English

Tiandi BaijuCh37 - Kalau kamu ingin menjadi anjing setia, kita bisa bertukar peran

0 Comments

MASA DEPAN


Satu jam kemudian, Du Jing mengenakan kemeja dan blazer dan mengambil kunci mobilnya. Dia merasa lebih baik sekarang, jadi dia dan Zhou Luoyang pergi ke toko. dqb0co

Dari apa yang dapat diamati Zhou Luoyang, Du Jing saat ini sedang dalam proses yang lambat untuk keluar dari kondisi pikirannya yang tertekan. Dia telah memeriksa obat yang dibawa kembali dari rumah sakit dan memastikan bahwa Du Jing meminumnya setiap hari. Zhou Luoyang memahami semua yang dikatakan dokter kepadanya, tetapi situasi Du Jing unik, begitu pula hubungannya dengan Du Jing.

Dia tidak yakin sejauh mana dia harus bertindak atas kepeduliannya pada Du Jing. Dia khawatir jika dia terlalu memaksanya, itu akan membuatnya kesal. Tetapi kondisi pikiran Du Jing terbukti secara konsisten stabil sepanjang hari itu.

Please visit langitbieru (dot) com

Zhou Luoyang membuka toko. Bisnis sedang lambat, jadi dia duduk di bangku teh dan mulai memperbaiki tepi lukisan tradisional Tiongkok dengan pinset. Du Jing duduk di sampingnya, memainkan ponselnya.

“Apa yang sedang kamu lakukan?” Zhou Luoyang bertanya. XwelzI

“Membeli tiket pesawat,” kata Du Jing. “Ke Hong Kong.”

“Biarkan aku yang melakukannya. Aku bisa menggunakan kesempatan ini untuk menghubungi perantara Sotheby.”

Tanggal 8 Oktober adalah hari dimana Du Jing seharusnya kembali bekerja, perilakunya normal, meskipun dia masih jarang berbicara. Zhou Luoyang mengemas bento untuknya. Setelah sarapan, Du Jing berkata, “Aku sudah jauh lebih baik. Aku akan bekerja sekarang.”

“Hati-hati saat menyetir,” jawab Zhou Luoyang dengan cemas. Hnde7g

Ketika Du Jing kembali malam itu, Zhou Luoyang tahu bahwa dia telah pulih sepenuhnya dan kembali ke keadaannya sebelum episode depresifnya – pada kenyataannya, dia tampak lebih penuh semangat daripada sebelumnya – tetapi Zhou Luoyang tahu dia tidak bisa menurunkan kewaspadaannya.

Segalanya sudah seperti ini sejak dulu sekali. Du Jing hanya berperilaku seperti dirinya yang sebenarnya di depan Zhou Luoyang. Kapanpun dia ditemani orang lain, dan Zhou Luoyang juga hadir, dia akan selalu berusaha untuk bertindak agar tidak menjadi beban bagi Zhou Luoyang, seperti ketika mereka sedang dalam perjalanan musim semi.

Sebagian besar waktu, selama mereka memiliki kekuatan untuk melakukannya, orang dengan depresi akan memaksa diri mereka sendiri untuk bertindak sehingga mereka dapat berasimilasi dengan masyarakat, seolah-olah mereka adalah artis yang berdedikasi. Tetapi ini membuat anggota keluarga yang selalu menghabiskan waktu bersama mereka bingung – mereka tampak baik-baik saja hampir sepanjang waktu, jadi mengapa mereka berubah setiap kali sampai di rumah?

Dalam banyak kasus, orang-orang terdekat mereka hanya memiliki satu pendapat: bahwa mereka tidak masuk akal. Tetapi Zhou Luoyang tahu bahwa mereka tidak bisa menahannya. Akting yang mereka lakukan menghabiskan banyak sekali kekuatan mental dan fisik. Akibatnya, depresi mereka semakin terwujud ketika mereka sendirian. rzeOB0

Seperti sekarang: Du Jing yakin dia harus pergi bekerja. Tanggung jawab memberi makan mulut yang lapar di rumah mengharuskannya untuk memainkan perannya dengan setia, jadi dia untuk sementara menutup versi dirinya yang tertekan.

“Apa semuanya baik-baik saja hari ini?” Zhou Luoyang bertanya dengan ringan, berjalan ke arahnya dan membantunya mengganti alas kaki.

