Penerjemah: Jeffery Liu
MASA DEPAN
Ruan Song dipukuli oleh Du Jing hingga wajahnya penuh darah, lalu merangkak dengan kondisi mengenaskan ke sudut ruangan. Zhou Luoyang sama sekali tidak merasa kasihan padanya. Bagaimanapun, kalau bukan karena dia, Lu Zhongyu tidak akan terjebak dalam situasi berbahaya ini. Ruan Song bisa dibilang adalah kaki tangan pembunuh. Sekalipun dia punya banyak alasan yang tidak bisa dihindari, tetap saja dia pantas dihukum.
Namun, Zhou Luoyang tak pernah menyangka Ruan Song akan mendaftar untuk ikut permainan ini hanya demi uang.
“Serahkan peta milikmu.” Du Jing berkata dengan nada datar.
“Jangan begitu padanya!” kata Xiao Wu.
“Kamu tidak tahu apa yang sudah dia lakukan.” ucap Zhou Luoyang melihat seseorang memprotes Du Jing, tampak jelas bahwa Kun dan Xiao Wu tidak tahan melihat perbuatan sewenang-wenang. Hanya saja Kun lebih berhati-hati daripada Xiao Wu, dan sudah menduga bahwa ada dendam di antara mereka. Bagaimanapun, keempat orang itu—Du Jing, Zhou Luoyang, Lu Zhongyu, dan Ruan Song—di babak pertama sudah menunjukkan seolah-olah mereka saling mengenal.
Zhou Luoyang menatap Lu Zhongyu, mengangkat alis sebagai isyarat bahwa sekarang giliran dia untuk bicara.
Lu Zhongyu tersenyum letih, lalu menjelaskan kepada Kun dan Xiao Wu, “Dia membohongiku dan membawaku ke Ho Chi Minh, lalu membawaku naik ke mobil hitam milik kelompok mereka.”
Kini keduanya paham. Kun dan Xiao Wu, yang juga dibawa paksa ke Vietnam, merasa bahwa itu sama saja dengan perdagangan manusia. Seketika mereka maju dan berdiri di hadapan Ruan Song.
“Kamu orangnya?”
“Masih ada siapa lagi!”
“Jangan memukul! Dengar dulu!!” Kini, justru Zhou Luoyang yang melindungi Ruan Song. Dia tahu Du Jing memukul Ruan Song dengan perhitungan, hanya berniat untuk menundukkannya agar patuh. Namun, Kun dan Xiao Wu, yang juga telah menjadi korban perdagangan manusia, jika benar-benar melampiaskan amarahnya, mungkin akan memukul Ruan Song sampai mati.
“Mundur.” Du Jing berdiri di depan Ruan Song, berkata dengan serius.
Amarah Kun dan Xiao Wu sulit dikendalikan. Tubuh Xiao Wu gemetar, sementara mata Kun memerah dan penuh air mata yang menyiratkan rasa penghinaan.
“Keluarkan petanya,” kata Du Jing, “lalu kita pelajari bersama. Ayo, kalau mau bertahan hidup, sekarang semuanya tergantung padamu.”
Ruan Song tak lagi melakukan perlawanan sia-sia. Dia mengeluarkan peta besar yang dilapisi cipratan darah dari hidungnya. Du Jing membentangkan peta itu di atas meja, lalu melihat jam tangannya: tersisa empat puluh lima menit.
“Saatnya mempelajari peta ini,” kata Du Jing tanpa antusias. “Setelah keluar dari ruang aman ini, ingat baik-baik peta ini di kepala kalian. Setelahnya peta ini dikembalikan padanya, agar pengawas tidak tahu apa yang kita lakukan.”
Mereka semua menoleh ke arah alat komunikasi yang sedang diisi daya. Zhou Luoyang berpikir bahwa pengawas mungkin tidak tahu, tapi Hong Hou pasti tahu, karena dia pasti sedang mengawasi dan mendengarkan, hanya saja dia diam.
Rencana Du Jing selalu penuh dengan langkah-langkah yang berurutan. Walau tidak tahu apa gunanya menipu pengawas, Zhou Luoyang tetap percaya padanya.
“Apa maksudnya ini?” tanya Xiao Wu, “Aku tidak mengerti.”
