English

Tiandi BaijuCh44 - Apa kamu menyukai Groot?

3 Comments

Penerjemah: Jeff


MASA KINI HfCp4d


“Kita tidak pernah memiliki rencana bepergian ke Vietnam bersama sebelumnya,” kata Zhou Luoyang kepada Du Jing dengan kesadaran yang tiba-tiba.

Du Jing sedang membeli jus di depan Kuil Mazu. Sementara menunggu jus selesai dibuat, dia juga membelikan Zhou Luoyang sebungkus rokok lokal. Zhou Luoyang sudah lama tidak merokok. Dia membuka bungkusnya dan mencobanya. Dia tidak menyukainya.

Read more BL at langitbieru (dot) com

“Permen itu sepertinya enak,” kata Zhou Luoyang. “Rokok ini rasanya tidak enak.”

Du Jing membuang rokoknya dan membelikannya sekantong permen rasa kopi. Zl01fV

“Tidak banyak yang bisa dilakukan di Ho Chi Minh,” kata Du Jing tanpa sadar. “Sebagian besar turis mengunjungi Nha Trang.”

Zhou Luoyang telah berganti pakaian setibanya mereka di Vietnam. Dia dan Du Jing sama-sama mengenakan kemeja  bermotif khas turis dengan celana pendek putih dan sepatu kets. Setelah menunggu tanpa hasil, mereka mulai berkeliaran tanpa tujuan. Kelompok wisata biasanya hanya memiliki rencana perjalanan satu hari di Ho Chi Minh; pada hari kedua, kelompok berangkat ke Nha Trang dan lokasi populer lainnya.

Hari ini mereka berencana mengunjungi Asosiasi Pelestarian Peninggalan Budaya Ho Chi Minh. Zhou Luoyang sangat menyukai disini, bahkan jika dia hanya berjalan-jalan dan melihat gedung-gedung dan pohon payung Cina yang ditanam selama masa kolonial Prancis.

“Tapi aku sangat menyukainya,” kata Zhou Luoyang, “karena tempat ini juga memiliki nama lain: Saigon.” IpW 81

“Aku mengenalmu dan aku akan selalu mengingatmu. Kamu masih muda saat itu,” kutip Du Jing, tenggelam dalam pikirannya.

“Kamu ingat!” Zhou Luoyang berseru.

“Tentu saja,” kata Du Jing. “The Lover adalah buku pertama yang aku pinjam darimu.”

Mereka berjalan beriringan. Tiba-tiba, Du Jing melompat, memetik bunga dari kanopi di atas kepala, dan memberikannya kepada Zhou Luoyang. Zhou Luoyang mengambilnya dan menyelipkannya di antara bilah pagar di sepanjang jalan. pTtojf

Asosiasi Pelestarian Peninggalan Budaya adalah organisasi pemerintah yang mengandalkan dana dari pemerintah Vietnam. Kantornya kecil, bangunannya sederhana berlantai dua. Setelah pembobolan sebelumnya, sekarang ada peningkatan penjagaan sementara, ada beberapa penjaga yang ditempatkan di luar gedung, tapi itu benar-benar hanya untuk penampilan.

Zhou Luoyang masuk dan menyapa ketua. Mereka bertukar basa-basi. Ketua sudah diberitahu tentang kedatangan mereka oleh Chen Biaojin. Bahasa Inggrisnya sangat beraksen, dan setelah beberapa kali bertukar sapa dan informasi, yang dia katakan benar-benar berkaitan dengan pelestarian artefak. Chen Biaojin masih di Hong Kong dan belum kembali.

Saat Zhou Luoyang pergi, dia memindai pajangan di aula lantai pertama.

“Apa benda ini bernilai uang?” tanya Du Jing. YSs4PX

“Benda-benda ini tak ternilai harganya,” jawab Zhou Luoyang. “Tapi sayangnya tertutup debu, dikurung tanpa perasaan di aula kantor. Tidak heran mereka menggantinya. Kita harus meminta Huang Ting untuk datang menyelidiki.”

Du Jing mengambil foto dengan ponselnya. Tidak ada staf di sekitar untuk menghentikan mereka. Tapi ketika keduanya pergi dan berjalan menyusuri gang yang diterangi matahari, Zhou Luoyang tiba-tiba menyenggol Du Jing, mengisyaratkan dia untuk melihat arah pandangannya.

