English

Tiandi BaijuCh48 - Pemilihan waktu yang mengerikan

6 Comments

Ketika dia melihat ke atas, matanya memantulkan sungai bercahaya bintang yang terlukis di langit.

Penerjemah: Jeff KWYOPE


MASA KINI

Ketika Zhou Luoyang membuka mata, dia bisa mendengar suara derai hujan. Di kamar rumah sakit yang redup ini, seorang perawat memberinya suntikan.

Please visit langitbieru (dot) com

Lengan dan kaki Zhou Luoyang diikat ke tempat tidur dengan tali kulit. Pakaiannya telah berganti menjadi gaun rumah sakit. Dia mencoba menarik tali kulit yang mengikatnya, tetapi tubuhnya terasa seperti akan hancur berantakan. Bahkan gerakan sekecil apa pun sangat menyiksa.

Di mana Du Jing? p2GVCE

Perawat itu berbicara dalam bahasa Khmer. Dia tidak bisa memahaminya, tapi Zhou Luoyang berpikir dia menyuruhnya untuk tidak bergerak.

“Apa yang kamu berikan padaku?” dia bertanya dengan gemetar.

“Penawar rasa sakit.” Perawat itu mengerti apa yang dia katakan, tetapi bahasa Mandarinnya terdengar kaku.

Orang Kamboja sering berhubungan dengan orang Tiongkok, jadi mereka mengenal beberapa bahasa Mandarin sederhana. Tapi untuk apa seorang perawat di sebuah rumah sakit kecil yang sudah usang ini untuk juga tahu bahasa Mandarin? qxz0BN

Dia pasti pernah berhubungan dengan orang-orang Tiongkok sebelumnya.

Obatnya mulai bekerja. Rasa sakit di seluruh tubuh Zhou Luoyang mereda, dan dia perlahan-lahan menjadi tenang.

Apakah Du Jing masih hidup? Mereka tidak berada di kamar rumah sakit yang sama. Zhou Luoyang melihat sekeliling dan melihat dinding berbintik-bintik dan tempat tidur kayu yang bobrok. Di luar jendela ada hutan yang begitu hijau. Berkat hujan ini, dia tidak bisa mengetahui jam berapa sekarang, tetapi memperkirakan dari waktu saat kecelakaan helikopter terjadi, sepertinya sudah siang hari.

Mengapa mereka tiba-tiba diserang? Jantung Zhou Luoyang mulai berpacu. Apakah Huang Ting menjual mereka? Tidak, itu tidak mungkin. Huang Ting tidak tampak seperti orang jahat. Dan bahkan jika Zhou Luoyang tidak bisa melihatnya, Du Jing adalah seorang penyelidik. Dia tidak akan pernah membuat kesalahan konyol seperti itu. A5hd3W

Dari Kota Wan ke Hong Kong dan kemudian ke Ho Chi Minh, Huang Ting tidak pernah melakukan apa pun yang menimbulkan kecurigaan bagi mereka.

Lalu apakah informannya menjualnya? Zhou Luoyang tidak tahu apakah Huang Ting dan Zhuang Li baik-baik saja atau apakah mereka telah ditangkap.

Mungkin Du Jing ada di ruangan lain di dekatnya. Lukanya lebih serius daripada Zhou Luoyang. Saat mereka mendarat, Du Jing telah melindunginya dan jatuh pingsan sebagai hasilnya. Selain itu, mereka tidak berhasil memutar waktu saat pesawat jatuh.

Obat Du Jing berinteraksi buruk dengan beberapa obat lain. Dia tidak bisa membiarkan mereka secara membabi buta memasukan obat ke dalam dirinya… Zhou Luoyang ingat sekarang—dia harus segera menemukan Du Jing. Jam berapa ini? Dimana dia? osTePL

Zhou Luoyang mencoba bergerak. Tali kulit yang mengikat di sekitar anggota tubuhnya tidak diikat dengan erat, tetapi dia merasa hampir mustahil untuk melepaskan diri. Dia menempel di tempat tidur.

Ruangan itu sunyi. Zhou Luoyang bisa mendengar suara tempat tidur dibalik di suatu tempat di dekatnya, diikuti oleh suara dokter dan perawat yang berlari di koridor di luar.