Peta itu lebih rumit dari yang mereka bayangkan. Berdasarkan skala, babak pertama penjara dan babak kedua Hanuman hanya menempati kurang dari 3% dari keseluruhan peta. Area yang digambarkan dengan garis biru dan merah hanya mencakup sekitar 10% dari keseluruhan peta, sementara sisanya diisi oleh garis abu-abu, yang menandakan “area belum terbuka.”
Kun berpikir sejenak, lalu berkata, “Seperti labirin yang belum selesai dibangun, mungkin ini semacam proyek hiburan milik mereka sendiri.”
“Itu garis apa?” tanya Xiao Wu sambil menunjuk.
“Itu ventilasi,” jawab Du Jing dan Kun bersamaan. Mereka saling menatap, sedikit terkejut.
Du Jing bertanya, “Pekerjaanmu apa?”
“Arsitek,” jawab Kun. “Kamu?”
“Pemilik toko,” jawab Du Jing singkat.
Du Jing dan Kun sama-sama bisa membaca peta. Peta itu menandai tiga area terakhir, dengan setiap area terhubung oleh garis hitam tebal dan beberapa simbol aneh.
“Aku seorang pembawa acara siaran langsung, tidak punya keterampilan khusus, aku hanya bisa mengikuti kalian,” kata Xiao Wu.
Kun menepuk bahu Xiao Wu dengan bijaksana dan berkata, “Kita tidak tahu, mungkin nanti kamu juga punya peran penting. Di tahap selanjutnya, justru kita mungkin bergantung padamu.”
Lu Zhongyu berkata, “Apa maksud tanda di bagian ini? Sepertinya cukup besar.”
Simbol di babak ketiga membingungkan mereka semua. Du Jing menoleh ke belakang, “Luoyang?”
Zhou Luoyang yang berlutut di belakang tirai, mengelus kening De’an dengan mata yang berkaca-kaca.
“Dia akan meninggal.” kata Zhou Luoyang.
Mereka semua meninggalkan meja dan mendekati De’an. Du Jing memeriksa pupil De’an yang sudah sepenuhnya melebar, lalu melihat jam tangannya.
“Ayo cepat,” katanya.
Zhou Luoyang melepaskan tangan De’an, membiarkannya berbaring agar lebih nyaman. De’an sudah mendekati ajalnya, dan ini bukan pertama kalinya Zhou Luoyang menyaksikan seseorang sekarat. Dia tidak tahu berapa lama lagi De’an akan benar-benar meninggal, dan apakah dia bisa bertahan sampai tengah malam.
“Aku rasa Pendeta itu salah,” tiba-tiba Lu Zhongyu berkata, “Permainan ini membutuhkan kerja sama. Jika dari dalam penjara kita sudah mulai meninggalkan rekan-rekan kita, peluang bertahan hidup kita malah akan semakin rendah. Coba pikir, di babak kedua dengan monyet Hanuman, tanpa botol milik Kun, bagaimana kita bisa membawa minyak tanahnya?”
“Tidak,” jawab Du Jing datar, “Pendeta itu benar. Ingat kembali situasi di sel, Kun yang pertama mendapat kunci, lalu membebaskan yang lain. Sebagai balasan, siapa pun yang bebas pertama kali pasti akan menyelamatkan Kun. Begitu Kun tiba di babak kedua, dia akan bisa bebas dari sini.”
Du Jing mengangkat bahu. “Mungkin ada kunci cadangan? Mana mungkin di babak pertama lima orang langsung tereliminasi, itu pasti akan mendapat kritik buruk. Siap berangkat, Luoyang?”
Lu Zhongyu menyelipkan peta ke pelukan Ruan Song, sementara yang lain mengambil roti masing-masing, dan memakai alat komunikasi mereka.
“Bagus sekali, kalian cukup sadar diri, aku merasa puas,” kata Hong Hou.
Zhou Luoyang menjawab, “Karena di sini tidak ada air, kami semua sangat haus.”
Hong Hou menjawab, “Sebentar lagi akan ada air. Ayo, berangkat. Semoga kalian beruntung. Aku yang akan mengurus dan berusaha menyelamatkan dia, atau kalau kalian mau, kalian boleh kembali.”
