English

Tiandi BaijuCh1 - Kemana saja kamu selama ini?

0 Comments

Penerjemah Inggris : beansprout & grape seed

Penerjemah Indonesia : jeff htaoBL


MASA DEPAN

Suatu kali, dia pikir dia bisa menghabiskan sisa hidupnya dengan seseorang sampai rambut mereka memutih. Tetapi kenyataan telah membuktikan bahwa emosi orang yang belum memahami kehidupan dengan baik adalah seperti coretan di dinding-dinding bangunan yang hancur — tersapu angin kencang dan porak poranda oleh hujan, perlahan-lahan menghilang, hari demi hari. Ketika seseorang kembali berkunjung beberapa bulan kemudian, tembok itu tidak lagi ada, dan hanya tumpukan batu bata dan puing-puing yang tersisa. Dan dalam beberapa tahun lagi, bahkan kaki tembok akan sepenuhnya terlepas.

Langit Bieru.

Zhou Luoyang dengan cepat turun ke bawah, mencoba melepaskan kabel kusut dari headphone-nya. Di bagian bawah bangunan tempat tinggalnya ada sebuah cermin rusak dan berdebu yang telah dibuang oleh seorang penduduk. Dia merapikan pakaiannya dan secara kasar menyisir rambutnya di depan cermin. Dia mengayuh sepedanya keluar dan melompat, lalu memakai headphone-nya kembali.

Tanggal Tujuh September: matahari siang yang cerah bersinar tinggi; sinar matahari siang itu sangat cemerlang. Embusan panas awal musim gugur menyergapnya dalam sekejap. Tercermin pada dinding kaca dari gedung-gedung tinggi yang tak terhitung jumlahnya, Kota Wan tampak seperti sangkar laser besar di beberapa alam mimpi yang terfragmentasi. 7jQUzx

Zhou Luoyang bersenandung seiring dengan irama musiknya. Dari waktu ke waktu, dia berhenti di persimpangan lampu lalu lintas. Terayun-ayun mengikuti musik, ia mengatur tujuannya ke sebuah restoran. Di antara kerumunan jam sibuk, dia seperti ikan keras kepala yang berenang melawan arus saat dia berangkat menuju Cincin Kedua untuk segera menuju tempat yang dijanjikannya.

“Manfaatkan ini sepenuhnya,” kata orang yang mengatur janji dengannya melalui telepon, “Jangan bercanda lagi.”

Zhou Luoyang bersandar pada setang dan berkata tanpa daya, “Aku tahu. Bukankah ini hanya makan bersama? Kenapa kamu lebih khawatir daripada aku?”

Suara dari balik telepon itu kembali datang: “Aku mencoba membuatmu dengan cepat menemukan cara untuk melunasi hutang-hutangmu kepadaku.” dWzK1A

Zhou Luoyang memarkir sepedanya di trotoar. Dia memutar tutup botol airnya dan berkata, sambil tersenyum, “Apakah tuan kecil ini kelihatan seperti seseorang yang tidak membayar kembali uang yang sudah dia hutang? Aku sudah sampai. Sampai jumpa lagi. Aku akan menutup teleponnya sekarang.”

Setengah tahun sejak dia datang ke Kota Wan, Zhou Luoyang sudah mengurus segala hal yang harus diurusnya. Dia melunasi sebagian hutangnya, meminjam sejumlah uang dari teman-temannya, dan menyewa sebuah apartemen di antara Cincin Ketiga dan Cincin Kedua. Setelah dia membuat inventaris tentang warisan yang ditinggalkan kakeknya, dia pindah ke sini, mencoba memperbaiki kehidupannya di kota besar ini untuk bisa menghidupi dirinya dan adik lelakinya.

Ruangan pribadi No. 12 … Pihak lain yang sudah memiliki janji dengannya ini adalah eksekutif pria. Zhou Luoyang memeriksa ponselnya. Dia mengetuk pintu dan mendengar suara tegas dari dalam ruangan, “Masuk.”

Zhou Luoyang memasuki ruangan pribadi itu dan tersenyum pada pria yang sudah lebih dulu berada di sana. Pihak lain saat ini sedang berbicara di telepon dengan seseorang, dan dia memberi isyarat kepada Zhou Luoyang untuk duduk terlebih dahulu dan menunggu sebentar. rFOt70

Pria itu berumur sekitar empat puluh tahun. Dia saat ini sedang berbicara masalah bisnis di telepon. Zhou Luoyang melirik ponselnya; dari apa yang dia kumpulkan dari “info tambahan” yang dikirim oleh orang yang memperkenalkan mereka baru saja adalah, orang ini adalah bos sebuah perusahaan real estate. Dia sukses dalam bisnisnya tetapi dia seorang gay, dan dia ingin menemukan pasangan pria yang cocok untuk bisa diajak menghabiskan sisa hidup bersamanya.