“Du Jing!” Zhou Luoyang berteriak. “Apa itu kamu?”

Ketika dia tidak mendapat jawaban, dia memanggil beberapa kali lagi. Saat itu, pintu terbuka, dan dua orang masuk. mBtvGz

Yang memimpin adalah seorang pria Asia Tenggara yang tampak garang mengenakan pakaian lokal camo khas tentara daerah tersebut. Dia diikuti oleh seorang pemuda: Ruan Song!

Zhou Luoyang terdiam. Saat Ruan Song muncul, dia menyadari sesuatu—mereka telah ditangkap oleh KCR.

Story translated by Langit Bieru.

Dia tidak mencoba untuk memberontak dan melepaskan diri, malah memilih untuk menatap Ruan Song dengan tenang.

Tentara itu mengatakan sesuatu kepada Ruan Song. Ruan Song berjalan mendekat dan melepaskan tali kulit dari pergelangan tangan dan pergelangan kaki Zhou Luoyang. qlU8 P

“Kami sudah menyiapkan pakaian untukmu.” Ruan Song menunjuk ke lemari di satu sisi ruangan. “Kamu bisa mengganti pakaianmu.”

Zhou Luoyang merasakan firasat, tetapi dia tidak mengajukan pertanyaan apa pun. Dia membuka lemari dan menemukan di dalamnya ada pakaiannya yang rusak. Paspor dan pistol lipstik yang diambilnya dari Sup telah disita.

Dia melihat lebih dekat. Di sebelah pakaiannya sendiri ada satu set pakaian etnis Kamboja.

“Setelah kamu selesai mengganti pakaianmu, ikutlah dengan kami,” kata Ruan Song. “Jangan berpikir untuk melarikan diri. Tempat ini penuh dengan penjaga. Jika kamu berhasil keluar, kamu akan sadar jika hanya ada di hutan di sekelilingmu, dan hutan itu dipenuhi dengan pagar listrik. Jika kamu lari, mereka akan menembakmu. Aku tidak bercanda. Satu-satunya kesempatanmu untuk bertahan hidup adalah melakukan apa yang diperintahkan.” bHQgKM

“Di mana Groot?” tanya Zhou Luoyang.

“Dia tidak dalam bahaya, setidaknya belum. Apakah dia nantinya akan berada dalam bahaya tergantung pada bagaimana kamu berperilaku.”

Prajurit itu mengajukan pertanyaan kepada Ruan Song. Dia tidak terdengar sangat senang. Ruan Song menjelaskan sesuatu kepadanya, setelah itu dia berhenti bertanya dan malah dengan kasar menegur Zhou Luoyang dalam bahasa Khmer. Zhou Luoyang tahu dia ingin dirinya bergegas.

Dia dibawa ke koridor. Dia melihat ke arah kamar rumah sakit tidak jauh. Dia curiga Du Jing ada di sana. Namun, meskipun mereka dipisahkan hanya dalam jarak beberapa meter, dia tidak berani bertindak gegabah. Dia mengerti bahwa mereka benar-benar akan ditembak—itu bukan ancaman kosong. qs5I8d

Jika mereka mati di sini, tidak akan ada penyelidikan. Kematian mereka akan diperlakukan hanya sebagai kasus orang hilang lagi.

Dia dibawa keluar dari rumah sakit dan masuk ke kendaraan off-road. Kendaraan melaju ke hutan yang tidak beraspal. Zhou Luoyang memperhatikan bahwa tentara di belakang kemudi tidak menggunakan navigasi apa pun dan hanya berkonsentrasi mengemudi lebih jauh ke pepohonan.

“Mereka memblokir semua komunikasi di sini, kecuali jaringan nirkabel mereka sendiri. Tidak ada yang akan datang menyelamatkanmu,” kata Ruan Song padanya.

Zhou Luoyang bergumam. “Terima kasih sudah diingatkan.” UZmxgz

Ruan Song menutup tirai dan menurunkan partisi antara kursi mereka dan kursi pengemudi. Kini pemandangan di luar sudah tidak lagi terlihat.

“Kenapa kau melakukan itu?” Zhou Luoyang bertanya.

Ruan Song tidak menjawabnya.

We’re sorry for MTLers or people who like using reading mode, but our translations keep getting stolen by aggregators so we’re going to bring back the copy protection. If you need to MTL please retype the gibberish parts.

