English

Tiandi BaijuCh9 - Manusia terlahir rusak

0 Comments

Penerjemah Inggris : beansprout & grape seed

Penerjemah Indonesia : jeff bEJhNR


MASA LALU

Biasanya, Zhou Luoyang jarang sekali mengamati Du Jing. Setelah makan malam, mereka selalu memiliki rutinitas yang sama: masing-masing mengenakan headphone dan melakukan pekerjaan rumah mereka sendiri, dan ketika mereka selesai, mereka akan membaca, menonton film, atau berselancar di internet. Zhou Luoyang sangat jarang memperhatikan apa yang dilakukan Du Jing. Setiap kamar di Gedung Tingpu ini adalah asrama yang diisi oleh dua orang, bukan asrama empat orang yang memiliki tempat tidur tinggi dengan meja di bawahnya. Meja mereka terpisah dari tempat tidur mereka.

Read more BL at langitbieru (dot) com

Posisi tempat tidur berada dekat dengan jendela. Di satu sisi ada lemari dan kabinet yang berdiri sendiri, dan juga ada rak buku. Posisi meja keduanya tidak saling berhadapan sehingga mereka berdua tidak akan bisa melihat apa yang sedang dilakukan satu sama lain, juga tidak akan saling memandang dengan sengaja.

Malam itu, semuanya berjalan seperti biasa. Pada pukul sebelas, Zhou Luoyang menatap Du Jing melalui cermin ukuran penuh dan melihat Du Jing yang tengah duduk diam dan menatap kosong pada sebuah kaleng dengan tutup yang ditarik. Pemandangan itu membuat Zhou Luoyang merasa sedikit khawatir. tf76d

“Waktunya tidur?” Zhou Luoyang bangkit untuk mencuci muka dan menyikat giginya, sementara Du Jing mematikan lampu atas, dan hanya menyisakan lampu meja yang masih menyala.

Pada pukul 11.20, Zhou Luoyang berbaring di tempat tidur dan berbalik dua kali, sangat tenang. Dia memeriksa ponselnya dan berpikir bahwa Du Jing kemungkinan besar mengalami depresi. Dia belum pernah berhubungan dengan siapa pun yang menderita depresi sebelumnya, dan untuk sesaat dia tidak yakin bagaimana harus berinteraksi dengannya.

Dia meminum obatnya tepat waktu setiap hari, jadi seharusnya tidak akan ada masalah yang terjadi, ‘kan?

Pada pukul dua belas, Zhou Luoyang menghela napas dengan lembut. Dia curiga jika Du Jing tidak bisa tidur lagi. Lagi pula, dia menyebut insomnia di Weibo-nya. Bisa dikatakan, pada malam-malam sebelumnya ketika dia mengira Du Jing tertidur, dia sebenarnya tidak; Zhou Luoyang adalah satu-satunya orang di antara mereka berdua yang tertidur nyenyak. Du Jing hanya berbaring di sana dengan mata terbuka dari malam hingga fajar, dan juga harus berhati-hati untuk tidak membuat suara apa pun kalau-kalau itu membangunkan Zhou Luoyang. oOtn9c

“Du Jing?” Zhou Luoyang bertanya dengan tenang.

Beberapa detik kemudian, Du Jing menjawab, “Mm.”

Zhou Luoyang bertanya, “Apa kamu sudah tidur?”

Du Jing menjawab, “Belum. Kenapa kamu tidak tidur? “ be74wv

Zhou Luoyang bisa mendengar suara Du Jing; dia memang masih bangun.

Dia pernah menderita insomnia sebelumnya, dan itu sangat mengerikan, dia sangat lelah namun masih tidak bisa tidur.

“Aku minum dua cangkir kopi tadi sore,” kata Zhou Luoyang, “Sepertinya sekarang aku tidak bisa tidur.”

“Kapan kamu meminumnya?” XcROZh

“Saat kamu di kelas. Aku membeli secangkir untukmu juga, tapi aku lupa ternyata kamu masih ada kelas, jadi aku minum dua-duanya.”

“Lalu bagaimana sekarang?” Du Jing bertanya.

