English

Rumah Penganan - Sarang Kecil ~Chapter 24

1 Comment

Peringatan: Menyebut sedikit perkosaan dari masa lalu; Berhubungan Seks

Agi melemparkan kemejanya. Kase langsung terpikat oleh merah yang mekar dengan indah di bahunya. Dia hanya dapat melihat sebagian tatonya di bagian depan. Dalam ruang temaram yang hanya diterangi oleh satu lampu lantai, desain yang rumit dan halus itu terlihat indah di mata Kase. lnOFbM

Saat Kase memandanginya dengan kagum, Agi sudah membuka kancing kemeja Kase. Kase menerima ciuman saat Agi menanggalkan semua pakaiannya. Kase merasa gelisah menjadi pihak yang tidak melakukan apa-apa. Dia membiarkan pandangannya berkelana. Dia dapat melihat si kucing di pinggiran karpet dan untuk alasan tertentu dia memalingkan mukanya.

“Ada apa?”

Read more BL at langitbieru (dot) com

Wajah Agi terlihat saat Kase menengadah ke arahnya, lalu pipinya memerah. Dia menggelengkan kepalanya sekali untuk memberitahu tak ada apa-apa. Dia berpengalaman sebagai top. Ini sekadar mengganti posisi. Tak akan ada yang tak terduga atau di luar kebiasaan yang terjadi. Dia tahu, tapi tetap saja dia cemas.

Agi menghujaninya dengan ciuman, seolah ingin melemaskan bibir yang digigiti Kase karena gugup. Dia terus mengubah sudut ciumannya, lalu bergeser melalui pipinya, ke daun telinganya, dan secara mengejutkan, bahkan ke kelopak matanya. Jalurnya berputar turun lagi menuju lehernya. Berangsur-angsur Kase merasakan lahirnya keresahan yang berbeda. q6TFK

Agi menuntun dengan cara yang berbeda darinya. Jauh lebih lembut. Rasanya tidak pantas untuknya. Saat dia merasa resah, Agi menciuminya secara diagonal dari sisi kiri dadanya ke bawah. Kemudian ke sisi kanan. Dan lebih ke bawah lagi. Dia tahu apa yang ada di sana tanpa perlu melihatnya. Agi menggunakan bibirnya dengan cermat mengikuti bekas-bekas luka bakarnya yang jelek.

“…A-Agi-san, kau tak perlu melakukannya.”

Dia akhirnya berkata-kata.

“Melakukan apa?” 4O0NUD

“Memperlakukanku dengan lembut—”

“Aku tidak melakukan hal yang spesial, kok.”

Kase bingung. Benarkah? Ini normal? Dia kurang begitu yakin. Pikirannya berserakan ke mana-mana ketika pinggulnya tersentak ke udara karena Agi mencium kontolnya yang sudah sedikit tegang.

“A-Agi-san… Nnghh.” Lk0nYR

Kase memejamkan matanya menikmati sensasi itu saat Agi perlahan melahapnya. Kase pernah menyepong sebelumnya, tapi dia tidak pernah mendapatkannya. Dia tahu apa yang diperlukan saat melakukannya, tapi mengalami sensasinya secara langsung membuatnya sama sekali luluh lantak.

Ketika lidah Agi menyentuh bagian yang sensitif, bulir keringat mengembun di dahinya. Seluruh darahnya tampaknya mengalir pada sesuatu di antara kedua kakinya. Saat kenikmatan luar biasa menyerbunya, sekujur tubuhnya menggigil.

Satu ujung jari meminjam cairan dari sepongan untuk mengusap bolak-balik sepanjang celah sebelum berhenti di area kecil tersembunyi lalu mengusap dengan gerakan memutar di situ. Lubang kecil itu melemas dan jarinya masuk ke dalam.

We’re sorry for MTLers or people who like using reading mode, but our translations keep getting stolen by aggregators so we’re going to bring back the copy protection. If you need to MTL please retype the gibberish parts.

Kase memejamkan matanya. Hanya satu jari, jadi tidak sakit. Tapi rasanya sangat aneh dan tak nyaman. Dia tak mampu berkata-kata. Jari itu memompa keluar masuk dan dia dengan nekat mencoba menahannya, lalu Agi duduk tegak sambil berkata, “Tunggu di sini,” dan meninggalkan ruang keluarga sebentar. Ketika kembali, dia sudah membawa satu botol kecil di tangannya. Kase bisa menebak isi botol itu, meskipun tidak pernah menggunakannya sebelumnya. LazcpE

“Agi-san, aku…”

“Kau akan berteriak kesakitan kalau aku memasukkannya tanpa memakai apa-apa.” Agi membuka tutup botol itu lalu meneteskan cairan kental ke tangannya.