Dalam keheningan yang tak berujung ini, Ruan Song akhirnya berkata, “Siapa kalian? Apa hubungannya ini denganmu? Bukankah hidup damai di Kota Wan cukup baik untukmu? Kenapa kau datang ke Kamboja dan mengejar kematianmu sendiri?” zg7Iv

Itbe Oebsjcu peuj alvjx wfcpjkjycsj.

“Cqj xje wfcsexjl Oe Itbcuse?” Eejc Vbcu yfgajcsj.

Please support our translators at langitbieru (dot) com

“Bje afgijie yjcsjx yfgqlxlg. Cxe rjwj rfxjil alvjx wfwlilxl qfgjrjjc jqjqec qjvjcsj. Cxe tjcsj alvjx lculc vlj wjal, pjvl jxe wfcmbyj wfcsfijwjaxjc tlveqcsj.”

Vjja vlj yfgylmjgj, Itbe Oebsjcu wfcujwjal Eejc Vbcu vfcujc rfxrjwj. “Bfcjqj?” XMl2JS

“Zfgfxj wfcjcuxjq lraglxe. Praglxe yfgeajcu ifylt vjgl vej peaj xfqjvj wfgfxj vjgl qfgpevljc.”

Sekarang Zhou Luoyang mengerti. Dia tidak tahu harus tertawa atau menangis. “Dua juta? Apakah ini layak?”

Mata Ruan Song tiba-tiba bersinar dengan kebencian. Dia menggeram, “Apakah ini layak? Apakah ini layak? Bisakah kau menyerahkan uang senilai dua juta? Jika kau bisa, apa kau mau memberikannya kepadaku? Apa kau tahu apa yang bisa dibeli dengan dua juta? Itu bisa membeli beberapa nyawa manusia!”

Wajah Ruan Song berubah. Zhou Luoyang menarik napas dalam-dalam, tetapi setelah ragu-ragu untuk beberapa saat, dia akhirnya menutup mulutnya. aEUCxe

“Kalau begitu, apa kau sudah mendapatkan cukup uang?” Dia bertanya.

“Jika Lu Zhongyu menang,” kata Ruan Song dengan dingin dan kejam, “Uangku akan cukup.”

“Memenangkan apa?”

Ruan Song tidak mengatakan apa-apa lagi. pFSvNg

Zhou Luoyang mencoba memperkirakan waktu. Hampir satu jam kemudian, mobil berhenti, dan dia dikawal keluar.

Dia berbalik, tetapi Ruan Song tidak keluar. Dia tetap duduk di dalam mobil, menatap dingin ke arahnya.

Ada manor aneh yang terletak di hutan hujan kuno yang lebat ini. Tepat ketika Zhou Luoyang hendak melihat sekeliling, gagang pistol menghantam bagian belakang kepalanya lagi, memperingatkannya agar tidak melihat sekeliling. Pintu itu tersembunyi di balik pagar jaring kawat spiral dan dikelilingi oleh kamera. Zhou Luoyang menduga bahwa ini adalah pintu belakang manor.

Dia melihat beberapa mobil penghalang sinyal. hO8Dls

Kendaraan off-road yang membawanya melaju pergi. Zhou Luoyang mengikuti jalan berlumpur ke lorong semen bawah tanah. Ketika dia masuk, dia curiga bahwa lorong itu pasti tempat persembunyian amunisi yang tak terhitung jumlahnya.

Tempat lorong bawah tanah itu sangat luas. Di bawah lampu yang tergantung di langit-langit, beberapa tentara sedang bermain poker mengelilingi meja yang sama. Zhou Luoyang mempelajari seragam yang mereka kenakan tetapi tidak dapat mengidentifikasi mereka sebagai seragam militer negara mana pun.

Mungkin mereka tentara bayaran?