“Bagaimana menurutmu?” Zhou Luoyang tidak benar-benar minum kopi sebelumnya, tapi dia memutuskan untuk menemani Du Jing sebentar, kalau tidak, akan terlalu menyakitkan bagi Du Jing untuk berbaring di sana sampai pagi.

Du Jing menjawab seperti yang selalu dilakukannya. “Aku tidak tahu. Apa yang ingin kamu lakukan?” Q1Nodq

Du Jing berbalik. Di bawah cahaya bulan, Zhou Luoyang bisa melihat betapa cerahnya mata Du Jing. Pada awalnya, dia ingin bertanya apakah dia ingin mengobrol, karena suasana di asrama mereka sangat aneh. Teman sekamar pria lain akan mengobrol satu sama lain selama sekitar sepuluh, dua puluh menit setelah lampu padam, sedangkan mereka tidak pernah meluangkan waktu untuk melakukan hal seperti itu sebelum tidur.

Tapi Zhou Luoyang juga khawatir jika Du Jing tidak mau berbagi terlalu banyak atau dia akan mengatakan hal yang salah.

Read more BL at langitbieru (dot) com

“Apa aku boleh menyalakan lampunya lagi?” Zhou Luoyang bertanya.

Du Jing menyalakan lampu di samping tempat tidurnya, dan Zhou Luoyang menyalakannya juga. Asrama mereka menyala sekali lagi. Di tengah malam, kilau kedua lampu itu terasa sama nyamannya seperti selimut hangat dan lembut di sekelilingnya. vyZUai

Zhou Luoyang berubah pikiran dan berkata, “Aku ingin membaca sebentar. Jika itu mengganggumu …”

“Tidak,” kata Du Jing ringan. “Aku juga ingin membaca.”

Zhou Luoyang mengambil sebuah novel yang belum selesai dibacanya. Dia mengambil penanda buku dan melirik Du Jing. Du Jing sedang berbaring di tempat tidurnya, membaca buku yang berkaitan dengan sekolah. Dengan lampu yang kembali menyala, dia tampak seperti telah dibebaskan dari penjara kegelapan, dan dia tampak jauh lebih nyaman daripada sebelumnya.

“Apa kamu sedang belajar?” Zhou Luoyang bertanya, tidak benar-benar berkonsentrasi pada bukunya. 9hQbyw

Du Jing bergumam mengiyakan, dan Zhou Luoyang meregangkan lehernya untuk melihat. Dia berkata, “Kamu sudah hampir selesai mempelajari semua materi persiapannya.”

Du Jing menjawab, “Aku tidak tahu harus melakukan apa. Jika aku bisa menyelesaikannya lebih awal, aku bisa punya banyak waktu luang.”

Di dalam hati, Zhou Luoyang merenungkan apa yang harus dia katakan. Awalnya dia ingin bertanya, “Apa yang akan kamu lakukan begitu kamu punya waktu luang?” Tapi kemudian dia memikirkan akun Weibo milik Du Jing, dan setelah mempertimbangkan beberapa hal, dia menggoda, “Apa kamu akan pergi jika kamu lulus lebih awal?”

Du Jing terdiam sesaat, memandang Zhou Luoyang dari balik buku yang dibacanya, seolah tengah memikirkan beberapa permintaan. LzFdoM

“Kamu juga bisa mendaftar untuk bisa lulus lebih awal,” kata Du Jing. “Ingin bersaing denganku? Lihat siapa yang bisa menyelesaikan studinya lebih dulu?”

Zhou Luoyang berkata dengan nada meremehkan diri sendiri, “Aku tidak sepintar kamu. Aku hanya akan melakukan yang terbaik, dan setelah lulus kita bisa mengikuti ujian kelulusan bersama?”

We’re sorry for MTLers or people who like using reading mode, but our translations keep getting stolen by aggregators so we’re going to bring back the copy protection. If you need to MTL please retype the gibberish parts.

Zhou Luoyang hanya secara tidak sadar melanjutkan topik ini, tetapi Du Jing berkata, “Baiklah. Kita akan lulus dalam dua tahun, lalu mengikuti ujian bersama.”

