English

Merebut MimpiCh47 - Bergegas ke Pagoda

1 Comment

Penerjemah : Lily

Edit : Zhanshines eMXOI9


“Kenapa ada Anipop dalam mimpimu?!”


Ketiga kerangka kuno berbalik dan mendekati alun-alun. Macan kumbang yang tak terhitung jumlahnya mengelilingi alun-alun dan mengamati orang-orang di dalamnya dengan lapar.

Read more BL at langitbieru (dot) com

“Dua dari tiga akan memenangkan pertandingan.” Suara itu berkata dan kemudian pintu ke Chichén Itzá tiba-tiba terbuka.

Para prajurit kerangka masing-masing mengangkat satu kaki dan menginjak bola api biru di depan mereka. pc2Zb9

“Bisakah kau melakukannya?” Zhou Sheng bertanya pada Yu Hao, melirik cincin besi yang melayang di kejauhan.

“Bagaimana menurutmu?” Yu Hao berkata, “Bagaimana aku bisa?!”

Cincin itu sangat jauh sehingga Yu Hao bahkan tidak bisa berharap untuk menembaknya.

“Kalau begitu, itu tergantung kita berdua,” Zhou Sheng berkata sambil menatap Chen Yekai. 5OMdAE

Chen Yekai menoleh, melihat ke kerangka tentara, lalu berkata, “Yu Hao, pergilah dulu.”

Yu Hao berpikir, dari semua hal yang bisa kamu lakukan dalam mimpimu, mengapa harus sepak bola?! Tidak bisakah kamu memilih sesuatu yang aku kuasai?! 

“Aku akan mencoba yang terbaik.” Yu Hao berkata, “Pokoknya, ini 2 dari 3, jadi aku serahkan pada kalian.”

Zhou Sheng memberi isyarat dengan matanya agar Yu Hao tetap tenang. Yu Hao mengamati sekelilingnya untuk waktu yang lama, lalu mengangkat kakinya dan dengan kasar menendang bola api. Bola api biru itu melayang ke atas dan melesat di udara membentuk busur. Chen Yekai segera mulai bersorak. 0maH12

Zhou Sheng, “Bagus!”

Namun, pada saat berikutnya, prajurit kerangka itu tiba-tiba menendang dan cahaya biru lainnya terlempar ke udara dan bertabrakan dengan bola Yu Hao yang memantul dan melewati cincin cahaya yang mengambang di sudut yang tajam.

“Itu tidak adil!” Yu Hao masih tenggelam dalam keterkejutan karena benar-benar mencetak gol semenit yang lalu, tetapi sekarang dia berteriak dengan marah atas ketidakadilan tersebut.

Suara itu terdengar lagi. “Kau telah gagal, menunggu kematian ba, sama sepertiku ….” 1dCP Y

Yu Hao berkata dengan marah, “Kamu curang! Tidak ada cara untuk menang! Dia membuat aturan sendiri!”

Zhou Sheng mengangkat tangannya untuk menghentikan Yu Hao, lalu dia melangkah maju, “Tuan Nakagawa, 2 dari 3, itu kesepakatan kami. Jika kau bersedia akan bertaruh, maka kau harus bersedia menerima kerugian. Sekarang giliran kita, siapa yang duluan?”

We’re sorry for MTLers or people who like using reading mode, but our translations keep getting stolen by aggregators so we’re going to bring back the copy protection. If you need to MTL please retype the gibberish parts.

Chen Yekai merenung sejenak, lalu melihat ke arah tentara kerangka di samping mereka, “Aku dulu ba.”

Chen Yekai menunjuk Yu Hao untuk meyakinkannya. Zhou Sheng dan Yu Hao mundur dua langkah. Chen Yekai bergumam, “Ryuusei, aku masih punya banyak hal yang mau kukatakan padamu. Aku telah menunggu kesempatan ini sepanjang hidupku.” rMq3Bx

Pada saat yang sama, Chen Yekai dengan cepat bergerak maju, mengangkat kakinya—sementara prajurit kerangka lainnya di sampingnya juga mengangkat kakinya—dan menendang bola.