Zhou Luoyang memasuki lift. Seorang tentara menggesek kartunya. Lift memiliki tombol untuk hanya dua lantai. Ketika mereka tiba di tempat tujuan, dia diserahkan kepada penjaga lain yang mengenakan setelan jas. Penjaga itu memberi isyarat dengan sopan dan mengantarnya menyusuri lorong panjang dan masuk ke lift lain. Lift ini membawa mereka langsung ke lantai lain di dalam manor. uW4Y3o

Manor itu sendiri didekorasi dengan gaya Eropa pada masa kolonial. Dua penjaga lainnya berdiri di depan pintu. Zhou Luoyang memandang mereka, pada penampilan mereka dan tanda-tanda halus dari pelatihan yang mereka jalani, dan tahu dari ajaran Du Jing bahwa keduanya tidak boleh dianggap enteng.

Mereka membukakan pintu untuknya dan membawanya ke ruang kerja yang didekorasi dengan cukup mewah. Itu adalah malam yang gelap dan hujan, namun lampu di dalam ruang kerja itu sangat terang. Seorang pria Asia Tenggara berusia sekitar empat puluh tahun duduk di meja, tengah membersihkan pistol.

Read more BL at langitbieru (dot) com

Dia melirik Zhou Luoyang dan tersenyum menakutkan.

“Halo. Bolehkah aku bertanya apa nama keluarga pemuda terhormat ini?” tanya pria Asia Tenggara itu dalam bahasa Mandarin. “Namaku Hong Hou. Kamu orang Tiongkok, jadi kamu boleh memanggilku Hou-ge.” iG 1Kj

“Tidak perlu formalitas semacam itu—namaku Zhou,” kata Zhou Luoyang dengan tenang.

Dia mengamati dekorasi di ruangan itu. Tempat itu sangat penuh dengan relik sehingga bisa dibuat menjadi museum pribadi. Kepala Buddha, potret Wisnu, patung Ganesha, kuil perunggu, permadani bersulam dewa kera Hanuman, pagoda Nepal, porselen Cina, patung Bizantium, lukisan abstrak modern… dan katana periode Meiji dipasang di kedua sisi rak buku.

Di tengahnya tergantung sebuah busur dan anak panah, yang diperkirakan berasal dari zaman Siam.

Hong Hou mengambil dua lembar kertas A4 dari lacinya. Foto Zhou Luoyang ada di salah satu lembar kertas itu, disertai dengan informasi dasarnya yang ditulis dalam bahasa Khmer. 3DYTcv

“Kau seorang pedagang barang antik?” Hong Hou tersenyum.

“Bolehkah aku melihat hartamu?” Zhou Luoyang bertanya.

“Boleh,” kata Hong Hou dengan ramah. “Orang Tiongkok adalah teman kami. Silakan lihat-lihat.”

Zhou Luoyang berjalan ke sebuah katana dan mengeluarkan satu inci dari sarungnya. j9uOfo

“Apa kau menyukainya?” tanya Hong Hou.

“Periode Meiji. Ditempa dari baja tamahagane, atau dikenal sebagai besi spons. Dari mana kau mendapatkannya?”

Hong Hou tersenyum. “Seorang pria Jepang yang kaya. Dia kalah dariku dalam taruhan.”

“Kasino adalah bisnis yang menguntungkan,” komentar Zhou Luoyang. ARPLp3

Hong Hou mengendurkan jarinya dan berkata dengan termenung, “Ya, bisnis yang menguntungkan. Tapi terima kasih kepada kalian orang-orang Tiongkok, itu tidak mudah lagi.”

Zhou Luoyang mengembalikan katana itu ke sarungnya dengan klik lembut. “Apa yang kau butuhkan untuk melepaskan kami?”

“Mari kita lihat bagaimana nasibmu dalam seleksi. Sejujurnya, kau tidak melakukan pekerjaanmu dengan baik. Tapi penampilanmu di detik-detik terakhir mengejutkanku.”

Dia menekan tombol di mejanya. Sebuah proyektor diturunkan di belakangnya. Lampu di ruang kerja dimatikan, dan proyektor mulai memutar rekaman pengalaman mereka saat memainkan escape room di Kota Wan, setengah bulan yang lalu. fC5Ad9

Terkadang lensa kamera diperkecil, terkadang diperbesar. Jarak kamera bervariasi dari satu area ke area lainnya. Rekaman itu hanya berlangsung beberapa saat, tetapi secara singkat merekam saat dia mengambil keputusan dan momen-momen penting. Akhirnya, kamera itu menampilkan saat Zhou Luoyang berdiri di altar, terpaksa memilih seseorang untuk ditembak. Kamera dengan resolusi tinggi itu terfokus tepat di wajahnya.