Zhou Luoyang berpikir, Jangan. Aku akan mati karena kelelahan jika kita benar-benar melakukannya. ERSY1B

Universitas yang mereka masuki terkenal secara nasional, sering dikatakan memiliki peringkat di tiga sekolah teratas — walaupun dua teratas lainnya hanya terdiri dari dua sekolah, sementara tiga teratas terdiri sekolah yang tak terhitung jumlahnya, dengan cara yang sama bahwa tujuh keajaiban dunia hanya terdiri dari tujuh keajaibah, sementara keajaiban yang tak terhitung jumlahnya berada di urutan kedelapan. Selain itu, kampus mereka memiliki banyak siswa ber-IQ tinggi yang menganggap belajar sebagai pemborosan waktu dan memutuskan untuk menyelesaikan studi mereka lebih cepat sehingga mereka bisa mencapai banyak keberhasilan dalam hidup yang akan memberi mereka kepuasan untuk diri mereka sendiri.

Du Jing sangat pintar. Zhou Luoyang tahu itu. Dia bisa membaca buku sekaligus dan menghafal semua isinya dengan sempurna. Apakah sesuatu seperti ini biasa dimiliki oleh mereka yang menderita depresi?

Zhou Luoyang sudah mencari di internet sore itu untuk memastikan kondisi Du Jing, tetapi dia menemukan bahwa perilaku Du Jing agak berbeda dari apa yang dia baca dalam deskripsi penyakit yang ada di internet.

Zhou Luoyang menguap; dia sudah sangat mengantuk tetapi masih memaksakan dirinya untuk tetap terjaga. Dia meredupkan lampu sedikit dan mulai memainkan ponselnya. Du Jing, bagaimanapun, sangat cepat memperhatikan. Dia bertanya, “Lelah?” I nArl

“Jangan pedulikan aku,” kata Zhou Luoyang, segera menghentikan Du Jing. “Aku ingin mencoba tidur dengan lampu menyala. Mungkin aku bisa tidur, siapa yang tahu?”

Mengikuti permintaan Zhou Luoyang, lampu Du Jing tetap menyala, dan Zhou Luoyang menambahkan, “Tidurku sangat nyenyak. Kamu tidak akan bisa membangunkan aku meskipun kamu berisik.”

Langit Bieru.

“Aku tahu,” jawab Du Jing.

Zhou Luoyang tertawa dan berbalik sehingga dia menghadap ke dinding. Kelopak matanya terasa sangat berat, dan dia segera tertidur. Du Jing, sementara itu, membiarkan lampunya menyala sepanjang malam. dJew3t


Pukul sepuluh keesokan paginya, ketika Zhou Luoyang bangun, dia menemukan bahwa Du Jing tampaknya telah tertidur. Dan dia belum memosting apapun di Weibo pagi itu. Sejak malam itu, Zhou Luoyang mengambil inisiatif untuk menyesuaikan kebiasaannya untuk Du Jing. Awalnya, dia tidak suka tidur dengan lampu menyala di rumah, dan dia cukup sensitif terhadap kebisingan, tapi dia bisa mentolerir dengan kebiasaan membiarkan lampu menyala untuk Du Jing di malam hari. Bagaimanapun, seiring waktu berlalu, ia akan terbiasa dengan hal itu.

Beberapa hari kemudian, Zhou Luoyang melihat postingan lain dari akun Weibo milik Du Jing:

[Tidak berarti. Semuanya tidak ada gunanya. Kebenaran untuk hidup adalah absurditas, seperti yang Camus katakan, kita semua terjebak dalam belenggu ketidakberdayaan.]


“Aku tidak ingin pergi,” kata Zhou Luoyang kepada Du Jing. “Aku akan bolos hari ini.” 3xEqwN

Du Jing terbangun pagi itu dan mengambil obat-obatannya. Setelah menelan beberapa pil, dia bertanya, “Kemana kamu akan pergi? Apa kamu akan tidur di kamar seharian?”

Zhou Luoyang berkata, “Apa aku seekor babi? Aku baru saja bangun. Aku ingin keluar, berjalan-jalan. Apa kamu mau ikut? Jika kamu tidak mau, boleh aku titip absen padamu?”

Du Jing tampak ragu, dan Zhou Luoyang bisa mengatakan apa yang sedang dia pikirkan — dia mencoba menentukan apakah Zhou Luoyang benar-benar ingin dia mengisikan daftar hadirnya di kelas atau apakah dia sedang mengundangnya untuk berjalan-jalan bersama.