Apa maksudnya ini? Zhou Luoyang bertanya-tanya, aku di sini bukan untuk kencan buta. Aku di sini untuk mencari mitra bisnis!

“Halo, Zhou Luoyang,” kata pria paruh baya itu, “Namaku Yu Jianqiang.”

Karena dia sudah ada di sini, Zhou Luoyang hanya bisa mengangguk. Setelah dia bersepeda sepanjang jalan menuju tempat itu, kemeja putihnya basah oleh keringat, memperlihatkan garis-garis pucat dan samar di ototnya. Ketika AC di dalam ruangan itu terus bekerja, tubuhnya menggigil, tiba-tiba merasa hawa di ruangan itu agak dingin. Dengan senyum tajam di matanya, Yu Jiangqiang menatapnya naik turun beberapa kali dan tampaknya cukup senang dengan penampilannya. Zhou Luoyang merasa sedikit tidak nyaman di bawah pengawasannya. I4sJ7B

“Hari ini cukup panas,” kata Yu Jianqiang. “Apakah kamu berjalan ke sini?”

Tepat ketika Zhou Luoyang hendak menanggapi, Yu Jianqiang menerima panggilan telepon lain dan hanya bisa memberi isyarat padanya untuk duduk. Kemudian dia memberikan menu dan memintanya untuk memesan terlebih dahulu, sebelum berdiri dan berjalan ke samping untuk menerima panggilan.

Zhou Luoyang melihat menu sambil mendengarkan dengan saksama apa yang dikatakan Yu Jianqiang melalui telepon. Pada dasarnya, dia sedang mendiskusikan tawaran dan membeli tanah.

“Aku benar-benar minta maaf.” Yu Jianqiang menutup telepon sekali lagi dan menjelaskan, “Aku ingin membeli sebidang tanah. Lelang akan dilakukan besok.” 4mZ81t

Zhou Luoyang mengangguk dengan tergesa-gesa. Laki-laki ini mungkin sangat sibuk dengan pekerjaannya, namun dia tetap menepati janji mereka, yang menunjukkan betapa dia sangat menghargai Zhou Luoyang — atau orang yang memperkenalkan mereka.

“Aku dengar kamu datang ke kota ini baru-baru ini?” Yu Jianqiang menutup teleponnya. “Apa kamu sudah menemukan pekerjaan?”

Please support our translators at langitbieru (dot) com

“Belum.” Zhou Luoyang menyerahkan menu kembali kepadanya dan berkata, “Kamu bisa memesan apa pun yang kamu inginkan. Aku tidak masalah dengan apa pun. Aku sudah berada di kota ini setengah tahun, sibuk pindahan dan mengurus beberapa barang rumah tangga.”

We’re sorry for MTLers or people who like using reading mode, but our translations keep getting stolen by aggregators so we’re going to bring back the copy protection. If you need to MTL please retype the gibberish parts.

“Bidang apa yang kamu pelajari?” 3tPI7O

“Teknik Mesin.”

“Apa kamu berasal dari kota ini?”

“Yah … kakekku dari kota ini. Setelah dia meninggal, tidak ada yang menempati rumahnya.” Zhou Luoyang kemudian menjelaskan, “Ibu dan ayahku sudah lama meninggal. Aku datang ke sini dengan adik laki-lakiku untuk mencari nafkah.”

“Kamu punya adik laki-laki?” Yu Jianqiang sedikit terkejut. Dia belum mendengar hal itu dari orang yang memperkenalkan mereka. Sambil tersenyum, dia bertanya, “Apakah dia setampan kamu?” ZxU5ad

“Dia lebih tampan dariku.” Zhou Luoyang tersenyum lagi, mengungkapkan gigi seputih mutiaranya. Dia berkata, “Dia baru berusia enam belas tahun. Dia akan segera masuk SMA kelas satu.”

Yu Jianqiang mengangguk tanpa tergesa-gesa dan berkata, “Pekerjaan apa yang kamu cari? Tidak mudah bagi lulusan baru untuk mendapatkan pekerjaan akhir-akhir ini …”

Zhou Luoyang berkata, “Aku punya keahlian.”