Du Jing berdiri dengan bingung di pintu masuk untuk beberapa saat dan meletakkan paket pengiriman di rak sepatu. “Aku tidak akan bekerja selama beberapa hari ke depan. Aku akan menyesuaikan diri di rumah. Apa yang kita makan untuk makan malam?”

Sekarang Zhou Luoyang akhirnya bisa merasakan jantungnya kembali ke dadanya. Dia merobek bungkusan itu. Di dalamnya ada kartu undangan Sotheby. 7zOUd8

Kami dengan hormat mengundang Tuan Zhou dan pasangan.

Zhou Luoyang: “……”

Du Jing meminta Zhuang Li menemukan seseorang untuk mengawasi toko Zhou Luoyang. Zhou Luoyang juga memberinya grafik harga jika ada orang awam yang datang ke toko untuk membeli sesuatu tanpa berpikir.

Ketika akhir pekan tiba empat hari kemudian, Du Jing memakai jam tangan, Zhou Luoyang mengemas pakaian resmi di dalam koper mereka, dan Zhuang Li tiba di depan pintu untuk menjemput keduanya. OQsEdZ

“Wow! Kalian naik di kursi kelas bisnis?” Zhuang Li berseru. “Masyarakat kelas atas sangat menakjubkan.”

“Sotheby biasa men-carter seluruh penerbangan ke lelang mereka,” kata Zhou Luoyang linglung. “Tapi ekonomi belum terlalu makmur dalam beberapa tahun terakhir, jadi mereka beralih ke kursi kelas bisnis.”

Please support our translators at langitbieru (dot) com

“Jing ge.” Zhuang Li menyerahkan tas kepada Du Jing. “Benda yang kamu minta.”

Itu adalah tas yang sangat datar, jadi Zhou Luoyang tahu bahwa tas itu berisi laptop. Tetap saja, dia menatap Du Jing: Ini bukan sesuatu yang tidak disukai bea cukai, bukan? YEB4Xm

Du Jing menggelengkan kepalanya agar dia tahu jika dia bisa tenang, lalu mengantar Zhuang Li pergi. Zhou Luoyang mengucapkan selamat tinggal, meskipun Zhuang Li sendiri akan segera pergi ke Shenzhen, di mana dia akan menunggu dalam keadaan siaga, siap untuk memberi mereka dukungan pada saat itu juga.

Zhou Luoyang hendak menarik tas ke bahunya, tetapi Du Jing menghentikannya. “Kamu tidak perlu membawa apapun. Aku pengawal dan asistenmu. Ayo pergi.”

“Itu tidak boleh,” jawab Zhou Luoyang. “Apa kita perlu mempertahankan begitu banyak persona segera setelah kita keluar rumah?”

“Ini penting untuk pekerjaanku.” Du Jing mengenakan kacamata hitam di depan meja layanan. Sekarang setelah Zhuang Li pergi, Du Jing kembali terlihat tenang dan santai, seolah-olah tidak ada yang terjadi beberapa hari yang lalu. “Selain itu, jika kita tidak mendukung kemuliaan Presiden Zhou, kita tidak akan pernah mendapatkan undangan ke pertemuan masyarakat kelas atas ini, apa aku salah?” 19lhei

“Kamu sudah merencanakan semuanya?”

“Aku belum merencanakan apa-apa.” Jelas sekali bahwa Du Jing belum sepenuhnya menyesuaikan diri sampai pagi itu juga. “Rencana tidak bisa menahan perubahan tak terduga. Ayo kita lakukan selangkah demi selangkah.”

Zhou Luoyang: “………………”

Dia berpikir, aku tidak tahu apakah itu berkah atau kutukan bagi Changyi karena telah merekrutmu dan menempatkanmu pada posisi yang berwenang. Atasanmu pasti memiliki keyakinan buta pada dirimu untuk tidak menanyakan detail apa pun sebelum mengirimmu dalam perjalanan. rjswRX

“Mulai sekarang, kamu adalah seorang miliarder, meskipun kamu tetap rendah hati. Kamu memiliki lebih dari seratus penthouse di Kota Wan,” kata Du Jing. “Tujuanmu mengikuti lelang ini hanya untuk melihat apa yang mereka tawarkan, mungkin membeli beberapa mangkuk ruyao untuk tempat makanan kucing.”