“Ayo, kita bolos dan bersenang-senang,” kata Zhou Luoyang, mendorong perahu menuju arus. Dia selalu merasa bahwa Du Jing perlu sedikit bersantai. “Ada banyak tempat yang belum pernah kamu kunjungi.” toTS6D

“Ayo pergi.” Du Jing segera berganti pakaian, meraih tas olahraga, dan meninggalkan wilayah kampus dengan Zhou Luoyang.


Hangzhou mengalami cuaca buruk hari itu. Badai hujan musim gugur sedang mengguyur dengan tenang, dan udaranya terasa statis. Orang-orang di Danau Barat semuanya mengenakan ekspresi khawatir yang jelas; mereka takut air di langit tiba-tiba akan turun dan mengubah mereka menjadi tikus basah kuyup.

Zhou Luoyang membawa Du Jing untuk makan siang di Taman Liulang Wenying. Sebagian besar orang di sekitar mereka adalah pasangan, membuat mereka berdua membentuk semacam gambaran aneh: dua pria duduk berhadapan dan minum teh Longjing.

Kalau saja Du Jing seorang gadis cantik, pikir Zhou Luoyang, aku akan rela bolos kelas setiap hari. V0ej5O

Du Jing tampak merasa sangat nyaman. Zhou Luoyang bisa tahu dari sikapnya: dia mengawasi para turis, dan ketika para turis itu menatapnya, dia tidak mengalihkan pandangannya. Dia sangat acuh tak acuh tentang bekas luka di pangkal hidungnya.

“Aku akan membayar,” kata Du Jing. “Sebentar lagi hujan. Ayo pergi ke tempat lain. Apa ada tempat lain yang ingin kamu kunjungi?”

Zhou Luoyang menggelengkan kepalanya. Sejujurnya, perjalanan mereka hari ini sepenuhnya tidak direncanakan. Pada awalnya, dia ingin mengatakan, “Tidak ada. Haruskah kita kembali ke asrama?” Tapi tiba-tiba dia memikirkan bagaimana biasanya Du Jing berbicara, dan dia bertanya balik, “Aku tidak. Bagaimana denganmu?”

“Aku ingin pergi ke suatu tempat,” jawab Du Jing. “Ayo pergi.” 28qPuo

Du Jing membayar tagihan dan pergi ke museum bersama Zhou Luoyang. Kebetulan ada pameran khusus Mesir di sana, dan ketika mereka berjalan melewatinya, Zhou Luoyang berpikir, Untung aku balik bertanya, kalau tidak Du Jing akan menahan lidahnya dan kembali ke kampus bersamaku.

Setelah mereka selesai menonton pameran, hujan akhirnya mulai turun. Suara guntur memecah langit dan kilat muncul di luar museum. Hujan turun cukup deras. Lebih dari seratus pengunjung berkerumun tepat di luar pintu, semuanya tampak sibuk dengan ponsel masing-masing untuk mencari tumpangan, menjebak Zhou Luoyang dan Du Jing di dalam. Pada pukul lima, hari sudah gelap seperti malam hari.

Please visit langitbieru (dot) com

“Aku lupa sedang menjemur pakaian,” Zhou Luoyang ingat. “Apa yang harus kita lakukan?”

Du Jing berkata, “Jangan khawatir. Ayo kita ke depan. Kita akan pulang setelah makan malam.” Ut6YOp

“Hei!” Zhou Luoyang berteriak, tapi Du Jing sudah berlari menembus hujan. Zhou Luoyang hanya bisa berlari mengejarnya, berlari dua langkah di belakangnya. Du Jing melihat Zhou Luoyang tengah merunduk di bawah pohon, jadi dia berbalik dan memperingatkan, “Hati-hati dengan petir!” Kemudian dia pergi dan memegang tangan Zhou Luoyang, membawanya keluar ke tempat terbuka.

Ini adalah pertama kalinya Zhou Luoyang berpegangan tangan dengan seorang pria. Tangan Du Jing basah kuyup terkena air hujan, tapi telapak tangannya masih terasa panas. Ketika mereka tiba di tempat tujuan, dengan tubuh yang basah kuyup, mereka mulai makan hotpot, dan ketika udara dingin bertiup, Zhou Luoyang berpikir bahwa sepertinya mereka akan masuk angin ketika mereka kembali.