“Tapi…”

Agi memposisikan diri di antara kaki Kase, yang tidak bisa terus menolaknya. Agi mendorong kedua lututnya untuk merenggangkannya lebih lebar. Kase dengan takut-takut merentangkan kakinya untuknya. Jari yang dilumuri cairan kental itu menyentuh kerutan yang ketat. 1N7j6q

“Aku akan melakukannya dengan lembut, jadi lemaskan dirimu.”

Agi memijat tempat itu, yang sudah sedikit melemas, untuk melonggarkannya lagi. Kase meringis merasakan ketidaknyamanan dan malu. Dia tidak pernah tahu membuka tubuhnya dan mempercayakannya pada seseorang akan membuatnya begitu rentan.

Story translated by Langit Bieru.

Saat jari itu mendorong ke dalam, tanpa sadar dia menahan napas. Sensasinya tidak menyenangkan, seolah organ dalamnya diperiksa dan disodok secara langsung. Ketakutan muncul, dia dapat dengan mudah disakiti di situ. Tidak setiap orang bisa menerimanya kecuali dia menaruh kepercayaan begitu banyak pada orang itu. Terlintas satu pertanyaan dalam benaknya ketika dia mencoba bertahan melaluinya. Apakah dia pernah membuka tubuh mantannya selembut ini?

“…Ngh.” raIc4V

Tubuhnya terguncang oleh suatu intensitas yang mendadak meledak di dalam dirinya.

“Di sini?”

Setiap kali Agi mengusap titik itu, perasaan tak menentu mengalir dalam dirinya, rasanya seperti ingin menangis atau terbang lalu jatuh hingga berkeping-keping—antara sensasi ketidaknyamanan dan kenikmatan. Sedikit demi sedikit, perasaan itu kemudian condong ke arah kenikmatan.

“Berhenti… jangan di situ… nghh.” 0j1Mlt

Paha bagian dalamnya gemetar ketika Agi menekan titik itu dengan kuat. Pinggulnya menggeliat dan menggelinjang. Ini tubuhnya sendiri, tapi tubuhnya tak mau mendengarkannya. Dia tidak suka. Menakutkan. Dia ingin berhenti. Kase menggelengkan kepala dengan putus asa.

“Tak apa, tak apa-apa. Serahkan semuanya padaku.”

Agi menenangkan Kase dengan lembut, tapi jari yang terbenam dalam dirinya tidak menghentikan gerakannya.

“…Nnghh, ngngh…” qHDzwo

Kase menutupi mulutnya dengan punggung tangannya untuk menahan suaranya. Dia dapat menolerir rasa sakit dan tekanan, tapi merasa terkejut betapa kecil pertahanannya terhadap kenikmatan ini. Dia tidak terbiasa membuka dirinya seperti ini.

“Kalau kau menahan suaramu, aku jadi semakin ingin mendengarnya.”

Agi menambahkan jari lain sambil berbisik. Dia juga melumuri lebih banyak pelumas. Gesekan-gesekan yang halus membuat suara-suara basah yang keras. Area yang sempit itu berangsur-angsur merenggang lebih lebar, dan jari-jari itu menjadi semakin berani. Kenikmatan berputar-putar dan merebak bahkan sampai ke telapak kakinya, membuatnya semakin panas, lalu dia menggosokkan tumitnya di karpet.

“A-aku tak tahan lagi…” HjQ2CY

“Kita masih belum melakukan apa-apa, tahu,” Agi berkata, sedikit khawatir. Jarinya terus membantu tempat yang peka itu, lebih memacu Kase. Ledakan kenikmatan datang susul-menyusul. Terlalu kuat baginya, dia tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan.

Kase berpegangan erat pada Agi dan memohon, “Tidak, cepatlah… ngh.”

Sebagai respon, Agi menarik tubuhnya. Dia menarik jari-jarinya lalu menggantinya dengan sesuatu yang lain dan mendorongnya di situ. Kase terkejut. Sebelumnya Kase lah yang memasukkan, ketakutan menyerbunya. Sedikit demi sedikit, tekanan itu menerobos memasukinya, dan dia mulai membuka untuk menerimanya.

Kase merasa kesulitan bernapas saat dia mencoba menelan bagian ujungnya. Ada rasa sakit memang, tapi kesulitan yang paling terasa. Kemudian secara tiba-tiba, tak disangka menjadi lebih mudah. Tampaknya bagian yang paling besar sudah lewat. Mungkin karena di awal terlalu besar jadi sekarang terasa lebih mudah. Walaupun begitu, faktanya tak berubah, dia menderita. ywjDQX

“Kau baik-baik saja?” Agi bertanya, mereka berdua terhubung sangat dalam. Suaranya serak, dan napasnya tak teratur. Kase dapat melihat Agi menahan dirinya supaya tidak membebani Kase yang tidak terbiasa.

Agi memanfaatkan waktunya dengan perlahan dan hati-hati bersamanya.

Story translated by Langit Bieru.

