English

Merebut MimpiCh63 - Api Lampu

1 Comment

Penerjemah : Zhanshines


Meledakkan Kaikai seperti kembang api?” p97i4A


Sebelum ada yang bisa menunjukkan reaksinya, raungan parau sekonyong-konyong terdengar dari atas mereka. Yu Hao sebelumnya sungguh-sungguh mengabaikan suara itu saat ia telah sampai, tapi sekarang saat dia mendongakkan kepalanya, dia dapat melihat jelas sesosok monster mesin kolosal yang gelap di bagian atas penghubung lubang hitam. Monster itu tampak seperti mesin berbentuk laba-laba dengan lengan logam terentang yang tak terhitung jumlahnya. Berbagai senjata tajam dan tumpul menyembul dari ujung lengan logam monster itu: pisau, gergaji, pistol, palu, dan senjata tajam serta tumpul lainnya. Monster itu bergerak ke arah mereka dengan kecepatan kilat!

“Ya Tuhan, apa itu?!” Yu Hao segera berteriak saat menatap monster itu.

Please support our translators at langitbieru (dot) com

Zhou Sheng juga ikut berseru, “Itu monster yang mendorong kita ke reruntuhan!”

Yu Hao berdiri di depan Zhou Sheng dan Chen Yekai, melindungi mereka dengan pembatasnya. Dia berseru, “Apa kita akan melawannya?” WB1JXz

Zhou Sheng mengeluarkan sebuah perisai besar dan semua senjata monster serupa robot itu secara bersamaan bertabrakan dengan perisai tersebut. Sebuah suara dentingan keras terdengar tercipta, hampir memekakkan telinga Yu Hao. Dari balik perisai, Chen Yekai tiba-tiba melepaskan tembakan dan pilar cahaya yang ditembakkan itu berhasil mematahkan salah satu lengan logam. Lengan logam yang memegang pisau tajam segera tersedot ke dalam alam bawah sadar.

Sekarang bahkan ada lebih banyak senjata logam mulai mengejar mereka. Zhou Sheng meraih perisainya dan mengubahnya menjadi jingubang. Beberapa suara dentingan terdengar saat jingubang berbenturan dengan lengan logam di sekelilingnya. Zhou Sheng berseru, “Keluar dari sini!”

“Tapi kita harus pergi ke mana?”

Chen Yekai berteriak, “Ikuti intuisi! Intuisi!” 9pdmzU

“Tapi aku tidak punya intuisi sekarang.” Yu Hao terbang di langit dan penghalangnya itu tampak seperti pesawat ruang angkasa. Zhou Sheng dan Chen Yekai tetap berada di sampingnya, menjaganya saat menyerang monster dengan lengan logam yang tak terhitung banyaknya meliputi langit dan bumi. Lengan logam monster itu terus-menerus patah dan jatuh, tapi bukannya berkurang, jumlah lengannya malah justru kian bertambah.

“Intuisi!” Zhou Sheng mendesak. “Kau akan terbang ke mana? Enam saluran dianalogikan dengan enam indera, ikuti saluran intuisi! “

Yu Hao langsung mengerti: enam lengan spiral di sekitar lubang hitam mewakili enam indra Liang Jinmin—pendengaran, penglihatan, sentuhan, rasa, penciuman, dan intuisi! Namun, perlu dicatat bahwa dunia alam sadar mimpi Liang Jinmin yang saat ini mengandalkan keenam saluran itu telah tersedot tanpa henti ke dalam Reruntuhan Terlupakan!

“Apa itu mengarah ke dunia alam sadar mimpinya?” Yu Hao berteriak. ZFh6DJ

“Tidak ada dunia alam sadar!” Zhou Sheng menjawab, “Dunia alam sadar di dalam mimpinya telah hancur. Pergilah ke ujung intuisi, akan kujelaskan nanti! “

“Tapi bagaimana caranya aku bisa mencapai Intuisi?” Yu Hao mencari di galaksi yang dipenuhi pecahan. Chen Yekai secara akurat berhasil menembak ke arah cakar tajam yang bergerak ingin menyerang ke arah mereka dan berteriak, “Sebuah jalan yang terdiri dari pecahan yang tampak sama!”