Rambut setengah basah Du Jing jatuh di depan matanya, membuatnya tampak seperti Anjing Gembala Tua dari Inggris yang kebingungan. Saat dia duduk di seberang Zhou Luoyang dengan kepala menunduk, menandai item menu, Zhou Luoyang tiba-tiba tertawa.

“Apa yang lucu?” Du Jing bertanya. DwErNF

“Tidak ada,” kata Zhou Luoyang. “Kamu terlihat sangat tampan seperti ini.”

Du Jing menyingkirkan rambut yang tergantung di depan alisnya yang tebal. Zhou Luoyang belum pernah merasakan apapun ketika dihadapkan dengan penampilan seorang pria sebelumnya, tetapi tepat pada saat itu, dia tiba-tiba menyadari bahwa Du Jing dipenuhi dengan aura kejantanan. Dan di atas itu, dia memiliki sikap suram yang tampak begitu menarik, penampilannya ini bisa saja menjadikannya Adonis di departemennya jika saja dia tidak memiliki bekas luka di wajahnya.

“Aku cacat,” kata Du Jing. “Sama sekali tidak menarik. Kaulah yang lebih bisa dianggap tampan. Kapan kamu akan mendapatkan pacar?”

Zhou Luoyang mengambil menu darinya dan mulai menandai item yang diinginkannya. Dia menjawab, “Bekas luka milikmu-lah yang membuatmu tampan. Ada semacam keindahan di lukaitu, seperti lengan Venus de Milo yang hilang. Tanpa luka itu, ketampananmu terasa begitu jauh dan tak tersentuh, tapi dengan luka itu kamu lebih mudah didekati.” jN1mY

Du Jing berkata, “Sepertimu.”

“Aku?” Zhou Luoyang tidak percaya. “Aku jauh? Apa kamu sedang bercanda?”

“Kamu sangat sopan dan populer di kalangan semua orang,” kata Du Jing, “dan sangat hangat dan penuh perhatian. Semua orang menyukaimu, tetapi tidak ada yang bisa mengetahui dirimu yang sebenarnya. “

Kata-kata Du Jing benar-benar tepat sasaran, dan Zhou Luoyang hanya bisa menertawakan dirinya sendiri. r6pyRt

“Karena sejak aku kecil,” kata Zhou Luoyang, “Aku diajari untuk menginginkan pengakuan dari semua orang, ingin menjadi anak yang baik yang disukai semua orang.”

Du Jing mengangguk dan menahan diri untuk berkomentar. Zhou Luoyang selesai memesan dan melanjutkan, “Tapi aku sudah belajar sesuatu darimu — aku seharusnya tidak peduli dengan apa yang dipikirkan orang lain. Perasaanku sendiri adalah yang paling penting. “

“Itu benar,” kata Du Jing, serius.

5Nm0vJ

Hujan masih turun cukup deras, dan mereka tidak bisa menemukan tumpangan di mana pun. Hari itu, keduanya sampai di asrama dengan keadaan basah kuyup. Tubuh Zhou Luoyang basah kuyup dari ujung kepala sampai ujung kaki, bahkan sampai ke celana dalamnya. Sudah berakhir, pikirnya, aku benar-benar akan masuk angin kali ini.

Tapi pertama-tama, kekhawatiran yang lebih besar sedang menunggu mereka — ketika mereka kembali ke asrama, jendela di atas tempat tidur Du Jing terbuka lebar, dan hujan turun dengan deras. Sebagian besar tempat tidurnya basah; bahkan kasurnya juga basah kuyup.

Please visit langitbieru (dot) com

Zhou Luoyang menatap pada pemandangan itu dengan tatapan penuh keterkejutan.

