English

Embun Beku yang MencairCh3 - Menulis Surat

4 Comments

Penerjemah : Momo


Chapter kali ini agak panjang dan cukup menyesakkan. u7dWxZ


Itu adalah malam yang tenang, bulan menggantung di langit yang gelap dan dikelilingi oleh semburan bintang-bintang yang berkilauan mengawasi Ibukota. Hari kedua Ming Quan menanggung kutukan akhirnya berakhir.

Yin Xue berjalan tanpa suara saat dia kembali ke halaman tempat Tuan Mudanya berada. Ketika dia mendekati pintu kamar tidur, dia bisa melihat cahaya lampu dari dalam.

Story translated by Langit Bieru.

Apakah Tuan Muda masih belum tidur?

Layaknya hantu, Yin Xue memasuki ruangan tanpa membuat suara bisikan sekecil apapun. Dia disambut dengan pemandangan Ming Quan duduk di balik meja, dengan punggungnya yang lurus ke arah pintu masuk. Sosok rampingnya gemetar, sementara suara lembut tangisan yang tersedak bergema di ruangan itu. Yin Xue bisa mencium aroma air asin. rRNQtd

Dia bisa dengan pasti menyimpulkan bahwa Tuan Mudanya itu sedang menangis. Tapi ketika mengingat semuanya, Ming Quan tidak bisa disalahkan karena semua yang harus dia lalui sampai sekarang, ditambah fakta tentang kematiannya yang menyakitkan, membayang di kepalanya.

Meskipun Yin Xue tidak ingin melakukan apapun selain berbalik dan meninggalkan pemuda yang sedih itu, pada akhirnya dia tetap dituntut untuk memastikan Tuan Mudanya dapat menghabiskan hari-hari terakhirnya dengan nyaman. Jadi, setelah menghela nafas perlahan, Yin Xue berjalan diam-diam menghampiri Ming Quan. Tetapi saat  dia akhirnya melihat apa yang sedang dilakukan Tuan Mudanya, Yin Xue memilih menghentikan langkahnya.

Tidak seperti apa yang dia duga, Ming Quan sebenarnya tidak menangis sama sekali―dia sedang menulis surat.

Saat ini, pusaran tanda kutukan di pergelangan tangannya telah berubah menjadi hitam, yang berarti bahwa Ming Quan pasti sangat menderita saat menulis. Tidak hanya dia mengiling tinta sendiri, dia juga sudah selesai menulis setumpuk surat yang ditempatkan dengan rapi di sampingnya agar mengering. Rasa sakit yang dia rasakan sekarang pasti sangat luar biasa. m2ykw5

Mata Ming Quan terfokus pada kertas. Jari-jarinya tak berhenti bergetar karena rasa sakit yang hebat, percikan tinta menetes di atas halaman. Dia mengatupkan rahangnya saat menahan rasa sakit yang datang. Aroma air asin yang Yin Xue cium sebelumnya adalah aroma keringat saat Ming Quan mengerahkan usahanya untuk menulis.

Ming Quan belum menyadari bayangan putih diam yang merayap di sampingnya, sehingga Yin Xue dapat meluangkan waktu untuk membaca surat yang ditulis oleh Tuan Mudanya. Melihat informasi penting apa yang dia tulis hingga dia bekerja keras bahkan di bawah tekanan rasa sakit yang begitu banyak. Tetapi semakin banyak Yin Xue membaca, semakin bingung dia.

Halaman surat itu berbunyi:

… itulah sebabnya aku pindah ke halaman Ibu. Bunga-bunga krisan bermekaran dengan cemerlang seolah masih dirawat oleh tangan lembut Ibu. Angin sepoi-sepoi terasa menyegarkan hari ini. Sinar matahari yang hangat terasa nyaman di kulitku, ketika  menutup mata aku dapat mendengarkan suara gemerisik dedaunan yang damai. Ketika membuka mata lagi, aku disambut dengan pemandangan indah taman yang bermekaran. Aku harap Ayah akan datang mengunjungiku dan Ibu di taman ini sesekali nanti. Siapa tahu, Ayah mungkin bertemu dengan hantu kami… bgKnTy

Ini adalah surat yang dimaksudkan untuk Ayah Ming Quan setelah kematiannya.

We’re sorry for MTLers or people who like using reading mode, but our translations keep getting stolen by aggregators so we’re going to bring back the copy protection. If you need to MTL please retype the gibberish parts.