Tak ada yang menjawab, setuju dengan keputusan meninggalkan De’an di sini. Mereka sadar membawanya hanya berarti kematian. Siapa tahu, mungkin Hong Hou benar-benar akan menyelamatkannya.
Zhou Luoyang mengelus kening De’an dan berkata, “Aku akan pergi, sampai jumpa.”
Kun menambahkan, “Harusnya bilang, selamat tinggal.”
De’an dan yang lainnya hanya berkenalan dalam beberapa jam singkat. Kecuali Zhou Luoyang, mereka tidak tahu siapa De’an, dari mana asalnya, atau apa yang telah dia lakukan.
Sebelum memasang alat komunikasinya, Zhou Luoyang mendengar Lu Zhongyu bertanya dari belakang, “Kenapa kamu mengikuti permainan ini?”
Zhou Luoyang hendak menoleh, tetapi mendapati pertanyaan itu bukan ditujukan padanya.
Ruan Song menjawab, “Demi uang. Sepanjang jalan aku sudah memperingatkanmu beberapa kali, kamu terlalu mudah percaya pada orang lain.”
We’re sorry for MTLers or people who like using reading mode, but our translations keep getting stolen by aggregators so we’re going to bring back the copy protection. If you need to MTL please retype the gibberish parts.
Oe Itbcuse wfcpjkjy, “Cxe revjt ylijcu, jxe ylrj wfwyjcaewe. Zjrjijtcsj, xjwe sjcu afgijie reila qfgmjsj qjvj bgjcu ijlc.”
Eejc Vbcu wfcsewyja tlvecucsj sjcu yfgvjgjt vfcujc alre, ijie yfgxjaj, “Cxe tjger wfcjoxjtl lragl vjc jcjxxe, xjwe alvjx jxjc wfcufgal.”
Oe Itbcuse afgajkj xfmli, “Qjt, revjt qecsj lragl, geqjcsj qglj ieger.”
Ge Alcu wfwyexj qlcae, wfcueiegxjc ajcujc qjvj Itbe Oebsjcu, vjc wfgfxj wfijcuxjt yfgrjwj xf vjijw xftjwqjjc vjc xfufijqjc ajcqj yjajr vl iejg gejcu jwjc.
Menyusuri lorong yang satu lagi, mereka tiba di ruangan baru yang remang-remang, penuh dengan pilar-pilar unik. Di puncak tiap pilar terdapat tiga lampu minyak kecil yang hampir padam.
Tak lama, terdengar suara air.
Tentu saja, rasa haus sudah sangat menyiksa mereka. Sejak pukul sepuluh pagi hingga sekarang, belum ada setetes air pun yang mereka minum, dan jelas semuanya merasakan hal yang sama.
“Ada air!” seru Xiao Wu sambil mempercepat langkahnya.
“Jangan gegabah,” ujar Lu Zhongyu.
“Semuanya jangan bergerak!” ujar Du Jing.
Langkah mereka terhenti, menghadapi sebuah balok melintang dengan jurang yang dalam dan gelap di bawahnya. Balok-balok ini saling terhubung di atas sebuah lubang besar, membentuk jembatan yang rumit, dan suara air berasal dari kedua sisi lubang itu. Baloknya hanya cukup untuk dilalui satu orang, tanpa pagar pengaman—sedikit saja lengah, bisa terjatuh.
“Cahaya,” suara Xiao Wu terdengar di belakang.
Lampu cahaya aktif dengan perintah suara, menerangi kegelapan tanpa dasar di bawah mereka.
“Kita harus melintasinya,” kata Du Jing, “dan menemukan sumber air.”
Di telinganya, suara pengawas kembali terdengar, “Ayo, Tha, kuharap kamu sudah beristirahat dengan cukup.”
Zhou Luoyang tidak menjawab. Mereka berdiri diam di atas balok itu, mendengarkan instruksi dari pengawas melalui alat komunikasi. Mungkin para pengawas itu baru saja menikmati teh sore atau sarapan, dan kini siap mengawasi mereka lagi.
“Aku butuh kamu mencari cara mendorong salah satu dari mereka jatuh ke bawah,” kata pengawasnya.
Dalam cahaya remang-remang, Zhou Luoyang tiba-tiba berbicara, “Instruksi di alat komunikasi memintaku mendorong kalian jatuh.”