“Oh!” Yu Jianqiang sedikit terkejut lagi. Saat makanan mereka disajikan, Zhou Luoyang berkata, “Awalnya, aku ingin mengambil alih toko kakekku, tetapi bisnis beberapa tahun terakhir ini begitu-begitu saja, tidak ada kemajuan, dan sekarang kami memiliki sedikit hutang. Kami tidak punya pilihan selain menutup toko terlebih dahulu dan mencari jalan keluar lain. Aku harap kami akan memiliki kesempatan untuk membukanya kembali di masa depan.” P2OKvI

Yu Jianqiang mengangguk dengan simpati. Dia berkata, “Toko macam apa itu?”

“Jam, barang antik,” jawab Zhou Luoyang setelah beberapa saat perenungan.

“Berapa banyak hutangmu?”

“Lebih dari enam juta.” q7Adu6

Sebuah pertanyaan, sebuah jawaban. Nada bicara Zhou Luoyang sangat santai, seolah-olah mereka sedang mendiskusikan urusan orang lain. Yu Jianqiang mengeluarkan sebotol anggur merah, dan Zhou Luoyang bergegas berdiri untuk mengambilnya sehingga dia bisa menuangkannya untuk mereka. Mengawasi anak ini, Yu Jianqiang secara otomatis mengikutinya.

“Apa kamu bisa minum? Jika bisa, minumlah sedikit bersamaku.”

Zhou Luoyang tidak bertanya kepadanya apakah dia sedang mengemudi atau tidak, dengan asumsi dia punya sopir atau bisa menyewa seseorang untuk mengantarnya. Dia mengangguk dan menuangkan anggur di tangannya.

Yu Jianqiang berkata, “Ketika aku seusiamu, aku masih belajar bagaimana melakukan bisnis dari kakak laki-lakiku dalam perdagangan. Awalnya aku tidak punya apapun. Kamu mungkin bisa mengatakan jika hidupku dipenuhi dengan berbagai rintangan …” jBiCLJ

Setelah mereka minum sedikit anggur merah, Zhou Luoyang bisa merasakan bahwa Yu Jianqiang sedikit mendominasi dan tidak terlalu cocok. Atau, sebenarnya, dia tidak memiliki harapan yang sangat tinggi untuk memulai pertemuan hari ini. Dia mengerti apa yang dimaksud orang yang memperkenalkan mereka: Yu Jianqiang dapat menyelesaikan masalah ekonominya yang paling mendesak dan membantunya melewati masa-masa paling sulit ini.

Setelah itu? Zhou Luoyang juga tidak yakin.

Read more BL at langitbieru (dot) com

Memerah karena anggur, Yu Jianqiang sama sekali tidak memiliki niatan untuk berhenti berbicara. Dia terus mengoceh kepada Zhou Luoyang tentang bagaimana dia membangun dirinya dari ketiadaan. Seperti seorang pewawancara, dia terus menginterogasi Zhou Luoyang; paling sering, dia akan bertanya tentang rencananya untuk masa depan. Akhirnya, dia menyalakan sebatang rokok. Asap mengepul di sekitar ruangan. Sambil memegang rokok di antara jari-jarinya, dia mengetuk Zhou Luoyang dengan jari tengahnya.

“Biarkan kakak ini bicara,” kata Yu Jianqiang, “Aku adalah orang yang memang seperti ini: kata-kataku tidak terdengar sangat cantik, jadi jangan tersinggung, adik.” W4zk5h

Zhou Luoyang batuk dan memaksakan dirinya untuk tersenyum. “Bagaimana aku bisa?”

Yu Jianqiang berkata, “Kamu mungkin sangat membutuhkan uang saat ini, benar bukan?”

Zhou Luoyang dengan tulus menjawab, “Ya, aku bahkan tidak tahu di mana aku akan mendapatkan biaya hidupku untuk bulan depan.”

Yu Jianqiang berkata, “Jaga kakimu tetap tertanam di tanah — bersikaplah realistis. Jangan pikirkan toko yang ditinggalkan kakekmu lagi. Yang harus dilakukan adalah mencari pekerjaan.” Q5lXo2

Zhou Luoyang mengangguk, dan Yu Jianqiang berkata, “Kalian semua, termasuk kamu, adalah seorang yang memiliki ilmu. Aku tidak tahu apakah pantas untuk mengatakannya seperti ini, tetapi pada pandangan pertama, aku melihatmu cukup bersemangat. Murah senyum, dengan karakter yang baik dan jujur, dan tidak tahu tentang kekejaman masyarakat.”

