi rekan-rekanku di Kamboja dan melihat apakah kita bisa meminjam helikopter.”

“Kalian lebih kaya, oke,” kata Zhou Luoyang, dengan mata tertuju pada layar.

Read more BL at langitbieru (dot) com

“Ada banyak orang Tiongkok yang kaya di Kamboja. Kami memiliki hubungan kemitraan.”

Kedua tim mencapai jalan bebas hambatan dan melanjutkan perjalanan menuju perbatasan Kamboja. Untuk sementara waktu, saluran komunikasi benar-benar sunyi. Ad4BU8

“Zhou Luoyang.” Du Jing berkonsentrasi mengemudi.

“Apa?”

Pikiran Zhou Luoyang dipenuhi dengan ciuman Du Jing dua jam sebelumnya. Dia menatapnya.

Du Jing biasanya hanya memanggilnya Luoyang. Sejak mereka bertemu, dia hampir tidak pernah memanggilnya dengan nama depan dan belakangnya. Di sisi lain, Zhou Luoyang biasanya memanggilnya “Hei” atau “Du Jing.” YX5dDt

Sekarang, dipanggil dengan nama lengkapnya, Zhou Luoyang sedikit gugup, seolah-olah dia dipanggil di dalam kelas.

“Tidak ada,” kata Du Jing. “Hanya ingin menyebut namamu.”

“Aneh.” Zhou Luoyang sangat marah saat ini. Mereka sedang mengikuti Lu Zhongyu. Semuanya akan jauh lebih mudah jika semuanya berjalan sesuai dengan rencana awal mereka, di mana Lu Zhongyu tidak diculik. Kendaraan yang datang untuk pertukaran tidak akan menerima muatannya, jadi kendaraan itu harus kembali, dan mereka bisa saja membuntuti kendaraan yang kosong itu.

Tapi sekarang Lu Zhongyu tidak sadarkan diri di dalam mobil itu. Jika mereka secara tidak sengaja kehilangan jejak target, akan ada kehidupan manusia lain yang dipertaruhkan. tBi0ZV

We’re sorry for MTLers or people who like using reading mode, but our translations keep getting stolen by aggregators so we’re going to bring back the copy protection. If you need to MTL please retype the gibberish parts.

Dia perlu fokus pada mobil tanpa pelat. Tetapi di saat yang paling kritis ini, mulutnya dipenuhi dengan rasa dan perasaan yang ditinggalkan oleh ciuman Du Jing.

Vjja laeijt Ge Alcu alyj-alyj yfgxjaj, “Bfalxj xlaj yfgmlewjc, weieawe afgjrj rfqfgal xbql. Ejrjcsj wjclr…”

Itbe Oebsjcu wfcufiejgxjc qfgwfc xbql vjgl ajrcsj. Glj wfwyexj yecuxercsj vjc wfwjrexxjccsj xf vjijw weiea Ge Alcu.

“Yt, pjvl yfulae.” Ge Alcu wfijwec wfculrjq qfgwfc xbql. Ex5CwS

“Tj,” xjaj Itbe Oebsjcu vfcujc rjcajl. “Cqj xjwe rexj gjrjcsj?”

“Aku suka.”

“Kalau begitu makan lagi.”

“Tim dua,” kata Huang Ting, “Kami telah mencapai pos pemeriksaan perbatasan. Berdasarkan kamera pengawas, mereka pasti akan memasuki Kamboja.” 1B9dny

“Zhuang Li membawa visa yang membebaskannya dari pemeriksaan. Kalian bisa melalui jalur diplomatik. Tunggu kami di seberang perbatasan,” kata Du Jing. “Aku akan membawa drone itu kembali supaya aku bisa mengganti baterainya.”

Ini adalah langkah yang relatif berbahaya. Jika kendaraan KCR tanpa pelat tidak melintasi perbatasan dan mengubah arah tepat sebelum menyeberang, mereka akan kehilangannya.

Story translated by Langit Bieru.

Tapi Huang Ting tidak mempertanyakan keputusan Du Jing. “Tapi aku tidak punya dokumen untuk mendukungku terbebas dari pemeriksaan.”

“Keluar di gerbang,” perintah Du Jing. “Tinggalkan semuanya di dalam mobil dan lewati pemeriksaan itu dengan berlari.” Zau3Wr

Zhuang Li terkekeh. Du Jing mengulurkan tangan dan mengetuk ponsel yang dipegang Zhou Luoyang di tangannya. Drone itu meninggalkan misi pengejarannya dan terbang kembali ke arah mereka.