“Apa kamu gila!” Lu Zhongyu memperingatkannya, “Jangan ucapkan apa pun lagi!”
“Tidak masalah,” Zhou Luoyang menjawab, “dia tak bisa menyetrumku, karena kalau aku jatuh, permainannya gagal.”
Zhou Luoyang yakin pengawas tidak akan menghukum mereka di atas balok sempit ini.
“Jangan beritahu instruksinya,” Du Jing meraih pergelangan tangan Zhou Luoyang, mengancam dengan tenang, “kalau tidak, di luar sini pun dia tetap bisa menghukummu.”
Zhou Luoyang tidak menjawab, hanya menatap Du Jing. Du Jing berkata, “Sekarang, kita berbaris satu-satu dan lanjutkan perjalanan. Cari air.”
Di ujung balok yang rumit itu, ada dua baskom air.
“Ke yang kiri,” kata pengawas dari alat komunikasi, “pisahkan dirimu dari pengawalmu. Ikuti instruksiku, Tha, ini mungkin bisa menjamin keselamatan kalian berdua.”
“Kita harus berpencar,” Zhou Luoyang berkata pada Du Jing.
Du Jing berpikir sejenak, memandang Lu Zhongyu. Lu Zhongyu berkata, “Serahkan padaku.”
“Kamu ikut denganku,” kata Du Jing kepada Ruan Song, masih tidak percaya padanya.
Dengan begitu, enam orang itu pun melangkah hati-hati menyusuri balok, menuju kedua baskom di sisi berlawanan. Du Jing membawa Kun dan Ruan Song ke ujung barat, sementara Lu Zhongyu bersama Xiao Wu dan Zhou Luoyang ke arah timur.
Proses itu membutuhkan kehati-hatian luar biasa—sedikit saja salah langkah, mereka bisa jatuh ke jurang yang dalam di bawah.
“Cahayanya hampir padam,” Zhou Luoyang memperingatkan.
“Kita masih sempat,” kata Du Jing, “urusan kembali pikirkan nanti.”
Akhirnya, kedua tim tiba di baskom masing-masing, sementara lampu penerang ruangan semakin redup. Xiao Wu berkata, “Aku mau minum, haus sekali.”
“Tunggu dulu,” ujar Lu Zhongyu, “apakah air ini aman?”
Tak ada yang menjawab. Di alat komunikasinya, Zhou Luoyang mendengar instruksi baru dari pengawasnya: “Jangan langsung minum. Amati tindakan mereka, airnya mungkin beracun.”
“Kalian di sana bagaimana?” Zhou Luoyang memanggil ke arah Du Jing.
Enam orang itu terbagi menjadi dua tim, berkumpul di depan baskom air masing-masing di sisi timur dan barat.
Kun berkata, “Tunggu, biar aku periksa.”
Kun mengambil botol minyak yang ia bawa, mengisinya sedikit dengan air dari baskom, mencucinya, lalu menumpahkannya ke jurang gelap, namun tak terdengar suara apa pun.
Ia kemudian menghirup sedikit dari botolnya.
“Bagaimana?” tanya Lu Zhongyu.
“Ada bau minyak,” jawab Kun.
Zhou Luoyang tahu ini bukan saatnya, namun ia tak bisa menahan tawa kecil.
“Kukira paling tidak satu dari kedua baskom ini airnya aman,” kata Xiao Wu.
“Mungkin dua-duanya tidak beracun,” ujar Lu Zhongyu.
“Kalau dua-duanya aman,” kata Xiao Wu lagi, “permainannya tidak perlu dirancang seperti ini.”
Zhou Luoyang setuju dalam hati dengan analisis Xiao Wu. Dalam situasi ini, tak ada cara untuk memastikan keamanannya tanpa mencicipi airnya.
Bahkan pengawas mereka mungkin juga tidak tahu cara terbaik menyelesaikan masalah ini.
“Apa yang dia katakan?” Zhou Luoyang menoleh pada Lu Zhongyu dan Xiao Wu.
“Menyuruhmu minum duluan,” jawab Xiao Wu.
Lu Zhongyu berkata, “Aku tidak mau melakukannya.”