Zfrxlqec Zlcu Hejc ajwqjx rfbijt-bijt wfcujijwl rlxrjjc sjcu ajx afgajtjcxjc rjja wfceilr xjgjxafg sjcu csjglr ajx afgyjmj lcl, lrl regjacsj rfcvlgl perage afgiltja vjwjl vjc wfcsfcjcuxjc, qfcet xfcsjwjcjc. Zlcu Tjc alvjxijt ybvbt, vlj qjral jxjc wfwjtjwl xfreilajc sjcu vljijwl qeagjcsj ecaex wfcsfifrjlxjc rfaljq xjaj vjijw regja lcl. Gjc vl rlaeijt yexal yjtkj qeagjcsj peuj wfcmlcajlcsj. Jexeq wfcmlcajl jsjtcsj ecaex wje wfifkjal rfwej qfcvfglajjc lcl rftlcuuj vlj ylrj wfwyfglcsj xfvjwjljc rfafijt xfwjaljccsj.

Yin Xue merasakan nyeri samar itu kembali ke dadanya. Sebuah pikiran yang tidak menyenangkan tiba-tiba muncul di kepalanya. Mungkinkah…

…Tuan Muda ini adalah seorang masokis? Lagi pula, mengapa dia terus menempatkan dirinya dalam begitu banyak kesulitan? ryW2ws

Mengesampingkan pemikiran mengejutkan ini, Yin Xue memandang wajah kusut pemuda itu. Dia mungkin harus mencoba menghentikannya.

“Tuan Muda, apa yang sedang kamu lakukan?” Dia bertanya dengan suara lembutnya meskipun sudah tahu jawabannya.

Ming Quan tersentak di kursinya karena terkejut. “Y-Yin Xue? Apa… Kapan kamu kembali?” Rasa sakit itu agaknya mengaburkan kesadarannya, membuat suaranya terdengar tidak jelas.

“Tidak perlu memaksakan diri untuk menulis surat. Anda bisa mendikte mereka dan memerintahkan saya untuk menulis menggantikan Anda.” g Ba25

Menggelengkan kepalanya, Ming Quan berbicara, “Itu akan menghilangkan maknanya.”

Yin Xue tidak mengatakan apa-apa lagi.

Langit Bieru.

Melihat bahwa Yin Xue tidak berniat membujuknya, Ming Quan menghela nafas lega dan terus menulis halaman demi halaman dengan kecepatan seperti kura-kura. Setelah menyampaikan beberapa halaman kepada ayahnya, dia menulis kepada temannya yang sedang bepergian ke luar Ibukota sekarang. Dia juga menulis kepada dua senior yang paling sering menjaganya ketika dia masih berada di akademi. Lalu dia menulis pada pengasuh masa kecilnya.

Dari samping, Yin Xue hanya berdiri dan menyaksikan perjuangan Tuan Mudanya. Setelah beberapa saat melihat Ming Quan mengedipkan tetesan keringat yang menyengat saat dia melanjutkan usahanya, perasaan ketidakpuasan dan kegelisahan yang aneh dirasakan Yin Xue. Karena tidak tahan, dia pergi sebentar dan kembali dengan baskom berisi air dingin dan kain lembut. amKf5t

Dia duduk di atas bangku kayu yang samping Ming Quan, sedikit membasahi kain lembut  dan mulai menyeka keringat di dahi, pipi, dan leher Ming Quan.

Terkejut, Ming Quan mendongak, hanya untuk disambut dengan tatapan tanpa ekspresi Yin Xue saat dia menarik kain di atas kulit yang panas dan lembab, berusaha menyeka keringat dengan cermat.

“Terima kasih.” kata Ming Quan dengan suara serak. Dia menerima anggukan kaku sebagai balasan dan kembali menulis surat dengan suasana hati yang jauh lebih baik. Kehangatan rahasia ini mencoba mekar di dadanya, tapi Ming Quan dengan kejam meremasnya. Tidak, dia seharusnya tidak berharap terlalu banyak hanya karena ini.