Yu Hao segera mengerti dan menemukan jalan aneh di antara enam lengan spiral. Di jalur itu, semua fragmen memori yang disedot menjadi membulat dan benar-benar tampak identik baik dalam segi ukuran juga bentuk. Yu Hao mengencangkan punggungnya, dengan cepat terjun ke bawah dan mulai terbang melawan aliran arus intuisi.

Zhou Sheng hendak menyerang dengan kekuatan penuh saat ia dan Chen Yekai telah digiring jauh dari monster logam oleh Yu Hao. p3MzoF

Yu Hao, “Apa itu bosnya?”

Zhou Sheng, “Ya!”

Chen Yekai, “Pegang lampunya!”

Yu Hao tidak lupa untuk sesekali menoleh ke belakang saat dia terbang. Sungguh sial, monster logam itu telah menyusul mereka lagi dan mereka tidak dapat sepenuhnya melenyapkan jumlah lengan logam monster itu, tidak peduli sudah berapa banyak yang mereka rusakkan. Lengan monster itu kini bahkan bisa dengan bebas ditarik-ulur! Yu Hao memimpin ketiganya saat mereka terbang di sepanjang jalur intuisi, dengan Zhou Sheng dan Yu Hao terbang terbalik sepanjang jalan saat mereka terlibat dalam pertempuran sengit melawan senjata logam. 5yvsIf

Sebuah keajaiban terjadi saat mereka terbang di sepanjang intuisi Milky Way: bola seperti tetesan air mata di sepanjang jalan terus mengikuti ke arah lampu di tangan Yu Hao, seolah tertarik padanya!

Kenangan dalam Intuisi memasuki nyala api dan cahaya lampu menjadi semakin terang.

Read more BL at langitbieru (dot) com

Chen Yekai berkata, “Berhasil!”

“Aku menebaknya dengan benar!” seru Zhou Sheng dan pada waktu berikutnya, palu raksasa tiba-tiba saja diayunkan dengan kejam ke arah mereka semua. Zhou Sheng meraung marah dan api emas yang menyelimuti tubuhnya dilepaskan dengan sebuah ledakan. Perisainya memperlihatkan warna emas dan motif roda matahari samar muncul di permukaan perisainya—sesuatu itu menghalangi palu tersebut! MzpmX2

Yu Hao melihat sebuah peron muncul di ujung jalur intuisi dan langsung terbang ke arahnya bersama Zhou Sheng dan Chen Yekai.

“Kita berhasil!” Chen Yekai berseru, “Bagus sekali!”

Yu Hao, ” ….”

We’re sorry for MTLers or people who like using reading mode, but our translations keep getting stolen by aggregators so we’re going to bring back the copy protection. If you need to MTL please retype the gibberish parts.

Ketika mereka bergegas ke peron tinggi sambil membawa lampu, semua fragmen di jalur intuisi telah tersedot ke dalam lampu itu dan sebuah altar muncul di peron itu! WmLONl

Zhou Sheng mengguncang jingubangnya lalu membalik badan.

Haaaaai —— yaaaaaa!” Dengan teriakan nyaring, Zhou Sheng mengayunkan jingubangnya ke bawah dan menghancurkan semua lengan logam menjadi beberapa bagian.

Yu Hao, “Apa yang kita lakukan selanjutnya?”

“Lihat aku, aku akan menunjukkan trik sulap untukmu!” Zhou Sheng tersenyum, bergerak ke samping Yu Hao lalu meniup lampu. F9mTYa

Dengan desiran lembut, sumbu lampu terlepas dari nyala api dan menghantam altar seperti sambaran petir. Pilar api meletus dari altar dengan suara wuss! Cahaya tersebut kemudian menerangi seluruh dunia itu.

Ketika api emas mulai menyala, dunia di sana menjadi cerah.