Ruangan itu hening. Masing-masing dari mereka memandangi air di baskom, tak mampu mengambil keputusan. Tapi Zhou Luoyang tahu, Du Jing pasti punya cara mengatasi situasi ini jika mereka menunggu cukup lama.
“Sudahlah,” Xiao Wu berkata, “aku haus sekali. Biar aku coba, toh masih ada kemungkinan lima puluh persen untuk selamat.”
Suaranya pelan, tapi tim yang lain mendengarnya.
Kun berkata, “Kalau airnya beracun, minum dalam jumlah sedikit mungkin cukup untuk mendeteksi tanpa menimbulkan cedera parah.”
“Tidak mungkin kamu bisa tahu tanpa risiko,” kata Du Jing, “buang jauh-jauh pikiran itu. Ayo, kita undi saja. Kamu minum duluan, Ruan Song.”
Zhou Luoyang sudah menduga Du Jing akan menyarankan ini.
Ruan Song tetap diam. Du Jing kembali berbicara pada mereka semua, “Atau kita undi? Siapa yang mau coba minum dulu. Ruan Song, kamu bisa pilih baskom mana pun.”
Ruan Song berkata, “Aku sudah tahu akan begini.”
“Jangan lakukan ini,” Zhou Luoyang berkata cemas.
“Undi saja, siapa yang terpilih, dia yang minum, itu adil,” kata Xiao Wu.
Astaga, Zhou Luoyang berucap dalam hati.
Du Jing berkata sopan, “Kalau begitu, aku memilih Ruan Song.”
Zhou Luoyang menyadari ada sisi licik dalam diri Du Jing, tapi di situasi ini, ia juga tak punya solusi lain. Dalam kondisi tanpa sinar matahari dan terjebak dalam kegelapan seperti ini, semua orang berpikiran sama—Ruan Song adalah kaki tangan pembunuh, jadi dia pantas mati, dan risiko lima puluh persen kematian harusnya ditanggung olehnya.
“Kalian atas dasar apa menghakimi aku?” Ruan Song berkata tenang dalam kegelapan.
“Atas dasar kami lebih banyak,” kata Du Jing dengan sopan.
“Biar aku saja,” kata Zhou Luoyang. Ia menduga air ini mungkin tak langsung membunuh; jika ada racun, seharusnya ada efek perlahan, seperti De’an yang melewati fase sekarat secara lambat, memberi pengawas mereka kesempatan menyaksikan drama itu. Mati seketika tak akan menghasilkan efek yang diinginkan.
Selama hanya sedikit yang ia minum, ia bisa bertahan hingga tengah malam, dan begitu waktu berbalik, masalah ini selesai.
“Jangan lakukan!” Du Jing memperingatkan dengan tegas.
Zhou Luoyang mengambil sedikit air dengan satu tangan, mendekatkannya ke hidung untuk menghirupnya—tidak berwarna dan tidak berbau.
“Menurutku, Dean tadi belum sepenuhnya mati. Apa kita bisa kembali untuk menemukannya?” tanya Ruan Song. “Sebaiknya dia yang minum air ini.”
“Karena ucapan itu, aku akan memilihmu,” kata Kun.
“Aku juga memilihnya. Sekarang sudah tiga suara,” ucap Xiao Wu.
Ruan Song tetap diam, tapi Lu Zhongyu berkata, “Sudahlah, aku yang akan minum menggantikannya.”
“Kamu gila?” tanya Xiao Wu.
Lu Zhongyu menjawab, “Aku tidak tega.”
Zhou Luoyang menatap Lu Zhongyu, yang hanya tersenyum balik dan berkata, “Mungkin aku tidak akan langsung mati. Ini seperti memilih secara acak. Setiap kali aku berada dalam situasi seperti ini, keberuntunganku selalu baik.”
Sambil berbicara, Lu Zhongyu membuat tanda salib untuk berdoa dan mendekati wadah air. Namun, suara Du Jing terdengar dari balik kegelapan, “Tunggu. Biarkan si Pendeta yang minum dulu. Jangan bergerak.”
Terdengar suara air, dan Ruan Song, menggunakan botol kaca Kun, meminum tiga teguk dari air di dalam baskom, lalu terbatuk keras.