Zhou Luoyang menurunkan jendela dan membawa burung itu ke dalam. Dia melirik waktu: hampir tengah hari.

“Kita tidak akan membutuhkannya.” Du Jing dapat melihat bahwa Zhou Luoyang sedang mengamati arlojinya. “Kita tidak akan kehilangan mereka. Percayalah padaku.”

“Tidak butuh apa?” tanya Huang Ting. “Kamu punya rencana lain?” 5UzSnK

Zhou Luoyang: “……”

Du Jing sejenak lupa bahwa saluran komunikasi masih terhubung. Dengan kata lain, semua orang telah mendengar percakapan mereka.

“Semakin sedikit kamu tahu, semakin lama kamu akan hidup.” Du Jing mengenakan kacamata hitamnya dan memberi tahu Zhou Luoyang, “Ganti baterainya. Ada di kotak hitam.”

“Bagaimana cara melakukannya? Ini terlalu rumit.” nAJP5Y

“Kamu ‘kan belajar teknik mesin.”

“Mereka tidak mengajarkan ini di kelas, oke!”

Du Jing menyuruh Zhou Luoyang mengemudikan mobil. Sementara itu, dia melepas kacamata hitamnya dan membungkuk, mengambil baterai yang tipis dan kempes. Dia memutar sekrup di bawah perut burung mekanis.

Zhou Luoyang tidak punya pilihan selain memutar ke samping dan meraih kemudi. Tubuh mereka saling bersilangan, meskipun tidak ada yang meninggalkan tempat duduk mereka. Du Jing memegang Zhou Luoyang dengan satu tangan, melirik ke jalan, dan mendorong pedal gas dengan kakinya. “Jangan sampai kita berakhir dalam kecelakaan mobil dan mati.” 6u4oKP

“Jangan katakan itu! Jangan injak pedal gasnya! Kita hampir menabrak mobil itu!” kata Zhou Luoyang. “Kamu melakukannya dengan sengaja!”

Kendaraan off-road itu meluncur ke arah truk besar. Zhou Luoyang dengan panik memutar setir, melewati truk. Pengemudinya dengan marah membunyikan klakson beberapa kali.

Itu membuat Zhou Luoyang berkeringat dingin, namun Du Jing dengan santai memakan permen kopinya. Setelah mengganti baterai, dia memasukkan drone burung ke dalam pelukan Zhou Luoyang dan menepuk kepalanya dengan lembut.

“Biarkan itu terbang.” Du Jing memakai kembali kacamata hitamnya. pInLNd

“Kita kehilangan mereka,” kata Zhou Luoyang.

“Sabar,” kata Du Jing. “Jika kita tidak bisa menemukannya, kita akan berbalik dan pergi berlibur ke Nha Trang.”

Please support our translators at langitbieru (dot) com

Zhuang Li berkata, “Petugas Huang belum kesini, tapi mobilnya ada! Kamu harus pergi ke pos pemeriksaan perbatasan, cepat!”

“Aku sedang mengantre!” Huang Ting seolah muak dengan keadaannya yang terjebak dalam pemeriksaan perbatasan. CRZETF

“Aku akan mencoba yang terbaik,” kata Zhou Luoyang, “tapi itu terlalu jauh! Drone tidak bisa terbang terlalu cepat!”

Drone itu terbang melewati pos pemeriksaan perbatasan, akhirnya menemukan mobil tanpa pelat itu dan mengunci posisinya sekali lagi. Beberapa saat kemudian, Du Jing mengemudikan mobil mereka ke pos pemeriksaan juga. Dia mengumpulkan visa, paspor, dan bukti undangan khusus mereka. Di dalam paspor, dia memasukkan dua lembar uang seratus dolar Amerika, lalu menurunkan jendela mobil.

Dua tentara mendekat. Zhou Luoyang mendongak dengan cepat, tetapi Du Jing meletakkan tangannya di atasnya, menutupi ponsel dan menurunkannya. Pada saat yang sama, dia menyerahkan dokumen mereka kepada para tentara itu.

Dua tentara memeriksa dokumen keduanya. Mereka tidak mengajukan pertanyaan atau memaksa untuk memeriksa mobil mereka, hanya pergi untuk membuat salinan paspor dan surat-surat mereka. jSRBDl

Zhou Luoyang ingin mengintip layar ponselnya, khawatir kamera burung akan kehilangan kontak.