Du Jing berkata, “Jendela ini selalu seperti ini. Sejak topan waktu itu, jendela ini tidak bisa ditutup dengan benar.” L23Ko0

Jendela itu memang tidak pernah menutup sepenuhnya. Zhou Luoyang sudah meminta perbaikan beberapa kali, tetapi setiap kali dia memintanya, staf sangat lambat ketika menanggapinya sehingga dia sendiri tidak tahu harus bagaimana lagi. Du Jing mencoba yang terbaik untuk memperbaikinya beberapa kali, tetapi karena jendela itu terbuat dari stainless steel, dia tidak pernah berhasil menutupnya dengan benar.

Zhou Luoyang bersin dan pergi mandi. Du Jing mencoba menutupi celah di jendela itu untuk mencegah lebih banyak air masuk ke dalam dan mulai merenungkan bagaimana dia harus melewati malam itu dengan keadaan seperti ini.

“Apa kamu akan menginap di hotel malam ini?” Zhou Luoyang bertanya.

Du Jing sudah kehabisan akal. Ketika Zhou Luoyang keluar dari kamar mandi, dia melihat Du Jing dua kali membalik kasur. Benar-benar tidak ada bagian yang bisa ditiduri. Seprai dan bantalnya juga basah kuyup. Dan mereka juga tidak bisa menurunkannya untuk dikeringkan. Mereka harus menunggu hari esok agar semuanya bersih terlebih dahulu. fPwsbz

“Lupakan. Aku ingin mandi dulu.”

Zhou Luoyang menyandarkan kasur di sebelah meja untuk membiarkan air menetes sehingga bisa mengering sendiri. Pada saat Du Jing mengeringkan rambutnya dan keluar dari kamar mandi, Zhou Luoyang sudah berbaring di tempat tidur dengan bantal untuk Du Jing di sebelahnya.

“Ayo tidur bersama untuk sekarang,” kata Zhou Luoyang. “Tempat tidurnya agak kecil, jadi jangan salahkan aku jika aku menendangmu di tengah malam.”

Du Jing duduk di sisi tempat tidur. Setelah terdiam beberapa saat, dia berkata, “Kamu tidur di samping dinding. Aku tidak ingin menendangmu keluar dari tempat tidur.” 65fqRI

Mendengarnya, Zhou Luoyang sedikit bergeser ke dalam. Mereka pergi ke banyak tempat hari ini; dia akan tertidur dan tidak memiliki energi untuk begadang semalaman dengan Du Jing lagi. Dia berkata, “Aku akan tidur. Jika kamu ingin membaca, kamu bisa …”

Tapi Du Jing mematikan lampunya dan berkata, “Tidur. Aku juga lelah.”


Zhou Luoyang tidak tidur nyenyak malam itu. Sepanjang hidupnya, sejauh yang bisa diingatnya, ini adalah pertama kalinya dia berbagi tempat tidur dengan seseorang. Mungkin Du Jing juga sama.

Ketika Zhou Luoyang bangun keesokan paginya, hujan masih belum berhenti. Lantai bawah banjir — Danau Musim Semi Phoenix meluap, dan ikan koi berenang di mana-mana. e7Ocid

Zhou Luoyang bertanya, “Apa kamu tidur nyenyak semalam?”

“Cukup nyenyak,” jawab Du Jing saat dia mencuci wajahnya dan menggosok giginya. “Kamu?”

Zhou Luoyang dengan lelah bergumam mengiyakan dan mengeluarkan ponselnya. Sebuah pikiran melintas di benaknya, dan dia melihat akun Weibo milik Du Jing. Hari ini, dia memosting dua kali:

[Ini adalah pertama kalinya aku bisa tidur satu malam penuh sejak mulai kuliah. Apa itu karena aku tidur di sebelahnya?] 8D RFz

Ada satu lagi di bawahnya, diposting jam 7:25, ketika Du Jing baru saja bangun. Dia membagikan detail pameran khusus Mesir dan memberikan komentar yang begitu detail dan cermat tentang beberapa item yang dipamerkan. Dia menuliskan semuanya dari audio tur panduan mereka tanpa kehilangan satu kata pun.

Teks yang dibagikan berbunyi: [Manusia terlahir rusak.]

Story translated by Langit Bieru.


Setelah Zhou Luoyang mandi, mereka berdua berdiri di balkon dan melihat ke bawah. Banyak siswa yang menggulung celana mereka dan memegang payung, tengah menangkap ikan dengan kantong plastik.