Yu Hao sudah merasa kacau; dia hanya mengikuti arahan Zhou Sheng dan sama sekali tidak tahu apa yang pria itu lakukan. Zhou Sheng berkata lagi, “Cepat! Sayang, jalan berikutnya!”

Chen Yekai berkata, “Ayo!” YVpfhX

Yu Hao terbang bersama dua lainnya menuju jalur kedua yang dipenuhi dengan pecahan gambar multi-warna yang aneh dan tampak seperti kaca mozaik. Saat mereka terbang di sepanjang jalan setapak, semua potongan gambar tersedot ke dalam lampu. Setelah mereka mencapai ujung Jalan Penglihatan, altar lain muncul di sana juga!

Zhou Sheng meniup lampu untuk kedua kalinya dan pilar api emas juga terangkat dari altar di ujung Jalur Penglihatan.

Zhou Sheng, “Lanjutkan!”

Monster logam di puncak sepertinya merasakan ancaman. Mereka mengaumkan jeritan keras yang terdengar di telinga pria-pria itu dan bahkan lebih banyak lengan logam mulai merobek udara di sekitar mereka. Seluruh dunia bawah sadar bergetar hebat. Namun, monster itu sangat takut akan area di mana pilar emas api sudah terbakar dan tidak berani mendekatinya. cmOzNi

“Aku akan menahannya!” Chen Yekai berteriak, “Sisanya terserah kalian!”

Saat Chen Yekai mengatakan itu, ia juga telah bergegas keluar dari penghalang Yu Hao dan bolak-balik di antara lengan logam untuk menarik perhatian monster raksasa itu.

Please visit langitbieru (dot) com

“Teruskan!!” Zhou Sheng berteriak, “Yu Hao!”

Indra pengecap, perasa, pencium, dan pendengar. Yu Hao meraih tangan Zhou Sheng, Zhou Sheng membawa jingubang di bahunya dan keduanya melindungi lampu saat mereka terbang menuju setiap altar. Setiap kali mereka sampai di altar, Zhou Sheng akan langsung meniup lampu sekali dan api dari lampu akan padam; tiang api emas akan meledak dari altar! jQX0UP

“Apa ini?” Yu Hao bertanya, “Mantra sihir baru milikmu?”

“Itu adalah harapan untuk hidup.”

Ketika altar terakhir terbakar, Zhou Sheng melirik Yu Hao dan tersenyum. “Kita sudah selesai, kerja bagus!”

Mereka terus mengerjakan itu sampai ke ujung jalan. Altar di enam peron terbakar terang dengan api yang mengamuk dan seluruh alam bawah sadar menderang dalam sekejap! Semua kegelapan surut dan nyala api lampu menghilang sepenuhnya! ISDzu4

Yu Hao, ” ….”

Zhou Sheng mengedipkan mata pada Yu Hao. “Apa kau lupa tentang hari pertama kita bertemu? Bagaimana suar api di Tembok Besar muncul?”

Yu Hao tiba-tiba teringat bahwa dahulu kala, Jenderal membawanya untuk menyalakan suar api! Dialah yang menemukan korek api dan dia telah memberikannya kepada Zhou Sheng. Setelah Zhou Sheng menyalakan lampu, dia membawanya saat mereka melintasi Tembok Besar dan menyalakan suar.

Pada saat itu, dia belum jatuh ke dunia bawah sadarnya dan api yang menyala menerangi batas antara alam bawah sadar dan kesadarannya. dKI5oZ

Zhou Sheng membawa jingubang dengan satu tangan, sementara tangan lainnya disampirkan di bahu Yu Hao. Seluruh dunia bawah sadar mulai bergetar. Chen Yekai terbang ke arah mereka. Api di enam altar mulai berubah arah dan menyatu menuju lubang hitam di tengah. Enam pilar api berjalan di sepanjang enam jalur indra dan mengalir ke dalam lubang hitam yang mulai berputar setelah diberi makan dengan api. Langit serta bumi bergetar dan para monster logam mengeluarkan raungan penuh amarah.