We’re sorry for MTLers or people who like using reading mode, but our translations keep getting stolen by aggregators so we’re going to bring back the copy protection. If you need to MTL please retype the gibberish parts.

“Kamu bahkan tahu tentang keramik ruyao? Kamu sudah menyelesaikan pekerjaan rumahmu. Tapi aku harus mengoreksimu – kamu tidak bisa menggunakannya untuk menjadi tempat makanan kucing.”

“Zjrj ybvb.”

“Ygjcu alvjx jxjc wfwqfgmjsjlcsj.” Gu4FKd

“Bjije yfulae, lae jxjc wfcpjvl ajcuuecu pjkjyxe.”

Vfafijt wfgfxj yfgvej cjlx xf qfrjkja, Ge Alcu wfcujwyli xegrl vl ibgbcu vjc, vfcujc jcuuexjc rbqjc xfqjvj Itbe Oebsjcu, wfcufiejgxjc wjpjijt vjgl ajr ijqabqcsj.

Itbe Oebsjcu: “………………………………”

Pae jvjijt qeyilxjrl yjtjrj Vqjcsbi afcajcu qfgaexjgjc yjgjcu xbifxrl vjc yjgjcu jcalx. Vjwqei vfqjccsj jvjijt ujwyjg Itbe Oebsjcu. ZCDd6X

Zhou Luoyang hampir bertanya-tanya apakah ada yang salah dengan matanya. Dia tidak pernah ingat ditampilkan dalam wawancara khusus apa pun. Tetapi dia memikirkannya dan segera menyadari bahwa Du Jing telah memalsukannya!

“Apa kamu punya terlalu banyak waktu luang?” Zhou Luoyang mendesis. “Hentikan omong kosong ini.”

Story translated by Langit Bieru.

Du Jing berbalik dengan hormat. Bagi penumpang lain, ia tampak seperti pramugari yang ditegur bosnya. Hampir semua penumpang dalam penerbangan itu adalah tamu yang menuju pelelangan Sotheby. Banyak dari mereka telah melihat sekilas sampul majalah itu, dan mereka menatap Zhou Luoyang dengan penuh rasa ingin tahu.

“Baik, bos,” kata Du Jing pelan dan menyimpan majalah itu. Tapi dia sudah mencapai tujuannya. Setelah pesawat mendarat dan mereka semua berbaris di jalur bea cukai prioritas, beberapa tamu lain mulai mengobrol dengan Zhou Luoyang. 7EmXyk

“Aku punya toko jam dan barang antik kecil di Kota Wan,” kata Zhou Luoyang dengan rendah hati. “Anda dipersilakan untuk berkunjung jika Anda punya waktu.”

Mereka bertukar kartu nama, dan salah satu tamu bahkan menemukan hubungan dengan keluarga Zhou Luoyang. Kesempatan ini memungkinkan para tamu untuk saling mengenal. Tapi ini bukan tujuan utama Du Jing.

“Tujuanku adalah menemukan orang-orang yang bertanggung jawab atas organisasi Vietnam,” Zhou Luoyang memeriksa, “berbicara dengan mereka, dan mendapatkan undangan ke Kota Ho Chi Minh, benar?”

“Serahkan saja padaku,” kata Du Jing. “Kamu tidak perlu melakukan apa pun.” Saat dia berbicara, dia mengangguk kepada para tamu yang berjalan kesana kemari di Hotel Peninsula. “Halo, bonjourhola.” zm aJl

“Apa kamu mengenal mereka?” Zhou Luoyang bertanya dengan ragu.

“Aku tidak kenal mereka. Aku hanya menyapa mereka untuk kesopanan; mungkin kita akan saling mengenal sebentar lagi.”

Zhou Luoyang tidak mengerti maksudnya, tetapi dia bisa berasumsi bahwa banyak tamu lelang biasanya sangat sibuk dan tidak dapat mengingat siapa saja yang mereka temua di sebagian besar waktu.

“Apa kamu gugup?” Zhou Luoyang tiba-tiba mengerti; dia melihat Du Jing dari atas ke bawah. g5lJXA

“Aku?” Du Jing melepas kacamata hitamnya. “Aku tidak gugup. Kenapa tanya begitu?”

Seorang reporter berjalan dan melambai pada mereka. “Apa kalian berdua dari Kota Wan? Apa Anda punya waktu untuk wawancara?”