“Ah …” kata Zhou Luoyang.

Yu Jianqiang melanjutkan, “Aku tahu kamu tidak tahu bagaimana harus mengatakannya terlebih dahulu, jadi aku akan melakukannya. Aku akan memberimu dua belas ribu sebulan, dan kamu bisa menyewa tempat. Di waktu luangku, aku akan mendatangimu, dua atau tiga kali seminggu. “

Zhou Luoyang berpikir dalam hati, Sepertinya dia bermaksud memilikiku dengan dua belas ribu sebulan. Bagaimana bisa pencarian mitra bisnisku berubah menjadi kencan buta setengah jalan? Ketika aku kembali, aku harus memukuli orang yang menjebak kami. WSLvF5

Tetapi dia memiliki pengendalian diri yang sangat baik dan tidak segera bangkit dan pergi.

Setelah merenungkannya, Zhou Luoyang bertanya dengan manis, “Gege, apakah aku akan berada di atas atau bawah?”

Yu Jianqiang terdiam.

“Jika aku di bawah,” kata Zhou Luoyang, merasa sedikit sulit, “dua belas ribu sebulan sepertinya sedikit rendah.” 1do eI

Ini bukan pertama kalinya Yu Jianqiang menggunakan uang untuk mempermalukan seseorang, tetapi Zhou Luoyang adalah orang pertama yang berani melakukan tawar-menawar dengannya. Dia langsung terdiam. Dia menatap kosong sejenak sebelum tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Lalu dia berkata, “Kamu sangat lucu, anak kecil.”

Zhou Luoyang berkata dengan pura-pura ingin tahu, “Aku tidak yakin berapa harga pasar saat ini. Aku ingat bahwa mahasiswa sarjana mendapat 20.000 per bulan, bulan lalu.”

Sambil tersenyum, Yu Jianqiang menilai Zhou Luoyang. Dia tampak agak mabuk sekarang. Dia berkata, “Baiklah, kamu melakukan tawar-menawar yang sulit. Berapa banyak yang kamu inginkan?”

Zhou Luoyang berkata dengan tegas, “Aku memiliki keahlian. Pada akhirnya, kamu harus menambahkan empat ribu lagi. “ x0eJz6

Yu Jianqiang tahu bahwa Zhou Luoyang mengejeknya, tapi dia tidak marah. Dia berkata dengan ringan, “Lalu bagaimana dengan enam belas ribu? Mengapa kamu tidak mencoba untuk memikirkannya?”

Dari saat dia mengatakan “dua belas ribu,” sebelumnya, Zhou Luoyang tahu bahwa pertemuan hari ini hanya akan membuang-buang waktunya. Tapi demi kesopanan, dia tersenyum dan tidak mengatakan apa-apa, meskipun dia tidak bisa menahan mengembuskan napas pelan.

Read more BL at langitbieru (dot) com

Yu Jianqiang memanggil seseorang untuk membayar tagihan mereka, lalu memanggil sopirnya, siap untuk pergi. Tepat sebelum dia pergi, sifat kompetitifnya menyala lagi, dan di hadapan senyum mengejek pemuda berusia dua puluh tahun ini, kemarahannya tidak akan hilang. Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengucapkan kata terakhir.

“Jika kamu ingin uang, dapatkan sendiri,” kata Yu Jianqiang santai. “Di dunia ini, tidak ada orang entah itu kerabat atau temanmu yang mau membayarkan hutangmu. Selain itu, kamu tidak memiliki penampilan untuk itu.” WUdnDb

“Aku pasti bisa mendapatkan uang. Tidak perlu menyusahkan dirimu untuk itu. Makanannya belum habis. Presiden Yu, kamu tidak berniat membawanya?” Zhou Luoyang berkata, tersenyum. “Itu agak boros, bukan? Kamu bisa membawanya pulang untuk diberikan kepada anjingmu. Prinsip apa yang harus digunakan di balik membangun diri sendiri dari ketiadaan? Bukankah itu untuk meningkatkan pendapatan dan mengurangi pengeluaran?”

Yu Jianqiang tampak bingung dengan kata-kata yang diucapkannya.

Dia tidak yakin mengapa, tapi dia merasa ingin memukulnya.

“Presiden Yu, mari kita bertemu lagi lain kali!” Cx5FIO

Zhou Luoyang tidak memberinya kesempatan itu. Sebaliknya, dia membuka pintu dan berjalan keluar.