Namun, veteran Chen Yekai telah menipu. Dia berbalik, berjongkok sedikit, dan menunda sejenak sebelum menendang bola setelah prajurit kerangka itu bergerak.

Please support our translators at langitbieru (dot) com

Yu Hao dan Zhou Sheng bersorak bersama. Semua yang bisa dilihat adalah dua tembakan api biru yang melesat menuju ring satu demi satu; bola yang ditendang Chen Yekai melengkung dengan indah dan menjatuhkan bola prajurit kerangka itu sebelum melewati ring.

Suara itu tiba-tiba meledak menjadi kemarahan. “Dasar sampah munafik!” 8iA4Ue

Chen Yekai melihat ke arah piramida dan berkata dengan tenang, “Bawa aku pergi, Ryuusei, maka semuanya akan berakhir!”

“Belum!” Zhou Sheng berkata dengan malas. Dia berjalan maju dan menginjak bola yang menyala. “Ini bola terakhir, bagaimana kami bisa membiarkanmu pergi sendirian?”

Yu Hao segera menjadi gugup. Suara itu berkata dengan dingin, “Kalau begitu ayo, biarkan aku melihat seberapa mampu kamu.”

“Yu Hao, beri aku kekuatan.” Zhou Sheng menoleh dan berbicara dengan lembut. RD4E9h

Yu Hao melangkah maju. Zhou Sheng melepas perisai dari punggungnya dan memegangnya di tangannya. Chen Yekai mengerutkan kening. “Apa yang kau lakukan?”

Yu Hao sangat bingung. Zhou Sheng berkata, “Cepat, seperti terakhir kali.”

Yu Hao, “Tapi aku tidak punya banyak kekuatan.”

Zhou Sheng, “Beri aku sebanyak yang kau punya.” 3svY0L

Yu Hao mencoba menekan tangannya ke punggung Zhou Sheng. Chen Yekai menatap mereka berdua dengan curiga, tetapi perisai di tangan Zhou Sheng tiba-tiba menyala dan mulai berubah dengan cepat. Zhou Sheng berteriak, “Mundur!”

Yu Hao segera mundur. Zhou Sheng menginjak bola dan dengan cepat mengguncang perisai untuk menunjukkan bentuk jingubang yang bersinar.

“Persetan dengammu!” Zhou Sheng meraung marah. Dia berbalik dan mengayunkan jingubangnya, dengan kasar menghancurkan kapten kerangka di sisi lain alun-alun.

Yu Hao, ” ….” F3Carx

Zhou Sheng tiba-tiba berubah menjadi Sun Wukong saat dia di udara. Dia melakukan salto di udara dan mengayunkan dinghaishenzhennya ke bawah, segera melenyapkan seluruh baris ubin di alun-alun bersama dengan kapten kerangka!

Chen  Yekai benar-benar terpana. Selanjutnya Zhou Sheng berputar di udara, kembali ke wujud manusianya, lalu menendang tembakan cahaya biru — itu terbang seperti meteor bersiul dari langit, dan mencetak gol!

Bola ketiga melewati ring. Penghalang yang memblokir gerbang Chichén Itzá hancur dengan keras. Cincin besi mengambang memancarkan cahaya menyilaukan yang membentuk tangga menuju piramida. Yu Hao dan Chen Yekai bersorak, tapi Zhou Sheng berteriak, “Pergi!”

Dengan Zhou Sheng di depan, mereka bertiga bergegas menuju tangga saat suara itu meraung dengan marah, “Kau tidak mematuhi aturan!” YnqySX

Zhou Sheng mengejeknya, “Itu aturanku.”

Dalam sekejap, seluruh dunia mulai berguncang hebat. Semua macan kumbang dengan cepat mendekati mereka saat tangga mulai hancur. Chen Yekai ada di belakang mereka. Dia berteriak, “Kalian berdua pergi saja! Jangan khawatirkan aku!”

Story translated by Langit Bieru.