“Perhatikan keadaannya,” instruksi pengawas terdengar di alat komunikasi Zhou Luoyang.
Keheningan yang terasa panjang kembali menyelimuti. Zhou Luoyang tak bisa melihat ke arah sana dan hanya bisa menebak melalui suara.
“Perutku agak sakit,” suara lemah Ruan Song terdengar dari sisi lain.
“Itu hanya karena gugup,” kata Du Jing dengan nada datar.
Tepat pada saat itu, lampu minyak di puncak tiang-tiang padam karena kehabisan minyak.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Lu Zhongyu keras-keras.
“Belum bisa dipastikan!” seru Kun.
Xiao Wu menyalakan senter, menyinari arah lain, memperlihatkan Ruan Song yang berjongkok di atas balok, terengah-engah, dengan wajah pucat. Semua terdiam, tak ada yang tahu apakah air itu beracun atau tidak.
Du Jing membuka kelopak mata Ruan Song dan membuka mulutnya, mendapati mata Ruan Song terlihat kosong.
“Ruan Song mungkin pura-pura terkena racun, mencoba menipumu agar minum air di baskom lain,” suara pengawas terdengar lagi di telinga Zhou Luoyang, “Jangan percaya padanya.”
Zhou Luoyang memandang baskom di sebelah kirinya, berpikir sejenak. Du Jing berbisik dari kegelapan, “Sepertinya dia tidak berpura-pura.”
Empat puluh menit berlalu dalam kesunyian. Akhirnya, terdengar suara napas berat. Xiao Wu bertanya, “Bagaimana keadaannya?”
“Sepertinya dia sudah meninggal,” jawab Kun, suaranya bergetar.
Lu Zhongyu berkata, “Kita semua harus bekerja sama untuk mengakhiri hidupnya.”
“Benar,” Zhou Luoyang mendesah.
“Kalian bisa minum air di baskom lain,” kata Du Jing.
Xiao Wu, Lu Zhongyu, dan Zhou Luoyang tetap berdiri di tempat masing-masing, tak satu pun dari mereka yang meminum air. Akhirnya, Kun berkata, “Setelah cukup minum, nyalakan senter untuk menerangi jalan kami.”
Du Jing berkata, “Isi botol kalian dengan lebih banyak air. Kita mungkin membutuhkannya nanti.”
“Itu memang rencanaku,” sahut Kun.
Xiao Wu menjadi yang pertama meminum air, disusul oleh Lu Zhongyu, lalu Zhou Luoyang, dan lalu Xiao Wu lagi. Zhou Luoyang berkata, “Berikan senternya padaku. Aku akan menerangi jalan mereka.”
“Tidak apa-apa,” jawab Kun. “Aku akan maju perlahan.”
Mereka bergerak hati-hati dalam kegelapan tanpa cahaya, melangkah sangat perlahan agar bisa melalui jalur tersebut dengan aman.
“Pelan-pelan,” Lu Zhongyu memperingatkan Xiao Wu.
“Aku akan datang menjemput kalian,” ujar Zhou Luoyang, mengambil senter dan berhati-hati berjalan ke arah mereka. Saat tiba di tengah, Kun menyerahkan botol kaca kepadanya, “Isi kembali dengan air, sampai penuh.”
Namun, begitu Zhou Luoyang menerima botol itu, tiba-tiba balok raksasa mulai miring ke arah timur!
“Apa itu tadi?” Zhou Luoyang bertanya.
Du Jing yang pertama bereaksi, “Kembali ke sini! Kun, kembali ke sisi barat!”
Lu Zhongyu segera berseru, “Ini semacam jungkat-jungkit! Hati-hati agar tidak terjatuh!”
Proses pengambilan air sepertinya telah mengaktifkan mekanisme, dan begitu ketinggian air di baskom berkurang, balok mulai miring ke arah sisi dengan lebih banyak orang. Tubuh Ruan Song langsung meluncur ke bawah.
“Cepat kembali!” teriak Xiao Wu.
“Tidak bisa!” Kun berteriak, “Beratnya tidak seimbang! Jungkat-jungkit ini terlalu sensitif!”
“Lari ke tengah!” Lu Zhongyu berkata, “Terangi jalannya! Kita jangan bergerak!”