Zhou Luoyang: “……”

Seorang wartawan? Itu jelas Huang Ting. Seorang pria muda yang memegang kamera video mengikuti di belakangnya, kemungkinan besar pegawai magang. vw6FSK

Du Jing bergerak untuk menghalangi jalan Huang Ting dan dengan sopan menolaknya dalam bahasa Inggris dengan volume yang cukup keras untuk didengar orang-orang di sekitarnya. “Presiden Zhou sangat lelah. Mungkin lain kali.”

Kemudian dia berpaling ke Zhou Luoyang dan dengan tenang berkata, “Duduklah di sofa. Orang Rusia itu sepertinya sangat tertarik denganmu. Dia sudah melihat ke arah kita beberapa kali.”

Ada banyak orang asing menunggu di lobi hotel, dan ketika mereka melihat Zhou Luoyang dimintai wawancara, mereka meliriknya dengan rasa ingin tahu.

Dengan bekerja sama, Du Jing dan Huang Ting telah berhasil membangun reputasi untuknya, dan ketika dia duduk di sofa di lobi untuk menunggu, orang-orang di sekitarnya mengangguk kepadanya dan menyapanya dengan senyuman di wajah mereka. Du Jing, kamu membuatku kacau, pikir Zhou Luoyang. Dia dipaksa untuk membalas senyuman mereka dan bertukar salam dengan mereka untuk membantu Du Jing mengumpulkan informasi. C0p9Wh

Du Jing berdiri di sudut bersama Huang Ting, masing-masing memegang secangkir air. Setelah mengobrol singkat, mereka menuju ke meja resepsionis.

“Oh, ya,” kata Zhou Luoyang dengan bingung kepada pengusaha Rusia berperut besar yang duduk di sebelahnya. “Kakekku memiliki bisnis barang antik di China.”

Langit Bieru.

Bahasa Inggris Zhou Luoyang berkarat, tetapi untungnya pengusaha itu juga berbicara dengan aksen yang kental, dan bersama-sama, mereka dengan canggung dan terbata-bata mulai mengobrol tentang karya seni Rusia. Zhou Luoyang sangat berpengetahuan tentang profesinya sendiri, tetapi dia memiliki kontak yang sangat terbatas dengan apa yang disebut “masyarakat kelas atas”. Setiap orang dalam kerumunan yang menunggu untuk check-in di sekitarnya memiliki kekayaan bersih dengan digit sebanyak nomor telepon; akan menjadi permainan anak-anak bagi mereka untuk melihat melalui tindakannya, jadi Zhou Luoyang tidak dengan sengaja mencoba untuk berpura-pura bahwa dia adalah seseorang yang bukan dirinya.

Saat itu, sebuah kecelakaan kecil terjadi di meja resepsionis: Du Jing secara tidak sengaja menjatuhkan cangkir airnya. Mata Zhou Luoyang tertuju padanya. cWjL6e

Du Jing berlari mendekat. Zhou Luoyang menatapnya dengan tatapan tajam, dan Du Jing berdiri di belakangnya dengan hormat.

Resepsionis segera membawa lembar check-in ke Zhou Luoyang dan memintanya untuk menandatanganinya. Dia dengan riang mengucapkan selamat tinggal kepada sekelompok orang kaya itu dan bertukar kartu nama dengan orang Rusia itu. Namanya adalah Satanovsky.

Ketika mereka akhirnya memasuki suite, pintu berayun menutup di belakang mereka, Du Jing melepas kemejanya dan melepas dasinya.

“Aku tidak bisa menjaga persona ini,” Zhou Luoyang mendesah. “Ini terlalu sulit.” tX0ics

“Kamu bisa. Percaya pada dirimu sendiri.”

Suhu di Hong Kong sangat panas dan lembab, sementara hotel dengan penuh semangat mengembuskan udara dingin, membuat Du Jing sangat tidak nyaman.

Dia mulai memeriksa formulir. Dia membuka laptopnya dan masuk ke database perusahaannya, di mana dia mencari beberapa nama.

“Kapan kamu mengambil fotonya?” Zhou Luoyang keluar dari kamar mandi setelah mandi dan benar-benar tercengang melihat formulir yang dicetak Du Jing. yhzc U

“Ketika resepsionis memintamu untuk check-in,” jawab Du Jing. “Aku menumpahkan airku, dan ketika mereka sibuk membersihkannya, Huang Ting mengambil foto daftar tamu.”