Sementara itu, saat dia terus menyeka keringat Tuan Mudanya, Yin Xue merenung. Dia tahu bahwa tindakannya terlalu aneh hari ini, tetapi dia merasakan kegelisahan di hatinya mereda hanya ketika dia melakukan semua ini. Jadi, Yin Xue terus menyeka aliran keringat yang tak ada habisnya saat dia terus merenung. AuwvcY

Pada saat Ming Quan selesai menulis surat kepada semua orang yang akan berduka saat kematiannya, fajar sudah mulai menerangi cakrawala yang jauh, hari ketiga kutukan dimulai. Mata Ming Quan terasa berat dan tenggorokannya menebal karena tegang. Rasa sakitnya sangat parah sehingga dia kehilangan semua rangsangan sensorik di tangannya. Tapi selama mereka masih bisa bergerak, dia akan terus menggunakannya.

Ming Quan berjuang untuk berpikir bahwa dia tidak melewatkan siapapun yang harus dia kirimi surat. Saat dia merasakan kain dingin terus mengusap kulitnya, Ming Quan tiba-tiba menyadari sesuatu, “Yin Xue, cukup. Kamu pasti lelah. Kenapa kamu tidak pergi dan istirahat dulu?” dia berkata.

Dengan wajah tanpa ekspresi, Yin Xue menjawab, “Tidak perlu. Saya tidak lelah.”

Ming Quan menunjukkan ekspresi yang bertentangan. “Aku membutuhkan privasi untuk menulis surat selanjutnya. Bisakah kamu memberiku waktu untuk sendiri?” O0RzJA

Yin Xue menghentikan pelayanannya dan pergi tanpa kata dengan kain dan baskom air. Ming Quan menghela nafas lega. Mengeluarkan selembar kertas baru, dia merenung cukup lama, berpikir tentang apa yang ingin dia tulis dan berapa banyak hal yang harus dia ungkapkan. Baiklah, dia akan pergi saat penerima membaca suratnya. Apa yang harus dia khawatirkan?

Maka, Ming Quan mencelupkan kuasnya ke dalam tinta dan mulai menulis.

Selama waktu ini, Yin Xue meninggalkannya sendirian, dia hanya kembali datang untuk membawakan sarapan untuknya. Ming Quan dengan panik menyembunyikan surat yang telah ditulisnya dan menutupinya dengan tubuhnya, tidak peduli seberapa jelas tindakannya itu di mata Yin Xue. Tapi Yin Xue bahkan tidak melirik ke arahnya saat dia meletakkan semangkuk penuh sup encer dan sedotan bambu. Karena menggunakan tangannya akan membawa rasa sakit pada Ming Quan, Yin Xue berpikir untuk membiarkannya menggunakan sedotan saat meminum sup. Setelah Ming Quan mengucapkan terima kasih atas perhatiannya, Yin Xue kembali pergi dengan wajah datarnya yang biasa.

Ming Quan menghela nafas dan melanjutkan menulis, sesekali menyesap sup untuk memuaskan rasa laparnya. hiLGDe

Waktu terus berlalu dan matahari naik di atas kepala, menandakan siang telah datang.

Yin Xue yang datang kembali untuk memberikan Ming Quan makan siang, melihat Tuan Mudanya merosot di atas meja, tidur dengan kepala bertumpu di lengannya yang terlipat. Wajah pucatnya, sangat kontras dengan lingkaran hitam tebal di bawah matanya. Di siku Ming Quan adalah setumpuk surat terusun dengan rapi. Amplop paling atas ditujukan kepada Ming Yan. Ini adalah surat-surat yang Ming Quan kerjakan sepanjang malam dan berhasil diselesaikan pagi ini.

Yin Xue menatapnya dengan sembrono sebelum menukar mangkuk sup kosong dengan yang baru. Saat Yin Xue berbalik untuk pergi, Ming Quan yang terlihat gelisah dalam tidurnya, mengeser sikunya pada tumpukan amplop hingga surat-surat itu meluncur ke tepi meja dan jatuh ke lantai dengan berantakan.

Berjalan ke amplop yang tersebar, Yin Xue menghela nafas dalam hati. Ketika dia membungkuk mengumpulkan surat-surat untuk meletakkannya kembali di atas meja, sebuah amplop menarik perhatiannya. Kata-kata di amplop itu terlihat masih basah dan lebih gelap daripada yang lain. Jelas ini adalah surat yang telah ditulis Ming Quan baru-baru ini setelah meminta Yin Xue untuk pergi. 9KmOZc

Amplop itu ditujukan kepada Yin Xue.

Menempatkan surat lainnya kembali ke atas meja, Yin Xue mengambil surat dengan namanya dan melihatnya dengan ekspresi aneh. Dia merasakan rasa keingintahuannya muncul kembali. Yin Xue tidak tahu mengapa dia tiba-tiba ingin tahu lebih banyak tentang Tuan Mudanya ini, tetapi dia juga tidak ingin melanggar privasi Tuan Mudanya.