Balok raksasa itu miring hampir tiga puluh derajat ke arah Lu Zhongyu dan Zhou Luoyang, sementara Kun dan Du Jing kembali ke dekat baskom. Xiao Wu berlari menuju pusat balok, sementara Zhou Luoyang dan Lu Zhongyu mundur ke sisi lainnya. Zhou Luoyang menyorotkan senter ke jalan, menahan napas untuk Xiao Wu, karena satu langkah salah bisa membuatnya jatuh ke dalam jurang.
Xiao Wu mencapai pusat balok, dan pada saat yang sama, terdengar bunyi lembut tubuh Ruan Song yang jatuh ke dasar jurang.
“Ada masalah,” ujar Kun, “Petanya masih ada pada si Pendeta.”
Du Jing menjawab, “Selama sudah diingat, peta itu tak lagi penting. Sebaliknya, tubuhnya penting sebagai pemberat di tahap ini.”
Dalam kegelapan, Lu Zhongyu menerima perintah dari pengawas, lalu mengambil senter dan menyinari sisi utara labirin balok. Tampaknya ada sebuah pintu terkunci di sana.
“Kamu lihat itu?” Lu Zhongyu bertanya pada Xiao Wu. “Profesor, ke sana.”
Di bawah tatapan semua orang dalam kegelapan, Xiao Wu berjalan ke ujung balok. Cahaya senter hanya menerangi bagian kecil di depannya, seperti sorotan lampu panggung.
“Ada baut,” kata Xiao Wu. “Jangan goyangkan senternya, aku tidak bisa melihatnya dengan jelas.”
Lu Zhongyu menjaga cahayanya tetap stabil. Xiao Wu berkata, “Sepertinya ada palang di seberang. Kita harus memasukkan tangan dan membukanya dari dalam.”
“Hati-hati, mungkin ada ular lagi,” Kun memperingatkan.
Wajah Xiao Wu terlihat bimbang, akhirnya dia pasrah dan berkata, “Baiklah, kalau memang harus mati, ya mati saja.”
Untungnya, kali ini tidak ada ular. Mungkin mekanisme yang sama tidak akan muncul dua kali.
“Bisa dibuka,” Xiao Wu melaporkan. “Di dalam ada jalur sempit, tapi kita harus melepas panelnya. Bautnya tidak bisa digerakkan.”
Lu Zhongyu menyerahkan senter kepada Zhou Luoyang dan berkata, “Aku punya alat. Aku akan ke sana.”
“Hati-hati dengan jungkat-jungkitnya,” Du Jing mengingatkan, “sebaiknya hanya satu orang yang maju.”
Kun dan Lu Zhongyu bergerak bersama ke tengah, Zhou Luoyang mundur, sementara Du Jing maju, menjaga keseimbangan balok besar dengan berdiri di sisi-sisi yang berlawanan.
“Arahkan cahayanya dengan benar,” kata Kun.
Mereka berdua berhati-hati mencapai tengah, menghela napas lega, lalu melanjutkan perjalanan menuju pintu keluar. Yang tersisa hanya Zhou Luoyang dan Du Jing, berdiri di dua ujung balok, menatap satu sama lain dalam kegelapan.
Zhou Luoyang tidak bisa melihatnya, tapi dia tahu bahwa Du Jing di seberang sedang memperhatikannya dari balik kegelapan. Tak lama, terdengar bunyi logam dari arah pintu keluar.
“Panelnya sudah dilepas,” kata Lu Zhongyu. “Kalian bisa pelan-pelan maju ke sini, hati-hati dengan langkah kalian.”
Zhou Luoyang menyorotkan senter ke arah Du Jing, memperlihatkan wajahnya dengan bekas luka di tulang hidungnya yang tajam. Du Jing sedikit menyipitkan mata, menyesuaikan diri dengan cahaya terang yang tiba-tiba.
“Aku mulai jalan,” Zhou Luoyang berkata.
“Ya,” jawab Du Jing, “aku akan mengikuti langkahmu.”
Zhou Luoyang mengalihkan senter, menerangi jalur di atas balok, dan mereka berdua mulai bergerak ke arah tengah. Mereka adalah dua orang terakhir yang berdiri di balok. Tidak ada yang tersisa di belakang untuk membantu menyeimbangkan beban. Satu langkah salah saja, balok akan langsung miring, membuat mereka berdua jatuh dan hancur berkeping-keping.