Du Jing berbalik hampir seketika. Segera, dia merengkuh Zhou Luoyang dalam pelukannya dan menekannya ke dinding, mengurungnya dengan satu tangan disandarkan ke dinding bata dan tangan lainnya dimasukkan ke dalam saku.

Di belakangnya ada sebuah van yang suram. Pengemudinya bersandar di samping kendaraan itu, merokok. Dia melirik santai ke arah gang, tapi yang dia lihat hanyalah sosok Du Jing yang menutupi sosok dan pandangan Zhou Luoyang. ZdqEhr

Bagi pengamat, mereka tampak seperti pasangan lain yang mungkin sering terlihat berkeliaran di sekitar Saigon.

Tatapan pengemudi bergeser, tidak sedikit pun curiga. Seolah didorong oleh rasa bahaya yang intuitif, dia meludahkan sisa rokoknya dan pergi.

Please visit langitbieru (dot) com

Du Jing mengeluarkan ponselnya dan, tanpa melihat, mengeluarkannya dari gang dan mengambil sebuah foto. Ketika dia menariknya kembali, dia mengamati plat nomor di foto yang berhasil diambilnya.

“Kenapa aku merasa seperti pernah melihat van itu sebelumnya?” Zhou Luoyang bertanya. JH42Bk

Mungkin dia pernah melihatnya di Kuil Mazu atau Kuil Mariamman, tapi semua taksi lokal yang tidak terdaftar tampak hampir sama: suram dan kotor serta dipenuhi iklan beraneka ragam.

“Mata yang bagus.” Du Jing dengan tenang bertemu dengan tatapannya. “Kita pernah melihatnya sebelumnya.”

“Kamu ingat?”

“Kurang lebih.” Du Jing menelepon nomor Zhuang Li sambil mengiriminya foto tadi secara bersamaan. “Periksa ke arah mana van ini pergi.” lzbxKe

Zhou Luoyang telah memperhatikan van itu semata-mata karena kebetulan, namun dia menemukan petunjuk penting ini. Aneh rasanya sebuah van diparkir di luar Asosiasi Pelestarian Peninggalan Budaya, dan sama sekali tidak peduli dengan mencari penumpang. Tidak ada tempat wisata di dekat sini, jadi mengapa van itu ada di sana?

Zhuang Li mengidentifikasi menggunakan pelacaknya. “Nomor plat S3A201. Tidak ada penumpang hari ini. Sedang menuju Thao Dien setelah berangkat dari lokasimu saat ini.”

“Terus lacak pergerakannya,” perintah Du Jing sebelum menutup panggilan. Dia dan Zhou Luoyang merunduk ke sebuah kafe, di mana dia memesan kopi putih ipoh dan makan siang.

“Di sini pemandangannya bagus,” Zhou Luoyang mengamati. “Bahkan hari ini tidak hujan.” tKCbgm

We’re sorry for MTLers or people who like using reading mode, but our translations keep getting stolen by aggregators so we’re going to bring back the copy protection. If you need to MTL please retype the gibberish parts.

“Cqj lae yfcjg-yfcjg tfyja?” ajcsj Ge Alcu.

Zfcuulula iewqlj, Itbe Oebsjcu wfcujgjtxjc qjcvjcujccsj xf kjpjt Ge Alcu vjc wfcujkjrlcsj wjxjc.

“Bfcjqj xjwe wfcjajqxe?” ajcsj Ge Alcu.

“Bfwjcj ijul jxe tjger wfcjajq?” Itbe Oebsjcu wfwyjijr. “Ojcula-ijcula? Dexjcxjt xjwe peuj rfijie wfcjajqxe?” GOVThB

Vfpjx vlj aegec vjgl qfrjkja, qlxlgjc Itbe Oebsjcu afgqjxe qjvj qfgmjxjqjccsj rfyfiewcsj vfcujc Lejcu Klcu. Glj alvjx ylrj yfgtfcal wfwlxlgxjc afcajcu teyecujccsj vjc Ge Alcu vjc rfyfgjqj yfrjg qfgxfwyjcujccsj.

Ketika mereka bersama, mereka berdua jarang menggunakan ponsel kecuali benar-benar diperlukan; mereka akan mengobrol atau menikmati pemandangan. Zhou Luoyang kagum dengan cara kecanduan ponselnya dapat disembuhkan dan lingkungannya akan menjadi sunyi setiap kali dia bersama Du Jing.