Zhou Luoyang: “…………”

Read more BL at langitbieru (dot) com

“Kau menarik perhatianku dalam seleksi. Tentu saja, begitu pula kekasih gay-mu. Atau mungkin partner seks adalah istilah yang lebih tepat?”

Zhou Luoyang tidak akan pernah berpikir bahwa selama ini Hong Hou telah mengawasi dia dan Du Jing di escape room! toCKTN

“Kau …” Suara Zhou Luoyang bergetar. Mereka telah sampai pada kesimpulan yang sama di masa lalu, tetapi dengan jawaban teka-teki yang sekarang dibuat jelas, dia masih sangat terkejut!

Hong Hou merentangkan tangannya, bibirnya membentuk senyuman aneh. “Tahun ini menandai musim keempat kami. Pada awalnya, aku khawatir kami tidak akan memiliki cukup pemain. Aku tidak mengharapkanmu untuk mengantarkan dirimu sendiri secara langsung ke depan pintuku. Omong-omong, izinkan aku untuk mengungkapkan rasa terima kasihku yang tulus.”

Dia mengamati Zhou Luoyang dengan seksama. “Denganmu dan pasanganmu, musim keempat akan memiliki total enam pemain. Dengan demikian, musim keempat dapat berjalan sesuai rencana. Mari kita buat kesepakatan. Bagaimana?”

Zhou Luoyang tahu dia pasti memiliki pistol di mejanya; dia hanya tidak tahu seberapa besar kemungkinannya jika dia berlari ke katana dan menghunuskannya sehingga dia bisa memotong tangan orang ini dan menyanderanya. 2MhNtc

Hong Hou tidak terlihat seperti orang yang tidak bisa membela diri. Zhou Luoyang menyerah pada gagasan itu.

“Kesepakatan apa?” dia bertanya dengan muram.

Hong Hou menekan tombol lain. Proyektor beralih ke video promosi dengan sulih suara bahasa Inggris dan teks bahasa Rusia, Jepang, dan Spanyol. Kamera memberikan pandangan mata burung dari grand Angkor Wat, disertai dengan narasi.

“Budaya mistik Kamboja, tanah tempat turunnya dewa yang tak terhitung jumlahnya, kuil kuno yang hilang selama ribuan tahun…” 4tH7WT

Itu adalah video promosi yang diputar di luar escape room di Kota Wan, Zhou Luoyang pernah melihatnya. Enam petualang memasuki Angkor Wat dan mulai menjelajah. Mereka dikelilingi oleh bahaya sampai saat mereka tiba di altar.

“Aku memberi tawaran agar kamu dan pasanganmu secara resmi berpartisipasi di musim keempat kami,” kata Hong Hou. “Aturannya sederhana. Hampir sama dengan yang ada di seleksi, kecuali satu perbedaan kecil.”

“Kecuali fakta bahwa kami akan berada dalam bahaya nyata dan berisiko mati di labirin setiap saat. Itu adalah perbedaan kecilnya,” gumam Zhou Luoyang.

“Memang.” Hong Hou bersandar di kursi kulitnya yang besar dan menopang kakinya di atas meja, memperlihatkan sepatu bot militer yang dipoles hingga bersinar. Ada pisau terselip di sisi salah satu sepatu bot. “Arena sebenarnya bukanlah sesuatu yang bisa dibandingkan dengan escape room sederhana. Apa kau sudah merasa bersemangat?” APeCMB

Tanpa menunggu untuk mendengar tanggapan Zhou Luoyang, dia melanjutkan, “Kau mungkin mendapatkan kesempatan untuk memutuskan siapa yang hidup atau mati pada akhirnya lagi, tetapi kau sebaiknya menghargai kesempatan itu, tidak seperti dalam seleksi.”

“Apa yang akan kita dapatkan jika kita berhasil keluar hidup-hidup?”

“Sepersepuluh dari semua taruhan yang dipertaruhkan,” kata Hong Hou. “Saat ini hampir dua koma tujuh juta USD, dan jumlah ini terus meningkat. Atau kau bisa memilih salah satu koleksiku dan membawanya.”