Please visit langitbieru (dot) com

Namun, rasa moralitas ini tidak bertahan lama. Rasa ingin tahunya menang. Yin Xue memutuskan untuk membukanya. Dia bisa saja menyegelnya lagi agar terlihat tidak tersentuh. Menyadari bahwa Tuan Mudanya tidak akan menyakitinya, Yin Xue dengan hati-hati membuka amplop dan mengeluarkan perkamen yang terlipat di dalamnya.

Namun, saat dia terus membaca, meskipun ekspresinya tidak berubah, warna matanya menjadi gelap dan berputar dengan intensitas yang meningkat. wJdbBx

 

Yin Xue,

Aku tidak tahu apakah yang aku tulis di sini akan memiliki makna untukmu, tetapi aku masih ingin meninggalkan kata-kata ini untukmu.

 Pertama-tama, terima kasih telah merawatku. Meskipun aku tahu itu hanya atas perintah Ayah, aku tetap merasa bersyukur bisa menghabiskan waktu bersamamu seperti ini. Tidak peduli berapa banyak kutukan ini menggangguku, ketahuilah bahwa aku tidak pernah sekalipun menyesali atau meragukan pilihanku untuk membebaskanmu. U3L7lj

Aku mungkin tidak dapat menyampaikan rasa terima kasih dan perasaanku melalui kata-kata singkat ini. Tapi dengan kemampuanku yang terbatas ini, aku akan mencoba.

Aku menyukaimu. Aku sudah lama menyukaimu

Aku malu mengakui bahwa aku seperti yang lain pada awalnya. Menghadapi wajahmu yang sedingin es, aku sangat takut ketika kecil, takut terintimidasi olehmu.  Sebagai seorang anak kecil, kamu adalah definisi dari orang dewasa yang mengesankan dan tidak dapat didekati. Namun, aku tidak dapat menyangkal bahwa aku juga tak pernah berhenti terpesona padamu sejak saat itu. Dan akhirnya, kamu juga menjadi cinta pertamaku. Apakah kamu tahu bagaimana hal itu terjadi? Aku kira kamu tidak akan tertarik, tetapi aku masih ingin dengan egois memberitahumu, jadi bersabarlah.

Saat itu kamu berada di halaman Ibuku, menemani Ayah yang datang ke sana untuk menghabiskan waktu mengenang dan meratapi kepergian Ibu. Aku kira kamu tidak ingin mengganggu atau hanya tidak peduli melihat penampilan Ayah yang sedih, karena ketika aku menemukan keberadaanmu, kamu berada di kebun krisan di halaman belakang. j15sR3

Kurasa aku belum pernah melihatmu setenang itu sebelumnya  atau sejak saat itu. Sepertinya kamu sangat menyukai bunga krisan, karena jari-jarimu sangat hati-hati saat menyentuh kelopaknya. Kilau rambutmu di bawah matahari hampir membutakanku, tetapi yang lebih menyilaukan adalah senyum hangatmu. Aku tidak tahu apa yang sedang kamu pikirkan saat itu, tetapi sejak itu aku terus jatuh cinta padamu.

Aku memikirkan bagaimana rasanya dipandang dengan tatapan yang begitu lembut, disentuh dengan lembut seolah-olah aku adalah bunga itu, mendapatkan senyuman yang begitu hangat darimu. Aku menyadari bahwa aku menginginkan semua itu. Aku sadar aku suka melihatmu seperti itu. Meskipun kewaspadaanku padamu tidak hilang, sejak saat itu aku selalu gugup saat berada dihadapanmu. Aku juga tidak terlalu takut lagi padamu. Aku suka melihatmu, mencoba menangkap senyum hangat itu lagi. Tetapi kamu tidak pernah menunjukkannya lagi.

Mungkin aku harus merasa malu karena berterus terang, tetapi aku akan pergi begitu kamu membaca surat ini. Jadi aku bisa memberitahumu.