Tepat di saat yang sama, seseorang berjalan masuk. Zhou Luoyang sedikit ceroboh dan tidak bisa menghentikan dirinya tepat waktu, tiba-tiba menabraknya.

Itu adalah seorang lelaki jangkung, bertubuh ramping, berkulit putih yang tampak memegang tagihan yang sudah dibayar. Dia menyerahkannya kepada Yu Jianqiang.

Zhou Luoyang segera meminta maaf, mundur setengah langkah. Dia menatap tepat ke wajah asisten pria itu, tertegun. JWx ui

“Kemasi makanan itu dan bawakan untuk dia, gunakan itu untuk memberi makan anjingnya, lalu antar dia pulang.” Yu Jianqiang bahkan tidak melihat ke arah Zhou Luoyang saat dia memberi perintah kepada asistennya dan kemudian berjalan melewati mereka berdua.

Di dunia kecil yang tertinggal di ruangan itu, semuanya hening.

Pria itu mengenakan setelan yang disetrika dengan baik dan kacamata hitam. Dia berdiri di dekat pintu. Wajahnya ramping, alisnya tebal dan gelap. Ada bekas luka mengerikan yang mengalir di pipi dan hidungnya, seolah-olah seseorang telah membawa pisau ke jembatan hidungnya yang tinggi dan kuat.

Dalam pencahayaan ruangan, bekas luka itu tampak sangat berbeda. P8GlhE

“Siap berkemas untuk pergi?” pria itu bertanya, suaranya terdengar dalam.

“Du Jing?!” Zhou Luoyang terkejut. Dia bergumam, “Bagaimana kabarmu?”

Zhou Luoyang tanpa sadar mengambil setengah langkah menuju asisten itu. Dia ingin mengangkat tangannya untuk menariknya, atau menepuknya. Tetapi setelah mengangkat tangannya, dia menghentikan gerakannya. Pria itu tidak menyangkal identitasnya. Bagaimanapun, wajahnya adalah pernyataan yang sangat jelas tentang siapa dia; tidak ada gunanya untuk menyangkalnya.

Seorang pelayan masuk untuk mengemas sisa makanan. Zhou Luoyang dan Du Jing berdiri di sana, saling berhadapan. Waktu seolah terhenti di sekitar mereka. 4DKFXq

Kemudian, Zhou Luoyang ingin menjangkau dan melepas kacamata hitam Du Jing. Tetapi ketika Du Jing melihatnya mengangkat tangan, dia mengambil inisiatif untuk melepasnya terlebih dahulu.

“Kamu asisten orang itu?” Zhou Luoyang tertegun bodoh. Dia memandang Du Jing dari atas ke bawah dan berkata, “Tentu saja bukan!”

Please visit langitbieru (dot) com

Du Jing tidak menjawab. Dia memalingkan muka dari mata Zhou Luoyang dan mengawasi pelayan yang tengah mengemas makanan.

“Kamu punya anjing sekarang?” Du Jing tiba-tiba bertanya. DI7iuA

Zhou Luoyang tidak menjawab. Dia berkata, “Setelah kamu berhenti sekolah, tidak ada kabar tentangmu lagi. Kemana saja kamu selama bertahun-tahun ini?”

Du Jing mengambil tas kertas yang selesai dikemas dari tangan pelayan disana, mengenakan kacamata hitamnya, mendorong pintu terbuka, dan keluar terlebih dahulu. Zhou Luoyang dengan cepat bergegas mengejarnya. Untuk sesaat, ingatan yang tak terhitung jumlahnya muncul dalam benaknya. Saat dia melihat punggung Du Jing, ingatan itu, seperti pecahan yang hancur, muncul kembali sekali lagi di bawah cahaya sore hari dari lampu jalan.

“Di mana kamu parkir?” Du Jing bertanya.

“Ingin pergi ke suatu tempat untuk minum-minum?” Zhou Luoyang berkata. Pqu65T

Sejak mereka berdua bertemu kembali, masing-masing dari mereka telah mengatakan hal mereka sendiri. Sekarang, akhirnya, Du Jing menjawab pertanyaan Zhou Luoyang dengan benar.

“Tidak, aku sibuk.”

Du Jing berdiri di sisi jalan. Dia menyerahkan kantong kertas kepada Zhou Luoyang, tetapi Zhou Luoyang tidak mengambilnya. Dia berkata, “Kamu bisa membuangnya.”