Dia bisa merasakan Du Jing semakin mendekat.
“Katakan sesuatu,” ujar Du Jing.
“Tidak ingin bicara,” Zhou Luoyang menjawab, “aku harus fokus.”
Dengan nada santai, Du Jing berkata, “Tidak masalah, kalau harus mati, kita mati bersama.”
“Aku tidak suka sikapmu itu,” Zhou Luoyang tiba-tiba berkata dalam kegelapan, sambil menyorotkan senter ke kaki Du Jing.
“Apa yang tidak kamu suka?” tanya Du Jing.
“Aku tidak suka kamu memaksa Ruan Song minum air itu,” jawab Zhou Luoyang.
Dia tahu bahwa yang lain juga mendengarkan percakapan mereka dari balik kegelapan. Du Jing tidak membantah dengan mengatakan bahwa itu pilihan Ruan Song sendiri, dan juga tidak menantang Zhou Luoyang dengan bertanya, “Lalu apa yang ingin kamu lakukan?” Karena dia tahu, pembicaraan ini bukan hanya tentang kematian Ruan Song. Bukan soal merasa Ruan Song tak layak mati. Sebenarnya, apa yang ingin disampaikan Zhou Luoyang sudah jauh melampaui peristiwa itu.
“Aku suka saat kamu tidak menyukai tindakanku dan menunjukkan kemarahanmu,” Du Jing berkata dengan acuh tak acuh.
Zhou Luoyang berkata, “Bukan berarti aku merasa kamu tidak seharusnya melakukan itu…”
“Aku tahu,” jawab Du Jing dengan tenang, “Tapi sikapku membuatmu merasa aku begitu asing. Seolah kamu tiba-tiba tidak lagi mengenalku.”
“Ya.” Zhou Luoyang berhenti berjalan. Mereka sudah sangat dekat dengan tengah balok.
Ketiga orang lainnya tetap diam, menunggu mereka sampai ke tempat mereka.
“Lompat ke tengah,” kata Du Jing, “Aku akan menangkapmu. Ayo.”
Zhou Luoyang terdiam sesaat, lalu mematikan senter. Kegelapan menyelimuti mereka dari segala arah, dan sesaat kemudian, dia melompat ke dalam kegelapan.
Seolah memiliki ikatan batin, Du Jing bergerak ke samping dan langsung memeluknya erat.
Jarum jam pada Mata Forseti mereka bertumpuk menjadi satu, tepat di angka dua belas.
Waktu seketika berbalik, kembali ke tengah malam hari sebelumnya. Zhou Luoyang berbaring di tempat tidur, dan Du Jing memeluknya erat.
Zhou Luoyang menghela napas, ingin melepaskan diri dan membalikkan badan untuk menenangkan diri sejenak, namun Du Jing malah memeluknya semakin erat, tidak membiarkannya pergi.
Catatan Jeffery Liu: Aaaaaa aku menerjemahkan ini dari raw karena penerjemah Inggrisnya belum juga update TWT karena menerjemahkan dari raw, aku menggunakan MTL dengan perbaikan disana sini, dan aku yakin mungkin sangat kurang dari sempurna dan tidak 100% akurat TWT kemungkinan bab selanjutnya juga akan aku terjemahkan dari rawnya. Aku akan mengeditnya jika penerjemah bahasa Inggrisnya sudah melakukan pembaruan lagi. Aku sangat menerima kritik dan saran dari pembaca sekalian :’)
itu sama aja akhirnya tetep harus Ruan song yg nyoba airnya..
tapi bener kata Kun keahlian Xiao wu pasti bakal bisa digunakan nantinya..
akhirnya mereka balik ke 24jam sebelumnya n berarti De’an selamat..
mau vote kayak apa tetep aja emng Ruan song yg harus coba airnya..siapa sangka dia beneran jadi korban selanjutnya..
bener kata Kun skill nya xiao wu pasti akan berguna nantinya..
akhirnya mereka balik n berarti Dean masih hidup begitu juga sama ruan song..
Agak kasian tapi ngeselin betul dia memang :’)