Du Jing setengah telanjang, hanya mengenakan celana panjang hitam. Dia duduk di kursi putar dan menatap pemandangan malam di luar jendela dari lantai ke langit-langit, tenggelam dalam pikirannya. Kaca itu memantulkan ekspresi penuh konsentrasi di wajahnya.

Zhou Luoyang membuka botol minuman dan menatap Du Jing.

“Orang-orang ini adalah fokus utama kita,” kata Du Jing, kembali pada dirinya sendiri. Dia melingkari beberapa nama Vietnam dan menatap Zhou Luoyang. “Carilah waktu untuk berbicara dengan mereka sebelum lelang berakhir.” 4Su0p1

“Aku bisa meminta Lin Di untuk memperkenalkan aku,” kata Zhou Luoyang. “Ingin beberapa?”

Zhou Luoyang mengulurkan cangkir padanya. Tanpa berbalik, Du Jing mengulurkan tangan ke belakang, melewati bahunya. Dengan satu tangan, dia meraih punggung tangan Zhou Luoyang, dan dengan tangan lainnya, dia mengambil cangkir itu.

“Cara terbaik untuk melakukan ini adalah dengan memikat mereka kepada kita, jadi mereka yang akan memulai kontak,” kata Du Jing setelah beberapa pemikiran. “Diperkenalkan kepada mereka bukanlah rencana terbaik, karena akan sulit bagimu untuk meminta bantuan mereka.”

Zhou Luoyang duduk di tepi tempat tidur, masih mengenakan jubah mandi, rambutnya setengah kering. “Hong Kong sangat indah di malam hari. Ini berbeda dari Kota Wan.” q7SDty

Melihat keluar dari Hotel Peninsula Tsim Sha Tsui, dia bisa melihat semua Distrik Pusat dan Pelabuhan Victoria berkilauan di malam hari – satu-satunya kekurangannya adalah di sini terlalu mahal. Jika Zhou Luoyang dan Du Jing ada di sini sendirian, mereka tidak akan pernah memilih untuk menginap di hotel ini.

Du Jing terdiam sekali lagi. Kali ini, kesunyiannya membawa sedikit bahaya.

Read more BL at langitbieru (dot) com

“Apa kamu sudah meminum obatmu?” Zhou Luoyang memeriksanya.

“Ya,” Du Jing membenarkan. “Aku hanya berpikir. Aku baik-baik saja.” GDspHL

“Baik. Kalau kamu merasa sakit, kamu harus minum obat.” Zhou Luoyang membelai rambut Du Jing. “Aku akan tidur. Aku sangat lelah.”

Du Jing mematikan semua lampu dan kembali ke tempat duduknya di depan jendela untuk berpikir. Dia tinggal di sana sampai tengah malam, ketika dia akhirnya naik ke tempat tidur bersama Zhou Luoyang.

Dalam mimpinya, Zhou Luoyang meludah, Ada apa dengan kalian? Kalian terlalu terlibat dalam hal akting.

Tetapi keesokan paginya, di bar sarapan swalayan, Zhou Luoyang tiba-tiba menyadari bahwa rencana Du Jing sangat masuk akal. Mereka menangani langkah penting dalam operasi mereka. Saat dia memasuki ruang sarapan, hampir semua orang di sana akan mengangguk dengan sopan dan menyapanya, entah apakah mereka mengenalnya atau tidak. 0IYj28

“Mereka semua sepertinya mengenalku sekarang,” kata Zhou Luoyang, terpesona.

Dengan tenang dan santai seperti biasa, Du Jing berkata, “Lihat? Persona ini tidak terlalu sulit.”

“Ini masih sangat sulit. Kenapa kamu tidak menerimanya?”

“Kalau kamu ingin menjadi anjing setia, kita bisa bertukar peran.” UdWEdX

“Sudahlah.” Peran Du Jing lebih sulit. Tetapi jika tujuan mereka hanya untuk bergaul dengan orang-orang yang kuat, apakah perlu berbuat sejauh itu? Tiba-tiba, dia merasa bahwa Du Jing mungkin memiliki tujuan lain selain itu.