Karena berbagai upayanya, meskipun ini kali pertamanya, tapi Kase hampir tidak merasakan sakit. Tetap saja, dia merasa tertekan telah menerima laki-laki lain di tempat yang tidak dirancang untuk itu, dan dia tidak dapat bernapas dengan baik.

Sambil menghela napas dengan berat, Kase teringat saat melakukannya dengan mantannya. SrAQmC

Jauh dari kehati-hatian. Dia memerkosanya karena marah ketika mantannya tidak berperilaku sesuai dengan yang dia inginkan. Sekarang Kase menjadi penerima. Dia menyadari seberapa banyak rasa sakit dan penderitaan yang telah dia berikan pada mantannya. Dia sudah bersalah. Tak heran mantannya tidak mencintainya. Dia memahaminya dalam-dalam sekarang saat Agi melakukannya padanya.

“Hiroaki?”

Agi menyeka jarinya di mata Kase.

“Kau kesakitan? Kalau terlalu sakit buatmu, kita bisa berhenti.” H5EDTm

Sebelum sempat menyadarinya ternyata dia sudah mulai menangis. Kase menggelengkan kepalanya.

“Tidak terlalu sakit. Denganmu, aku ingin melakukannya, meskipun sakit.”

Ketika Kase melingkarkan lengannya di tubuh Agi, yang memberinya pandangan yang tak dapat dijelaskan.

Agi menyingkirkan rambut yang menempel karena keringat di dahi Kase dan memberinya ciuman untuk memanjakannya. Agi melakukan goyangan kecil dengan pinggulnya yang membuat seluruh permukaan kulit Kase meremang. Dia jelas mengenali kenikmatan ini. a5pcQ

“Sakit?”

Kase menggelengkan kepalanya. Tidak sakit. Enak rasanya. Namun dia tidak bisa jujur dan menyerahkan dirinya pada kenikmatan ini. Dia telah melakukan sesuatu yang sangat buruk dan kejam pada orang lain, dan rasanya salah baginya saat dia diperlakukan begitu lembut.

Agi meraih tangan yang bimbang entah mau melakukan apa dan mendorong lidahnya memasuki mulut Kase yang sedikit terbuka. Agi perlahan bergoyang masuk ke dalam dirinya. Lalu dia merasa seperti berenang menembus madu yang hangat, atau seperti sirup permen karet yang telah dituangkan dari atas kepalanya. Dia merasa seolah akan tenggelam dalam rasa manis, yang dapat membakar hingga dadanya.

“…Nngh.” FOMxnd

Agi menumbukkan ujungnya pada titik lemah Kase. Dia mengusap-usap dengan keras, sehingga Kase tidak dapat menahan suaranya. Agi menjepit lengannya yang mencoba untuk berontak dan terus menyerang titik yang sama.

“…Nghh, ahhh, ah, ah, ah.”

Kenikmatan yang begitu kuat mengayun jarum meteran di kepalanya sampai ke ujung sisi yang satu. Ketika Kase membuka matanya, dia melihat Agi memejamkan matanya erat-erat seolah menikmati rasa yang berlimpah. Gairah tampaknya mengendalikan goyangannya, tapi tidak begitu kenyataannya. Meskipun begitu intens, tapi tidak terasa sakit. Kase hanya merasakan kenikmatan.

“Berhenti… ngh. Aku… bisa jadi gila…” w8OT6k

Kase merasa seolah akan meleleh sampai intinya seperti gula yang terpapar pada panas. Agi memutar pinggulnya dan menumbuk jauh ke dalam di tempat mereka terhubung, dan kenikmatannya semakin bertambah kuat. Dia mencapai puncak dalam sekejap mata.

Seluruh darah di dalam tubuhnya tampaknya berkumpul di satu titik, dan sesaat kemudian, dia terbang terburai.

Story translated by Langit Bieru.

Bahkan bagian yang menelan Agi sepenuhnya, mengejang bersamaan dengan pelepasannya. Kase tenggelam dalam lautan kenikmatan, merasa kesulitan untuk bernapas. Dia akan tenggelam. Dia akan mati dari kenikmatan yang berlimpah.

Kase membiarkan tubuhnya berayun mengikuti ritme ketika tiba-tiba Agi menghentikan gerakannya. ZFvYq7

Sesuatu yang panas melesat memasuki tubuhnya.

Panasnya tidak cepat menghilang, tak seperti ketika kontolnya dirangsang secara langsung. Sementara Kase tenggelam dalam sensasi madu yang kental dan hangat, Agi menyodoknya lagi dalam-dalam, seolah berusaha melukisnya dengan pelepasannya.

“…Ah, belum, ahh, aaah.”

Saat pelepasannya menyebar di dalam tubuhnya dengan sodokan-sodokan itu, seluruh pinggulnya mulai berdenyut panas. Ketika dia mencapai permukaan untuk menghirup udara, gelombang lain menyerbunya lagi, menenggelamkannya bersama seluruh akalnya. qfX607

Leave a Comment

For an easier time commenting, login/register to our site!

1 comment