Zhou Sheng menarik Yu Hao ke atas dan keduanya berlari menaiki tangga dan bergegas menuju pintu masuk ke Chichén Itzá dengan diikuti Chen Yekai dari belakang. Ketika Yu Hao melihat ke belakang, penglihatannya dipenuhi dengan sambaran petir yang segera terjadi yang menyelimuti langit dan menutupi bumi. Chen Yekai berbalik dan menjaga tangga. Dari pinggiran dunia ini, badai petir yang dianugerahkan oleh langit berkumpul menuju pusat; semua area hutan hujan terbakar dengan api yang berkobar, dan macan kumbang yang mencapai mereka dengan cepat dibakar satu demi satu oleh petir sebelum jatuh tepat di depan tangga.

“Kaikai!” Zhou Sheng berteriak, “Pergi!” z3B qM

Chen Yekai sepertinya menyadari bahwa dia bisa mengendalikan petir, jadi dia segera membakar semua macan kumbang yang hampir mendekati mereka sebelum berbalik untuk mengikuti dua lainnya. Sementara Yu Hao berlari, dia berteriak kepada Zhou Sheng, “Di mana-mana, di luar, dipenuhi api!”

Zhou Sheng berteriak, “Jangan takut! Kita punya waktu! Di dalam kita akan aman!”

Daerah di sekitar piramida telah dilalap lautan api. Nyala api menerangi dunia sadar yang redup menjadi sangat terang. Mereka bertiga bergegas ke pintu masuk Chichén Itzá dan setelahnya gerbang piramida terbanting hingga tertutup.

Mereka bertiga kemudian berlari ke aula yang luas. jr h9w

Zhou Sheng tiba-tiba berhenti. Hanya gerbang besar lainnya yang terlihat di hadapannya; terdapat permata besar dalam berbagai warna yang tertanam di gerbang dalam pengaturan sembarangan dan langit-langit yang mengelilinginya memiliki alur yang terlihat seperti parit. Permata mengisi alur dan berkilau dengan kilau yang cerah.

“Dan apa ini?” Zhou Sheng bertanya.

Chen Yekai berdiri di tengah aula dengan wajah kosong.

Yu Hao melangkah maju dan mencoba menekan batu permata di gerbang yang berada di dekat tanah.  Batu permata itu menyala dengan bunyi ding. n0MFLx

Zhou Sheng, “Mekanisme?”

Yu Hao menekan yang lain dan batu permata kedua yang memiliki warna yang sama mulai bersinar juga.

Yu Hao, ” ….”

Yu Hao menekan batu ketiga. Batu permata mulai berputar dan berganti posisi, lalu setelah mereka sejajar dalam garis lurus, mereka menghilang dengan dang. Batu permata di atas mereka jatuh ke tempatnya setelah permata itu lenyap dengan beberapa bunyi gedebuk. CMUobV

“Ini tidak mungkin ba?!” Zhou Sheng berteriak dengan sedih, “Kenapa ada Anipop dalam mimpimu?!”

“Ryuusei suka memainkan gim itu!” Chen Yekai segera berkata setelah mengingatnya, “Biarkan aku memikirkan sesuatu! Kita perlu membuka gerbang ini untuk masuk!”

Yu Hao segera berkata, “Aku akan melakukannya! Aku tahu cara memainkannya!”

Suara gelombang air bisa terdengar dari langit-langit. Chen Yekai berbalik dan melihat air mengalir melalui lubang yang telah dikosongkan oleh batu permata. Sebelum Zhou Sheng sempat bertanya, Chen Yekai segera berkata, “Air dari Air Terjun Iguazu sedang mengalir!” aQsDjh

Saat permukaan air mulai naik, Zhou Sheng mendesak, “Yu Hao! Cepat!!”