Lin Xun, “Kau … kau berhasil kembali dari alam bawah sadar.”

“Lin Xun,” suara Liang Jinmin terdengar, “apa kau tidak puas karena tidak berhasil membunuhku?!”

Lubang hitam yang berputar kini meledak, menerangi seluruh ruang luas di sekitarnya. Sebuah cahaya putih melintas, pinggiran lubang hitam terus melebar, dan area bercahaya yang tampak seperti pulau muncul di tengahnya. Setelah itu, sesuatu itu berubah menjadi gelombang kejut yang menyapu mereka bertiga dan dalam badai yang bergejolak ini, Zhou Sheng segera berbalik untuk melindungi Yu Hao. 1FrmiL

Saat badai bersentuhan dengan penghalang Yu Hao, badai itu seketika menghilang!

“Kita berhasil …,” suara Chen Yekai bergetar, “kita berhasil!”

Dunia di sana tiba-tiba berubah: bumi berubah menjadi batuan padat, pegunungan menjulang, dan gunung berapi yang meletus muncul di mana-mana. Abu vulkanik naik ke langit dan dunia kesadaran dalam mimpi itu muncul!

Dunia ini gelap, tapi dibandingkan dengan kehampaan gelap di alam bawah sadar, alam ini sekarang memiliki garis luar yang samar-samar. Magma mengalir terus menerus dari gunung berapi dan menuju kota mekanis di tengah dataran rendah. Monster raksasa yang tingginya setidaknya 10.000 meter juga bercokol di pusat kota! RxCl3e

Monster itu membuka mata besarnya yang tampak seperti mata serangga—terlihat seperti bola hitam. Saat melihatnya pertama kali, Yu Hao merasa bahwa mata monster itu tampak seperti … seperti mata Lin Xun! Matanya sedikit menonjol dan dahi serta wajahnya terlihat sangat mirip dengan serangga logam besar! Namun, mulut dan telinganya sepertinya milik orang lain.

Lawan mereka di alam bawah sadar adalah bagian bawah monster itu dan saat ini, lava hampir menutupi seluruh dunia sadar dan telah mengepung kota.

Story translated by Langit Bieru.

Lengan logam ‘Serangga Lin Xun’ itu bisa merentang hingga ribuan meter. Memanfaatkan mekanisme yang sangat kompleks, ia meronta-ronta di udara saat ia menghancurkan, meretas, dan mendatangkan malapetaka untuk menghancurkan dunia mimpi ini. Gunung berapi meletus tiadq henti dan bahkan lebih banyak magma yang menyembur ke luar, mengalir menuju kota.

Yu Hao, Chen Yekai, dan Zhou Sheng berdiri pada tebing di depan gunung berapi. Gelombang panas melonjak di udara sekitar mereka. D6LAto

“Zhou Sheng, Lihat!” Yu Hao memberi isyarat kepada Zhou Sheng untuk menoleh ke kiri. Sebuah kuil putih bersih telah muncul di gunung berapi tertinggi dan tampaknya ada seorang pendeta yang mengenakan gaun di depan kuil. Altar di depannya dibakar dengan api merah marun dan setiap kali intensitas apinya bertambah, gunung berapi itu akan meletus, lalu magma akan menyiram sekelilingnya dan mengalir ke kota di kejauhan.

“Liang Laoshi?” Chen Yekai mengerutkan kening.

Serangga metal Lin Xun menolak untuk menyerah, malah senjatanya kian diperpanjang dalam upaya untuk menghancurkan kuil di atas gunung berapi.

Suara mantra terus menerus terbawa angin. Setiap kali gunung tersebut meletus, akan terbentuk meteor ganas yang jatuh ke kota. Di bawah gempa bumi yang dahsyat, Yu Hao hampir mengira bahwa Liang Jinmin berencana untuk menenggelamkan dirinya bersama monster di kota, tapi kota ini terbukti cukup kuat untuk terus menahan dampak bencana tersebut. 5oS0Fq

Orang itu tidak sekuat dia di mimpimu ma,” kata Zhou Sheng.