“Makan ini.” Zhou Luoyang sedang dalam suasana hati yang baik. Peninsula adalah tempat yang bagus; hanya ada satu masalah historis: mejanya terlalu kecil. Rasanya agak sempit saat mereka berdua makan sarapan di atas meja persegi panjang kecil itu.

“Kamu terlalu murah hati kepada pengawalmu,” kata Du Jing. Kacamata besar reflektif yang dia kenakan menyembunyikan sebagian dari bekas lukanya. “Aku harus berdiri di belakangmu sekarang dan meninggalkan tempat duduk kosong bagi siapa saja yang ingin memulai percakapan denganmu. Kalau kamu meminta kita duduk seperti ini, tidak akan lama sebelum seseorang menyadari ada sesuatu yang mencurigakan.”

Zhou Luoyang menggigit kue buah. “Aku tidak ingin berbicara dengan siapa pun. Aku hanya ingin sarapan denganmu.” Qad1Jy

Du Jing sangat senang mendengarnya, meskipun yang ada di hadapannya hanyalah secangkir kopi hitam dan beberapa potong roti.

“Tuan Muda bukanlah tipe orang kasar yang suka memerintah orang lain. Dan kamu bukan sembarang pengawal.”

Du Jing mendorong Zhou Luoyang dengan lututnya di bawah meja. “Itulah mengapa aku membuat beberapa penyesuaian pada personaku. Aku seorang pengawal yang telah bersamamu sejak aku masih muda. Hai halo.”

Seorang pria paruh baya berkulit cokelat mendekati mereka dan mengulurkan tangan ke Zhou Luoyang. “Halo, Tuan Zhou.” GYjMWm

Zhou Luoyang heran bahwa pria itu tahu nama belakangnya. Dia meletakkan serbetnya dan hendak berdiri ketika Du Jing dengan ringan menginjak kakinya di bawah meja, mengingatkannya untuk tidak melakukannya. Dia bisa menjabat tangannya saat duduk; dia seharusnya tidak terlalu menghormati pria itu.

“Apa Anda seorang penjual atau pembeli?” pria paruh baya itu bertanya.

Langit Bieru.

“Keduanya,” jawab Zhou Luoyang. “Aku menjual beberapa barang, tapi aku ingin melihat apakah ada yang menarik perhatianku selama aku di sini.”

Itu benar. Tidak ada cukup barang dagangan di toko Zhou Luoyang. Di Sotheby, dia mungkin menemukan barang berharga yang harganya kurang dari nilainya, dan dia berharap untuk menjualnya kembali untuk mendapatkan keuntungan. JUgRZ5

“Ah, begitu,” kata pria itu.

Zhou Luoyang sangat akrab dengan tanggapan itu. Dia tersenyum. “Apa kamu orang jepang?”

“Aku menghadiri studi lanjutanku di Jepang selama beberapa waktu.” Pria itu sangat sopan dan membalas senyumannya. “Aku hanya berharap untuk bertemu dengan kolega dari industri yang sama dan meminta beberapa informasi. Aku mendengar Anda berasal dari Kota Wan, jadi aku pikir Anda akan menjadi orang yang tepat untuk bertanya.”

Seolah terbangun dari mimpi, Zhou Luoyang segera menyarankan, “Kenapa kita tidak beralih ke meja lain?” YMzn7K

“Tidak, tidak.” Pria itu mengeluarkan kartu namanya. “Aku sudah makan. Ayo bicara saat Anda punya waktu luang.”

“Aku lupa membawa milikku.” Zhou Luoyang tersenyum malu sebelum bertanya pada Du Jing, “Kenapa kamu tidak mengingatkan aku?”

“Tidak apa-apa,” pria itu meyakinkan. “Kamu bisa menghubungiku kapan saja.”

Ada nama Asia Tenggara yang tertulis di kartu nama itu: Tham Puan… Zhou Luoyang dengan susah payah membaca huruf-huruf Romawi itu, menyipitkan mata pada diakritiknya. EYsv9L

“Chen Biaojin.” Du Jing memindainya dengan penerjemah di ponselnya. “Orang Vietnam, seorang sarjana budaya Champa. Anggota dewan Asosiasi Ho Chi Minh untuk Pelestarian dan Penelitian Relik Budaya.”

Target pertama mereka mendekati mereka sendiri. Zhou Luoyang menyimpan kartu namanya. “Apa yang dia inginkan dariku?”