“Aku sedang mencarinya!” Yu Hao baru saja membersihkan dua baris. Dia tiba-tiba memperhatikan dua batu permata emas di atas, serta dua alur berlubang di tengah gerbang dan tiba-tiba mengerti—dia harus membuat kedua batu permata itu jatuh ke dalam alur itu! Dia mulai menekan batu permata dengan cepat—suara ding ding, dang dang, gedebuk terdengar keras. Semua batu permata di gerbang mulai menghilang dengan cepat dan batu permata dari alur lantai dan langit-langit dengan cepat mengisi ruang yang ditinggalkan oleh tiga permata yang menghilang setiap saat.

Please visit langitbieru (dot) com

“Aku tidak bisa mencapai yang lainnya!” Yu Hao berteriak. Zhou Sheng bergegas maju dan berjongkok di depan gerbang. Dia menggenggam kedua tangannya dan membiarkan Yu Hao melompat dan menginjak punggungnya; Yu Hao menekan batu permata tinggi-tinggi, sementara Chen Yekai bergegas maju dan meniru Zhou Sheng. Yu Hao mengetuk tiga kali berturut-turut, dan ding ding ding—dang. Batu permata emas di sebelah kiri jatuh ke alur dan berdengung saat bersinar terang.

Yu Hao, “Masih ada satu lagi!” 3wm5zj

Chen Yekai dan Zhou Sheng bicara bersamaan, “Cepat!”

Air tanpa henti mengalir ke aula melalui langit-langit seperti banjir saat batu permata menghilang. Permukaan air terus naik dan bahu Zhou Sheng sekarang terendam. Yu Hao bisa menekan batu permata yang lebih tinggi tanpa menginjaknya lagi, tetapi dia tidak bisa menyingkirkan yang ada di gerbang, jadi dia hanya bisa berenang ke sisi lain.

“Di sana! Ada dua warna yang sama di sana!” Chen Yekai memperingatkan Yu Hao saat dia menginjak air.

Zhou Sheng, “Ada juga di sana! Yang di sana lebih dekat!” M3vVBW

Yu Hao berenang dan menghilangkan satu set sebelum dia tiba-tiba menyadari satu masalah.

Yu Hao, “Kenapa aku sekarang bisa berenang?”

Chen Yekai, “Yu Hao, kau tidak bisa berenang?”

Zhou Sheng, ” ….” Km0X8A

Yu Hao segera mulai tenggelam. Zhou Sheng menangkapnya dan berteriak, “Jangan bergerak!”

Yu Hao langsung mengerti—Chen Yekai tidak tahu bahwa Yu Hao tidak bisa berenang. Dalam dunia kesadarannya, dia pikir Yu Hao bisa berenang, jadi Yu Hao bisa berenang, tetapi sekarang dia tiba-tiba menemukan bahwa Yu Hao tidak bisa berenang, yang mengakibatkan Yu Hao hampir tenggelam. Zhou Sheng menanggapi dengan sangat cepat. Dia segera menangkap Yu Hao dan berteriak, “Katakan saja di mana mereka! Kaikai, pergi dan tekan mereka!”

Tiga yang terakhir berada di bawah Yu Hao dan Zhou Sheng. Yu Hao saat ini sedang dipeluk oleh Zhou Sheng. Dia sedikit tenang sebelum menunjuk ke bawah. Zhou Sheng mengangguk, menendang keluar, dan tubuh bagian atas mereka muncul dari air. Mereka mengambil napas dalam-dalam pada saat bersamaan sebelum terjun kembali ke dalam air bersama.

Di bawah air, Zhou Sheng membawa Yu Hao dan mereka melihat tiga batu permata ungu itu. Yu Hao mengetuk tiga kali dan dengan dang batu permata itu lenyap. Sebuah batu permata emas segera jatuh ke alur di sisi lain gerbang. Gerbang itu mulai bersinar, lalu dibuka ke dalam dengan suara gemuruh yang keras. Tceak9

Sebelum Yu Hao bahkan bisa mengeluarkan suara, dia telah tersapu ke dalam oleh arus yang kuat. Zhou Sheng dengan kuat meraih tangan Yu Hao dan bersama dengan Chen Yekai, mereka tersapu ke jalan rahasia di dalam Chichén Itzá.