Chen Yekai berkata tanpa daya, “Tentu saja. Aku dan Lin Laoshi memiliki hubungan mentor-murid, tapi bagi Liang Laoshi, mereka adalah suami dan istri. Dalam mimpi Liang Laoshi, mereka setara. Ketika dia memutuskan untuk membakar perahunya, mungkin saja … mungkin saja jauh di lubuk hatinya, dia masih berpikir bahwa dia bisa binasa bersama dengan suaminya ba.”

Zhou Sheng sangat puas. “Kalau begitu, kita tidak perlu ikut campur lagi. Aku harap Liang Laoshi berhasil meledakkan monster itu dan merebut kembali totemnya!”

Un.” Chen Yekai mengamati beberapa saat lagi. Jika magma terus meletus, maka kemungkinan magma itu akan bisa perlahan melelehkan monster logam itu. Kemudian, bila seandainya pemandangan mimpi berubah menjadi reruntuhan setelah monster metalik dihancurkan oleh kemarahan Dewa Api, pemandangan alam itu masih bisa dibangun kembali secara bertahap, meskipun proses ini akan memakan waktu yang sangat lama. 8ZBUoH

“Kupikir tidak perlu untuk membantunya lagi saat ini.” Chen Yekai berkata, “Kita cuma perlu melindunginya dengan baik dalam dunia nyata dan memastikan keselamatannya.”

“Kalau begitu, selamat malam.” Zhou Sheng bahkan tidak melirik Chen Yekai sebelum dia dengan santai menekan di dahi dosennya tersebut.

Chen Yekai tiba-tiba hancur menjadi partikel cahaya dalam sebuah ledakan dan menghilang begitu saja.

Wah.” Ini adalah pertama kalinya Yu Hao melihat momen ketika seseorang meninggalkan mimpi. W1XslK

Wah apanya?” Zhou Sheng bertanya dengan bingung.

“Tadi itu kelihatan keren sekali,” kata Yu Hao.

Zhou Sheng, “Meledakkan Kaikai seperti kembang api?”

Yu Hao berkata, “Jadi kamu selalu mengucapkan selamat malam padaku karena kamu mau melihat kembang api?!” OEVhyk

Zhou Sheng tertawa. “Aku selalu merasa sedikit keberatan kalau mengirimmu kembali ke dunia nyata di masa lalu.”

Ketika Yu Hao mendengar itu, sanubarinya seolah-olah tercabut lagi.

Please support our translators at langitbieru (dot) com

“Apa kau mau pergi?” Zhou Sheng bertanya, “Cuma kita berdua saja di sini sekarang.”

Yu Hao memandang Zhou Sheng dengan ragu. “Tidak ada yang mau kamu sampaikan?” 7IGmUu

Zhou Sheng berkata dengan bingung, “Ah?”

Yu Hao masih sedikit kesal dan menatap Zhou Sheng. Ketika Chen Yekai ada di sekitar mereka, tidak nyaman baginya untuk mengatakan banyak hal dan sekarang cuma ada mereka berdua, tapi entah mengapa Yu Hao masih belum memikirkan bagaimana cara untuk memarahi Zhou Sheng. Pria di hadapannya ini sudah sembunyi-sembunyi pergi ke mimpi orang lain; itu terlalu berbahaya!

“Kamu tidak boleh mengambil tindakan tanpa memberi tahu aku lain kali! Oke?” tukas Yu Hao.

“Baik!” Zhou Sheng berkata, “Jangan omeli aku lagi, oke? Bangunlah? Ayo pergi dari sini lalu sarapan?” ZIECdd

Yu Hao masih menyimpan banyak kecurigaan di dalam hatinya. Dia punya banyak pertanyaan yang mau dia tanyakan pada Zhou Sheng, tapi Zhou Sheng berkata, “Tidak banyak yang bisa dilihat di sini, ayo kita bicara dalam mimpiku.”