“Aku perlu menggunakan ponselmu sebentar,” kata Du Jing.

“Silakan, bos.” 3MZkcI

Du Jing mengambil ponsel Zhou Luoyang. Setelah jeda, dia mengetuk beberapa nomor dan membukanya.

“Kata sandinya masih sama,” komentarnya.

Please support our translators at langitbieru (dot) com

“Aku sudah terbiasa menggunakannya,” jawab Zhou Luoyang. “Aku hanya terlalu malas untuk mengubahnya. Apa yang kamu lakukan?”

“Memeriksa Momen Tuan Lu.” kGwixe

“Lu siapa?”

“Lu Zhongyu,” kata Du Jing. “Pengagummu.”

Zhou Luoyang tidak tahu apakah harus tertawa atau menangis. “Jangan bercanda.”

Jika Du Jing tidak mengingatkannya, Zhou Luoyang akan lupa bahwa orang itu ada. “Bukankah kamu menambahkan kontaknya juga?” hejQwc

“Dia memblokirku,” jawab Du Jing santai. Dia membuka riwayat obrolan Zhou Luoyang dan Lu Zhongyu dan melihat pesan terbaru mereka.

Apa kamu menyukai Groot?

Ya, aku menyukainya.

Sepertinya tidak seperti itu bagiku. Kamu cukup menyendiri saat bersama dengannya di escape room. Itu tidak terlihat seperti sebuah akting. MfIidO

Kami tidak bersama, tapi bukan berarti aku tidak menyukainya. Sejujurnya, aku menyukainya, tapi dia tidak menyukaiku.

Kenapa aku merasa sebaliknya?

Percayalah pada apa yang kamu yakini.

Du Jing mendongak dari layar untuk mengamati Zhou Luoyang, sesuatu yang rumit terpancar dalam tatapannya. luC9EX

Zhou Luoyang bermandikan cahaya yang mengalir melalui jendela dari lantai ke langit-langit. Sinar matahari belang-belang yang merembes melalui dedaunan subur pohon payung menari-nari tertiup angin, seperti gugusan bintang yang mengorbit. Rambutnya, bulu matanya, matanya yang cerah, sosoknya yang gagah namun melankolis terbungkus cahaya beludru.

Zhou Luoyang balas menatapnya dengan rasa ingin tahu.

“Apa aku sudah menyiksamu sampai kamu sedikit depresi?” Du Jing tiba-tiba bertanya.

Zhou Luoyang menatapnya dengan aneh. “Tidak. Memangnya kenapa?” tnWe5D

Dia menyesap kopinya, tatapan melankolis itu berubah menjadi kebingungan. Lalu dia tertawa.

“Kamu jarang memasang ekspresi itu di masa lalu.” Du Jing mencengkeram ponsel. Bibirnya nyaris tidak bergerak; dia sepertinya berusaha menyembunyikan sesuatu. Dia mulai berbicara lebih cepat. “Apa aku selalu membuatmu kewalahan?”

Langit Bieru.

“Tidak, aku bersumpah. aku hanya… aku hanya…”

“Hanya apa?” Alis Du Jing sedikit berkerut. Tangan yang menggenggam ponsel bergetar. fMnroj

“Apa yang salah?” Zhou Luoyang menangkap perilaku Du Jing yang tidak biasa. “Apa kamu merasa tidak sehat?”

“Tidak.” Du Jing kembali ke dirinya sendiri dan dengan kaku menuntut, “Apa? Katakan padaku!”

“Hei,” kata Zhou Luoyang, “bos? Apa kamu baik-baik saja?”

Dia dengan lembut menendang kaki Du Jing di bawah meja. Wajah Du Jing melembut, dan dia menggelengkan kepalanya seolah-olah mencoba memaksa pikirannya keluar dari benaknya. dwZgKe

Dengan mengusap dan menekan ibu jarinya, dia menghapus obrolan antara Zhou Luoyang dan Lu Zhongyu.

Zhou Luoyang berkedip, bingung.

Selanjutnya Du Jing memeriksa Momen Lu Zhongyu. Zhou Luoyang curiga Du Jing akan segera mengalami episode lain.