Yu Hao menahan napas, tetapi dia berada di batas daya tahannya. Setelah terombang-ambing oleh arus, dia menghembuskan sejumlah besar udara.  Zhou Sheng hendak mendekati dia untuk memberinya udara ketika sesosok hitam tiba-tiba bergegas keluar dari kedalaman di depan dan bertabrakan dengan mereka. Zhou Sheng tidak mengharapkan serangan menyelinap di bawah air, jadi dia tertangkap basah dan dipisahkan secara paksa dari Yu Hao.

Yu Hao hanya bisa merasakan sesuatu menegang di sekitar lehernya. Dia membuka mulutnya, tapi tidak bisa mengeluarkan suara. Dia tanpa daya ditarik dari Zhou Sheng dan tiba-tiba ditarik ke dalam hamparan kegelapan.

Zhou Sheng mengangkat tangannya dan matanya membelalak. Dia ingin berteriak, tapi tidak ada suara yang keluar. Bentuk gelap itu tampak seperti ular—itu melebarkan sayapnya dan melingkari Yu Hao sebelum dengan cepat bergegas ke ujung yang lain. Zhou Sheng muncul dari air. Chen Yekai telah berenang, tetapi hanya melihat Ular Berbulu besar membungkus dirinya di sekitar Yu Hao. Itu membentangkan sayapnya, mengabaikan perjuangan Yu Hao dan menyerbu ke arah cahaya dari lubang di ujung lorong dan melonjak! iHNkRS

“Yu Hao!” Zhou Sheng bergegas keluar dari air dan melangkah ke tanah. Dia mengejar mereka beberapa langkah, tetapi pintu keluar di atas dikelilingi oleh dinding batu.

Chen Yekai batuk beberapa suap air dan bertemu dengan tatapan Zhou Sheng.

Please visit langitbieru (dot) com

“Dia ditangkap oleh Ryuusei,” kata Chen Yekai.

Zhou Sheng mengamati sekelilingnya untuk mencari jalan ke atas. Mereka telah memasuki bagian dalam Chichén itzá ‘dan saat ini dikelilingi oleh bebatuan kuno yang dipenuhi lumut dan tanaman merambat. Pilar-pilar batu yang bengkok bertumpuk satu sama lain, dan di tengah kuil berdiri patung Dewa Ular Berbulu yang tinggi dan tegak. LvD8JR

“Di mana sumurnya?” Zhou Sheng bertanya pada Chen Yekai.

Chen Yekai, “Ikuti aku, jalan di belakang sudah ditutup. Kita harus memanjat.”

Zhou Sheng terdiam beberapa saat, lalu tiba-tiba dia meraung,” Yu Hao–!”

Alis Chen Yekai terkunci dalam kerutan yang dalam. gh3Hr6

“Ayo selamatkan dia ba.” Suara itu berkata, “Nicky, aku ingin melihat seberapa kuatnya kamu…”

Suara itu memudar. Zhou Sheng segera berkobar dengan kemarahan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Chen Yekai berbalik dan mulai mencari jalan. Hingga beberapa saat kemudian, Zhou Sheng menenangkan diri dan berkata, “Selagi kita lebih cepat menemukan Ryuusei, dia akan baik-baik saja.”

Yu Hao dengan kasar dilemparkan ke tanah. Dia terus-menerus batuk dan memuntahkan beberapa suap air saat dia mengamati sekelilingnya melalui penglihatan tepi. Itu adalah ruang kosong yang dikelilingi oleh pilar dan koridor batu. Persis seperti ruang kosong di tengah halaman piramida, di tengah ruang terbuka ini, ada sumur mirip altar; kabut uap hitam menggulung keluar dari dalam sumur.

Tidak ada totem. f13BgW

Di mana totemnya? Yu Hao berpikir.

Ular Berbulu yang menculiknya bersinar dengan cahaya keemasan dan berubah menjadi patung yang diukir dari emas murni. Bentuk melingkar itu berdiri berjaga di satu sisi lapangan datar.

Seorang pemuda kurus mendekati Yu Hao.