“Apa kamu mau memberiku nomor kontakmu?” Zhou Luoyang kemudian bertanya. y1o FN

Du Jing tidak menjawab, dan Zhou Luoyang tidak menekannya lagi. Dia sudah tahu sejak lima tahun yang lalu bahwa untuk berurusan dengan pria ini, kamu tidak bisa begitu saja menggunakan metode normal.

“Kalau begitu aku akan pergi.” Zhou Luoyang malah berkata. “Aku harap kita bisa bertemu lagi.”

Zhou Luoyang berjalan ke tempat dia memarkirkan sepedanya. Hanya saja, dia tidak bisa menemukan sepedanya. Setelah mengonfirmasinya berulang kali, ia hanya bisa menerima kebenaran — sepedanya mungkin telah dicuri.

Dari samping, Du Jing diam-diam menyaksikan Zhou Luoyang yang tengah mencari sepedanya. Sesaat kemudian, dia berkata, “Presiden Yu menyuruhku untuk mengantarmu pulang.” cjwDBm

Zhou Luoyang berkata, “Tidak perlu. Aku akan menyewa sepeda.”

Tapi Du Jing sudah mengeluarkan ponselnya dan berkata, “Alamat.”

Zhou Luoyang berdiri sejenak, lalu memberitahunya alamatnya. Du Jing memesan mobil dari ponselnya.

Zhou Luoyang meliriknya. Di pergelangan tangan kiri Du Jing ada sebuah gelang karet. aRDAzw

Dia mengulurkan tangan untuk menarik gelang karet itu, tetapi Du Jing secara mencolok bergerak sedikit sehingga Zhou Luoyang tidak bisa menyentuhnya.

Kota Wan sangat panas dan pengap di malam hari. Mereka berdua berdiri di sisi jalan. Kemeja Zhou Luoyang sudah basah kuyup oleh keringat. Dia melirik Du Jing, yang mengenakan setelan jas, dan bertanya, “Apa kamu kepanasan? Jika ya, lepas jaketmu.”

Story translated by Langit Bieru.

Du Jing tidak menjawab.

“Bagaimana kabarmu selama beberapa tahun terakhir ini?” Zhou Luoyang bertanya lagi. “Masih memakainya? Apakah penyakitmu sudah sedikit lebih baik?” N2ZrCT

“Aku melakukan seperti yang kamu sarankan dan mencoba untuk dirawat,” jawab Du Jing. “Aku tidak bisa. Itu tidak bisa diobati lagi.”

Zhou Luoyang menatap Du Jing dengan alisnya sedikit berkerut. Dia menghela napas dan menyisir rambutnya dengan jari. Jika segala kejadian yang terjadi hari ini digabungkan, itu masih tidak bisa dibandingkan dengan dirinya yang tiba-tiba bertemu lagi dengan Du Jing.

“Mau datang ke rumahku sebentar?” Zhou Luoyang bertanya.

Du Jing tidak mengatakan apa-apa lagi. Zhou Luoyang kembali mengingat kenangannya yang tak terhitung jumlahnya. Penyakit Du Jing datang secara berkala. Reaksi ini sangat mirip dengan ketika mereka masih bersekolah bersama, ketika mereka bertengkar di asrama mereka — saat itu, Du Jing akan berkata, “Jangan bicara padaku. Biarkan aku sendiri untuk sementara waktu.” JoynWm

Tapi saat itu, Zhou Luoyang akhirnya menemukannya lagi dengan susah payah. Bagaimana mungkin dia tidak mengatakan apa-apa?

“Aku …” Zhou Luoyang memikirkannya berulang-ulang, dan akhirnya berkata, “Du Jing …”

Mobil tiba. Du Jing membuka pintu, dan Zhou Luoyang duduk di dalam mobil terlebih dahulu. Awalnya dia mengira Du Jing akan bergabung dengannya di mobil — lagipula, dia sebelumnya berkata “mengantarmu pulang.” Dia tidak berharap Du Jing malah menutup pintu setelahnya.

jHBo6w

Translator's Note

Cincin Kedua (二环) adalah jalan tol berbentuk cincin yang berada di jantung Beijing. Agaknya, kota ini memiliki tata letak yang serupa, dengan Cincin Pertama mengelilingi jantung kota, Cincin Kedua di luar itu, dan Cincin berikutnya dibangun lebih jauh dan lebih jauh lagi dari pusat kota.

Leave a Comment

For an easier time commenting, login/register to our site!