Zhou Luoyang tidak sebodoh itu. Dia tahu bahwa bahkan jika dia menang, orang-orang ini tidak akan pernah membiarkan dia pergi hidup-hidup—jika tidak, dia akan mengungkapkan siaran langsung permainan kematian mereka yang berlumuran darah, tempat persembunyian mereka, dan semua detail kejahatan mereka. bDohGv

Jauh lebih mungkin bahwa ketika permainan berakhir, dia akan dijual kepada siapa pun yang membayarnya di belakang layar. Dan dari belakang kamera, mereka akan memerintahkan sang juara dalam permainan untuk disiksa sampai mati.

“Dan jika aku menolak untuk berpartisipasi?” Zhou Luoyang bertanya.

Please visit langitbieru (dot) com

“Kau seharusnya tidak menanyakan pertanyaan itu,” kata Hong Hou sambil tersenyum.

Zhou Luoyang berpikir sejenak. “Aku harus meyakinkan temanku.” GO6coh

“Itu tidak perlu. Dia pasti akan bergabung, mengingat dia adalah seorang perwira polisi internasional.” Hong Hou dengan sungguh-sungguh berkata, “Ini adalah acara termegah tahun ini. Dilihat dari penampilanmu dalam seleksi sebelumnya, Kalian berdua adalah kuda hitam terbesar di musim keempat. Jangan mengecewakanku.”

“Baik. Tetapi dengan satu syarat,” kata Zhou Luoyang.

Hong Hou mengangguk padanya untuk membiarkannya melanjutkan.

Setelah beberapa saat termenung, Zhou Luoyang berkata, “Kembalikan semua barang-barang kami. Dengan begitu aku bersedia mengikuti kompetisi dengan rekanku.” PbmiH8

“Bagaimana itu bisa diizinkan? Kau memiliki pistol peredam. Aku tidak tahu dari mana kau mendapatkannya, tetapi itu mengganggu keseimbangan permainan.”

“Aturan asli permainan mendikte bahwa aku punya pistol.”

Hong Hou mempertimbangkan ini. Sementara itu, Zhou Luoyang melanjutkan, “Kau bisa menyimpan ponsel kami, meskipun aku curiga ponsel kami tidak akan berfungsi setelah kecelakaan pesawat itu. Apa kau khawatir kami akan menghubungi dunia luar? Kami memiliki arloji, pistol, dan brass knuckles. Kembalikan semuanya kepada kami.”

Hong Hou menyelipkan sebatang rokok dari meja. “Kalau begitu kita perlu merevisi aturan mainnya. Jika kau diizinkan untuk membawa barang-barangmu, yang lain secara alami juga harus diperbolehkan.” kRPH3C

“Cukup adil. Kau bahkan bisa melengkapi pesaing lain dengan peralatan tambahan, seperti rompi antipeluru. Aku pikir itu mungkin bisa membuat permainannya lebih menyenangkan.”

“Aku kira itu mungkin cara baru untuk memainkan permainan.”

Zhou Luoyang tahu, tentu saja, bahwa Hong Hou tidak khawatir mereka akan menghubungi dunia luar. Jika escape room diisolasi dengan tepat dari luar, mereka tidak akan mungkin mendapat sinyal dari dalamnya, bahkan jika mereka memiliki ponsel.

Mereka tidak bisa terang-terangan menampilkan acara pembunuhan di tengah Angkor Wat ini. Satu-satunya hal yang masuk akal adalah mereka akan menciptakan kembali ruang seperti Angkor Wat di suatu tempat di bawah tanah. rk8vHy

“Aku akan mendiskusikan ini dengan perancang kami,” Hong Hou mengizinkan. “Kau boleh istirahat sekarang. Dalam tiga hari, musim keempat akan dimulai. Sampai saat itu, kau harus mengumpulkan kekuatanmu. Kau tidak boleh terlalu gugup sehingga kau kurang tidur.”

“Aku ingin bertemu–”

“Kau tidak diperbolehkan bertemu satu sama lain sampai kompetisi dimulai,” kata Hong Hou. “Lewat sini.”

Zhou Luoyang tahu bahwa satu-satunya hasil yang mungkin dari penolakan Hong Hou adalah matanya ditutup, dibawa ke hutan kosong, dia ditembak, dan tubuhnya dibuang. rMcgNR

Dia tidak membuat permintaan lain. Dia berbalik dan berjalan pergi. Secara alami, ada pengawal yang menunggunya, yang membawanya ke kamar tamu.