Du Jing mengulurkan tangannya, menunjukkan bahwa dia sama-sama tidak mengerti.

Tidak lama kemudian, wanita pirang yang berada di sisi pengusaha Rusia sehari sebelumnya mendekati mereka dan berkata kepada Zhou Luoyang, “Tuan Zhou, Tuan Satanovsky ingin mengundang Anda untuk minum teh sore bersamanya. Apa Anda punya waktu?” t1Bozp

“Tentu saja,” jawab Zhou Luoyang dengan cepat.

Du Jing melepas kacamata hitamnya dan menaksirnya dengan serius.

“Beliau akan menunggu di ruang teh hotel pada jam tiga sore,” wanita cantik itu melaporkan sambil tersenyum. “Sampai jumpa.”

“Bahasa Mandarinnya bagus.” Zhou Luoyang melirik wanita yang sudah berjalan menjauh itu. Dia sangat tinggi dan ramping. se2VKz

“Dia orang Ukraina,” kata Du Jing. “Dia pasti pernah tinggal di China sebelumnya.”

“Bukankah tubuhnya bagus?” Zhou Luoyang bertanya. “Apa kamu menyukai tipe seperti dia?”

Please visit langitbieru (dot) com

Du Jing memakai kembali kacamata hitamnya. “Ya. Sangat hot. Kedengarannya bagus juga.”

“Aku juga menyukainya.” MWZJq7

“Apa kamu menyukainya? Aku bisa menguji airnya untukmu.”

“Tuan Sasky itu, dia akan menembak kepalaku.”

“Kamu juga punya supir. Sopirmu bisa melenyapkannya dulu,” kata Du Jing acuh tak acuh.

Segera, orang ketiga mendekat. Dia adalah seorang wanita Asia Tenggara yang tinggi dan anggun, dengan rambut seperti air terjun hitam yang indah. Riasannya halus, dan wajahnya memiliki pesona Timur klasik. Kk9zwX

“Halo.” Zhou Luoyang mengangguk padanya.

Dia mengulurkan tangan dan menjabat tangan Zhou Luoyang, tapi tatapannya beralih ke Du Jing. Du Jing tidak bergerak, dan dengan kacamata hitam terpasang di wajahnya, Zhou Luoyang tidak bisa melihat ekspresinya.

“Apa kamu orang Cina? Sepertinya aku mengenalmu dari suatu tempat,” wanita itu tiba-tiba bertanya pada Du Jing.

Bukan itu yang diharapkan Zhou Luoyang untuk didengar. PqQrf2

Du Jing menjawab dengan penuh teka-teki, “Aku belum pernah bertemu denganmu sebelumnya. Kamu salah orang, nona.”

Wanita itu mengeluarkan kartu nama kecil dari tas tangannya dan meletakkannya di atas meja. Dengan senyum dan anggukan, dia pergi.

Zhou Luoyang melihat kartu itu. Dia adalah CEO dari perusahaan impor dan ekspor Thailand. Namanya Sup.

“Seorang kekasih lama?” Zhou Luoyang bertanya. KMeV4g

Setelah hening lama, Du Jing berkata, “Aku tidak tahu. Aku tidak mengenalinya.”

“Oh.” Zhou Luoyang belum menyadari implikasi dari interaksi tersebut, tetapi Du Jing tiba-tiba memahami konotasi berbahaya dari penampilan wanita itu.

Hal-hal tidak sepenuhnya di bawah kendalinya. Mungkin ada sesuatu yang salah di suatu tempat di sepanjang jalan.

Sesaat kemudian, Du Jing bergumam pada dirinya sendiri, “Apa yang terjadi? Aku benar-benar belum pernah melihatnya sebelumnya. Siapa dia?” k q1QM


Diterjemahkan oleh Jeff dari terjemahan bahasa Inggris milik beansprout.

Please support our translators at langitbieru (dot) com

Translator's Note

Ruyao adalah jenis tembikar yang sangat langka yang diproduksi untuk istana kekaisaran Dinasti Song dalam waktu singkat. Saat ini, ada kurang dari 100 buah utuh yang bertahan. Rekor harga lelang untuk ruyao ditetapkan di Hong Kong Sotheby: $ 28 juta USD untuk satu mangkuk.

Leave a Comment

For an easier time commenting, login/register to our site!