“Apakah kamu Ryuusei?” Yu Hao memegang dinding untuk mendapat dukungan saat dia perlahan berdiri. Dia berbalik dan menghadap pemuda itu. chZjfV

“Itu bajuku.” Ryuusei menjawab dengan suara gemetar, “Kembalikan bajuku, aku sangat kedinginan.”

Yu Hao memperhatikan Ryuusei dengan tenang. Ryuusei memiliki kulit pucat dan rambut agak panjang. Tubuh bagian atasnya saat ini telanjang dan ia memiliki tubuh yang sangat kurus; ada rasa sakit dan ketakutan yang luar biasa dalam pandangannya. Yu Hao memikirkan arahan Zhou Sheng, dan sekarang, yang harus dia lakukan adalah menarik senjatanya dan menembaknya. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi jika dia melepaskan tembakan, tapi pikiran pertama yang dia pikirkan saat melihat Ryuusei sebenarnya adalah mendatanginya dan memeluknya.

Ini bukan Ryuusei yang asli, dia hanya Ryuusei di mimpi Chen Yekai. Ketika dia memikirkan hal ini, Yu Hao tiba-tiba merasa itu sangat aneh.

Ryuusei sangat kurus sehingga dia tampak hampir tidak sehat, dengan tulang selangka yang menonjol dan lengan yang ramping. Dengan tatapan yang rumit, dia mendekati Yu Hao dengan tidak tergesa-gesa; fitur wajahnya tampak agak galak karena kebenciannya telah memelintirnya. 09 w2D

Tangan Yu Hao di belakang tubuhnya tidak pernah berhenti gemetar.

“Kau ingin membunuhku?” Ryuusei berkata tidak percaya, “Kau mengambil bajuku dan sekarang kau bahkan ingin membunuhku?”

Langit Bieru.

Yu Hao melonggarkan cengkeramannya dan tidak mencoba menarik senjatanya lagi, tetapi Ryuusei mengeluarkan raungan marah, “Kau ingin membunuhku?!”

Tiba-tiba, pistol di saku Yu Hao terbang menjauh darinya. Yu Hao berteriak dan Ryuusei mengambil pistolnya lalu mengarahkannya ke Yu Hao. Z1J9L3

“Baju itu tidak bisa melindungimu.” Ryuusei memegang pistolnya dan mengarahkannya ke arah Yu Hao sambil menggertakkan giginya, “Lepaskan! Kembalikan padaku! Dasar pencuri! Kau mengambil sesuatu yang bukan milikmu! Aku pemiliknya!”

Yu Hao terengah-engah, lalu tiba-tiba berkata, “Kenapa kamu tidak datang dan melepasnya sendiri?”

Air mata perlahan jatuh dari mata Ryuusei. Yu Hao menatapnya dengan kaget, dan akhirnya, Ryuusei mulai perlahan menurunkan senjatanya.

“Tunggu saja.” Ryuusei berkata, “Kau akan menyesal.” O0ZGHd

Saat dia berbicara, dewa Ular Berbulu meninggalkan patung dewa dan berjalan ke arahnya. Itu melingkarkan tubuhnya dan menciptakan ruang kecil—Dewa Ular Berbulu melingkari Yu Hao untuk mencegahnya melarikan diri.

Ryuusei mendekati sumur dan meletakkan senjatanya. Punggung kurusnya menghadap Yu Hao dan tulang belikatnya sangat berbeda sehingga siapa pun bahkan bisa melihat tulang punggungnya.

“Ayo ba.” Ryuusei perlahan berkata pada sumur, “Aku ingin … membunuhnya dengan tanganku sendiri di depanmu ….”

8QYFHv

Translator's Note

orang yang berpengalaman

Translator's Note

Ular Berbulu adalah entitas supernatural atau dewa yang menonjol, ditemukan di banyak agama Mesoamerika. Itu disebut Quetzalcoatl di antara Aztec, Kulkulkan di antara Yucatec Maya, dan Q’uq’umatz dan Tohil di antara K’iche.

Leave a Comment

For an easier time commenting, login/register to our site!

1 comment