“Aku tidak ingin pergi ke kelas hari ini. Ingin membolos lagi? ” Zhou Luoyang bertanya pada Du Jing. dCPNdR

Du Jing menjawab, “Hari ini Sabtu, jadi tidak ada kelas. Ayo kirim bantal, seprai, dan selimut untuk dicuci dulu, lalu aku akan pergi ke mana pun kamu mau.”

Jadi Zhou Luoyang dan Du Jing pergi berjalan-jalan sekali lagi. Kasur Du Jing masih belum kering di malam hari, jadi mereka berdua kembali tidur bersama di tempat tidur Zhou Luoyang. Begitupun untuk malam berikutnya, untuk malam ketiga, dan keempat, sampai Selasa … Zhou Luoyang menyadari bahwa pada malam-malam ketika Du Jing tidur bersama dengannya, dia hampir tidak pernah menderita insomnia.


Dia bertanya kepada Du Jing tentang hal itu, tetapi Du Jing juga tidak tahu mengapa hal itu bisa terjadi. Seharusnya, ketika penderita insomnia tidur dengan orang lain, mereka hanya akan saling mengganggu dan keduanya tidak akan bisa tidur, tetapi untuk Du Jing, keadaannya benar-benar berbalik.

Kalau begitu apa dia tidak sakit lagi? Zhou Luoyang bertanya-tanya dengan naif. Tetapi dia memperhatikan bahwa Du Jing masih meminum obat-obatannya. pCF6Af


Namun, setidaknya untuk saat ini, dia tidak akan disiksa oleh insomnia yang terus-menerus menyerangnya. Setidaknya itu adalah satu hal yang baik.

Hal yang sama masih terjadi pada hari ketika mereka dipersatukan kembali setelah tiga tahun terpisah.


Dua puluh empat jam sebelumnya, Du Jing berbaring di gudang di ranjang musim semi yang bahkan tidak memiliki kasur. Selama dia berada di sebelah Zhou Luoyang, dia akan tertidur sangat cepat. Setelah malam yang sangat mengganggu, dia tiba di rumah Zhou Luoyang, dan segera setelah dia berbaring di tempat tidur, dia tertidur nyenyak.

Zhou Luoyang memiliki banyak mimpi buruk dan aneh tentang orang-orang dan peristiwa dari masa sekolahnya. Dia bermimpi Du Jing berdiri di balkon asrama mereka, hendak melompat, dan dia tiba-tiba terbangun dengan terkejut, menemukan bahwa Du Jing masih tidur di sebelahnya. hIbT0f


Zhou Luoyang duduk, membuka matanya lebar-lebar, dan menghela napas.

Du Jing berbalik. Setengah tubuhnya tergelincir dari tempat tidur. Zhou Luoyang diam-diam turun dari tempat tidur dan melirik ponselnya: 16:00. Mereka tidur selama delapan jam.

Setelahnya Du Jing terbangun.

“Maaf, aku lupa,” kata Zhou Luoyang. “Aku seharusnya tidak pergi, aku ingin membiarkanmu tidur lebih lama.” gBZ2AN

Hal yang sama terjadi di masa lalu: jika Zhou Luoyang bangun, Du Jing bisa tetap tidur selama Zhou Luoyang tetap berbaring di tempat tidur. Tapi begitu dia pergi, Du Jing akan bangun.


“Benar-benar sebuah berkah aku bisa tidur,” kata Du Jing. “Berapa lama aku tidur?”

Du Jing mengambil ponselnya dan meliriknya, lalu bertemu mata dengan Zhou Luoyang.

“Sudah lewat jam dua belas.” PfjlAe

Tanggal 8 September sore, sudah lewat jam dua belas. Waktu dua belas jam yang sebelumnya kembali tidak terulang lagi kali ini.

“Terima kasih kepada langit dan bumi.” Sekarang Zhou Luoyang mengingatnya. “Kita tidak terjebak di hari yang sama.”

Langit Bieru.

Translator's Note

Secara harfiah “Orioles Bernyanyi di Pohon Weeping Willow.” Lokasi-lokasi ini (Liulang Wenying, Danau Barat) adalah tempat yang benar-benar ada di Hangzhou!

Leave a Comment

For an easier time commenting, login/register to our site!