Yu Hao mendongak sedikit kemudian menutup mata.

Zhou Sheng, ” .…”

Yu Hao menunggu beberapa detik, tapi ia tidak mendengar kata-kata ‘selamat malam‘ yang dia tunggu-tunggu. Dia membuka matanya dan bertanya, “Ada apa?” nWyzm8

“Kau … ahahahaha.” Zhou Sheng tiba-tiba tertawa dan sedikit tersipu. “Untuk apa kau menutup matamu?”

Yu Hao, “???”

“Selamat malam,” kata Zhou Sheng pada akhirnya, lalu menekankan tangannya ke kening Yu Hao.

Di dalam ruangan yang gelap tersebut, Yu Hao akhirnya terbangun, sementara Zhou Sheng bergeser sedikit ke samping. Dia mencoba mengangkat tangannya ketika ia menyadari kalau Yu Hao tengah berada nyaris di atas tubuhnya. Saat Zhou Sheng mencoba menggerakkan tangannya yang lain, dia menemukan bahwa lengannya itu sedang dirangkul oleh Yu Hao, lalu dia mencengkeram tangan Yu Hao dengan erat. mfxrRd

“Jam berapa sekarang?” Yu Hao merasa lebih lelah kali ini daripada saat-saat sebelumnya kala dia terbangun dari tidur dan bahkan hari belum terang di luar. Zhou Sheng berhasil membebaskan tangannya yang lain untuk melihat ponselnya.

“5,05,” ujar Zhou Sheng sembari menguap.

“Kenapa aku cuma tidur selama setengah jam?” Yu Hao nyaris kesal akibat rasa kantuk yang masih begitu terasa.

“Waktu berjalan sangat lambat di alam bawah sadar,” jawab Zhou Sheng. “Tidurlah sebentar lagi.” Setelah Zhou Sheng mengucapkan itu, dia dengan lembut menepuk tubuh Yu Hao dengan tangan yang merengkuh Yu Hao di balik punggungnya. etBzRw

Kemudian, tiba-tiba saja kilatan petir menyinari asrama dengan cahaya yang sangat kontras. Suara guntur seolah-olah meledak tepat di atas kepala—yang akhirnya mengejutkan Yu Hao dan segera membuatnya tersadar. Yu Hao dan Zhou Sheng berdesakan di tempat tidur tunggal yang sempit. Kepala Yu Hao telah bertumpu di bahu Zhou Sheng, tapi sekarang dia sudah sadar dari linglung, jadi ia buru-buru merangkak kembali ke tempat tidurnya sendiri.

Zhou Sheng turun dari tempat tidurnya dan menggerakkan tangannya saat dia pergi ke balkon untuk menutup jendela. Tadi malam adalah malam paling lembab di musim panas ini—sebelumnya kota Ying terasa sepanas keranjang kukus. Semua orang telah menunggu hujan lebat ini selama tiga hari dan akhirnya hujan itu pun turun pagi ini di mana-mana. Uap air mengalir deras ke dalam asrama di tengah badai yang dahsyat, seperti keranjang kukus yang baru saja dibuka penutupnya. Setelah panas musim kemarau menghilang, suara bang keras dari pintu yang ditutup di seluruh gedung asrama terdengar, menandakan dunia akhirnya jadi mendingin.

Read more BL at langitbieru (dot) com

Yu Hao berbaring di tempat tidurnya, tapi hatinya masih terombang-ambing. Apa yang bisa dia pikirkan hanyalah apa yang terjadi saat dia terbangun dari tidur. Gerakan Zhou Sheng tadi begitu alami, seolah-olah situasi itu wajar bagi mereka.

Zhou Sheng meninggalkan celah terbuka di jendela dan memungut semua jemuran. Yu Hao yang masih mengantuk sedang melihat ponselnya dan melihat Chen Yekai berkata dalam obrolan grup: 【Liang Laoshi akhirnya bangun】 TRhZWG

“Zhou Sheng?” panggil Yu Hao.