Pada saat yang sama, Du Jing dibawa ke ruang kerja Hong Hou, kedua tangannya diikat di depannya.

Story translated by Langit Bieru.

“Silakan duduk.”

Hong Hou sadar, tentu saja, bahwa Du Jing tidak bisa disamakan dengan Zhou Luoyang dalam hal kekuatan. uTDnym

“Sepertinya kamu terluka cukup parah,” kata Hong Hou. “Lenganmu patah, dan kau mengalami sedikit pendarahan internal. Jaringan lunakmu memar. Jika kau beristirahat dengan benar selama tiga hari ke depan, kau pasti akan kembali dalam kondisi yang cukup baik untuk bergabung dengan kompetisi.”

Tangan kiri Du Jing diperban dan dibidai. Wajahnya ditutupi kain kasa dan perban.

“Tempat yang bagus,” katanya. “Kau tahu bagaimana caranya menikmati hidup.”

“Ah, pintar,” kata Hong Hou. “Aku paling suka berbisnis dengan orang-orang pintar, terutama orang-orang Tiongkok yang pintar.” slnhD2

Dia membuka laci dan mengeluarkan dua kantong plastik bening. Salah satu kantong berisi arloji Du Jing, drive USB, dan brass knuckles-nya.

Yang lainnya berisi paspor dan surat pengantar Du Jing dan Zhou Luoyang.

Hong Hou dengan santai membolak-balik paspor Du Jing, surat pengantar, dan surat-surat lainnya.

“Terima kasih,” katanya lembut, “akhirnya kami menangkap Huang Ting yang legendaris. Aku telah mengagumi seniormu itu, maestro pemain itu, untuk waktu yang lama. Sayang sekali kami tidak ditakdirkan untuk berpapasan.” Iu7him

Hong Hou selesai membaca file Du Jing. Dia membuka kantong plastik bening lainnya, jari-jarinya memegang di sekitar tali arloji Mata Forseti. Dia membalikkannya berulang-ulang di tangannya, mengamatinya.

“Indah,” dia menarik napas. “Arloji yang sangat langka. Tapi aku pernah melihat yang identik sebelumnya.”

“Itu diberikan kepadaku sebagai tanda cinta,” kata Du Jing. “Aku harap kau tidak melakukan sesuatu yang kau sesali.”

“Oh? Apakah kekasih gaymu memberikan ini padamu?” QbhyG

Tanpa ragu, Hong Hou melemparkan arloji itu ke arahnya. Wajah arloji yang bersinar bergerak mengikuti bentuk busur di udara. Du Jing mengangkat tangan dan menangkapnya dengan kuat.

Dia menyelipkan arloji itu kembali di pergelangan tangannya.

“Demi cinta,” kata Hong Hou, “seseorang dapat menyadari potensi yang belum pernah terjadi sebelumnya.”

“Tepat sekali.” Tanpa melihat Hong Hou, Du Jing memutar cincin tanggal terluar jam tangan itu. Kemudian dia melihat ke atas dengan sopan. “Sekarang mari kita bahas masalah di antara kita. Apa yang kau inginkan?” 5KHGvR

Hong Hou menyelipkan brass knuckle Du Jing dan mencobanya, mengepalkan jarinya beberapa kali. Lalu dia melemparkannya kembali ke Du Jing.

“Jangan menggunakannya di tempatku,” Hong Hou memperingatkan. Dia mengeluarkan kantong plastik ketiga. Yang ini berisi pistol lipstik Sup. Dia mengarahkannya ke dirinya sendiri, dan Du Jing dengan ramah mengingatkan, “Hati-hati jangan sampai meledakkannya secara tidak sengaja.”

Story translated by Langit Bieru.

“Oh,” kata Hong Hou dengan sungguh-sungguh. Dia tidak melemparkan pistol lipstik itu pada Du Jing. Tapi Du Jing sudah mendapatkan kembali miliknya yang paling penting: Mata Forseti. Segala sesuatu yang lain, dia akan menunggu dengan sabar.