Tapi dia tidak mengatakan apa-apa, takut jika itu malah menjadi sugesti psikologis untuk Du Jing. Dia menjulurkan lehernya, mengintip Momen Lu Zhongyu. Ze0bv

“Dia juga di sini!” Zhou Luoyang berseru, terkejut.

Momen Lu Zhongyu menampilkan pemandangan Ho Chi Minh. Di bagian bawah adalah lokasinya.

Du Jing menekan kegelisahannya. “Dia sangat efisien.”

Zhou Luoyang tidak percaya. “Dia membawa pendeta kecil itu? Aku tidak memiliki WeChat korban. Andai aku tahu lebih awal…” KXsT9G

“Apa?” Du Jing tidak mengerti. “Korban?”

Zhou Luoyang menatap mata Du Jing. Du Jing menjelaskan, “Dia adalah korbannya.”

Zhou Luoyang ternganga.

Dia akhirnya menyadari bahwa dia telah salah sejak awal! 3 Ncx5

“Lalu… siapa yang menculiknya?” Zhou Luoyang bertanya. “Bukankah anak itu melakukan esport? Kenapa…”

“Dia memiliki warisan Vietnam. Ibunya orang Vietnam; ayahnya orang Tiongkok,” kata Du Jing. “Apa kamu tidak membaca file yang dibuat Zhuang Li? File itu ada di atas meja.”

Story translated by Langit Bieru.

“Aku …” Memang, dia tidak membacanya. Lagi pula, dia tidak ingin terlalu terlibat dalam urusan Du Jing, terutama di depan Zhuang Li, kalau-kalau itu menempatkan mereka dalam posisi yang sulit.

Akhirnya, semuanya masuk akal—target sebenarnya adalah Lu Zhongyu, sedangkan anak yang berpura-pura menjadi pendeta adalah pedagang yang dikirim dari Vietnam untuk memancingnya ke sini! ewlOML

“Dia akan beristirahat di hotelnya sepanjang sore,” kata Du Jing. “Besok dia akan menjelajahi kota dan kemudian diculik. Masih ada waktu.”

Saat itu, Zhuang Li menelepon. “Jing-ge, van mengemudi ke arah Thao Dien. Tujuannya tidak memiliki lokasi akurat yang tertulis Google Maps. Itu adalah pabrik pengolahan karet yang terbengkalai.”

Du Jing memasang earbud-nya. Tanpa menunggu perintah, Zhuang Li mengatakan, “Aku menemukan sesuatu yang lain, Jing-ge. Total ada tiga kendaraan yang masing-masing terletak di Kuil Mazu, Provinsi Segitiga, dan Kuil Mariamman, yang pernah mengunjungi pabrik itu sebelumnya. Jaraknya dua puluh dua kilometer dari tempat tinggal pengemudi, dan itu bukan halaman perbaikan mobil. Aku menduga ini adalah titik transfer mereka.”

“Bahkan orang buta pun bisa melihat itu,” kata Du Jing lembut. “Kirimkan aku alamatnya. Bawa mobilnya ke sini.” yVI2hw

Dia melepas earbud-nya dan melirik Zhou Luoyang.

Zhou Luoyang bertanya, “Apa kamu akan menyelidiki ke tempat itu? Aku akan pergi bersamamu. Ayo pergi.”


Zhuang Li memarkir mobil di luar kafe, dan mereka berdua naik. Zhuang Li dengan penuh perhatian memperhatikan layar laptop yang diletakkan di kursi penumpang, yang menampilkan lokasi kendaraan yang ditandai. Van berhenti di sana hanya tiga menit sebelum kembali berangkat.

Aku akan mengalami episode lain, Du Jing mengetik di ponselnya, dan menunjukkannya pada Zhou Luoyang. VpLd3F

Ya Tuhan, apa yang harus kita lakukan sekarang? pikir Zhou Luoyang.

Mania? Dia balas kembali.

Ya.

Zhou Luoyang memegang tangan Du Jing dengan tangannya sendiri. Du Jing melengkungkan jari-jarinya. Telapak tangan mereka saling bersentuhan, dan kemudian sepuluh jari mereka saling bertautan. Cengkeraman Du Jing cukup kuat hingga terasa sakit. W9LRFK

Dia tahu Du Jing masih bertahan. Dia pasti ingin berteriak dan menggila saat itu juga, atau menghancurkan sesuatu untuk mencurahkan perasaannya, tetapi dia bertahan dan menahan diri di hadapan Zhuang Li.