“Jangan gugup,” kata Du Jing.

Du Jing dengan sabar menunggu. Saat dia melakukannya, dia mengambil permen kopi lagi dari tas Zhou Luoyang. Dia membuka bungkusnya dan memakannya, satu tangan mengetuk tanpa sadar pada kemudi.

Zhou Luoyang tahu bahwa setiap kali Du Jing turun dari episode manik, dia akan mempertahankan emosi yang tinggi. Banyak dari tindakan kecil ini adalah caranya untuk menenangkan dirinya sendiri. kUKOpE

Dia mengeluarkan kotak pil Du Jing dari tasnya dan melihat ke dalam. Setelah memastikan bahwa dia telah meminum pil hari ini, Zhou Luoyang berhenti mengkhawatirkannya.

Tapi Du Jing membungkuk dan meraih dagunya, memiringkan wajah Zhou Luoyang ke arahnya.

“Apa lagi sekarang?” Zhou Luoyang bertanya.

“Tidak. Aku hanya melihatmu,” kata Du Jing santai. Jari-jarinya mengetuk setir secara berirama. 3m027b

Mereka mendapatkan paspor dan surat-surat mereka kembali. Zhou Luoyang merasa seolah ada beban yang terangkat dari pundaknya. Dia menggulung jendela kembali, dan Du Jing mengusir mereka.

“Apa kalian di tempat parkir?” Du Jing bertanya, menatap mobil-mobil di luar pos pemeriksaan.

Zhuang Li menjawab, “Aku sudah. Petugas Huang, apa kamu sudah di sini?”

“Aku tidak akan berada di sana setidaknya selama dua puluh menit lagi,” kata Huang Ting. “Tim dua, silakan. Zhuang Li, tunggu aku.” fWVadK

“Mereka naik kapal!” kata Zhou Luoyang. “Mereka naik kapal.”

Dua puluh kilometer dari pos pemeriksaan perbatasan, di Sungai Mekong tempat feri berlabuh, mobil tanpa pelat itu melaju langsung ke kapal feri kecil.

Read more BL at langitbieru (dot) com

Drone itu terbang di sepanjang sungai. Takut ketahuan, Zhou Luoyang memastikan untuk tidak membiarkannya terlalu dekat.

“Taruh di bagian belakang perahu lain. Istirahatlah,” kata Du Jing. db7nFP

Sulit untuk bermanuver di atas air, dan di atas semua itu, hari mulai gelap. Zhou Luoyang sangat takut secara tidak sengaja menjatuhkan kamera ke dalam air, tetapi perahu terus berlayar. Akhirnya, dia harus dengan hati-hati membawanya lebih dekat ke perahu lain dan membiarkannya mendarat.

“Nyalakan kamera inframerah.” Du Jing menekan tombol di layar.

“Baiklah,” kata Zhou Luoyang, sekarang tidak terlalu tegang. “Segalanya bagus untuk saat ini.”

Dia meraih permen, tapi Du Jing sudah mengambil yang terakhir. UBsV o

Du Jing melihat, dan mengambil permen yang setengah dimakan dari mulutnya sendiri dan memasukkannya ke dalam mulut Zhou Luoyang .

Zhou Luoyang: “……”

“Kamu terlalu bersemangat,” kata Zhou Luoyang pelan setelah mematikan saluran komunikasi.

“Aku akan baik-baik saja setelah beberapa hari,” jawab Du Jing. “Terkadang aku tidak bisa menahan diri.” BjmWSy

Dia berkendara di jalan yang membentang di sepanjang Sungai Mekong. Hampir seolah-olah berbicara pada dirinya sendiri, dia berkata dengan keras, “Versi mana dari diriku yang paling kamu sukai? Katakan padaku yang sebenarnya.”

“Setiap versi dari dirimu adalah dirimu,” kata Zhou Luoyang. “Kamu memiliki gangguan bipolar, bukan skizofrenia. Kamu tidak memiliki banyak versi.”

“Oh,” jawab Du Jing dengan sungguh-sungguh.

Saluran komunikasi berkedip. Zhou Luoyang menyalakannya kembali. Huang Ting menggerutu, “Bisakah kamu tidak mematikan salurannya?” REgIFM

“Aku tidak sengaja membenturnya,” kata Zhou Luoyang. “Maaf.”