Ada jeruji besi yang dipasang di atas jendela kamar tamu. Ruangan itu seluruhnya terbuat dari bahan anti-mudah terbakar. Pintu dikunci dari luar. Ada kamera yang dipasang di keempat sudut langit-langit, bahkan di kamar mandi. Tapi selain itu, ruangan itu tidak bisa dibedakan dari suite hotel mewah. T5AO z

Lemari di dalam ruangan berisi beberapa set pakaian, salah satunya tampak aneh. Zhou Luoyang ingat di mana dia pernah melihatnya—itu adalah kostum salah satu karakter dari escape room. Sepertinya mereka ingin dia memainkan karakter ini.

Zhou Luoyang mengambil jam digital di kepala tempat tidur. Saat itu pukul 19:50.

Mereka telah meminta agar Du Jing berpartisipasi dalam kompetisi bersamanya. Ini berarti keselamatan Du Jing setidaknya terjamin selama tiga hari ke depan.

Seluruh tubuh Zhou Luoyang masih sakit. Dia berbaring di tempat tidur dan bernapas lagi dan lagi. Tak lama kemudian, seorang petugas membawakan makan malam hidangan lokal Kamboja, serta menu, yang berarti dia bebas meminta hidangan apa pun yang dia suka. ZyAmns

Zhou Luoyang memeriksa beberapa item menu. Setelah buru-buru menyelesaikan makan malamnya, dia membalik-balik majalah perjalanan di kamar. Yang mana paling banyak membahas mengenai atraksi Phnom Penh. Dia melirik kamera di empat sudut ruangan, mengetahui bahwa dia sekarang diawasi dengan ketat 24 jam sehari.

Ini adalah permainan melarikan diri dari arti yang berbeda. Zhou Luoyang berpikir dalam hati, aku harus mencari cara untuk mendapatkan kembali Mata Forseti.

11:59:58.

11:59:59. WY KlT

Begitu setiap digit tiba di nol, Zhou Luoyang tiba-tiba menemukan dirinya kembali ke dalam helikopter!

Dia bisa mendengar suara tenang Du Jing tepat di telinganya. “Huang Ting, keluar dari sana. Kita dijebak.”

Kemudian terdengar suara rudal yang diluncurkan. Zhou Luoyang dengan cepat membungkuk, dan dia bersama dengan Du Jing saling berpelukan erat.

Rudal itu menghantam kokpit helikopter, disertai dengan ledakan yang memekakkan telinga. Dunia di sekelilingnya berputar. Pusing, Zhou Luoyang dengan cepat menangkupkan tangannya di belakang kepala Du Jing. dS0mrb

“Pemilihan waktu yang mengerikan,” kata Du Jing.

“Aku membuat mereka menyimpan semua barang-barang kita!” Zhou Luoyang berteriak saat mereka jatuh.

“Kamu melakukan pekerjaan yang hebat. Mereka mengembalikannya kepadaku. Memulai pendaratan paksa.” Sangat mengesankan bahwa Du Jing masih memiliki keinginan untuk bercanda di saat seperti ini. “Tiga, dua, satu. Kerusakan parasut. Semoga berhasil.”

Du Jing menahan dahi Zhou Luoyang di dadanya dan memeluknya dengan lembut. Ketika dia melihat ke atas, matanya memantulkan sungai bercahaya bintang yang terlukis di langit bahkan ketika helikopter itu meledak berkeping-keping. HX2K B

Dengan tabrakan hebat, tubuh mereka mendarat di tanah. Helikopter itu hancur menjadi berkeping-keping, dan mereka terlempar keluar.


Jeff: Kita bakal main escape room lagi sepertinya.

Please visit langitbieru (dot) com

Translator's Note

Pakaian lokal camo tentara=pakaian tentara yang biasanya bercorak hijau cokelat hitam yang cocok untuk kamuflase.

Translator's Note

Escape room, ruang pelarian. Sebuah permainan yang mengharuskanmu keluar dari sebuah ruangan dengan memecahkan teka-teki.

Leave a Comment

For an easier time commenting, login/register to our site!

6 comments

  1. Berarti waktu Huang Ting ikut di escape room mereka juga udah tau ya . Bangga bgt dia bisa nangkep Huang Ting .
    Kita sama louyang pas di seizing dream aja aku sempet curiga sama huang ting ☺️
    Untung jam nya dibalikin jadi bisa balik lagi..