Kendaraan off-road berhenti di luar sebuah desa kecil, dan Zhuang Li keluar untuk membeli air dan menjelajahi daerah tersebut. Du Jing berjalan ke atas bukit di belakang desa dan melihat keluar. Dia mengangkat sepasang teropong.

“Tidak ada bangunan,” lapor Du Jing. “Sulit untuk melihat ke dalam hutan.”

“Jangan pergi ke sana,” kata Zhou Luoyang. “Aku khawatir ada kamera.” JFvu46

Sebuah cincin pagar kawat menjulang sekitar 500 meter. Di tengahnya ada setumpuk ban bekas, dan di sampingnya, ada sebuah kolam. Daerah itu seluruhnya dikelilingi oleh vegetasi. Du Jing pergi dari bukit, dan Zhou Luoyang berteriak, “Tunggu, Du Jing!”

Du Jing menunjuk kembali ke bukit, ingin Zhou Luoyang menunggu di sana. Zhou Luoyang mengikutinya, khawatir Du Jing akan bertemu dengan para penjahat.

Please support our translators at langitbieru (dot) com

Tanah liar itu ditandai dengan beberapa jejak ban yang mengarah ke hutan. Du Jing memandang mereka. Zhou Luoyang mengintip melalui teropong ke kejauhan, dan dengan cemas memanggil, “Du Jing, kembalilah!”

Tapi Du Jing tidak mendengar. Dia merayap lebih dekat ke hutan dan hendak melompati parit ketika Zhou Luoyang melesat ke pagar kawat dan dengan gesit menangkapnya, mendorongnya ke parit semen. Vnmblx

Du Jing berjuang sebentar, tetapi Zhou Luoyang dengan cemas mendesis, “Ada orang di hutan. Kamu tidak melihat mereka!”

Du Jing terdiam. Keduanya mendengar sesuatu, pada saat yang sama, suara-suara dan tembakan senjata semakin jelas terdengar. Ekspresi Du Jing berubah. Dia membalik tubuh mereka sehingga dia berada di atas Zhou Luoyang, punggungnya menghadap ke luar dan tangannya menekan mulutnya.

Jantung Zhou Luoyang berdegup kencang di dadanya. Du Jing memasukkan tangannya yang lain ke dalam sakunya dan memakai brass knuckle. Zhou Luoyang meletakkan tangannya sendiri di atas Mata Forseti-nya. Tepat saat dia bersiap untuk memutar, mereka mendengar suara langkah kaki mulai menghilang.

Zhou Luoyang menghela napas. vx8CKW

Du Jing tidak berbicara. Dia menjulurkan kepalanya. Dua penduduk setempat yang membawa senapan mesin ringan naik ke kendaraan dan pergi.

“Ini adalah titik transfer mereka,” kata Du Jing.

“Jika mereka menembak parit ini, kita akan mati. Tidak akan ada bedanya jika kamu melindungi kita dengan punggungmu.”

Dinding kawat berada tepat di luar parit semen. Bahkan jika Du Jing tiba-tiba melompat, dia akan terhalang oleh pagar kawat. Tapi pagar kawat itu tidak akan mampu menghalangi peluru. Hanya beberapa tembakan yang dilepaskan akan membuat mereka mati di parit ini. 7hKk1w

“Ya,” Du Jing setuju. “Aku tidak yakin apakah Mata Forseti akan berfungsi jika kita mati.”

Zhou Luoyang memikirkan senjata pamungkas mereka, memutar kembali waktu. Dalam contoh sebelumnya ketika waktu berputar kembali, orang mati akan hidup kembali dan semuanya terjadi seperti 24 jam sebelumnya. Tapi, pada akhirnya, masih akan ada kematian. Apa yang akan terjadi jika orang yang memicu proses pembalikan waktu—mereka berdua—meninggal?

Dia tidak ingin mengujinya.

Du Jing menarik Zhou Luoyang keluar dari parit, dan mereka perlahan mundur ke bukit. Pada saat yang sama, sesosok tubuh berlari ke arah mereka dari timur lereng bukit. XJmdy6

“Siapa itu?” Zhou Luoyang bertanya dengan tidak percaya.

“Huang Ting,” jawab Du Jing, memeriksa dengan teropong.