Mungkin kamu bertanya-tanya, kenapa aku menolak untuk membiarkanmu terikat padaku, menolak menganggapku sebagai pasanganmu, ketika aku memiliki kesempatan yang baik untuk memilikimu. Jawaban sederhananya, itu karena kamu sendiri tidak menginginkannya. Kamu menginginkan kebebasan dan aku mampu memberikannya. Sebagai seseorang yang mencintaimu, bagaimana mungkin aku tidak memberimu semua itu? Aku harap, kamu sudah dibebaskan saat membaca surat ini. Aku harap, aku bisa mengabulkan keinginanmu. jUQSEe

Aku juga mengakui bahwa alasan lain mengapa tidak menerima ikatan denganmu hari itu adalah karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa takut terhadapmu. Bukan karena aku takut kamu akan menyakitiku secara fisik. Tetapi aku takut harus berbagi tubuh denganmu dalam keadaan di mana kamu tidak menginginkannya. Di mana bahkan jika tubuh kita menjadi intim, tatapanmu akan tetap terasa jauh dan dingin–situasi seperti itu akan lebih menyakitiku jika dibandingkan apa pun. Bukan itu yang aku inginkan. Aku tidak menginginkanmu yang seperti itu.

Aku sadar bahwa kamu tidak khawatir tentang apa yang mungkin dipikirkan oleh manusia bodoh atau alasan di balik tindakanku. Tetapi mungkin di sudut hati yang terdalam, aku berharap kamu bisa sedikit peduli…

Baiklah, aku akan mengakhiri ocehanku sekarang. Aku bersyukur bahwa meskipun tidak bisa melihat senyummu lagi, setidaknya aku bisa memonopoli perhatianmu selama beberapa hari. Meskipun kamu hanya mengikuti perintah, aku cukup puas untuk dapat menghabiskan waktu bersamamu.

Ngomong-ngomong, sup yang kamu bawakan untuk sarapan sepertinya tidak dibuat oleh koki. Apakah kamu membuatnya sendiri? Aku sedang meminumnya sekarang dan rasanya enak. Aku senang bisa mencicipi masakanmu. Aku berharap bisa hidup lebih lama supaya bisa merasakan masakanmu setiap hari. N46oXi

– Ming Quan

 

Please support our translators at langitbieru (dot) com

Yin Xue menatap isi surat itu. Gejolak samar di dalam hatinya telah berkembang menjadi gelombang yang hebat. Untuk pertama kalinya sejak dia mengikatkan diri pada garis keturunan Ming, dia tertegun dan bingung, tidak tahu harus merasakan apa.

Kecuali suara dengkuran lembut Ming Quan, ruangan itu sunyi. Sinar matahari sore menyinari debu-debu yang menari di jendela, membuatnya tampak seperti bercahaya. Diam dan sunyi, ruangan itu tampak membeku dalam waktu, seolah-olah masa lalu maupun masa depan tidak bisa menyentuh momen yang membentang di masa kini. g8Duod

Yin Xue menghembuskan nafasnya lembut. Dengan hati-hati melipat surat itu, menyegelnya kembali ke dalam amplop lalu meletakkannya bersama dengan surat-surat lainnya. Dia memastikan untuk menempatkan ulang setiap amplop persis seperti sebelum jatuh.

Dengan tatapan yang rumit, dia memandang Ming Quan.

Tenggelam dalam tidur yang tidak nyaman, bulu mata pemuda itu sedikit bergetar, membelai pipinya yang terlalu pucat. Kulitnya tidak begitu bagus dan alisnya berkerutan seolah-olah dia dibebani oleh kesusahan bahkan dalam mimpinya. Jari-jarinya yang pucat dan ramping, sekarang dipenuhi pusaran hitam tanda kutukan dan bercak tinta, kadang berkedut dengan gelisah. Bibirnya yang sedikit terbuka terlihat pecah dan kering.

Dada Yin Xue terasa sakit. Dia mengerutkan kening. Setelah meyakinkan diri, dia dengan hati-hati mengangkat Tuan Mudanya dan membaringkannya di tempat tidur, menyelipkannya di bawah selimut. gEzhvC

Dia meninggalkan kamar sambil membawa mangkuk sarapan yang kosong di satu tangan, sedang tangan lainnya mengusap dadanya dengan lembut. Pikirannya sulit ditebak.

***

Leave a Comment

For an easier time commenting, login/register to our site!

4 comments

    • Sama-sama.. Huum, aku sedih banget pas baca surat yang ditulis Ming Quan ini (╥﹏╥)

    • Penulisnya yang kasih, aku juga sedih pas baca bagian ini ಥ╭╮ಥ
      Terima kasih sudah mampir dan baca…