“Ada tur keliling yang berjarak tiga kilometer darimu yang akan membawamu menyusuri seluruh Sungai Mekong. Berkendara ke sana. Rekanku sudah membuat pengaturan untukmu.”

“Apa makanan sudah termasuk di kapal?” Du Jing bertanya, meraih dagu Zhou Luoyang lagi.

“Aku menghabiskannya!” Zhou Luoyang membentak dengan marah. “Menurutmu berapa lama satu permen bisa habis?” Fi3HA4

Du Jing mengangkat tangannya tanda menyerah. Segera, dia menemukan jalan menuju gunung dan melaju ke sana. Zhou Luoyang memasang earbud. Huang Ting berkata, “Itu adalah tur helikopter! Ikuti instruksi mereka!”

Zhuang Li berkata, “Ini gelap, saudaraku. Kamu akhirnya berhasil melewati perbatasan. Bos, tim satu sudah naik mobil.”

Read more BL at langitbieru (dot) com

“Haruskah kami menunggumu?” Du Jing menutup pintu mobil dan melihat sekeliling. Zhou Luoyang meraih ponsel, sementara Du Jing menyampirkan tas ransel di bahunya, dan mereka berjalan ke landasan tempat helikopter berada tidak jauh dari sana.

“Kami akan berkendara di sepanjang sungai. Kalian berdua pergilah. Begitu kalian sampai di sana, tunggu,” kata Huang Ting. iwbdEe

Ini adalah pertama kalinya Zhou Luoyang naik helikopter. Du Jing memastikan dia duduk dengan nyaman sebelum memasang sabuk pengaman untuknya. Pilotnya adalah orang Vietnam; dia memberi mereka acungan jempol.

Huang Ting berbicara melalui lubang suara. “Beri tahu mereka ke mana kalian ingin pergi. Katakan saja untuk terbang di sepanjang sungai.”

Ada batasan jangkauan drone, jadi mereka harus berada dalam jarak tiga puluh kilometer darinya. Tetapi selama mereka menemukan lokasi di mana mobil tanpa pelat itu turun, mereka akan berhasil menemukan titik transfer kedua atau tempat di mana mereka menyembunyikan sandera mereka.

Suara helikopter begitu memekakkan telinga. Du Jing menutup pintu kabin dan duduk bahu membahu dengan Zhou Luoyang, menatap kosong ke kegelapan di luar. kXq zb

“Terbang di sepanjang sungai,” kata Zhou Luoyang ke radio kokpit.

Pilot itu mengacungkan jempolnya.

Du Jing memiringkan kepalanya untuk melihat layar ponsel. Zhou Luoyang mengembalikan ponsel itu kepadanya, seolah bertanya apakah dia ingin mengambil alih pengoperasian drone.

Du Jing melambaikan tangannya, menolak. Dia bersandar di kursinya dan menyipitkan matanya, berpikir. 64tWld

“Mereka berhenti,” Zhou Luoyang melaporkan. “Dimana ini? Mereka belum berada di Phnom Penh. GPS mengatakan mereka di Prey Veng. Apa yang mereka lakukan? Membongkar muatan? Oh, tidak, mereka sedang mengganti pelat nomor. Mereka punya pelat nomor Kamboja sekarang.”

Kapal lebih cepat dari mobil, dan helikopter lebih cepat dari kapal. Pada saat mereka hampir terjebak dengan mobil itu, Huang Ting dan Zhuang Li baru saja meninggalkan perbatasan.

Drone itu hampir kehabisan baterai lagi. Baterainya hanya tersisa tiga belas persen.

“Ponselmu juga hampir mati.” Zhou Luoyang memeriksa waktu. Hampir tengah malam. Mereka berangkat pukul sepuluh tiga puluh pagi, dan sekarang tiga belas setengah jam telah berlalu. aQGck4

“Ada baterai ketiga,” kata Du Jing. “Itu saja. Ini adalah baterai cadangan.”

Zhou Luoyang dengan lembut mengetuk jam tangan Du Jing, diam-diam bertanya, Apa kita memutar waktu?

Du Jing menggelengkan kepalanya. “Sungai Mekong dibatasi di kedua sisi oleh sebagian besar hutan. Bahkan jika kita mendapat awal yang baik, masih akan sulit untuk menemukan targetnya. Mari kita tentukan lokasi yang tepat terlebih dahulu.”