Zhou Sheng telah melipat pakaiannya dan saat ini sedang menyikat gigi. Dia mengambil ponselnya dan meliriknya.

【aku di rumah sakit.】 Chen Yekai berkata, 【Saat ini mereka sedang memeriksa Liang Laoshi. Huang Ting sudah tiba, jadi jangan khawatir lagi.】

Hujan deras kian deras. Yu Hao membalas pesan Chen Yekai. Di luar balkon, hujan lebat turun; Hujan deras membombardir gudang plastik di bawah gedung mereka. Chen Yekai jelas sibuk dan dia tidak membalas pesan Yu Hao. z9GCBn

“Dia tidur di rumah sakit tadi malam.” Zhou Sheng melanjutkan, “Selama Liang Laoshi bangun, Huang Ting akan tinggal di rumah sakit dan menjaganya. Ia akan berbohong kepada Lin Xun dengan berkata kalau kondisi istrinya semakin memburuk. Kali ini tidak akan terjadi seperti yang terakhir kali.”

“Rencananya terdengar cukup bagus. Coba kulihat ponselmu?” Yu Hao mengulurkan tangan ke arah Zhou Sheng.

Zhou Sheng, “Mau lihat apa?”

Yu Hao, “Mau melihat bagaimana kalian mendiskusikannya ah.” l236n8

Zhou Sheng, “Tidak akan kuberikan.”

Yu Hao, “Berikan padaku atau tidak?”

Zhou Sheng menolak untuk menyerah. “Tidak mau!”

Yu Hao, “Berapa lama waktu yang kalian pakai untuk mempersiapkan rencana ini?” C8jNhn

Zhou Sheng memegang ponselnya dan menelusuri percakapannya dengan Chen Yekai, lalu menunjukkannya kepada Yu Hao. Percakapan mereka sebagian besar berkisar pada Roda Gagak Emas dan alam bawah sadar Liang Jinmin. Yu Hao membaca sekilas dan melihat bahwa masih banyak pesan suara di dalamnya, jadi dia akhirnya cuma bisa mengabaikan itu. Dia melirik Zhou Sheng dan berpikir, dia jelas memiliki hati nurani yang bersalah.

“Apa kau masih mau tidur?” Zhou Sheng bertanya.

Yu Hao meringkuk di bawah selimutnya dengan linglung dan berpikir, jika kamu memelukku untuk tidur, aku akan tidur. Namun, tentu saja dia tidak bisa mengatakannya dengan lantang.

Tadi malam aku sibuk menyelamatkanmu, jadi aku tidak punya waktu untuk makan tahu yang sudah kau masak. Dia sudah dua kali dipeluk sampai tertidur oleh Zhou Sheng: satu kali ketika mereka sibuk memasuki Chichén Itzá, sementara waktu lainnya adalah ketika mereka memasuki alam bawah sadar. Meski hanya berlangsung sebentar, suhu dan aroma tubuh Zhou Sheng sepertinya masih tertinggal di tubuhnya sendiri. dOJUxG

Suhu dada bidang Zhou Sheng dan detak jantungnya yang kuat seperti mimpi bagi Yu Hao. Yu Hao teringat kata-kata cinta yang paling menyentuh —— Aku ingin bangun bersamamu di ranjang yang sama setiap hari.

Wei!” panggil Zhou Sheng. “Apa kau masih mau tidur? Aku bertanya padamu.”

Please support our translators at langitbieru (dot) com

Yu Hao menoleh untuk melihat Zhou Sheng dan berkata tanpa daya, “Aku tidak bisa tidur kembali, tapi akan kucoba lagi.”

“Masih marah?” Zhou Sheng bertanya dengan bingung, “Ayo kita sarapan saja?” X3sl2t

Hati Yu Hao masih bergolak. Dia terus memikirkan Zhou Sheng, meskipun sebenarnya Zhou Sheng sedang berada tepat di sampingnya sekarang—sambil mengangkat payung hitam besar. Pria itu bahkan memiringkan payung lebih ke arah sisi Yu Hao sementara bahunya sendiri terkena hujan dan sisi kiri tubuhnya sudah basah kuyup. Mereka mengenakan celana pendek dan sandal saat melewati jalan setapak di kampus mereka menuju kantin untuk sarapan.