“Kenapa kalian di sini?” Huang Ting dengan cepat menaiki bukit, membawa sebuah benda panjang. Pada saat mereka semua bersembunyi di balik rerimbunan pohon, kendaraan di dalam cincin pagar kawat sudah lama hilang.

Alih-alih menjawab, Du Jing mengambil kotak hitam kecil dari bagasi kendaraan off-road mereka. kaLAbX

Zhou Luoyang memandang Huang Ting dengan rasa ingin tahu. Huang Ting menjelaskan, “Para informan di Interpol memberiku daftar barang. Mereka mengangkut produk ke Pingxiang, Guangxi dengan jadwal reguler. Aku mencari titik pemuatannya pagi ini dan melihat sebuah mobil tanpa plat nomor, jadi aku mengikutinya, tetapi kehilangan jejaknya dua kali. Apa yang mereka lakukan di sini?”

“Ini adalah titik transfer,” jawab Zhou Luoyang. “Tetapi kedua pihak yang terlibat dalam pertukaran itu sudah pergi.”

Langit Bieru.

Dari situ, Huang Ting mendapatkan inti dari situasinya. “Kita harus terus mengawasi tempat ini. Apa ada orang lain yang pergi bersama kalian? Atau kita bisa memasang kamera di sana. Aku akan memikirkan cara untuk meminjam drone…”

Du Jing membuka kotak hitam dan mengeluarkan seekor burung seukuran telapak tangan. Kemudian dia membuka perangkat lunak di ponselnya. 4L6I2g

Dia mengguncang burung itu. Zhou Luoyang dan Huang Ting mempelajarinya dan melihat bahwa tulangnya terbuat dari logam ringan dan tubuhnya ditutupi bulu tebal. Ketika Du Jing mengetuk tombol mulai di ponselnya, burung itu mengepakkan sayapnya dan terbang.

“Punya uang benar-benar hebat. Kamu bisa mendapatkan peralatan hidup apa pun yang hatimu inginkan,” kata Huang Ting, mundur.

Du Jing mengabaikannya, melemparkan ponselnya ke Zhou Luoyang. Zhou Luoyang memprotes, “Aku tidak tahu cara mengoperasikannya … Aku tidak ingin menghancurkannya.”

“Jika itu hancur, ya sudah,” kata Du Jing rendah. Dia berjalan pergi dan menelepon Zhuang Li. XZm38G

Zhou Luoyang menguji kontrolnya. Burung itu terbang dengan mantap, mengepak ke pepohonan. “Berapa harga peralatan ini?”

“Aku tidak tahu!” Du Jing membentak dengan marah. “Berhenti menanyakan semuanya padaku!”

“Taruh di pohon,” saran Huang Ting dengan bijaksana.

Butuh beberapa kali percobaan sebelum dia akhirnya bisa mendarat dengan mantap. Dia mengetuk kontrol, memutar kepala burung itu ke arah tempat terbuka di hutan. WsVpvd

Sekarang Huang Ting dan Zhou Luoyang bisa melihat keseluruhan tempat terbuka itu.

“Du Jing,” panggil Zhou Luoyang, suaranya bergetar. “Lihat ini.”

Ada orang yang terlihat di tempat terbuka itu. Zhuang Li diikat dan disumpal, dan laras pistol ditekan ke dahinya.

Du Jing memutar cincin pada arloji, melepasnya, dan melemparkannya ke Zhou Luoyang. 2QoyU4

“Masuk ke mobil, pergi ke jalan, dan tunggu aku.”


Jeff: Makin menegangkan wwwwww

Translator's Note

The Lover karya Marguerite Duras berlatar di Vietnam masa kolonial, di Saigon. Novel ini menceritakan kisah romansa antara seorang gadis Prancis dan seorang pria Tiongkok-Vietnam yang lebih tua.

Leave a Comment

For an easier time commenting, login/register to our site!

3 comments

  1. Zhuang Li😭😭 Kasian banget dia, udah sering dibentak atasan, jadi orang ketiga diantara para bucin-tak-sadar-diri, sekarang kena geprek musuh…

  2. Yg dicurigai bakal jadi tersangkanya malah jadi korban bener2 gk kebaca..
    Klo kalian bakal ketemu ditempat yg sama lagi kenapa gk barengan aja terus.. pasti jadi tim yg bagus mereka ber4…
    Chap selanjutnya menegangkan nih .