Zhou Luoyang mengangguk. “Mereka sedang mengemudi menuju Suong sekarang.” oDMt1E

Zhou Luoyang tidak mengenal Kamboja dengan baik. Dia tahu arah Angkor Wat, tapi selain itu, dia tidak tahu dimana adat setempat atau daerah mana yang berbahaya dan mana yang tertib.

“Ada banyak orang Tionghoa di Suong,” komentar Du Jing dengan tenang. “Masuk akal.”

Please visit langitbieru (dot) com

“Bos,” Zhuang Li tiba-tiba berkata dari lubang suara. “Mohon maaf. Kami mengalami beberapa masalah.”

Di landasan pendaratan helikopter, sekelompok tentara Kamboja bersenjata mengepung mobil Huang Ting dan Zhuang Li. lWbBP9

Du Jing tidak berbicara. Dia meletakkan tangannya di arlojinya.

Zhou Luoyang mendongak. Saat itu, helikopter melewati hutan lebat. Belum sampai sedetik kemudian, rudal RPG menembak ke arah mereka dari bawah.

Dengan ledakan menderu, rudal itu menembus kokpit. Tanpa bobot, Du Jing dan Zhou Luoyang melayang sejenak di udara, tetapi ditarik kembali oleh sabuk pengaman mereka. Du Jing segera berbalik dan memeluk Zhou Luoyang.

Helikopter itu berputar ke bawah dalam kegelapan, meluncur melewati pepohonan hutan. Tangki minyak meninggalkan jejak api kemarahan di belakangnya. Setelah beberapa kali berputar, helicopter itu meledak. cpz7hZ

Ponsel Du Jing terbang dari tangan Zhou Luoyang. Kepalanya pusing karena putaran keras sebelumnya dan perasaan seolah melayang, tetapi Du Jing memeluknya erat-erat, lengan kirinya melindungi kepalanya dan tangan kanannya menopang punggung bawahnya.

Ada suara gemuruh, diikuti oleh kegelapan. Ledakan itu mendorong Zhou Luoyang keluar dari helikopter.

Telinganya berdenging, dan pandangannya terombang-ambing antara putih yang menyilaukan dan gelap gulita. Zhou Luoyang mengira tulang rusuknya mungkin patah. Dia menarik napas, lagi dan lagi, merasakan gelombang demi gelombang rasa sakit di dadanya. Dia ingin muntah.

Dia mulai berjuang. Dia mendengar ledakan lain dan tersandung ke depan, masih terikat sabuk pengaman di kursinya. BCw06R

Zhou Luoyang melepas sabuk pengamannya. Dia tidak tahu di mana earphone-nya mendarat.

“Du Jing?” dia memanggil. “Du Jing!”

Du Jing berbaring tengkurap di lautan api. Zhou Luoyang terhuyung-huyung ke dalam api. Mereka dikelilingi oleh pohon-pohon yang terbakar. Asap membuatnya tidak mungkin untuk membuka mata. Tapi dia menarik lengan Du Jing ke atas bahunya dan menyeretnya dari api, memadamkan api dari pakaiannya.

Darah menetes ke dahi dan pipi Du Jing—sebuah pemandangan yang mengerikan. YJGHdP

“Du Jing!” Zhou Luoyang berteriak. “Tolong bangun!”

Dari belakangnya terdengar suara kokangan senjata. Moncong AK ditekan ke belakang kepalanya. Segera, dia dikelilingi oleh orang-orang yang berbicara dalam bahasa Khmer.

Dia melingkarkan jari-jarinya di sekitar arloji Du Jing, tetapi sebelum dia bisa memutarnya, gagang pistol menghantam bagian belakang kepalanya, dan dia kehilangan kesadaran.


Catatan Penerjemah Inggris: A7kBYp

Omong-omong, aku pikir ZLY salah menyebut skizofrenia dengan gangguan identitas disosiatif selama percakapan di dalam mobil karena istilah Cina untuk skizofrenia secara harfiah diterjemahkan menjadi “terbelah/terpisahnya mental.” Ini diambil dari akar kata Yunani ‘skhizo’, yang berarti membelah.

Story translated by Langit Bieru.

Leave a Comment

For an easier time commenting, login/register to our site!

4 comments

  1. Bentar kenapa harus gini😢😢 hati ini g siap untuk chap selanjutnya.. Du jing cepetlah bangun terus pensiun aja dari kerjaannya.. bahaya banget😢😢