Musim hujan kota Ying telah tiba. Pagi ini di bawah hujan yang deras, Yu Hao secara misterius memiliki dorongan yang tak tertahankan di dalam hatinya. Seolah-olah depresi yang dia rasakan beberapa hari yang lalu telah benar-benar tersapu oleh hujan lebat. Saat Zhou Sheng mengangkat payung mengingatkan Yu Hao pada naga hitam di Chichén Itzá yang telah melindungi mereka dari hujan.

Kata-kata yang Fu Liqun dan Chen Yekai katakan kepadanya berputar-putar di benaknya, seperti bagaimana manik-manik yang tak terhitung jumlahnya berputar-putar dalam drum putar lotere. Selama beberapa hari terakhir ini, dia telah berpikir terus-menerus, mengguncang pikiran di kepalanya dengan keras berulang kali, putaran demi putaran, tapi tidak pernah berani untuk berhenti. Dia terpaku pada satu-satunya hadiah lotere itu, berharap itu akan menjadi yang terakhir yang akan keluar.

Hadapi pikiranmu sendiri, semua orang bilang begitu. Mungkin di mata orang lain sosok manis Zhou Sheng yang memegang payung untuknya ini adalah pacarnya. Namun, Yu Hao pernah mengalami kegagalan cinta yang tragis sebelumnya dan itu membuatnya mengerti bahwa ketika kau menyukai seseorang, banyak detail kecil yang cenderung secara tidak sadar dibesar-besarkan —— misalnya, ketika tindakan pihak lain sering kali tidak disengaja, dan tidak selaras dengan apa yang dia bayangkan. 6s8Ouh

Ketika kau menyukai seseorang, pasti akan ada suka dan duka. Satu senyuman atau gerakan sederhana saja dapat dengan mudah membangkitkan harapan seseorang dan dianggap sebagai bukti bahwa ‘dia menyukaiku’. Mengabaikan tanda-tanda yang tidak disukai dan hanya mempertahankan bukti yang disukai, memang begitulah sifat dasar manusia.

Zhou Sheng telah mengungkapkan sikapnya terhadapnya selama percakapan yang mereka lakukan di Malam Tahun Baru. Masuk akal bagi Yu Hao untuk tidak memiliki ekspektasi yang tidak realistis terhadapnya. Namubmn, sepanjang semester ini, jejak harapan yang samar-samar tiba-tiba saja muncul kembali di hatinya. Zhou Sheng mungkin bilang dia tidak menyukainya saat itu, tapi itu tidak berarti dia tidak menyukainya sekarang atau seperti yang dikatakan Chen Yekai dan Fu Liqun, mungkin Zhou Sheng hanya tidak mau menghadapi perasaannya sendiri?

Penonton melihat permainan catur lebih baik daripada para pemainnya. Mungkin, jika dia mencoba sekali lagi, maka masih ada harapan?

Yu Hao benar-benar ingin berhenti mengocok kotak hadiahnya dan sesegera mungkin mengundi loterenya. Dia akan menerima apa pun hasil yang muncul. Namun, mengocok kotak hadiah sudah menjadi kebiasaan, sehingga tanpa sadar dia akan mengocoknya hari demi hari, tahun demi tahun. Pada Malam Tahun Baru, Zhou Sheng menyuruhnya mencari pacar dan bila pengakuannya kali ini gagal lagi, Yu Hao merasa dia benar-benar harus mencari pacar dan melepaskan perasaannya pada Zhou Sheng. Jika tidak, hari-hari ketika ia mengkhawatirkan segala sesuatu yang bisa hilang atau didapatkan akan terlalu sulit untuk ia tanggung. ef17cb

Leave a Comment

For an easier time commenting, login/register to our site!

1 comment